Showing posts with label tenun. Show all posts
Showing posts with label tenun. Show all posts

Wednesday, October 20, 2021

Menganalisis Teknik- Teknik Penerapan Ragam Hias


Pernahkah kamu temukan kamu menemukan ragam hias yang sudah diterapkan pada suatu benda seperti benda pada gambar di bawah ini? Benda ragam hias dari bahan apa yang hampir setiap hari Kamu bisa jumpai di rumah? Apakah Kamu menyukai benda benda tersebut?

Untuk mengenal alat, bahan dan teknik penerapan ragam hias silahkan perhatikan secara seksama gambar di bawah ini!

Di bawah ini adalah proses penerapan ragam hias, silahkan teliti secara seksama! Apa yang dapat Anda pahami tentang proses yang dilakukan pada gambar tersebut?


Gambar 9A



Gambar 9B



Gambar 9C



Gambar 9D



Gambar 9E



Gambar 9F


Teknik Penerapan Ragam Hias pada Bahan Tekstil

1. Menyulam

Yaitu teknik memberikan hiasan pada kain dengan menggunakan alat jahit seperti jarum sulam, benang dan alat pemidangan. Bahan yang digunakan untuk menyulam berupa potongan logam, mutiara, manik-manik, puyet, dan lain-lain.

2. Membatik

Yaitu teknik menghias bahan tekstil dengan cara membuat motif/pola pada kain dengan bahan malam. Batik tulis membuat polanya dengan alat canting, batik cap membuat pola dengan cap. Proses pewarnaan untuk yang lebih dari satu warna dengan sistem tutup celup.

3. Sablon

Yaitu teknik membuat ragam hias pada bahan kain, plastik kertas atau bahan lain dengan terlebih dahulu membuat klise/film pada layar, sesuai dengan gambar yang kita kehendaki. Selanjutnya kita berikan warna pada gambar film yang telah kita buat dengan tinta sablon dan bantuan rakel untuk meratakan.

4. Tenun

Yaitu proses membuat kain dari helaian benang. Pada saat benang ditenun, pakan maupun lungi dicelupkan pada warna terlebih dahulu agar ketika menenun dapat terwujud motif dan warna yang diinginkan.

5. Bordir

Yaitu hiasan yang dibuat di atas kain dengan menggunakan jarum jahit dan benang. Perbedaanya dengan sulam terdapat pada alat yang digunakan yakni bordir menggunakan mesin sulam dengan manual tangan.

6. Songket

Yaitu teknik tenun dengan benang emas atau perak atau benang sutera warna, bentuk seperti sulaman namun proses pembuatannya bersamaan dengan proses menenun.


Sumber:

DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII Semester Genap. 2020.


Tuesday, August 23, 2016

Seni Rupa Terapan Nusantara


Apresiasi terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan Nusantara
    Pengertian apresiasi
Sikap apresiasi merupakan sikap menghargai suatu karya seni secara kritis sesuai dengan kaidah-kaidah yang berkaitan.

        Kaidah-kaidah Apresiasi
Sikap apresiasi perlu dilandasai kaidah-kaidah dari seni yang diapresiasi agar menjadi bersifat objektif.
Kaidah-kaidah tersebut terdiri dari kaidah teknis yaitu mencangkup unsur-unsure seni rupa dan prinsip-prinsip seni rupa, serta kaidah non teknis yang mencangkup sejarah, filosofi, dan sebagainya.

    Pengertian seni rupa terapan Nusantara
Seni terapan/seni pakai (applied art) adalah karya seni rupa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis. Contohnya yaitu seni arsitektur, keramik, baju, sepatu dan sebagainya.
Nusantara merupakan wilayah kesatuan negara republik Indonesia, sehingga seni rupa terapan nusantara merupakan seni pakai yang terdapat di daerah-daerah Nusantara.
(Daerah Nusantara dalam konteks luar daerah setempat)

    Contoh beberapa daerah Nusantara yang terdapat karya seni rupa terapan beserta seni terapannya:
      1. Tana Toraja
Seni arsitektur pada bangunan rumah Toraja yang unik dan menarik sebab bentuk dan ragam hias khas milik Toraja.
Seni kerajinan berupa pernak-pernik kalung dan aksesoris sebagai perlengkapan baju adat Toraja
Seni Tenun Toraja
Keistimewaan kain tenun Toraja adalah corak dan warnanya yang khas, berbeda dari kain tenun dari daerah lain di Indoneisa. Selain itu, bahan kainnya kuat namun tetap halus dan indah.
Pengrajinnya banyak ditemui di Tanah Toraja bagian Utara. Sampai sekarang para pengrajin tenun Toraja masih menggunakan alat tenun yang tradisional.
Alat tenun yang dipakai terbuat dari bahan kayu dan batang bambu. Selain pengrajin tenun, di Toraja Utara juga banyak terdapat  pengrajin pemintal benang. Alat pintal benang yang digunakan juga masih tradisional terbuat dari bahan kayu.
Kain tenun Toraja yang sudah jadi dapat dibuat menjadi beragam kerajinan seperti baju, kain, tas, taplak meja, dan lain sebagainya.
Kain tenun Toraja dapat dikenali dari motif, warna dan tekstur kainnya. Motif yang sering dibuat adalah motif garis-garis vertikal, burung, dan bunga. Sedangkan warna yang digunakan biasanya warna-warna gelap seperti hitam, cokelat, biru tua, dan merah. Tekstur kainnya ada yang halus dan ada juga yang agak kasar.
upacara adat dan panen
Kadang-kadang kain tersebut diwariskan sebagai benda pusaka secara turun temurun di kalangan keluarga. Kain yang diperoleh dengan cara barter ini hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan dan sebagainya.
Toraja juga mengenal 4 warna dasar yang selalu ada di Tongkonan:
1. Kuning perlambang kebesaran seperti matahari (akbar)
2. Merah Perlambang darah atau kehidupan
3. Putih perlambang kesucian
4. Hitam perlambang Kedukaan

sumber: http://korantoraja.files.wordpress.com/2008/12/ukiran-toraja2.jpg      
Sumba NTT
Arsitektur
Rumah adat orang Sumba merupakan rumah panggung dengan 3 fungsi.
Bagian paling atas yaitu pada atap berfunsi sebagai lumbung (biasanya jagung)dan juga untuk menyimpan benda-benda pusaka. Bagian tengah sebagai rumah tinggal sedangakan bagian bawah lantai digunakan sebagai kandang ternak. Pada rumah kepala suku yang kami datangi mempunyai koleksi tanduk kerbau yang cukup banyak. Tanduk kerbau disini fungsinya tidak jauh beda dengan di daerah Toraja yaitu sebagai lambang status sosial di masyarakat. Bangunan ini mempunyai 4 tiang utama. Tiang ini menggunakan kayu yang cukup besar bernama kayu “Masela“.

Tenun Sumba
Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut, yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial, ekonomi serta religi suku sumba. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala, penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam.
warna kain tenun Sumba juga sedikit banyak dipengaruhi oleh lokasi. Di Sumba Timur, biasanya kain tenun berwarna dasar hitam dengan motif berwarna, sementara di Sumba Barat, kain tenun berwarna dasar biru tua dengan motif berwarna.
Pada masa yang lampau warna kain Tenun Sumba terbatas pada warna-warna gelap seperti hitam, coklat dan merah tua yang berasal dari zat warna nabati seperti tauk, mengkudu, kunyit dan tanaman lainnya. Sementara untuk benang menggunakan warna putih, kuning langsat dan merah maroon. Meskipun sudah mulai banyak memakai pewarna kimia yang lebih tahan luntur, tahan sinar dan tahan gosok, namun beberapa pengrajin masih tetap menggunakan zat warna nabati dalam proses pewarnaan benang sebagai konsumsi adat, dan untuk ketahanan masih digunakan minyak dengan zat lilin.
Motif kain tenun Sumba, benar-benar menjadi simbol dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Terbagi dalam motif manusia, motif binatang, motif geometris dan motif kontemporer. Misalnya pada motif binatang, ayam menjadi perlambang kehidupan wanita ketika berumah tangga. Kuda menjadi lambing kekuatan dan kejantanan, sementara burung kakaktua yang berkelompok menjadi lambang persatuan dan musyarawah dalam adat.
Pada suku atau daerah tertentu, corak/motif binatang atau orang-orang lebih banyak ditonjolkan seperti Sumba Timur dengan corak motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan, pohon tengkorak dan lain-lain, sedangkan Timor Tengah Selatan banyak menonjolkan corak motif burung, cecak, buaya dan motif kaif. Bagi daerah-daerah lain corak motif bunga-bunga atau daun-daun lebih ditonjolkan sedangkan corak motif binatang hanya sebagai pemanisnya saja. 
Motif tenunan hanya berdasarkan imajinasi penenun sehingga dari segi ekonomi memiliki harga yang cukup mahal.
Keindahan kain Tenun Sumba, tidak lepas dari teknik pembutan dan motif yang ditampilkan. Pada pembuatan Hinggi, benang Lusi (warp) diikat untuk memperoleh desain gambar ketika benang tersebut dicelup pewarna. Setelah proses pencelupan, kain dikeringkan kemudian proses diteruskan dengan membuka kalita (tali ikatan) pada pola yang diharapkan akan dicelup warna berikut. Dua warna pada sebuah kain dengan motif tertentu dibentuk dengan cara mengubah posisi yang diikat.
Karena proses pengikatan ini ketika pencelupan, larutan pewarna meresap sampai ke pinggir benang yang terikat dan membuat warna menjadi sedikit membaur. Nah, ‘cacat’ inilah yang menjadi ciri khas motif ikat.
Tenun Ikat ; disebut tenun ikat karena pembentukan motifnya melalui proses pengikatan benang. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia, untuk menghasilkan motif pada kain maka benang pakannya yang diikat, sedangkan tenun ikat di Nusa Tenggara Timur, untuk menghasilkan motif maka benang yang diikat adalah benang Lungsi.
sumber: http://ombani.blogdetik.com/2010/02/15/aneka-kain-tenun-timor/ 

Warna yang ada juga bukan dari bahan kimia namun alami dengan menggunakan bahan baku tumbuh-tumbuhan, seperti kunyit dan cabai. "Motif dibuat dengan mengikat-ikat benang dan membentuk gambar tertentu, baru ditenun," katanya. Motif inilah yang membuat kain tenun sintang sangat menarik. Motif yang dibuat menggambarkan kehidupan dan kepercayaan masyarakat Dayak, seperti gambar dewa atau corak etnik kedaerahan.

Wednesday, February 17, 2016

Karya seni rupa terapan Nusantara

Karya seni rupa terapan merupakan karya seni rupa yang sengaja dibuat untuk digunakan atau difungsikan untuk kebutuhan manusia. Maka karya seni rupa terapan selain memilik nilai estetis juga memiliki nilai pakai. Di Indonesia terdapat bermacam seni rupa terapan, seni rupa terapan ini ada yang dalam bentuk karya seni 2 dimensi dan ada yang dalam bentuk karya seni 3 dimensi.

Karya seni rupa Nusantara menurut dimensinya dibedakan atas karya seni rupa dua dimensi dan karya seni rupa tiga dimensi.

A. Karya seni rupa dua dimensi
Karya seni rupa dua dimensi yaitu karya seni yang dapat dilihat hanya dari satu arah seperti seni lukis, seni batik,  seni tenun, seni relief dan sebagainya. Di Nusantara terdapat beberapa seni rupa terapan yaitu:

1. Seni batik
Batik merupakan seni rupa dua dimensi yang menggunakan teknik cetak rintang, yaitu jenis cetak dari bahan sejenis lilon (Wax). Batik di Indonesia sudah ada sejak zaman Majapahit, namun motifnya sudah ada pada zaman prasejarah terbukti ditemukannya motif batik pada keramik zaman neolithikum.
Ragam hias batik berdasarkan lingkungan perkembangannya:
-Batik Keraton adalah batik yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keraton, khususunya lingkungan keraton jawa tengah contohnya Jogjakarta dan Solo.
Batik Keraton

-Batik Pesisir adalah batik yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesisir, contohnya Cirebon dan Pekalongan.
Setelah masuknya bangsa luar, perkembangan motif batik makin bertambah, pewarnaannyapun bertambah menggunakan pewarnaan kimia.
Batik Pesisir

2. Seni tenun
Seni tenun merupakan wujud dari seni anyaman, yaitu menumpangtindihkan jalinan anyaman yang bersilang sehingga menjadi sebuah benda karya seni utuh. Dalam seni tenun kain, teknik pembuatannya dengan membuat pola dan warna benang terlebih dahulu, baru kemudian ditenun. Yang termasuk dalam seni ini cotohnya adalah sarung pelekat, songket, kain ikat, dan sebagainya. Beberapa daerah penghasil tenun yaitu Sulawesi, Jepara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Seni tenun di daerah Nusa Tenggara banyak yang menggunakan alat tenun tradisional dan pewarnaannya menggunakan bahan alami. Contoh produk tenunan:
Kain Tenun



3. Seni ukir
Ukiran memiliki arti pahatan, yaitu suatu hasil karya seni yang dikerjakan dengan pahat. Menurut kenyataan benda-benda yang berukir pada umumnya adalah benda terapan (benda yang dibutuhkan orang sehari-hari). Seni ukir telah ada sebelum kedatangan bangsa Hindu ke Indonesia, corak seni ukir ini masih primitif, digunakan pada upacara adat. Bahan dari seni ukir ini bisa berupa kayu, batu, bahkan bahan tembagapun bisa dibuat seni ukiran. Contoh penerapan seni ukir di Nusantara:
Seni Ukir yang terkenal adalah seni ukir Jepara. Ciri khusus motif seni ukir Jepara yaitu:
a. Gubahan dari tumbuhan yang menjalar
b. Sering dipadu dengan motif binatang
Contoh karya seni ukir Jepara:
Ukiran kayu

B. Karya seni rupa tiga dimensi
Karya seni rupa tiga dimensi yaitu karya seni yang dapat dilihat dari berbagai sisi/arah serta memiliki volume, contohnya adalah seni patung dan keramik/gerabah. Seni rupa terapan 3 dimensi yang terdapat di Nusantara diantaranya adalah seni bangunan/arsitektur dan seni keramik.
1. Seni arsitektur
Seni arsitektur merupakan seni bengunan, contohnya yaitu bangunan candi, masjid, gereja, pura, klenteng, gapura, rumah adat, dan sebagainya.
Contoh dari seni arsitektur rumah adat adalah rumah adat Tongkonan dari daerah Toraja, Sulawesi Selatan. Rumah adat ini merupakan rumah adat yang khas dengan atap yang menjulang ke langit. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang masyarakatnya yang menganggap bahwa nenek moyang mereka berasal dari nirwana yang turun menggunakan tangga.
Rumah Adat Toraja

2. Seni gerabah/keramik
Seni keramik/gerabah merupakan seni kriya yang berasal dari pembakaran bahan tanah liat. Contoh dari seni keramik yaitu gentong, layah, klenting, vas bunga dan sebagainya. Daerah pengahasil seni gerabah tersebar di Jawa tengah yaitu derah Banjanegara, Semarang, Jepara dan sebagainya.
Gerabah/ Keramik