Thursday, December 17, 2020

Tahapan Apresiasi Seni Budaya

Menurut Edmund Feldman, kegiatan apresiasi seni rupa dapat dilaksanakan melalui empat tahapanı yakni deskripsil analisis, interpretasi, dan penilaian. 

1. Deskripsi 

Tahap pertama dalam mengapresiasi seni budaya adalah tahap deskripsi. Tahap deskripsi dilakukan dengan mengidentifikasi suatu bentuk karya seni atau budaya melalui hasil cerapan atau tangkapan pancaindra. Identifikasi suatu karya meliputi identifikasi jenis karya (apakah termasuk jenis seni rupa, seni musik, seni tari, atau seni pertunjukan), bentuk fisik dari karya, judul karya, nama senimanı waktu penciptaan serta keterangan tentang alat, bahan, ataupun teknik penciptaan yang digunakan. Tahapan deskripsi bersifat objektif dalam artian hanya melaporkan hal-hal yang ditangkap panca indra tanpa dianalisis dan ditafsirkan secara lebih jauh. Informasi yang diperoleh dalam tahapan deskripsi akan digunakan sebagai petunjuk awal dalam melakukan penilaian.

Contoh dari tahapan deskripsi adalah deskripsi yang dilakukan pada pagelaran sendratari Ramayana yang dilangsungkan di pelataran Candi Prambanan. Ketika menonton pagelaran tersebut seseorang dapat membuat deskripsi pagelaran, seperti lokasi dan waktu berlangsungnya pagelaran, jumlah penari yang terlibat dalam pagelaran tersebut, bentuk kostum dan tata rias yang digunakan para penari, alur cerita dan dialog yang dibawakan, hingga tata panggung, tata cahaya, dan tata musik pengiring Yang digunakan dalam pertunjukan tersebut.

2. Analisis 

Tahapan analisis dilakukan dengan mengaitkan unsurunsur pembentuk yang terlihat dalam suatu karya. Unsur-unsur tersebut dapat berupa bentuk objek, ukuran objek, warna objek, hingga tekstur objek. Dapat dikatakan bahwa tahapan ini berfokus pada hubungan antar unsur. 

Pada tahap analisis, seseorang akan melihat lebih jauh mengenai bentuk fisik suatu karya, seperti komposisi dan keseimbangan dari unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Contohnya dalam lukisan potret Ratu Sirikit karya Basoeki Abdullah, objek lukisan, yakni potret Ratu Sirikit, diletakkan tepat di tengah kanvas. Objek dilukis dengan komposisi yang pas, dalam artian tidak terlalu beşar dan tidak terlalu kecil. Pada lukisan tersebutı nüansa warna biru dan putih sangat dominan, dengan tambahan warna hitam, merah, krem, dan cokelat muda untuk memperjelas detail warna rambut, bibirı kulit wajah, leherı dan telinga, serta warna dalam topi. Peletakan objek tepat di tengah kanvas umumnya digunakan untuk menarik perhatian orang yang melihatnya agar langsung fokus pada objek tersebut. Sementara itu, penggunaan warna-warna yang dominan berpadu dengan warna-warna pendukungnya dalam menciptakan bentuk Visual yang indah.

 

Sumber: dokumentasi penulis Gambar 6.4 Lukisan potret Ratu Sirikit karya Basoeki Abdullah.

3. Interpretasi 

Tahap interpretasi atau tahap penafsiran merupakan tahap penangkapan makna yang terkandung dalam suatu karya seni. Tahap interpretasi merupakan tahap lanjutan yang menggabungkan semua informasi yang diperoleh melalui tahap deskripsi dan analisis untuk menghasilkan suatu simpulan makna. Menurut Feldman, tahapan ini merupakan tahapan Paling sulit, sekaligus paling kreatif dan bermanfaat dalam tahapan apresiasi. Melalui tahapan ini, seorang penikmat seni dapat menebak makna berupa pesan yang hendak disampaikan Oleh seniman dalam karyanya. Apabila penikmat seni tersebut berhasil memahami makna yang terkandung dalam suatu karya, tanpa disadari terjalin komunikasi antara seniman dan penikmat seni tersebut.

Tahap interpretasi tidak hanya berdasarkan unsur instrinsik (seperti bentuk fisik karya), tetapi juga unsur ekstrinsik, seperti latar belakang yang memengaruhi seniman untuk menciptakan karya tersebut. Pengetahuan terhadap unsur intrinsik dan ekstrinsik suatu karya akan turut membentuk interpretasi atas karya tersebut. 

Contoh dari tahapan interpretasi dapat kembali dilihat mclalui lukisan potret Ratu Sirikit karya Basoeki Abdullah. Berdasarkan unsur intrinsiknya, penggunaan warna putih dan biru sebagai warna dominan dapat diinterpretasikan sebagai bentuk penggambaran keanggunan sosok ratu dalam diri Ratu Strikit. Keanggunaan tersebut tidak hanya tampak melalui penggunaan warna, tetapi juga penggambaran busana dan aksesori yang digunakan oleh sang ratu. Kecantikan Ratu Sirikit ditonjolkan dengan penggunaan warna hitam pada rambut, bibir berwarna merah, dan pipi yang bersemu kemerahan. Sementara Itu, ekspresi senyum yang tersungging di wajah menunjukkan bahwa Ratu Sirikit memiliki kepribadian yang hangat. 

Berdasarkan unsur ekstrinsiknya, diketahui bahwa tukisan tersebut dibuat oleh Basoeki Abdullah untuk menyambut kedatangan keluarga kerajaan Thailand, yakni Ratu Sirikit dan suaminya, Raja Bhumibol Adulyadej ke Indonesia. Pada masa itu, Basoeki Abdullah merupakan pelukis yang sering ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk membuat lukisan potret tokoh-tokoh penting, termasuk tokoh-tokoh mancanegara, yang berkunjung ke Indonesia. Pada kunjungan tersebut, Basoeki Abdullah tidak hanya membuat lukisan potret Ratu Sirikit, tetapi juga suaminya. Lukisan tersebut digunakan sebagai bentuk penghargaan dan wujud persahabatan antara Indonesia dan keluarga kerajaan Thailand.

Dengan demikian, lukisan potret Ratu Sirikit tersebut dapat diintepretasikan ke dalam dua makna. Makna pertama adalah bentuk penghormatan seniman (Basoeki Abdullah) keenggunan, kecantikan, dan kepribadian yang dimiliki sosok Ratu Sirikit. Sementara itu, makna kedua adalah bentuk penghargaan Indonesia terhadap keluarga Kerajaan Thailand.

4. Penilaian

Tahap penilaian merupakan tahap akhir dalam tahapan apresiasi. Tahap ini terdiri atas dua hal, yakni evaluasi dan kesimpulan. Melalui tahap ini, seseorang akan memberikan penilaian terhadap suatu karya seni setelah memahami aspek-aspek pembangun karya seni tersebut. Namun, hasil penilaian sering kali terpengaruh oleh hal-hal subjektif, misalnya harga untuk menikmati karya seni tersebut ataupun pendapat pribadi. 

Contohnya, meskipun suatu karya seni memiliki nilai yang bagus bentuk dan makna, penilaian tersebut dapat berkurang karya seni tersebut memiliki harga yang teramat mahal orang yang menilainya memiliki masalah pribadi dengan seniman pembuatnya. Akibatnya, tingkat apresiasi pun  berkurang. Untuk itu, sangat penting untuk mengingat bahwa dalam memberikan penilaian atas suatu karya, sebaiknya diutamakan sisi objektif.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


No comments:

Post a Comment