Showing posts with label estetika. Show all posts
Showing posts with label estetika. Show all posts

Wednesday, July 20, 2022

Perancanan Kerajinan Serat Alam

Produk kerajinan yang berkualitas, dibuat dengan memperhatikan beberapa tahapan dan persyaratan yang ada. Persyaratan desain kerajinan yang harus dijangkau, meliputi:

1. Kegunaan (Utility)

Benda kerajinan harus mengutamakan nilai praktis, yaitu dapat digunakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhan. Contoh: keranjang untuk wadah buah.

2. Kenyamanan (Comfortable)

Benda kerajinan harus menyenangkan dan memberi kenyamanan bagi pemakainya. Contoh: topi mendesain ada pengikatan di bagian belakang untuk mengatur kenyamanan.

3. Keluwesan (Flexibility)

Benda kerajinan harus memiliki keserasian antara bentuk dan wujud benda dengan nilai manfaat. Contoh: kain tenun untuk blazer sesuai dengan anatomi dan ukuran tubuh.

4. Keamanan (Safety)

Benda kerajinan tidak boleh membahayakan pemakainya. Contoh piring dari serat batang kelapa harus mempertimbangkan komposisi zat pelapis/pewarna yang dipakai agar tidak berbahaya jika digunakan sebagai wadah makanan.

5. Keindahan (Estetika)

Benda yang indah memiliki daya tarik lebih dari benda yang biasa-biasa saja. Keindahan sebuah benda dapat dilihat dari beberapa hal, di antaranya dari bentuk, warna, hiasan atau ornamen, dan kualitas bahan bakunya.

Karya yang baik yang dihasilkan dari proses perancangan yang baik pula. Oleh karena itu, proses perancangan karya kerajinan harus memperhatikan hal-hal seperti pada gambar berikut ini.

pelapis/pewarna yang dipakai agar tidak berbahaya jika digunakan sebagai wadah makanan.

5. Keindahan (Estetika)

Benda yang indah memiliki daya tarik lebih dari benda yang biasa-biasa saja. Keindahan sebuah benda dapat dilihat dari beberapa hal, di antaranya dari bentuk, warna, hiasan atau ornamen, dan kualitas bahan bakunya.

Karya yang baik yang dihasilkan dari proses perancangan yang baik pula. Oleh karena itu, proses perancangan karya kerajinan harus memperhatikan hal-hal seperti pada gambar berikut ini.


Gambar 1. 13. Proses Penciptaan Produk Kerajinan

Contoh kerajinan:


Gambar 1. 14. Kerajinan Tas dari Enceng Gondok

Sumber: https://genemil.com/kerajinan-dari-serat-alam/


Sumber: DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII 

Wednesday, July 13, 2022

Perancangan Kerajinan Limbah Bahan Lunak

Produk kerajinan yang berkualitas,dibuat dengan memperhatikan beberapa tahapan dan persyaratan yang ada. Persyaratan perancangan kerajinanyang harus dicapai, meliputi :

1. Kegunaan (Utilitas)

Benda kerajinan harus mengutamakan nilai praktis,yaitu dapat digunakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhan.Contoh mangkuk untuk wadah sayur.

2. Kenyamanan (Comfortabel)

Benda kerajinan harus menyenangkan dan memberi kenyamanan bagi pemakainya. Contoh cangkir didesain ada pegangannya.

3. Keluwesan (Fleksibility)

Benda kerajinan harus memiliki keserasian antarabentuk dan wujud benda dengan nilai manfaat. Contoh sepatu sesuaidengan anatomi dan ukuran kaki.

4. Keamanan (Safety)

Benda kerajinan tidak boleh membahayakan pemakainya. Contoh piring dari serat batang kelapaharus mempertimbangkan komposisi zat pelapis/pewarna yang dipakai agar tidak berbahaya jika digunakan sebagai wadah makanan.

5. Keindahan (Aesthetic)

Benda yang indahmempunyai daya tariklebih dari benda yang biasa-biasa saja. Keindahan sebuah benda dapat dilihat dari beberapa hal, di antaranya dari bentuk, warna, hiasan atau ornamen, dan kualitas bahan bakunya. Karya yang baikdihasilkan dari prosesperancangan yang baik pula.

Oleh sebab itu, proses perancangan karya kerajinan harus memperhatikan hal-hal seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 2.1 Proses Penciptaan Produk Kerajinan


Sumber: DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII Semester Gasal. 2020

Monday, December 14, 2020

Kumpulan istilah dalam materi Resensi Karya Seni Budaya Nusantara

RESENSI: Suatu penilaian terhadap karya seni


ESTETIKA: Keindahan


KRITIK SENI: Aktivitas dalam rangka menilai sebuah karya seni melalui tahapan yang jelas agar evaluasi dapat dipertanggungjawabkan.


APRESIASI: Bentuk jalinan komunikasi antara seniman (pembuat/ pencipta seni) dan apresiator (penikmat karya seni).


DIMENSI BENTUK: Kasat mata, bahan, warna, tekstur, Teknik, Corak, gaya.


