Showing posts with label kesenian. Show all posts
Showing posts with label kesenian. Show all posts

Tuesday, July 21, 2020

Unsur-unsur Budaya

Para ahli antropologi membagi unsur kebudayaan ke dalam sepuluh unsur yakni teknologi, keluarga, system ekonomi, kekuasaan politik, system norma, alat dan lembaga pendidikan, serta organisasi kekuasaan. Sementara itu seorang ahli bernama C.Kluckhohn membagi unsur kebudayaan menjadi tujuh yaitu:

1. Sistem kepercayaan/Religi
Sebelum berkembangnya agama, system kepercayaan erat kaitannya dengan hal yang bersifat transenden atau diluar kuasa manusia seperti dewa-dewa atau roh nenek moyang. Masyarakat yang menganut suatu system kepercayaan terikat pada aturan yang ada dalam system kepercayaan tersebut. Diyakini pelanggaran terhadap aturan tersebut akan membawa kemalangan baik bagi dirinya maupun anggota masyarakat lainnya.
Semakin banyak jumlah masyarakat yang menganut suatu system kepercayaan di suatu daerah maka semakain identic pula daerah tersebut dengan system kepercayaan yang bersangkutan. Contoh mayoritas masyarakat di Bali menganut agama Hindu maka pulau Bali identik dengan agaa Hindu.

2. Sistem pengetahuan
Suatu masyarakat umumnya memiliki system pengetahuan yang disepakati dan dipahami oleh setiap anggota masyarakat. Contohnya system pengetahuan yang dikenal di berbagai belahan dunia yaitu waktu dan system kalender. Sistem kalender yang digunakan di dunia adalah kalender Masehi dan Hijriah. 

3. Sistem teknologi
Secara sederhana teknologi dapat dimaknai sebagai penemuan yang bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan manusia. Teknologi berkembang sesuai perkembangan zaman. Semakin canggih teknologi semakin baik pula hasil pekerjaan yang diperoleh. Pada zaman batu manusia menggunakan batu, pada zaman perunggu manusia menggunakan perunggu untuk membuat perkakas rumah tangga, pada zaman modern teknologi semakin  maju di masa Reinaisans, pada masa sekarang berubah lagi menjadi era digital. Perkembangan teknologi turut membawa perubahan bagi masyarakat. Teknologi yang semakin maju membuat manusia tidak lagi harus bekerja keras untuk mencapai suatu tujuan.

4. Sistem kemasyarakatan
Ssitem kemasyarakatan yang dianut masyarakat berkitan erat dengan system religi, latar belakang kesukuan, derajat dan tempat tinggal. Berdasarkan derajat dalam masyarakat dibedakan menggunakan system kasta. Kasta tertinggi untuk pemuka agama dan bangsawan. Kasta terendah untuk rakyat jelata. Berdasarkan profesi masyarakat dibedakan menjadi pemilik modal dan pekerja. Berdasarkan tempat tinggal dibedakan tingkatan wilayah RT, RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten atau kotamsdya, dan provinsi.
Di Indonesia system kemayarakatan yang banyak dipakai adalah system paguyuban yang mengubungkan kesamaan lata belakang keluarga, suku bangsa dan tempat tinggal, sedangkan system patembayan mengubungan kesamaan kepentingan misalnya hubungan antara pegawai dan dan pemimpin di tempat kerja.

5. Sistem ekonomi
Sistem ekonomi yang disepakati masyarakat pada zaman dulu adalah barter atau tukar menukar barang. Setelah ada mata uang kini transaksi dapat menggunakan jasa perbankan, seperti transfer, cek dan giro. Sistem eknomi tidak hanya berkisar pada mata yang saja tetapi juga pada pasar. Dahulu jual beli harus bertatap muka, kini dapat dilakukan dengan media elektronik maupun internet.

6. Bahasa
Bahasa dapat disebut sebagai kunci kebudayaan karena menjadi alat komunikasi paling esensial bagi manusia. Bahasa yang digunakan dalam suatu komunitas harus dipahami oleh anggota komunitas tersebut. Sebelum adanya aksara, manusia berkomunikasi dengan bahasa simbol baik suara, gambar, maupun gerakan tubuh. Setiap bahasa menjadi identitas suatu masyarakat.

