Showing posts with label karya seni. Show all posts
Showing posts with label karya seni. Show all posts

Sunday, November 7, 2021

Pembuatan Patung

Setelah Kamu mengetahui tentang bahan, alat, teknik dan fungsi patung selanjutnya Kamu akan menyusun prosedur pembuatan patung. Ketika Kamu mencermati patung yang tercipta dari berbagai bahan, dengan berbagai teknik dan juga berbeda-beda fungsinya Kamu akan menemukan dengan apa yang Kamu sebut unsur-unsur patung. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting ketika Kamu merencanakan pembuatan patung. Pemahaman terhadap unsur-unsur patung dari patung yang Kamu cermati akan dapat mengantarkan Kamu dalam memahami unsur-unsur patung sebagai awal pengetahuan tentang dasar-dasar mematung.

Patung adalah sebuah karya seni rupa yang merupakan wujud organisasi dari unsur-unsur seni rupa. Unsur-unsur seni rupa tersebut diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga terciptalah sebuah bentuk yang memiliki makna. Dalam proses pengorganisasiannya, unsur-unsur tersebut ditata dengan memperhatikan aturan- aturan tertentu sehingga diperoleh suatu karya yang bernilai estetis. Asas yang mempedomani bagaimana mengatur, menata unsur-unsur seni rupa dan mengkombinasikan dalam menciptakan bentuk karya seni, sehingga mengandung nilai estetis tinggi atau dapat membangkitkan pengalaman rupa yang menarik. Dalam berkarya seni rupa khususnya seni patung, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Keseimbangan, keseimbangan (balance) dalam pembuatan adalah keadaan atau kesamaan antara kekuatan yang saling berhadapan dan menimbulkan kesan seimbang secara visual ataupun secara intensitas kekaryaan. Keseimbangan ini ada dua macam, yaitu keseimbangan formal dan informal. Keseimbangan formal adalah keseimbangan pada dua pihak berlawanan dari satu poros. Sedangkan keseimbangan informal adalah keseimbangan sebelah menyebelah dari susunan unsur yang menggunakan prinsip susunan ketidaksamaan atau kontras dan selalu asimetris (Kartika, 2004: 60).

Irama, Irama (rhythm) merupakan pengaturan unsur-unsur rupa secara berulang dan berkelanjutan, sehingga bentuk yang tercipta memiliki kesatuan arah dan gerak yang membangkitkan keterpaduan bagian-bagiannya. Irama dalam seni rupa sangat penting karena pengamatan karya seni atau proses berkarya sangat membutuhkan waktu, sehingga perlu mengetahui irama dalam persoalan warna, komposisi, garis maupun lainnya irama dapat diperoleh dengan beberapa cara,yakni:

(1) repetitif, merupakan irama yang diperoleh dengan mengulang unsur, menghasilkan irama total yang sangat tertib, monoton dan menjemukan, sebagai akibat pengaturan unsur-unsur yang sama baik bentuk, ukuran maupun warnanya,

(2) alternatif, merupakan bentuk irama yang tercipta dengan cara perulangan unsur-unsur rupa secara bergantian,

(3) progresif, merupakan irama yang diperoleh dengan menunjukkan perulangan dalam perubahan dan perkembangan secara berangsur-angsur atau bertingkat, dan yang ke

(4) flowing, merupakan irama yang mengalun terjadi karena pengaturan garis- garis berombak, berkelok, dan mengalir berkesinambungan.

Dominasi, penonjolan mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni yang dipandang lebih penting daripada hal-hal yang lain. Penonjolan atau penekanan dilakukan dengan cara memberi intensitas, pemakaian warna kontras, dan ukuran yang berlawanan. Dengan adanya dominasi, unsur-unsur tidak akan tampil seragam, setara atau sama kuat melainkan justru memperkuat keseutuhan dan kesatuan bentuk. Dominasi merupakan upaya untuk menonjolkan inti seni atau puncak seni, sehingga dominasi pada suatu karya seni sangat dibutuhkan karena akan menjadikan karya menarik dan menjadi pusat perhatian. Karya yang baik mempunyai titik berat untuk menarik perhatian (center of interest). Ada beberapa cara untuk menarik perhatian kepada titik berat tersebut, yaitu dicapai dengan melalui perulangan ukuran dan kontras antara tekstur, nada, warna, garis, ruang, bentuk.

Kesebandingan, merupakan pengaturan hubungan antara bagian yang satu terhadap bagian keseluruhan. Pengaturan bagian yang dimaksud bertalian dengan ukuran, yaitu besar kecilnya bagian, luas sempitnya bagian, panjang pendeknya bagian, atau tinggi rendahnya bagian. Tujuan pengaturan kesebandingan adalah agar dicapai kesesuaian dan keseimbangan, sehingga diperoleh kesatuan yang maksimal. Kesebandingan juga menjadi prinsip desain yang mengatur hubungan ukuran unsur dengan keseluruhan agar tercapai kesesuaian.

Kesatuan, kesatuan (unity) merupakan prinsip pengorganisasian unsur rupa yang paling mendasar Nilai kesatuan dalam suatu bentuk bukan ditentukan oleh jumlah bagian-bagiannya. Kesatuan diperoleh dengan terpenuhinya prinsip-prinsip yang lain maka kesatuan merupakan prinsip-prinsip yang paling berperan dan menentukan. Kesatuan bukan sekedar kuantitas bagian, melainkan menunjuk pada kualitas bagian- bagian. Dengan kata lain, dalam kesatuan terdapat pertalian yang erat antar unsur- unsurnya sehingga tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lain, serta tidak perlu ada penambahan lagi maupun yang dapat dikurangkan dari padanya.

Dari paparan di atas, pada dasarnya merupakan tolok ukur yang digunakan untuk menilai suatu karya yang baik khususnya dalam pengorganisasian setiap unsur sehingga membentuk perpaduan yang menarik.

Karya seni dapat dikatakan memiliki nilai estetis apabila dalam penciptaannya dapat dilihat dari bagaimana cara mendesain. Adapun desain yang baik adalah desain yang dibuat sesuai dengan prinsip desain. Ada delapan unsur desain yang perlu diperhatikan oleh para seniman dalam mendesain karya seni, yaitu garis, warna, tekstur, raut, bentuk, ruang, volume, dan gelap terang.

Sedangkan yang perlu diperhatikan dalam mencipta karya adalah mengorganisasikan unsur-unsur dan prinsip-prinsip yang terdiri dari: keseimbangan, irama, dominasi, kesebandingan dan kesatuan. Dengan demikian karya seni dapat dikatakan karya yang memiliki nilai keindahan, apabila seniman sudah menerapkan unsur-unsur seni dengan pengaturan yang didasarkan pada prinsip-prinsip tersebut.


Sumber:

DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas IX Semester Gasal. 2020.

Menganalisis Konsep Patung


Seperti Kamu tahu, manusia merupakan makhluk kreatif yang suka akan keindahan. Rasa indah yang diperoleh melalui banyak pengalaman keindahan tersebut melalui berbagai karya seni, salah satunya melalui seni patung. Patung adalah karya seni tiga dimensi (memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi) yang mengungkapkan sesuatu objek, peristiwa, atau lambang secara kreatif dan indah (estetik). Sebagai karya seni rupa rupa tiga dimensi, patung dibuat dengan metode substraktif yakni dengan mengurangi volume (dipotong, dipahat) dan juga metode aditif yakni dengan cara menambahkan volume.

Kamu melihat orang membuat patung dari bahan kayu yang dipahat? Suku Asmat di Papua sangat ahli membuat patung dengan memahat kayu seperti itu. Kamu juga dapat menemukan banyak pematung yang membuat patung dengan cara memahat batu di kita Candi Borobudur. Sementara itu di Trowulan Mojokerto (Jawa Timur), Kamu akan banyak menemukan orang membuat patung berbahan logam dengan cara mengecornya. Patung dibuat dengan menggunakan berbagai bahan dan berbagai teknik atau cara.

Seperti Kamu tahu, sebagai makhluk kreatif manusia selalu melihat hal-hal yang baru, bentuk-bentuk yang baru, cara-cara yang baru, manfaat-manfaat yang baru, gagasan-gagasan yang baru, dan seterusnya. Pengalaman manusia yang sangat beragam, khas, dan unik itu pada pemindahan manusia untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang asli. Cara-cara yang asli. Bentuk-bentuk yang asli. Juga karya- karya yang asli. Daya cipta atau kreativitas manusia tersebut memunculkan karya-karya seni yang baru.


Gambar 1A

Pengalaman berkeindahan setiap orang juga sangat beragam. Kamu mungkin bisa menggemari musik campursari, sementara kawan-kawan Kamu mungkin ada yang menggemari musik keroncong, pop, jazz, dangdut, atau yang lainnya. Kamu menggemari musik campursari yang dibawakan oleh penyanyi Didi Kempot, sementara sahabat Kamu yang juga gemar musik campursari menggemari suara penyanyi senior Waldjinah. Perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan adanya pengalaman keindahan yang berbeda.

Setiap orang punya kreativitas dan pengalaman keindahan yang berbeda-beda. Hal ini akan mendorong mereka untuk mengungkapkan rasa indah dan kreativitas tersebut dalam bentuk-bentuk perwujudan karya seni yang berbeda-beda. Dalam Seni Rupa akan menghasilkan bentuk-bentuk bangunan yang berbeda, menghasilkan lukisan- lukisan yang berbeda, menghasilkan patung-patung yang berbeda, dan seterusnya.

Dalam hal patung yang berbeda-beda, perbedaan tersebut bukan hanya dari segi dasar yang digunakan, teknik pembuatannya, cara pembuatannya, namun juga fitur. Meski demikian, seni patung selalu menonjolkan sosok 3 dimensi dalam perwujudan yang unik, kreatif, dan estetik serta dengan fungsi yang beragam pula.

Patung sudah dibuat orang sejak jaman primitif. Kamu mengetahui bahwa pada masa primitif, alam pikiran manusia masih tunduk pada hal-hal yang bersifat mistik atau tahayul. Maka tidak sedikit orang membuat patung untuk dipuja atau disembah. Pada peradaban berikutnya yang lebih maju, ketika manusia melepaskan diri dari kepercayaan mistik dan menggunakan akal budinya, mereka tak lagi memuja dan memuja patung. Pengalaman keindahan dan kreativitas yang mendorong manusia menghasilkan patung-patung untuk keperluan di berbagai bidang dalam kehidupan mereka sehari-hari.


Gambar 1B

Gambar 1C

    Patung merupakan karya seni rupa rupa tiga dimensi yang diciptakan dengan metode substraktif yakni dengan cara mengurangi volume dan metode aditif yakni dengan cara menambahkan volume. Metode substraktif pada batu dan kayu, metode aditif pada tanah liat, plastisin, lilin. Di Indonesia, patung-patung yang dipengaruhi agama Hindu banyak ditemui di situs Candi Prambanan dan berbagai tempat di pulau Bali. Sedangkan pengaruh agama Buddha di Situs Candi Borobudur.

Gambar 1D


Sumber:

DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII Semester Genap. 2020.

Monday, January 11, 2021

Syarat melakukan Resensi Karya Seni

Sebuah karya seni diciptakan dalam latar belakang yang berkaitan dengan kehidupan seniman, seperti kondisi sosial, politik, dan kebudayaan yang melingkupinya. Sebuah karya seni juga memiliki dimensi bentuk dan sisi. Dimensi bentuk sangat variatif dari segi corak, gaya, dan perkembangannya, baik dari periode sejarah masa lampau maupun dari masa sekarang. Selain itu, dimensi isi makna yang tidak terlihat juga sulit untuk ditafsirkan.

Oleh karena itu, agar menghasilkan bobot penilaian yang baik, seseorang yang melakukan resensi harus memiliki beberapa syarat, di antaranya:

1. memahami sejarah seni rupa, kesenian, dan kebudayaan;

2. harus berpengalaman mengamati karya secara langsung

(otentik), bukan dari repro atau slide;

3. mengetahui dan memahami benar peristilahan (diksi), gaya seni, fungsi seni, opini seniman, dan pakar tentang estetika secara periodik;

4. mengetahui teknik artistik dalam berbagai media;

5. memiliki cita rasa yang terbuka, dalam artian memiliki kapasitas menghargai kreativitas artistik yang beragam;

6. dapat membedakan niat artistik dan pencapaian artistik seniman dalam berkarya;

7. harus objektif dan tidak subjektif (mampu melawan bias simpati terhadap seniman);

8. memiliki sensibilitas kritis saat menghadapi karya yang beragam; serta

9. memiliki temperamen yudisial berdasarkan data yang akurat.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Konsep dan Hakikat Resensi Seni

Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya seni.   Karya seni sangat perlu untuk dinilai demi mengetahui kualitas-kualitas yang ada di dalamnya. Karya seni merupakan sebuah benda yang diciptakan oleh seorang desainer ataupun seniman melalui kreativitas, imajinasi, dan pemikirannya sehingga menampilkan bentuk yang indah. Karya seni rupa yang akan diresensi dapat berupa karya dua dimensi ataupun tiga dimensi, seni murni ataupun karya terapan dapat berupa karya dua simensi ataupun tiga dimensi, karya seni murni ataupun karya terapan. Karya seni murni dapat seni patung dan seni lukis, sedangkan contoh karya seni terapan adalah gedung, meja, kursi, dan perabot rumah tangga. Karya seni merupakan cerminan ekspresi jiwa, nilai-nilai, gagasan, cita-cita atau pandangan seniman penciptanya.

Tujuan dari kegiatan meresensi karya seni adalah untuk  kualitas karya seni yang bersangkutan. Nilai  sesuatu yang paling berharga pada karya seni. Karya seni mengandung dua jenis nilai, yaitu nilai bentuk dan nilai   bentuk terlihat pada bentuk-bentuk yang kasat mata, seperti bahan, warna, tekstur, dan teknik yang digunakan. Sementara itu, nilai makna atau nilai kualitas sangat tergantung keselarasan antara wujud atau rupa (appearance) atau isi (content, substance). Wujud terdiri atas bentuk dan susunan atau struktur unsur-unsur rupa. Sementara itu bobot atau isi adalah suasana, gagasan, atau pesan yang ingin disampaikan.

Seseorang akan dapat menilai karya seni jika ia memiliki kesadaran akan potensi keindahan yang terdapat pada sebuah karya seni. Kesadaran itu muncul apabila seseorang memiliki minat dan keinginan untuk mendapatkan sebuah keindahan benda. Hal yang paling pokok dalam melakukan resensi adalah perlunya pengetahuan dan wawasan yang luas tentang proses berkarya, sejarah, dan estetika. Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah seniman harus memiliki kepekaan estetis.

Proses resensi adalah serangkaian proses atau tahapantahapan dalam memperoleh kualitas nilai sebuah karya seni. Proses resensi dapat dilakukan secara serta-merta tanpa melalui prosedur yang sistematis. Ketika melihat karya seni rupa tiga dimensi, misalnya patung atau keramik, perasaan kita akan menjadi senang, bahkan terkagum-kagum. Respons yang kita  berikan tersebut sebenarnya adalah bentuk resensi yang kita lakukan, tetapi bersifat spontan. Respons tersebut muncul karena adanya keindahan dalam karya sehingga seseorang merasa senang. Respons tersebut juga merupakan sebuah apresiasi, atau sikap untuk menghargai dan menyadari nilai tersebut.

Namun, pada kenyataannya, sering kali masyarakat ketika menilai sebuah karya seni bersifat serta-merta sehingga penjelasan yang diberikan atas keputusan nilai yang diberikan tidak memadai sebagai bukti yang akurat. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya proses resensi yang dilakukan dengan menggunakan tahapan-tahapan yang jelas, prosedural, dan sistematis. Resensi tersebut sering disebut sebagai kegiatan kritik seni.

Kritik seni adalah aktivitas dalam rangka menilai sebuah karya seni melalui tahapan yang jelas agar hasil evaluasi dapat dipertanggungjawabkan. Resensi yang dilakukan terhadap karya seni memiliki arti yang sepadan dengan kritik. Istilah kritik sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, yaitu critic, yang bermakna mengecam, mengupas, dan membahas. Dalam bahasa Yunani, kata kritik berasal dari kata kritikos yang erat hubungannya dengan krinein, yang berarti memisahkan, mengamati, menilai, dan menghakimi.

Menyadari, mengerti, dan cermat mengamati segi-segi estetika dengan bekal ilmu pengetahuan serta kepekaan estetis menjadi sangat penting dalam melakukan resensi. Melalui ketiga cara tersebut, seseorang dapat menikmati dan menilai suatu karya dengan semestinya. Esensi akan mengimplikasikan seseorang untuk lebih menghargai sebuah karya seni.

Penyelidikan kualitas aspek benda memang harus sensitif karena setiap bentuk yang ditampilkan memiliki perbentukan yang harus dirasakan, diempati, dan dihayati agar getaran- getaran bentuk yang menyenangkan dapat diperoleh hati pengamat. Oleh karena itu, sangat tidak mudah bagi seseorang yang memiliki wawasan cukup, tetapi kurang sensitivitasnya, untuk dapat menilai karya seni secara proporsional. Pandangan yang objektif juga diperlukan. Keindahan dalam sebuah karya seni digali agar kita mendapatkan sebuah kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Penyelidikan kualitas aspek benda memang harus sensitif karena setiap bentuk yang ditampilkan memiliki perbentukan yang harus dirasakan, diempati, dan dihayati agar getarangetaran bentuk yang menyenangkan dapat diperoleh hati pengamat. Oleh karena itu, sangat tidak mudah bagi seseorang yang memiliki wawasan cukup, tetapi kurang sensitivitasnya, untuk dapat menilai karya seni secara proporsional. Pandangan yang objektif juga diperlukan. Keindahan dalam sebuah karya seni digali agar kita mendapatkan sebuah kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Sikap yang dihasilkan setelah melakukan resensi adalah sikap apresiatif. Pada dasarnya, apresiasi adalah bentuk jalinan komunikasi antara si pembuat karya seni (seniman) dan penikmat karya seni (apresiator). Dengan adanya komunikasi timbal-balik tersebut, kemampuan sang seniman dapat berkembang, semangat berkaryanya juga semakin tinggi, dan penikmat seni pun dapat menikmati karya-karya seni yang berkualitas. Melalui uraian-uraian tersebut, terlihat bahwa hasil yang diharapkan dari kegiatan resensi adalah munculnya sikap apresiasi dalam bentuk menghargai. Contoh sikap menghargai, di antaranya berkaitan dengan sejauh mana penikmat seni atau masyarakat memandang karya seni tersebut sebagai sesuatu yang penting, bernilai, berguna, dan bermanfaat. Ciri seseorang yang mengapresiasi karya seni adalah ketika ia menghormati pembuat/pencipta karya tersebut serta merawat dan menjaga karya seni tersebut.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Tuesday, December 29, 2020

Eksplorasi Seni Budaya Nusantara (Pengembangan Karya Seni)

Pengembangan karya seni lebih identik dengan istilah berkarya seni. Dalam mengembangkan karya seni, seniman dapat menggali sumber ide atau gagasan dari kehidupan alam, sosial-pribadi, religi, moral, politik, dan budaya. Ide adalah gagasan pokok yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk karya seni. Untuk mewujudkan ide yang telah muncul, seniman perlu memilih media yang tepat untuk mengembangkan karya seni yang hendak diciptakan. Media meliputi bahan, peralatan, dan teknik. Media merupakan sarana bagi seniman dalam mengaktualisasikan ide yang masih abstrak agar terwujud dalam bentuk yang konkret melalui karya seni. Karya seni yang terwujud dapat berupa seni patung, seni keramik, seni lukis, seni bangunan, seni kerajinan, seni desain, dan lain sebagainya. Jadi, dapat dikatakan bahwa kegiatan berkarya seni merupakan kegiatan untuk mewujudkan ide dan gagasan dengan bantuan pemilihan media yang tepat dalam bentuk karya seni. 

Sebuah karya seni haruslah indah atau estetis. Keindahan karya seni tersebutlah yang membuat seseorang memperoleh Pengalaman dan kenikmatan estetis sehingga dapat membuatnya lebih bahagia dan senang. Karya seni dapat dikatakan sebagai karya seni yang indah jiksn telah mengandung nilai bentuk dan nilai isi.

Nilai bentuk visual yang indah harus mengandung prinsip proporsi, keselarasam, keharmonisan, keseimbangan, irama, dan prinsip kesatuan sehingga tercipta susunan atau organisasi elemen-elemen seni dan mengandung keunikan yang tidak pernah didapatkan pada benda lainnya. Karya seni yang indah juga harus memiliki nilai isi (content). Nilai isi dapat ditemukan apabila sebuah karya seni mengandung nilai-nilai dan makna yang luhur. Seni murni dan seni terapan memiliki kriteria nilai yang berbeda. Seni murni lebih berfokus pada keindahan semata, sedangkan seni terapan tidak hanya berfokus pada nilai keindahan, tetapi juga nilai kegunaan. 

Selain harus indah, pengembangan sebuah karya seni juga harus memperhatikan unsur tema, bentuk, dan isi atau makna. Tema merupakan pokok permasalahan yang dipakai sebagai dasar penciptaan karya. Tanpa tema, pengembangan karya seni yang dilakukan akan tidak fokus dan karya tidak memiliki orientasi keindahan yang jelas. Bentuk yang merupakan wujud visual pada sebuah karya seni rupa meliputi unsur-unsur rupa yang disusun untuk mengungkapkan makna tertentu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bentuk merupakan struktur karya seni yang perlu diolah secara matang agar mampu menampilkan kesan, simbol, dan ekspresi yang kuat. Terakhir, pengembangan karya seni juga harus memperhatikan isi atau makna. Tanpa ada muatan makna yang ingin disampaikan, bentuk akan terkesan kosong, hampa, dan menjadi tidak indah.

Gambar 8.1 Proses hubungan antara ide, seniman, dan media dalam berkarya seni.

Dalam melakukan pengembangan karya seni, khususnya penciptaan karya, seniman akan mengolah bahan dengan menggunakan peralatan yang dimiliki agar bahan dapat berubah menjadi karya seni. Menurut Rondhi (2002), bahan dalam berkarya seni lukis yang umum digunakan, antara lain cat minyak, cat air, kanvas, kertas gambar, tinta, dan lain sebagainya. Selain menyiapkan bahan, seni lukis juga memerlukan peralatan, di antaranya kuas, palet, dan easel. Untuk bentuk seni lainnya, tentunya alat dan bahan yang digunakan menyesuaikan dengan jenis seni yang dibawakan. Untuk seni patung, ukir, dan pahatan, alat serta bahan yang digunakan adalah alat-alat memahat. Untuk seni musik, alat dan bahan yang digunakan adalah alat-alat musik. Sementara itu, untuk jenis seni yang lebih kompleks, seperti seni tari dan pertunjukan, alat dan bahan yang dibutuhkan meliputi tata kostum, tata rias, tata panggung, tata cahaya, hingga tata musik. 

Sementara itu, teknik adalah cara seniman dalam memanipulasi bahan dengan menggunakan alat tertentu. Setiap seniman memiliki teknik masing-masing yang disesuaikan dengan sifat bahan dan peralatan yang digunakan. Dengan demikian, teknik akan menjadi karakteristik atau ciri khas yang membedakan satu seniman dengan seniman yang lain. 

Secara umum, terdapat dua teknik dalam berkarya seni, yaitu teknik umum dan teknik khusus. Teknik umum (konvensional) merujuk pada sebuah cara yang lazim digunakan oleh banyak orang dalam menciptakan suatu karya. Sementara itu, teknik khusus adalah teknik umum yang telah dikembangkan oleh seniman secara personal dalam menciptakan suatu karya dalam menciptakan suatu karya. Teknik umum dan teknik Ahusus diterapkan dalam berbagai bidang seni, mulai dari seni murni hingga seni terapan. 

Dalam bidang seni lukis, terdapat beberapa teknik berkarya yang umum digunakan seniman, di antaranya aquarelleren, gouache dan plakat, oliverfoil colour, tempera schilderen, fresco sgraffıto, frottage, grattage, decalcomania, collage assemblage, teknik batik, dan lain sebagainya. Dalam pembuatan karya seni tiga dimensi, teknik yang sering digunakan adalah teknik anyaman, menyambung atau menempel, cetak. pahat, membentuk (modeling), butsir, dan merakit atau membangun. 

Dalam penciptaan suatu karya seni, tidak jarang seniman melakukan terobosan-terobosan yang dilakukan untuk berbagai tujuan, mulai dari tujuan artistik hingga tujuan fungsional. Untuk mencapai tujuan artistik, seniman sering kali mencampurkan alat dan bahan dengan teknik pembuatan yang tidak biasa. Contohnya pada masa kini, dapat ditemukan berbagai lukisan yang dibuat dengan bahan yang tidak biasa, mulai dari ampas kopil tetesan air tehi kulit telur, hingga hasil pembakaran obat nyamuk bakar dan rokok. Karena menggunakan alat dan bahan yang tidak biasa, tentunya diperlukan teknik yang berbeda dalam proses penciptaan karya seni. Contohnya, lukisan yang dibuat menggunakan hasil pembakaran obat nyamuk bakar dan rokok memerlukan teknik berupa teknik pembakaran demi menghasilkan warna yang diinginkan. Pada akhirnya, hasil karya yang dihasilkan tidak hanya kuat dengan nuansa artistik dan indah, tetapi juga unik dan tidak biasa. 

Gambar 8.2 Dalam pembuatan kerajinan perak, seorang seniman memerlukan (a) alat dan bahan, serta (b) teknik, di antaranya teknik konvensional dengan cara membakar perak agar mudah dibentuk. 

Gambar 8.2 Penggabungan antara alat dan bahan yang tidak biasa, yakni (a) obat nyamuk bakar dan (b) rokok dengan teknik pembakaran (c) dan (d) untuk menciptakan karya lukisan yang unik dan indah.

Sementara itu, untuk tujuan fungsional, umumnya- seniman menggunakan media dan teknik yang lebih praktis. Hal ini dilakukan karena tujuan utama penciptaan adalah untuk menghasilkan benda berciri artistikdan bernilai guna untuk kehidupan manusia. Contohnya dapat ditemukan dalam pembuatan spanduk atau gambar pada pakaian menggunakan teknik ÅŸablon. Selain lebih cepat dan mudah, teknik ÅŸablon juga memungkinkan proses duplikasi karya seni serupa dalam jumlah lebih banyak. 

Gambar 8.4 Teknik ÅŸablon adalah teknik pengembangan karya seni yang efektif dalam rangka untuk menduplikasi karya dalam jumlah banyak.

Dalam proses penciptaan karya seni, seniman harus memiliki inspirasi, rasat dan ide. Seniman juga harus memiliki kemampuan persepsi, komposisi, serta pemahaman unsur rupa dan prinsip komposisi sehingga dapat mengolah material dengan menggunakan alat dan teknik agar dihasilkan sebuah karya seni. Berikut adalah skema dari hubungan tersebut.

Gambar 2. Skema proses dalam penciptaan sebuah karya seni. Seniman harus memiliki ide, imajinasi dan pengetahuan untuk mengolah bahan agar menjadi karya seni murni ataupun terapan.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Wednesday, May 15, 2019

Pameran Seni


1.Pengertian Pameran
Pameran adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap pelaku seni. Kegiatan ini dapat menguji kemampuan seorang seniman. Tujuan dari sebuah pameran sebagai media komunikasi bagi para pelaku seni untuk dapat memerhatikan atau menunjukkan hasil-hasil karya seninya kepada orang banyak sebagai apresiator. 

Secara umum, tujuan pameran adalah untuk keperluan edukatif, komunikatif, kompetitif, dan sosial. Pameran merupakan kegiatan untuk memperkenalkan atau menunjukan hasil karya seni rupa atau hasil produksi kepada masyarakat luas. Pameran adalah cara untuk melakukan komunikasi antara pencipta karya dan penikmat karya seni rupa. Pameran bersifat Statis/diam  :  Pameran lukisan, pameran patung, pameran bunga. 

Kegiatan pameran dan pergelaran memiliki manfaat atau fungsi yang dapat di rasakan langsung maupun tidak langsung. 
a. Sebagai media untuk berekpresi diri, berkomunikasi, pengembangan bakat, dan apresiasi. 
b. Mengembangkan kepekaan terhadap alam sekitar dan menambah kehalusan budi pekerti.
c. Sebagai media ekspresi diri bagi pembuat karya seni.
d. Sebagai media pengembang bakat.Makin banyak kesempatan untuk pameran, makin banyak latihan untuk mengasah bakat seniman dan makin banyak yang dihasilkan.
e. Media komunikasi antara pencipta karya seni dengan penikmatnya. Seniman menyampaikan sesuatu ide dan pesan lewat karyanya dan kemudian di tangkap oleh penikmat seni yang melihat pameran. 
f. Media apresiasi seni. Apresiasi merupakan kegiatan yang meliputi pengamatan, penghayatan, penilaian, dan penghargaan terhadap sesuatu. 

Pameran karya merupakan akhir dari sebuah proses berkarya agar karya – karya yang dibuat dapat di apresiasi oleh orang lain secara lebi luas. Selama beberapa pelajaran yang telah dilaksanakan, tentulah telah cukup karya yang dihasilkan, baik karya – karya seri rupa dua dimensi maupun karya seni rupa tiga dimensi, baik karya seni kriya maupun karya seni murni.

Meskipun bentuk bentuk karya nasih terbatas, mungkin saja ditemukan penumuan – penumuan menarik yang telah dilakukan oleh para siswa lainnya sehingga sepantasnya pameran karya ini dilakukan.

Tujuan manfaat yang dapat dicapai melalui sebuah pameran karya seni rupa di lingkungan pendidikan meliputi hal – hal sebagi berikut : 
a. Menumbuhkan rasa percaya diri untuk menampilkan karyanya di hadapan publik secara luas.
b. Membiasakan diri untuk bersikap sportif, dalam arti dituntut untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab atas hasil kerja dan kemampuan kita sendiri. 
c. Mengembangkan sikap apresiasi serta kreasi seni dikalangan para siswa. 
d. Memperluas wawasan dan pengtahuan berorganisasi melalui pameran 
e. Kita memiliki kesempan untuk memperkenalkan diri sebagai perupa atau perkriya ( Pencipta karya seni rupa dan seni kriya ). 

Pameran seni merupakan komunikasi estetis, yaitu wahana komunikasi antara pencipta ( kreator) dan khayalak sebagai apresiator. Pada kesempatan ini kita belajar komunikasi dengan cara khayalak pengunjung pameran melalui media seni rupa. 




2. Jenis Pameran karya seni rupa 
Beberapa jenis Pameran meliputi sebagai berikut : 
a. Pameran tunggal yaitu pameran yang dilakukan oleh perorangan dan biasanya hanya menampilkan satu jenis karya seni. 
b. Pameran kelompok yaitu menyebut pameran yang dilakukan oleh sekelompok seniman.
c. Pameran restospeksi yaitu pameran sejaran perjalanan seorang seniman dalam berkarya dan dilakukan oleh perorangan. Pameran restospeksi dapat berisi karya seni lukis, seni patung, kramik, grafis, atau karya seni lainnya atas nama perorangan.
d. Pameran desain yaitu pameran desain atau pameran produk kerajinan seperti arsitektur, pameran hasil riset produk, pameran kriya, pameran furnitur, pameran produk elektonik, pameran otomotif, pameran perhiasan, pameran produk pelengkap rumah sakit, dan sebagainya. 



3. Merencanakan Pameran 
Rencana sebuah pameran perlu dirancang secara sistematis dan logis agar pada waktu pelaksanaannya berjalan lancer. Tanpa perencanaan sistematis sebuah pameran tidak dapat berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan. 

Pelajari tahapan umum dalam perencanaan penyelenggaraan pameranseni rupa berikut : 
1.Menentukan Tujuan 
Langkah awal yang harus di perhatikan dalam menyusun program pameran adalah menetapkan dulu tujuan pameran tersebut. Penyelenggaraan pameran dapat saja bertujuan untuk menggalang dana yang bersifat komersial, social atau kemanusiaan. 
2.Menentukan Tema Pameran 
Tema pameran ditentukan setelah tujuan pameran di rumuskan. Penentuan tema berfungsi untuk memperjelas tujuan yang akan dicapai, dengan adanya tema akan memperjelas misi pameran yang akan dilaksanakan. Setelah rumusan pameran dan tema telah ditetapkan, langkah berikutnya adalah menyusun kepanitian pameran. 
3.Menetapkan Kepanitian 
Susunan panitia dalam suatu pameran selengkapnya sebenarnya dapat bervariasi, tetapi yang penting staf panitia initi biasanya terdiri dari susunan sebagai berikut : 
a. Ketua panitia, merupakan coordinator kegiatan, yang bertanggung jawab atas segala hal yang menyangkut kelancaran pameran. 
b. Sekretaris, bertugas membantu ketua dalam masalah administrasi 
c. Bendahara, mengatur keuangan pameran, mencatat pemasukan dan pengeluaran uang.
d. Seksi – seksi yang terdiri atas: 
1. Seksi publikasi membertahu pada khalayak umum dalam bentuk poster, spanduk atau surat pemberitahuan kepada orang tua siswa. 
2. Seksi pelengkapan mengusahakan peralatan yang diperlukan.
3. Seksi dekorasi mengatur ruangan,tata letak hasil karya yang di pamerkan.
4. Seksi konsumsi mengatur penyedian konsumsi bagi para petugas pameran selama berlangsungnya kegiatan. 
5. Seksi P3K menyiapkan obat – obatan dan sarana kesehatan lainnya selama pameran.
6. Seksi dokumentasi membuat foto – foto ( Mengabdikan ) peristiwa pameran, membuat cacatan penting untuk di simpan sebagai arsip sekolah. 
7. Seksi keamanan menjaga ketertiban waktu pameran,menjaga dan mengamankan hasil karya. 
4.Menetapkan waktu 
Pada lingkungan pendidikan, waktu pelaksanaan pameran karya siswa akan berkaitan langsung dengan rangkaian proses pembelajaran. Oleh karena itu, penetapan pameran karya siswa ini akan di tentukan oleh pihak sekolah melalui guru mata pelajaran. 
5.Menetapkan tempat pameran 
Tempat pameran yang di pilih hendaknya merupakan tempat yang srategis. Tempat tersebut harus mudah dilalui pengunjung, memilikki sirkulasi udara yang cukup baik, seta sedapat mungkin mendapat keprcayaan yang cukup ( sebaiknya cayaha matahari ). Untuk ini kita dapat menggunakan aula sekolah atau ruang kelas yang di tata sedemikian rupa. 
6.Menyusun Agenda Kegiatan 
Penyusunan agenda kegiatan dimaksudkan untuk memberikan kejelasan waktu pelaksanaan kepada semua pihak yang berkaitan dengan proses penyelenggaraan pameran. Agenda kegiatan di susun dalam table dengan mencantukan komponen jenis kegiatan dan waktu ( Biasanya dalam bulan, minggu, dan tanggal ). 



4. Menyusun Proposal Pameran Karya Seni Rupa 
Setelah seluruh kepanitian terbentuk, tugas berikutnya menyusun proposal kegiatan. Komponen – komponen yang harus anda rumuskan dalam proposal adalah sebagai mana terurai dibawah ini. 
Anda dapat menuliskan rumusan yang dimaksud pada lembaran kertas lain secara bersama-sama. 
1. Pendahuluan, yang membuat gambaran umum mengenai rencana kegiatan secara keseluruhan. Pada bagian pendahuluan ini pula di jelaskan latar belakang masalah serta dasar pemikiran secara umum yang merupakan intisari yang akan diselenggarakan.
2. Landasan dan dasar pemikiran yang dikaitkan dengan salah satu peristiwa tertentu dan program induk kegiatan OSIS atau di sekolah. 
3. Tujuan penyelenggaraan perglearan yang meliputi tujuan umum yang dikaitkan dengan kepentingan sekolah, serta tujuan khusus yang dikaitkan dengan kepentingan siswa pada umumnya.
4. Tema yang mendasari kegiatan. 
5. Bentuk – bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan. Di sini tercakup rincian seluruh kegiatan yang direcanakan. Misalnya, pameran karya lukisan, karya patung, karya seni kriya, dan sebagainya. 
6. Sasaran kegiatan yakni kepada siapa pameran itu di peruntukan. Misalnya untuk siswa dan warga sekolah lainnya, orang tua dan pihak lainya. 
7. Peserta yang terlibat dalam kegiatan, termasuk penjelasan tentang jumlah panitia, jumlah pendukung, dan perkiraan jumlah pengunjung. 
8. Susunan kepanitian. Susunan kepanitian sebaiknya dipisahkan sebagai lampiran yang memuat sejumlah nama. 
9. Waktu dan tempat pergelaran. Disebutkan dengan jelas hari, tanggal, bulan, tahun, dan waktunya. Misalnya dari puku 09.00 s/d 12.30. Mengenai tempat dijelaskan secara lengkap, termasuk alamatnya.
10. Rencana pembiayaan yang memuat rincian pengeluaran dan perkiraan sumber dana. Rencana anggaran pembiyayaan tersebut sebaiknya disusun sebagai lampiran, yang ditanda tangani oleh bendahara, ketua panitia,dan diketahui oleh Pembina atau kepala sekolah. 
11. Jadwal kegiatan yang ( Terutama ) memuat jadwal kegiatan kepanitian sejak tahap persiapan hingga pelaksaan. Jadwal kegiatan ini di buat dalam bentuk matriks agar mudah dilihat dan diperiksa oleh pihak – pihak terkait. 
12. Proposal ini kemudian diajukan kepada kepala sekolah dan dijadikan pedoman bagi penyelenggaraan kegiatan. Pada proposal ini pula tercantum rencana kerja dan sistematika keja seluruh kegiatan 



5. Persiapan Pameran 
1. Menyiapkan dan memilih karya 
a. Langkah pengumpulan karya dilakukan dengan cara berikut. 
- Mencatat secara teliti setiap karya yang diserahkan, lalu mencantumkan:
- Judul karya ; 
- Nama pencipta atau pembuat karya ; 
- Jenis karya ; 
- Bentuk karya ;
- Bahan yang digunakan ; 
- Teknik pembuatan ; dan 
- Tanggal penyerahan. 
b. Menandai atau me nomori karya yang diterimanya sesuai nomor urut catatannya.
c. Apabila karya yang diterimanya itu sangat baik, tanyakanlah kedapa pembuatnya apakah   karya itu dijual atau tidak. Kalau dijual, beri tanda khusus pada tanda itu dan pada catatan nya ( Misalnya member tanda berupa kertas hijau ).
d. Sediakan tempat khusus untuk menyimpan seluruh karya. Tempat itu sebaiknya tidak lembab sehingga karya – karya yang disimpan di sana tidak rusak. 
e. Simpanlah semua karya itu dengan hati – hati agar tidak rusak dan tergores. 
f. Apabila seluruh karya telah terkumpul, salinla catatan yang telah dibuat itu ke dalam format lain untuk di perbanyak menjadi bentuk catalog pameran atau booxlate. Catalog atau booklate ini nanti dibagikan kepada pengunjung, sebagai pedoman dalam meningmati pameran karya seni rupa. 
g. Agar pameran dapat berlangsung dengan tepat dan sukses buat lah publikasi yang cukup dengan pembuat poster, plakat, dan sejenisnya. Jika diperlukan, lakukan pendekatan kepada perusahaan – perusahaan tertentu sebagai sponsor kegiatan. Jika ada, jangan lupa untuk menerakan logo perusahaan yang menjadi sponsor pameran pada poster dan catalog pameran. 

2. Menyiapkan Perlengkapan Pameran 
a. Ruang pameran Ruangan yang dapat digunakan dalam kegiatan pameran seni rupa di sekolah bias menggunakan aula atu ruangan kelas. Penataan ruang dapat dilakukan dengan menggunakan meja, panel, kursi. 
b. Meja Meja dapat digunakan untuk meja penerima tamu dan dapat juga pula digunakan sebagai dasar penyimpanan tiga karya domensial seperti patung atau barang kerajinan lainnya.
c. Buku Tamu Bukti tamu ( berisi: no,nama,alamat,/asal kelas/asal sekolah, dan tanda  tangan).dapat digunakan untuk mengetahui berapa orang yang mengunjungi pameran.
d. Buku Kesan dan Pesan Buku kesan dan pesan ( berisi : tanggal, tanggapan pribadi pengunjung, identitas seperlunya ) berguna sebagai masukan terhadap penyelenggaraan pameran.
e. Panel Berfungsi menempelkan karya seni dua dimensi seperti: lukisan, gambar, dan sebaginya. Panel juga dapat digunakan sebagai penyekat ruangan. 
f. Poster atau Brosur Media ini digunakan untuk menginfomasikan kegiatan pameran yang akan dilaksanakan. Dengan demikian sebelum pelaksanaan pameran dilakukan, poster dan brosur sudah digunakan sebagai media informasi. 
g. Katalog Berisi identitas seniman dan karya serta koratorial penyelenggaraan pameran, berfungsi sebagi penjelasan mengenai hal ikhwal seniman dan karya seni yang dipamerkannya.
h. Folder Berisi judul lukisan dan harga lukisan jika dijual membantu guide untuk menjelaskan kepada pengunjung pameran. 
i. Lampu Penerangan Lampu ini digunakan untuk memperjelas karya yang dipamerkan. Lampu ini dipasang di setiap papan pamer ( Panel ) atau plafon. Pemasangan lampu dan pemilihan jenis lampu untuk memperjelas karya sehingga lampu dan penetapannya harus diatur dan dipili sedimikian rupa agar tidak menyilaukan. 
j. Sound System Sound system digunakan dalam acar pembukaan, dan untuk diperdegarkan music insrumentalia berirama lembut selama pameran berlangsung yang berfungsi untuk mendukung suasana pameran sehingga pengunjung merasa lebih nyaman ketika mengapresiasi kaya yang dipamerkan.





Merancang Karya Seni Budaya Nusantara (teknik membentuk)

MERANCANG KARYA SENI BUDAYA NUSANTARA

Berkarya seni yang baik dapat menciptakan bentuk bentuk baru yang artistic dan estetik. Keberhasilan berkarya tiga dimensi ditentukan oleh pencipta dan media yang digunakan. Menyipkan karya dengan berkreasi sendiri atau mengembangkan ide atau gagasan dari berbagai sumber dari lingkungan sekitar. Karya tersebut bias berupa karya yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari maupun benda seni murni atau hanya untuk dinikmati dari segi estetisnya saja. Sebelum menciptakan karya seni ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:

1. Membentuk
Pengertian membentuk yaitu ide atau gagasan yang diekspresikan berwujud tiga dimensi yaitu memiliki nilai indah dan nilai seni dengan menggunakan media atau alat tertentu. Terdapat beberapa cara membentuk karya seni rupa, yaitu konstruksi, analitik, dan memutar. Membentuk karya seni rupa dengan cara menggunakan keterampilan tangan disebut konstruksi.

2. Media atau bahan pembentuk 
Media atau bahan yang digunakan untuk membentuk umumnya elastis atau lunak. Contoh media pembentuk karya seni rupa adalah gips, tanah liat, malam, bubur kertas, plastisin, dan lain-lain. Alat yang digunakan sebagai media pembentuk adalah alas papan, tangan, alat putar, atau kayu pipih. Bahan untuk membuat karya seni rupa yang sering digunakan dalam usaha gerabah. Kaolin disebut juga tanah liat China karena berwarna putih dan warnanya tidak berubah walau telah melalui proses pembakaran. 

3. Wujud karya seni membentuk
Beberapa hasil karya seni dibentuk dengan cara tertentu dapat berupa kerajinan atau kriya. Contoh kerajinan kramik untuk peralatan rumah tangga  atau gerabah. Benda karya seni rupa lainnya adalah patung, guci, perkakas batu, gerabah, batu bata dan lain-lain.

4. Teknik membentuk
Teknik atau cara yang digunakan dalam membuat karya seni antara lain dengan cara membentuk. Untuk mendapatkan sebuah hasil karya yang baik dan indah diperlukan keterampilan seniman, bahan, dan alat pembantuk. Untuk membuat karya cetak, cor, bahan dituangkan pada alat cetakan. Selain itu terdapat alat yang digunakan untuk membentuk karya seni rupa antara lain sudip, pisau, penggores, dan lain lain.

 Adapun hasil dari karya seni tersebut pasti memiliki berbagai nilai yang terkandung didalamnya. Adapun wadah yang digunakan sebagai apresiasi dari hasil karya seni yaitu pameran atau pagelaran. 

EVALUASI KARYA SENI BUDAYA NUSANTARA



Evaluasi merupakan proses atau bentuk penghargaan dan penilaian terhadap suau hal yang berhubungan dengan karya seni dan karya sastra. Dalam proses evaluasi terdapat apresiasi didalamnya. Kegiatan Apresiasi seni meliputi dua hal yaitu bersifat pengenalan terhadap Karya Seni dan menuntut adanya pengamatan Seni secara mendalam yang berisi proses pengamatan, penalaran, penafsiran dan mengevaluasi atau mengkritik suatu karya seni.

Pengertian Kritik Seni
Istilah “kritik seni”, dalam bahasa Indonesia, sering disebut dengan istilah “ulas seni”, “kupas seni”, “bahas seni” atau “bincang seni”. Pada umumnya istilah “kritik seni” terkait dengan masalah seni, dan bertujuan mendeskripsikan, menganalisis, menginterpretasi, dan menilai karya seni (Nooryan Bahari, 2014: 2-3).

Kritik seni adalah kegiatan menanggapi karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini dipergunakan dalam berbagai aspek, terutama untuk menunjukkan kualitas dari sebuah karya. Kritik karya seni tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap sebuah karya seni, tetapi juga dipergunakan sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni. Tanggapan dan penilaian yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap kualitas sebuah karya seni bahkan dapat mempengaruhi penilaian ekonomis (harga jual).

Dalam kritik karya seni rupa kritikus dapat memberikan tanggapan dan evaluasi berdasarkan aspek-aspek simbol, jenis, fungsi, dan nilai estetis yang terdapat dalam karya tersebut. Mengeritik sebuah karya seni rupa tidak bertujuan untuk mencari-cari kesalahan, kekurangan atau kelemahan sebuah karya seni rupa. Pada dasarnya melalui kegiatan kritik karya seni rupa dapat belajar memberikan penilaian secara objektif terhadap kualitas karya seni, untuk meningkatkan kualitas wawasan, tanggapan dan kepekaan kamu terhadap karya seni. Hasil tanggapan dan evaluasi terhadap karya diharapkan mendorong perupa untuk meningkatkan kualitas karyanya. Untuk dapat memberikan apresiasi dapat dilakukan dengan mengamati unsur-unsur dalam sebuah karya. Beberapa unsur yang dapat diamati antara lain sebagai berikut.

1. Simbol
Dalam senirupa kata simbol dapat diartikan sebagai makna yang dikandung dalam karya seni rupa baik pada wujud objeknya maupun pada unsur-unsur seni rupanya.  Misalnya unsur warna hijau yang dominan adalah simbol kesuburan.  Patung dengan objek kuda sebagai simbol kegagahan.  Secara konseptual kata simbol memiliki pengertian:
a. Sesuatu yang biasanya adalah tanda yang mengantikan gagasan atau objek tertentu
b. Kata, tanda, atau isyarat yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain
c. Mewakili kesepakatan,  persetujuan atau kebiasaan.
d. Suatu tanda konvensional yaitu sesuatu yang dibangun oleh masyarakat atau induvidu-induvidu tertentu yang kurang lebih standar yang disepakati atau dipakai anggota masyarakat itu.

2. Jenis
Jenis karya seni rupa sangat beragam.  Pengelompokkan jenis karya seni rupa dapat dilakukan berdasarkan teknik pembuaan, bahan dan medium objek, tema, isi pesan dan gaya pengungkapannya
Beberapa teknik dalam karya seni rupa dua dimensi yaitu 
a. Linier yaitu cara menggambar dengan teknik menutup objek dengan garis
b. Blok yaitu menutup obyek lukis dengan satu warna
c. Arsir menutup objek lukis dengan pulasan garis sejajar atau menyilang
d. Dusel yaitu membuat elap atau terang objek lukis dengan goresan miring menggunakan pensil
e. Pointilis menghitamkan obyek lukis dengan titik-titik
f. Aquarel menggunakan sapuan tipis cat air
g. Plakat yaitu menggunakan sapuan tebal dengan cat minyak
Adapun teknik dalam karya seni rupa tiga dimensi yaitu teknik pahat, teknik butsir, teknik cor, teknik las, dan teknik cetak.

3. Fungsi
Jenis karya senirupa dapat dikategorikan berdasarkan fungsinya.  Berdasarkan fungsinya karya seni rupa dikelompokkan menjadi karya senirupa murni dan senirupa terapan.

4. Nilai estetis
Nilai estetis secara umum dimaknai sebagai nilai keindahan dari sebuah karya seni rupa.  Nilai estetis pada karya seni rupa dapat dilihat dari unsur-unsur senirupa yang terdapat pada sebuah karya seni rupa, dan juga prinsip-prinsip seni rupa.  Unsur-unsur karya seni rupa misalnya warna, bangun, bidang, tekstur, garis dan sebagainya.

Secara umum untuk mengevaluasi/mengkritisi karya seni harus memahami dahulu seluk belu karya seni serta peka terhadap unsur estetiknya.
Berikut ini contoh karya seni rupa mengevaluasi karya seni rupa:
Gambar
Aspek yang Diamati
Uraian Hasil Pengamatan

Simbol
Manusia sebagai mahluk sosial senantiasa berhubungan dengan sesamanya.
Jenis
Karya seni rupa patung teknik cetak (casting)
Fungsi
Seni rupa tiga dimensi murni
Nilai Estetis
Bentuk fisik baik proporsi maupun gerak

Simbol
Mengungkapkan sebuah proses pencarian eksitensi jati diri manusia serbagaimana layaknya sang Brahmana pengembara.
Jenis
Seni rupa dua dimensi teknik pakat (cat minyak)
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Kisah perjalanan spiritual dalam gaya Surrrealisme dekoratif yang sarat dengan imaji. 

Simbol
Simbol dari bentuk dasar lingkaran besi yang mempunyai esensi sebuah proses pencarian jati diri yang kuat tiada henti.
Jenis
Seni tiga dimensi teknik cor
Fungsi
Seni rupa tiga dimensi murni
Nilai Estetis
Warna yang berupa pamor gurat-gurat pijar api merujuk motif alam dengan sifat yang keras dan dramatis.

Simbol
Melambangkan keagungan anugerah Yang Maha Esa
Jenis
Seni rupa dua dimensi teknik plakat
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Perpaduan warna dan bentuk yang sangat menarik 

Simbol
Keragaman mewujudkan keatuan yang utuh
Jenis
Seni rupa dua dimensi grafis teknik cetak digital
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Perpaduan warna dan bentuk yang sangat menarik

Simbol
Dalam karya ini seorang wanita yang memakai rok dan bersepatu, serta anak-anak yang juga memakai rok menjadi kontras sekaligus sebagai simbol perubahan zaman.
Jenis
Seni rupa dua dimensi teknik cukil kayu
Fungsi
Seni rupa dua dimensi murni
Nilai Estetis
Pencahayaan, dan detail bentuk-bentuknya telah mencapai keunggulan, sehingga karya seni grafis yang realistik ini terasa hidup.