Showing posts with label arsitektur. Show all posts
Showing posts with label arsitektur. Show all posts

Sunday, November 7, 2021

Menganalisis Fungsi Patung


Pada peradaban yang belum maju patung dibuat untuk kepentingan kepercayaan religi. Misalnya pada peradaban Mesir Kuno orang membuat patung untuk disembah. Patung dikenal di Indonesia sejak jaman prasejarah. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi pembuatan karya seni patung seperti misalnya pada suku Asmat dari Papua yang terkenal dengan patung primitifnya. Pada jaman Hindu dan Budha orang juga membuat patung untuk dipergunakan pada kegiatan keagamaan seperti memuja Dewa atau menghormati orang yang menjadi teladan.

Selain itu banyak pula ditemukan hasil karya seni patung terutama di candi Hindu Budha yang bercorak tradisional.Seni patung juga disebut seni plastik (plastic art). Disebut plastik atau plastis karena menggunakan bahan yang mudah dibentuk sesuka hati. Seni patung juga diartikan sebagai seni bentuk yakni bentuk-bentuk 3 dimensional yang memiliki keindahan. Patung sebagai seni plastis memiliki arti yang luas karena tidak hanya bentuk manusia saja yang dibuat patung tetapi juga bentuk binatang, bentuk tumbuhan, atau bentuk apapun yang nyata maupun tidak nyata (abstrak).

Patung-patung dibuat untuk digunakan manusia bagi berbagai keperluan. Di bidang kenegaraan, patung dibuat untuk mengenang para pahlawan agar semangat juang dan patriotismenya dapat diwarisi oleh generasi penerus. Sebagai contoh, patung Soekarno-Hatta di gerbang bandara internasional Soekarno-Hatta di kota Tangerang Banten. Patung yang ditunjukkan oleh Gambar 2a adalah patung Soekarno-Hatta yang dibuat oleh pematung Sunaryo. Patung yang diresmikan pada 29 Agustus 2008 ini menggambarkan Bung Karno berdiri dengan tangan kanan menunjuk ke depan dan tangan kiri memegang tongkat komando. Bahasa tubuh patung Bung Karno nampak ekspresif penuh semangat untuk membawa rakyatnya maju ke depan. Sementara itu Bung Hatta ditampilkan dengan busana santun bersahaja, ditangannya memegang sebuah buku. Tahukah Kamu, siapa Soekarno Hatta itu?


Gambar 2A  Patung Soekarno-Hatta

Untuk mengenang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dibangunlah Tugu Proklamasi. Tugu Proklamasi berdiri di komplek Taman Proklamasi di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Taman tersebut berlokasi di bekas kediaman Presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada komplek tersebut terdapat monumen dua patung Soekarno-Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di tengah-tengah dua patung proklamator tersebut terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.


Gambar 2B Tugu Proklamasi

Di bidang perkotaan, patung digunakan sebagai landmark atau penanda visual yang khas bagi kota tersebut. Di Surabaya ada patung khas penanda Surabaya yang disebut Tugu Pahlawan. Selain Monumen Nasional (Monas), di Jakarta terdapat patung berjudul ‘Selamat Datang’. Patung ‘Selamat Datang’ini juga dikenal sebagai Monumen Bundaran HI (untuk 'Bundaran Hotel Indonesia'). Patung ini dibuat atas prakarsa Presiden Soekarno, dibuat oleh Edhi Soenarso, selesai dibangun pada tahun 1962. Rancangan patung tersebut sketsanya dibuat oleh Henk Ngantung, waktu itu wakil gubernur DKI Jakarta. Trubus, penasihat dekat Presiden Soekarno di bidang seni rupa, adalah koordinator projek tersebut. Patung tersebut menggambarkan dua patung perunggu seorang pria dan seorang wanita, melambai dengan sikap menyambut. Wanita itu memegang buket bunga di tangan kirinya. Awalnya, monumen ‘Selamat Datang’ ini diberi nama "Rakyat Indonesia Menyapa Masa Depannya."

 

Di Surabaya terdapat patung monumental berjudul ‘Jalesveva Jayamahe’. Patung Jalesveva Jayamahe sendiri memiliki arti “di lautan Kamu jaya”. Patung ini menggambarkan prajurit TNI AL yang mengenakan baju seremonial, lengkap dengan pedang kehormatannya, menatap jauh ke laut seolah siap menantang ombak dan badai lautan. Patung yang terletak di Tanjung Perak Surabaya ini berdiri tegak di atas sebuah bangunan, yang tinggi total bangunan dan patung tersebut mencapai 60,6 meter. Monumen Jalesveva Jayamahe merepresentasikan optimisme generasi penerus bangsa untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Patung yang dirancang oleh I Nyoman Nuarta ini mengingatkan Kamu pada patung Liberty di New York, Amerika Serikat.

