Showing posts with label evaluasi. Show all posts
Showing posts with label evaluasi. Show all posts

Wednesday, May 15, 2019

EVALUASI KARYA SENI BUDAYA NUSANTARA



Evaluasi merupakan proses atau bentuk penghargaan dan penilaian terhadap suau hal yang berhubungan dengan karya seni dan karya sastra. Dalam proses evaluasi terdapat apresiasi didalamnya. Kegiatan Apresiasi seni meliputi dua hal yaitu bersifat pengenalan terhadap Karya Seni dan menuntut adanya pengamatan Seni secara mendalam yang berisi proses pengamatan, penalaran, penafsiran dan mengevaluasi atau mengkritik suatu karya seni.

Pengertian Kritik Seni
Istilah “kritik seni”, dalam bahasa Indonesia, sering disebut dengan istilah “ulas seni”, “kupas seni”, “bahas seni” atau “bincang seni”. Pada umumnya istilah “kritik seni” terkait dengan masalah seni, dan bertujuan mendeskripsikan, menganalisis, menginterpretasi, dan menilai karya seni (Nooryan Bahari, 2014: 2-3).

Kritik seni adalah kegiatan menanggapi karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini dipergunakan dalam berbagai aspek, terutama untuk menunjukkan kualitas dari sebuah karya. Kritik karya seni tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap sebuah karya seni, tetapi juga dipergunakan sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni. Tanggapan dan penilaian yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap kualitas sebuah karya seni bahkan dapat mempengaruhi penilaian ekonomis (harga jual).

Dalam kritik karya seni rupa kritikus dapat memberikan tanggapan dan evaluasi berdasarkan aspek-aspek simbol, jenis, fungsi, dan nilai estetis yang terdapat dalam karya tersebut. Mengeritik sebuah karya seni rupa tidak bertujuan untuk mencari-cari kesalahan, kekurangan atau kelemahan sebuah karya seni rupa. Pada dasarnya melalui kegiatan kritik karya seni rupa dapat belajar memberikan penilaian secara objektif terhadap kualitas karya seni, untuk meningkatkan kualitas wawasan, tanggapan dan kepekaan kamu terhadap karya seni. Hasil tanggapan dan evaluasi terhadap karya diharapkan mendorong perupa untuk meningkatkan kualitas karyanya. Untuk dapat memberikan apresiasi dapat dilakukan dengan mengamati unsur-unsur dalam sebuah karya. Beberapa unsur yang dapat diamati antara lain sebagai berikut.

1. Simbol
Dalam senirupa kata simbol dapat diartikan sebagai makna yang dikandung dalam karya seni rupa baik pada wujud objeknya maupun pada unsur-unsur seni rupanya.  Misalnya unsur warna hijau yang dominan adalah simbol kesuburan.  Patung dengan objek kuda sebagai simbol kegagahan.  Secara konseptual kata simbol memiliki pengertian:
a. Sesuatu yang biasanya adalah tanda yang mengantikan gagasan atau objek tertentu
b. Kata, tanda, atau isyarat yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain
c. Mewakili kesepakatan,  persetujuan atau kebiasaan.
d. Suatu tanda konvensional yaitu sesuatu yang dibangun oleh masyarakat atau induvidu-induvidu tertentu yang kurang lebih standar yang disepakati atau dipakai anggota masyarakat itu.

2. Jenis
Jenis karya seni rupa sangat beragam.  Pengelompokkan jenis karya seni rupa dapat dilakukan berdasarkan teknik pembuaan, bahan dan medium objek, tema, isi pesan dan gaya pengungkapannya
Beberapa teknik dalam karya seni rupa dua dimensi yaitu 
a. Linier yaitu cara menggambar dengan teknik menutup objek dengan garis
b. Blok yaitu menutup obyek lukis dengan satu warna
c. Arsir menutup objek lukis dengan pulasan garis sejajar atau menyilang
d. Dusel yaitu membuat elap atau terang objek lukis dengan goresan miring menggunakan pensil
e. Pointilis menghitamkan obyek lukis dengan titik-titik
f. Aquarel menggunakan sapuan tipis cat air
g. Plakat yaitu menggunakan sapuan tebal dengan cat minyak
Adapun teknik dalam karya seni rupa tiga dimensi yaitu teknik pahat, teknik butsir, teknik cor, teknik las, dan teknik cetak.

3. Fungsi
Jenis karya senirupa dapat dikategorikan berdasarkan fungsinya.  Berdasarkan fungsinya karya seni rupa dikelompokkan menjadi karya senirupa murni dan senirupa terapan.

4. Nilai estetis
Nilai estetis secara umum dimaknai sebagai nilai keindahan dari sebuah karya seni rupa.  Nilai estetis pada karya seni rupa dapat dilihat dari unsur-unsur senirupa yang terdapat pada sebuah karya seni rupa, dan juga prinsip-prinsip seni rupa.  Unsur-unsur karya seni rupa misalnya warna, bangun, bidang, tekstur, garis dan sebagainya.

Secara umum untuk mengevaluasi/mengkritisi karya seni harus memahami dahulu seluk belu karya seni serta peka terhadap unsur estetiknya.
Berikut ini contoh karya seni rupa mengevaluasi karya seni rupa:
Gambar
Aspek yang Diamati
Uraian Hasil Pengamatan

Simbol
Manusia sebagai mahluk sosial senantiasa berhubungan dengan sesamanya.
Jenis
Karya seni rupa patung teknik cetak (casting)
Fungsi
Seni rupa tiga dimensi murni
Nilai Estetis
Bentuk fisik baik proporsi maupun gerak

Simbol
Mengungkapkan sebuah proses pencarian eksitensi jati diri manusia serbagaimana layaknya sang Brahmana pengembara.
Jenis
Seni rupa dua dimensi teknik pakat (cat minyak)
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Kisah perjalanan spiritual dalam gaya Surrrealisme dekoratif yang sarat dengan imaji. 

