Showing posts with label pendekatan aplikatif. Show all posts
Showing posts with label pendekatan aplikatif. Show all posts

Friday, September 10, 2021

Mengamati dan Mendeskripsikan Karya Seni Rupa

 A. Pengalaman Mengamati Karya Seni Rupa

Semua orang tentu memiliki pengalaman dalam mengamati karya seni di kehidupannya. Berdasarkan pengalaman tersebut, setiap orang mendapatkan pembelajaran dari karya yang diamatinya.

Pada sesi ini siswa diajak untuk menceritakan pengalaman masing-masing dalam bentuk diskusi tentang pengamatan karya yang pernah dirasa memberikan dampak bagi diri sendiri maupun lingkungannya.


B. Mendeskripsikan dan Menganalisis Karya Seni Rupa

Guru memberikan materi kepada siswa terkait cara mendeskripsikan dan menganalisis karya seni. Untuk itu, siswa diperkenalkan dengan metode kritik seni dalam mendeskripsikan karya yang diapresiasi.

Mendeskripsikan karya seni rupa

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mendeskripsikan karya seni adalah:

•Sedang yang digunakan (teknik dan bahan)

contoh: Jika siswa melihat sebuah lukisan kanvas yang menggunakan cat minyak, maka teknik yang digunakan adalah melukis dan bahannya adalah cat minyak dan kanvas.

•Unsur karya (obyek yang terlihat, warna-warna yang nampak, bentuk yang terlihat).

 


Gambar 2.1. Unsur - unsur dalam karya seni

koleksi karya www.ganara.art (2020)


•Menganalisis karya seni rupa

Ada beberapa metode kritik yang dapat digunakan dalam mengapresiasi karya seni seperti yang dikemukakan Chapman (1978), yaitu: metode induktif, metode deduktif, metode empatik, dan metode interaktif.

Selain itu, siswa juga dapat menggunakan jenis kritik seni rupa menurut Feldman (1967: 452-456) yang terdiri dari: Kritik Jurnalistik (Jurnalistic Criticism), Kritik Pedagogik (Pedagogical Criticsm), Kritik Akademik (Scholary Criticism), Kritik Populer (Popular Criticism). ).


Kegiatan mengapresiasi seni melalui kritik pedagogik biasanya dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan tinggi pendidikan kesenian. Namun demikian, model ini juga dapat dikembangkan oleh guru dengan tujuan untuk mengembangkan bakat dan potensi artistik-estetik siswa sehingga mampu mengembangkan apresiasi dan pemahamannya terhadap karya yang dibahas. Hal ini ditegaskan Wachowiak dan Clements (1993: 148) bahwa: ”Tujuan kritik seni rupa di sekolah adalah untuk mengembangkan apresiasi dan pemahaman….”. Selanjutnya, urutan pelaksanaan kritik untuk apresiasi seni yang disarankan (1993: 149) terdiri dari enam tahapan, yaitu:

Penyajian kritik dalam teori kritik seni menurut para ahli yang dikenal di beberapa tahap kegiatan. Feldman (1967: 469), mengungkapkan tahapan kritik terdiri dari: Deskripsi (Description), Analisis Formal (Formal Analysis), interpretasi (Interpretation), dan evaluasi atau penilaian (Evaluation or Judgement). Sementara itu Barrett (1994: 16) menilai hal tersebut dengan istilah fungsi kritik seni sebagai “deskripsi, interpretasi, dan evaluasi seni baru”.


Selain itu siswa juga dapat menggunakan metode mengapresiasi suatu karya seni sebagaimana dikemukakan Brent G. Wilson dalam bukunya yang berjudul Evaluation of Learning in Art Education, bahwa apresiasi memiliki 3 konteks utama:

Apresiasi Empatik: menilai atau menghargai suatu karya seni yang dapat dibatasi dalam gambar saja.

Apresiasi Estetis: menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan pengamatan dan penghayatan yang mendalam.

Apresiasi Kritik: menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan klasifikasi, deskripsi, analisis tafsiran, dan evaluasi.


Proses pembelajaran apresiasi seni, dapat dilakukan melalui metode dan pendekatan seperti yang dikemukakan oleh (Sahman, 1993:153; Soedarso, 1990:83-84) yaitu sebagai berikut:

a.Pendekatan aplikatif: Pendekatan ini dilakukan melalui proses pembuatan secara langsung. Hal ini sejalan dengan ajaran Dewey “learning by doing”.

b.Pendekatan Historis: Ditempuh melalui pengenalan sejarah seni. penciptaan demi terciptanya peristiwa demi peristiwa yang masing-masing memiliki masalah sendiri, dimainkan dan dibahas secara berurutan.

c.Pendekatan problematik: Menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmatinya secara semestinya, kemudian deret masalah-masalah senilah yang harus dibahas satu per satu.


Menurut Sobandi (2007), ada beberapa model pembelajaran apresiasi, di antaranya:

a.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Karya Reproduksi (ASmKR)

b.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Media Film (ASmMF)

c.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Pameran Sekolah (ASmPS)

d.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Kunjungan ke Museum (ASmKM)

e.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Presentasi Pengalaman Berkarya (ASmPPB)

f.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Artist Talk Seniman (AmATS)

g.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Telaah Karya (ASmTK)

h.Model Pembelajaran Apresiasi melalui Kritik Wachowiak dan Clements

i.Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Praktek Studio-Kritik Seni (ASmPSKS)


Berdasarkan beberapa metode dan langkah di atas, sebenarnya bentuk pembelajaran apresiasi terdiri dari dua jenis kegiatan, yaitu:

1. Apresiasi Pasif: Kegiatan menonton dan menikmati tanpa memberi umpan balik untuk wacana seni rupa

2. Apresiasi Aktif: dapat dilakukan melalui beberapa alternatif kegiatan sebagai berikut:

•Kegiatan diskusi terarah

•Pengembangan wacana (penelitian, ulasan, kritik)

•Kegiatan koleksi untuk publik –koleksi yang dilakukan oleh museum atau institusi publik, dan menampilkan koleksi untuk publik secara luas.

•Kegiatan koleksi untuk privat – koleksi yang dilakukan untuk disimpan dan dinikmati secara pribadi atau kelompok tertentu

•Hasil-hasil dari kegiatan apresiasi yang dapat digunakan untuk penelitian dan referensi untuk pengembangan ekosistem seni rupa.


C. Tempat Mengapresiasi Karya Seni Rupa :

Galeri

Galeri adalah ruang untuk menampilkan karya seni dalam bentuk pameran, biasanya galeri dikelola secara komersial yang bertujuan untuk menjual karya seni.


Museum

Ruang untuk menyimpan, merawat, merestorasi benda-benda bersejarah dan bekerja sebagai tempat publik untuk mengakses karya seni secara edukatif.

•Museum Publik: Museum yang dikelola oleh pemerintah dan terbuka untuk umum.

•Museum Privat: Museum yang dimiliki oleh individu tertentu atau sebuah perusahaan swasta.


Ruang Publik

Tempat umum seperti jalanan, taman, dan gedung-gedung yang digunakan oleh masyarakat luas. Misalnya: patung-patung di taman, mural, graffiti, dsb.


Ruang Alternatif

Ruang yang digunakan oleh komunitas seni rupa untuk berkumpul, berbagai pengetahuan dan pameran karya seni.


Ruang Virtual

Disajikan dalam bentuk virtual di platform tertentu, misalnya: Website, Instagram, dsb.



