Showing posts with label kritik. Show all posts
Showing posts with label kritik. Show all posts

Thursday, December 17, 2020

Jenis-jenis Apresiasi Seni Budaya

 Pada dasarnya, apresiasi seni budaya dibagi berdasarkan dua kategori, yaitu berdasarkan pendekatannya dan berdasarkan tingkatannya. Berdasarkan pendekatannya, apresiasi terbagi menjadi dua, yaitu apresiasi pasif dan apresiasi aktif. Sementara iłu, menurut tingkatannya, apresiasi terbagi menjadi tiga, yaitu apresiasi empatik, apresiasi estetik, dan apresiasi kritik. 

1. Jenis Apresiasi Menurut Pendekatannya 

Apresiasi menurut pendekatannya bermakna kegiatan apresiasi yang dilakukan dengan beberapa metode. Metode atau pendekatan yang diterapkan oleh setiap orang ketika melakukan apresiasi seni budaya berbeda satu sama lain. Ada Yang melakukan apresiasi secara pasif, ada juga yang melakukan apresiasi secara aktif.

a. Apresiasi pasif, yaitu kegiatan apresiasi yang bersifat sertamerta dan tidak melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap bentuk karya seni yang diamati.-Kegiatan apresiasi pasif umumnya dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak terlalu "melek" seni, atau tidak memahami seni secara mendalam. Apresiasi pasif ditunjukkan melalui penilaian bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni menggunakan pancaindra. Contohnya, seseorang yang menonton pertunjukan Reog Ponorogo menganggap bahwa pertunjukan tersebut sangat menarik dan indah, mulai dari tarian, kostum, hingga musik pengiringnya. Namun, seusai menonton, ia tidak mencari informasi lebih lanjut mengenai pertunjukan tersebut, misalnya informasi mengenai sejarah ataupun seluk-beluk penyusun pertunjukan tersebut. Sikap yang demikian menunjukkan adanya apresiasi pasif. 

b. Apresiasi aktif, yaitu kegiatan apresiasi yang ditunjukkan secara mendalam, termasuk setelah menilai suatu bentuk dan hasil karya seni secara pasif/apresiasi pasif. Berbeda dengan apresiasi pasif, seseorang yang melakukan apresiasi aktif akan mencari informasi lebih lanjut mengenai bentuk karya seni yang baru saja ia nikmati. Apresiasi aktif juga menunjukkan tingginya minat seseorang terhadap suatu bentuk karya seni yang dihasilkan seniman.

Apresiasi aktif kemudian melahirkan dua hal, yakni pendekatan aplikatif dan pendekatan kesejarahan.

1) Pendekatan aplikatif

Apresiasi aktif dengan pendekatan aplikatif dapat dimaknai sebagai upaya yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan apresiasi dengan cara terjun langsung bentuk seni yang ia sukai.s Contohnya, seseorang yang menyukai seni lukis akan mempelajari cara melukis, seseorang yang menyukai seni tari akan bergabung dengan sanggar seni tari, dan seseorang yang menyukai seni peran akan bergabung dengan kelas akting atau grup teater untuk mengasah kemampuan beraktingnya. 

Pendekatan aplikatif juga dapat dilakukan seseorang dengan mencari tahu tentang cara mempelajari suatu bentuk seni budaya melalui berbagai media, seperti buku atau internet, atau dengan mendatangi studio, sanggar, dan galeri seni. Contohnya, seseorang yang terpesona dan tertarik untuk mempelajari tari gambyong secara otodidak dapat mempelajari tentang cara menari gambyong dengan mengakses situs penyedia video di internet. Begitu pula dengan mendatangi studio, sanggar, dan galeri seni. Dengan mendatangi tempat-tempat tersebut, seseorang berkesempatan untuk melihat lebih dekat mengenai teknik, bahan, dan unsur-unsur penciptaan suatu bentuk karya seni. Contohnya, dengan mengunjungi studio lukis, seseorang dapat melihat alat, bahan, dan teknik yang digunakan untuk melukis serta melihat bagaimana hasil akhir lukisan. 