Simbol
Simbol dari bentuk dasar lingkaran besi yang mempunyai esensi sebuah proses pencarian jati diri yang kuat tiada henti.
Jenis
Seni tiga dimensi teknik cor
Fungsi
Seni rupa tiga dimensi murni
Nilai Estetis
Warna yang berupa pamor gurat-gurat pijar api merujuk motif alam dengan sifat yang keras dan dramatis.

Simbol
Melambangkan keagungan anugerah Yang Maha Esa
Jenis
Seni rupa dua dimensi teknik plakat
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Perpaduan warna dan bentuk yang sangat menarik 

Simbol
Keragaman mewujudkan keatuan yang utuh
Jenis
Seni rupa dua dimensi grafis teknik cetak digital
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Perpaduan warna dan bentuk yang sangat menarik

Simbol
Dalam karya ini seorang wanita yang memakai rok dan bersepatu, serta anak-anak yang juga memakai rok menjadi kontras sekaligus sebagai simbol perubahan zaman.
Jenis
Seni rupa dua dimensi teknik cukil kayu
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Pencahayaan, dan detail bentuk-bentuknya telah mencapai keunggulan, sehingga karya seni grafis yang realistik ini terasa hidup.



Sunday, January 31, 2016

Model Evaluasi Kurikulum Iluminatif

Iluminatif, dalam model evaluasi kurikulum dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau rujukan dalam melakukan pengukuran atau penilaian terhadap pelaksanaan rencana pelajaran dan penggunaan sumber-sumber pendidikan termasuk pencapaian tujuan. Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah, tempat sistem tersebut dikembangkan, keunggulan, kelemahan, serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi, bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya. Objek evaluasi yang diajukan dalam model iluminatif ini mencakup; latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan, proses implementasi (pelaksanaan) sistem, hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa, serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan. Evaluasi iluminatif bersifat adaptif dan eklektik.
Langkah-langkah evaluasi model iluminatif adalah :
  1. Observasi : Mengamati kehiatan yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
Didukung wawancara, kuesioner, tes, dan studi documenter.
  1. Inkuiri Lanjutan : Pedomannya hasil observasi sebagai pemantapan validasi isu, kecenderungan dan permasalahan-permasalahan, untuk menarik kesimpulan.
  2. Penjelasan : Evaluator mennunjukan prinsip umum dan pola hubungan sebab-akibat, sebagai penjelasan rasional berhasil atau gagalnya kegiatan lingkungan pendidikan.

Dari langkah-langkah tersebut, faktor penting dalam evaluasi model iluminatif adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi. Hal ini disebabkan model iluminatif menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau sistem yang sedang dikembangkan. Faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi, yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagian-bagian.

Keunggulan Illuminatif Model
Menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya.

Keterbatasan Illuminatif Model
Kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi:
1. Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit.
2. Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan.
3. Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang “terbuka” dalam arti kurang spesifik dan berstruktur.
4. Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan.

Model iluminatif didasarkan pada paradigm anthropologi social, dan ditegakkan dua konsep utama yaitu sistemintruksional dan lingkungan belajar.
Sistem insruksional adalah perencanaan pengajaran yang menggunakan pendekatan sistem (komponen atau elemen yang berhubungan), atau sistem pengajaran yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berinteraksi dan saling berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Sistem instruksional yang dimaksud dalam bentuk catalog, prospektud, dan laporan kependidikan yang berisi rencana dan pernyataan resmi mengenai peraturan pembelajaran.

MODEL GENERIK PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Model Dasar Sistem Instruksional :
  1. Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau rujukan dalam melakukan suatu kegiatan.
  2. Sistem adalah seperangkat bagian-bagian atau komponen di mana yang satu sama lain saling berkaitan dan berinteraksi dalam mencapai suatu tujuan.
  3. Instruction adalah proses pembelajaran yang merupakan bentuk operasional pelaksanaan kurikulum
  4. Sistem Instruksional merupakan tatanan aktivitas belajar-mengajar yang mengandung dimensi perencanaan kegiatan belajar-mengajar. Sebagai perencanaan dan pelaksanaan. Sistem instruksional merujuk pada langkah-langkah yang seyogianya ditempuh dalam menerapkan tujuan, isi, proses dan evaluasi pengajaran. Sebagai proses sistem instruksional merujuk pada interaksi antar komponen pengajaran dalam suasana kelas secara nyata.
  5. Model kurikulum/pengajaran dikembangkan oleh Tyler (1949) dapat diterima sebagai model dasar sistem instruksional dan dari situ dapat
Rincian Masing-masing Komponen Sistem Instruksional :
  1. Tujuan, pengalaman belajar, pengorganisasian pengalaman belajar merupakan komponen pokok dari sistem kurikulum dan pengajaran (instruksional)
  2. Tujuan, memiliki berbagai tingkatan mulai dari tujuan nasional, institusional, kurikuler, instruksional umum dan instruksional khusus. Antara tujuan satu dengan lainnya memiliki saling keterkaitan dan tujuan yang lebih rendah harus mendukung pencapaian tujuan di atasnya.
  3. Dalam merumuskan tujuan taksonomi Bloom dan kawan-kawan dapat digunakan sebagai pedoman dalam menjabarkan perilaku yang diharapkan dapat dicapai.
  4. Dalam memilih isi dan pengalaman belajar perlu memperhatikan kriteria sebagaimana dikemukakan oleh Taba (1962) dan Tyler (1949) serta kriteria lainnya yang dianggap perlu.
  5. Dalam mengorganisasikan pengalaman belajar perlu memperhatikan prinsip-prinsip continuity, sequence, dan integration.
  6. Evaluasi pada dasarnya merupakan kegiatan untuk menentukan apakah suatu tujuan yang telah digariskan dapat dicapai atau tidak. Untuk itu evaluasi harus memenuhi sejumlah kriteria sebagaimana dikemukakan oleh Taba (1962).
Kerangka Konseptual Perencanaan Pembelajaran :
  1. Hubungan antar komponen dalam sistem instruksional dapat dilu-kiskan lebih jelas dalam model-model diagramatis.
  2. Model sistem instruksional dari Wong & Raulerson (1974) dan Kibler (1972) dapat diterapkan dalam pengembangan Satuan Pelajaran oleh guru.
  3. Keempat komponen pokok sistem instruksional yakni tujuan, penga-laman belajar, pengorganisasian pengalaman belajar dan evaluasi dapat digambarkan sebagai kesatuan komponen yang saling memiliki keterkaitan.

