Showing posts with label resensi seni. Show all posts
Showing posts with label resensi seni. Show all posts

Monday, January 11, 2021

Tujuan Resensi Seni

Resensi seni bertujuan pokok memahami seni agar mendapatkan kenikmatan estetis. Karya seni dapat berupa artefak atau hasil ciptaan manusia yang memiliki dimensi permukaan dan memiliki dimensi substansi. Dalam dunia ini, sebenarnya terdapat tiga aspek kehidupan seni, yaitu aktivitas berkreasi karya seni, aktivitas penghayatan, dan aktivitas kritik seni. Ketiga aktivitas tersebut tidak bisa saling dipisahkan. Melalui ketiga aspek tersebut, terlihat bahwa tujuan resensi seni meliputi beberapa hal, di antaranya:

1 . memahami karya seni;

2. ingin menemukan suatu cara untuk mengetahui latar belakang penciptaan suatu karya seni;

3. memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat karya seni;

4. mampu menyatakan baik dan buruknya sebuah karya secara komprehensif;

5. menyediakan informasi dan pemahaman yang berkaitan dengan mutu karya seni;

6. serta menumbuhkan apresiasi dan tanggapan terhadap karya seni bagi para penikmat karya seni yang bersangkutan.

Gambar 9.1 Melalui resensi seni, seseorang dapat memaknai pesan yang terkandung dalam suatu karya, seperti lukisan berjudul Menu Hari Ketujuh karya Sapto Sugiyo.


Manfaat Resensi Seni

Secara garis besar, resensi seni memiliki dua manfaat. Manfaat pertama adalah sebagai jembatan atau mediator antara pencipta dan penikmat karya seni serta antara karya seni itu sendiri dengan penikmatnya. Manfaat ini menjadi penting karena tidak semua penikmat dapat mengetahui dengan pasti pesan tersirat yang hendak disampaikan dan dikomunikasikan oleh pencipta melalui karya-karyanya. Manfaat yang kedua adalah menjadi evaluasi diri bagi pencipta untuk berkarya secara terus-menerus. Semua bentuk kritik dan saran merupakan umpan balik yang sangat berharga untuk memperbaiki karya seninya di masa mendatang.

Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Syarat melakukan Resensi Karya Seni

Sebuah karya seni diciptakan dalam latar belakang yang berkaitan dengan kehidupan seniman, seperti kondisi sosial, politik, dan kebudayaan yang melingkupinya. Sebuah karya seni juga memiliki dimensi bentuk dan sisi. Dimensi bentuk sangat variatif dari segi corak, gaya, dan perkembangannya, baik dari periode sejarah masa lampau maupun dari masa sekarang. Selain itu, dimensi isi makna yang tidak terlihat juga sulit untuk ditafsirkan.

Oleh karena itu, agar menghasilkan bobot penilaian yang baik, seseorang yang melakukan resensi harus memiliki beberapa syarat, di antaranya:

1. memahami sejarah seni rupa, kesenian, dan kebudayaan;

2. harus berpengalaman mengamati karya secara langsung

(otentik), bukan dari repro atau slide;

3. mengetahui dan memahami benar peristilahan (diksi), gaya seni, fungsi seni, opini seniman, dan pakar tentang estetika secara periodik;

4. mengetahui teknik artistik dalam berbagai media;

5. memiliki cita rasa yang terbuka, dalam artian memiliki kapasitas menghargai kreativitas artistik yang beragam;

6. dapat membedakan niat artistik dan pencapaian artistik seniman dalam berkarya;

7. harus objektif dan tidak subjektif (mampu melawan bias simpati terhadap seniman);

8. memiliki sensibilitas kritis saat menghadapi karya yang beragam; serta

9. memiliki temperamen yudisial berdasarkan data yang akurat.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Konsep dan Hakikat Resensi Seni

Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya seni.   Karya seni sangat perlu untuk dinilai demi mengetahui kualitas-kualitas yang ada di dalamnya. Karya seni merupakan sebuah benda yang diciptakan oleh seorang desainer ataupun seniman melalui kreativitas, imajinasi, dan pemikirannya sehingga menampilkan bentuk yang indah. Karya seni rupa yang akan diresensi dapat berupa karya dua dimensi ataupun tiga dimensi, seni murni ataupun karya terapan dapat berupa karya dua simensi ataupun tiga dimensi, karya seni murni ataupun karya terapan. Karya seni murni dapat seni patung dan seni lukis, sedangkan contoh karya seni terapan adalah gedung, meja, kursi, dan perabot rumah tangga. Karya seni merupakan cerminan ekspresi jiwa, nilai-nilai, gagasan, cita-cita atau pandangan seniman penciptanya.

Tujuan dari kegiatan meresensi karya seni adalah untuk  kualitas karya seni yang bersangkutan. Nilai  sesuatu yang paling berharga pada karya seni. Karya seni mengandung dua jenis nilai, yaitu nilai bentuk dan nilai   bentuk terlihat pada bentuk-bentuk yang kasat mata, seperti bahan, warna, tekstur, dan teknik yang digunakan. Sementara itu, nilai makna atau nilai kualitas sangat tergantung keselarasan antara wujud atau rupa (appearance) atau isi (content, substance). Wujud terdiri atas bentuk dan susunan atau struktur unsur-unsur rupa. Sementara itu bobot atau isi adalah suasana, gagasan, atau pesan yang ingin disampaikan.

Seseorang akan dapat menilai karya seni jika ia memiliki kesadaran akan potensi keindahan yang terdapat pada sebuah karya seni. Kesadaran itu muncul apabila seseorang memiliki minat dan keinginan untuk mendapatkan sebuah keindahan benda. Hal yang paling pokok dalam melakukan resensi adalah perlunya pengetahuan dan wawasan yang luas tentang proses berkarya, sejarah, dan estetika. Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah seniman harus memiliki kepekaan estetis.

Proses resensi adalah serangkaian proses atau tahapantahapan dalam memperoleh kualitas nilai sebuah karya seni. Proses resensi dapat dilakukan secara serta-merta tanpa melalui prosedur yang sistematis. Ketika melihat karya seni rupa tiga dimensi, misalnya patung atau keramik, perasaan kita akan menjadi senang, bahkan terkagum-kagum. Respons yang kita  berikan tersebut sebenarnya adalah bentuk resensi yang kita lakukan, tetapi bersifat spontan. Respons tersebut muncul karena adanya keindahan dalam karya sehingga seseorang merasa senang. Respons tersebut juga merupakan sebuah apresiasi, atau sikap untuk menghargai dan menyadari nilai tersebut.

Namun, pada kenyataannya, sering kali masyarakat ketika menilai sebuah karya seni bersifat serta-merta sehingga penjelasan yang diberikan atas keputusan nilai yang diberikan tidak memadai sebagai bukti yang akurat. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya proses resensi yang dilakukan dengan menggunakan tahapan-tahapan yang jelas, prosedural, dan sistematis. Resensi tersebut sering disebut sebagai kegiatan kritik seni.

Kritik seni adalah aktivitas dalam rangka menilai sebuah karya seni melalui tahapan yang jelas agar hasil evaluasi dapat dipertanggungjawabkan. Resensi yang dilakukan terhadap karya seni memiliki arti yang sepadan dengan kritik. Istilah kritik sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, yaitu critic, yang bermakna mengecam, mengupas, dan membahas. Dalam bahasa Yunani, kata kritik berasal dari kata kritikos yang erat hubungannya dengan krinein, yang berarti memisahkan, mengamati, menilai, dan menghakimi.

Menyadari, mengerti, dan cermat mengamati segi-segi estetika dengan bekal ilmu pengetahuan serta kepekaan estetis menjadi sangat penting dalam melakukan resensi. Melalui ketiga cara tersebut, seseorang dapat menikmati dan menilai suatu karya dengan semestinya. Esensi akan mengimplikasikan seseorang untuk lebih menghargai sebuah karya seni.

Penyelidikan kualitas aspek benda memang harus sensitif karena setiap bentuk yang ditampilkan memiliki perbentukan yang harus dirasakan, diempati, dan dihayati agar getaran- getaran bentuk yang menyenangkan dapat diperoleh hati pengamat. Oleh karena itu, sangat tidak mudah bagi seseorang yang memiliki wawasan cukup, tetapi kurang sensitivitasnya, untuk dapat menilai karya seni secara proporsional. Pandangan yang objektif juga diperlukan. Keindahan dalam sebuah karya seni digali agar kita mendapatkan sebuah kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Penyelidikan kualitas aspek benda memang harus sensitif karena setiap bentuk yang ditampilkan memiliki perbentukan yang harus dirasakan, diempati, dan dihayati agar getarangetaran bentuk yang menyenangkan dapat diperoleh hati pengamat. Oleh karena itu, sangat tidak mudah bagi seseorang yang memiliki wawasan cukup, tetapi kurang sensitivitasnya, untuk dapat menilai karya seni secara proporsional. Pandangan yang objektif juga diperlukan. Keindahan dalam sebuah karya seni digali agar kita mendapatkan sebuah kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Sikap yang dihasilkan setelah melakukan resensi adalah sikap apresiatif. Pada dasarnya, apresiasi adalah bentuk jalinan komunikasi antara si pembuat karya seni (seniman) dan penikmat karya seni (apresiator). Dengan adanya komunikasi timbal-balik tersebut, kemampuan sang seniman dapat berkembang, semangat berkaryanya juga semakin tinggi, dan penikmat seni pun dapat menikmati karya-karya seni yang berkualitas. Melalui uraian-uraian tersebut, terlihat bahwa hasil yang diharapkan dari kegiatan resensi adalah munculnya sikap apresiasi dalam bentuk menghargai. Contoh sikap menghargai, di antaranya berkaitan dengan sejauh mana penikmat seni atau masyarakat memandang karya seni tersebut sebagai sesuatu yang penting, bernilai, berguna, dan bermanfaat. Ciri seseorang yang mengapresiasi karya seni adalah ketika ia menghormati pembuat/pencipta karya tersebut serta merawat dan menjaga karya seni tersebut.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.