Showing posts with label modern. Show all posts
Showing posts with label modern. Show all posts

Tuesday, August 23, 2016

Kebudayaan: Makanan Tape

Tapai yang sering dieja dengan sebutan tape tape merupakan makanan berupa jajanan yang berasal dari fermentasi/peragian bahan makanan berupa ketan tau singkong (bahan pangan berkabohidrat). Secara turun-temurun, makanan ini termasuk dalam katagori makanan tradisional, sebab proses pembuatan tape tergolong dalam proses tradisional dan tidak menggunakan peralatan-peralatan modern. Hanya dengan bahan dasar makanan, ragi serta pembungkus daun tape dapat dibuat dengan mudah. Dalam proses fermentasi tapai, digunakan beberapa jenis mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oryzae, Endomycopsis burtonii, Mucor sp., Candida utilis, Saccharomycopsis fibuligera, Pediococcus sp., dan lain-lain. Tapai hasil fermentasi dari S. cerevisiae umumnya berbentuk semi-cair, berasa manis keasaman, mengandung alkohol, dan memiliki tekstur lengket. Sebagian besar tapai yang ada di Indonesia dibuat dari fermentasi beras ketan (Oryza sativa glutinosa) atau singkong (Manihot esculenta). Tape bisa dibuat dari singkong (ubi kayu) dan hasilnya dinamakan tapai singkong. Bila dibuat dari ketan hitam maupun ketan putih, hasilnya disebut "tapai pulut" atau "tapai ketan". 
Berikut ini adalah keunggulan dan kelemahan tape dari yang dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tapai

Keunggulan tapai
Fermentasi tapai dapat meningkatkan kandungan Vitamin B1 (tiamina) hingga tiga kali lipat . Vitamin ini diperlukan oleh sistem saraf, sel otot, dan sistem pencernaan agar dapat berfungsi dengan baik. Karena mengandung berbagai macam bakteri “baik” yang aman dikonsumsi, tapai dapat digolongkan sebagai sumber probiotik bagi tubuh. Cairan tapai dan tapai ketan diketahui mengandung bakteri asam laktat sebanyak ± satu juta per mililiter atau gramnya. Produk fermentasi ini diyakini dapat memberikan efek menyehatkan tubuh, terutama sistem pencernaan, karena meningkatkan jumlah bakteri dalam tubuh dan mengurangi jumlah bakteri jahat. Kelebihan lain dari tapai adalah kemampuannya tapai mengikat dan mengeluarkan aflatoksin dari tubuh. Aflaktosin merupakan zat toksik atau racun yang dihasilkan oleh kapang, terutama Aspergillus flavus . Toksik ini banyak kita jumpai dalam kebutuhan pangan sehari-hari, seperti kecap. 
Konsumsi tapai dalam batas normal diharapkan dapat mereduksi aflatoksin tersebut. Di beberapa negara tropis yang mengkonsumsi singkong sebagai karbohidrat utama, penduduknya rentan menderita anemia . Hal ini dikarenakan singkong mengandung sianida yang bersifat toksik dalam tubuh manusia. . Konsumsi tapai dapat mencegah terjadinya anemia karena mikroorganisme yang berperan dalam fermentasinya mampu menghasilkan vitamin B12.
Tapai juga mengandung prebiotik, probiotik adalah ingridien makanan berupa bakteri hidup (lactobacilli dan bifidobacteria) yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh melalui keseimbangan mikrobiota pada saluran pencernaan. Mikrobiota yang seimbang dicapai saat bakteri yang baik jumlahnya tinggi sehingga dapat menekan pertumbuhan bakter patogen enterik (penyebab diare) yang membahayakan.

Kelemahan tapai
Konsumsi tapai yang berlebihan dapat menimbulkan infeksi pada darah dan gangguan sistem pencernaan. Selain itu, beberapa jenis bakteri yang digunakan dalam pembuatan tapai berpotensi menyebabkan penyakit pada orang-orang dengan sistem imun yang terlalu lemah seperti anak-anak balita, kaum lanjut usia, atau penderita HIV. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, konsumsi tapai perlu dilakukan secara terkendali dan pembuatannya serta penyimpanannya pun dilakukan dengan higienis.

Istilah tapai di berbagai daerah tapai pulut (Malaysia), basi binubran (Filipina), chao (Kamboja), lao-chao atau chiu niang (Cina), dan khao-mak (Thailand). Tapai juga dikenal di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Makanan ini memiliki nama lokal yang berbeda–beda di setiap negara.

Tape modern
Tape yang biasanya dibungkus dengan daun, pada masa modern kini sudah banyak yang tidak menggunakannya lagi pada waktu proses mauun penyajiannya. Pada proses fermentasi ada yang ditutup dengan menggunakan toples plastik. Ketika penyajianpun ada yang menggunakan plastik kecil-kecil maupun dihidangkan dalam wadah mangkuk sehingga rasa khas daun dari tape itu tidak ada lagi.