MODEL GENERIK PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Konsep dan Masalah Pengelolaan Kelas :
  1. Pengelolaan kelas menyangkut berbagai unsur yakni: guru, peserta didik, sarana belajar-mengajar, dan iklim kelas secara keseluruhan.
  2. Pengelolaan kelas memiliki hubungan timbal balik dengan proses pembelajaran.
  3. Pengelolaan kelas mencakup tiga dimensi:
    1. perilaku guru yang dapat menghasilkan keterlibatan pembelajar yang tinggi dalam kegiatan kelas
    2. perilaku mengganggu dari pembelajar yang sangat minimal
    3. penggunaan waktu belajar yang efisien.
  4. Berada tidaknya pembelajar dalam tugas belajarnya (on task/off task) berkaitan erat dengan muncul tidaknya masalah-masalah pengelolaan kelas.
  5. Guru sebagai manajer kelas yang baik menuntut penguasaan keterampilan pengelolaan kelas yang baik dan perlu menghindari hal-hal yang menjadi ciri manajer kelas yang tidak efektif.
Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
    1. Pendekatan penguatan dan pengubahan perilaku merupakan sistem dasar dalam pengelolaan kelas.
    2. Dalam pengelolaan kelas titik berat diletakkan pada penciptaan iklim kelas yang kondusif untuk belajar.
    3. Salah satu komponen iklim kelas adalah terciptanya tata tertib yang dipatuhi secara sadar.
    4. Berbagai prinsip pengelolaan kelas dapat diterapkan secara adaptif
               Lingkungan Belajar

             Lingkungan belajar adalah lingkungan social-psikologis dan materi atau interaksi anrata guru dengan siswa.
  1. MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG BAIK
    • Pengorganisasian & Pengelolaan Kelas
    • Pemanfaatan Sumber Belajar
    • Pajangan
    • Keterampilan bertanya.
  2. PENGORGANISASIAN KELAS
    • Salah satu ciri PAKEM adalah adanya pengorganisasian kelas yang bervariasi (Klasikal, Kelompok, Pasangan, Individual)
    • Tujuan : Memberi kesempatan siswa memperoleh hasil belajar maksimal sesuai tipe belajar masing-masing.
    • Organisasi Belajar No Aktivitas Individu Pasangan Kelompok Klasikal 1. Membaca dalam hati 2. Mengukur suhu
    • Pengorganisasian kelas Jenis kegiatan seperti apa? Klasikal : seluruh kelas mengerjakan hal yang sama Kelompok: sekelompok siswa mengerjakan satu tugas bersama- sama Perorangan: anak mengerjakan tugas sendiri sendiri
  3. PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR
    Sumber Belajar Dalam PAKEM
    Dalam Pakem, Sumber Belajar bervariasi :Buku, Guru, Lingkungan, Narasumber, Koran / majalah, Dll.
    Contoh-contoh Sumber Belajar Lingkungan:
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kegiatan/ Kompetensi yang dikembangkan 1 Pohon Pisang IPA Mengamati, kemudian menjelaskan bagian-bagiannya, dsb Bhs. Indonesia Mendeskripsikan, menulis puisi, menceritakan
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kompetensi yang dikembangkan Matematika Membuat bangun datar 2 Fenomena Alam IPA Mempelajari kerusakan alam dan mengembangkan sikap ilmiah
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kompetensi yang dikembangkan Matematika Membuat bangun datar 2 Fenomena Alam IPA Mempelajari kerusakan alam dan mengembangkan sikap ilmiah
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kegiatan/ Kompetensi yang dikembangkan Bindo Membuat puisi, prosa Mat Menghitung, menyajikan data dalam bentuk diagram,
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kegiatan/ Kompetensi yang dikembangkan
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kompetensi yang dikembangkan 3 ……………… ………………… .. ………………………… ..
           4. PAJANGAN
    Manfaat Pajangan yaitu:
    • Bukti fisik kegiatan siswa
    • Tolok ukur kemajuan belajar siswa
    • Umpan balik
    • Motivasi & penghargaan
    • Pemacu kreatifitas
    • Sarana kompetisi siswa/kelompok
    • Sumber belajar
    • Memperindah kelas