Kamu tahu sekarang bahwa patung memiliki beberapa fungsi. Beberapa fungsi seni patung lainnya sebagai berikut:

1. Patung dekorasi, berfungsi untuk memperindah suatu ruangan atau lingkungan eksterior.

2. Patung monumen, dibuat untuk mengenang jasa tokoh atau kelompok tertentu, seperti sosok pahlawan suatu negara atau memperingati peristiwa bersejarah.

3. Patung kerajinan, merupakan patung yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar, sehingga dapat diminati untuk dibeli berdasarkan berbagai kebutuhan umum yang tidak spesifik.

4. Patung arsitektur, dibuat untuk menunjang atau melengkapi kontruksi suatu bangunan sehingga lebih terpadu dan harmonis dengan desain arsitektur yang telah dirancang.

5. Patung seni murni (fine art) dibuat hanya untuk kepentingan estetis pribadi, demi pengungkapan ide-ide estetik sang seniman.

6. Patung religi, patung bagi beberapa agama dan kepercayaan memiliki unsur dan makna religius dan digunakan sebagai sarana untuk beribadah.

7. Patung pendidikan, patung yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan dunia Pendidikan.

 


Gambar 2C Patung Buddha; Patung-patung di Gereja Santa Maria De Belem

    Patung memiliki fungsi yang beragam, dari fungsi religius dan spiritual untuk kegiatan keagamaan dan kebudayaan tertentu, untuk mengenang atau mengenang peristiwa yang bersejarah atau jasa seorang pahlawan di masa terakhir. Untuk menunjang dalam konstruksi bangunan dan nilai estetika atau keindahan.


Sumber:

DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII Semester Genap. 2020.

Sunday, December 13, 2020

Seni Nusantara Tradisional

 Perkembangan seni di Nusantara telah bermula sejak masa purbakala. Bentuk kemunculannya hampir sama dengan di belahan lainnya, yakni ditemukan dalam bentuk lukisan gua atau benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah bentuk ukiran yang ditemukan pada waruga (peti kubur batu) dan nekara (gendang perunggu) dari zaman prasejarah di beberapa daerah di Nusantara. 

Seni di Nusantara terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman yang mengikutinya. Pada masa prasejarah, aksara belum ditemukan sehingga banyak karya seni yang sifatnya anonim, atau tidak diketahui nama jelas penciptanya. Tradisi menghasilkan karya anonim ini masih banyak digunakan, termasuk ketika Nusantara telah memasuki masa aksara. 

Masa aksara terjadi ketika banyak kerajaan berdiri di berbagai daerah di Nusantara. Ketika itu, banyak seniman dan sastrawan yang telah mengenal aksara dipekerjakan di kerajaan. Pada masa itu, karya seni dan karya sastra dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan hanya pantas dipersembahkan kepada raja. Namun, sebagai bentuk kerendahan hati, banyak di antara para seniman dan sastrawan tersebut tidak mencantumkan nama mereka dalam karya yang mereka persembahkan. Jika ada yang mencantumkan nama, nama tersebut adalah nama alias atau disamarkan. Akibatnya, di masa-masa selanjutnya, banyak yang menganggap bahwa karya seni dan sastra dari era kerajaan tersebut merupakan karya raja. 

Tradisi anonim atau tidak mencantumkan nama jelas dalam penciptaan karya mulai terkikis seiring perkembangan waktu. Bahkan, di masa kini, tradisi anonim hampir sepenuhnya ditinggalkan. Sebuah karya seni merupakan hak yang dapat dipertanggungjawabkan oleh seniman penciptanya. Oleh sebab itu, karya seni di masa kini sebaiknya diketahui nama penciptanya. 

Pada dasarnya, perkembangan seni dari masa ke masa, baik Seni di Nusantara maupun belahan dunia lainnya, dipengaruhi oleh dua faktor, yakni sebagai berikut. 

1. Faktor Internal 

Seni berkembang berdasarkan kreativitas manusia Yang terus bertumbuh dalam dirinya sehingga dapat terus menciptakan ide-ide baru yang asli. Faktor internal membuat manusia mampu melahirkan sesuatu yang baru berdasarkan kesadaran terhadap dirinya dan tergantung pengalaman hidupnya. 

2. Faktor Eksternal 

Seni dan budaya berkembang tergantung pada lingkungan hidupnya, termasuk lingkungan alam dan sosial budayanya. Adanya tantangan alam, seperti bencana alam atau kekeringan, memacu manusia untuk mengembangkan seni. Biasanya, seiring dengan adanya kehidupan yang sejahtera, manusia akan lebih memiliki motivasi untuk menikmati hasil seni. Namun, hal ini bukanlah hal yang mutlak. 