DIMENSI MAKNA: Nilai kwalitas, Keselarasan antara wujud atau rupa dan bobot atau isi.


SYARAT RESENSI:

1. Memahami sejarah seni rupa, kesenian, dan kebudayaan,

2. Berpengalaman mengamati karya langsung (otentik) bukan dari repro atau slide.

3. Mengetahuai dan memahami benar peristilahan (diksi), gaya seni, fungsi seni, opini seniman, dan pakar tentang estetika

4. Mengetahui Teknik artistic dala, berbagai media

5. Memiliki cita rasa yang terbuka, dalam artian memiliki kapasitas menghargai kreativitas artistic yang beragam

6. Dapat membedakan niat artistic dan pencapaian rartistic seniman dalam berkarya

7. Harus objektif dan tidak subjektif (mampu melawan simpati terhadap seniman)

8. Memiliki sensibilitas krtitis saat menghadapi karya yang beragam

9. Memiliki tempramen yudisial berdasarkan data yang akurat.


TUJUAN RESENSI: Memahami seni agar mendapatkan kenikmatan estetis.


MANFAAT RESENSI:

1. Memahami karya seni

2. Ingin menemukan suatu cara untuk mengetahui latar belakang penciptaan suatu karya seni

3. Memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat karya seni

4. Mampu menyatakan baik dan buruknya sebuah karya secara komprehensif

5. Menyediakan informasi dan pemahaman yang berkaitan dengan mutu karya seni

6. Menumbuhkan apresiasi dan tanggapan terhadap karya seni bagi para penikmat karya seni yang bersangkutan


RESENSI JURNALISTIK: Hasil penilaian terhadap karya disampaikan melalui media massa, seperti koran dan majalah.


RESENSI PEDAGOGIK: Penilaian yang dilakukan oleh pendidik terhadap hasil karya anak didiknya bersifat mendidik dengan tujuan meningkatkan kematangan teknik dan estetis para siswa atau mahasiswa.


RESENSI ILMIAH: Ulasan nilai sebuah karya seni melalui analisis ilmiah dan mendalam.


RESENSI POPULER: Penilaian yang dilakukan secara spontan oleh para kritikus, pengamat, bahkan masyarakat setelah melihat sebuah karya seni tanpa sistematikan tertentu.


TERRY BARRET: Mengelompokkan kriteria dalam melakukan resensi yaitu realisme, ekspresionisme, formalism dan instrumentalisme.


KRITERIA REALISME: Karya seni dianggap baik dan estetis jika mampu menggambarkan alam semesta dengan keberagamannya secara akurat atau tepat.


KRITERIA FORMALISME: Karya seni dianggap bermutu jika karya tersebut lahir hanya demi seni itu sendiri.


KRITERIA EKSPRESIONISME: Karya seni dianggap memiliki kualitas keindahan jika ungkapan visual karya lebih memancarkan nilai-nilai ekspresi dan emosi yang kuat serta jelas dari seniman/ penciptanya.


KRITERIA INSTRUMENTALISME: Penilaian kualitas karya berdasarkan tingkat pengaruh sebuah karya seni dalam mempengaruhi public agar bertindak sesuai dengan nilai-nilai makna yang terkandung dalam sebuah karya.


KRITERIA CRAFTMANSHIP: Penilaian dengan memperhatikan tingkat crafmanship atau penguasaan Teknik dan keterampilan.


DESKRIPSI: Suatu penggambaran/pelukisan subject matter karya seni rupa melalui kata-kata.


ANALISIS FORMAL: Menganalisis objek secara keseluruhan mengenai kualitas unsur-unsur visual.


INTERPRETASI: Menafsirkan hal-hal yang terdapat di balik sebuah karya untuk mengungkap makna, pesan atau nilai yang dikandungnya.


KESIMPULAN: Penilaian seni dilihat pada tingat keberhasilan karya tersebut dalam menyampaikan pesan sesuai dengan keinginan penciptanya dan bentuknya yang indah.


MOOI INDIE: “Hindia Belanda yang Indah”, Aliran lukisan naturalistic yang menggambarkan keadaan alam Indonesia dengan tujuan untuk menarik wisatawan.


WAKIDI: Pelukis Indonesia pada masa Mooi Indie yang banyak melukis pemandangan alam.


Sumber materi: Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Sunday, December 13, 2020

Estetika (Teori Tentang Keindahan dan Seni)

    Dalam kehidupannya, manusia memerlukan keindahan. Tanpa adanya estetika manusia tidak memiliki perasaan dan kehidupan akan menjadi datar. Teori keindahan dan seni dikembangkan menjadi pengertian “estetika”. Baumgarten (1753) mengerucutkan  penggunaan istilah “estetika” untuk teori tentang keindahan artistik. Aristoteles menggunakan istilah “puitis” untuk teori keindahan artistik. Sekarang estetikan dianggap sebagai “ilmu pengetahuan tentang seni”.

