Showing posts with label gambar anak. Show all posts
Showing posts with label gambar anak. Show all posts

Saturday, January 30, 2016

Cara mengatasi Stereotipe pada gambar anak


Beberapa tips menghindari stereotype menurut Bertand Russell dalam Humaira (2011):
1. Menyadari gambaran-gambaran yang terstandarisasi dalam benak kita, pikiran orang lain, dan dunia di sekitar kita.
2. Kita dapat meragukan semua keputusan sehingga kita memberikan kesempatan kepada beberapa pengecualian untuk “melakukan pembuktian”
3. Kita dapat belajar berhati-hati terhadap semua generalisasi tentang manusia.

Saran tersebut merupakan saran untuk menghindari stereotipe secara umum. Jika di implementasikan ke dalam pembinaan gambar anak tentunya dari pengarahan orang tua/ guru sehingga dapat dijabarkan sebagai berikut:
  1. Orang tua/ guru dapat mengatakan kepada anak terlebih dahulu, bahwa masih banyak bentuk gambar yang lain dari pada yang anak gambar. Misalnya dengan menceritakan ada bermacam-macam bunga dari hanya sekedar bentuk lingkaran dan setengah lingkaran yang mengelilinginya. Ada bunga yang bentuknya mirip terumpet, ada bunga yang bentuknya mirip bola dan sebagainya.
  2. Orang tua/ guru memperlihatkan kepada anak tentang macam bentuk apa saja yang ada di sekitar kehidupan anak. Dalam hal ini termasuk tema, sehingga anak mengetahui secara nyata dan gamblang mengenai hal-hal yang begitu bermacam-macam di sekitar mereka. Dengan melihat banyaknya hal bervariatif akan merangsang daya cipta anak untuk mewujudkannya dalam bidang gambar.
  3. Orang tua/ guru tidak boleh menyalahkan segala bentuk yang dibuat oleh anak. Sebab hal itu akan membuat persepsi antara benar dan salah pada diri anak, sehingga ia memikirkan mana gambar yang benar dan mana gambar yang salah. Hal ini akan menghentikan anak dalam menuangkan bermacam gambar yang disukainya maupun yang akan diekspresikannya. Padahal di dalam menggambar, apalagi pada usia dini anak sedang dalam proses perkembangan, salah satunya potensi kreatif. Dengan membebaskan anak menuangkan ekspresinya tanpa adanya tuduhan salah dari orang tua/ guru maka anak akan lebih bebas menuangkan bermacam bentuk dalam gambarnya.

Gambar dua gunung matahari terbit

Di dunia anak-anak yaitu kalangan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar cukup banyak kita jumpai gambar yang hampir sama. Dari keseluruhan gambar yang hampir sama tersebut paling banyak dijumpai adalah gambar dua buah gunung dengan sebuah matahari yang terbit di tengahnya. Tidak hanya di pulau Jawa, tetapi di berbagai daerah di Indonesia pun juga banyak yang menggambar dengan pola yang seperti ini. 


Pola gambar dua gunung dengan matahari

Keadaan seperti ini tentu saja bentuk ketidak kreatifan gambar anak yang ajaibnya dilakukan oleh banyak anak. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal. Gambar tersebut menjadi gambar konvensional di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor yaitu:

1. Metode pengajaran guru
Kebanyakan anak yang menggambar dengan bentuk atau pola gambar yang sama tentu berasal dari pengajaran yang sama oleh pendidik mereka. Guru dalam hal ini menjadi tokoh yang mempelopori hal ini. 
Gambar contoh dau gunung satu matahari

Cara mengajar guru yang mengajar seni rupa dengan sistem hafalan menganggap otak manusia sepeti alat perekam belaka. Meskipun jika tidak ada niat seperti itu, namun gambar yang diajarkan pada guru tetap sama saja yaitu gambar dua gunung dan satu matahari, padahal mereka bisa saja merubahnya.

2. Merupakan gambar khas pemandangan
Setiap ada pelajaran seni rupa khusunya menggambar yaitu menggambar pemandangan, guru selalu mencontohkan gambar dua gunung dan satu matahari. Demikian banyak anak di Indonesia secara otomatis berpikir bahwa menggambar pemandangan adalah menggambar dua gunung dengan matahari di tengahnya. Hal ini merupakan fenomena menyedihkan yang umum terjadi dalam pelajaran seni rupa sekolah-sekolah negeri di Indonesia. 