Melalui kedua faktor tersebut, terlihat bahwa penciptaan karya seni tidak hanya berasal dari dalam diri penciptanya, tetapi juga mengandung pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, kedudukan seni selalu berdampingan dengan budaya yang terlahir dalam kehidupan masyarakat. Penyatuan unsur-unsur seni dan bugaya di Nusantara menciptakan berbagai bentuk seni, mulai dari seni rupa, seni arsitektur, seni musik, seni tari, hingga seni teater. 

a. Seni rupa 

Bentuk seni rupa tradisional di Nusantara banyak yang berupa seni lukis dan seni kriya. Pada pembahasan sebelumnya, banyak lukisan atau gambar yang ditemukan di gua-gua. Objek dari lukisan tersebut ada yang berbentuk cap tangan, gambaran manusia dan masyarakatnya, ataupun gambaran alam sekitar. Selain itu, bentuk seni kriya berupa ukiran dan pahatan banyak ditemukan pada berbagai benda bersejarah, seperti Waruga, nekara, arca, menhir, dan punden berundak. Pola-pola yang banyak digunakan dalam seni kriya tersebut adalah ragam hias flora, fauna, figuratif, poligonal, hingga geometris. Semua hasil karya seni tersebut bersifat anonim. 

Seni rupa memasuki jejak baru dengan masuk dan berkembangnya agama Hindu dan Buddha di Nusantara. Perkembangan agama yang pesat membuat karya seni rupa banyak yang bernapaskan ajaran kedua agama tersebut. Sebagai contoht pembangunan candi-candi bernapaskan ajaran Hindu dan Buddha yang dipenuhi relief dan arca-arca yang mewakili ajaran agama masing-masing. Perkembangan seni rupa pada masa Hindu-Buddha sangat pesat. Bahkan, hasil karya seni dari era tersebut masih dapat dinikmati hingga saat ini. 

Perkembangan seni rupa kemudian berlanjut pada masa sejarah Islam di Nusantara. Pada era ini, seni rupa yang banyak berkembang adalah seni kerajinan, seni hias, dan seni kaligrafi. Ajaran Islam melarang penggambaran bentuk-bentuk realistis yang mirip dengan aslinya sehingga bentuk seni seperti seni patung yang realistis tidak banyak berkembang. Seni rupa bernapaskan Islam ini bersifat sakral, tradisional, dan bergaya etnis. 

b. Seni arsitektur 

Seni arsitektur di Nusantara terbagi menjadi dua, yakni arsitektur rumah ibadah dan arsitektur rumah tinggal. Arsitektur rumah ibadah sangat dipengaruhi dengan ajaran agama yang dianut. Contohnya adalah bentuk pura dan candi bercorak agama Hindu memiliki bentuk khas, yakni bentuk atap yang tinggi dan mengerucut ke atas. Ada pula vihara dan candi bercorak agama Buddha yang bentuknya bulat dan menyebar. Bentuk bulat dan menyebar ini dapat ditemukan pada arsitektur Candi Borobudur.

Gambar 5.2 Candi Borobudur bercorak agama Buddha

Sementara itu, bentuk arsitektur rumah tinggal umumnya disesuaikan dengan kontur tanah dan kondisi alam dari setiap daerah di Indonesia. Bahan dan material pembuatnya juga cfisesuaikan dengan apa yang tersedia di alam sekitar, mulai dari kayu, bambu, batu, tanah liat, hingga jerami dan rumbia. 

Pada umumnya, bentuk rumah adat yang paling umum ditemukan di Indonesia adalah rumah panggung. Contoh rumah adat di Indonesia yang berbentuk rumah panggung adalah rumah bolon dari Sumatra Utara, rumah gadang dari Sumatra Barat, rumah betang dari Kalimantan Tengah, dan rumah tongkonan dari Sulawesi Selatan. Bentuk rumah panggung dibuat untuk melindungi pemilik rumah dari bencana alam atau serangan hewan buas. 

Selain memperhatikan kondisi alam, rumah adat yang ada di setiap daerah di Indonesia turut mencerminkan kebudayaan daerah yang bersangkutan. Contohnya, rumah gadang dari Sumatra Barat memiliki bentuk atap yang meruncing layaknya tanduk kerbau. Jika ditelusuri, kerbau berkaitan erat dengan asal-usul nama Minangkabau, suku yang berdiam di wilayah tersebut. Contoh Iainnya adalah rumah adat Bali yang dilengkapi dengan gerbang candi bentar. Gerbang candi bentar berkaitan erat dengan kebudayaan Hindu di Bali sehingga membuktikan kuatnya hubungan antara unsur religi dan kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Ada pula rumah joglo dari Jawa Tengah dengan Ciri khas bangunan berbentuk pendopo dan dilengkapi Pilar atau tiang-tiang, dengan tiang utama dikenal dengan nama Soko guru. Bentuk pendopo yang tanpa sekat digunakan sebagai tempat pertemuan atau pagelaran kesenian, seperti tarian atau pertunjukan wayang. Karena mencerminkan kondisi alam dan budaya daerah setempat, tak heran jika rumah adat di Indonesia dikategorikan sebagai bentuk kearifan lokal. 

