Showing posts with label masyarakat. Show all posts
Showing posts with label masyarakat. Show all posts

Tuesday, July 21, 2020

Fungsi Budaya dalam Kehidupan Masyarakat

1. Mempersatukan masyarakat
Suatu budaya terlahir dalam suatu masyarakat dan mewakili realitas serta pemikiran yang berkembang di dalam masyarakat itu sendiri. Budaya di sepakati oleh anggota masyarakat karena adanya kesamaan rasa dan pemikiran seluruh anggota masyarakat, oleh sebab itu budaya berfungsi mempersatukan masyarakat.
Contohnya pada masyarakat yang hidup di daerah agraris terdapat budaya mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen melimpah yang diwujudkan dalam upacara adat: Upacara Seren Taun (Jawa Barat), Upacara Penti (Manggarai, NTT).
Contoh lain yaitu budaya Pawai Ogoh-ogoh (mayarakat Hindhu, Bali) dilaksanakan dengan mengarak patung raksasa untuk membersihkan hal-hal negative sehari sebelum hari raya Nyepi. Hal ini membuat masyarakat hindhu di Bali bersatu.

2. Memenuhi kebutuhan dasar masyarakat
Budaya dengan segala urusannya merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Contohnya manusia akan sulit berkomunikasi tanpa bahasa, tanpa adanya kesenian manusia akan mudah stress dan kehilangan semangat hidup, tanpa adanya pengetahuan manusia akan sulit memahami hal-hal di sekitarnya, tanpa adanya teknologi manusia akan sulit menyelesaikan sesuatu, tanpa adanya system kemasyarakatan kondisi social akan kacau dan saling bertikai, tanpa adanya system ekonomi manusia akan sulit memenuhi kebutuhan hidup.

3. Mendorong perubahan dalam masyarakat
Budaya adalah hal kompleks dan membawa pengaruh besar bagi masyarakat. Budaya bersifat dinamis dan sangat bergantung pada perkembangan zaman.. Perubahan budaya terjadi yang memerlukan waktu yang cukup panjang dan bertahap biasanya terjadi pada perubahan yang disengaja atau direncanakan. Sedangkan perubahan yang terjadi secara singkat biasanya diakibatkan oleh faktor alam misalnya bencana alam. Bencana alam yang melanda suatu daerah dapat merusak tatanan masyarakat yang telah berlangsung sebelumnya di daerah tersebut.
Contohnya dalam bidang ekonomi, sejak adanya mata uang masyarakat diharuskan membeli menggunakan uang. Dalam bidang transportasi berdasakan perkembangan teknologi adanya transportasi berbasis online membuat meningkatnya permintaan masyarakat akan ponsel pintar. Dalam bidang kesenian masyarakat didorong untuk terus mengembangkan kreativitas seni baru misalnya aliran music yang baru.


Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Ekspresi Seni dalam Budaya Masyarakat

Seni telah ada sejak zaman prasejarah  dan tidak lepas dari kehidupan manusia dan merupakan bagian dari kebudayaan yang merupakan hubungan antara menusia dengan lingkungan sosialnya. 

Seni ekspresi berbeda dengan seni imitasi. Ekspresi seni merupakan pengungkapan diri seniman ranpa melibatkan emosi orang lain. Imitasi merupakan bentuk peniruan terhadap bentuk yang sudah ada baik segi bentuk maupun gagasannya.

Ekspresi erat kaitannya dengan pemikiran yang kreatif dan imaginatif yang berakar dari pemikiran bebas. Kebebasan ini tercermin melalui karya-karya yang tercipta baik berupa tulisan, lukisan, ukiran, music, tari maupun bentuk-bentuk seni lainnya. Karena berkedudukan sebagai ekspresi maka tak jarang seni dijadikan sebagai media komunikasi seniman pada penikmat karyanya. Pemikiran tersebut tidak hanya berupa gagasan tetapi juga kritik atas kondisi social tertentu.

Sebagai sebuah ekspresi, baik seni tradisional, modern maupun kontemporer perlu memperhatikan hal-hal yang berasal dari dalam dan luar masyarakat. Jika suatu seni merupakan kritik suatu masalah social maka pencipta karya harus benar-benar memahami masalah yang hendak dikritik. Selain itu penikmat seni akan mudah mengenali simbol-simbol dalam karya yang diciptakan.

1. Seni sebagai media komunikasi (Communication Device)
Ketika bentuk seni telah dinikmati masyarakat maka secara tak langsung bentuk seni tersebut telah mengkomunikasikan ekspresi penciptanya pada masyarakat. Pada masa prasejarah contohnya terdapat lukisan cap tangan atau gambar simbolik di dinding gua yang memberikan pemahaman pada manusia modern mengenai budaya pada masa praejarah. Komunikasi melalui visual pada umumnya lebih mudah dipahami baik berupa gambar, lukisan, seni grafis, ilustrasi maupun gambar bergerak (animasi). 
Berbagai macam simbol diciptakan manusia baik bersifat verbal maupun non verbal. Simbol yang dikomunikasikan manusia lewat seni lebih mudah diterima karena sifatnya yang indah.

2. Gambar sebagai salah satu media ekspresi 
Menggambar merupakan kegiatan menuangkan persepsi visual ke dalam media gambar. Namun walaupun proses menggambar berakar kuat pada kemampuan manusia untuk melihat, hasil gambar tidak harus selalu sesuai dengan realitas yang dilihat. Setiap manusia memiliki persepsi sendiri atas apa yang ia lihat. Melalui gambar, senima dapat mengkomunikasikan berbagai pemikiran dan konsep yang dimiliki.

Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Sunday, January 31, 2016

Pentingnya Pendidikan Seni Rupa

Dalam proses pembelajaran, Pendidikan Seni Rupa memiliki fungsi sebagai kebutuhan anak dan kebutuhan institusi pendidikan. Pendidikan Seni Rupa merupakan wahana pendidikan ekspresivitas, sensitivitas, dan krestivitas bagi anak (lihat Syafii 2006: 9). Ekspresivitas seorang anak berkaitan dengan psikologi yang dapat dituangkan dalam proses berkarya seni, sedangkan sensitivitas atau kepekaan memungkinkan anak dalam merespon fenomena estetik visual. Misalnya respon terhadap fenomena keberadaan kesenian tertentu yang hampir punah. Kreativitas merupakan perilaku konstruktif, inovatif, dan produktif yang dapat berkembang setiap saat. Semua itu diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Pendidikan seni merupakan sarana atau media yang paling efektif bagi pengembangan ekspresivitas, sensitivitas, dan kreativitas ini.
Jauh dari kepentingan intelegensi, Pendidikan Seni Rupa adalah elemen penting dalam peranan pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Tidak ada mata pelajaran lain yang mengupas tentang pengembangan kebudayaan selain mata pelajaran dalam bidang seni. Berhubungan dengan hal ini, terdapat dua pandangan mengenai Pendidikan Seni Rupa yaitu Pendidikan melalui seni dan Pendidikan dalam seni. Pendidikan melalui seni yang dalam artian bahwa seni menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan (lihat Syafii 2006: 8). Pada dasarnya seni digunakan sebagai media atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan nasional harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa pahlawan, serta berorientasi masa depan. Rasa cinta tanah air dapat berwujud pelestarian dan pengembangan kebudayaan bangsa agar tidak punah dan tergerus oleh waktu dan perkembangan zaman yang tidak menghiraukan budaya tradisional.
Yang kedua adalah Pendidikan dalam seni menyatakan bahwa seni sebagai materi atau disiplin ilmu perlu dan penting diberikan kepada anak (lihat Syafii. 2006: 5). Keahlian-keahlian anak dalam bidang keseni rupaan seperti menggambar, mematung dalam berkarya seni diberikan kepada anak untuk pengembangan dan pelestarian kesenian yang ada. Seperti yang dikatakan dalam artikel Seni Budaya:
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan  di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi  melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.

Kesenian sebagai hasil budaya masyarakat perlu dikenali dan dipelajari oleh anak agar anak dapat mengembangkan dan melestarikannya dalam upaya pewarisan budaya daerah. Diharapkan setelah anak trampil dan bisa berkarya seni, anak akan merasa memiliki tanggung jawab terhadap budaya yang dimiliki terkait dengan kemampuan yang anak miliki. Sebagai contoh anak yang memiliki kemampuan dalam membuat wayang, maka jika kesenian budaya wayang hampir punah di kota yang ditinggali anak, anak akan merasa bertanggung jawab untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian wayang tersebut. Sehingga kesenian budaya wayang tidak akan punah atau hilang sebab masih ada orang-orang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam pengembangan kebudayaan tersebut.