    Yang sebaiknya dipajang yaitu:
    • Hasil kreativitas siswa (tulisan, gambar,model bangun,dll) proses & produk
    • Hasil kerja siswa/kelompok
    • Media/alat peraga pembelajaran
    • Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
    • Laporan praktikum

    Yang sebaiknya tidak dipajang yaitu:
    • Hasil ulangan siswa
    • Soal-soal ulangan
    • Hasil kerja yang mengakibatkan siswa kecil hati

    Cara Memajangkan yaitu:
    • Mudah dilihat,dibaca, dipasang & dilepas.
    • Tidak mengganggu & membahayakan
    • Estetis
    • Dikelompokkan (Individual/kelompok)

    Kriteria Pemajangan yaitu:
    • Menarik
    • Baik
    • Menggugah orang lain untuk memperhatikan
    • Dapat motivasi

    Sebaiknya pajangan diganti setiap KD berganti atau sesuai dengan kesepakatan guru dengan siswa
    Contoh pajangan: hasil karya siswa yang mendapat nilai terbaik.
                5. KETRAMPILAN BERTANYA
      Salah satu teori balajar adalah mengkonstruksi pengetahuan. Kecakapan berpikir anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana pertanyaan yang diajukan guru agar pengetahuan anak terbangun dengan baik. Sehingga ternyata kita perlu belajar menyusun pertanyaan.
      1. Tujuan Guru Bertanya :
        • Menggali kemampuan/ide-ide yang dimiliki siswa
        • Mengetahui kompetensi yang telah dimiliki siswa
        • Mendorong siswa berpikir
      2. Pertanyaan yang sering dilontarkan guru kepada siswa :
        • Menuntut jawaban hafalan, karena mudah disusun dan dikoreksi jawabannya
        • Bersifat tertutup
      3. Level Pertanyaan (1)
        • Level 1 : Mencari informasi -> hanya mengungkap aspek ingatan dan tidak memerlukan pemrosesan pengetahuan yang telah dimiliki.
        • Contoh : ( Setelah membaca teks ) :
        • Di mana peristiwa itu terjadi?
        • Siapa yang menjadi korban?
      4. Level Pertanyaan (2)
        • Level 2 : Memerlukan pemrosesan / pemanfaatan pengetahuan yang dimiliki untuk menjawabnya.
        • Contoh : Jelaskan dengan kalimatmu sendiri, isi artikel yang kamu baca !
      5. Level Pertanyaan (3)
        • Level 3 : Memunculkan gagasan baru / penerapan ide / imajinatif
        • Contoh : Apa saja yang bisa kalian lakukan untuk membantu masyarakat miskin di sekitar kita? 

