Showing posts with label tape. Show all posts
Showing posts with label tape. Show all posts

Tuesday, August 23, 2016

Kebudayaan: Makanan Tape

Tapai yang sering dieja dengan sebutan tape tape merupakan makanan berupa jajanan yang berasal dari fermentasi/peragian bahan makanan berupa ketan tau singkong (bahan pangan berkabohidrat). Secara turun-temurun, makanan ini termasuk dalam katagori makanan tradisional, sebab proses pembuatan tape tergolong dalam proses tradisional dan tidak menggunakan peralatan-peralatan modern. Hanya dengan bahan dasar makanan, ragi serta pembungkus daun tape dapat dibuat dengan mudah. Dalam proses fermentasi tapai, digunakan beberapa jenis mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oryzae, Endomycopsis burtonii, Mucor sp., Candida utilis, Saccharomycopsis fibuligera, Pediococcus sp., dan lain-lain. Tapai hasil fermentasi dari S. cerevisiae umumnya berbentuk semi-cair, berasa manis keasaman, mengandung alkohol, dan memiliki tekstur lengket. Sebagian besar tapai yang ada di Indonesia dibuat dari fermentasi beras ketan (Oryza sativa glutinosa) atau singkong (Manihot esculenta). Tape bisa dibuat dari singkong (ubi kayu) dan hasilnya dinamakan tapai singkong. Bila dibuat dari ketan hitam maupun ketan putih, hasilnya disebut "tapai pulut" atau "tapai ketan". 
Berikut ini adalah keunggulan dan kelemahan tape dari yang dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tapai

Keunggulan tapai
Fermentasi tapai dapat meningkatkan kandungan Vitamin B1 (tiamina) hingga tiga kali lipat . Vitamin ini diperlukan oleh sistem saraf, sel otot, dan sistem pencernaan agar dapat berfungsi dengan baik. Karena mengandung berbagai macam bakteri “baik” yang aman dikonsumsi, tapai dapat digolongkan sebagai sumber probiotik bagi tubuh. Cairan tapai dan tapai ketan diketahui mengandung bakteri asam laktat sebanyak ± satu juta per mililiter atau gramnya. Produk fermentasi ini diyakini dapat memberikan efek menyehatkan tubuh, terutama sistem pencernaan, karena meningkatkan jumlah bakteri dalam tubuh dan mengurangi jumlah bakteri jahat. Kelebihan lain dari tapai adalah kemampuannya tapai mengikat dan mengeluarkan aflatoksin dari tubuh. Aflaktosin merupakan zat toksik atau racun yang dihasilkan oleh kapang, terutama Aspergillus flavus . Toksik ini banyak kita jumpai dalam kebutuhan pangan sehari-hari, seperti kecap. 
Konsumsi tapai dalam batas normal diharapkan dapat mereduksi aflatoksin tersebut. Di beberapa negara tropis yang mengkonsumsi singkong sebagai karbohidrat utama, penduduknya rentan menderita anemia . Hal ini dikarenakan singkong mengandung sianida yang bersifat toksik dalam tubuh manusia. . Konsumsi tapai dapat mencegah terjadinya anemia karena mikroorganisme yang berperan dalam fermentasinya mampu menghasilkan vitamin B12.
Tapai juga mengandung prebiotik, probiotik adalah ingridien makanan berupa bakteri hidup (lactobacilli dan bifidobacteria) yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh melalui keseimbangan mikrobiota pada saluran pencernaan. Mikrobiota yang seimbang dicapai saat bakteri yang baik jumlahnya tinggi sehingga dapat menekan pertumbuhan bakter patogen enterik (penyebab diare) yang membahayakan.

Kelemahan tapai
Konsumsi tapai yang berlebihan dapat menimbulkan infeksi pada darah dan gangguan sistem pencernaan. Selain itu, beberapa jenis bakteri yang digunakan dalam pembuatan tapai berpotensi menyebabkan penyakit pada orang-orang dengan sistem imun yang terlalu lemah seperti anak-anak balita, kaum lanjut usia, atau penderita HIV. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, konsumsi tapai perlu dilakukan secara terkendali dan pembuatannya serta penyimpanannya pun dilakukan dengan higienis.

Istilah tapai di berbagai daerah tapai pulut (Malaysia), basi binubran (Filipina), chao (Kamboja), lao-chao atau chiu niang (Cina), dan khao-mak (Thailand). Tapai juga dikenal di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Makanan ini memiliki nama lokal yang berbeda–beda di setiap negara.

Tape modern
Tape yang biasanya dibungkus dengan daun, pada masa modern kini sudah banyak yang tidak menggunakannya lagi pada waktu proses mauun penyajiannya. Pada proses fermentasi ada yang ditutup dengan menggunakan toples plastik. Ketika penyajianpun ada yang menggunakan plastik kecil-kecil maupun dihidangkan dalam wadah mangkuk sehingga rasa khas daun dari tape itu tidak ada lagi.




Contoh dari makanan tape modern ini berasal dari Muntilan, yakni tape ketan ijo. Ini adalah makanan khas yang jika dimakan dengan ditemani kerupuk emping. Cara makannya adalah emping dijadikan sendok untuk mengambil tape tersebut, kemudian sendok emping beserta tape yang ada di dalamnya langsung dimakan secara bersamaan.


Tapi tape-tape ini di kemas dengan menggunakan kemasan Mug Plastik yang ringan.

Variasi Tape
Produk olahan tapai Masa Kini selain dapat dikonsumsi secara langsung, tapai dapat dijadikan olahan lain atau dicampur dengan makanan dan minuman lainnya. Contohnya: tapai pulut untuk campuran cendol dan es campur, atau dapat juga diolah kembali menjadi wajik dan dodol. Selain itu tape juga dapat dibuat makanan yang bervariasi.

 Es Tape Ketan Hitam Vanilla

 Botok Tape Pisang


 Es puding tape hijau
Puding Tape

 Lumpia tape

Puding Scoop Tape

Warna Tape
Tape memiliki beberapa variasi warna diantaranya adalah sebagai berikut:
1.Tape putih
Tape yang warnanya putih merupakan tape yang tidak menggunakan bahan pewarna apapun sehingga warnanya asli. Warna putih didapat dari warna beras ketan yang pada dasarnya adalah berwarna putih sehingga ketika menjadi tapepun warnanya putih.


2.Tape hitam
Tape yang berwarna hitam terbuat dari jenis ketan hitam sehingga warna hitam pada ketan merupakan warna asli dan tidak menggunakan pewarna tambahan. Karena warnanya yang menarik, ketan hitam banyak digunakan untuk membuat bermacam makanan.

3.Tape hijau
Tape yang berwarna hijau merupakan tape yang berasal dari ketan putih yang dicampur dengan pewarna makanan hijau. Pewarna hijau dapat menggunakan waran alami maupun pewarna makanan khusus seperti Sumba. Untuk membuat tapai ketan berwarna merah, digunakan angkak, pigmen yang dihasilkan oleh Monascus purpureus. Sedangkan tapai ketan warna hijau dibuat menggunakan ekstrak daun pandan. Tape berwarna selain warna putih, hitam dan hijau jarang ditemukan, kemungkinan sejak dulu warna-warna inilah yang banyak digunakan.




Penyajian Tape
Tape biasanya disajikan dengan  menggunakan pembungkusnya yaitu daun pisang, akan tetapi tidak semuanya menggunakan daun pisang. Tape-tape yang tidak biasa menggunakan daun pisang ini bisa dikatakan unik karena tidak di semua daerah ada.

Yang unik, penyajian tape di Indonesia dari berbagai daerah berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Makanan tape pada umunya dibugkus menggunakan daun pisang, biasanya menggunakan sebuah daun pisang yang sudah dipotong menjadi segi empat kemudian setelah dilipat dilapisi dengan lembaran panjang daun pisang lagi yang disusun terbalik. Sehingga menampakkan seperti sebuah garis yang membelah penampang bungkus tape. Namun dibeberapa daerah, tape dibungkus dengan daun yang lainnya. Daun-daun ini seolah menjadi ciri khas daerah masing-masing yang menjadi lingkungan hidupa dari tanaman-tanaman tersebut. Diantaranya terdapat beberapa daerah yang menggunakan daun-daun yang berbeda yaitu:
1.Tape Ketan bungkus daun Jambu
Tape ketan bungkus daun jambu ini merupakan tape ketan yang pembungkusnya menggunakan daun jambu air. Tape dengan pembungkusan daun jambu ini berasal dari daerah Kuningan dan Cirebon. Daun jambu air yang digunakan hanya satu lembar serta pembungkusannya dan cara mengikatnya seperti tape pada umunya. Tape ini akan beraroma jambu ketika disajikan.


Ciri khas tape Kuningan Jawa Barat ialah dibungkus daun jambu air, biasanya banyak dijual dalam wadah ember hitam bertuliskan Tape Ketan Asli Cibeureum, ada juga yang dijual dalam bentuk kemasan kecil kotak plastik. Rasanya manis.
2.Tape Ketan bungkus daun Kemiri
Di daerah Purwakarta, Jawa Barat terdapat pula tape yang pembungkusnya menggunakan daun Kemiri. Memang di daerah Purwokerto terdapat pohon Kemiri, namun pohon Kemiri ini langka. Jika ingin menemukan  pohon beserta daunnya, harus mencari di hutan.

3.Tape daun jati
Tape daun  jati merupakan tape yang pembungkusnya menggunakan daun jati. Daun jati yang digunakan bukan daun jati yang lebar-lebar namun disesuaikan dengan ukuran jajanan tape.

Ada pula pembungkus tape yang menggunakan daun selain daun-daun diatas, yaitu tape di daerah Bentul, berikut gambarnya:

 Dilihat dari bahannya, bungkus tape memang unik-unik. Berbeda lagi jika melihat tape di Blora, menggunakan bungkus daun yang lain lagi yaitu daun Ploso
Cara Memakan tape
Cara memakan tape tradisional tidak dengan menggunakan sendok atau garpu, pada cara tradisional orang-orang memakan tape dengan menggunakan penusuknya sebagai garpu. Hal ini praktis dan unik, berikut cara memakan tape:



Tape Godong Ploso


Kabudayaan: Tape Godong Ploso

TAPE “GODONG PLOSO” khas Blora

Pembungkus makanan tradisional pada umunya banyak menggunakan daun, daun pisang merupakan daun yang banyak dipakai pada kalangan masyarakat jawa sehingga banyak ditemukan makanan jawa yang menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanannya. Dari makanan bugis, nogo sari, hingga arem-arem semua menggunakan pembungkus daun pisang. Tak heran daun pisang menjadi pembungkus masal karena daunnya yang sangat lebar dan aman digunakan. Di daerah jawa juga tidak sulit ditumbuhi dengan tanaman pisang. Tetapi untu daerah Blora, bungkus makanan dapat menggunakan daun Ploso. Tape “godong Ploso merupakan tape khas daerah Blora yang mana pembungkusnya menggunakan daun Ploso.

Daun ploso
Daerah Blora yang pada dasarnya merupakan daerah tanah kapur, sehingga banyak sekali ditumbuhi pohon jati yang subur. Keadaan ini menjadi dominasi pada setiap kebudayaan di daerah Blora. Dengan adanya pohon jati, masyarakat Blora memanfaatkannya dalam berbagai hal mulai dari rumah, perkakas hingga makanan. Memang banyak makanan di daerah Blora yang menggunakan pembungkus makanan daun jati, namun hal ini tidak menjamin pada setiap makanan di daerah Blora sebab ada aturan-aturan tertentu dalam menggunakan daun jati ini. Untuk makanan jajanan tidak menggunakan daun jati lagi. Daun lain yang pohonnya tumbuh di daerah Blora dapat digunakan sebagai pembungkus makanan. Misalnya adalah daun Ploso atau dalam bahasa jawanya adalah godong “Ploso”.
Daun Ploso merupakan daun yang setiap tangkainya terdiri atas tiga lembar daun. Setiap daun ploso berbentuk lingkaran memuncak dan memiliki ruas sejajar. Dahulu di daerah Blora pohon dari daun ini banyak sekali tumbuh di seluruh daerah Blora. Namun kini hanya dapat dijumpai di tengah hutan saja.


Daun Ploso

PLOSO ( Butea monosperma) merupakan pohon Dhak or palas (Butea frondosais). Daun Ploso di ambil dari pohon Ploso itu sendiri.
Daun saat diambil


Pohon belum berbunga

Pohon sudah berbunga

Tumbuhan pohon Ploso ini juga memiliki bunga berwarna orange matang. Bunga Ploso ini dapat ditemui pada tumbuhan Ploso yang sudah menjadi pohon. Bunga Ploso bentuknya seperti api, sehingga tanaman Ploso yang dijumpai di hutan bunganya disebut api hutan.



Sejarah Tape “Godong Ploso”
Konon pada zaman dahulu ada seseorang yang melihat pohon Ploso, ia melihat daunnya hijau-hijau indah dan segar,
Ia kemudian berkata, “Godongne kok ayu-ayu”. (Daunnya kok cantik-cantik)
 Seseorang yang lain menjawab, “Iyo, nggo bungkus tape gen ndang cetak jodone”. (Iya, untuk bungkus tape biar dekat jodohnya)
Ahirnya daun ploso sejak saat itu digunakan sebagai bungkus tape ketan di Blora. Pada zaman dahulu seluruh masyarakat Blora ketika sedang mengadakan acara dan membuat tape selalu menggunakan daun Ploso sebagai pembungkusnya. Biasanya tape ini dijadikan satu tangkainya kemudian dipikul menggunakan bambu. Namun sekarang sudah jarang ditemukan, ditemukanpun hanya di daerah pedesaan yang jauh dari kota Blora.

Pembuatan Tape “Godong Ploso”
Dalam pembuatan Tape “Godong Ploso” sama saja dengan pembuatan tape-tape lainnya. Pembuatan tapai ini memerlukan kecermatan dan kebersihan yang tinggi agar singkong atau ketan dapat menjadi lunak karena proses fermentasi yang berlangsung dengan baik . Ragi adalah bibit jamur yang digunakan untuk membuat tapai. Agar pembuatan tape berhasil dengan baik alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan harus bersih, terutama dari lemak atau minyak. Alat-alat yang berminyak jika dipakai untuk mengolah bahan tapai bisa menyebabkan kegagalan fermentasi. Air yang digunakan juga harus bersih ; menggunakan air hujan bisa mengakibatkan tapai tidak berhasil dibuat. Berikut bahan untuk membuat tape:
1.Beras Ketan
2.Ragi
3.Air
Cara membuat:
1.Siapkan beras ketan
Beras ketan merupakan bahan dasar utama dari tape ketan. Sebelum mengolah beras ketan menjadi makanan hendaknya di bersihkan dahulu dengan cara memilah-milah bila ada kotoran seperti halnya jika membersihkan beras. Baru setelah itu dicuci bersih dengan air.


2.Rendam beras ketan
Setelah beras ketan menjadi bersih maka rendamlah beras ketan dengan di dalam air selama kurang lebih 1 malam.

3.Kukus ketan
Dalam pembuatan tapai ketan, beras ketan perlu dimasak dan dikukus terlebih dahulu sebelum dibubuhi ragi. Setelah direndam semlman, cuci kembali beras, tiriskan kemudian kukus krg lbh 10 menit. Caranya, panaskan air dalam dandang, tunggu hingga airnya mendidih kemudian baru masukkan ketan di atas kukusan.


Setelah itu angkat, cuci lg beras kukusan tadi, tiriskan. Kukus lg beras sampai matang krg lbh 20 menit. Angkat, masukkan di wadah lebar sprt tampah/nampan. Di ratakan (bs jawa : di leeer) dgn ketinggian krg lbh 1 - 1,5 cm, tunggu dingin.
4.Sambil menunggu dingin siapkan ragi, haluskan dgn sendok lalu diayak.
Setelah dingin taburkan ragi scr merata.Diamkan sebentar.


Untuk pewarnaan, diwarnai ada yang tidak. Biasanya orang Blora pada zaman dahulu menggunakan pewarna alami menggunakan daun Suji atau daun Babing. Caranya daun Babing diperas dengan air sehingga mendapatkan extact warna hijau kemudian baru dicampur dengan ketan.




5.Bungkus Tape
Sebelum didiamkan dalam proses fermentasi, bungkus tape terlebih dahulu dengan menggunakan daun Ploso. Porsi ketan yang dibungkus tidak terlalu banyak, hanya beberapa sendok saja per bungkus tergantung pada lebar daun. Daun-daun ini tentunya sudah dibersihkan terlebih dahulu dengan cara di lap menggunakan serbet. Pembungkusan pada daun Ploso ini satu-persatu dalam setiap tangkainya. Caranya:
-Siapkan daun Ploso dengan posisi permukaan daun di bawah karena biasanya bagian bawah daun adalah bagian yang digunakan.


-Telakupkan daun dari sisi-sisi yang melebar terlebih dahulu dari sebelah kanan dan kiri, kemudian baru telakupkan sisi-sisi yang memanjang. Sehingga diperoleh telakupan daun yang saling menutup seperti halnya ketika membungkus mengggunakan daun pisang.

Sematkan “biting” atau potongan lidi pada bagian ujungnya (bagian yang dekat dengan tangkai daun Ploso. Sematannya agak longgar sisakan utk ruang udara.
-Bungkus pada setiap daun sehingga, setiap tangkai daun Ploso memiliki 3 bungkusan tape.

6.Proses fermentasi
Dalam proses fermentasi cukup diamkan saja dalam 2 -3 hari. Namun dalam proses ini, ketan-ketan yang dibungkus daun tersebut perlu dimasukkan dalam ruang tertutup, seperti dimasukkan dalam kardus atau kantong plastik. Agar suhunya sesuai untuk proses fermentasi.
7.Penyajian
Setelah didiamkan selama beberapa hari, ketan-ketan yang terbungkus daun tersebut menjadi tape. Tape biasanya disajikan diatas meja di dalam piring.



Penyajian

Penyajian tape ketan Blora ini dibungkus dengan daun ploso dengan tangkai daun yang masih dibiarkan menempel, sehingga tape ketan ini memiliki tangkai disetiap buahnya. Satu tangkai bisanya berisi tiga buah tape yang terbalut daun ploso, sehingga nampak bergerombol tiga-tiga. Sekali mengambil tangkainya, tiga buah tape dapat terambil.


Satu tangkai yang terdiri dari tiga buah tape ini disebut dengan gombyok-an. Namun ada pula yang membungkus tape ini dengan cara menyatukan tiga buah daun ploso dalam satu tangkai menjadi satu, sehingga setiap satu tangkai hanya terdapat satu bungkus tape ketan. Setiap tangkai ini tidak disebut gombyok–an lagi namun disebut dengan kanthil. Jika tiap tangkai ini disatukan maka baru bisa disebut dengan gombyok-an. Karena gombyok-an pada dasarnya memiliki arti mengelompok atau bergerombol. Penyajian dengan cara seperti ini sudah lama ada di Blora., tujuannya tidak begitu banyak yang tau. Menurut salah satu warga di Blora mengatakan bahwa penampilan tape yang bergerombol ini lebih menarik dan terlihat banyak. Meskipun isi dari setiap bungkusnya sedikit namun terlihat menyenangkan ketika di bawa bergerombol.

Makna dalam Tape “Godong Ploso”
Menurut salah satu masyarakat Blora, penggunaan daun Ploso merupakan “coro nggunung” atau caranya orang-orang daerah pegunungan, memang pada umunya pantasnya orang nggunung menggunakan cara seperti itu. Dalam hal ini orang daerah pegunungan masih dianggap sebagai orang terpencil atau masih sangat desa. Sehingga masyarakat Blora yang sudah agak modern tidak lagi menggunakan daun Ploso sebagai pembungkus makanan. Memang, pada zaman dahulu hampir di seluruh daerah Blora orang-orang menggunakan daun Ploso ini sebagai pembungkus makanan sehingga di setiap daerah di Blora orang-orang mengetahuinya. Namun seiring perkembangan zaman penggunaan daun Ploso ini jarang ditemukan, jika ada hanya pada masyarakat pedesaan saja. Tidak hanya dari faktor perkembangan zaman saja, selain itu daun Ploso hanya bisa didapatkan di hutan. Pertumbuhan pohon Ploso tidak sebanyak pada zaman dahulu, sehingga pada masa sekarang jika orang ingin menggunakan daun Ploso sebagai pembungkus makanan harus mencari di hutan. Tidak berada di langsung di dalam hutan, di pinggir jalan pada daerah pedesaanpun masih ditemukan pohon Ploso, hanya saja pohon ini tidak serindang pohon Ploso yang dimaksud masyarakat zaman dulu. Untuk mendapatkan daun Ploso yang bagus yakni pohon yang tumbuh subur di dalam hutan sebab daunnya besar-besar dan lebar-lebar.
Meskipun di Blora banyak daun jati, namun kebanyakan daun jati tidak digunakan sebagai pembungkus jajanan. Orang-orang  Blora mengatakan masing-masing daun memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Daun jati biasa digunakan untuk membungkus nasi yang ditujukan pada saat orang meninggal, maka tidak baik jika membungkus tape ketan atau jajanan lain menggunakan daun jati, orang akan menyangka mendoakan meninggal. Sedangkan daun ploso sendiri memiliki makna agar cepat mendapatkan jodoh. Hal ini ditangkap dari makna simbolis daun ploso yang mana daunnya hijau-hijau segar terlihat ayu (cantik).

Tape “Godong Ploso” merupakan salah satu tape yang unik. Dengan penyajian dan pembungkusan yang bergerombol menjadikan tape ini menarik untuk dinikmati. Tetapi kini sudah jarang ditemukan di daerah Blora, jika banyak masyarakat yang tetap melestarikan mungkin tape “Godong Ploso” ini akan tetap ada sebagai ciri khas makanan tape daerah Blora.

Sumber Pustaka:
-http://id.wikipedia.org/wiki/Tapai
-http://resep.galaxishop.com/dadar-gulung-tape.html/
-http://industryjaya.blogspot.com/2010/10/tape-indonesia.html
-http://mamah-ella.blogspot.com/2011/03/bahan-1-kg-ketan-putih-rendam-semlm-2.html
-http://www.indotravelers.com/jawa-barat/kuningan/kuniler-makanan-khas-kuningan.html
-http://dedauananobattanaman.blogspot.com/2009/01/ploso-butea-monosperma.html
Sumber Gambar:
-http://raswono.wordpress.com/makanan-khas/
-http://www.haryana-online.com/Flora/dhak.htm
-http://toptropicals.com/cgi-bin/garden_catalog/cat.cgi?uid=Butea_monosperma 
-http://srivaishnavam.wordpress.com/2007/10/page/2/
-http://www.delhitrees.com/2009/09/dhak-butea-monosperma.html
-http://www.types-of-flowers.org/flame-of-the-forest.html
-http://dapurmbakasri.blogspot.com/2007/10/tape-ketan-bungkus-daun-jambu.html
-http://wb3.itrademarket.com/pdimage/39/1566039_abcd0019.jpg
-http://farm4.static.flickr.com/3498/3460092939_895d32af8c.jpg
-http://dapurmbakasri.blogspot.com/2007/10/tape-ketan-bungkus-daun-jambu.html
-http://ndukrin.blogspot.com/2010/10/kabupaten-brebes-penghasil-telur-asin.html
-http://diarysitukanggowes.blogspot.com/2010/07/wisata-kuliner-purwakarta-tape-bungkus.html
-http://archive.kaskus.us/thread/5293153
-http://woman.kapanlagi.com/kuliner/icip-icip/8703-jajanan-simpel-nan-nikmat-sepanjang-masa.html
-http://regional.kompas.com/read/2010/09/08/19534819/Utamakan.Bahan.Lokal
-http://delisouz.blogspot.com/2011/04/cara-membuat-tape-ketan-hijau.html
-http://bintangtary.multiply.com/journal/item/217
-http://www.pawonomah.tk/2010/05/tape-ketan-tupperware.html
-http://ichenkitchen.blogspot.com/2010/08/tape-ketan.html
-http://regional.kompas.com/read/2008/10/07/12075644/Tape.Ketan.
-http://fiksi-ku.blogspot.com/2010/07/search_8093.html
-http://dapurpunyaku.blogspot.com/2010/02/es-tape-ketan-hitam.html
http://mamieksyamil.multiply.com/recipes/item/107/Tape_Ketan_Hitam_dan_Tape_Hijau
-http://kumpulanresep-masakan.blogspot.com/2011/03/es-puding-tape-hijau.html
-http://refinpuding.blogspot.com/2010/08/puding-kopyor-tape-ketan.html
-http://v-recipes.blogspot.com/2005/09/puding-tape-hijau.html
-http://a-spoonfull-of-sugar.blogspot.com/2011/02/bobotok-tape-pisang.html