Showing posts with label aspek isi. Show all posts
Showing posts with label aspek isi. Show all posts

Tuesday, July 21, 2020

Konsep Seni Ditinjau dari Aspek Fisik, Isi, Estetika

1. Aspek Fisik
Jika dipandang dari bentuk dan dimensinya karya seni dibedakan menjadi:
Karya seni dua dimensi yaitu karya seni yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar saja, hanya dapat dinikmati dari satu sudut pandang yaitu dari arah depan atau sejajar dengan bidang datar.Contohnya seni lukis, seni grafis, seni ilustrasi, dan seni fotografi.
Karya seni tiga dimensi yaitu karya seni yang memiliki panjang lebar dan tinggi. Dengan demikian karya seni tiga dimensi memiliki volume atau isi dan dapat dilihat dari berbagai arah sudut pandang. Contohnya seni patung. Seni arsitektur, seni gerabah, seni ukir dan seni instalasi.

2. Aspek Isi
Aspek isi merupakan gagasan atau tema yang menyumbang makna dari sebuah bentuk karya seni. Agar makna dapat tersampaikan memerlukan beberapa hal yaitu:
a. Gagasan
Gagasan atau ide yaitu hal pertama yang dipikirkan oleh kreator. Gagasan dan imaginasi creator bersifat unik karena merupakan buah pikiran sendiri berbeda dengan pemikiran manusia lainnya. Keunikan ekspresi pribadi itulah yang disebut dengan kreativitas. 
b. Wujud
Wujud (form) berkaitan erat dengan prinsip-prinsip komposisi. Prinsip-prinsip komposisi meliputi: prosporsi (proportion), keseimbangan (balance), irama (rhytym), kontras (contrast), klimaks (climax) dan kesatuan (unity).
c. Arti atau Makna
Arti atau makna dapat dibedakan menjadi dua yaitu makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotative bersifat objektif dan dapat dipahami melalui pengamatan dan pikiran/rasio. Sementara makna konotatif bersifat subjektif serta lebih berkaitan dengan perasaan dan makna simbolis/tersirat.

3. Aspek Estetika
Kemampuan estetis adalah kemampuan menciptakan nilai-nilai keindahan untuk karya seni sesuai dengan pengalaman artistic seorang creator atau seniman. Terdapat dua teori mengenai pengertian keindahan yaitu:
a. Teori objektif
Menurut teori ini estetis dimaknai sebagai kesan yang dapat ditemukan pada suatu objek atau karya seni dengan ciri-ciri, sifat, kualitas, dan keindahan yang dihasilkan dari kesatuan unsur seni yang digunakannya.
b. Teori subjektif
Menurut teori ini suatu benda atau karya seni diaktakan indah apabila dapat menimbulkan perasaan puas, nikmat, kagum, dan indah menurut perasaan seseorang yang bersifat individual.

4. Aspek Nilai
Menurut R.S. Stites dalam Mike Susanto (2002) aspek nilai terdiri atas tiga hal yaitu:
a. Nilai pakai
Seni yang memiliki nilai pakai adalah seni yang memiliki nilai ekonomi, yang berkaitan dengan mata uang.
b. Nilai kisah
Seni yang memiliki nilai pakai adalah seni yang memiliki nilai ideal, yang tercermin dalam nilai religious, moral, dan historis.
c. Nilai formal
Seni yang memiliki nilai pakai adalah seni yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri (nilai intrinsic).


Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Wednesday, March 25, 2020

Aspek Seni

1.Aspek Fisik
Seni sebagai segala bentuk yang memiliki nilai keindahan adalah pengertian yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Seni jika dipandang dari segi bentuk dan dimensinya terdapat karya seni dengan dua dimensi dan tiga dimensi.
a.Pada karya dua dimensi, suatu yang nampak datar juga mempunyai kesan-kesan volume, kedalaman dan ruang, namun itu hanya tipuan pandang semata. Karya seni dua dimensi disebut semi visual, karena diserap oleh indra penglihatan. Karya Seni Rupa 2 Dimensi hanya memiliki dimensi panjang dan lebar atau karya yang hanya dapat dilihat dari satu arah pandang saja. Contohnya, seni lukis, seni grafis, seni ilustrasi, relief dan sebagainya.
b.Karya seni tiga dimensi disebut juga karya seni spasial , karena terdapat tiga dimensi yang harus benar-benar diperhatikan. Dalam seni tiga dimensi, pelaku seni melibatkan indra gerak dan raba.