    Plato melihat adanya hubungan yang saling terpaut antara keindahan dan seni. Kedua hal ini memiliki ciri yang berbeda pada setiap bangsa, menurut Prof. H. Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 tahun Sang Merah Putih sebelum masuknya agama Hindu di Indonesia, bangsa Indonesia sudah memiliki tujuh kearifan Austronesia yaitu:

1. Kearifan dalam bidang agricultural (bersawah dan berladang)

2. Kearifan dalam beternak

3. Kemampuan dalam berlayar dan navigasi dengan melihat bintang

4. Kearifan religious dan menghormati leluhurnya

5. Keartistikan dalam seni rupa, seni lukis, seni pahat, dan lain-lain

6. Kebhinekaan masyarakat dan ketatanegaraan

7. Menjunjung tinggi simbol bangsa



Beberapa bukti hasil keindahan dari masa lalu contohnya adalah waruga, yaitu situs purbakala berupa kuburan batu dari suku Minahasa Utara dari abad ke 10. Sejak zaman dulu bangsa Indonesia telah menyadari betapa pentingya arti keindahan dan seni dalam kehidupan termasuk saat memasuki kahir hayat.

1. Pengertian Estetika

Istilah Aisthetika pertama kali dikenalkan oleh Alexander Baumgarten, istilah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu aisthetikos dan memiliki makna hal-hal yang diserap oleh pancaindra. Masalah yang diangkat dalam karya seni sangat beragam dan semakin banyak jenisnya, George T.Dickie dalam bukunya Aesthetics: An Introduction (1971) menggolongkan tiga macam masalah untuk diangkat menjadi karya yang estetik:

a. Masalah yang mengangkat tema kritis

b. Masalah yang bersifat lebih umum

c. Masalah yang mengandung pertanyaan yang lebih spesifik


2. Estetika dan Perkembangannya

Perkembangan estetika dihubungkan dengan sejarah kesenian pada perkembangan dari evolusi bentuk seni rupa tradisional sampai modern. Kritik seni hampir selalu mengarah pasa filsafat seni. Baik sejarah maupun kritik seni memerlukan pemahaman tentang estetika untuk mengenal seni dan ksesnian.

3. Estetika dan Filsafat

Estetika menjadi jembatan yang memudahkan masyarakat saat ini untuk lebih memahami filsafat sebagai ilmu pengetahuan. Secara umum banyak yang berpendapat bahwa estetika adalah cabang dari filsafat. Persoalan-persoalan yang menyangkut estetika meliputi:

a. Nilai estetika (aesthetic value)

b. Pengalaman estetis (aesthetic experience)

c. Perilaku orang yang mencipta (seniman)

d. Seni

Louis Kattsof menyatakan bahwa estetika adalah cabang dari filsafat yang berkaitan dengan Batasan struktur (structure) dan peran (role) dari terbentuknya keindahan, khususnya dalam kasus yang mendalami kesenian.


4. Estetika Klasik

Plato adalah salah satu petinggi Akademi Platonik di Athena, salah satu sekolah tinggi pertama di wilayah barat. Plato menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurutnya karya seni hanyalah sekedar tiruan dari relaitas/kenyataan yang ada di dunia. Ia menegaskan sesuatu yang asli adalah yang terdapat dalam gagasan semata.

Aristoteles memiliki pandangan karya seni sesuatu yang tinggi. Estetika dipandang sebagai poetics. Karya seni merupakan karya yang berkontribusi terhadap teori sastra. Ia juga mengembangkan teori Chatarsis yang memandang karya seni sebagai sarana untuk mensucikan emosi-emosi negative manusia, misalnya hal-hal yang menakutkan atau menyedihkan.


5. Estetika Abad Pertengahan

Masa abad pertengahan (400-1500an Masehi) disebut dark age karena pada masa ini agama Nasrani berpengaruh kuat dan menciptakan aturan-aturan ketat yang membelenggu kreativitas seniman dalam berkarya seni. Pada abad Renaisans (1500-1700 Masehi) masyarakat menganggap bahwa manusia merupakan segalanya dan pusat dari segala penciptaan sehingga semua karya seni yang tercipta kembali kepada manusia sebagai subjek utamanya. Tokoknya adalah Leon Battista Alberti menyatakan seniman harus mempelajari ilmu anatomi manusia. Sedangkan Leonardo Da Vinci menyinggung ketelitian dalam memperhatikan unsur terkecil pada proses pembuatan karya. Kemudian diteruskan oleh Michelangelo Buonarotti dengan mengembangkan studi perspektif bentuk geometris dan perbandingan proporsi tubuh serta studi anatomi yang lebih mutakhir.


6. Estetika Pramodern

Perkembangan seni rupa masa ini seiring dengan terjadinya Revolusi Industri di Eropa. Muncul berbagai aliran seni:

a. Primitivisme

Yaitu aliran yang bersifat sederhana dan jauh dari teknik-teknik lukis modern.

b. Naturalisme

Yaitu suatu aliran yang teknik pelukisannya berpedoman pada peniruan alam untuk menghasilkan karya seni. Seniman Indonesia yang menganut aliran ini adalah Basoeki Abdullah, Mas Pringadi, dan Abdullah Surya Subroto.

c. Realisme

Yaitu suatu aliran yang berusaha melukiskan keadaan secara nyata dan benar adanya. Seniman Indonesia yang menganut aliran ini yaitu Raden Saleh, S.Soedjojono, Dullah, Rustamadji, Dede Eri Supria, Ronald Manullang.

d. Dokorativisme

Yaitu suatu aliran yang menghasilkan karya seni rupa dekoratif dengan menyederhanakan bentuk secara distorsi. Seniman Indonesia yang menganut aliran ini yaitu Kartono Jodokusumo, Widayat, Suparto, Ratmoyo, Bagong Kussudiarjo, dan Batara Lubis.


7. Estetika Kontemporer

Istilah ini terinspirasi dari maraknya perkembangan seni pada era pasca Perang Dunia II. Tokoh pada masa ini yaitu Bennedote Croce menghubungkan system filosofis dan idealisme. Menurutnya, melalui seni segala khayalan atau pengalaman intuitif yang ada dalam batin terekspresikan. Sementara itu George Santayana dari Amerika mengemukakan istilah estetika naturalis yaitu para penikmat seni akan merasakan nilai keindahan ketika indra-indra manusia menyerap objek-objek seni.

Di Indonesia seniman kontemporer biasanya mengeksplorasi diri atau budaya dalam temanya, serta melancarakan pesan suatu kritik pada permsalahan social melalui karya-karyanya.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Wednesday, May 15, 2019

KEINDAHAN


Pengertian Keindahan
Keindahan, sering diutarakan kepada situasi tertentu, arti kata keindahan yaitu berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan identik dengan kebenaran, sesuatu yang indah itu selalu mengandung kebenaran. Walaupun kelihatanya indah tapi tidak mengandung kebenaran maka hal itu pada prinsipnya tidak indah. Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.

Keindahan dapat dilihat dalam arti yang luas, keindahan dalam estetis murni, dan keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti luas meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual. Keindahan dalam arti estetis murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubugannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.  Keindahan dalam arti terbatas lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna

Hubungan antara Manusia dan Keindahan
Manusia dan keindahan memang tak bisa dipisahkan sehingga kia perlu melestarikan bentuk dari keindahan yang telah dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya dapat menjadi bagian dari suatu kebudayaan yang dapat dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur politik. Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial, dan budaya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun kapan pun dan siapa saja dapat menikmati keindahan.

Hakikat dari Keindahan
Keindahan adalah susunan kualitas atau pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal kulitas yang paling disebut adalah kesatuan (unity) keselarasan (harmony) kesetangkupan (symmetry) keseimbangan (balance) dan pertentangan (contrast).
Herbet Read merumuskan bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan indrawi manusia. Filsuf abad pertengahan Thomas Amuinos mengatakan bahwa keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan bilamana dilihat.
Menurut luasnya pengertian keindahan dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Keindahan dalam arti luas, menurut Aristoteles keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
2. Keindahan dalam arti estetik murni, yaitu pengalaman estetik seseorang dalam hubungan dengan segala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti terbatas, yaitu yang menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan yakni berupa keindahan bentuk dan warna

 Keindahan identik dengan kebenaran, keindahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah yang tidak mengandung kebenaran tidak indah.
 Ada 2 nilai yang penting dalam Keindahan :
1. Nilai ekstrinsik yakni nilai yang sifatnya sebagai alat atau membantu untuk sesuatu hal.    Contohnya tarian yang disebut halus dan kasar.
2. Nilai intrinsik yakni sifat baik yang terkandung di dalam atau apa yang merupakan tujuan dari sifat baik tersebut. Contohnya pesan yang akan disampaikan dalam suatu tarian.

 Teori estetika keindahan menurut Jean M. Filo dalam bukunya “Current Concepts of Art” dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1.   Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu bersifat subjektif adanya,  yakni karena manusianya menciptakan penilaian indah dan kurang indah dalam pikirannya sendiri.
2. Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan bersifat objektif adanya, yakni karena keindahan itu merupakan nilai yang intrinsik ada pada suatu objek.
3.  Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu merupakan pertemuan antara yang subjektif dan yang objektif, artinya kualitas keindahan itu baru ada apabila terjadi pertemuan antara subjek manusia dan objek substansi.




SIFAT-SIFAT KEINDAHAN

1. Keindahan itu kebenaran
Kebenaran itu artinya bukan tiruan.  Oleh karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah karena dasarnya tidak indah
2. Keindahan itu abadi
Abadi artinya tidak pernah dilupakan tidak pernah hilang.  Karya musik Bethoven tidak pernah dilupakan orang karena indah
3. Keindahan mempunyai daya tarik
Daya tarik artinya memikat perhatian orang, menyenangkan dan tidak membosankan
4. Keindahan itu wajar
Wajar itu artinya tidak berlebihan dan tidak pula kurang atau menurut apa adanya.  Misalnya foto berwarna yang dicetak lebih indah dari aslinya, justru tidak indah karena berlebihan
5. Keindahan itu kenikmatan
Kenikmatan itu artinya kesenangan yang memberikan kesenangan
6. Keindahan itu kebiasaan
Kebiasaan itu artinya dilakukan berulang-ulang.  Yang tidak biasa menjadi biasa karena dilakukan berulang-ulang

Cara untuk mengetahui keindahan
1. Renungan
Renungan berasal dari kata renungan, merenung artinya dengan diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung.
Setiap orang pernah merenung. Sudah tentu kadar renungannya satu sarna lain berbeda, meskipun obyek yang direnungkan sama, lebih pula apabila obyek renungannya berbeda. Jadi apa yang direnungkan itu bergantung kepada obyek dan subyek.
2. Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi-serasi dari kata dasar rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok sesuai atau kena mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang.
Keserasian identik dengan keindahan. Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak indah. Karena itu sebagian ahli pikir berpendapat, bahwa keindahan ialah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatuhal.
3.Kehalusan
Kehalusan berasal dari kata halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus.
Halus itu berarti suatu sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil maupun dalam masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar atau sikap orang-orang yang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku sikap orang yang sedang bermusuhan. Oleh karena itu kehalusan dapat menunjukan nilai keindahan seseorang dan sikap kasar bisa mengurangi nilai keindahan dari seseorang.
4. Kontemplasi
Suatu proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai makna, manfaat, dan tujuan, atau niat hasil penciptaan.


Sunday, August 14, 2016

Estetika Islam

Seni tidak lepas peranannya dalam kehidupan manusia, sebab manusia membutuhkan keindahan sedangkan keindahan itu di peroleh dari seni. Perwujudan keindahan melalui seni inilah yang merupakan bentuk atau ungkapan yang selalu hadir dan berperan dalam perkembangan setiap kelompok atau lapisan masyarakat. Namun citarasa keindahan yang dimiliki setiap kelompok masyarakat cenderung tidak sama, hal ini disebabkan oleh perbedaan dasar-dasar nilai pandangan hidup yang telah diyakini kebenarannya. Maka sesuatu itu disebut indah jika berada dalam kawasan dan mencerminkan suatu nilai.

Banyak para filsuf yang mempersoalkan tentang hakikat keindahan, namun yang mereka ungkapkan senantiasa berbeda satu sama lain sesuai dengan dasar-dasar nilai pandangan hidup masing-masing. Berkaitan dengan hal ini seorang filsuf Islam yakni Al-Ghazali menjelaskan tentang pemahaman keindahan . Ia menggunakan konsep ajaran Islam dalam merenungi keindahan secara kritis.
Di dalam agama Islam konsep beribadah mengandung arti yang sangat luas, hal ini bermakna bahwa segala kegiatan yang mencerminkan sikap tunduk pada Allah atau yang diridhoi atau disukaiNya adalah ibadah. Sumber dari ajaran Islam adalah kitab suci Al-Qur’an dan Hadist, dalam hadist Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan Dia menyukai keindahan” Sehingga dapat dikatakan bahwa Allah adalah dzat yang memiliki sifat indah, berdasarkan penjelasan tersebut dapat ditarik pengertian bahwa Islam sangat memperhatikan masalah keindahan.
            Sifat indah dalam agama Islam memiliki nilai intrinsik yaitu bentuk keindahannya sendiri dan nilai ekstrinsik yaitu manfaat lain untuk kehidupan makhluk yang menikmatinya. Segala sesuatu yang indah itu tidaklah pernah sia-sia, dan Islam tidak menghendaki suatu keindahan yang sia-sia atau memiliki sifat merusak. Oleh karena itu nilai atau sifat keindahan yang di ekspresikan oleh manusia haruslah mengekspresikan nilai ibadah dan hal ini berhukum mubh (boleh). Namun dapat berubah menjadi haram ketika menimbulkan ketidak ridhoan Allah bahkan yang dapat berdampak negatif bagi pembentukan akhlak.
            Dalam mewujudkan keindahan merupakan hikmah tersendiri bagi umat, hikmah tersebut adalah terciptanya peluang pengembangan kreatifitas manusia dalam berkarya. Pentingnya pengembangan kreativitas ini juga tersirat dalam Al-Quran agar manusia menggunakan akal pikirannya dalam mempelajari kehidupan ini.

Al-Ghazali

Al-Ghazali lahir pada awal tahun 450 Hijriah atau 1059 Masehi di daerah Thus Khurosan Persia. Ia adalah seorang ulama, ahli ushul figh, sufi, sekaligus filsuf besar dengan buku-bukunya yang sangat banyak dan terkenal. Al-Ghazali selalu belajar secara kritis dan ia tidak puas dengan apa yang dipelajarinya, sehingga pada ahir kesimpulannya ia menyatakan  bahwa kehidupan utama dan bahagia adalah ma’riat kepada Allah, beribadah kepada Allah dan cinta kepasa Allah. Semboyan  misi Al-Ghazali yaitu kehidupan adalah cinta dan ibadah. Barang siapa taat kepada Allah ia akan merdeka dan bahagia, orang-orang yang jahat taat karena takut tetapi orang-orang saleh taat justru karena cinta.

Keindahan Islam dalam Perspektif Al-Ghazali

Pandangan-pandangan dan gagasan-gagasan Al-Ghazali tentang keindahan dikemukakan melalui buku Ihya Ulumiddin, Ettinghausen, dan encyclopedia of The World Art trjemahan Kadir. Menurutnya cinta terhadap Allah merupakan tujuan ahir dari semua tahapan, sebab segala sesuatu yang indah itu dicintai karena keindahan memberikan keenangan. Sedangakn keindahan suatu objek terletak pada perwujudan kesempurnaan yang dapat dilihat dan sesuai dengan fitrahnya. Disamping panca indra yang dipakai sebagai alat untuk menerima keindahan terebut ada indra keenam yaitu  jiwa (ruh, hati, akal, cahaya) yang dapat merasakan keindahan dunia dalam bersifat rohani, moral dan nilai keagamaan.
            Dari penjelasan Al-Ghazali terdapat dua sifat keindahan yaitu keindahan bentuk luar atau fisik (berdasarkan visi luar atau pancaindra) dan keindahan bentuk dalam atau hakiki (berdasarkan visi jiwa atau indra ke-enam) yang hanya dapat ditangkap oleh matahati dan cahaya visi dalam manusia. Namun visi dalam lebih kuat dari visi luar. Keindahan dalam atau yang hakiki bagi orang yang bertaqwa menurut Al-Ghazali terletak pada tiga prinsip: pertama pengetahuan(bentuk pengetahuan yang paling mulia adalah pengetahuan tentang Allah), kedua daya kesanggupan yang menuntun diri sendiri dan orang lain kearah kehidupan yang lebih baik dan menegakkan perintah agama, ketiga kemulyaan yang dapat mengatasi kesalahan dan kekurangan seta kecenderungan jahat. Karena ketiga prinsip tersebut hanya dapat ditemui secara sempurna pada Allah maka ungkapan keindahan atau hakiki seorang seniman yang sempurna mengarah pada Allah. Maka timbulnya cinta termasuk keindahan hanya apabila berkenaan dengan Allah. Terbukti bahwa keindahan perspektif Al-Ghazali tidak mengabaiakan keindahan visi luar yang berdasar prinsip-prinsip estetis, yakni harmoni, urutan, keserasian dan susunan keseluruhan.
            Keindahan diperlukan bagi manusia untuk memperoleh kehidupan yang bermakna, hal ini dapat dipenuhi melalui aktifitas berkesenian. Keindahan yang diciptakan manusia ini harus mampu mengungkapkan secara fisik ciri-ciri atau sifat-sifat harmoni dalam kebinekaan dan bineka dalam kesatuan dan memberikan manfaat bagi pembentukan akhlak yang mulia. Pada kesimpulannya keindahan adalah sesuatu yang dapat membangkitkan atau mengekspresikan rasa cinta yakni cinta kepada Allah yang penting untuk mencapai kebahagiaan

Estetika Romantisme

Estetika Romantisme memang merupakan estetika yang sulit dipahami, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Romantis artinya bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan) ; bersifat mesra ; mengasyikkan. Sedangkan romantisme berarti haluan kesusantraan abad 18 yang mengutamakan perasaan, pikiran dan tindakan spontanitas ; aliran dalam seni (drama) yang mengutamakan imajinasi, emosi dan sentimen idealisme. Namun dalam konteks estetika perlu di mengerti dari beberapa artikel tentang romantisme. Di bawah ini merupakan contoh artikel tentang romantisme yang di ambil dari sumber internet berikut analisisnya:


Romantisme telah sangat sedikit hubungannya dengan hal-hal populer dianggap sebagai "romantis," walaupun cinta terkadang menjadi subjek seni Romantis. Sebaliknya, itu adalah sebuah gerakan seni dan filosofis internasional yang mendefinisikan kembali cara-cara mendasar di mana orang-orang di budaya Barat berpikir tentang diri mereka sendiri dan tentang dunia mereka.

Nama “romantik” berasal dari istilah “romans” yaitu narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra Abad Pertengahan dan Romantik. Dalam hal ini pada abad pertengahan romantis seniman menolak penalaran dingin klasisisme –Seni mapan waktu- untuk melukis gambar dari alam liar negara bagian, atau pengaturan lainnya eksotis diisi dengan tindakan dramatis, sering dengan penekanan pada masa lalu. Pada masa itu merupakan masa yang sedang menentang norma-norma kebangsawanan, sosial dan politik dari Periode Pencerahan dan reaksi terhadap rasionalisasi terhadap alam, dalam seni dan sastra. Sehingga munculnya keadaan-keadaan yang membangkitkan emosi manusia, seperti perasaan heroik, dramatis, takjub dan sebagainya. Sedangkan para kaum romantik menanggapi hal ini melalui seni yang seharusnya penting bagi kehidupan ini. Seni mengandung arti dari luapan perasaan, itulah sebabnya di sebut ekspresi. Estetika romantisme merupakan estetika yang muncul dari pandangan kaum romantik memang menekanakan emosi sebagai ekspresi dari seniman, sehingga muncul teori ekspresi. Munculnya "Teori Ekspresi Seni" terkait erat dengan gerakan Romantisme, sebuah perkembangan intelektual dan filosofis di abad ke-18 dan ke-19.

Filsafat Romantisme dapat dikatakan sebagai sebuah reaksi terhadap filsafat empiris (Inggris) dan mentalitas ilmiah, serta sebagai sebuah usaha untuk menggapai yang dibalik pengetahuan inderawi, serta sebagai sebuah usaha untuk menggapai yang dibalik pengetahuan inderawi sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Kant yang berpendapat ada dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan dunia empiris yang merupakan objek pengetahuan ilmiah yaitu usaha untuk menggapai yang dibalik pengetahuan inderawi, dan pengetahuan noumenal yang dalam beberapa hal berada di belakang dunia inderawi empiris yang terbatas yaitu usaha untuk menggapai yang dibalik pengetahuan inderawi sehari-hari. Ketika filsafat Romantisme ini diterapkan pada dunia seni, ia menghasilkan sebuah peran baru bagi seniman dan minat baru dalam kreasi artistik. Sang Seniman dianggap sebagai sarana untuk mencapai sumber-sumber vital dan mendapatkan pengetahuan yang tak dapat diberikan oleh sains. Artinya para seniman sebagai penghubung atau medium antara dunia empiris dan dunia noumenal yang berada di balik kenyataan pengalaman. Kreasi artistik diidentifikasikan atau terkait dengan pelepasan emosi. Leo Tolstoi menyatakan bahwa karya seni pada dasarnya merupakan ekspresi perasaan dalam bentuk tertentu sehingga orang lain mampu merasakan ungkapan emosi dalam seni itu. Kaum Romantik sangat menghargai atau menghormati kemerdekaan dan kedaulatan individu untuk mengekspresikan perasaannya.

Romantisme dalam konteks estetika romantisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-Menekankan emosi yang kuat sebagai sumber dari pengalaman estetika
-Memberikan tekanan baru terhadap emosi-emosi seperti rasa takut, ngeri, dan takjub
-Terkait dengan pelepasan emosi, yakni terlibat untuk mencapai suatu pengetahuan yang lebih unggul
-Dipengaruhi oleh gagasan-gagasan pencerahan dan mengagungkan medievalisme

Sifat khas gaya Romantik dalam seni
·         -Pemujaan terhadap alam
·         -Rasa melankolik dan nostalgik terhadap masa silam
·        - Kesadaran agama mengambang
·        -Mengarahkan perhatian kepada diri seniman dan proses kreatifnya
·         -Lari dari kenyataan riil
·         -Inspirasi muncul dari dalam diri seniman
·         -Genius, dalam arti kemampuan menemukan dan  menghasilakan karya yang orisinil
        -Menciptakan dunia “lain” (khayal) yang bersifat emotif dan imajinatif


Seni romantisme menekanakan pada emosi sebagai kebebasan ekspresi dari seniman, dan seniman adalah orang yang bertindak sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah (empiris) dengan apa yang ada dibalik pengetahuan inderawi sehari-hari (noumenal). Sedangkan kesan romantis yang ada dalam persepsi kebanyakan orang yaitu tentang kedamaian dan lebih ke emosi cinta adalah pengaruh dari sejarah romantisme dimana gerakan seni dan filosofis internasional yang mendefinisikan kembali cara-cara mendasar di mana orang-orang di budaya Barat berpikir tentang diri mereka sendiri dan tentang dunia mereka. Seni dalam konteks romantisme tidak terpengaruh oleh siapapun dan terkesan melebih-lebihkan dikarenakan oleh ekspresi perasaan yang bertujuan orang lain mampu merasakan ungkapan emosi dalam seni itu.



Estetika Posmodern

Dalam Posmodernisme sesuai dengan artinya yaitu proses dediferensiasi dan munculnya peleburan di segala bidang merupakan pembongkaran ideologi seperti pengarahan tatanan nilai dalam seni. Definisi modernisme itu sendiri adalah gerakan dalam seni yang mempunyai keterkaitan dengan kondisi politik dan sosial yang tengah terjadi di dunia dan masyarakat selama jangka waktu pembuatan karya. Postmodernisme memiliki keterkaitan dengan kondisi sosial yang serupa, namun dengan membuang batasan dan keterikatan yang dipegang oleh modernisme. Pada intinya memang postmodernisme merupakan penolakan terhadap modernisme yang dianggap monoton.

Postmodern tidak membedakan antara budaya tinggi dan budaya rendah, sehingga tidak menampilkan kehidupan budaya yang terbagi-bagi atau terkotak-kotak. Dalam hal ini tidak ada batasan yang mengatur sebagai tatanan nilai ataupun sistem, berbagai gaya seniman bisa masuk, oleh karena itu banyak ditemukannya karya-karya seniman pada masa posmoderinsme yang sangat beraneka ragam. Berbagai cara pandang baru dapat diterima dalam postmodern,  pada artikel diatas bahkan disebutkan tidak hanya  universalisme seni, tetapi otonomi seni, orisinalitas, dan formalisme. Di dalam berkesenian, seniman tidak menyukai sesuatu yang telah mapan, tetapi mereka lebih terbuka  dan kreatif. Berbagai hal dapat dijadikan karya seni, sehingga tidak heran apabila terdapat barang yang sudah jadi atau karya yang sudah jadi dirombak kembali oleh seniman menjdai karya seni baru. Meskipun kita menemui banyak hal yang tidak bisa diterima oleh akal sehat dalam karya seninya atau bertolak dengan logika, seniman memberikan hal-hal yang berkesan, nyentrik dan bahkan aneh dalam kehidupan, namun semua itu digunakan sebagai pencapaian spirit nilai-nilai pembaharuan yang diragukan sebelumnya.

Postmodernisme terdapat penentangan terhadap rasionalisme, totalitarianisme dan universalisme, serta kecenderungan kearah penghargaan akan keanekaragaman, pluralitas, kelimpah-ruahan, dan fragmentasi dengan menerima berbagai kontradiksi, banalitas dan ironi didalamnya. , arsitek postmodern menginginkan arsitektur yang responsif pada konteks dan lebih relatif d begitu luas dan melebar seolah tanpa aturan, tanpa pola, tanpa dasar-dasar pijakan dan orientasi yang jelas namun dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja. Hal ini menyatakan bahwa postmodenisme memang telah dapat diterima dalam kehidupan masyarakat, karena memang postmodern lebih memberikan kebebasan. Sebagai contoh dalam postmodern mencoba menghilangkan kejenuhan-kejenuhan dalam kehidupan yang berkembang di masyarakat, lebih menerima kritik secara terbuka dan bahkan bisa dijadikan sebagai kelucuan misalnya karikatur.

Posmodernisme adalah sebuah gerakan pada kebudayaan kapitalis lanjut yang memberikan pemahaman baru yang berbeda atas apa yang telah menjadi semacam mistifikasi atas kebenaran atau kenyataan tunggal yang dikembangkan oleh idiologi modernisme. Posmodernisme merupakan peleburan batas wilayah dan pembedaan antar budaya tinggi dengan budaya rendah, antara penampilan dan kenyataan, dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dijuntung tinggi oleh teori sosial dan filsafat konvensional. Posmodernisme ada dua jenis, yaitu posmodernisme dekonstruktif dan posmodernisme rekonstruktif. Posmodernisme dekonstruktif memiliki ciri merombak tatanan nilai dari modernisme sebagai suatu bentuk pembebasan dan penggambaran tentang gagalnya modernisme. Sementara itu posmodernisme rekonstruktif lebih berusaha untuk menawarkan cara pandang baru sebagai solusi untuk kegagalan modernisme. Postmodern rmencoba mengajak dan menghimbau agar kesadaran berpikir kita tidak diarahkan pada klaim-klaim kebenaran yang bersifat monolitik seperti esetika, teologia. Kebenaran tidak bersifat absolut, ia tidak lebih dari sebuah fragmen yang suatu saat akan digantikan kebenaran lain karena sebagai bentuk keraguan dan melawan nilai-nilai dan tatanan sistem. Sedangkan sebagai seorang seniman postmodernisme disampaikan melalui karya-karyanya yang mengungkapkan berbagai kemungkinan ide secara lebih fleksibel dan spesifik, bebas kreatif, dan humanistik baik dalam pemilihan medium ataupun proses, bentuk, hasil, dan pesan atau makna yang ingin disampaikan.


Posmoderen sebagai gaya percampuran yang berkaitan dengan :

- Ingatan kesejarahan (terutama dalam arsitektur),
- Permasalahan setempat/ lokal,
- Metafora dan ambiguitas.


Ciri posmodernisme
 Menurut Sallie McFague dalam buku Dr. Munir Fuady,2005 mengatakan bahwa ciri

dari posmodern adalah :

1. Menginginkan penghargaan besar terhadap alam.
2. Menekankan pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia.
3. Mengurangi kekaguman terhadap ilmu pengetahuan, kapitaslisme, dan teknologi.
4. Menerima tantangan agama lain terhadap agama dominan.
5. Menerima dan peka terhadap agama baru.
6. Menggeser dominasi kulit putih di dunia barat.
7. Mendorong kebangkitan golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas sosial yang tersisihkan.
8. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya interdependensi secara radikal dari semua pihak dengan cara yang dapat terpikirkan.



Beberapa kecenderungan seni jaman 60-an hingga kini (Estetika Posmodernisme):

1. Hilangnya batas seni dan kehidupan kita sehari-hari
2. Hilangnya batas seni/budaya tinggi dengan budaya Pop
3. Telaah Semiotika untuk seni dan desain