Showing posts with label seniman. Show all posts
Showing posts with label seniman. Show all posts

Monday, January 11, 2021

Syarat melakukan Resensi Karya Seni

Sebuah karya seni diciptakan dalam latar belakang yang berkaitan dengan kehidupan seniman, seperti kondisi sosial, politik, dan kebudayaan yang melingkupinya. Sebuah karya seni juga memiliki dimensi bentuk dan sisi. Dimensi bentuk sangat variatif dari segi corak, gaya, dan perkembangannya, baik dari periode sejarah masa lampau maupun dari masa sekarang. Selain itu, dimensi isi makna yang tidak terlihat juga sulit untuk ditafsirkan.

Oleh karena itu, agar menghasilkan bobot penilaian yang baik, seseorang yang melakukan resensi harus memiliki beberapa syarat, di antaranya:

1. memahami sejarah seni rupa, kesenian, dan kebudayaan;

2. harus berpengalaman mengamati karya secara langsung

(otentik), bukan dari repro atau slide;

3. mengetahui dan memahami benar peristilahan (diksi), gaya seni, fungsi seni, opini seniman, dan pakar tentang estetika secara periodik;

4. mengetahui teknik artistik dalam berbagai media;

5. memiliki cita rasa yang terbuka, dalam artian memiliki kapasitas menghargai kreativitas artistik yang beragam;

6. dapat membedakan niat artistik dan pencapaian artistik seniman dalam berkarya;

7. harus objektif dan tidak subjektif (mampu melawan bias simpati terhadap seniman);

8. memiliki sensibilitas kritis saat menghadapi karya yang beragam; serta

9. memiliki temperamen yudisial berdasarkan data yang akurat.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Thursday, December 17, 2020

Tujuan dan Fungsi Apresiasi Seni Budaya

 Layaknya kegiatan lainnya, apresiasi seni budaya juga memiliki tujuan dan fungsi. Berikut adalah tujuan dari kegiatan apresiasi seni budaya. 

1. Memahami Atasan Penciptaan Karya Seni 

Tujuan pertama dari kegiatan apresiasi seni budaya adalah memahami alasan penciptaan dari suatu karya seni. Dengan adanya apresiasi, seseorang tidak hanya menilai karya seni dari wujud fisiknya saja, tetapi juga menilai dari segi aspekaspek pembangunnya, seperti teknik yang digunakan senimanı alasan seniman menciptakan karya, hingga pesan yang hendak disampaikan seniman dalam karya-karyanya. 

2. Mengembangkan Kreativitas 

Kegiatan apresiasi seni budaya akan mendorong seseorang untuk lebih kreatif dalam mendalami suatu bentuk karya seni. Kreativitas ini tidak hanya dialami oleh seniman, tetapi juga penikmat seni. Bagi seniman, apresiasi seni akan membuat daya kreasinya terpacu untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik dan variatif dari waktu ke waktu. Sementara ituj bagi penikmat seni, apresiasi seni akan mendorong mereka untuk kreatif dalanı menganalisis dan mempelajari suatu bentuk karya seni. Bahkanı tidak jarang penikmat seni terjun langsung mendalami seni untuk memahami nilai-nilai dan pengalaman yang diperoleh seniman dalam menciptakan karya.

3. Menumbuhkan Kepekaan Estetis 

Kepekaan estetis atau kepekaan seseorang terhadap nilainilai keindahan akan tumbuh dengan seringnya ia melakukan apresiasi seni. Semakin sering seseorang bersinggungan dengan bentuk karya seni, semakin tinggi pula sensitivitasnya terhadap nilai-nilai keindahan yang terwujud dalam bentuk karya seni. Kepekaan estetis yang diperoleh melalui apresiasi seni tidak hanya berlaku bagi seniman, tetapi juga penikmat karya seni. Dengan adanya kepekaan estetis, pengalaman keindahan yang dirasakan ketika mengamati dan menghayati suatu bentuk karya seni akan semakin tinggi. 