Gambar 5.4. Rumah Gadang adalah rumah adat daerah Sumatra Barat

c. Lagu dan musik daerah 

Seni musik juga menjadi kekayaan seni dan budaya Nusantara. Seni musik tradisional Nusantara tecermin dalam bentuk lagu daerah dan alat musik,. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki lagu daerah masing-masing. Lagu-lagu tersebut tak jarang bersifat anonim atau tidak diketahui secara pasti siapa pengarangnya. Meskipun demikian, lagulagu daerah tersebut tetap disukai dan diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat.

Lagu daerah terlahir dari keseharian masyarakat di setiap daerah di Indonesia. Lagu daerah ada yang bersifat tembang dolanan (dinyanyikan dalam permainan anak-anak), media pengajaran, atau dinyanyikan dalam berbagai acara tertentu, seperti pernikahan atau upacara adat. Lagu daerah yang banyak dikenal umumnya adalah tembang dolanan, seperti lagu Gundul-Gundu/ Pacu/ dan Cub/ak-Cublak Suweng dari Jawa Barat, lagu Bungong Jeumpa dari Aceh, serta lagu Burung Kakatua dari Maluku. Lagu daerah lainnya yang cukup terkenal adalah Sirih Kuning dan Kicir-Kicir dari DKI Jakarta, Kampuang Nan Jauh di Mato dari Sumatra Barat, Si Patokaan dari Sulawesi Utara, dan Yamko Rambe Yamko dari Papua. 

Selain lagu daerah, kekayaan seni musik di Nusantara juga tercermin dalam bentuk alat musik. Alat musik yang cukup terkenal di antaranya seperangkat gamelan dari Jawa dan Bali, angklung dari Jawa Barat, kolintang dari Sulawesi Utara, sasando dari Nusa Tenggara Timur, dan tifa dari Papua. Alat-alat musik tersebut banyak digunakan sebagai media hiburan, mengiringi suatu pertunjukan, ataupun upacara adat. Contohnya, gamelan Jawa yang digunakan sebagai musik pengiring dalam pertunjukan wayang kulit. Alunan musik karawitan dari gamelan Jawa semakin lengkap dengan nyanyian dari sinden (penyanyi dalam grup gamelan). 

Kekayaan seni musik Nusantara turut menjadi identitas dan kekayaan budaya dari setiap daerah yang memilikinya. Di masa kini, lagu daerah dan alat musik tradisional masih sering dibawakan dalam berbagai kesempatan. Tak jarang lagu daerah diaransemen ulang dengan gaya bermusik yang lebih modern. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelestarian lagu daerah, sekaligus mengenalkan lagu daerah tersebut kepada generasi muda. 

Gambar 5.5. Saung Angklung Udjo di Bandung

Hal serupa juga terjadi pada alat musik tradisional. Alat musik tradisional masih banyak digunakan saat ini, baik dengan mempertahankan pakem aslinya atau disandingkan dengan alat musik Iainnya. Penggabungan alat musik tradisional dan alat musik modern akan menciptakan fusion, yakni penggabungan dua hal yang kontras, seperti Sisi tradisional dan modern, dan menghasilkan sesuatu Yang baru. 

Apresiasi terhadap musik tradisional Nusantara juga ditunjukkan Oleh publik mancanegara. Contohnya, banyak universitas dan sekolah di mancanegara yang mempelajari cara memainkan gamelan dan angklung dengan meminta bantuan praktisi gamelan dan angklung dari Indonesia.