Contoh dari makanan tape modern ini berasal dari Muntilan, yakni tape ketan ijo. Ini adalah makanan khas yang jika dimakan dengan ditemani kerupuk emping. Cara makannya adalah emping dijadikan sendok untuk mengambil tape tersebut, kemudian sendok emping beserta tape yang ada di dalamnya langsung dimakan secara bersamaan.


Tapi tape-tape ini di kemas dengan menggunakan kemasan Mug Plastik yang ringan.

Variasi Tape
Produk olahan tapai Masa Kini selain dapat dikonsumsi secara langsung, tapai dapat dijadikan olahan lain atau dicampur dengan makanan dan minuman lainnya. Contohnya: tapai pulut untuk campuran cendol dan es campur, atau dapat juga diolah kembali menjadi wajik dan dodol. Selain itu tape juga dapat dibuat makanan yang bervariasi.

 Es Tape Ketan Hitam Vanilla

 Botok Tape Pisang


 Es puding tape hijau
Puding Tape

 Lumpia tape

Puding Scoop Tape

Warna Tape
Tape memiliki beberapa variasi warna diantaranya adalah sebagai berikut:
1.Tape putih
Tape yang warnanya putih merupakan tape yang tidak menggunakan bahan pewarna apapun sehingga warnanya asli. Warna putih didapat dari warna beras ketan yang pada dasarnya adalah berwarna putih sehingga ketika menjadi tapepun warnanya putih.


2.Tape hitam
Tape yang berwarna hitam terbuat dari jenis ketan hitam sehingga warna hitam pada ketan merupakan warna asli dan tidak menggunakan pewarna tambahan. Karena warnanya yang menarik, ketan hitam banyak digunakan untuk membuat bermacam makanan.

3.Tape hijau
Tape yang berwarna hijau merupakan tape yang berasal dari ketan putih yang dicampur dengan pewarna makanan hijau. Pewarna hijau dapat menggunakan waran alami maupun pewarna makanan khusus seperti Sumba. Untuk membuat tapai ketan berwarna merah, digunakan angkak, pigmen yang dihasilkan oleh Monascus purpureus. Sedangkan tapai ketan warna hijau dibuat menggunakan ekstrak daun pandan. Tape berwarna selain warna putih, hitam dan hijau jarang ditemukan, kemungkinan sejak dulu warna-warna inilah yang banyak digunakan.




Penyajian Tape
Tape biasanya disajikan dengan  menggunakan pembungkusnya yaitu daun pisang, akan tetapi tidak semuanya menggunakan daun pisang. Tape-tape yang tidak biasa menggunakan daun pisang ini bisa dikatakan unik karena tidak di semua daerah ada.

Yang unik, penyajian tape di Indonesia dari berbagai daerah berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Makanan tape pada umunya dibugkus menggunakan daun pisang, biasanya menggunakan sebuah daun pisang yang sudah dipotong menjadi segi empat kemudian setelah dilipat dilapisi dengan lembaran panjang daun pisang lagi yang disusun terbalik. Sehingga menampakkan seperti sebuah garis yang membelah penampang bungkus tape. Namun dibeberapa daerah, tape dibungkus dengan daun yang lainnya. Daun-daun ini seolah menjadi ciri khas daerah masing-masing yang menjadi lingkungan hidupa dari tanaman-tanaman tersebut. Diantaranya terdapat beberapa daerah yang menggunakan daun-daun yang berbeda yaitu:
1.Tape Ketan bungkus daun Jambu
Tape ketan bungkus daun jambu ini merupakan tape ketan yang pembungkusnya menggunakan daun jambu air. Tape dengan pembungkusan daun jambu ini berasal dari daerah Kuningan dan Cirebon. Daun jambu air yang digunakan hanya satu lembar serta pembungkusannya dan cara mengikatnya seperti tape pada umunya. Tape ini akan beraroma jambu ketika disajikan.


Ciri khas tape Kuningan Jawa Barat ialah dibungkus daun jambu air, biasanya banyak dijual dalam wadah ember hitam bertuliskan Tape Ketan Asli Cibeureum, ada juga yang dijual dalam bentuk kemasan kecil kotak plastik. Rasanya manis.
2.Tape Ketan bungkus daun Kemiri
Di daerah Purwakarta, Jawa Barat terdapat pula tape yang pembungkusnya menggunakan daun Kemiri. Memang di daerah Purwokerto terdapat pohon Kemiri, namun pohon Kemiri ini langka. Jika ingin menemukan  pohon beserta daunnya, harus mencari di hutan.