4. Menyempurnakan Karya Seni 

Apresiasi seni yang ditunjukkan penikmat seni terhadap suatu karya akan mendorong seniman untuk menyempurnakan karya seni. Dengan kualitas karya yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, seniman tidak hanya memperoleh kepuasan pribadi, tetapi juga memberikan kebahagiaan bagi masyarakat yang menikmati karya-karya berkualitas tersebut.



Sementara itu, fungsi dari kegiatan apresiasi seni budaya adalah sebagai berikut.

1. Memahami Seni Secara Mendalam 

Melalui kegiatan apresiasi seni, seseorang akan terpacu untuk memahami suatu bentuk seni secara mendalam. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap suatu karya. Dengan memahami seni secara mendalam, pengetahuan dan wawasan seseorang atas bentuk seni tersebut akan semakin maksimal. Pada akhirnyaı hal tersebut akan semakin meningkatkan apresiasi. 

2. Mengetahui Kua!itas Suatu Karya Seni 

Kualitas karya seni akan sulit untuk diketahui tanpa adanya apresiasi. Melalui apresiasi, seseorang akan merasakan pengalaman keindahan yang ditangkap oleh pancaindra. Pengalaman tersebut akan mendorongnya untuk memahami aspek lain yang membangun karya seni tersebutı termasuk makna yang terkandung di dalamnya. Dengan pengalaman keindahan dan pengetahuan yang diperoleh, orang tersebut dapat menilai seberapa baik kualitas dari karya seni yang ia amati dan hayati tersebut. 

3. Mengembangkan Kemampuan Seniman dan Penikmat Seni 

Apresiasi seni membawa banyak manfaat bagi seniman dan Penikmat şenil termasuk mengembangkan kemampuan kedua belah pihak tersebut. Dengan kegiatan apresiasiı seniman akan terus mencari cara dan belajar untuk meningkatkan kualitas karya-karyanya. Peningkatan kualitas berkarya dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti menggunakan teknik dan media berkarya yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Dengan demikianı kemampuannya akan turut meningkat.

Sementara itu, bagi penikmat seni, kegiatan apresiasi akan meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami dan menilai suatu bentuk karya seni. Apresiasi seni juga akan semakin membuka pemikiran mereka terkait ekspresi berkesenian. Selain itu, apresiasi seni juga akan mendorong penikmat seni untuk mulai mempelajari cara membuat atau melakukan bentuk seni yang ia sukai. 

4. Menambah Pengalaman Berkesenian 

Bagi seniman dan penikmat seni, apresiasi seni akan menambah pengalaman dalam berkesenian. Bagi seniman, apresiasi seni akan mendorong mereka untuk melakukan eksptorasi dalam penciptaan karya. Sementara itu, bagi penikmat seni, apresiasi seni akan mendorong mereka untuk lebih banyak Iagi mengenal dan mengeksplorasi bentuk-bentuk seni. 

5. Meningkatkan Kecintaan terhadap Karya Seni 

Apresiasi seni memiliki manfaat besar dalam menciptakan kecintaan terhadap karya seni. Apresiasi seni membawa banyak pengalaman, seperti pengalaman keindahan, hiburanı hingga edukasi bagi seniman dan penikmat seni. Pengalaman_ pengalaman yang diperoleh melalui apresiasi seni akan mendorong seseorang untuk terjun lebih dalam demi memaharni bentuk-bentuk seni, Semakin banyak pengalaman dan Wawasan yang diperoleh, senıakin meningkat pula kecintaan seseorang teıhadap bentuk dan karya seni yang ia dalami.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Tuesday, December 15, 2020

Contoh Soal Isian Apresiasi Seni Budaya Nusantara

1. Apresiasi merupakan jembatan penghubung antara … dan …

2. Menilai bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni melalui pancaindra tetapi kemudian tidak mencari informasi lebih lanjut disebut apresiasi…

3. Belajar tari Saman melalui tutorial di youtube termasuk dalam apresiasi aktif menggunakan pendekatan…

4. Belajar sendiri tanpa adanya guru disebut belajar secara…

5. Siapakah yang membagi jenis apresiasi menurut tingkatannya?

6. Konteks utama dalam apresiasi yaitu feeling, emphitizing, dan…

7. Berdasar tingkatannya apresiasi yang telah sampai kepada penilaian suatu karya disebut apresiasi…

8. Dalam tahapan apresiasi, penafsiran/penangkapan makna disebut dengan tahapan…

9. Pada tahap penilaian dalam apresiasi berisi evaluasi dan…

10. Tahapan apresiasi yang berisi tentang komposisi, warna, bentuk, serta penjelasan detail lainnya disebut dengan tahapan…