Gambar 5.6. Festival gamelan di Kalamazoo Public Library, Michigan

Bentuk-bentuk teater tradisional di Indonesia sangat beragam. Contoh bentuk teater tradisional di Indonesia adalah lenong dari DKI Jakarta, randai dari Sumatra Barat, ketoprak dari Jawa Tengah, wayang orang dari berbagai daerah di Pulau Jawa (seperti Jawa Tengah, D.l. Yogyakarta, dan Jawa Timur), /udruk dari Jawa Timur, dan du/mu/uk dari Sumatra Selatan. Setiap bentuk teater tradisional memiliki ciri khas masing-masing, seperti lenong yang identik dengan humor dan iringan musik gambang kromong dan randai dengan dialog berupa gurindam yang didendangkan serta diiringi irama gendang. 

f. Seni kostum dan tata rias dalam pertunjukan tradisional

Pertunjukan tradisional, seperti tarian adat dan teater tradisional, tidak akan lengkap tanpa keberadaan elemenelemen Iain, seperti kostum dan tata rias. Tata kostum dan tata rias dalam seni pertunjukan merupakan hal yang penting dan dibutuhkan oleh para penari dan pemain. Bagi para penari, tata rias dan tata kostum yang sesuai akan menambah nilai keindahan pada tarian yang dibawakan. Bagi para pemain teater, tata kostum dån tata rias yang tepat akan memperkuat penokohan dari setiap karakter yang dibawakan. Tata kostum dan tata rias dalam pertunjukan tradisional turut menjadi seni yang kuat, baik dari segi estetis maupun esensial. 

Bahkan, terdapat banyak kelompok karawitan yang berasal dari mancanegara, yakni sebagai berikut:

1) Grup gamelan (Bali) Lila Cita di Inggris. 

2) Grup gamelan (Jawa) Marsudi Raras dari Belanda.

3) Grup gamelan dari Warsawa, Polandia. 

4) Grup gamelan Sekar Jaya dan Kori Mas dari Amerika Serikat. 

5) Grup gamelan Bratislava dari Slovakia. 

6) Grup gamelan Charoko Laras dari Spanyol. 

7) Grup gamelan Lambang Sari dari Jepang.

8) Grup gamelan Montebello, Italia. 


d. Perkembangan seni tari Nusantara

Tradisi anonim tidak hanya terjadi dalam penciptaan lagu daerah, tetapi juga tarian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Tarian yang sangat terkenal tidak diketahui secara pasti penciptanya, atau siapa pihak yang pertama kali memopulerkannya. Hal yang pasti adalah tarian adat dari berbagai daerah di Indonesia berkaitan erat dengan budaya masyarakat tempat tarian tersebut berasal. Tak heran jika setiap tarian adat yang ada di Indonesia memiliki keindahan dan ciri khas yang membedakannya satu sama lain. 

Tarian adat diciptakan untuk berbagai tujuan, seperti hiburan, pemujaan, penghormatan, penyambutan, pengajaran nilai moral, hingga ungkapan rasa syukur. Ada pula tarian yang diciptakan untuk merepresentasikan legenda masyarakat setempat, seperti tarijathilan dan reog yang merepresentasikan legenda Reog Ponorogo dari daerah Ponorogo, Jawa Timur. 

Tarian adat di Indonesia sangatlah beragam. Umumnya, tarian adat dibedakan sesuai jumlah penarinya: ada tarian yang dibawakan secara tunggal/seorang (Jiri, berpasangan, dan berkelompok. Contoh tarian adat yang dapat dibawakan seorang diri adalah tari Panji Semirang dari Bali dan tari gambir anom dari Jawa Tengah. Contoh tarian adat yang dibawakan berpasangan adalah tari serarnpang dua belas dari Sumatra Utara. Sementara itu, contoh tarian yang dibawakan secara berkelompok adalah tari saman dari Aceh dan tari kecak dari Bali. 

Selain tarian-tarian tersebut, masih banyak tarian adat Iain yang cukup terkenal, seperti tari tor-tor dari Sumatra Utara, tari piring dari Sumatra Barat, tari gambyong dari Jawa Tengah, tari pendet dari Bali, dan tari pakarena dari Sulawesi Selatan. Setiap tarian adat di Indonesia umumnya diiringi dengan musik tradisional yang berasal dari daerah yang sama. 

Keindahan dan gerak tari yang sarat makna membuat sebagian besar tarian adat Indonesia masih eksis hingga saat ini. Namun, ada pula beberapa jenis tarian adat yang punah karena tidak ada generasi yang mau meneruskannya. Untuk mencegah kepunahan, tarian adat Indonesia kini banyak mengalami perkembangan, termasuk bertransformasi menjadi bentuk seni yang baru. Contohnya adalah tari ketuk tilu dari Jawa Barat yang berkembang menjadi tari jaipong, tari tayub dari Jawa Tengah yang berkembang menjadi tari gambyong, dan tari joged bumbung dari Bali yang berkembang menjadi Oleg tamulilingan. Perubahan bentuk tarian tidak hanya terjadi pada aspek gerakan, tetapi juga aspek kostum dan tata rias hingga durasi tarian. Tarian tradisional yang dikemas secara lebih modern tidak hanya menjadikan tarian tersebut atraktif dan memikat banyak penonton, tetapi juga membuat tarian tersebut tetap lestari. 