 

Sumber: flickr.com Gambar 6.2 Mengikuti kelas membatik merupakan contoh apresiasi dengan pendekatan aplikatif.

Pendekatan aplikatif juga dapat disebut sebagai praktik berkarya. Melalui praktik berkarya, seseorang akan merasakan langsung pengalaman yang dirasakan oleh seniman yang karyanya ia nikmati sebelumnya. la dapat mempelajari teknik pembuatan, mempelajari alat dan bahan yang menjadi media pembuatan, mencari berbagai alternatif untuk menciptakan, serta mengalami suka-duka dalam menciptakan suatu karya. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan aplikatif akan mendorong seseorang untuk memberikan apresiasi tinggi terhadap suatu bentuk seni budaya.

 2) Pendekatan Kesejarahan

Apresiasi dengan pendekatan kesejarahan dapat dimaknai sebagai upaya apresiasi yang dilakukan seseorang dengan cara menelusuri asal-usul dan sisi sejarah dari suatu bentuk karya seni. Pendekatan kesejqrahan juga dikenal sebagai penelusuran riwayat. Pendekatan kesejarahan dapat dilakukan dengan banyak cara, di antaranya dengan mencari informasi pada sumber tertulis dan internet serta bertanya langsung kepada pihak-pihak yang dirasa cukup kompeten dan memiliki pengetahuan terkait karya seni yang bersangkutan. Pihak-pihak tersebut dapat berupa seniman, para tetua, hingga keluarga. Contohnya, seseorang yang tertarik dengan asal-usul sejarah pertunjukan lenong dapat mencari informasi dengan membaca buku, mencari informasi di internet, bertanya kepada keluarga yang memiliki pengetahuan tentang lenong, atau bertanya langsung kepada seniman lenong.

Penelusuran kesejarahan semacam ini tidak cukup dilakukan hanya dengan mendatangi studio, sanggar, galeri seni, ataupun museum. Diperlukan dedikasi, kesabaran, dan kemauan tinggi untuk melakukan pendekatan kesejarahan agar mendapatkan informasi tentang suatu bentuk seni secara komprehensif. Tanpa adanya dedikasi, kesabaran, dan kemauan, informasi yang diperoleh akan tidak lengkap sehingga pemahaman dan apresiasi terhadap bentuk seni yang bersangkutan tidak maksimal.


2. Jenis Apresiasi Menurut Tingkatannya 

Menurut tingkatannya, apresiasi seni terbagi menjadi tiga,s Yakni apresiasi empatik, apresiasi estetis, dan apresiasi kritik. Pembagian apresiasi berdasarkan tingkatannya ini sesuai dengan Pendapat Brent G. Wilson yang menyebutkan bahwa apresiasi mengandung tiga konteks utama, yakni feeling (perasaan, berkaitan dengan apresiasi empatik dan estetis), valuing (Penilaian, berkaitan dengan apresiasi kritik), dan emphatizing (empati, berkaitan dengan apresiasi empatik).

a. Apresiasi empatik 

Apresiasi empatik dapat dimaknai sebagai upaya penilaian berdasarkan unsur-unsur cerapan/tangkapan pancaindra. Selain melibatkan pancaindra, apresiasi empatik juga berkaitan dengan pemikiran dan perasaan seseorang. Hasil dari tangkapan pancaindra akan memengaruhi pikiran dan perasaan seseorang sehingga orang tersebut dapat memberikan penilaian baik tidaknya suatu bentuk seni yang sedang ia nikmati. Contoh dari apresiasi empatik adalah seseorang yang terkagum-kagum saat melihat pertunjukan wayang orang yang diiringi dengan alunan musik gamelan. Perasaan kagum tersebut muncul akibat keindahan yang ia tangkap melalui mata (pertunjukan wayang orang) dan telinga (alunan suara gamelan). Rasa kagum dan senang saat menonton pertunjukan tersebut akan membuat dirinya menilai bahwa pertunjukan wayang orang adalah pertunjukan yang bagus dan menarik. 

b. Apresiasi estetis 

Apresiasi estetis dapat dimaknai sebagai upaya penilaian terhadap suatu bentuk karya seni melalui pengamatan dan penghayatan. Berbeda dengan apresiasi empatik yang terbatas pada tangkapan pancaindra, apresiasi estetis mengeksplorasi unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari suatu karya seni. Contoh unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut meliputi bentuk, tampilan, isi, hingga hal-hal yang melatarbelakangi seniman dalam menciptakan karya tersebut. Melalui apresiasi estetis, seseorang akan merasakalj pengalaman keindahan yang tidak hanya berupa wujud (form), tetapi juga isi (substance).

 

6.3 Lukisan potret Bung Karno dan Bung Hatta karya Basoeki Abdullah.

Contoh dari apresiasi estetis adalah seseorang yang melakukan pengamatan dan penghayatan terhadap lukisan-lukisan potret realis karya Basoeki Abdullah. Ketika mengamati salah satu lukisan potret realis karya Basoeki Abdullah, misalnya potret Bung Hatta, ia akan mengamati bagaimana kemiripan antara lukisan tersebut dengan wajah asli Bung Hatta, media apa yang digunakan untuk membuat lukisan tersebut, warna yang digunakan, teknik pembuatan, hingga tujuan yang melatarbelakangi Basoeki Abdullah dalam menciptakan lukisan potret tersebut. Melalui pengamatan dan penghayatan, orang yang melakukan pendekatan tersebut akan memberikan apresiasi yang lebih tinggi dibandingkan apresiasi yang hanya berdasarkan tangkapan mata.

c. Apresiasi kritik 

Apresiasi kritik dapat dimaknai sebagai upaya penilaian yang lebih kompleks dengan melibatkan beberapa kegiatan, seperti klasifikasi, deskripsi, tafsiran, analisis, evaluasi, dan kesimpulan.' Apresiasi kritik umumnya diberikan oleh orang-orang yang telah lama mendalami dan memiliki pengetahuan yang luas terkait suatu bidang seni, seperti kritikus seni. Apresiasi kritik tidak hanya terbatas pada penilaian bagus tidaknya suatu karya seni, tetapi juga pemberian masukan, saran, deskripsi, dan evaluasi terhadap karya seni tersebut. Artinya, apresiasi kritik lebih menekankan Sisi objektif dibandingkan Sisi subjektif saat melakukan penilaian. Dengan demikian, apresiasi kritik tidak hanya membawa pemahaman dan pengetahuan baru bagi diri sang kritikus ataupun penikmat seni, tetapi juga motivasi bagi seniman untuk menciptakan karya yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Contoh dari apresiasi kritik adalah seorang kritikus seni yang memberikan penilaian terhadap suatu pertunjukan teater. Saat menonton, kritikus akan melihat bagaimana mekanisme pertunjukan tersebut, mulai dari cara dan teknik berakting para pemain, dialog yang dibawakan, tata kostum dan tata rias para pemain, tata panggung dan tata cahaya, hingga musik yang mengiringi pertunjukan tersebut. Dengan memberi perhatian pada detail, kritikus seni dapat memberikan penilaian terhadap pertunjukan tersebut. Jika ia menemukan kekurangan, misalnya dialog yang terlalu panjang dan membosankan penonton atau banyaknya blocking yang dilakukan para pemain, ia akan memberikan kritik dan masukan kepada para pelaku pertunjukan tersebut agar kesalahan yang sama tidak terulang di kemudian hari.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Tuesday, December 15, 2020

Contoh Soal Isian Apresiasi Seni Budaya Nusantara

1. Apresiasi merupakan jembatan penghubung antara … dan …

2. Menilai bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni melalui pancaindra tetapi kemudian tidak mencari informasi lebih lanjut disebut apresiasi…

3. Belajar tari Saman melalui tutorial di youtube termasuk dalam apresiasi aktif menggunakan pendekatan…

4. Belajar sendiri tanpa adanya guru disebut belajar secara…

5. Siapakah yang membagi jenis apresiasi menurut tingkatannya?

6. Konteks utama dalam apresiasi yaitu feeling, emphitizing, dan…

7. Berdasar tingkatannya apresiasi yang telah sampai kepada penilaian suatu karya disebut apresiasi…

8. Dalam tahapan apresiasi, penafsiran/penangkapan makna disebut dengan tahapan…

9. Pada tahap penilaian dalam apresiasi berisi evaluasi dan…

10. Tahapan apresiasi yang berisi tentang komposisi, warna, bentuk, serta penjelasan detail lainnya disebut dengan tahapan…


Kunci Jawaban:

1. Seniman dan penikmat seni

2. Pasif

3. Aplikatif

4. Otodidak

5. Brent G Wilson

6. Empathizing

7. Krtitik

8. Interpretasi

9. Kesimpulan

10. Analisis


Sumber materi:  Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Wednesday, May 15, 2019

Kritik Seni

Jenis kritik seni

Menurut Feldman (1967) terdapat 4 jenis kritik seni, setiap tipe mempunyai ciri (kriteria), media (bahasa), cara (metoda),  pola berpikir, sasaran, dan materi yang tidak sama.

1. Kritik Populer, 

Kritik populer merupakan jenis kritik seni yang ditujukan untuk konsumsi umum. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik jenis ini biasanya bersifat umum saja, lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya. Dalam tulisan kritik populer, umumnya menggunakan gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana yang mudah dipahami oleh orang awam. 

2. Kritik Jurnalis, 

adalah jenis kritik seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat kabar. Kritik ini hampir sama dengan kritik populer, tetapi ulasannya lebih dalam dan tajam. Kritik jurnalistik sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni, terutama karena sifat dari media massa dalam mengkomunikasikan hasil tanggapannya . Jika kalian menemukan contoh ulasan tentang sebuah karya seni di majalah atau koran dapat dipastikan itu adalah jenis kritik jurnalis.

3. Kritik Keilmuan,

adalah jenis kritik yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kemampuan dan kepekaan yang tinggi untuk menilai sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya dalam bidang seni, dan disampaikan dengan metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik keilmuan seringkali dijadikan referansi bagi para kolektor atau kurator institusi seni seperti museum, galeri dan balai lelang. Biasanya yang melakukan kritik ini para maestro atau ahli dalam bidang seni khusus yang sudah terkenal atau telah memiliki pengalaman banyak karya.

4. Kritik Kependidikan, 

adalah kritik yang bertujuan mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta estetika subjek belajar seni. Jenis kritik ini umumnya digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik ini yang digunakan guru di sekolah umum dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni. Kritik ini cocok sekali untuk siswa dalam dunia kependidikan khususnya seni budaya. Peserta didik akan mendapatkan pengalaman ulasan berbagai teknik, kekurangan serta kelebihan suatu karya, sehingga diharapkan kedepannya dapat berkarya lebih baik lagi.

Bentuk Kritik Seni

Berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal beberapa bentuk kritik sebagai berikut :

1. Kritik Formalistik 

Kajian kritik ditujukan terhadap konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya. Pada lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada kualitas penyusunan (komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis, tekstur, dan sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik berkaitan juga dengan kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni.

2. Kritik Ekspresivistik

Dalam kritik ini, kritikus cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang ditampilkan dalam sebuah karya.

3. Kritik Instrumentalistik 

Dalam kritik ini, karya seni cenderung dikritisi berdasarkan kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi. Pendekatan kritik ini tidak mempersoalkan kualitas formal dari sebuah karya seni  tetapi lebih melihat aspek konteksnya baik saat ini maupun masa lalu.

Lukisan berjudul ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh misalnya, dikritisi tidak saja berdasarkan kualitas teknis (formal) nya saja tetapi keterkaitan antara objek, isi, tema dan tujuan serta pesan moral yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi pengamatnya terhadap konteks ketika karya tersebut dihadirkan.

 Tahapan dalam Kritik Seni

Berdasarkan beberapa uraian tentang pendekatan dalam kritik seni, dapat dirumuskan tahapan-tahapan kritik secara umum sebagai berikut:

1. Deskripsi, 

adalah tahapan untuk menemukan, mencatat dan mendeskripsikan segala sesuatu yang dilihat apa adanya, dan tidak berusaha melakukan analisis atau mengambil kesimpulan. Agar dapat mendeskripsikan dengan baik, seorang pengkritik harus mengetahui istilah-istilah teknis yang umum digunakan dalam dunia seni rupa. Tanpa pengetahuan tersebut, maka pengkritik akan kesulitan untuk mendeskripsikan fenomena karya yang dilihatnya.

2. Analisis formal, 

adalah tahapan untuk menelusuri sebuah karya seni berdasarkan struktur formal atau unsur-unsur pembentuknya. Pada tahap ini seorang kritikus harus memahami unsur-unsur seni rupa dan prinsip-prinsip penataan atau penempatannya dalam sebuah karya seni. 

3. Interpretasi, 

yaitu tahapan penafsiran makna sebuah karya seni meliputi tema yang digarap, simbol yang dihadirkan dan masalah yang dihadirkan. Penafsiran ini sangat terbuka sifatnya, dipengaruhi sudut pandang dan wawasan pekritiknya. Semakin luas wawasan seorang pekritik biasanya semakin banyak pula penafsiran karya yang dikritisinya. 

4. Evaluasi atau penilaian, 

merupakan tahapan yang menjadi ciri dari kritik karya seni. Evaluasi atau penilaian adalah tahapan dalam kritik untuk menentukan kualitas suatu karya seni bila dibandingkan dengan karya lain yang sejenis. Perbandingan dilakukan terhadap berbagai aspek yang terkait dengan karya tersebut baik aspek formal maupun aspek konteks. 



Fungsi Kritik

Fungsi kritik seni yang utama ialah menjembatani persepsi dan apresiasi karya seni rupa, antara seniman, karya, dan penikmat seni. Kritik dengan gaya bahasa lisan maupun tulisan yang berupaya mengupas, menganalisis, diharapkan memudahkan bagi seniman dan penikmat untuk berkomunikasi melalui karya seni.



Kritikus Seni

Kritikus adalah orang  yang melakukan kritik terhadap karya seni dan budaya orang lain atau dirinya sendiri.

Kritik yang disampaikan harus dilandasi dengan : 

1.      Keilmuan dan pengetahuan yang relevan; 

2.      Pengalaman yang memadai dalam materi kritik;

3.      Menguasai media kritik (kebahasaan yang efektif dan komunikatif);

4.      Menguasai penerapan metoda kritik yang tepat.

Saturday, January 30, 2016

Contoh Kritik karya seni Lukis


Judul : Harmonis
Pelukis : Ahmad Savic A
Tahun : 2009
Media : cat air
  1. Bentuk (form) dan tanda (symbol) yang digunakan dalam karya
Karya seni lukis milik Ahmad Savic ini merupakan lukisan yang sekiranya mengungkapkan bentuk sebuah pohon. Tak terdapat pohon lain disekitarnya sebagai background ataupun subjek figuran. Hanya sebuah tiang listrik yang menemani dan tampak berdekatan, namun subjek yang lebih ditekankan adalah pohon tersebut. Bentuk dari pohon ini tidak sederhana, banyak sekali ranting yang menjadi cabang dari bawah hingga ke atas. Tidak dapat ditebak pohon apakah ini, yang jelas bentuk cabang-cabang yang banyak ini menandakan merupakan pohon yang beranting banyak. Bukan pohon rimbun nan hijau sebab dari bentuk daun-daunnya yang ekspresif terdapat secara acak pada ranting yang banyak. Namun dapat dilihat dari bentuk pohon ini yang menjulang ke atas hingga tak terlihat ujung batangnya merupakan pohon yang besar. Bentuk ranting-ranting pohon yang meliuk-liuk ini makin terlihat jelas bahwa sedang diambil perspektifnya dari bawah.
Pohon menyimbolkan sebuah kehidupan yang utuh dan pasti, kepastian ini tergambar dari karakter pohon yang pada umumnya memiliki batang yang kuat. Sesuatu yang berhubungan dengan alam artinya hidup dan pohon merupakan salah satu bagian dari alam. Sedangkan tiang listrik adalah penyangga dari listrik sendiri seolah-olah menjadi simbol dari sesuatu yang lain, lain dari sesuatu yang hidup. Listrik merupakan sesuatu yang tidak hidup dan dapat mematikan. Apalagi listrik itu dapat mematikan sebuah pohon pada kejadian tertentu.
  1. Unsur-unsur visual dan prinsip estetik yang digunakan
Lukisan “harmonis” ini tidak mengkomposisikan subjek utama terlalu tengah, sehingga tidak terlalu statis namun tetap fokus pada subjek utama. Penyusunan pohon besar inipun dikomposisikan menjulang ke atas serong kanan sehingga lebih indah. Pengkomposisian sebuah tiang listrik yang tegak menjulang dari bawah menjadi sorotan yang estetik ketika puncaknya semakin berdekatan dengan puncak pohon. Garis-garis dari pembentukan ranting pohon seolah menjadi ciri khas tersendiri dalam karya ini, sebab menjadi perpaduan pula pada garis-garis yang terbentuk dari kabel listrik di sebelahnya. Hal ini menjadikan komposisi yang menarik. Begitu pula perulangan daun-daun abstrak seolah menjadi taburan yang membuat karya ini lebih indah.
Warna yang digunakan bukan merupakan warna asli dari sebuah pohon, Savic menggunakan warna-warna campuran seperti warna orange, kuning dan biru. Hal ini membuat lukisan yang dibuatnya menjadi estetis dan menarik. Warna pohon yang pada umumnya hijau dan coklat menjadi lebih bervariasi. Meski jika Savic menggunakan warna-warna ini sebagai background nuansa, warna-warna inipun masih menjadi unsur estetik dalam karyanya.
  1. Kesan yang anda peroleh dari hasil pengamatan
Dalam lukisan ini meskipun hanya terdapat sebuah subjek pohon dan tiang listrik namun memiliki makna yang lebih dalam. Bukan sekedar indahnya pohon yang berdiri di dekat tiang listrik namun lebih dari itu. Kesan rimbun tidak diperoleh namun dari pohon itu sendiri dapat mengesankan besar dan tinggi, begitu pula pada tiang listriknya yang menggambarkan tentang ketinggian. Hal yang berdampingan ini menggugah perasaan tertentu yang tercipta dalam hati, seperti pada unsur-unsur yang sama antara pohon dengan tiang listrik. Ada garis-garis yang menjadi perpaduan keserasian yang mengesankan keharmonisan satu sama lain. Persamaan ketinggian menjadi hal yang indah ketika dilihat dari sisi bawah, hal ini sangat terlihat pada penunjukan bahwa subjek ini berada pada posisi tinggi. Seolah-olah mengesankan pada sesuatu yang unggul dan tinggi. Selain itu seolah hanya dari perspektif bawah dapat melihat segala sesuatu yang harmonis. Seperti yang terlihat pada perpaduan garis kabel dan garis-garis yang terbentuk dari ranting pohon. Penyatuan ujung pohon dengan ujung tiang listrik menjadi penyatuan suatu hubungan yang kukuh yang terbentuk dari sesuatu yang kuat yaitu pada karakter batang pohon dengan batang tiang listrik. Bercak-bercak daun yang tidak dimiliki oleh tiang listrik menjadi penghias antara jalinan pohon dengan tiang listrik. Keseluruhan lukisan ini mencerminkan sebuah keharmonisan yang tak terduga.
  1. Penilaian anda terhadap gagasan, teknik dan media yang digunakan dalam kaitannya dengan ekspresi yang dihasilkan
Menarik sekali lukisan ini mendapatkan gagasan dari sebuah pohon yang pada dasarnya menyatu dengan alam namun Savic menampilkan dalam keadaan berada di perkotaan. Bukan menjadi sosok pohon yang paling mendominasi keadaan kering di kota namun gagasannya dalam menampilkan subjek utama adalah merupakan bentuk keharmonisan yang unik.
Teknik yang digunakan dalam lukisan ini adalah teknik aquarel, merupakan teknik yang tepat untuk lukisan pada media kertas aquarel. Cat air yang digunakanpun sesuai dengan penggambaran nuansa yang diharapkan. Teknik pelukisan wet on wet menjadikan pembentukan warna nuansa membaur dengan warna kertas. Sehingga gradasi hilang yang tercipta dalam lukisan ini berhasil menjadi background yang indah.
Media kertas memang merupakan media yang tepat ketika menggunakan cat jenis cat air. Apalagi kertas yang digunakan memiliki tekstur yang kuat sehingga menunjang pada teknik. Tekstur kertas ini memberikan peleburan warna menjadi sempurna, air yang digunakan Savic ini mampu teresap sempurna pada kertas walaupun ada beberapa detail bagian yang kurang diperhatikan.
  1. Kesimpulan atau solusi untuk perbaikan karya atau peningkatan apresiasi
Penyatuan bentuk menjadi hal yang patut diperhatikan sebab menjadi hal utama dalam lukisan ini. Meskipun Savic menggunakan ekspresi yang kuat namun perspektif perlu diperhatiakn terutama pada pendekatan antara tiang listriik dan pohon. Pemberian sedikit detail pada bagian tertentu akan menambah keindahan lukisan ini. Seperti pada tiang listrik yang kurang diperhatikan karena teralalu memperhatikan tonjolan bentuk pohon. Sedangkan pohonnya sendiri boleh juga jika ditambahkan sedikit daun-daun yang sama agar karakter pohon lebih kuat. Namun demikian lukisan ini sudah cukup baik dilihat dari segi ekspresi, hanya perlu pengembangan teknik saja jika ingin membuat karya berikutnya. Akan lebih baik lagi jika lukisan ini di kemas dalam figura yang simpel dan elegan.
Menyatakan sebuah pohon tidak perlu menunjukkan keseluruhan bentuk pohon tersebut, bentuk visualisasi hanya menjadi subjek dari inti lukisan. Makna yang terkandung dalam lukisan ini lebih ditekankan daripada perwujudan. Sedangkan perwujudan estetis yang ekspresif disini lebih ditekankan daripada bentuk utuh. Lukisan ini memperlihatkan ekspresi yang tinggi dalam pembentukannya. Keestetisan menjadi tampilan unggulan yang paling menonjol dan itulah yang merupakan sisi indah dari sebuah keharmonisan.
Keharmonisan bukan merupakan suatu yang terdiri atas segala hal yang sama, namun terdiri atas hal yang berbeda jauh. Sisi indah dari keharmonisan adalah kesamaan hal kecil yang tak terduga dan berjalan begitu saja. Seperti segala sesuatu yang alami, ada kesenjangan yang dapat terlihat dengan jelas dan gamblang namun ada jembatan lembut yang menyatukan keindahan dari sebuah jalinan. Perbedaan kecil dapat menjadi penghias yang mengkukuhkan sebuah hubungan, terkadang sesuatu yang menjadi pembeda itu adalah justru menjadi penyatu.