Kunci Jawaban:

1. Seniman dan penikmat seni

2. Pasif

3. Aplikatif

4. Otodidak

5. Brent G Wilson

6. Empathizing

7. Krtitik

8. Interpretasi

9. Kesimpulan

10. Analisis


Sumber materi:  Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Sunday, December 13, 2020

Fungsi Seni Budaya Nusantara

 Pada awalnya, karya seni berfungsi sebagai sarana manusia untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan alam dan pencipta. Wujud dan isi komunikasi tentu saja beraneka ragam, sesuai kepentingan masing-masing. Wujud komunikasi tersebut dapat berupa garis, warna, bunyi-bunyian, suara manusia, gerak, dan Iain sebagainya. Semua bentuk komunikasi diekspresikan sesuai dengan seni yang hidup di masyarakat setempat atau bidang yang disukai dan diminati. Secara umum, seni memiliki beberapa fungsi, yakni sebagai berikut. 

Sumber: www.pxhere.com Gambar 4.7 Panggung yang biasa digunakan untuk pertunjukan seni teater.

Sebelum pementasan, penata panggung akan bekerja sama dengan penata lampu untuk menentukan adegan mana saja yang harus disorot, sudut mana yang harus Iebih gelap, kapan waktu penggunaan lampu follow spot, ataupun kapan waktu yang tepat untuk melakukan permainan terang-redup. Penata panggung juga bekerja sama dengan bagian properti untuk menentukan peralatan yang akan digunakan di panggung. Penata panggung juga akan bekerja sama dengan penata suara untuk menentukan posisi mikrofon yang akan dipasang ataupun pemanfaatan efek bunyi. 

1. Sebagai Ungkapan Perasaan 

Seni dapat berfungsi sebagai media mengungkapkan perasaan atau kegelisahan, keinginan, dan Jain sebagainya. Ketika seseorang merasakan emosi yang cukup besar, seperti cinta atau kesedihan, ia dapat menuangkannya dalam berbagai bentuk seni, seperti lagu atau lukisan. Ada pula yang menuangkan dalam bentuk sastra, seperti puisi atau cerpen, yang kemudian dituangkan lagi menjadi bentuk seni, seperti musikalisasi puisi atau pertunjukan teater. Melalui seni, seseorang dapat mencurahkan pemikiran, perasaan, dan imajinasinya sesuka hati. Bentuk seni yang ia hasilkan pun dapat membawa pesan kepada para penikmat karyanya. Melalui karya tersebut, para penikmat karya akan turut merasakan perasaan dan pesan yang hendak disampaikan oleh seniman yang bersangkutan. 

2. Sebagai Pemersatu 

Berbagai cabang seni dan cabang ilmu dapat bersatu dalam sebuah karya yang diciptakan bersama-sama. Contohnya adalah seni pertunjukan yang menyatukan seni peran, seni gerak, seni musik, seni penataan, hingga sastra. Seni pertunjukan tidak dapat berdiri sendiri dan memerlukan bantuan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Melalui contoh ini, terlihat bahwa seni berperan sebagai pemersatu. 

Sebagai pemersatu, seni juga dapat mendamaikan sekolah-sekolah yang siswanya sering berselisih atau tawuran. Contohnya, dengan membuat karya atau pentas bersama yang melibatkan sekolah-sekolah yang sering bertikai. Dalam proses latihan, sangat mungkin terjadi proses kesepahaman untuk menghentikan 'permvsuhan'. Contoh kegiatan seni yang dapat dilakukan bersama adalah membuat pentas menari massal, menabuh gamelan, pentas teater, pentas musik. Jika di dalam  bidang olahraga mungkin masih ada persaingan, kesenian mengajak orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk saling bekerja sama, bukan bersaing, demi menghasilkan penampilan terbaik. 

Berkesenian tidak memandang ras, agama, suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, apalagi status sosial dan ekonomi. Dalam berkesenian, kedudukan semua orang sama. Jika menabuh gamelan, semua pemain duduk bersila dan duduk sama rendah. Jika melukis, semua pelukis sama-sama menggunakan kuas dan cat. Jika menari, para penari sama-sama bergerak. 

3. Sebagai Sarana Pemujaan, Ungkapan Permohonan, Ungkapan Syukur terhadap Semesta Alam dan Penciptanya, serta Kelengkapan Acara dan Upacara 

Pada masa lalu, semua tarian, nyanyian, bahkan Iakon merupakan sarana upacara. Saat ini, masih ada daerah yang melestarikannya. Tarian di Bali justru masih sangat kental digunakan dalam upacara keagamaan, seperti tari pendet dan tari kecak. Sementara itu, beberapa tarian di daerah Jawa dijadikan tarian khusus sebagai suguhan ketika keluarga raja menikah. Contohnya adalah Bedhaya Sangaskara, tarian yang dipertunjukkan untuk pernikahan putri raja di Kasultanan Yogyakarta. Sementara itu, tari Bedhaya Ketawang ditampilkan pada acara ulang tahun penobatan raja di kasunanan SUrakarta. 

Bentuk seni lainnya, seperti lagu kebangsaan, selalu dikumandangkan pada acara-acara resmi dan upacara. Ada pula himne, mars, dan tarian yang harus ditampilkan saat acara tertentu. Selain itu, ada tradisi begalan dari Banyumas yang sering ditampilkan dalam acara pernikahan, sama halnya dengan tradisi palang Pintu di budaya Betawi. Bentuk seni juga dapat dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur karena panen melimpah, atau untuk meminta kesuburan kepada Sang Pencipta ketika musim bercocok tanam tiba. 

4. Sebagai Sarana Komunikasi antara Seniman dan Penikmat Seni 

Sebuah pementasan dan pameran dapat diselenggarakan bersamaan, seperti acara ArtJog di Yogyakarta yang tidak hanya menampilkan pameran, tetapi juga pertunjukan tari dan musik. Ada pula pementasan teater yang terselenggara untuk membangun komunikasi antarpelaku seni, seperti lakon Jurang karya Agus Leylor yang dimainkan pemain teater lintas generasi dan dari beberapa kelompok teater. Kedua contoh tersebut menunjukkan bagaimana seni menghubungkan seniman, penikmat seni, dan pelaku seni lainnya. Pada acara-acara seperti ini, seniman diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para penikmat karya-karyanya, atau dengan sesama pelaku seni lainnya. Komunikasi yang terbangun antara seniman dan penikmat karya merupakan keuntungan bagi kedua belah pihak dan memicu peningkatan kualitas berkarya. 

Sumber: www.flickr.com Gambar 4.9 Dekorasi latar depan ArtJog di Yogyakarta tahun 2013.

5. Sebagai Persembahan yang Didedikasikan kepada Seseorang atau Lembaga 

Sebuah karya seni kadang diciptakan seniman untuk dipersembahkan kepada negara, raja, atau lembaga tertentu. Pada ranah tari, sebuah tarian yang dipersembahkan kepada raja akan menjadi yasan dalem, atau milik raja. Karya seni rupa, seperti lukisan atau patung, biasanya diserahkan seniman untuk dijadikan koleksi museum, lembaga negara, yayasan, atau koleksi pribadi. Sementara itu, dalam seni musik, terdapat jenis lagu seperti himne atau ode yang dibuat untuk menunjukkan penghargaan kepada seseorang. 

6. Sebagai Sarana Pemenuhan Kebutuhan Pokok (Bernilai Ekonomis) 

Seni dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti seni kriya. Karya seni kriya, seperti kain dan perabot rumah tangga, merupakan benda-benda yang memiliki kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Karena memiliki nilai guna, karya seni kriya bernilai ekonomis, atau dapat membawa keuntungan material bagi seniman penciptanya. 

Gambar 4.10 Para pengrajin batik di daerah Ketelan, Jawa tengah.

Seni sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pokok tidak hanya berlaku pada seni terapan seperti seni kriya. Pada bentuk seni Iainnya, seperti seni pertunjukan, seni juga dapat membawa dampak ekonomis. Bagi pelaku seni pertunjukan, semakin banyak pentas, semakin banyak pula harga tiket yang terjual. Artinya, semakin besar pula keuntungan material yang diperoleh dari pertunjukan tersebut. 

7. Sarana Aktualisasi Diri Kreator dan Peraganya 

Kadang seniman berpentas atau berkarya untuk proyek pribadi nonprofit, untuk aktualisasi diri, dan sebagai eksistensi diri mereka di dunia kesenian. Contohnya, para seniman yang berkontribusi pada festival-festival seni dan pameran-pameran kolektif yang tidak berfokus pada keuntungan komersial. 

8. Sarana Pembentukan Karakter dan Belajar Tata Krama 

Biasanya, dengan mempelajari seni, secara otomatis seseorang akan ikut mempelajari tradisi yang menjadi latar belakang lahirnya seni tersebut. Dengan mempelajari tradisi, ia akan ikut mempelajari tata krama dan aturan yang berlaku pada tradisi tersebut. Contohnya adalah seseorang yang belajar memainkan instrumen gamelan akan mempelajari aturan-aturan dan pakem yang harus diikuti dalam memainkan instrumen tersebut. Begitu pula jika seseorang berperan dalam pertunjukan wayang orang: ia harus mempelajari jalan cerita, mempelajari pakem wayang orang, serta mempelajari cara berbicara dan cara bertingkah laku sesuai karakter yang ia perankan.

Sumber: www.flickr.cocn Gambar 4.1 1 Pertunjukan wayang yang dipimpin Oleh seorang dalang

9. Sarana Terapi untuk Kesehatan Mental 

Beberapa anak penderita gangguan mental diminta dokter untuk melakukan aktivitas seni, seperti menari, bermain musik, berteater, atau melukis. Anak tunarungu dapat belajar menari atau melukis. Anak tunanetra dapat belajar musik dan

Dengan mempelajari seni, mereka akan semakin percaya diri, senang, dan dihargai. Bahkan, untuk mereka yang tidak berkebutuhan khusus, mengikuti pementasan atau pameran juga akan menimbulkan sensasi bahagia tersendiri. Melalui contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa seni membawa dampak yang sangat baik bagi perkembangan dan kesehatan mental seseorang. 

10. Sebagai Pengisi Acara 

Banyak acara yang menjadikan seni musik atau tari sebagai pengisi selingan. Ada pula yang menjadikan drama tari dan teater tradisional (misalnya wayang kulit, lenong, atau ketoprak) sebagai puncak sebuah acara.

11. Sebagai Hiburan 

Pada hakikatnya, seni memiliki fungsi untuk memberikan perasaan senang dan puas bagi siapa pun yang menghayatinya. Bagi masyarakat yang penat dengan aktivitas rutin sehari-hari, seni dapat menjadi sarana pelepas stres. Bentuk seni sebagai pelepas stres bervariasi sesuai hobi dan selera tiap-tiap individu. Ada yang merasa bahagia setelah menyanyi dan bermain musik, ada pula yang melepaskan stres dengan menari atau menonton pertunjukan seni. 

12. Sebagai Pertunjukan Khusus atau Pameran 

Beberapa seniman sering mengadakan pameran seni rupa atau foto di galeri-galeri seni rupa, bahkan terkadang di mal, dengan tujuan mendekatkan karya sang seniman kepada masyarakat pencinta seni. Ada pula beberapa seniman yang membuat pagelaran tunggal atau sanggarnya. Sementara itu, grup teater seperti Teater Koma dan Teater Gandrik juga termasuk rajin berkarya dan mementaskan karya mereka secara komersial.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.



Friday, February 26, 2016

Boneka dalam instalasi

Instalasi merupakan seni rupa tiga dimensi yang dibuat dari susunan bahan yang dibuat sedemikian rupa dan memiliki makna. Instalasi biasanya terdapat dalam pameran. Ada beberapa instalasi yang menggunakan bahan seperti boneka. Berikut adalah salah satu contoh instalasi yang dibuat dari boneka barbie.
Instalasi ombak

Perth, Australia. Anette Thas merupakan seorang seniman yang juga memiliki hobi berselancar. Ia membuat instalasi ombak barbie bersal dari inspirasi deburan ombak. Karya ini menghabiskan 3000 buah boneka barbie bekas dengan tinggi tiga meter. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan boneka ini sebanyak sembilan bulan. Ia mengaku berkeliling toko mainan di seluruh penjuru negeri untuk mengumpulkan boneka-boneka barbie bekas tersebut.
Boneka barbie dalam replika ombak

Idenya ini bermula ketika ia menyadari bahwa boneka barbie bisa membawanya bernostalgia dengan masa kecil. Selain itu, boneka barbie dinilai mampu menggambarkan kecantikan seorang wanita dengan baik. Sedangkan bentuk ombak dipilih karena ia memiliki hobi berselancar.
"Ini merupakan karya pertamaku yang bisa membuatku mengenang masa kecil," ungkap Anette. "Aku menggunakan barbie karena boneka itu memiliki pesan tentang imej kecantikan ideal seorang wanita."
Ombak barbie miliknya ini kemudian dipamerkan dalam sebuah kompetisi seni yang diselenggarakan oleh Sculpture By The Sea Exhibition di Perth. Berkat karyanya yang luar biasa, Anette berhasil menjadi jawara kompetisi ini dan berhak atas hadiah uang sebesar USD 4.500 (sekitar Rp 51 juta). Ia berencana akan memamerkan ombak barbienya ini di beberapa kota lainnya seperti pantai Bondi di Sydney, Australia.

Sunday, January 31, 2016

Seniman Patung Modern

Dalam perkembangan seni rupa modern, abstrakisme yang menjadi salah satu alur perkembangannya yang utama, bermula pada patung-patung Pablo Picasso yang mengadaptasi bentuk-bentuk patung primitif Afrika. Dalam seni rupa modern Indonesia, para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya. Seorang seniman biasanya merasa sulit untuk melepaskan diri dari ikatan sosial yang ada disekitarnya. Oleh karena itu seorang seniman modern dengan sadar berusaha membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, dalam hubungannya dengan tanggapan terhadap obyek karyanya. Cara menghayati karya-karya abstrak adalah melalui pemahaman terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya tersebut dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant. Penafsiran terhadap tanda-tanda visual tersebut sesuai dengan ground pribadi masing-masing pengamat, dengan kata lain, karya seni modern ‘terbuka’ bagi interpretasi.
Para seniman yang membuat karya patung modern bukan digunakan sebagai seni pakai tetapi lebih cenderung kepada seni murni dengan berbagai tehnik, corak maupun tema. Beberapa contoh diantaranya yaitu:

Rita Widagdo
Rita widagdo adalah seorang seniman yang tetap konsisten bertahan pada jalur abstrak, atau tepatnya lagi ‘abstrak murni’. Sejak awal sampai sekarang boleh dikatakan karya-karya Rita Widagdo tidak pernah sedikitpun menampilkan bentuk yang umum dikenal seperti bentuk-bentuk yang ada di alam. Ia mengolah elemen-elemen rupa tri-matra seperti; garis, bidang, ruang, dan memperlakukan unsur-unsur rupa tersebut sebagaimana adanya – tidak mewakili konsep atau pengertian tertentu. Semua karyanya digarap dengan sangat ‘perfect’ dan tampil ‘elegant’. Ia berkarya dengan memilih bentuk persegi empat, bulatan, atau silinder, maupun bentuk geometrik lainnya yang tidak merujuk pada tiruan bentuk alam. Apa yang ditampilkan / visualisasikan Rita adalah ‘nilai-nilai’ yang seakan-akan adalah sesuatu yang dianggap dapat mengikat suatu komuniti tertentu. melalui ungkapan yang bermakna objektif.
Karya-karya pada masa awal sekitar tahun 1970 seperti; “Line and Form” (1970), “The Open Self” (1972), “Roundness” (1978), menampakkan kecenderungan pada permainan bidang dengan susunan bidang setara. Pada masa itu ia sudah menghasilkan karya relief dengan menggarap kemungkinan bidang yang ‘seolah datar’ namun muncul dalam dimensi dan ruang yang nyata – bukan lagi ilusi seperti karya dwi-matra. Dalam hal pewarnaan, Rita selalu memilih warna yang cenderung senada yang bersifat qualisign, dan itu tampak mencolok pada “From Two Dimensional to Three Dimensional” yang dibuat dengan bahan baja tahan karat.

      G. Sidharta
G.Sidharta adalah pematung modern yang dikenal memberontak pada paham modern dengan mewarnai karya-karya patungnya (yang dianggap tidak setia terhadap watak bahan). Sejumlah karyanya juga mengandung cerita yang dihindari oleh umumnya para seniman modern. Kehadiran ornamen (pola-pola etnik) dan sapuan warna dalam karya patungnya ternyata tidak saja memperkaya perkembangan, tetapi juga melahirkan friksi-friksi tajam dalam wacana seni rupa. Karya-karya Sidharta menyiratkan ‘nafas tradisi’ yang sangat kuat. Perjumpaan Sidharta dengan modernisme – menimba ilmu di ASRI Yogyakarta dan Jan van Eyck Akademie voor Beeldende Kunsten Maastricht, Nederland – tak menepis seni tradisi dalam karyanya.
Sebagian besar karya Sidharta diungkapkan dengan menggunakan sistim penandaan yang bersifat qualisign dan sebagian lagi dengan memanfaatkan sistem penandaan ikonogafi. Dalam karyanya yang berjudul “Tumbuh Lima Duabelas Berkembang” (1986) Sidharta tidak lagi terikat pada media dan rumus-rumus seni yang konvensional. Ia berusaha mengungkapkan irama dalam ruang dengan gerak tegak secara legisign berbentuk tiang dan mengaitkan diri dengan jalur kehidupan tradisi, selain tetap berdiri di alam kehidupan masa kini. Tanda-tanda visual yang hadir dalam karya tersebut bersifat qualisign.
Disamping Sidharta memanfaatkan tanda-tanda visual secara qualisign, ia juga banyak menghadirkan sifat ikonografi atau bahkan gabungan dari kedua sifat tersebut dalam karya patungnya. Misalnya patung yang bejudul “Keseimbangan dan Orientasi” (1996) dan “Dewi Kebahagiaan III” (1999). Dalam pengolahan bentuk patung ini bersifat ikonografi, walau tidak lagi hadir dalam wujud realis. Namun dalam memanfaatkan warna tidak lagi ikonografi akan tetapi lebih bersifat qualisign.

Arby Samah
Cara cipta baru dalam seni patung di Yogyakarta dari paham teori imitasi ke teori formalis dirintis oleh Arby Samah, Edhi Sunarso dan Budiyani, disamping tentu saja mendapatkan pengaruh tidak langsung dari buku Barat. Arby Samah dilahirkan 1 April 1933 di Pandai Sikek, Sumatera Barat. Ide, tema serta pengolahan bahan berkarya, diekspresikan dalam wujud-wujud simbolik. Arby selalu mengambil ide-ide berkarya dari berbagai peristiwa yang mampu menggugah hati dan pikiran yang ia temui disekelilingnya. Ia meng-interpretasi-kan suasana mental dari apa yang ia lihat secara kasat mata kedalam wujud karya yang tidak lagi bersifat realis, namun mengolah bentuk dengan cara mereduksi sejumlah elemen realis menjadi bentuk dan gerak yang lebih sederhana.
Semua karya patung Arby diwujudkan dalam bentuk abstrak figuratif dan ikonografi dari referent yang dipilih. Bentuk-bentuk yang hadir diolah dari gerak atau sifat dasar dari bentuk figur yang ingin diungkapkan. Sebagai contoh karya yang berjudul “Sujud” (1965), ide tersebut sudah ada sebelum karya diciptakan. Tanda visual yang hadir memvisualisasikan ide, maksud dan juga pesan yang diinginkan Arby dan olahan bentuk dibuat secara simbolik dengan arah horizontal namun secara ikonografis masih dapat ditangkap bentuk gerakan seseorang yang sedang melakukan gerakan bersujud.
Ciri khas dari karya Arby berbentuk pipih dan dari bahan kayu. Jika patung secara logika harus bisa dinikmati dari segala arah pandang, namun semua karya patung Arby cenderung hanya bisa dinikmati dari dua arah saja yaitu muka-belakang. Namun hal itu bukan berarti karya Arby ‘tidak bagus’ karena pada dasarnya dalam seni modern yang diutamakan adalah masalah inovasi dan kebaruan. Dalam hal ini Arby telah melakukan hal tersebut karena dengan cara mengolah bentuk yang demikian justru belum ada atau bahkan mungkin tidak pernah dilakukan oleh pematung lain.

Nyoman Nuarta
Seperti kebanyakan seniman Bali, Nyoman Nuarta adalah seorang seniman kontemporer yang tidak pernah melepaskan bingkai kesenian dalam tradisi Bali. Meskipun ia seniman yang mendapat pendidikan Barat, persepsinya tentang seni rupa sangat diwarnai prinsip-prinsip kesenian Bali. Karya-karya Nuarta adalah karya-karya kontemporer, namun idiom dan makna karyanya tidak bisa dipahami tanpa mengkaji perkembangan seni rupa Bali.

Saturday, January 30, 2016

Seni Rupa

Seni merupakan salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan budaya manusia selaku penggubah dan penikmat seni. Melalui seni manusia dapat memperoleh kenikmatan sebagai akibat dari refleksi perasaan terhadap stimulus yang diterima. Kenikmatan yang dirasakan bukanlah kenikmatan fisik, melainkan kenikmatan batiniyah yang muncul bila kita menangkap dan merasakan simbol-simbol estetika dari penggubah seni itu sendiri.
Susanto (2003: 101) menyatakan bahwa seni adalah kesanggupan akal manusia baik berupa kegiatan rohani maupun fisik untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai artistik (luar biasa), menggugah perasaan orang lain. Sedangkan Menurut Wartono (1987: 7) seni merupakan bentuk penghalusan dari perasaan yang ingin diungkapkan oleh penciptanya. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Bastomi (2003: 34) bahwa seni adalah pernyataan batin pencipta, seni sebagai ungkapan batin yang dinyatakan dalam bentuk rupa, gerak, suara, atau bentuk-bentuk lain yang mempesonakan pencipta sendiri atau orang lain yang menerima.
Bedasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa seni adalah perwujudan perasaan manusia yang diekspresikan secara sadar dengan mempergunakan medium sebagai simbol dan melahirkan hasil karya yang bernilai estetika dan bermakna.
Seni rupa adalah salah satu bagian dari seni yang ada di masyarakat. Seni rupa merupakan seni yang dapat dinikmati dengan indera penglihatan, yang unsur-unsurnya meliputi garis, raut, warna, tekstur, volume, dan ruang (Yudoseputra, 1993: 38). Bastomi (1985: 25) menambahkan pula bahwa seni rupa merupakan cabang seni yang dalam penikmatanya melalui indera mata, sebab seni rupa adalah seni yang manifestasinya kasat mata. Selain cara penikmatanya melalui dilihat, seni rupa juga dapat dinikamati dengan cara meraba wujud dan bentuknya. Sedangkan menurut Soedarso (1976: 8) seni rupa adalah cabang seni yang mengekspresikan pengalaman artistik manusia, lewat objek-objek dua dimensi dan tiga dimensi yang memakan tempat dan tahan akan waktu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seni rupa merupakan karya seni yang disampaikan melalui objek dua dimensi dan tiga dimensi serta cara menikmatinya melalui dilihat dan diraba, wujud dan bentuknya sehingga penikmat bisa merasakan keindahannya. Perwujudan perasaan seseorang yang diekspresikan membentuk simbol yang hanya dapat dirasakan melalui indra penglihatan. Pengungkapan perasaan atau gagasan yang estetik dan bermakna itu diwujudkan melalui unsur titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur dan gelap terang, dan sekaligus menunjukkan unsur-unsur dari seni rupa.