Di masa kini, ada banyak cara untuk mempertahankan tarian adat. Salah satunya adalah dengan meleburkan berbagai tarian adat di Indonesia menjadi satu bentuk tarian baru yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, peleburan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Ciri khas dari setiap tarian tetap dipertahankan. Dengan demikian, ketika terjadi perubahan gerakan, penonton dapat menebak jenis asal tarian berdasarkan gerakan tersebut. Iringan musik dari tarian tersebut juga bukan musik tradisional, melainkan musik modern yang bernuansa etnik. Bentuk pelestarian tarian seperti ini dilakukan Oleh seniman Bagong Kussudiardja dengan tarian bertema "Senyum Indonesia”. 

e. Seni teater 

Seni pertunjukan atau teater di Indonesia telah berkembang sejak dahulu kala. Teater tradisional lahir untuk memenuhi kebutuhan akan sarana hiburan bagi masyarakat. Cerita yang diangkat dalam teater tradisional berasal dari folklor atau cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, ataupun dari keseharian masyarakat itu sendiri. 

Folklor atau cerita rakyat merupakan salah satu bentuk tradisi lisan, atau sesuatu yang diwariskan dengan cara diceritakan secara turun-temurun. Folklor merupakan hal yang paling banyak diangkat dalam teater tradisional, terlebih karena setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan folklor. Folklor dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari dongeng, mite, legenda, hingga fabel. Contoh folklor terkenal yang sering diangkat ke dalam teater tradisional adalah dongeng Keong Mas dan Ande- Ande Lumut dari Jawa Tengah, Legenda Malin Kundang dari Sumatra Barat, serta Legenda Gunung Tangkuban Perahu/ Sangkuriang dari Jawa Barat. 

Gambar 5.9 Pementasan Lenong Betawi merupakan salah satu seni teater tradisional.

Mengingat pentingnya peranan tata kostum dan tata rias dalam dunia pertunjukan, pemilihan kostum dan tata rias tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Tata kostum dan tata rias penari atau pemain laki-laki tidak sama rumitnya dengan tata kostum dan tata rias penari atau pemain wanita. Tata kostum dan tata rias harus disesuaikan dengan jenis tarian atau cerita yang dibawakan. Selain itu, tata kostum juga harus menggambarkan kebudayaan daerah asal. 

Contoh kecermatan dalam tata kostum dan tata rias dapat dilihat dalam pertunjukan wayang orang dari beberapa daerah di Pulau Jawa. Wayang orang adalah pertunjukan yang menggabungkan bentuk teater tradisional dengan pakem gerak yang rumit layaknya tarian. Cerita yang diangkat dalam pertunjukan wayang orang umumnya adalah kisah Mahabharata dan Ramayana. Karena berasal dari Jawa, tata kostum yang digunakan menggambarkan kebudayaan Jawa adalah penggunaan kain batik. Selain kain batik, tata kostum dalam wayang orang meliputi aksesori pelengkap, seperti selendang, kalung, gelang dan hiasan lengan, sumping (penghias telinga), serta penutup kepala (seperti mahkota, kuluk, dan tropong). Bentuk penutup kepala juga dibedakan sesuai penokohan, misalnya bentuk kuluk untuk tokoh raja yang berbeda dengan bentuk kuluk untuk tokoh patih. Sementara itu, tata rias yang mencolok pada pertunjukan wayang orang adalah penggunaan cat merah untuk mewarnai wajah tokoh antagonis.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Thursday, August 25, 2016

Seni Bangunan (Arsitektur) Islam di Indonesia

Adanya larangan memuja roh nenek moyang dan Dewa-Dewa, maka pada masa itu tidak ada lagi pembangunan candi dan sebagai penggantinya muncul bangunan yang bercirikan Islam.
1.Masjid
Arti kata sebenarnya dari masjid adalah tempat sujud. Masjid yaitu bangunan yang berfungsi sebagai tempat umat Islam menjalankan sholat. Para Wali menggunakan kata sholat untuk melakukan sembahyang. Kata sembahyang diambil dari kata sembah dan Hyang yang artinya menyembah Hyang Maha Kuasa yaitu Allah. Bangunan mesjid masih menggunakan ciri-ciri Hindu-Budha agar peralihan ajaran yang mereka sebarkan tidak kontradiktif. 
Ciri-ciri tersebut nampak pada :
-Denah dasar berbentuk bujur sangkar menyerupai candi
-Kaki masjid berbentuk berundak-undak
-Atap masjid berbentuk tumpang menyerupai bangunan Meru di Bali, puncak atap berbentuk lingga Hindu dan stupa Budha (kubah) bagian atas mesjid yang berbentuk limas bersusun ganjil (seperti atap Balai Pertemuan Hindu Bali), contohnya atap masjid Agung Demak dan Masjid Agung Banten


-Pintu gerbang dan menara berbentuk seperti candi-candi Jawa Timur.
Contohnya atap mesjid Agung Demak dan Masjid Agung Banten.