      Evaluasi Kurikulum

      Kurikulum mengarahkan pendidikan menuju kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. Kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut. Kurikulum adalah rancangan pendidikan bagi pelajar dan atau sebagai upaya untuk mengidentifikasi bidang keilmuan (Zais, 1976).
      Konsep kurikulum
      Konsep kurikulum berkaitan dengan pemahaman kurikulum, ruang lingkup kurikulum, termasuk ruang lingkup evaluasi kurikulum. Evaluasi merupakan pengukuran atau penilaian terhadap pelaksanaan rencana pelajaran dan penggunaan sumber-sumber pendidikan. Evaluasi kurikulum merupakan evaluasi pencapaian tujuan. Yang terdiri dari 4 dimensi yaitu : konsep, rencana, proses, dan hasil. Semua dimensi secara simultandapat berupa dimensi gagasan yaitu konsep, rencana, proses, dan hasil belajar (Hasan: 1988)
      Fungsi evaluasi kurikulum
      Evaluasi kurikulum pada fungsinya digunakan untuk memperbaiki atau mengembangkan kurikulum. Menurut Tyler dan Provus (dalam Hasan 1988) berpendapat bahwa hasil evaluasi kurikulum merupakan bahan pertimbangan perbaikan kurikulum. Menurut Cronbach kurikulum juga sebagai pertimbangan pemberian penghargaan. Sedangkan Scriven membedakan fungsi kurium menjadi dua yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif.
      1. Fungsi formatif
      Fungsi formatif digunakan untuk memperbaiki dan mengembangkan kurikulum dan bukan digunakan untuk mengganti kurikulum. Fungsi formatif ini di laksanakan pada saat berlangsungnya suatu program, tujuan utama memperbaiki beberapa kelemahan sesegera mungkin tanpa menunggu program tersebut selesai terlaksanakan. Misalnya pelaksanaan pengajaran, pelaksanaan bimbingan administrasi, penggunaan buku pelajaran da lain-lain.
      1. Fungsi sumatif
      Fungsi sumatif diarahkan terhadap hasil suatu kurikulum, untuk menuntaskan pengembangan kurikulum. Fungsi sumatif di laksanakan harus menunggu selesainya suatu program, misalnya setelah satu tahun program berjalan, atau setelah lembaga pendidikan menghasilkan lulusannya.
      Jenis kurikulum
      Tidak lepas dari fungsi evaluasi kurikulum dan tujuan kurikulum , jenis evaluasi kurikulum menunjuk pada dimensi kurikulum yang akan dievaluasi dan masing-masing dapat dievaluasi menggunakan formatif maupaun sumatif. Ada empat jenis evaluasi kurikulum yaitu:
      1. Evaluasi Reflektif
      2. Evaluasi Rencana
      3. Evaluasi Proses
      4. Evaluasi Hasil
      Model Evaluasi Kurikulum
      Model evaluasi kurikulum secara garis besar ada dua yaitu Model evaluasi kuantitatif dan model evaluasi kualitatif.
      1. Model Evaluasi Kuantitatif
      Model evaluasi kuantitatif diwarnai oleh paradigma positivisme, sehingga menonjolkan penggunaan data kuantitatif dan menunjukkan pentingnya pengukuran dalam proses evaluasi. Dalam model ini melihat kurikulum sebagai hasil belajar dan menjadikan hasil belajar sebagai kriteria pokok dalam proses evaluasi. Model evaluasi kuantitatif terbagi menjadi:
      1. Model Tyler (Model Blackbox)
      Model ini dipaparkan oleh Ralph Tyler, ia mengemukakan dua dasar pemikiran yaitu untuk mengevaluasi tingkah laku anak dan evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kurikulum dilaksanakan.
      1. Model Teoretik Taylor dan Marguirer
      Model evaluasi ini mendasarkan pertimbangan teoritik suatu model evaluasi kurikulum. Model in agaknya terpengaruh Tyler terutama dari unsurnya yaitu yang dikembangkan dengan pendekatan tingkah laku, strategi dan pendekatan psikomotorik.
      1. Model Pendekatan Sistem Alkin
      Model Alkin dekenal dengan pendekatan sistem, yang disebut sebagai pendekatan ekonomi mikro. Model Alkin dipengaruhi oleh psikometrik dan atau ekonometrik. Pengukuran dan kontrol terhadap variabel merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh seoran evaluator. Besar kecinya setiap unit harus benar-benar diperhatikan dalam pengaruh dan harus di kontrol.
      1. Model Countenance Stake
      Model ini menekankan betapa pentingnya evaluator mampu mengembangkan tujuan kurikulum memnjadi tujuan-tujuan yang terukur, memperhatikan keadaan sebelum kegiatan berlangsung (antecenden) ketika kegiatan berlangsung (transaction) dan mampu mengkaitkannya dengan berbagai bentuk hasil belajar (outcomes).
      1. Model CIPP (Context, Input, Process, Product)
      Sebagaimana namanya, model ini komponen utamnnya terdiri dari context, input, proces, dan product. Sasaran evaluasinyapun sama dengan namnya dan merupakan suatu rangkaian yang menyeluruh-utu, sekalipun acapkali para evaluator hanya menilai satu, dua, atau mengevaluasi keterkaitan antar jenis evaluasi tersebut.
      1. Model Evaluasi Kualitatif
      Model evaluasi kualitatif memberikan sumbangan yang berarti dalam evaluasi kurikulm karena sifatnya yang komunikatif dengan para pemakai hasil evaluasi dan penggambarannya terhadapa pelaksanaan kurikulum baik. Model evaluasi kualitatif yaitu:
      1. Model Studi kasus
      Pusat perhatian dalam model evaluasi ini pada pelaksanaan kurikulum dalam unit kegiatan pendidikan, namun unit tersebut hanya terdiri dari satu kelas atau satu sekolah atau bahkan satu guru sehingga hasil evaluasinya ridak dapat digenerelasiskan. Model studi kasus mengakui adanya multiple-realities.
      1. Model Iluminatif
      Model evaluasi Iluminatif ditegakkan oleh dua konsep yaitu sistem instruksional dan lingkungan belajar. Secara metodologis model evaluasi Iluminatif bukanlah model evaluasi yang standar, namun bersifat adaptif dan eklektik. Sehingga dalam model evaluasi ini dapat digunakan metode apapun, namun yang sesuai dengan permasalahan dan datanya dapat bersifat kualitatif dan kuantitatif.
      1. Model Responsif
      Model evaluasi responsif kegiatan evaluasinya terbatas pada kurikulum dimensi proses.
      Dalam model evaluasi ini perbedaan pandangan orang-orang yang terblibat dalam
      pelaksanaan kurikulum dapat dijadikan sumber pengembangan kriteria evaluasi,
      sehingga model responsif instrumennya kurang standar.

      Evaluasi kurikulum pendidikan seni rupa dalam Dimensi Proses

            Model pendekatan sistem Alkin untuk mengevaluasi kurikulum pendidikan seni rupa dalam dimensi proses yaitu:
           Kurikulum seni rupa dalam dimensi proses adalah kurikulum seni rupa yang benar-benar terjadi di lapangan/sekolah, bisa disebut dengan kurikulum aktual yaitu kegiatan pembelajaran di sekolah. Kurikulum seni rupa dalam dimensi proses memiliki pengertian kesinambungan dari kurikulum seni rupa dalam dimensi gagasan dan/rencana. Sehingga apabila dievaluasi kurikulum seni rupa ini jelas tidak cocok bila menggunakan model Tyler (Model Blackbox) dan Teoretik Taylor dan Maguire. Sebab kedua model tersebut hanyalah pengevaluasian kurikulum masih dalam dimensi gagasan atau rencana, keduanya tidak mengevaluasi tentang proses penerapan dalam sekolah/lapangan, apalagi hasil belajar, keduanya tidak cocok.
      Model pendekatan sistem Alkin karena dalam model pendekatan ini pengevaluasian dilakukan untuk kurikulum yang telah diImplementasikan artinya kurikulum seni rupa yang sedang beralngsung yaitu (kurikulum dalam dimensi proses) dan bukan burikulum yang sedang direncanakan. Memang, apabila menggunakan model evaluasi lainnya seperti Countenance Stake atau pengembangannya yaitu model Responsif bisa dilakukan karena kurikulum telah berlangsung. Namun dalam model-model itu pengevaluasian sampai kepada keberhasilan dari kurikulum, sehingga kurang efisien dalam waktu, karena harus menunggu hasil yang didapatkan, apabila bisa mengevaluasi pada saat kurikulum berlangsung, kenapa harus menunggu hasil belajar selesai?Saya rasa bila menggunakan model Countenance Stake, CIPP atau model Responsif kuranglah sesuai sebab kurikulum yang dievaluasi adalah dalam dimensi proses. Meskipun tidak memungkiri adanya kelebihan-kelebihan dari model -model evaluasi lainnya yang tepat digunakan untuk pengevaluasian kurikulum seni rupa secara menyeluruh, namun model pendekatan sistem Alkinlah yang lebih tepat untuk evaluasi kurikulum seni rupa. Apalagi ketika ditemui dalam kehidupan nyata, proses belajar siswa sangatlah penting sebagai penentu keberhasilan belajar dan apabila ada kecacatan dalam prosesnya maka perlu segera diperbaiki tanpa perlu menunggu hasil. Dalam pembelajaran seni rupapun tidak hanya semata-mata memperhatikan hasil namun bagaimana proses siswa itu dalam berkarya seni atau dalam proses mempelajari seni rupa.