D. Cara Mengapresiasi Karya Seni Rupa

Berbagai cara dapat dilakukan dalam mengapresiasi karya seni rupa di pameran, contoh:

1. Berbicara langsung dengan seniman/kurator/pemandu pameran.

2. Mengikuti tur galeri dan mendengarkan penjelasan atau membaca penjelasan dari setiap karya seni yang dipamerkan.

3. Tidak menyentuh karya kecuali diizinkan.

4. Mematuhi peraturan yang diberlakukan di ruang pameran. Di setiap ruang pameran, tentu saja memiliki peraturan yang berbeda-beda. Sebagai contoh peraturan atau tata tertib yang diberlakukan di Galeri Nasional Indonesia:

 

Gambar 2.2. Tata Tertib Galeri Seni

koleksi karya www.ganara.art (2020)


Dilarang merokok

• Dilarang menyentuh karya

• Dilarang memakai jaket

• Dilarang membawa tas

• Dilarang memakai topi dan kacamata hitam

• Dilarang membawa hewan

• Dilarang menggunakan kamera flash

• Dilarang membawa makanan/minuman

• Dilarang menggunakan flash kamera handphone

• Dilarang menggunakan tongsis/selfie ie stick

• Dilarang membuang sampah

• Dilarang menjual


1. Membagikan wawasan dan apresiasi dalam berbagai bentuk (contoh: media sosial)

2. Contoh dampak karya seni bagi diri sendiri dan lingkungannya, contoh:

• memiliki muatan emosional/spiritual

• Memberikan nilai keindahan dan kepuasan tersendiri

• Memberikan dampak psikologis (contoh: salah satu bentuk terapi) dan kesenangan hati

• peningkatan dan mengasah kreativitas dan daya imajinasi

• Melepas penat dan mengatasi stres


Pemaparan contoh karya seni yang berdampak untuk diri sendiri dan lingkungan.


Gambar 2.3. Pemaparan contoh karya seni yang berdampak untuk diri sendiri dan lingkungan

Sumber: Indoartnow/Pameran Titik Temu (2018)



Sumber: buku guru Kurilulum Operasional Sekolah SMK PK KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAN PERBUKUAN PUSAT KURIKULUM DAN PERBUKUAN





 




Tuesday, December 15, 2020

Contoh Soal Uraian Apresiasi Seni Budaya Nusantara

1. Jelaskan pengertian apresiasi!

2. Menurut pendekatannya apresiasi ada 2 jelaskan!

3. Sebutkan masing-masing dua cara melakukan:

    a. Pendekatan aplikatif

    b. Pendekatan kesejarahan

4. Sebutkan 3 jenis apresiasi menrut tingkatannya!

5. Sebutkan 4 tujuan apresiasi seni budaya!

6. Sebutkan 5 fungsi apresiasi seni budaya!

7. Sebutkan 4 tahapan apresiasi!

8. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Deskripsi!

9. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Interpretasi!

10. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Analisis!

11. Jelaskan yang dimaksud dengan tahapan Penilaian!

12. Sebutkan 3 cara menerapkan apresiasi seni budaya nusantara!



Kunci Jawaban:

1. Apresiasi adalah upaya untuk memahami bentuk-bentuk dan hasil seni budaya secara menyeluruh, termasuk memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, seperti nilai estetika.

2. Menurut pendekatannya apresiasi ada 2 yaitu:

        a. Apresiasi pasif yaitu penilaian bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni melalui pancaindra setelah itu tidak mencari informasi lebih lanjut.

        b. Apresiasi aktif yaitu penilaian bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni melalui pancaindra setelah itu mencari informasi lebih lanjut.

3. Cara melakukan:

    a. Pendekatan aplikatif:

-Mempelajari cara membuat karya seni tersebut (melukis/menari/bermain music/drama)

-Bergabung dengan sanggar/kursus pelatihan seni

-Mengunjungi museum/studio seni

-Praktek berkesenian secara otodidak

    b. Pendekatan kesejarahan:

-Melakukan wawancara pada ahli/ tetua/ pencipta seni/ seniman/ pelaku seni/ keluarga

-Mencari asal-usul/sejarah karya seni tersebut melalui internet

-Mencari asal-usul/sejarah karya seni tersebut melalui buku

4. Jenis apresiai menurut tingkatannya yaitu apresiasi Empatik, apresiasi Estetis, dan apresiasi Kritik

5.Tujuan apresiasi Seni Budaya:

    1. Memahami alasan penciptaan karya seni

    2. Mengembangkan kreativitas

    3. Menumbuhkan kepekaan estetis

    4. Menyempurnakan karya seni

6. Fungsi apresiasi Seni Budaya:

    1. Memahami seni secara mendalam

    2. Mengetahui kualitas suatu karya seni

    3. Mengembangkan kemampuan seniman dan penikmat seni

    4. Menambah pengalaman berkesenian

    5. Meningkatkan kecintaan terhadap karya seni

7. Tahapan apresiasi seni budaya:

    1. Deskripsi

    2. Analisis

    3. Interpretasi

    4. Penailaian

8. Tahapan deskripsi adalah mengidentifikasi suatu bentuk karya seni atau budaya melalui hasil cerapan atau tangkapan pancaindra.

9. Tahapan analisis adalah mengaitkan unsur-unsur pembentuk yang terlihat dalam suatu karya.

10. Tahapan interpretasi adalah tahapan penafsiran atau pengungkapan makna yang terkandung dalam suatu karya seni.

11. Tahapan penilaian adalah tahapan akhir dalam apresiasi yang berisi evaluasi dan kesimpulan. Memberikan penilaian terhadap suatu karya seni.

12. Cara menerapkan apresiasi seni budaya:

    1. Mengenali bentuk-bentuk seni budaya nusantara

    2. Memahami bentuk-bentuk seni budaya nusantara

    3. Menampilkan bentuk-bentuk seni budaya nusantara



Sumber materi: Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Contoh soal cerita materi Apresiasi Seni Budaya Nusantara

Simaklah cerita di bawah ini:

Mira, Ratna dan Andi berlibur ke Bali, mereka menyaksikan berbagai pertunjukan seni. Setelah menyaksikan sebuah tari Barong mereka semua terkagum-kagum dengan pertunjukan tersebut dan merasa senang melihatnya. Andi kemudian berlari ke belakang panggung bertanya pada salah satu penari tersebut bagaimana cara menggunakan kostum barong, Mira membuka HP dan browsing sejarah tari Barong, sedangkan Ratna hanya duduk saja. Setelah membaca sejarah tari Barong, Mira kemudian membuat catatan detail tentang tari tersebut, iapun menemupan kekurangan dari tari Barong tersebut yaitu dialognya kurang mampu dipahami. Sedangkan Andi setelah mewawancarai penari Barong ia berinisiatif meminta kontak nomor HP untuk latihan/kursus menari Barong.

Pertanyaan:

1. Menurut pendekatannya siapakah yang melakukan apresiasi pasif?

2. Menurut pendekatannya siapakah yang melakukan apresiasi akif?

3. Pendekatan apa yang dilakukan oleh Andi?

4. Pendekatan apa yang dilakukan oleh Mira?

5. Menurut tingkatannya siapa sajakah yang telah melakukan apresiasi empatik?

6. Menurut tingkatannya siapa sajakah yang telah melakukan apresiasi estetis?

7. Menurut tingkatannya siapa sajakah yang telah melakukan apresiasi kritik?

8. Menurut perkiraanmu tentang apa sajakah isi dari catatan detail milik Mira?

9. Siapakah kira-kira yang melakukan tahapan apresiasi Seni Budaya sampai pada tahapan penilaian?

10. Menurut Brent G. Wilson apresiasi yang dilakukan Ratna megandung berapa konteks? Apa sajakah itu?



Kunci Jawaban:

1. Ratna

2. Mira dan Andi

3.Pendekatan Aplikatif

4. Pendekatan Kesejarahan

5. Mira, Andi dan Ratna

6. Mira, Andi dan Ratna

7. Mira

8. Klasifikasi tari Barong, asal-usul tari Barong, dialog tari Barong, kostum, cerita, kostum, Gerakan, jenis music, tata rias, pencahayaan, kekurangan dan kelebihan tari Barong.

9. Mira

10. Feeling dan Empathizing.



Penilaian: Jumlah benar x 10 = 10x10= 100