2.Makam
Makam yaitu bangunan untuk kuburan orang yang telah meninggal. Sebenarnya dalam ajaran Islam ada larangan pembuatan makam secara permanen, hal ini dimaksudkan untuk menghindari pengkultusan terhadap jenazah orang tertentu. Namun karena pada masa itu kebudayaan Hindu-Budha masih hidup, dan Islam yang datang ke Indonesia sudah beralkulturasi dengan kebudayaan India, maka pembangunan seni Islam di Indonesia juga menghasil bangunan makam. Bangunan Makam biasanya terdiri dari pintu gerbang makam, bangunan utama dan nisan. Arsitektur makam orang muslimin di Indonesia merupakan hasil pengaruh dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah tampak pada bentuk makam seperti punden berundak. Sedangkan pengaruh hindu tampak pada nisannya yang diberi hiasan motif gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat India yaitu pada makam yang beratap sungkup.
Contoh bangunan makam yaitu makam Raja Sumenep, dan makam Sunan Bayat.



3.Istana
Istana yaitu bangunan yang merupakan pusat pemerintahan. Istana mempunyai bangunan pelengkap, yaitu bangunan yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Umumnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa mempunyai istana menghadap ke utara. Di depannya ada alun-alun dan di barat alun-alun berdiri masjid besar. Dalam lingkungan Istana terdapat pendopo, sitinggil, tempat duduk raja, tempat gamelan dsb. Pada bangunan istana pengaruh Hindu-Budha masih terasa, hal ini nampak pada struktur bangunannya, bagian kaki berundak dan atap limasan atau tumpang.


Wednesday, February 17, 2016

Karya seni rupa terapan Nusantara

Karya seni rupa terapan merupakan karya seni rupa yang sengaja dibuat untuk digunakan atau difungsikan untuk kebutuhan manusia. Maka karya seni rupa terapan selain memilik nilai estetis juga memiliki nilai pakai. Di Indonesia terdapat bermacam seni rupa terapan, seni rupa terapan ini ada yang dalam bentuk karya seni 2 dimensi dan ada yang dalam bentuk karya seni 3 dimensi.

Karya seni rupa Nusantara menurut dimensinya dibedakan atas karya seni rupa dua dimensi dan karya seni rupa tiga dimensi.

A. Karya seni rupa dua dimensi
Karya seni rupa dua dimensi yaitu karya seni yang dapat dilihat hanya dari satu arah seperti seni lukis, seni batik,  seni tenun, seni relief dan sebagainya. Di Nusantara terdapat beberapa seni rupa terapan yaitu:

1. Seni batik
Batik merupakan seni rupa dua dimensi yang menggunakan teknik cetak rintang, yaitu jenis cetak dari bahan sejenis lilon (Wax). Batik di Indonesia sudah ada sejak zaman Majapahit, namun motifnya sudah ada pada zaman prasejarah terbukti ditemukannya motif batik pada keramik zaman neolithikum.
Ragam hias batik berdasarkan lingkungan perkembangannya:
-Batik Keraton adalah batik yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keraton, khususunya lingkungan keraton jawa tengah contohnya Jogjakarta dan Solo.
Batik Keraton

-Batik Pesisir adalah batik yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesisir, contohnya Cirebon dan Pekalongan.
Setelah masuknya bangsa luar, perkembangan motif batik makin bertambah, pewarnaannyapun bertambah menggunakan pewarnaan kimia.
Batik Pesisir

2. Seni tenun
Seni tenun merupakan wujud dari seni anyaman, yaitu menumpangtindihkan jalinan anyaman yang bersilang sehingga menjadi sebuah benda karya seni utuh. Dalam seni tenun kain, teknik pembuatannya dengan membuat pola dan warna benang terlebih dahulu, baru kemudian ditenun. Yang termasuk dalam seni ini cotohnya adalah sarung pelekat, songket, kain ikat, dan sebagainya. Beberapa daerah penghasil tenun yaitu Sulawesi, Jepara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Seni tenun di daerah Nusa Tenggara banyak yang menggunakan alat tenun tradisional dan pewarnaannya menggunakan bahan alami. Contoh produk tenunan:
Kain Tenun



3. Seni ukir
Ukiran memiliki arti pahatan, yaitu suatu hasil karya seni yang dikerjakan dengan pahat. Menurut kenyataan benda-benda yang berukir pada umumnya adalah benda terapan (benda yang dibutuhkan orang sehari-hari). Seni ukir telah ada sebelum kedatangan bangsa Hindu ke Indonesia, corak seni ukir ini masih primitif, digunakan pada upacara adat. Bahan dari seni ukir ini bisa berupa kayu, batu, bahkan bahan tembagapun bisa dibuat seni ukiran. Contoh penerapan seni ukir di Nusantara:
Seni Ukir yang terkenal adalah seni ukir Jepara. Ciri khusus motif seni ukir Jepara yaitu:
a. Gubahan dari tumbuhan yang menjalar
b. Sering dipadu dengan motif binatang
Contoh karya seni ukir Jepara:
Ukiran kayu

B. Karya seni rupa tiga dimensi
Karya seni rupa tiga dimensi yaitu karya seni yang dapat dilihat dari berbagai sisi/arah serta memiliki volume, contohnya adalah seni patung dan keramik/gerabah. Seni rupa terapan 3 dimensi yang terdapat di Nusantara diantaranya adalah seni bangunan/arsitektur dan seni keramik.
1. Seni arsitektur
Seni arsitektur merupakan seni bengunan, contohnya yaitu bangunan candi, masjid, gereja, pura, klenteng, gapura, rumah adat, dan sebagainya.
Contoh dari seni arsitektur rumah adat adalah rumah adat Tongkonan dari daerah Toraja, Sulawesi Selatan. Rumah adat ini merupakan rumah adat yang khas dengan atap yang menjulang ke langit. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang masyarakatnya yang menganggap bahwa nenek moyang mereka berasal dari nirwana yang turun menggunakan tangga.
Rumah Adat Toraja

2. Seni gerabah/keramik
Seni keramik/gerabah merupakan seni kriya yang berasal dari pembakaran bahan tanah liat. Contoh dari seni keramik yaitu gentong, layah, klenting, vas bunga dan sebagainya. Daerah pengahasil seni gerabah tersebar di Jawa tengah yaitu derah Banjanegara, Semarang, Jepara dan sebagainya.
Gerabah/ Keramik

Saturday, January 30, 2016

Teknik Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya seni rupa tiga dimensi adalah karya seni rupa yang mempunyai tiga ukuran yaitu panjang, lebar dan tinggi atau karya yang memiliki volume dan menempati suatu ruang (Rondhi, 2002:13). Contoh karya seni tersebut adalah seni patung, seni kriya (kerajinan), seni keramik, arsitektur/bangunan, dan berbagai desain produk.
Secara garis besar, teknik seni rupa tiga dimensi terdiri dari bermacam teknik yang dipakai dalam pembuatan macam-macam karya tiga dimensi. Teknik seni rupa tiga dimensi tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Teknik Pahat, yaitu mengurangi bahan menggunakan alat pahat. Misalnya membuat patung dan relief dengan bahan dasar kayu dan batu.
2. Teknik Butsir, yaitu membentuk benda dengan memijit, menambah dan mengurangi bahan yang di bentuk dengan alat butsir. Misalnya membuat keramik dengan bahan dasar tanah liat.
3. Teknik Las, yaitu membuat karya seni dengan cara menggabungkan bahan satu ke bahan lain untuk mendapatkan bentuk tertentu, biasanya menggunakan bahan logam. Misalnya membuat patung kontemporer dengan bahan dasar alumunium.
4. Teknik Cetak,yaitu membuat karya seni dengan cara membuat cetakan terlebih dahulu.  Ada 2 macam teknik cetak, yaitu: cetak tuang (cor) dan cetak tekan.
Teknik Cor, yaitu membuat karya seni dengan membuat alat cetakan kemudian dituangkan adonan berupa bahan cair atau di cairkan sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Misalnya membuat patung dengan bahan fibreglass.
Teknik Cetak Tekan, yaitu karya seni dengan membuat alat cetakan kemudian dimasukkan adonan berupa bahan padat dengan cara ditekan-tekan ke dalam cetakan sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Misalnya membuat keramik dan patung dengan bahan tanah liat.
5. Teknik Menempa, yaitu membentuk lembaran atau batangan logam dengan cara memukul-mukul bahan tersebut hingga membentuk objek yang diinginkan. Agar mudah dibentuk bahan dapat dipanaskan terlebih dahulu, biasanya menggunakan bahan logam. Misalnya membuat pedang dari bahan besi.
6. Teknik Konstruksi, yaitu membuat karya seni rupa dengan cara menyusun bahan baik dengan kerangka, cara menyusun dapat direkatkan dengan lem, dilepa, atau dilas/dipatri . Misalnya membuat maket menggunakan kayu.
7. Teknik Anyaman, yaitu membuat karya seni rupa yang dilakukan dengan cara menumpang tindihkan (menyilangkan) bahan anyam yang berupa lungsi dan pakan Misalnya membuat keranjang menggunakan serat rotan.