      Perlunya evaluasi kurikulum seni rupa secara berkala

      Dalam pelaksanaannya, kurikulum dibuat oleh setiap guru di setiap satuan pendidikan untuk pelaksanaan pembelajaran. Namun kurikulum seni rupa perlu selalu diubah, diperbaiki, dan dikembangkan, dengan tujuan untuk melakukan penyesuaian dengan realitas yang terjadi di masyarakat. Perubahan kurikulum akan dilakukan baik dalam kurun waktu tertentu dan teratur maupun kapan saja apabila perubahan tersebut dianggap perlu, oleh karena itu evaluasi kurikulum perlu dilakukan secara berkala agar mampu menjawab perubahan kehidupan dan tatanan masyarakat disesuaikan dengan kondisi kebutuhan, tuntutan zaman, dan perkembangan IPTEKS serta perkembangan-perkembangan lainnya yang mungkin terjadi setiap saat. Kurikulum pendidikan seni rupa ini peka terhadap perubahan secara berkala tersebut. Sehingga dengan penyusunan kurikulum secara berkala, akan mampu menopang celah-celah kelemahan program seni rupa yang akan disebarkan ke wilayah mahasiswa.
      Pengevaluasian kurikulum seni rupa ini pada tujuannya merupakan penilaian kurikulum yang meliputi komponen-komponen kurikulum, apakah baik atau tidak, layak dilanjutkan atau tidak. Karena pengevaluasian kurikulum ini dapat dalam berbagai dimensi sesuai komponen-komponennya, maka evaluasinya perlu berkala agar apabila ada ketidak cocokan antar komponen kurikulum maka kurikulum seni rupa dapat segera diperbaiki atau diganti. Pengevaluasian kurikulum seni rupa ini dapat menggunakan evaluasi formatif maupun sumatif. Sebagai contoh jika seorang guru yang sedang menggunakan kurikulum tertentu tetapi sebelum sempat berhasil terdapat kendala atau dirasakan kurang cocok di tengah jalan, maka gugu tersebut dapat langsung memperbaikinya dengan evaluasi fungsi formatif. Dalam hal lain fungsi formatif merupakan upaya perbaikan kurikulum sedangkan fungsi sumatif sebagai bahan pertimbangan atau pnentuan pergantian kurikulum.

      Evaluasi kurikulum seni rupa tersebut pada dasarnya merupakan upaya penyempurnaan kurikulum yang berjalan terus menerus. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif. Kurikulum yang telah di perbaiki diharapkan menjadi “dongkrak” kualitas pendidikan yang kondisinya semakin mengkhawatirkan. Perbaikan kurikulum diharapkan membawa berkah, dan menjadi momentum untuk perbaikan kualitas pendidikan, yang berarti juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan (continuous quality improvement). Hal ini menjadi sangat penting, terutama jika dikaitkan dengan pencapaian Millenium Development Goals 2015.