Pemandangan alam Indonesia

Ahli kreativitas dan seni rupa anak Profesor Primadi Tabrani (dalam Aikon; 2012), mengatakan bahwa sistem pendidikan seni rupa yang salah di sekolah-sekolah dasar negeri menghilangkan potensi kreatif anak Indonesia. Termasuk saat-saat seorang guru memberi contoh di papan tulis dengan sebuah pemandangan dua gunung dan satu matahari.

3. Mudah dibuat dan merupakan gambar yang mewakili banyak hal
Dengan melihat gambar dua gunung dan satu matahari orang sudah bisa mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar pemandangan, sehingga tidak perlu repot-repot menggambarkan pohon, hutan atau gambar alam lain yang lebih sulit. Demikian pula pada gambar dua gunung dan satu matahari yang memiliki bentuk sederhana yaitu dua buah segitiga, sebuah garis melengkung di tengahnya dan sebuah garis datar sebagai garis dasar sudah menjadi sebuah gambar pemandangan. Kemudahan cara menggambar inilah menjadi hal yang mudah ditiru oleh anak terutama anak kecil. Sehingga dengan meniru gambar tersebut anak-anak sudah dapat dikatakan mampu menggambar pemandangan. Hal itu tentu menggembirakan karena pada dasarnya usia mereka masih dalam tahap prabagan. Apalgi pada anak yang tinggal di daerah dekat gunung, pemandangan gunung dan matahari menjadi hal yang biasa. Objek yang sering dilihat oleh anak dan dekat dengan kehidupan anak akan lebih mudah dan cepat untuk diajarkan dan dimengerti anak (Nofianto; 2012).
                                       
Pemandangan gunung menceritakan banyak hal
Gambar yang terdiri dari dua gunung dan satu matahari sudah menjadi gambar yang dapat menceritakan berbagai hal. Yaitu suasana alam yang diantaranya terdapat dataran rendah, dataran tinggi, daerah pegunungan, daerah pesawahan, hutan, jalan, suasana pagi dan sebagainya. Sebuah garis lurus yang menjadi garis dasar menjadi dasar yang mudah dibuat sebagai awalan untuk menggambar. Garis ini dapat mewakili area persawahan, jalan dan dataran rendah di bawah gunung. Bentuk segitiga merupakan perwakilan gambar gunung yang mudah dibuat bagi anak. Hanya dengan membuat gambar segitiga sudah dapat dikatakan gunung yang padahal dalam keadaan sebenarnya gunung memiliki permukaan yang dan isi yang rumit. Digambarkan dua gunung sebab jumlah gunung yang lebih dari satu buah sudah dapat dikatakan sebagai pegunungan, hal ini berkaitan dengan keadaan di Indonesia yang memiliki banyak gunung. Sedangkan gambar sebuah matahari merupakan cerminan suasana dipagi hari ketika matahri terbit. Hal ini tentu sering dilihat oleh anak yang setiap pagi bersekolah (di daerah pedesaan). Selain itu jika semisal letak gambar matahari tidak terdapat di tengah-tengah dua gunung maka komposisinya kurang bagus. Matahari yuang terdapat di tengah gunung menjadi gambar yang simetris, yaitu salah satu dari prinsip keseimbangan dalam nirmana yaitu keseimbangan setangkup.

4. Keadaan alam Indonesia dan anggapan masyarakat tentang gunung
Gambar yang sudah banyak dicontohkan oleh guru di Indonesia ini tentu berasal dari tradisi turun menurun yang telah diajarkan pada masa sebelumnya. Keadaan alam di Indonesia yang kaya dengan kekayaan alamnya tidak terlepas dari keberaaan gunung berapi. Banyaknya gunung yang ada di Indonesia menjadi pemandangan alam yang mudah dijumpai terutama di daerah pedesaan. Terlebih lagi pada masa dahulu sebelum munculnya banyak bangunan gedung yang besar dan terbentuknya suasana kota yang mendominasi. Keadaan tersebut menjadi pemandangan yang indah di Indonesia, apalagi besarnya ukuran gunung itu sendiri lebih mudah terlihat penampakannya oleh ukuran seorang manusia. Sedangkan masyarakat lokal sejak zaman dahulu menganggap (terutama yang aktif) sebagai tempat pencarian spiritual/ghaib atau kontemplasi dengan zat tertinggi (Yuli; 2012).
Kemegahan gunung

Yuli juga mengatakan bahwa gunung dilambangkan sebagai simbol kekuasaan, ketuhanan, spiritual, kesuburan, kemarahan, dan lain sebagainya. Seperti halnya dalam pagelaran wayang kulit, gunungan menjadi pembuka dalam setiap sesi dan juga penutup. Gunungan juga menjadi perwakilan atas hutan belantara, kemarahan (api) dan lain sebagainya. Seharusnya yang disadari masyarakat adalah bahwa masyarakat yang survive dengan segala tantangannya bersama nenek moyang pendahulu. Fenomena gunung yang telah menjadi persepsi yang berarti bagi masyarakat Indonesia menjadikan gambar gunung terdapat dimana-mana. Bahkan dalam simbol profinsi Jawa Tengahpun terdapat gambar gunung kembar yang memiliki arti persatuan antara rakyat dan pemerintah daerah (Livanda; 2012). Keadaan alam yang seperti itu sering dijumpai masyarakat Indonesia apalagi masyarakat yang pagi hari sering berangkat bekerja dapat melihat suasana gunung dan matahari yang sedang terbit.
Gambar ini bisa disebut sebagai gambar tradisional di Indonesia. Hal ini dikarenakan di Indonesia gambar ini sudah di tularkan secara turun temurun sejak dahulu. Gambar yang menjadi cerminan keadaan alam Indonesia ini menjadi cirikhas budaya Indonesia yang pada kehidupannya tergantung dengan alam. Meskipun di negara lain juga terdapat gambar tersebut namun tidak seperti di Indonesia yang membumi nusantara.


Sumber:
  1. Aikonia. 2012. http://aikon2.com/hub/?p=1790
  2. Ilham Yuli Isdayanto. 2012 http://sosbud.kompasiana.com/2012/03/26/gunung-berapi-dan-simbol-budaya-bangsa/
  3. Najib Livanda. Sumber: Serial Salam Sahabat Nusantara Jawa Tengah
  4. http://najib-slankscooteris.blogspot.com/
  5. Nofianto, Imam. Fenomena Pola Gambar Dua Gunung pada Anak Usia TK & SD. 2012. http://nofianart.blogspot.com/2012/02/fenomena-pola-gambar-dua-gunung-pada.html

Cara anak menggunakan warna dalam gambar

Ada tiga cara pemakain warna yang digunakan anak kecil dalam gambarnya yaitu:
1. Pemilihan warna secara random dilakukan pada anak pada tahap goresan dan prabagan. Warna yang digunakan sama sekali tidak ada hubungannya dengan warna obyek yang digambar.
Pewarnaan secara acak
Karya ini diwarnai oleh anak yang berusia empat setengah tahun. Pada saat mewarnai anak ini mengambil warna tanpa mempertimbangkan mana warna yang bagus atau tidak, atau bahkan mana warna yang tepat. Pengambilan crayon warna secara asal-asalan menunjukkan pemilihan warna dilakukan secara acak.

2. Penentuan warna secara emosional artinya pemilihan warna yang berfungsi mewakili cetusan perasaan penggambarnya.
Pewarnaan secara emosional
Karya ini diwarnai secara emosional, yang paling tampak adalah pada pekarangan bunga diblok dengan warna merah. Meskipun bunga pada pekarangan sudah diwarnai kuning dan rumputnya seharusnya adalah hijau tetapi rumput ini tetap harus merah demi menggoreskan warna merah. Rumah pada gambar ini juga diblok dengan warna merah muda, tidak menghiraukan warna detail akan tetapi warna merah muda sudah menjadi perwakilan perasaannya.

3. Pemilihan warna secara serebral adalah cara anak dalam memilih warna berdasarkan pertimbangan akal. Cara ini bermula sejak masa bagan.
Contoh karya yang diwarnai dengan cara ini:
Pewarnaan secara serebral
Karya ini adalah karya milik anak yang telah berusia sembilan tahun, usianya telah memasuki masa bagan. Pemanahan tentang warna realita sudah dipahami dan diterapkan pada gambar ini.

Cara Anak Menciptakan Kesan Ruang dalam Gambar

Anak memiliki cara tersendiri dalam membuat perspektif garis dan warna, yaitu:
  1. Cara penumpukan yaitu dengan menyusun obyek-obyek disebelah atas bidang yang letaknya jauh untuk memperoleh kesan ruang.
  2. Cara perebahan yaitu obyek berhadapan direbahkan ke bawah dan ke atas atau ke kiri dan ke kanan seakan-akan penggambar berada di tengah obyek.
  3. Cara perspektif burung yaitu obyek tidak saling menghalangi berbentuk seperti denah seakan-akan penggambar terbang di atas obyek yang digambar.

Contoh Kritik seni terhadap lukisan anak-anak


Judul : Rumah
Karya : Sahal
Tahun : 2009
Media : crayon
Karya lukisan crayon dengan judul “rumah” ini merupakan lukisan yang menggunakan objek visual sehari-hari. Sahal tidak lagi menggunakan simbol-simbol seperti lingkaran atau segitiga untuk mengekspresikan apa yang dimaksud. Sahal dengan usia delapan tahun telah mengalami perkembangan menggambar tahap skema, sehingga ia mengambarkan suatu objek dengan lengkap, misalnya saja pada objek rumah yang lengkap dengan pohon-pohon disekitarnya. Sesuai dengan judul lukisannya, ia menggunakan objek utama yaitu rumah dengan penampilan yang lebih besar dari objek-objek lainnya. Bentuk rumah yang besar ini merupakan deminasi yang bertujuan untuk menonjolkan objek utamanya yaitu rumah. Sedangkan untuk ukuran rumah dan objek-objek berupa perabot di dalamnya merupakan pengukuran yang tepat untuk seusianya. Di balik gambarnya apa yang dipikrkan Sahal ditampakan sebagai objek pula, yaitu benda-benda yang terdapat di dalam rumah diperlihatkan, seperti kursi, meja serta lampu.
Sesuai dengan usianya, Sahal banyak menggunakan warna-warna ceria yang masih asli. Artinya tidak menggunakan warna-warna campuran sebagai variasi, adapun penggunaan variasi adalah pada perpaduan keserasian warna yang tampak sekali pada awan yang dibuatnya. Warna biru muda dijadikan Sahal sebagai warna dominan telah diserasikan dengan warna biru tua pada bagian tengahnya. Hal ini merupakan langkah kreatif untuk membuat tampilan awan menjadi menarik sekalipun warna awan sebenarnya adalah putih. Sedangkan warna merah cerah digunakan untuk mewarnai genteng rumah yang menjadi tampilan utama dalam lukisan ini. Tampaknya warna dasar putih pada kertas tidak di warnai oleh Sahal demi menonjolkan objek-objek yang dibuatnya.
Jika dilihat dari isi rumahnya kelihatannya rumah ini merupakan rumah yang mewah. Bentuk perabot seperti kursi, meja dan lampu sudah mewakili perabot yang sangat indah jika dibandingkan dengan realita di rumah Sahal. Memang anak-anak pada umumnya ingin menggambarkan sesuatu yang indah. Dilanjutkan lagi dengan fasilitas kolam renang yang terdapat di luar ruangan rumah, lengkap dengan tangga untuk jummping serta tangga untuk naik ke permukaan air. Sekalipun tampak ditampilkan kecil namun tetap mendapat perhatian, hal ini menunjukkan bahwa rumah yang digambar Sahal adalah rumah yang besar dan mewah.
Gagasan rumah mewah dengan segala fasilitas dan perabotnya merupakan ide yang menarik. Imajinasi Sahal diungkapkan betul dalam lukisan ini, sehingga menghasilkan ekspresi ungkapan yang polos dan jujur. Penggambaran taman beserta suasana langit yang cerah mencerminkan kenyamanan pada rumah ini. Penggunaan teknik crayon memang belum matang dikuasai namun sudah baik jika dilihat dari media crayon yang padat dan cukup sabar dalam penggoresan. Pada umunya anak-anak sesusia Sahal memang belum begitu mahir dan malas ketika harus mewarnai background yang begitu luas, sehingga kekosongan warna dalam gambar ini merupakan kekurangan yang ringan.
Dari keseluruhan yang dapat dilihat, lukisan berjudul “rumah” ini merupakan lukisan yang kreatif. Banyak menggunakan detail-detail gambar yang bervariatif dan imajinatif. Hanya saja, detail-detail tersebut terlalu kecil untuk ditampilkan. Maklum saja perkembangan menggambar Sahal masih terpengaruh pada ungkapan menggambar perspektif burung serta perebahan. Jika penggarapannya lebih serius mungkin akan lebih baik dan indah sebagai lukisan crayon anak-anak.