7. Kesenian
Bentuk-bentuk kesenian berkembang di masyarakat sangat beragam mulai dari seni rupa, seni arsitektur, seni music, seni tari, hingga seni pertunjukan. Setiap bentuk yang lahir di masyarakat mencerminkan ciri khas masyarakat dan menambah keragaman budaya di suatu tempat tertentu.

Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Wednesday, March 25, 2020

Kebudayaan: Unsur-unsur kebudayaan

Mempelajari unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah kebudayaan sangat penting untuk memahami beberapa unsur kebudayaan manusia. Kluckhon dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture membagi kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia dari sistem kebudayaan yang sederhana seperti masyarakat pedesaan hingga sistem kebudayaan yang kompleks seperti masyarakat perkotaan. Kluckhon membagi sistem kebudayaan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal atau disebut dengan kultural universal.

Menurut Koentjaraningrat, istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut adalah bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup, sistem religi, serta kesenian.

Berikut ini akan diuraikan setiap unsur kultural universal.
1. Sistem Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam ilmu antropologi, studi mengenai bahasa disebut dengan istilah antropologi linguistik. Menurut Keesing, kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara simbolik, dan mewariskannya kepada generasi penerusnya sangat bergantung pada bahasa. Dengan demikian, bahasa menduduki porsi yang penting dalam analisa kebudayaan manusia.

2. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia. Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya. Namun, yang menjadi kajian dalam antropologi adalah bagaimana pengetahuan manusia digunakan untuk mempertahankan hidupnya. Misalnya, masyarakat biasanya memiliki pengetahuan akan astronomi tradisional, yakni perhitungan hari berdasarkan atas bulan atau benda-benda langit yang dianggap memberikan tandatanda bagi kehidupan manusia.
Masyarakat pedesaan yang hidup dari bertani akan memiliki sistem kalender pertanian tradisional yang disebut sistem pranatamangsa yang sejak dahulu telah digunakan oleh nenek moyang untuk menjalankan aktivitas pertaniannya. Menurut Marsono pranatamangsa dalam masyarakat Jawa sudah digunakan sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sistem pranatamangsa digunakan untuk menentukan kaitan antara tingkat curah hujan dengan kemarau. Melalui sistem ini para petani akan mengetahui kapan saat mulai mengolah tanah, saat menanam, dan saat memanen  hasil pertaniannya karena semua aktivitas pertaniannya didasarkan pada siklus peristiwa alam.

3. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi sosial merupakan usaha antropologi untuk memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan dasar adalah kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain. Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke dalam tingkatan-tingkatan lokalitas geografis untuk membentuk organisasi sosial dalam kehidupannya.
Kekerabatan berkaitan dengan pengertian tentang perkawinan dalam suatu masyarakat karena perkawinan merupakan inti atau dasar pembentukan suatu komunitas atau organisasi sosial. Perkawinan diartikan sebagai penyatuan dua orang yang berbeda jenis kelamin untuk membagi sebagian besar hidup mereka bersamasama. Namun, definisi perkawinan tersebut bisa diperluas karena aktivitas tersebut mengandung berbagai unsur yang melibatkan kerabat luasnya.

4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan manusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai suatu masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan fisik.
Menurut Koentjaraningrat, pada masyarakat tradisional terdapat delapan macam sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik yang digunakan oleh kelompok manusia yang hidup berpindah-pindah atau masyarakat pertanian, antara lain sebagai berikut. Alat-Alat Produktif,  Senjata Wadah, Alat-Alat Menyalakan Api Makanan, Minuman, Bahan Pembangkit Gairah, dan Jamu-jamuan, Pakaian dan Tempat Perhiasan, Tempat Berlindung dan Perumahan, Alat-Alat Transportasi.

5. Sistem Ekonomi/Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi. Penelitian etnografi mengenai sistem mata pencaharian mengkaji bagaimana cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain
a. berburu dan meramu;
b. beternak;
c. bercocok tanam di ladang;
d. menangkap ikan;
e. bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi.
Lima sistem mata pencaharian tersebut merupakan jenis mata pencaharian manusia yang paling tua dan dilakukan oleh sebagian besar masyarakat pada masa lampau dan pada saat ini banyakmasyarakat yang beralih ke mata pencaharian lain. Mata pencaharian meramu pada saat ini sudah lama ditinggalkan karena terbatasnyasumber daya alam karena semakin banyaknya jumlah penduduk.