      Saturday, January 30, 2016

      Contoh analisis gambar anak 11 tahun

                                                                  Judul       : Masjit
                                                                  Pembuat : Hasim
                                                                  Tahun     : 2012
                                                                  Media      : Pensil warna di atas kertas gambar
      1. Identifikasi
      Gambar dengan tema masjid ini dibuat oleh seorang anak laki-laki bernama Sahal. Usia Sahal 11 tahun saat membuat gambar ini. Sahal merupakan anak yang terkecil dari kedua saudara laki-lakinya. Ibu Sahal juga pernah mengatakan bahwa Sahal terlahir secara prematur, Sahal lahir setelah ibunya mengandungnya selama hanya 8 bulan saja. Hal itu membuat Sahal pernah sekali tidak dapat naik peringkat kelas. Namun ibunya tidak kecewa atau marah terhadap Sahal mengingat masa kecilnya yang terlahir secara prematur. Sahal merupakan anak dari orang tua yang bekerja sebagai pemilik dan pengurus kost-kostan di Banaran.
      1. Deskripsi
      Gambar yang dibuat Sahal terdiri dari sebuah gambar masjid yang terletak pada bagian kanan bidang gambar. Gambar masjid tersebut terdiri dari sebuah gambar persegi empat besar dengan sebuah bangun setengah lingkaran di atasnya. Dua bangun persegi panjang sangat kecil dan panjang yang masing-masing menempel pada sisi kanan kiri masjid adalah bentuk menara dengan puncaknya yang diberi bentuk segitiga. Pada bagian dasar masjid terdapat sebuah gambar persegi panjang dengan pembagian dua garis yang berfungsi sebagai pintu masjid, sedangkan pada puncak masjid tedapat tulisan Alloh.
      Pada bagian sisi kiri bidang gambar hanya terdapat sepasang pohon yang sama kecilnya dengan penambahan semak-semak di antaranya. Pohon tersebut terlihat tampak sama satu sama lain.
      Bagian atas bidang gambar Sahal melengkapi gambarnya dengan tiga buah awan yang berwarna biru. Tidak lupa terdapat tulisan “tema masjit” di bagian atas bidang gambar.
      Warna yang digunakan Sahal tidak banyak, empat warna untuk mewarnai obyek-obyek gambarnya. Warna biru untuk awan dan masjid pada bagian bentuk persegi dan setengah lingkaran. Menara dan pintu masjid berwarna kuning keseluruhan. Warna pohon dan semak-semak adalah hijau dan batang pohon berwarna coklat.
      1. Analisis
      Dilihat dari usia Sahal yaitu 11 tahun, Sahal tergolong ke dalam periodisasi masa Realisme semu. Dalam masa tersebut adanya keterkaitan gambar yang satu dengan yang lain. Begitu pula yang nampak pada gambar yang dibuat oleh Sahal ini, adanya gambar masjid tidak lepas dari gambar pohon dan awan yang menjadi satu kesatuan gambar, meskipun tidak terdapat adanya interaksi manusia maupun hewan.
      Berdasarkan masa Reslisme semu yang dialami Sahal seharusnya gambar yang dibuat pada anak usia ini karya-karyanya tidak menampilkan garis dasar lagi. Namun dalam gambar yang dibuat Sahal ini meskipun tidak ada pembuatan garis vertikal namun Sahal menggunakan garis bawah bidang gambar sebagai garis vertikal tempat berdirinya segala obyek gambar. Pendekatan realistis tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, nampak pada gambar masjid yang ukurannya sangat besar dibandingkan dengan pohon yang dibuat. Meskipun upaya pembuatan pintu masjid yang disetarakan dengan tinggi pohon merupakan upaya realisme namun penampakan pohon tetap terlihat sangat kecil.
      Konsepsi mengenai masjid pun tidak dilakukan oleh Sahal secara mendetail. Masjid yang dibuat sederhana tidak mencerminkan adanya detail masjid. Hanya dibuat dari beberapa bentuk bangun yang tidak disertai dengan pelengkap seperti misalnya jendela, ventilasi, motif bangunan masjid maupun manusia yang sedang beraktivitas di dekat masjid. Demikian pula pada area sekitar masjid hanya digambarkan sepasang pohon dan semak. Meskipun jika pemilihan obyek yang dibuat simpel namun yang dibuat Sahal tidak banyak sehingga tidak terlalu memenuhi bidang gambar.
      Selain hal-hal tersebut, pemilihan warna yang digunakan Sahal kurang bervariatif dipengaruhi oleh gambar yang dibuatnya pula. Sahal cenderung menggunakan sebuah warna untuk mengeblok sebuah bidang, sehingga warna yang muncul kurang bervariasi.
      1. Interpretasi
      Sepertinya Sahal termasuk dalam golongan anak yang kurang kreatif. Sekalipun gambarnya sudah menginjak realisme semu namun terdapat beberapa hal yang kurang dalam masa tersebut. Jika dilihat dari gambar yang dibuat, Sahal tidak merasakan adanya kesenangan dalam menggambar. Nampak dari warna yang digunakan penuh hanya untuk membuat gambar terlihat sudah selesai. Selain pengaruh dari peralatan pewarna yang digunakan oleh Sahal, semangatnya pun kurang dalam melakukan pekerjaan menggambar ini. Jika dilihat dari latar belakangnya yang lahir secara prematur tidak heran jika kemampuan Sahal kurang maksimal.
      1. Evaluasi/nilai

      Berdasarkan gambar yang dibuat oleh Sahal serta latar belakangnya. Gambar ini tergolong cukup.

      Contoh analisis gambar Anak 5 tahun

                                                                  Judul       : Rumahku
                                                                  Pembuat : Hasim
                                                                  Tahun     : 2012
                                                                  Media      : Spidol di atas kertas gambar
      1. Identifikasi
      Gambar ini dibuat oleh Hasim dengan usia 5 tahun. Hasim merupakan anak laki-laki dari seorang pedagang, orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai pedagang makanan di depan rumahnya. Pekerjaan yang dilakukan orang tua Hasim pada malam hari menyebabkan orang tua Hasim memiliki banyak waktu luang pada siang hari. Tidak heran jika setiap hari ibunya mengantarkannya ke sekolah TK. Hasim juga memiliki seorang kakak perempuan yang kini berusia 10 tahun dan menginjak bangku Sekolah Dasar kelas 5.
      1. Deskripsi
      Pada gambar yang dibuat oleh Hasim ini nampak sebuah gambar rumah yang berada di tengah bidang gambar. Di tengah rumah tersebut terdapat gambar sosok seorang manusia yang sedang berdiri. Rumah tersebut memiliki sebuah pintu yang terletak pada sebelah kanan sosok manusia dan sebuah jendela pada sisi kiri manusia. Jendela tersebut tergaris kotak-kotak sehingga membagi kotak jendela menjadi empat bagian. Bagian atap rumah nampak garis kotak-kotak pula namun sangat banyak. Di depan rumah juga terdapat jalan menuju ke bawah bidang gambar. Terdapat pula sebuah gambar yang berbentuk mirip microfon yang terdapat di samping kanan jalan tersebut.
      Di sebelah kiri rumah tersebut terdapat sebuah pohon yang ukurannya tidak melenceng dari ukuran rumah yang telah dibuat Hasim. Pohon tersebut terlihat memiliki banyak garis pada bagian ujung atas batang pohon. Terdapat pula 4 buah figur manusia di bawahnya sedang berdiri.
      Sedangkan disebelah kiri rumah nampak gambar lingkaran sebanyak 14 buah dengan garis-garis yang menghubungkannya. Objek tersebut berada di bawah sebuah garis yang menyatu dengan bangunan rumah di sebelahnya.
      Pada bgian bawah bidang gambar terdapat sejumlah coretan meliuk-liuk banyak dan memenuhi sepanjang garis bidang gambar pada bagian bawah. Garis tersebut hampir mirip dengan coretan bentuk air laut.
      Pada bagian atas bidang gambar terdapat gambar awan yang berjejer sebanyak lima buah yang memenuhi bagian atas bidang gambar. Gambar awan tersebut diikuti oleh banyak garis vertikal yang turun ke bawah, namun tidak sampai ke bawah bidang gambar, hanya sampai hampir pada pertengahan bidang gambar. Di tengah awan yang berjejer tersebut terdapat sebuah matahari dengan penampilan llingkaran dan garis yang mencuat dari permukaan lingkaran.
      1. Analisis
      Menurut usianya, Hasim tergolong dalam masa Prabagan dalam periodisasi menggambar. Pada usia Hasim lazimnya gambar yang dibuat adalah gambar bentuk-bentuk obyektif yang belum terdapat hubungan antara obyek satu dengan yang lainnya. Namun dalam gambar ini Hasim sudah dapat menyatukan obyek-obyek gambar ke dalam sebuah kertas gambar dimana sudah dapat menceritakan sebuah cerita. Jika hanya dilihat dari gambarnya, gambar ini sudah tergolong dalam gambar masa realisme semu. Meskipun jika dibandingkan dengan gambar anak yang berusia sekitar 11-15 tahun gambar ini lebih jelek, namun demikian gambar ini masuk dalam masa realisme semu. Meskipun obyek-obyek yang dibuat sederhana dan belum baku namun sudah terdapat adanya sebuah cerita dalam gambar ini. Cerita dalam gambar ini nampak pada pengkomposisian obyek gambar yang ditata sedemikian rupa.
      Gambar lima buah awan pada bagian atas bidang gambar merupakan bentuk ungkapan mendung disertain hujan yang dibuat Hasim berupa garis-garis memanjang yang menyertai awan tersebut. Pada bagian rumah Hasim tetap menggambar seorang manusia yang sedang berdiri di dalamnya. Berdasarkan bentuk ungkapan gambar anak, gambar ini termasuk ke dalam Ideoplastis. Suasana yang sedang hujan diluar membuat seorang figur tersebut aman dan tidak basah karena berada di dalam rumah. Sedangkan bentuk banyak lingkaran dengam banyak garis merupakan bentuk ungkapan kendaran yang terdapat di samping rumah Hasim. Garis mendatar yang menyatu di samping kanan rumah tersebut merupakan perwujudan dari bentuk teras rumah, sehingga kendaraan-kendaraan tersebut aman dari hujan. Sedangkan empat figur manusia lain yang terdapat diluar rumah nampak sedang berada di bawah pohon, hal ini mernceminkan tentang manusi-manusia yang berteduh di bawah pohon. Garis-garis meliuk di bawahnya merupakan genangan air hujan di jalan raya. Di rumah Hasim yang sebenarnya memang setiap hujan selalu ada genangan air di jalan depan rumahnya.
      Berdasarkan begitu banyaknya obyek gambar yang digambar oleh Hasim, gambar ini dapat tergolong ke dalam gambar yang kreatif. Menurut Safarina (2005:27), mengukur potensi kreatif anak pada usia 4-11 tahun dapat menggunakan tugas menggambar. Semakin banyaknya detail pada gambar yang dibuat mencirikan potensi kreatif anak. Meskipun setiap obyek yang digambar tidak detail namun dalam satu bidang gambar Hasim dapat menggambarkan begitu banyak detail cerita yang luar biasa.
      1. Interpretasi
      Setelah meneliti gambar yang dibuat oleh Hasim, sepertinya Hasim merupakan anak yang kreatif. Hal itu tercermin pada gambar yang dibuat dengan berbagai banyak obyek, pemilihan tema, serta cerita yang unik di dalamnya. Pada saat membuat gambar ini Hasim tidak merasakan adanya tekanan mental sama sekali bahkan kemungkinan ia sedang senang, nampak pada gambar yang dibuat adalah obyek-obyek yang aman dari hujan. Pemenuhan bidang gambarpun merupakan rasa percaya diri dari Hasim. Hasim tidak tergolong dalam anak yang pemalu. Ia mampu menceritakan apa saja yang pernah dilihatnya dalam bentuk gambar. Hal ini kemungkinan berasal pula dari dorongan orang tuanya yang kerap memberikan perhatian kepada Hasim.
      1. Evaluasi/nilai

      Berdasarkan gambar yang telah dibuat oleh Hasim, gambar ini termasuk gambar yang sangat bagus jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya.