Showing posts with label deskripsi. Show all posts
Showing posts with label deskripsi. Show all posts

Monday, January 11, 2021

Tahapan dalam Resensi Seni

Karya seni rupa baik dua dimensi maupun tiga dimensi, memiliki bentuk (form) dan isi (content). Kedua aspek pada karya seni tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Penyebabnya adalah aspek bentuk merupakan unsur fisik suatu karya seni, sementara isi merupakan unsur nonfisiknya. Menurut Sumardjo (2000), keterkaitan antara bentuk dan isi yang 'ada pada sebuah karya seni rupa akan memunculkan sebuah nilai, yang disebut dengan nilai estetis.

Sementara itu, Edmund Burke Feldman (1967) menyatakan bahwa untuk dapat mengetahui kualitas estetis sebuah karya, diperlukan empat tahapan, yaitu deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Tahapan resensi seni bersifat  prosedural, berurutan, dan tidak bisa dilakukan secara bolak-  balik.

1. Deskripsi

Deskripsi adalah suatu penggambaran atau pelukisan subject matter karya seni rupa melalui kata-kata, Penjelasan terhadap apa saja yang tampak secara visual diharapkan dapat membangun bayangan atau citra bagi pembaca deskripsi tersebut mengenai karya seni yang disajikan. Uraian deskripsi biasanya ditulis sesuai keadaan yang sesungguhnya, sembari berusaha menelusuri gagasan, tema, teknis, media, dan cara pengungkapannya.

Deskripsi bukan dimaksudkan untuk menggantikan karya itu tetapi sebagai penjelasan mengenai gambaran visual seta citra yang ditampilkan secara jetas dan gamblang. Pada tahapan ini penilaian atau keputusan mengenai karya seni dapat dan ditangguhkan terlebih dahulu karena kritik harus mendahulukan penjelasan-penjelasan dasar berupa suatu gambaran yang lengkap. Contoh aspek yang perlu diuraikan dalam deskripsi, di antaranya judut, ukuran, tahun pembuatan, nama seniman, waktu dan tempat pembuatan karya bahan, teknik, dan alat yang  digunakan, perbentukan subject matter, serta unsur-unsur rupa.

2. Analisis Formal

Proses ini dapat dimulai dengan cara menganalisis objek secara keseluruhan mengenai kualitas unsur-unsur visuaL Selanjutnya, objek dianalisis bagian per bagian, seperti menjelaskan tata cara pengorganisasian unsur-unsur elementer kesenirupaan, di antaranya kualitas garis, bidang, warna, dan tekstur. Analisis juga dilakukan terhadap komposisi karya secara keseluruhan, seperti masalah keseimbangan, irama, pusat perhatian, kontras, dan kesatuan. Setelah itu, analisis dilanjutkan dan pada ihwal gagasan atau konstruksi subject matter sehingga tata cara proses perwujudan karya beserta urutannya dapat dianalisis.

3. Interpretasi

Interpretasi adalah menafsirkan hal-hal yang terdapat di balik sebuah karya untuk mengungkap makna, pesan, atau nilai yang dikandungnya. Interpretasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan penghayatan terhadap karya secara saksama, baik secara deskriptif maupun analisis bentuknya. Setiap penafsiran dapat mengungkap hal-hal yang berhubungan dengan pernyataan di balik struktur bentuk, misalnya unsur psikologis pencipta, latar belakang sosial budaya, gagasan, abstraksi, pendirian, pertimbangan, hasrat, kepercayaan, dan pengalaman tertentu senimannya. Interpretasi yang tepat diperlukan dalam rangka penilaian kritis. Interpretasi yang baik diperlukan untuk memakami pengetahuan kultural terhadap karya.

Berikut adalah prinsip-prinsip penafsiran yang dikemukan oleh Terry Barret.

a. Penafsiran adalah argumen yang bersifat persuasif.

b. Rasa atau feeling adalah pedoman bagi penafsiran.

c. Tafsir-tafsir atas suatu karya seni bisa saja berlainan karena didasarkan atas pandangan hidup yang menafsirkan.

d. Tafsir yang baik harus memiliki kesesuaian, koherensi, dan korespondesi dengan tahapan deskrispsi dan analisis formal yang telah dilakukan sebelumnya.

e. Tafsir suatu karya seni tidak harus sama dengan pernyataan seniman.

f. Tafsir tidak dapat menyatakan kebenaran secara mutlak, melainkan hanya mendekati kebenaran akan makna suatu karya seni.

4. Kesimpulan atau Menilai Karya Seni

Sebuah penilaian yang baik harus didasarkan atas deskripsi/ analisis formal, dan interpretasi sebuah karya seni dengan data Visual ataupun penjelasan-penjelasan tambahan dari seniman. Penilaian dalam kritik seni umumnya menggunakan angka, seperti nilai 100 untuk hasil yang sempurna tanpa kesalahan, rentang angka 85-90 dianggap baik, rentang 70-84 dianggap cukupı dan rentang 55-69 dikategorikan kurang. Penilaian kritik seni juga bukan dengan huruf A untuk hasil yang sangat baikı B untuk hasil yang baik, C untuk hasil yang cukup, D untuk hasil yang kurangı dan E untuk hasil yang tidak lulus.

Penilaian terhadap karya seni dapat dilihat pada tingkat keberhasilan karya tersebut dalam menyampaikan pesan sesuai dengan keinginan penciptanya dan bentuknya yang indah. Aspek penilaian juga sangat memperhatikan gaya perseorangan, tema, kreativitas, dan teknik mewujudkan karya. Penilaian terhadap karya seni juga perlu menggunakan acuan-acuan tambahan sebagai komparasi atau perbandingan atas kualitas nilai sebuah karya. Contohnya adalah karya seni zaman sekarang tidak boleh dibandingkan dengan karya sebelumnya.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Thursday, December 17, 2020

Tahapan Apresiasi Seni Budaya

Menurut Edmund Feldman, kegiatan apresiasi seni rupa dapat dilaksanakan melalui empat tahapanı yakni deskripsil analisis, interpretasi, dan penilaian. 

1. Deskripsi 

Tahap pertama dalam mengapresiasi seni budaya adalah tahap deskripsi. Tahap deskripsi dilakukan dengan mengidentifikasi suatu bentuk karya seni atau budaya melalui hasil cerapan atau tangkapan pancaindra. Identifikasi suatu karya meliputi identifikasi jenis karya (apakah termasuk jenis seni rupa, seni musik, seni tari, atau seni pertunjukan), bentuk fisik dari karya, judul karya, nama senimanı waktu penciptaan serta keterangan tentang alat, bahan, ataupun teknik penciptaan yang digunakan. Tahapan deskripsi bersifat objektif dalam artian hanya melaporkan hal-hal yang ditangkap panca indra tanpa dianalisis dan ditafsirkan secara lebih jauh. Informasi yang diperoleh dalam tahapan deskripsi akan digunakan sebagai petunjuk awal dalam melakukan penilaian.

Contoh dari tahapan deskripsi adalah deskripsi yang dilakukan pada pagelaran sendratari Ramayana yang dilangsungkan di pelataran Candi Prambanan. Ketika menonton pagelaran tersebut seseorang dapat membuat deskripsi pagelaran, seperti lokasi dan waktu berlangsungnya pagelaran, jumlah penari yang terlibat dalam pagelaran tersebut, bentuk kostum dan tata rias yang digunakan para penari, alur cerita dan dialog yang dibawakan, hingga tata panggung, tata cahaya, dan tata musik pengiring Yang digunakan dalam pertunjukan tersebut.

2. Analisis 

Tahapan analisis dilakukan dengan mengaitkan unsurunsur pembentuk yang terlihat dalam suatu karya. Unsur-unsur tersebut dapat berupa bentuk objek, ukuran objek, warna objek, hingga tekstur objek. Dapat dikatakan bahwa tahapan ini berfokus pada hubungan antar unsur. 

Pada tahap analisis, seseorang akan melihat lebih jauh mengenai bentuk fisik suatu karya, seperti komposisi dan keseimbangan dari unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Contohnya dalam lukisan potret Ratu Sirikit karya Basoeki Abdullah, objek lukisan, yakni potret Ratu Sirikit, diletakkan tepat di tengah kanvas. Objek dilukis dengan komposisi yang pas, dalam artian tidak terlalu beşar dan tidak terlalu kecil. Pada lukisan tersebutı nüansa warna biru dan putih sangat dominan, dengan tambahan warna hitam, merah, krem, dan cokelat muda untuk memperjelas detail warna rambut, bibirı kulit wajah, leherı dan telinga, serta warna dalam topi. Peletakan objek tepat di tengah kanvas umumnya digunakan untuk menarik perhatian orang yang melihatnya agar langsung fokus pada objek tersebut. Sementara itu, penggunaan warna-warna yang dominan berpadu dengan warna-warna pendukungnya dalam menciptakan bentuk Visual yang indah.

 

Sumber: dokumentasi penulis Gambar 6.4 Lukisan potret Ratu Sirikit karya Basoeki Abdullah.

3. Interpretasi 

Tahap interpretasi atau tahap penafsiran merupakan tahap penangkapan makna yang terkandung dalam suatu karya seni. Tahap interpretasi merupakan tahap lanjutan yang menggabungkan semua informasi yang diperoleh melalui tahap deskripsi dan analisis untuk menghasilkan suatu simpulan makna. Menurut Feldman, tahapan ini merupakan tahapan Paling sulit, sekaligus paling kreatif dan bermanfaat dalam tahapan apresiasi. Melalui tahapan ini, seorang penikmat seni dapat menebak makna berupa pesan yang hendak disampaikan Oleh seniman dalam karyanya. Apabila penikmat seni tersebut berhasil memahami makna yang terkandung dalam suatu karya, tanpa disadari terjalin komunikasi antara seniman dan penikmat seni tersebut.

Tahap interpretasi tidak hanya berdasarkan unsur instrinsik (seperti bentuk fisik karya), tetapi juga unsur ekstrinsik, seperti latar belakang yang memengaruhi seniman untuk menciptakan karya tersebut. Pengetahuan terhadap unsur intrinsik dan ekstrinsik suatu karya akan turut membentuk interpretasi atas karya tersebut. 

Contoh dari tahapan interpretasi dapat kembali dilihat mclalui lukisan potret Ratu Sirikit karya Basoeki Abdullah. Berdasarkan unsur intrinsiknya, penggunaan warna putih dan biru sebagai warna dominan dapat diinterpretasikan sebagai bentuk penggambaran keanggunan sosok ratu dalam diri Ratu Strikit. Keanggunaan tersebut tidak hanya tampak melalui penggunaan warna, tetapi juga penggambaran busana dan aksesori yang digunakan oleh sang ratu. Kecantikan Ratu Sirikit ditonjolkan dengan penggunaan warna hitam pada rambut, bibir berwarna merah, dan pipi yang bersemu kemerahan. Sementara Itu, ekspresi senyum yang tersungging di wajah menunjukkan bahwa Ratu Sirikit memiliki kepribadian yang hangat. 

Berdasarkan unsur ekstrinsiknya, diketahui bahwa tukisan tersebut dibuat oleh Basoeki Abdullah untuk menyambut kedatangan keluarga kerajaan Thailand, yakni Ratu Sirikit dan suaminya, Raja Bhumibol Adulyadej ke Indonesia. Pada masa itu, Basoeki Abdullah merupakan pelukis yang sering ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk membuat lukisan potret tokoh-tokoh penting, termasuk tokoh-tokoh mancanegara, yang berkunjung ke Indonesia. Pada kunjungan tersebut, Basoeki Abdullah tidak hanya membuat lukisan potret Ratu Sirikit, tetapi juga suaminya. Lukisan tersebut digunakan sebagai bentuk penghargaan dan wujud persahabatan antara Indonesia dan keluarga kerajaan Thailand.

Dengan demikian, lukisan potret Ratu Sirikit tersebut dapat diintepretasikan ke dalam dua makna. Makna pertama adalah bentuk penghormatan seniman (Basoeki Abdullah) keenggunan, kecantikan, dan kepribadian yang dimiliki sosok Ratu Sirikit. Sementara itu, makna kedua adalah bentuk penghargaan Indonesia terhadap keluarga Kerajaan Thailand.

4. Penilaian

Tahap penilaian merupakan tahap akhir dalam tahapan apresiasi. Tahap ini terdiri atas dua hal, yakni evaluasi dan kesimpulan. Melalui tahap ini, seseorang akan memberikan penilaian terhadap suatu karya seni setelah memahami aspek-aspek pembangun karya seni tersebut. Namun, hasil penilaian sering kali terpengaruh oleh hal-hal subjektif, misalnya harga untuk menikmati karya seni tersebut ataupun pendapat pribadi. 

Contohnya, meskipun suatu karya seni memiliki nilai yang bagus bentuk dan makna, penilaian tersebut dapat berkurang karya seni tersebut memiliki harga yang teramat mahal orang yang menilainya memiliki masalah pribadi dengan seniman pembuatnya. Akibatnya, tingkat apresiasi pun  berkurang. Untuk itu, sangat penting untuk mengingat bahwa dalam memberikan penilaian atas suatu karya, sebaiknya diutamakan sisi objektif.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Tuesday, December 15, 2020

Contoh Soal Uraian Apresiasi Seni Budaya Nusantara

1. Jelaskan pengertian apresiasi!

2. Menurut pendekatannya apresiasi ada 2 jelaskan!

3. Sebutkan masing-masing dua cara melakukan:

    a. Pendekatan aplikatif

    b. Pendekatan kesejarahan

4. Sebutkan 3 jenis apresiasi menrut tingkatannya!

5. Sebutkan 4 tujuan apresiasi seni budaya!

6. Sebutkan 5 fungsi apresiasi seni budaya!

7. Sebutkan 4 tahapan apresiasi!

8. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Deskripsi!

9. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Interpretasi!

10. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Analisis!

11. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Penilaian!

12. Sebutkan 3 cara menerapkan apresiasi seni budaya nusantara!



Kunci Jawaban:

1. Apresiasi adalah upaya untuk memahami bentuk-bentuk dan hasil seni budaya secara menyeluruh, termasuk memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, seperti nilai estetika.

2. Menurut pendekatannya apresiasi ada 2 yaitu:

        a. Apresiasi pasif yaitu penilaian bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni melalui pancaindra setelah itu tidak mencari informasi lebih lanjut.

        b. Apresiasi aktif yaitu penilaian bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni melalui pancaindra setelah itu mencari informasi lebih lanjut.

3. Cara melakukan:

    a. Pendekatan aplikatif:

-Mempelajari cara membuat karya seni tersebut (melukis/menari/bermain music/drama)

-Bergabung dengan sanggar/kursus pelatihan seni

-Mengunjungi museum/studio seni

-Praktek berkesenian secara otodidak

    b. Pendekatan kesejarahan:

-Melakukan wawancara pada ahli/ tetua/ pencipta seni/ seniman/ pelaku seni/ keluarga

-Mencari asal-usul/sejarah karya seni tersebut melalui internet

-Mencari asal-usul/sejarah karya seni tersebut melalui buku

4. Jenis apresiai menurut tingkatannya yaitu apresiasi Empatik, apresiasi Estetis, dan apresiasi Kritik

5.Tujuan apresiasi Seni Budaya:

    1. Memahami alasan penciptaan karya seni

    2. Mengembangkan kreativitas

    3. Menumbuhkan kepekaan estetis

    4. Menyempurnakan karya seni

6. Fungsi apresiasi Seni Budaya:

    1. Memahami seni secara mendalam

    2. Mengetahui kualitas suatu karya seni

    3. Mengembangkan kemampuan seniman dan penikmat seni

    4. Menambah pengalaman berkesenian

    5. Meningkatkan kecintaan terhadap karya seni

7. Tahapan apresiasi seni budaya:

    1. Deskripsi

    2. Analisis

    3. Interpretasi

    4. Penailaian

8. Tahapan deskripsi adalah mengidentifikasi suatu bentuk karya seni atau budaya melalui hasil cerapan atau tangkapan pancaindra.

9. Tahapan analisis adalah mengaitkan unsur-unsur pembentuk yang terlihat dalam suatu karya.

10. Tahapan interpretasi adalah tahapan penafsiran atau pengungkapan makna yang terkandung dalam suatu karya seni.

11. Tahapan penilaian adalah tahapan akhir dalam apresiasi yang berisi evaluasi dan kesimpulan. Memberikan penilaian terhadap suatu karya seni.

12. Cara menerapkan apresiasi seni budaya:

    1. Mengenali bentuk-bentuk seni budaya nusantara

    2. Memahami bentuk-bentuk seni budaya nusantara

    3. Menampilkan bentuk-bentuk seni budaya nusantara



Sumber materi: Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Saturday, January 30, 2016

Contoh analisis gambar anak 11 tahun

                                                            Judul       : Masjit
                                                            Pembuat : Hasim
                                                            Tahun     : 2012
                                                            Media      : Pensil warna di atas kertas gambar
  1. Identifikasi
Gambar dengan tema masjid ini dibuat oleh seorang anak laki-laki bernama Sahal. Usia Sahal 11 tahun saat membuat gambar ini. Sahal merupakan anak yang terkecil dari kedua saudara laki-lakinya. Ibu Sahal juga pernah mengatakan bahwa Sahal terlahir secara prematur, Sahal lahir setelah ibunya mengandungnya selama hanya 8 bulan saja. Hal itu membuat Sahal pernah sekali tidak dapat naik peringkat kelas. Namun ibunya tidak kecewa atau marah terhadap Sahal mengingat masa kecilnya yang terlahir secara prematur. Sahal merupakan anak dari orang tua yang bekerja sebagai pemilik dan pengurus kost-kostan di Banaran.
  1. Deskripsi
Gambar yang dibuat Sahal terdiri dari sebuah gambar masjid yang terletak pada bagian kanan bidang gambar. Gambar masjid tersebut terdiri dari sebuah gambar persegi empat besar dengan sebuah bangun setengah lingkaran di atasnya. Dua bangun persegi panjang sangat kecil dan panjang yang masing-masing menempel pada sisi kanan kiri masjid adalah bentuk menara dengan puncaknya yang diberi bentuk segitiga. Pada bagian dasar masjid terdapat sebuah gambar persegi panjang dengan pembagian dua garis yang berfungsi sebagai pintu masjid, sedangkan pada puncak masjid tedapat tulisan Alloh.
Pada bagian sisi kiri bidang gambar hanya terdapat sepasang pohon yang sama kecilnya dengan penambahan semak-semak di antaranya. Pohon tersebut terlihat tampak sama satu sama lain.
Bagian atas bidang gambar Sahal melengkapi gambarnya dengan tiga buah awan yang berwarna biru. Tidak lupa terdapat tulisan “tema masjit” di bagian atas bidang gambar.
Warna yang digunakan Sahal tidak banyak, empat warna untuk mewarnai obyek-obyek gambarnya. Warna biru untuk awan dan masjid pada bagian bentuk persegi dan setengah lingkaran. Menara dan pintu masjid berwarna kuning keseluruhan. Warna pohon dan semak-semak adalah hijau dan batang pohon berwarna coklat.
  1. Analisis
Dilihat dari usia Sahal yaitu 11 tahun, Sahal tergolong ke dalam periodisasi masa Realisme semu. Dalam masa tersebut adanya keterkaitan gambar yang satu dengan yang lain. Begitu pula yang nampak pada gambar yang dibuat oleh Sahal ini, adanya gambar masjid tidak lepas dari gambar pohon dan awan yang menjadi satu kesatuan gambar, meskipun tidak terdapat adanya interaksi manusia maupun hewan.
Berdasarkan masa Reslisme semu yang dialami Sahal seharusnya gambar yang dibuat pada anak usia ini karya-karyanya tidak menampilkan garis dasar lagi. Namun dalam gambar yang dibuat Sahal ini meskipun tidak ada pembuatan garis vertikal namun Sahal menggunakan garis bawah bidang gambar sebagai garis vertikal tempat berdirinya segala obyek gambar. Pendekatan realistis tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, nampak pada gambar masjid yang ukurannya sangat besar dibandingkan dengan pohon yang dibuat. Meskipun upaya pembuatan pintu masjid yang disetarakan dengan tinggi pohon merupakan upaya realisme namun penampakan pohon tetap terlihat sangat kecil.
Konsepsi mengenai masjid pun tidak dilakukan oleh Sahal secara mendetail. Masjid yang dibuat sederhana tidak mencerminkan adanya detail masjid. Hanya dibuat dari beberapa bentuk bangun yang tidak disertai dengan pelengkap seperti misalnya jendela, ventilasi, motif bangunan masjid maupun manusia yang sedang beraktivitas di dekat masjid. Demikian pula pada area sekitar masjid hanya digambarkan sepasang pohon dan semak. Meskipun jika pemilihan obyek yang dibuat simpel namun yang dibuat Sahal tidak banyak sehingga tidak terlalu memenuhi bidang gambar.
Selain hal-hal tersebut, pemilihan warna yang digunakan Sahal kurang bervariatif dipengaruhi oleh gambar yang dibuatnya pula. Sahal cenderung menggunakan sebuah warna untuk mengeblok sebuah bidang, sehingga warna yang muncul kurang bervariasi.
  1. Interpretasi
Sepertinya Sahal termasuk dalam golongan anak yang kurang kreatif. Sekalipun gambarnya sudah menginjak realisme semu namun terdapat beberapa hal yang kurang dalam masa tersebut. Jika dilihat dari gambar yang dibuat, Sahal tidak merasakan adanya kesenangan dalam menggambar. Nampak dari warna yang digunakan penuh hanya untuk membuat gambar terlihat sudah selesai. Selain pengaruh dari peralatan pewarna yang digunakan oleh Sahal, semangatnya pun kurang dalam melakukan pekerjaan menggambar ini. Jika dilihat dari latar belakangnya yang lahir secara prematur tidak heran jika kemampuan Sahal kurang maksimal.
  1. Evaluasi/nilai

Berdasarkan gambar yang dibuat oleh Sahal serta latar belakangnya. Gambar ini tergolong cukup.

Contoh analisis gambar Anak 5 tahun

                                                            Judul       : Rumahku
                                                            Pembuat : Hasim
                                                            Tahun     : 2012
                                                            Media      : Spidol di atas kertas gambar
  1. Identifikasi
Gambar ini dibuat oleh Hasim dengan usia 5 tahun. Hasim merupakan anak laki-laki dari seorang pedagang, orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai pedagang makanan di depan rumahnya. Pekerjaan yang dilakukan orang tua Hasim pada malam hari menyebabkan orang tua Hasim memiliki banyak waktu luang pada siang hari. Tidak heran jika setiap hari ibunya mengantarkannya ke sekolah TK. Hasim juga memiliki seorang kakak perempuan yang kini berusia 10 tahun dan menginjak bangku Sekolah Dasar kelas 5.
  1. Deskripsi
Pada gambar yang dibuat oleh Hasim ini nampak sebuah gambar rumah yang berada di tengah bidang gambar. Di tengah rumah tersebut terdapat gambar sosok seorang manusia yang sedang berdiri. Rumah tersebut memiliki sebuah pintu yang terletak pada sebelah kanan sosok manusia dan sebuah jendela pada sisi kiri manusia. Jendela tersebut tergaris kotak-kotak sehingga membagi kotak jendela menjadi empat bagian. Bagian atap rumah nampak garis kotak-kotak pula namun sangat banyak. Di depan rumah juga terdapat jalan menuju ke bawah bidang gambar. Terdapat pula sebuah gambar yang berbentuk mirip microfon yang terdapat di samping kanan jalan tersebut.
Di sebelah kiri rumah tersebut terdapat sebuah pohon yang ukurannya tidak melenceng dari ukuran rumah yang telah dibuat Hasim. Pohon tersebut terlihat memiliki banyak garis pada bagian ujung atas batang pohon. Terdapat pula 4 buah figur manusia di bawahnya sedang berdiri.
Sedangkan disebelah kiri rumah nampak gambar lingkaran sebanyak 14 buah dengan garis-garis yang menghubungkannya. Objek tersebut berada di bawah sebuah garis yang menyatu dengan bangunan rumah di sebelahnya.
Pada bgian bawah bidang gambar terdapat sejumlah coretan meliuk-liuk banyak dan memenuhi sepanjang garis bidang gambar pada bagian bawah. Garis tersebut hampir mirip dengan coretan bentuk air laut.
Pada bagian atas bidang gambar terdapat gambar awan yang berjejer sebanyak lima buah yang memenuhi bagian atas bidang gambar. Gambar awan tersebut diikuti oleh banyak garis vertikal yang turun ke bawah, namun tidak sampai ke bawah bidang gambar, hanya sampai hampir pada pertengahan bidang gambar. Di tengah awan yang berjejer tersebut terdapat sebuah matahari dengan penampilan llingkaran dan garis yang mencuat dari permukaan lingkaran.
  1. Analisis
Menurut usianya, Hasim tergolong dalam masa Prabagan dalam periodisasi menggambar. Pada usia Hasim lazimnya gambar yang dibuat adalah gambar bentuk-bentuk obyektif yang belum terdapat hubungan antara obyek satu dengan yang lainnya. Namun dalam gambar ini Hasim sudah dapat menyatukan obyek-obyek gambar ke dalam sebuah kertas gambar dimana sudah dapat menceritakan sebuah cerita. Jika hanya dilihat dari gambarnya, gambar ini sudah tergolong dalam gambar masa realisme semu. Meskipun jika dibandingkan dengan gambar anak yang berusia sekitar 11-15 tahun gambar ini lebih jelek, namun demikian gambar ini masuk dalam masa realisme semu. Meskipun obyek-obyek yang dibuat sederhana dan belum baku namun sudah terdapat adanya sebuah cerita dalam gambar ini. Cerita dalam gambar ini nampak pada pengkomposisian obyek gambar yang ditata sedemikian rupa.
Gambar lima buah awan pada bagian atas bidang gambar merupakan bentuk ungkapan mendung disertain hujan yang dibuat Hasim berupa garis-garis memanjang yang menyertai awan tersebut. Pada bagian rumah Hasim tetap menggambar seorang manusia yang sedang berdiri di dalamnya. Berdasarkan bentuk ungkapan gambar anak, gambar ini termasuk ke dalam Ideoplastis. Suasana yang sedang hujan diluar membuat seorang figur tersebut aman dan tidak basah karena berada di dalam rumah. Sedangkan bentuk banyak lingkaran dengam banyak garis merupakan bentuk ungkapan kendaran yang terdapat di samping rumah Hasim. Garis mendatar yang menyatu di samping kanan rumah tersebut merupakan perwujudan dari bentuk teras rumah, sehingga kendaraan-kendaraan tersebut aman dari hujan. Sedangkan empat figur manusia lain yang terdapat diluar rumah nampak sedang berada di bawah pohon, hal ini mernceminkan tentang manusi-manusia yang berteduh di bawah pohon. Garis-garis meliuk di bawahnya merupakan genangan air hujan di jalan raya. Di rumah Hasim yang sebenarnya memang setiap hujan selalu ada genangan air di jalan depan rumahnya.
Berdasarkan begitu banyaknya obyek gambar yang digambar oleh Hasim, gambar ini dapat tergolong ke dalam gambar yang kreatif. Menurut Safarina (2005:27), mengukur potensi kreatif anak pada usia 4-11 tahun dapat menggunakan tugas menggambar. Semakin banyaknya detail pada gambar yang dibuat mencirikan potensi kreatif anak. Meskipun setiap obyek yang digambar tidak detail namun dalam satu bidang gambar Hasim dapat menggambarkan begitu banyak detail cerita yang luar biasa.
  1. Interpretasi
Setelah meneliti gambar yang dibuat oleh Hasim, sepertinya Hasim merupakan anak yang kreatif. Hal itu tercermin pada gambar yang dibuat dengan berbagai banyak obyek, pemilihan tema, serta cerita yang unik di dalamnya. Pada saat membuat gambar ini Hasim tidak merasakan adanya tekanan mental sama sekali bahkan kemungkinan ia sedang senang, nampak pada gambar yang dibuat adalah obyek-obyek yang aman dari hujan. Pemenuhan bidang gambarpun merupakan rasa percaya diri dari Hasim. Hasim tidak tergolong dalam anak yang pemalu. Ia mampu menceritakan apa saja yang pernah dilihatnya dalam bentuk gambar. Hal ini kemungkinan berasal pula dari dorongan orang tuanya yang kerap memberikan perhatian kepada Hasim.
  1. Evaluasi/nilai

Berdasarkan gambar yang telah dibuat oleh Hasim, gambar ini termasuk gambar yang sangat bagus jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya.