Showing posts with label pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label pembelajaran. Show all posts

Thursday, May 4, 2023

Model Pembelajaran Seni Terpadu

a. Definisi Seni Terpadu

Seni terpadu menekankan pada hubungan antara dua atau lebih bidang keilmuan yang berbeda melalui pendekatan tematik.


b. Tujuan Implementasi Seni Terpadu

• Membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuannya dengan dunia luar.

• Membantu siswa dalam mentransfer pembelajarannya tentang seni ke banyak mata pelajaran lainnya.

• Membantu dalam mempercepat dan memfasilitasi proses pembelajaran.


c. Konsep dan Model Pembelajaran Seni Terpadu

• Model Pembelajaran Terpadu dalam Rumpun Pendidikan Seni Terkait (conected)

Model pembelajaran terkait merupakan model pembelajaran terpadu yang paling sederhana, karena hanya menekankan hubungan matra substansial yang ada dalam suatu bidang studi. Model pembelajaran seni rupa terkait adalah upaya untuk memadukan berbagai materi 

 


Konsep model pembelajaran seni rupa terkait Sumber: (Kamaril: 1999: 6.36)

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)


• Model Pembelajaran Terpadu dalam Rumpun Pendidikan Seni Terjala (webbed)

Seni rupa, seni musik dan seni tari dan seni teater merupakan satu rumpun pendidikan seni. Pelaksanaan pembelajaran model terjala dapat dilaksanakan secara terpadu, dengan memadukan seluruh atau sebagian dari bidang studi yang ada dalam satu rumpun.



Model Pembelajaran Terjala Intra/Antar Bidang Seni 

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)


 


Keterjalan Intra/Antar Bidang Seni (Alternatif I)

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)



Keterjalan Intra/Antar Bidang Seni (Alternatif 2)

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011) 


• Model Pembelajaran Terpadu dalam Rumpun Pendidikan Seni Penuh (integreted)

Model pembelajaran terpadu dapat terjadi inter bidang seni dengan bidang studi lain yang ada di sekolah. Seperti keterpaduan yang terjadi antara bidang studi seni dengan bidang studi IPA. Matematika, IPS, Bahasa, Agama dan yang lainnya.



Keterjalaan Inter Bidang Studi Alternatif 1

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)



Keterjalaan Inter Bidang Studi Alternatif 2

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011) 


a. Contoh Karya Seni Terpadu

Gambar 9.1. Contoh Karya Seni Terpadu dalam rumpun pendidikan seni (terjala) yang memadukan seni rupa, seni tari dan seni teater dalam jenis karya Performance Art, karya seniman Melati Suryadarmo berjudul “I AM A GHOST IN MY OWN HOUSE”.

Sumber: Indoartnow/Melati Suryadarmo (2012)


Gambar 9.2. Contoh Karya Seni Terpadu dalam rumpun pendidikan seni (terjala) yang memadukan seni rupa, seni musik dan seni teater dalam jenis karya Installation Art, karya seniman Jompet Kuswidananto berjudul “GRAND PARADE”.

Sumber: Indoartnow/Jompet Kuswidananto (2014)

 

Gambar 9.3. Contoh model pembelajaran terpadu penuh yang memadukan seni rupa dengan matematika berdasarkan soal alogaritma.

Sumber: Erudio School of Art/Serrum (2012)

Gambar 9.4. Contoh model pembelajaran terpadu penuh yang memadukan seni rupa dengan matematika berdasarkan rumus persamaan Linear.

Sumber: Erudio School of Art/Serrum (2012) Menganalisis karya seni rupa dengan model pembelajaran terpadu.


Sebuah proses atau produk karya seni biasanya berkaitan dengan disiplin ilmu lainnya. Dalam proses pembuatan karya seni batik misalnya, proses pewarnaan kain batik berkaitan dengan ilmu kimia. Sebagai contoh, untuk menghasilkan warna biru dengan menggunakan Napthol maka dapat diperoleh dari pencampuran Napthol AS dangan garam Biru BB. Selain itu juga dapat berkaitan dengan ilmu sosial, geografi dan sejarah karena kita perlu mempelajari dimana batik ini dibuat saat dalam proses meriset dan mendesain batik.

Silahkan cari contoh kasus lainnya mengenai keterhubungan antara bidang seni rupa dengan ilmu lainnya!

Sumber: buku guru Kurilulum Operasional Sekolah SMK PK KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAN PERBUKUAN PUSAT KURIKULUM DAN PERBUKUAN

Tuesday, August 16, 2016

Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa

Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu. Seni atau kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia atau masyarakat terhadap nilai-nilai keindahan. Bersama-sama dengan unsur kebudayaan lain, seni memiliki fungsi penting dalam kehidupan manusia. Kebudayaan baik sebagai sistem gagasan, sistem perilaku maupun hasilnya merupakan sesuatu yang sangat berguna bagi manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Kebudayaan merupakan hasil ciptaan manusia yang diwariskan kepada generasi berikutnya melalui proses belajar. Demikina juga seni atau kesenian merupakan hasil ciptaan manusia yang diwariskan oleh generasi ke generasi berikutnya melalui proses pembelajaran.
Seni selalu ada diberbagai wilayah kebudayaan atau di berbagai komunitas. Seni dengan unsur afeksinya dianjurkan dapat didekati sebagaimana ilmu pengetahuan yaitu dengan pendekatan intelektual atau dengan menggunakan informasi ilmu sebagai suatu langkah awal dalam penciptaannya (Rosenberg dalam Daniel, 1990). Dari berbagai kesenian yang beraneka ragam, seni dapat diklasifikasikan berdasarkan media yang digunakan. Seni rupa adalah seni yang menggunakan unsur-unsur rupa sebagai media ungkapnya. Pendidikan seni rupa berkaitan dengan bagaimana peserta didik itu belajar dan berkembang dalam berkarya seni, yang dalam dunia pendidikan disebut dengan mata pelajaran seni rupa.
Mata pelajaran pendidikan seni rupa dalam dunia pendidikan Indonesia pernah memiliki berbagai nama, yakni pelajaran menggambar, pendidikan kesenian, pendidikan seni, dan juga pelajaran kerajinan tangan atau prakarya. Mata pelajaran seni rupa umumnya di gabung dengan mata pelajaran seni yang lain seperti musik, tari, dan drama. Pada kurikulum 1975, tingkat pendidikan dasar dan menengah seni rupa merupakan submata pelajaran kesenian. Demikian pula posisi dan juga namanya dalam kurikulum 1984. Namun kurikulum 1994 tingkat pendidikan dasar SD dan SMP pelajaran kesenian berubah nama menjadi Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertangkes). Pada pendidikan menengah dikenal dengan nama pendidikan seni. Tahun 2004 kurikulum berbasis kompetensi masih tetap menggunakan nama yang sama, dan di SMA juga tetap pendidikan seni. Pelajaran seni rupa disebut dengan menggambar atau melukis, sementara kesenian dipersepsikan pelajaran seni musik. Karena itu banyak sekolah melaksanakan mata pelajaran kesenian hanya di isi seni musik.
Pembagian mata pelajaran pendidikan kesenian di sekolah belum memperoleh alokasi waktu yang memadai. Dalam pelaksanaanya saat ini mata pelajaran seni rupa di kenal dengan seni budaya. Pembagian jam pelajaranya pun  relatif sedikit karena umumnya di bagi seni musik, rupa, tari atau teater. Apalagi mata pelajaran seni budaya tidak masuk dalam ujian nasional sehingga mata pelajaran ini terabaikan dan hanya dianggap sebagai mata pelajaran tambahan (ekstrakurikuler). Pengaturan waktu pembelajaran seni yang minim tampaknya merupakan akibat tarik ulur guru dan kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan.
Tinjauan menyeluruh pendidikan seni di Indonesia, salah satunya pendidikan seni rupa mencakup pendidikan yang diperlukan dalam rangka menumbuhkan jiwa seni dalam berkreatifitas. Seni merupakan wujud intelektual, dimana dari seni peserta didik dapat belajar tanggung jawab, kesabaran, keuletan, kerapihan, disiplin, maupun keserasian yang dapat dituangkan melalui karya seni. Dewasa ini kita ketahui, bahwa pendidikan seni, khususnya seni rupa dinilai rendah kualitasnya. Tidak semua pendidik memahami peran, tugas, dan tanggung jawabnya sehingga dalam pelaksanaannya seringkali tidak dianggap penting. Peserta didik hendaknya perlu diberikan pemahaman akan pentingnya seni dalam kehidupan. Untuk itu, perlu pendekatan pembelajaran seni rupa guna tercapainya tujuan pembelajaran. Hal terebut berkaitan dengan kemampuan untuk membayangkan berbagai kegiatan pandidikan itu sebagai komponen-komponen potensial dari sarana pendidikan yang dikaitkan lebih erat dengan kebutuhan serta proses-proses usaha pembangunan negara.
Pendekatan pembelajaran pendidikan seni rupa digunakan sebagai penentu hubungan antara manipulasi pembelajaran dengan kinerja atau hasil pembelajaran. Pandangan pendidikan seni rupa dalam pendekatan pembelajaran ada dua yaitu: (1) Pendidikan seni rupa adalah pendidikan keterampilan, yang berarti setelah rangkaian proses pembelajaran harus memiliki keterampilan di bidang seni rupa, (2) Keterampilan berkarya seni rupa pada katagori yang layak jual itu tidak penting, maksudnya tidak berorientasi pada penjualan tetapi pada pendidikan.

Jenis pendekatan pembelajaran seni rupa
Seni merupakan hasil ekspresi manusia yang menghasilkan sebuah karya yang bersifat subjektif yang memiliki nilai estetik (keindahan). Sedangkan pendidikan adalah upaya nyata perubahan kualitas atau bentuk ke arah sempurna. Yang dimaksud disini adalah upaya sadar orang dewasa kepada anak untuk merubah kwalitas anak.Paham yang berkembang dalam mendekati dunia pendidikan seni rupa ada dua pandangan yaitu: pendidikan dalam seni dan pendidikan melalui seni.

1. Pendidikan dalam Seni (http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/pendidikan-dalam-seni.html)
2. Pendidikan melalui Seni (http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/pendidikan-melalui-seni_16.html)

Prinsip pendekatan pembelajaran seni rupa
 http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/prinsip-pendekatan-pembelajaran-seni.html


Fungsi Pembelajaran Seni Rupa

Fungsi adalah berkenaan dengan sumbangan yang dapat diberikan pada suatu aspek atau sistem. Jika pendidikan atau pembelajaran pendidikan seni rupa dianggap sebagai suatu sistem maka dapat merupakan fungsi sistem lainnya. Jika sistem diluar pendidikan berupa siswa, guru, masyarakat, sekolah, bangsa atau negara maka dapat dipertanyakan fungsi pendidikan seni bagi siswa, guru, masyarakat dan sekolah. Fungsi pendidikan seni rupa dilihat khususnya dari dua sisi.

            1)         Fungsi Pendidikan Seni Rupa bagi Kebutuhan Anak
Pendidikan seni rupa dasarnya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan berekspresi, berapresiasi, dan berkreasi serta berekreasi sehingga pendidikan seni rupa dianggap sebagai wahana pendidikan ekspresivitas, sensitivitas, dan kreativitas.
Ekspresi adalah ungkapan yang dikaitkan dengan aspek psikologi seseorang, perasaan, perhatian, persepsi, fantasi atau imaginasi. Proses berkarya seni dapat dilakukan dengan mencurahkan aspek psikologis ini dengan melepaskan ketegangan yang dihadapi pada anak-anak diberikan ruang untuk berekspresi agar merasa bahagia. Pendidikan sensitivitas adalah pendidikan yang memungkinkan siswa untuk menjadi peka atau cepat dalam menerima rangsangan. Siswa lebih tanggap dalam merespon hal-hal yang berkaitan dengan fenomena estetik visual. Siswa dibiasakan melihat karya-karya yang estetik agar lebih cepat memberikan respon dalam bentuk pertimbangan atau penilaian karya seni.
Kreativitas merupakan sifat yang dilekatkan pada diri manusia yang dikaitkan dengan kemampuan atau daya untuk mencipta. Kreativitas seringkali diartikan sebagai kemampuan untuk memunculkan gagasan baru, perilaku yang kondusif, inovatif dan produktif. Setiap orang sejak dilahirkan memiliki kadar kreativitas yang berbeda-beda. Meskipun kreativitas dinyatakan sebagai faktor bawaan tidak berarti mengabaikan pengaruh lingkungan salah satunya adalah lingkungan pendidikan. Melalui pendidikan seni rupa dapat dikembangkan sifat-sifat kreativitasnya dengan gagasan yang senantiasa baru. Penghargaan atas penciptaan hal baru, yang unik pada masing-masing anak tampaknya porsi yang besar ada pada pendidikan seni. Maka disebutkan bahwa pendidikan seni merupakan sarana atau media yang paling efektif bagi pengembangan kreativitas.

          2) Fungsi Pendidikan Seni Rupa bagi Institut Pendidikan
Pendidikan juga dimaksudkan sebagai upaya pelestarian sistem nilai oleh suatu masyarakat. Sebagai fenomena budaya visual seni rupa juga senantiasa berada pada lingkungan masyarakat yang berupaya untuk mempertahankan, melestarikan, dan mengembangkannya. Dalam konteks institusi masyarakat khususnya institusi pendidikan, pendidikan seni rupa berfungsi sebagai pelestari dan pengembang dalam hal-hal yang berkaitan dengan fenomena budaya visual yang estetik.
Banyak kekayaan budaya visual seperti membatik, menganyam, menenun harus dilestarikan melalui jalur pendidikan dengan cara melalui pewarisan keterampilan itu atau paling tidak melalui kegiatan apresiasi. Pewarisan keterampilan dengan melalui pemberian contoh atau pemodelan dengan mengikuti instruksi yang diberikan oleh guru. Jika hal-hal tersebut terpenuhi maka fungsi pendidikan seni rupa bagi institusi pendidikan disamping sebagai pelestari dan pengembang budaya visual estetik berfungsi juga sebagai pendidikan keterampilan.

Model pembelajaran PSSI,CTL, dan berbasis portofolio

Model PPSI dikembangkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengiringi terbitnya kurikulum 1975. Model ini dikembangkan dari pemikiran yang disebut sebagai pendekatan sistem (system approach).
                Sistem pembelajaran, sebagaimana pendapat Gagne merupakan suatu set peristiwa yang mempengaruhi siswa sehingga terjadi proses belajar. Suatu set peristiwa itu mungkin digerakkan oleh pengajar sehingga disebut pengajaran.
                Bentuk pembelajaran PPSI dituangkan ke dalam lima langkah:
·         Perumusan Tujuan
1)      Menggunakan sistem yang operasional
2)      Berbentuk hasil belajar
3)      Berbentuk tingkah laku
4)      Hanya ada satu tingkah laku

·         Pengembangan Alat Evaluasi
1)      Menggunakan jenis tes yang akan digunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan
2)      Menyusun tes untuk menilai masing-masing tujuan

·         Penetapan Kegiatan Belajar
1)      Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan
2)      Menetapkan kegiatan belajar yang tidak perlu ditempuh
3)      Menetapkan kegiatan belajar yang akan ditempuh

·         Pengembangan Program Kegiatan
1)      Merumuskan materi pelajaran
2)      Menetapkan model yang digunakan
3)      Memilih alat pelajaran dan sumber yang akan dipakai
4)      Menyusun jadwal

·         Pelaksanaan
1)      Mengadakan tes awal
2)      Menyampaikan materi pelajaran
3)      Mengadakan tes akhir
4)      Perbaikan

Dengan demikian sesungguhnya perlu disadari oleh guru seni rupa penggunaan desain pembelajaran PPSI sebagai model pembelajaran memerlukan suatu siklus aksi, refleksi dan inovasi. Aksi artinya pelaksanaan pembelajaran. Refleksi artinya penemuan kelebihan dan kekurangan pembelajaran, dan akirnya membuahkan rekomendasi sebagai bentuk inovasi untuk pembelajaran yang akan datang.
Dalam pengembangan model seni rupa dalam konteks kurikulum yang berlaku, saat ini lembaga pendidikan sekolah diberlakukan kurikulum 2004 yang disebut sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi  (KBK). Dalam KBK terdapat beberapa model pembelajaran diantaranya adalah Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Pembelajaran Berbasis Portofolio.
Pendekatan CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif yakni, konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authenthic assessment). Landasan filosofi CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar  tidak hanya sekedar menghafal.

Pembelajaran berbasis portofolio merupakan satu bentuk dari praktik pembelajaran yaitu, suatu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik-empirik.  

Model Pembelajaran Seni Rupa

Pada dasarnya model dapat diartikan sebagai contoh atau bentuk yang harus ditiru atau dilakukan. Suatu model juga dapat diterapkan dalam berbagai hal termasuk dalam pembelajaran. Dimana dalam suatu pembelajaran, model sangatlah penting digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam suatu proses pembelajaran. Dan menurut Joyce dan Weil ( dalam Miller dan Seller, 1985:190 ) model pembelajaran merupakan rancangan atau pola yang dapat digunakan untuk mewujudkan keinginan kurikulum, untuk mendesain materi pembelajaran, dan mempedomani proses pembelajaran.
Sebagai rancangan atau pola untuk mewujudkan keinginan kurikulum, di dalamnya sudah barang tentu termasuk membuat desain atau rancangan pembelajaran, oleh karena itu model pembelajaran dapat dilihat juga dari perspektif  bagaimana desain pembelajaran itu dikembangkan. Dan model pembelajaran dikembangkan berdasarkan konsep atau teori tentang pendidikan dan pengajaran. Oleh sebab itu sering kali model pembelajaran dipertukarkan dengan pendekatan pembelajaran, bahkan dalam kondisi tertentu digunakan juga dalam metode pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran dapat terkait dengan kurikulum yang berlaku atau sebaliknya, munculnya kurikulum berimplikasi pada penggunaan model pembelajaran.


Pada dasarnya model pembelajaran yang dikembangkan digunakan untuk para siswa agar lebih memahami materi yang ada. Dan agar lebih memahami pengembangan model dalam ruang lingkup kesenirupaan, kita dapat mengetahuinya lewat pengembangan model PSSI dalam pembelajaran seni rupa serta pengembangan model pembelajaran seni rupa dalam konteks yang berlaku dalam pembahasan berikut:
A. Pengembangan Model Pembelajaran Seni Rupa dalam Konteks Kurikululm yang Berlaku (http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/pengembangan-model-pembelajaran-seni.html)
B. Pengembangan Model PPSI dalam Pembelajaran Seni Rupa (http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/pengembangan-model-ppsi-dalam.html)

Penjelasan singkat:

(http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/model-pembelajaran-pssictl-dan-berbasis.html)


Sebagai seorang pendidik dalam mengembangkan model pembelajaran seni rupa, seorang pendidik sebaiknya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan jaman yang ada, artinya bahwa kurikulum yang dikembangkan bersifat dinamis, karena mengikuti perkembangan jaman. Hal ini dilakukan agar supaya peserta didik mampu menangkap pelajaran yang diberikan dari pendidik. Dari  kurikulum yang ada sang pendidik mengembangkanya lagi dengan melihat kondisi siswanya, agar kegiatan belajar mengajar berjalan kondusif.

Pengembangan Model PPSI dalam Pembelajaran Seni Rupa


            PPSI adalah singkatan dari Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional, PPSI adalah sebuah model pengembangan atau desain pembelajaran dikembangkan dari pemikiran yang disebut sebagai pendekatan sistem (system approach). Model ini  dikembangkan oleh Departemen Pendidikan dan kebudayaan mengiringi terbitnya kurikulum 1957 .
            Istilah sistem secara umum berarti benda, peristiwa, kejadian atau cara yang terorganisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil dan seluruh bagian tersebut secara bersama-sama berfungsi untuk untuk mencapai tujuan tertentu. Benda atau peristiwa dapat disebut sistem manakala memenuhi empat criteria secara serentak . Pertama, dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kedua, setiap bagian tersebut mempunyai fungsi tersendiri. Ketiga, seluruh bagian itu melakukan fungsi secara bersama. Keempat, fungsi bersama yang dolakukannya mempunyai suatu tujuan tertentu (Suparman, 1997).
            Pembelajaran sebagai suatu sistem, terdiri atas bagian yang leboh kecol atau komponen sistem, dalam pembelajaran seni rupa ada sejumlah komponen yakni siswa, guru, lingkungan, tujuan, materi, strategi, dan evaluasi, semua komponen memiliki fungsi masing-masing dan secara bersama mengarah ketercapain tujuan, yakni tujuan pembelarjaran. Sistem pembelajaran menutut Gagne (dalam suparman, 1997) merupakan suatu set peristiwa yang mempengaruhi siswa sehingga terjadi proses belajar. Suatu set peristiwa tersebut digerakkan oleh pengajar sehingga disebut pengajaran, atau bisa juga digerakkan oleh siswa sendiri dengan menggunakan buku, gambar, program televise, atau kombinasi berbagai media. Digerakkan oleh guru atau siswa , kegiatan pembelajaran harus terencana secara sistematik.
            Terdapat lima langkah bentuk desain pembelajaran PPSI, antara lain Pertama adalah perumusan tujuan, yang perlu diperhatikan adalah (1) menggunakan sistem yang operasional, (2) berbentuk hasil belajar, (3) berbentuk tingkah laku, (4) hanya ada satu tingkah laku; Kedua adalah pengembangan alat evaluasi, yang dilakukan dala kegiatan ini adalah (1) menentukan jenis tes yang akan digunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan, (2) menyusun tes untuk menilai masing-masing tujuan; Ketiga adalah penetapan kegiatan belajar yang mencakupi kegiatan (1) merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar untuk mencapao tujuan, (2) menetapkan kegiatan belajar yang tidak perlu ditempuh; Keempat adalah pengembangan program kegiatan, yang perlu dokembangkan adalah (1) merumuskan materi pelajaran, (2) menetapkan metode yang digunakan, (3) memilih alat pelajaran dan sumber yangdipakai, dan (4) menyusun jadwal; Tahap ke lima adalah tahap pelaksanaan yang meliputi (1) mengadakan tes awal, (2) menyampaikan materi pelajaran, (3) mengadakan tes akhir, dan (4) perbaikan (Suparman, 1997).
            PSSI dikembangkan di lembaga sekolah, terutama guru, dalam bentuk rencana tahunan, rencana semester, analisis materi, silabus, satuan pembelajaran atau rencana pembelajaran. Semakin rendah bentuk desain pembelajaran, semakin operasional dan konkrit. Semua entuk desain ini dikembangkan oleh guru berdasarkan kurikulum, terutama buku kurikulum yang memuat garis-garis besar program pembelajaran atau materi pokok.
            Merujuk pada langkah PSSI tersebut, yang perlu dirumuskan oleh guru seni rupa adalah tujuan pembelajaran, baok yang umum maupun khusus, kemudian menetapkan alat evaluasi yang akan digunakan , kegiatan belajar, mengembangkan program kegiatan dan melaksanakan pembelajaran. Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran adalah perbaikan. Guru seni rupa ketoka berinteraksi dengan siswanya bosa terdapat kelemahan atau kekurangan, kelemahan atau kekurangan ini dapat dijadikan perbaikan model pembelajaran selanjutnya. Penggunaan desain pembelajaran PPSI sevagai model pembelajaran memerlukan suatu siklus aksi, refleksi dan inovasi; Akso artinya pelaksanaan pembelajaran; Refleksi artinya penemuan kelebihan dan kekurangan pembelajaran; San akhirnya membuahkan rekomendasi sebagao bentuk inovasi untuk pembelajaran yang akan datang.