3.Tape daun jati
Tape daun  jati merupakan tape yang pembungkusnya menggunakan daun jati. Daun jati yang digunakan bukan daun jati yang lebar-lebar namun disesuaikan dengan ukuran jajanan tape.

Ada pula pembungkus tape yang menggunakan daun selain daun-daun diatas, yaitu tape di daerah Bentul, berikut gambarnya:

 Dilihat dari bahannya, bungkus tape memang unik-unik. Berbeda lagi jika melihat tape di Blora, menggunakan bungkus daun yang lain lagi yaitu daun Ploso
Cara Memakan tape
Cara memakan tape tradisional tidak dengan menggunakan sendok atau garpu, pada cara tradisional orang-orang memakan tape dengan menggunakan penusuknya sebagai garpu. Hal ini praktis dan unik, berikut cara memakan tape:



Tape Godong Ploso


Ketika Kesenian Modern muncul...


Ketika kesenian modern muncul, terdapat unsur-unsur yang mendukung dan tetap bertahan untuk tradisional. Berikut penjelasannya:

Perubahan budaya (Cultural Cahnge) terjadi manakala kebudayaan itu sudah tidak dianggap lagi fungsional sebagai rujukan hidup. Kebudayaan dalam perkembangannya dapat dilestarikan dengan baik atau justru menjadi berubah. Kebudayaan itu akan dilestarikan jika nilai-nilai yang ada didalamnya tetap dipertahankan, namun kebudayaan itu akan berubah jika adanya pengembangan nilai-nilai yang baru. Kebudayaan yang tetap merupakan kebudayaan tradisional sedangkan kebudayaan yang telah berubah merupakan kebudayaan modern.
Perubahan kebudayaan yang terdiri dari unsur-unsur kebudayaan diantaranya ada unsur-unsur yang mendukung dan unsur-unsur yang tidak mendukung. Artinya kebudayaan itu tetap menjadi kebudayaan yang bersifat tradisional.
1. Ketika kesenian modern itu muncul, unsur-unsur yang mendukung dalam kebudayaan itu antara lain dapat dilihat dari sistem teknologi, pengetahuan, mata pencaharian, sosial serta ekonomi.
Perkembangan teknologi yang merujuk pada kemudahan dalam mengerjakan sesuatu membuat perubahan keterlibatan manusia. Campur tangan manusia yang lebih kepada sistem manual sudah semakin ditinggalkan karena banyakanya segala sesuatu yang berkembang dalam bidang teknologi. Akibatnya tindakan-tindakan dalam berksenianpun banyak yang sudah dipermudah dengan bermacam ketersediaan alat. Hal ini bersifat memanjakan dan dampaknya manusia ingin meraih sesuatu yang lebih praktis lagi. Contohnya ketika menecat sudah tidak menggunakan kuas dan cat lagi namun beralih menggunakan pewarnaan dari program Photosop atau Coral Draw dan menggunakan mesin printer sebagai pencetaknya.
Pengetahuan akan teknologi yang mendalam membuat manusia meninggalkan ilmu-ilmu tradisional yang diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun. Pengetahuan manusia yang makin bertambah dan cerdas membuat penemuan-penmuan baru dalam melakukan sesuatu. Selain itu pengetahuan yang membimbing manusia ke arah yang lebih baik membuat manusia meninggalkan ilmu-ilmu dari para leluhur yang dianggap salah atau tidak masuk akal. Sebab orang zaman dahulu dan sekarang tentu lebih pandai orang pada zaman sekarang. Meskipun terkadang ada pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dari warisan leluhur namun ketika manusia menemukan pengetahuan yang lebih baik lagi maka ia akan mempelajari lebih dalam lagi dan semakin tidak menggunakan ilmu leluhur mereka. Contohnya melukis menggunakan bulu adalah pengetahuan yang dari orang dahulu, namun kemudian muncul pengetahuan bahwa adanya bulu tertentu yang lebih baik digunakan, cara mengkuaskan, bahan dan sebagainya.
Mata pencaharian orang zaman sekarang dan mata pencaharian orang zahulu sangat berbeda. Sekarang kehidupan lebih baik, pada umunya orang-orang memiliki pekerjaan yang lebih mudah. Hal ini berdampak pada perekonomian mereka yang lebih makmur daripada dahulu. Kesenian modern yang merupakan kesenian yang tumbuh pada masa sekarang dipengaruhi pula oleh kedua sistem ini. Kesenian-kesenian yang dianggap tidak berfungsi dalam kehidupan tidak dipandang sebagai sesuatu yang penting lagi. Jika orang dahulu suka memanfaatkan gerabah sebagai wadah untuk mengambil air atau apapun itu, kini sudah tidak banyak lagi yang menggunakan. Mata pencaharian penjual gerabah sudah jarang sebab ada pekerjaan-pekerjaan yang lain jauh lebih baik. Demikian pula pada kesenian ketoprak yang kini juga tidak seheboh dahulu. Kehidupan manusia sudah tidak seperti dulu lagi yang mengenakan bermacam pakaian tradisional dan cerita tradisional pula. Kini manusia merupakan manusia modern yang bersetting hiruk pikuk dan berlatar kesibukan.
Tidak lepas pada sistem sosial, keadaan manusia yang berubah status sosialnya menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh pada kesenian. Manusia yang hidup dan berinteraksi pada sesamanya dapat merubah tingkah laku serta selera yang mereka punya. Anggapan baik atau tidak, menarik atau tidak kini bukan menjadi selera lokal lagi namun menjadi selera antar negara dan meluas menjadi mendunia. Persepsi-persepsi baru akan muncul dalam lingkungan sosial dan menjadi dampak pada perubahan kesenian dan kebudayaan yang ada. Contohnya ketika kesenian baju adat kebaya menjadi selera orang-orang Jawa kemudian ketika berkembang dan diketahui banyak orang menjadi kebaya yang bermacam-macam model, bahkan di negara barat telah berubah menjadi gaun yang besar dan mewah.
Keberadaan seni tradisi di era globalisasi dihadapkan kepada sejumlah tantangan yang cukup kompleks. Menurut Prof. Waridi, tentang tantangan-tantangan yang dihadapi seni tradisi saat ini yaitu:
a) Kontinuitas pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi dari waktu ke waktu cenderung semakin menipis. Artinya telah terdapat kecenderungan diskontinuitas di tingkat apresiasi dan pemahaman.
b) Kurang tersedianya ruang dan sarana yang cukup bagi masyarakat/ anak-anak muda untuk mendapat kesempatan mengapresiasi seni tradisi secara serius. 
c) Belum terjadi proses internalisasi unsur-unsur seni tradisi secara wajar, sinambung, dan sistemik dalam usia anak dini dan remaja.
d) Sebagian seni tradisi cenderung tampil kurang menggairahkan, karena dalam keadaan lesu darah.
e) Berhadapan dengan kebudayaan seni pop yang dipandang dapat mencitrakan gejolak emosi anak muda (siswa remaja).
f) Munculnya kekuatan kapitalis yang bergerak dalam industri budaya, cenderung memberi ruang sangat luas terhadap jenis-jenis seni populer. Secara realitas kekuatan ini sulit untuk dihindari dan masyarakat seni tradisi tidak memiliki kekuatan untuk mengimbanginya.
g) Seni tradisi lebih dipandang dan dicitrakan sebagai seni masa lalu yang kurang mencitrakan kemodernan. Bila demikian terdapat sesuatu yang agak menggelisahkan, yakni kemungkinan munculnya suatu persepsi yang memandang, bahwa seni populer dalam perspektif umum dijadikan sebagai ukuran atau standar mutu keberadaan sebuah seni termasuk festival-festival atau kontes-kontes pada suatu bangsa. Tanda-tanda ini mulai muncul di Indonesia, yakni penilaian yang didasarkan atas banyaknya dukungan yang masuk terhadap seseorang atau sekelompok orang yang berdampak langsung terhadap dimenangkannya seseorang dalam suatu kontes kesenian. Tindakan semacam ini secara jelas telah terdapat upaya-upaya dari sekelompok orang untuk menggeser persoalan subjektivitas kesenian ke arah objektivitas publik. 
Pada dasarnya kesenian yang dianggap manusia tidak bermanfaat atau dianggapa tidak memiliki fungsi esetis lagi akan ditinggalkan. Misalnya pada sesuatu yang tidak masuk akal lagi atau sesuatu yang terlalu sederhana atau esuatu yang tidak menggairahkan lagi. Demikian seiring munculnya kesenian modern yang merupakan penciptaan dari setiap zaman yang menjadi selera orang-orang pada masa itu dan sesuai kebutuhan pada masa itu pula.

2. Ketika kesenian itu tetap bertahan sebagai kesenian tradisional, unsur-unsur yang mendukung yaitu pada sistem religi/kepercayaan, bahasa, serta nilai-nilai dalam masyarakat.
Kepercayaan merupakan suatu keyakinan yang belum tentu dapat  dibuktikan dengan pengetahuan, kepercayaan yang kuat akan membuat keyakinan yang kuat pula. Pada masa sebulmnya manusia hidup penuh dalam lingkup kepercayaan-kepercayaan nenek moyang, namun selanjutnya berubah menjadi sistem religi berupa bermacam-macam agama. Akan tetapi kebiasaan yang ditularkan oleh nenek moyang mereka tidak seluruhnya ditinggalkan. Meskipun mereka menganut agama baru, namun ada beberapa kepercayaan yang masih melekat pada keyakinan mereka. Ketika kepercayaan ini berupa kesenian visual makan kesenian ini tidak akan ditinggalkan meskipun zaman telah berubah. Apalagi jika sudah menjadi tradisi dan memberi keyakinan akan peruntungan dalam hidup.
Sistem normapun menjadi panutan dalam kesenian itu. Ketika sebuah kesenian mengandung nilai-nilai luhur tertentu dan dianggap sebagai sesuatu yang berharga, maka tidak ada yang rela jika kesenian itu musnah begitu saja. Apalagi jika keseian itu merupakan sejarah dari suatu kelompok manusia, tentu kesenian itu menjadi aset yang berharga. Contohnya pada batik yang kini dilestraikan secara besar-besaran dan diakui dengan tegas. Nilai-nilai pada batik amat berharga dan beragam, menjunjung nilai-nilai kehidupan yang menjadi fungsional pada para pemakainya.
Tradisionalpun tidak lepas dari bahasa yang merupakan bahasa asli, bahasa lokal suatu daerah atau tempat. Sebuah kesenian tertentu pasti memiliki arti dan penerjemahan yang khas berdasarkan daerah asalnya. Bahasa memang dapat berubah berdasarkan perubahan zaman, namun bahasa asli masih dapat bertahan dan menjadi sesuatu yang biasanya tetap dilestarikan. Apalagi jika bahasi itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ketika menjadi sebuah kesenian akan lebih bermakna pada orang-orang yang mengetahui bahasa itu, sehingga lebih bermakna dan tidak ingin melepasnya begitu saja. Contohnya saja kesenian bahasa pada geguritan yaitu puisi dalam bahasa Jawa. Kesenian ini akan tetap dipertahankan dan agak sulit untuk berubah menjadi kesenian yang modern. Sebab dari bahasanya sudah meruapakn bahasa daerah yang asli, belum lagi makna dan sastra yang terkandung di dalamnya menjadi nilai-nilai yang sangat tinggi bagi orang Jawa.

Friday, February 12, 2016

Berbagai contoh karya seni Patung Modern

Pada zaman sekarang telah banyak jenis patung yang dibuat dalam rangka sebagai seni pakai maupun seni murni. Pada masa modern sekarang patung tidak hanya digunakan sebagai barang pemujaan ataupun barang religius lain seperti masa dahulu namun seiring dengan perkembangan kehidupan sosial dapat digunakan sebagai sarana dalam berbagai hal. Contoh-contoh patung modern:

" Lingkaran Pesan dari Timur "
(karya : G.Sidharta)
Pada karya “Lingkaran Pesan dari Timur” ini cenderung mengolah unsur-unsur desain, konflik dan keselarasan. Karya dengan bahan tembaga yang berukuran 120 x 120 x 120 cm itu berupa semacam gelang raksasa yang tidak bertemu ujung dan pangkalnya. Pada tubuh gelang menempel empat potongan gelang serupa yang saling silang. Susunan bentuk mengingatkan orang pada paham yin-yang, yang tanda-tandanya muncul pada ujung-ujung potongan gelang tersebut.

Jack Plane

Ichwan Noor
29 x 22 x 23 cm
Wood, Planer, Blade
2006
Dalam karya ini secara unik memperagakan kapasitas model-model rekayasa dalam mempengaruhi dan menentukan persepsi tentang realitas. hiperealitas dunia kontemporer memungkinkan hadirnya masa silam, masa kini dan masa depan secara serempak. Karya ini merangkum yang primitif dan yang canggih, yang intens dan yang instan, spiritualisme dan materialisme, dalam satu kehadiran lahiriah yang kompak. Di zaman ini, manusia hidup dalam situasi hiperrealitas. Inilah era ketika apa yang disebut “realitas” telah goyah bahkan runtuh oleh invasi model-model rekayasa yang lebih meyakinkan, lebih “nyata”, daripada kenyataan itu sendiri. Citra, halusinasi dan simulasi kini sanggup menyaingi dan mengalahkan realitas.

Untitled

Iriantine Karnaya
85 x 85 x 20 cm
Bronze
Pada karya “Untitled”, Iriantine Karnaya mengejawantahkan visinya tentang dinamika dan mobilitas lewat analisa formal terhadap ekspresi murni, ritme permukaan dan logika visual. Hasilnya adalah sebentuk puisi konkret yang bertutur perihal gerak dari yang diam, ketakterbatasan dari yang terbatas. Dinamika dan mobilitas ritmis juga merebak dari karya “Marriage” Filippos: sebuah konstruksi harmonis yang dibangun dengan prinsip kesetimbangan relasi antar-bidang dan antar-garis, simetri antara kalkulasi matematis dan mimesis alam, keseimbangan antara rasionalitas dan naluri.


Karya Nuarta ini menunjukan gejala-gejala pembaharuan. Ia berupaya meninggalkan persepsi seni rupa Bali yang telah menjadi umum, dan dengan sangat kritis mengolah bentuk patung-patung Bali dengan cara memperlihatkan distorsi menyerupai patung-patung primitif. Keterkaitan Nuarta pada perkembangan seni rupa Bali ini membuat hubungan karya-karyanya dengan perkembangan seni rupa yang dipengaruhi tradisi modern menjadi tidak mutlak.

" Parameswara "
(karya : Rita Widagdo)
Kekuatan garis merupakan ciri khas karya Rita Widagdo. Karya ini tidak terlepas dari garapan garis, lipatan dan gerak. Pada karya ini memunculkan kesan gerak dengan cara malakukan repetisi / pengulangan bentuk garis, lipatan, atau juga perbedaan cekung-cembung permukaan bidang karya dalam jumlah tertentu sehingga menghasilkan ‘sesuatu’ yang unik/sin sign. Terdapat penciptaan garis melalui bahan yang digunakan, seperti kawat atau batang tembaga, kuningan, dan juga stainles steel, yang ditempel dengan teknik solder, maupun garis yang terjadi akibat dari pertemuan antar bidang, seperti pada relief “Pressing to the Surface” (1994), atau pada karya patungnya; “JeanneD’arc” (1999), “Family IV” (2004), dan termasuk karya-karya patung publik yang dihasilkannya. 

Sunday, January 31, 2016

Seniman Patung Modern

Dalam perkembangan seni rupa modern, abstrakisme yang menjadi salah satu alur perkembangannya yang utama, bermula pada patung-patung Pablo Picasso yang mengadaptasi bentuk-bentuk patung primitif Afrika. Dalam seni rupa modern Indonesia, para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya. Seorang seniman biasanya merasa sulit untuk melepaskan diri dari ikatan sosial yang ada disekitarnya. Oleh karena itu seorang seniman modern dengan sadar berusaha membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, dalam hubungannya dengan tanggapan terhadap obyek karyanya. Cara menghayati karya-karya abstrak adalah melalui pemahaman terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya tersebut dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant. Penafsiran terhadap tanda-tanda visual tersebut sesuai dengan ground pribadi masing-masing pengamat, dengan kata lain, karya seni modern ‘terbuka’ bagi interpretasi.
Para seniman yang membuat karya patung modern bukan digunakan sebagai seni pakai tetapi lebih cenderung kepada seni murni dengan berbagai tehnik, corak maupun tema. Beberapa contoh diantaranya yaitu:

Rita Widagdo
Rita widagdo adalah seorang seniman yang tetap konsisten bertahan pada jalur abstrak, atau tepatnya lagi ‘abstrak murni’. Sejak awal sampai sekarang boleh dikatakan karya-karya Rita Widagdo tidak pernah sedikitpun menampilkan bentuk yang umum dikenal seperti bentuk-bentuk yang ada di alam. Ia mengolah elemen-elemen rupa tri-matra seperti; garis, bidang, ruang, dan memperlakukan unsur-unsur rupa tersebut sebagaimana adanya – tidak mewakili konsep atau pengertian tertentu. Semua karyanya digarap dengan sangat ‘perfect’ dan tampil ‘elegant’. Ia berkarya dengan memilih bentuk persegi empat, bulatan, atau silinder, maupun bentuk geometrik lainnya yang tidak merujuk pada tiruan bentuk alam. Apa yang ditampilkan / visualisasikan Rita adalah ‘nilai-nilai’ yang seakan-akan adalah sesuatu yang dianggap dapat mengikat suatu komuniti tertentu. melalui ungkapan yang bermakna objektif.
Karya-karya pada masa awal sekitar tahun 1970 seperti; “Line and Form” (1970), “The Open Self” (1972), “Roundness” (1978), menampakkan kecenderungan pada permainan bidang dengan susunan bidang setara. Pada masa itu ia sudah menghasilkan karya relief dengan menggarap kemungkinan bidang yang ‘seolah datar’ namun muncul dalam dimensi dan ruang yang nyata – bukan lagi ilusi seperti karya dwi-matra. Dalam hal pewarnaan, Rita selalu memilih warna yang cenderung senada yang bersifat qualisign, dan itu tampak mencolok pada “From Two Dimensional to Three Dimensional” yang dibuat dengan bahan baja tahan karat.

      G. Sidharta
G.Sidharta adalah pematung modern yang dikenal memberontak pada paham modern dengan mewarnai karya-karya patungnya (yang dianggap tidak setia terhadap watak bahan). Sejumlah karyanya juga mengandung cerita yang dihindari oleh umumnya para seniman modern. Kehadiran ornamen (pola-pola etnik) dan sapuan warna dalam karya patungnya ternyata tidak saja memperkaya perkembangan, tetapi juga melahirkan friksi-friksi tajam dalam wacana seni rupa. Karya-karya Sidharta menyiratkan ‘nafas tradisi’ yang sangat kuat. Perjumpaan Sidharta dengan modernisme – menimba ilmu di ASRI Yogyakarta dan Jan van Eyck Akademie voor Beeldende Kunsten Maastricht, Nederland – tak menepis seni tradisi dalam karyanya.
Sebagian besar karya Sidharta diungkapkan dengan menggunakan sistim penandaan yang bersifat qualisign dan sebagian lagi dengan memanfaatkan sistem penandaan ikonogafi. Dalam karyanya yang berjudul “Tumbuh Lima Duabelas Berkembang” (1986) Sidharta tidak lagi terikat pada media dan rumus-rumus seni yang konvensional. Ia berusaha mengungkapkan irama dalam ruang dengan gerak tegak secara legisign berbentuk tiang dan mengaitkan diri dengan jalur kehidupan tradisi, selain tetap berdiri di alam kehidupan masa kini. Tanda-tanda visual yang hadir dalam karya tersebut bersifat qualisign.
Disamping Sidharta memanfaatkan tanda-tanda visual secara qualisign, ia juga banyak menghadirkan sifat ikonografi atau bahkan gabungan dari kedua sifat tersebut dalam karya patungnya. Misalnya patung yang bejudul “Keseimbangan dan Orientasi” (1996) dan “Dewi Kebahagiaan III” (1999). Dalam pengolahan bentuk patung ini bersifat ikonografi, walau tidak lagi hadir dalam wujud realis. Namun dalam memanfaatkan warna tidak lagi ikonografi akan tetapi lebih bersifat qualisign.

Arby Samah
Cara cipta baru dalam seni patung di Yogyakarta dari paham teori imitasi ke teori formalis dirintis oleh Arby Samah, Edhi Sunarso dan Budiyani, disamping tentu saja mendapatkan pengaruh tidak langsung dari buku Barat. Arby Samah dilahirkan 1 April 1933 di Pandai Sikek, Sumatera Barat. Ide, tema serta pengolahan bahan berkarya, diekspresikan dalam wujud-wujud simbolik. Arby selalu mengambil ide-ide berkarya dari berbagai peristiwa yang mampu menggugah hati dan pikiran yang ia temui disekelilingnya. Ia meng-interpretasi-kan suasana mental dari apa yang ia lihat secara kasat mata kedalam wujud karya yang tidak lagi bersifat realis, namun mengolah bentuk dengan cara mereduksi sejumlah elemen realis menjadi bentuk dan gerak yang lebih sederhana.
Semua karya patung Arby diwujudkan dalam bentuk abstrak figuratif dan ikonografi dari referent yang dipilih. Bentuk-bentuk yang hadir diolah dari gerak atau sifat dasar dari bentuk figur yang ingin diungkapkan. Sebagai contoh karya yang berjudul “Sujud” (1965), ide tersebut sudah ada sebelum karya diciptakan. Tanda visual yang hadir memvisualisasikan ide, maksud dan juga pesan yang diinginkan Arby dan olahan bentuk dibuat secara simbolik dengan arah horizontal namun secara ikonografis masih dapat ditangkap bentuk gerakan seseorang yang sedang melakukan gerakan bersujud.
Ciri khas dari karya Arby berbentuk pipih dan dari bahan kayu. Jika patung secara logika harus bisa dinikmati dari segala arah pandang, namun semua karya patung Arby cenderung hanya bisa dinikmati dari dua arah saja yaitu muka-belakang. Namun hal itu bukan berarti karya Arby ‘tidak bagus’ karena pada dasarnya dalam seni modern yang diutamakan adalah masalah inovasi dan kebaruan. Dalam hal ini Arby telah melakukan hal tersebut karena dengan cara mengolah bentuk yang demikian justru belum ada atau bahkan mungkin tidak pernah dilakukan oleh pematung lain.

Nyoman Nuarta
Seperti kebanyakan seniman Bali, Nyoman Nuarta adalah seorang seniman kontemporer yang tidak pernah melepaskan bingkai kesenian dalam tradisi Bali. Meskipun ia seniman yang mendapat pendidikan Barat, persepsinya tentang seni rupa sangat diwarnai prinsip-prinsip kesenian Bali. Karya-karya Nuarta adalah karya-karya kontemporer, namun idiom dan makna karyanya tidak bisa dipahami tanpa mengkaji perkembangan seni rupa Bali.