6. Sistem Religi
Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Dalam usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaan mereka masih primitif. 
Kajian antropologi dalam memahami unsur religi sebagai kebudayaan manusia tidak dapat dipisahkan dari religious emotion atau emosi keagamaan. Emosi keagamaan adalah perasaan dalam diri manusia yang mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religius. Emosi keagamaan ini pula yang memunculkan konsepsi benda-benda yang dianggap sakral dan profan dalam kehidupan manusia.
Salah satu unsur religi adalah aktivitas keagamaan di mana terdapat beberapa aspek yang penting untuk dilakukan dalam aktivitas tersebut. Unsur tersebut, antara lain sebagai berikut.
a. Tempat dilakukannya upacara keagamaan, seperti candi, pura, kuil, surau, masjid, gereja, wihara atau tempat-tempat lain yang dianggap suci oleh umat beragama.
b. Waktu dilakukannya upacara keagamaan, yaitu hari-hari yang dianggap keramat atau suci atau melaksanakan hari yang memang telah ditentukan untuk melaksanakan acara religi tersebut.
c. Benda-benda dan alat-alat yang digunakan dalam upacara keagamaan, yaitu patung-patung, alat bunyi-bunyian, kalung sesaji, tasbih, dan rosario.
d. Orang yang memimpin suatu upacara keagamaan, yaitu orang yang dianggap memiliki kekuatan religi yang lebih tinggi dibandingkan anggota kelompok keagamaan lainnya.   Misalnya, ustad, pastor, dan biksu. Dalam masyarakat yang tingkatreliginya masih relatif sederhana pemimpin keagamaan adalah dukun, saman atau tetua adat.

7. Kesenian
Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni pada kebudayaan manusia lebih mengarah pada teknikteknik dan proses pembuatan benda seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga meneliti perkembangan seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat.
Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni lukis, dan seni rias. Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern adalah film, lagu, dan koreografi.

Tuesday, August 23, 2016

Ketika Kesenian Modern muncul...


Ketika kesenian modern muncul, terdapat unsur-unsur yang mendukung dan tetap bertahan untuk tradisional. Berikut penjelasannya:

Perubahan budaya (Cultural Cahnge) terjadi manakala kebudayaan itu sudah tidak dianggap lagi fungsional sebagai rujukan hidup. Kebudayaan dalam perkembangannya dapat dilestarikan dengan baik atau justru menjadi berubah. Kebudayaan itu akan dilestarikan jika nilai-nilai yang ada didalamnya tetap dipertahankan, namun kebudayaan itu akan berubah jika adanya pengembangan nilai-nilai yang baru. Kebudayaan yang tetap merupakan kebudayaan tradisional sedangkan kebudayaan yang telah berubah merupakan kebudayaan modern.
Perubahan kebudayaan yang terdiri dari unsur-unsur kebudayaan diantaranya ada unsur-unsur yang mendukung dan unsur-unsur yang tidak mendukung. Artinya kebudayaan itu tetap menjadi kebudayaan yang bersifat tradisional.
1. Ketika kesenian modern itu muncul, unsur-unsur yang mendukung dalam kebudayaan itu antara lain dapat dilihat dari sistem teknologi, pengetahuan, mata pencaharian, sosial serta ekonomi.
Perkembangan teknologi yang merujuk pada kemudahan dalam mengerjakan sesuatu membuat perubahan keterlibatan manusia. Campur tangan manusia yang lebih kepada sistem manual sudah semakin ditinggalkan karena banyakanya segala sesuatu yang berkembang dalam bidang teknologi. Akibatnya tindakan-tindakan dalam berksenianpun banyak yang sudah dipermudah dengan bermacam ketersediaan alat. Hal ini bersifat memanjakan dan dampaknya manusia ingin meraih sesuatu yang lebih praktis lagi. Contohnya ketika menecat sudah tidak menggunakan kuas dan cat lagi namun beralih menggunakan pewarnaan dari program Photosop atau Coral Draw dan menggunakan mesin printer sebagai pencetaknya.
Pengetahuan akan teknologi yang mendalam membuat manusia meninggalkan ilmu-ilmu tradisional yang diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun. Pengetahuan manusia yang makin bertambah dan cerdas membuat penemuan-penmuan baru dalam melakukan sesuatu. Selain itu pengetahuan yang membimbing manusia ke arah yang lebih baik membuat manusia meninggalkan ilmu-ilmu dari para leluhur yang dianggap salah atau tidak masuk akal. Sebab orang zaman dahulu dan sekarang tentu lebih pandai orang pada zaman sekarang. Meskipun terkadang ada pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dari warisan leluhur namun ketika manusia menemukan pengetahuan yang lebih baik lagi maka ia akan mempelajari lebih dalam lagi dan semakin tidak menggunakan ilmu leluhur mereka. Contohnya melukis menggunakan bulu adalah pengetahuan yang dari orang dahulu, namun kemudian muncul pengetahuan bahwa adanya bulu tertentu yang lebih baik digunakan, cara mengkuaskan, bahan dan sebagainya.
Mata pencaharian orang zaman sekarang dan mata pencaharian orang zahulu sangat berbeda. Sekarang kehidupan lebih baik, pada umunya orang-orang memiliki pekerjaan yang lebih mudah. Hal ini berdampak pada perekonomian mereka yang lebih makmur daripada dahulu. Kesenian modern yang merupakan kesenian yang tumbuh pada masa sekarang dipengaruhi pula oleh kedua sistem ini. Kesenian-kesenian yang dianggap tidak berfungsi dalam kehidupan tidak dipandang sebagai sesuatu yang penting lagi. Jika orang dahulu suka memanfaatkan gerabah sebagai wadah untuk mengambil air atau apapun itu, kini sudah tidak banyak lagi yang menggunakan. Mata pencaharian penjual gerabah sudah jarang sebab ada pekerjaan-pekerjaan yang lain jauh lebih baik. Demikian pula pada kesenian ketoprak yang kini juga tidak seheboh dahulu. Kehidupan manusia sudah tidak seperti dulu lagi yang mengenakan bermacam pakaian tradisional dan cerita tradisional pula. Kini manusia merupakan manusia modern yang bersetting hiruk pikuk dan berlatar kesibukan.
Tidak lepas pada sistem sosial, keadaan manusia yang berubah status sosialnya menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh pada kesenian. Manusia yang hidup dan berinteraksi pada sesamanya dapat merubah tingkah laku serta selera yang mereka punya. Anggapan baik atau tidak, menarik atau tidak kini bukan menjadi selera lokal lagi namun menjadi selera antar negara dan meluas menjadi mendunia. Persepsi-persepsi baru akan muncul dalam lingkungan sosial dan menjadi dampak pada perubahan kesenian dan kebudayaan yang ada. Contohnya ketika kesenian baju adat kebaya menjadi selera orang-orang Jawa kemudian ketika berkembang dan diketahui banyak orang menjadi kebaya yang bermacam-macam model, bahkan di negara barat telah berubah menjadi gaun yang besar dan mewah.
Keberadaan seni tradisi di era globalisasi dihadapkan kepada sejumlah tantangan yang cukup kompleks. Menurut Prof. Waridi, tentang tantangan-tantangan yang dihadapi seni tradisi saat ini yaitu:
a) Kontinuitas pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi dari waktu ke waktu cenderung semakin menipis. Artinya telah terdapat kecenderungan diskontinuitas di tingkat apresiasi dan pemahaman.
b) Kurang tersedianya ruang dan sarana yang cukup bagi masyarakat/ anak-anak muda untuk mendapat kesempatan mengapresiasi seni tradisi secara serius. 
c) Belum terjadi proses internalisasi unsur-unsur seni tradisi secara wajar, sinambung, dan sistemik dalam usia anak dini dan remaja.
d) Sebagian seni tradisi cenderung tampil kurang menggairahkan, karena dalam keadaan lesu darah.
e) Berhadapan dengan kebudayaan seni pop yang dipandang dapat mencitrakan gejolak emosi anak muda (siswa remaja).
f) Munculnya kekuatan kapitalis yang bergerak dalam industri budaya, cenderung memberi ruang sangat luas terhadap jenis-jenis seni populer. Secara realitas kekuatan ini sulit untuk dihindari dan masyarakat seni tradisi tidak memiliki kekuatan untuk mengimbanginya.
g) Seni tradisi lebih dipandang dan dicitrakan sebagai seni masa lalu yang kurang mencitrakan kemodernan. Bila demikian terdapat sesuatu yang agak menggelisahkan, yakni kemungkinan munculnya suatu persepsi yang memandang, bahwa seni populer dalam perspektif umum dijadikan sebagai ukuran atau standar mutu keberadaan sebuah seni termasuk festival-festival atau kontes-kontes pada suatu bangsa. Tanda-tanda ini mulai muncul di Indonesia, yakni penilaian yang didasarkan atas banyaknya dukungan yang masuk terhadap seseorang atau sekelompok orang yang berdampak langsung terhadap dimenangkannya seseorang dalam suatu kontes kesenian. Tindakan semacam ini secara jelas telah terdapat upaya-upaya dari sekelompok orang untuk menggeser persoalan subjektivitas kesenian ke arah objektivitas publik. 
Pada dasarnya kesenian yang dianggap manusia tidak bermanfaat atau dianggapa tidak memiliki fungsi esetis lagi akan ditinggalkan. Misalnya pada sesuatu yang tidak masuk akal lagi atau sesuatu yang terlalu sederhana atau esuatu yang tidak menggairahkan lagi. Demikian seiring munculnya kesenian modern yang merupakan penciptaan dari setiap zaman yang menjadi selera orang-orang pada masa itu dan sesuai kebutuhan pada masa itu pula.

2. Ketika kesenian itu tetap bertahan sebagai kesenian tradisional, unsur-unsur yang mendukung yaitu pada sistem religi/kepercayaan, bahasa, serta nilai-nilai dalam masyarakat.
Kepercayaan merupakan suatu keyakinan yang belum tentu dapat  dibuktikan dengan pengetahuan, kepercayaan yang kuat akan membuat keyakinan yang kuat pula. Pada masa sebulmnya manusia hidup penuh dalam lingkup kepercayaan-kepercayaan nenek moyang, namun selanjutnya berubah menjadi sistem religi berupa bermacam-macam agama. Akan tetapi kebiasaan yang ditularkan oleh nenek moyang mereka tidak seluruhnya ditinggalkan. Meskipun mereka menganut agama baru, namun ada beberapa kepercayaan yang masih melekat pada keyakinan mereka. Ketika kepercayaan ini berupa kesenian visual makan kesenian ini tidak akan ditinggalkan meskipun zaman telah berubah. Apalagi jika sudah menjadi tradisi dan memberi keyakinan akan peruntungan dalam hidup.
Sistem normapun menjadi panutan dalam kesenian itu. Ketika sebuah kesenian mengandung nilai-nilai luhur tertentu dan dianggap sebagai sesuatu yang berharga, maka tidak ada yang rela jika kesenian itu musnah begitu saja. Apalagi jika keseian itu merupakan sejarah dari suatu kelompok manusia, tentu kesenian itu menjadi aset yang berharga. Contohnya pada batik yang kini dilestraikan secara besar-besaran dan diakui dengan tegas. Nilai-nilai pada batik amat berharga dan beragam, menjunjung nilai-nilai kehidupan yang menjadi fungsional pada para pemakainya.
Tradisionalpun tidak lepas dari bahasa yang merupakan bahasa asli, bahasa lokal suatu daerah atau tempat. Sebuah kesenian tertentu pasti memiliki arti dan penerjemahan yang khas berdasarkan daerah asalnya. Bahasa memang dapat berubah berdasarkan perubahan zaman, namun bahasa asli masih dapat bertahan dan menjadi sesuatu yang biasanya tetap dilestarikan. Apalagi jika bahasi itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ketika menjadi sebuah kesenian akan lebih bermakna pada orang-orang yang mengetahui bahasa itu, sehingga lebih bermakna dan tidak ingin melepasnya begitu saja. Contohnya saja kesenian bahasa pada geguritan yaitu puisi dalam bahasa Jawa. Kesenian ini akan tetap dipertahankan dan agak sulit untuk berubah menjadi kesenian yang modern. Sebab dari bahasanya sudah meruapakn bahasa daerah yang asli, belum lagi makna dan sastra yang terkandung di dalamnya menjadi nilai-nilai yang sangat tinggi bagi orang Jawa.