2.Aspek isi
Aspek isi atau ideoplastik adalah ide atau gagasan atau tema atau makna (meaning) dari bentuk karya seni. Isi atau makna suatu karya seni rupa sangat bergantung pada persepsi penikmat atau publik seni. 
Pada awalnya, banyak peneliti yang masih membagi persepsi pada tiga fase yaitu, persepsi - kognisi - intrepretasi dan evaluasi. Hal ini berbeda dengan pandangan umum pada saat ini, bahwa pada satu tahapan terdapat aspek aspek yang berbeda, sehingga garis stimuli-respon-tindakan tidak bersifat linier. Outline membantu asosiasi agar terjadi proses persepsi. Konsep outline (Jerman;Gestalt) pertama kali disajikan dalam ilmu psikologi oleh Christian von Ehrenfels pada tahun 1890. Ia mengarahkan perhatiannya pada kenyataan bahwa untuk mengerti sebuah komposisi, keseluruhan outline lebih penting daripada bagian. Jika urutan komposisi diubah menjadi susunan baru, semua komposisi akan menjadi sesuatu yang lain tetapi keseluruhan outline dari komposisi tersebut tetap sama. 
Ketika seniman sedang menarik outline, bagian bawah sadar ternyata mematuhi aturan aturan tertentu, yang dikenal dengan hukum-hukum Gestalt. Sebagai contoh, ketika manusia melihat sebuah figur yang tidak sempurna, akan dilengkapi menjadi figur yang dapat dikenal (asosiasi). Manusia cenderung untuk melengkapi bagian bagian yang tidak lengkap berdasarkan kemiripan gambaran dalam memorinya.Tanda tanda yang dekat satu sama lain cenderung bergabung dalam pikiran untuk membuat kesatuan yang lebih besar. Jika terdapat kemiripan pada beberapa tanda, maka tanda-tanda tersebut akan saling bergabung membentuk satu kesatuan.

3.Aspek estetik
Pada saat ini, mainstream dari penelitian estetika lebih melihat keindahan bukan sebagai sifat dari objek itu sendiri, tetapi sebagai hasil sensasi atau interaksi antara persepsi dan objek. Terdapat beberapa sudut pandang dan sikap manusia terhadap keindahan. Pada masa Yunani, kemudian pada abad pertengahan, keindahan ditetapkan sebagai bagian dari teologi. Pada abad pertengahan di Barat, tekanan diletakan pada subjek, proses yang terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman keindahan. Pada zaman modern, tekanan justru diletakkan pada objek, sehingga tampak bahwa estetika dipertimbangkan sebagai dari cabang dari sains, khususnya filsafat dan psikologi.
Melihat hal tersebut, khususnya dalam hubungan dengan Konsep seni maka pertimbangan estetika dalam pengolahan rupa setidaknya dapat didekati melalui :
1.Pemahaman karya sebagai objek estetik.
2.Pemahaman terhadap manusia sebagai subjek yang mengamati atau menciptakan karya yang estetik.
Tuntutan teknik tidak satu-satunya pernyataan dalam berkarya seni. Sering dikatakan bahwa penguasaan teknik atau ketrampilan (skill) adalah tuntutan dasar proses penggarapan ide menjadi karya seni. Ini berarti bahwa dalam menggarap unsur-unsur estetis sebagai langkah lanjut dalam mencipta atau dalam menentukan azas-azas estetik, seniman perlu ditunjang dengan kemampuan teknik atau ketrampilan. Bahkan kemampuan teknik itu sendiri saling berpengaruh dengan azas atau prinsip estetis.
Kemampuan estetika adalah kemampuan mencipta nilai-nilai keindahan untuk karya seni sesuai dengan pengalaman artistik seorang seniman. Pada pemanfaatan karya seni, melekat pengertian sikap estetik. 
Berawal dari perbedaan pengertian keindahan, lahirlah teori obyektif dan subyektif.
a.Teori obyektif, estetik adalah kesan yang terdapat pada suatu obyek atau karya seni rupa dengan ciri-ciri, sifat, kualitas keindahan yang dihasilkan dari kesatuan unsur seni yang digunakannya.
b.Teori subyektif, bahwa suatu benda atau karya seni rupa dikatakan indah bila dapat menimbulkan perasaan puas, nikmat, kagum, dan indah menurut perasaan sseorang yang bersifat individual.

4.Aspek  Nilai
Menurut R. S. Stites, karya seni memiliki tiga nilai :
a.Nilai pakai adalah nilai ekonomi; berkaitan dengan mata uang
b.Nilai kisah adalah nilai idiil yang bisa berupa nilai religius, moral, historic
c.Nilai formal adalah nilai khiriah atau design yang merupakan nilai intrinsik pada karya seni itu sebagai nilai seni.