Ragam, corak, alat, medium dan teknik patung modern

Membuat karya seni patung itu termasuk dalam seni rupa, yang biasanya dibuat dengan cara dipahat, dibentuk dengan tanah liat atau dicetak. Karya seni patung itu sudah ada di seluruh dunia dan tidak hanya ada di Indonesia. Biasanya di setiap Negara bentuk patungnya berbeda-beda dan salah satunya karena dipengaruhi oleh agama. Contohnya saja seperti negara kita sendiri ada Candi Borobudur dan Candi Prambanan, candi itu dibuat karena dipengaruhi oleh agama. merika Serikat dengan patung Liberty dan masih banyak lagi yang lain.
Patung-patung modern dapat bercorak tradisi dari berbagai wilayah. Perkembangan seni patung kini mengacu pada seni patung modern dan post-modern. Untuk itu dalam penggarapan patung modern perlu memahami adanya teknik anatomi, corak figuratif ekspresionis, transformatif, distorsif, dan realis.

Bahan-bahan patung modern di bedakan:
Lunak: tanah liat, malam/plastisin, sabun, tepung, karet, kertas, coklat, gips, semen, plastik, fiberglass, silikon dll Sedang: kayu sengon, kayu waru, kayu randu, kayu mahoni, es batu
Keras: Jenis-jenis logam (besi, baja, perak dll), kayu jati, batu, tulang.

Alat-alat:
  1. Butsir (untuk bahan tanah liat): alat membuat patung yang terbuat dari kayu dan kawat.
  2. Meja Putar: Meja yang dapat di gerakkan atau dengan cara memutar, fungsinya untuk memudahkan dalam mengontrol bentuk dari berbagai arah.
  3. Pahat: Alat yang terbuat dari logam yang ujungnya tajam. Jenisnya ada 2, yaitu: Pahat/tatah untuk kayu yang jumlahnya ada 32 buah. Pahat tatah untuk batu yang di sebut betel, jumlahnya sedikit.
  4. Ganden atau palu: pelengkap dari pahat, palu kayu biasanya di sebut ” GANDHEN”sedangkan untuk batu di sebut ”Martil” Cetakan: biasanya di gunakan untuk bahan patung yang cair (gips, semen, fiberglass, logam, plastik, karet)Kakak tua: pemotong kawat dalam proses pembuatan kerangka patung konstruksi
  5. Gergaji: pemotong kayu
  6. Sendok adonan: untuk mengambil adonan pada bahan patung
    dll

Tehnik
Tehnik adalah cara yang berkaitan dengan alat dan bahan, di bedakan menjadi 4, yaitu:
  1. Tehnik Membutsir
  2. Tehnik dengan cara memijit, menambah dan mengurangi bahan yang di bentuk dengan alat butsir (tanah liat, plastisin)
  3. Tehnik Memahat: tehnik dengan cara mengurangi (kayu dan batu)
  4. Tehnik Mencetak : ada 2 macam, yaitu: cetak tuang (cor) dan cetak tekan. Cetak cor biasanya di gunakan untuk bahan cair atau di cairkan (semeni, gips, logam, fiberglass)
  5. Tehnik Konstruksi: susunan atau bangunan, hal ini di lakukan dengan menyusun kerangka

Fungsi Patung Modern
  • Patung Religi: patung yang di gunakan sebagai media /sarana beribadah dan bermakna religius (bagi kepercayaan tertentu)
  • Patung Monumen: patung yang di gunakan untuk sebagai memperingati jasa atau sebuah peristiwa yang bersejarah.
  • Patung arsitektur: patung yang merupakan bagian dalam susunan / konstruksi bangunan.
    Patung dekorasi: patung untuk menghias bangunan atau memperindah lingkungan. Contohnya: taman
  • Patung seni: patung yang di buat untuk di nikmati keindahan bentuknya.
  • Patung kerajinan: patung di buat sebagai hasil kerajinan, di buat/ di produksi masal. Contoh: sovenir

Corak Patung
Corak patung berdasar masa dan jenis:
  • Patung primitif. Patung primitif cirinya: bentuk sederhana, bahannya mudah di dapat dari alam(batu, kayu), animisme dan dinamisme, magis(tidak berdasarkan masa). Contohnya: Patung Asmat (Papua), Patung pada makam di Sulawesi Selatan (Toraja)
  • Patung Klasik: Patung masa klasik pada masa Hindhu-Budha. Contohnya: Candi Prambanan, Borobudur dll Patung Modern: Pada perwujudannya di bagi 3, yaitu:
  • Corak Imitatif (Realis/Representatif). Corak yang dalam perwujudannya mirip dengan yang ada di alam(manusia, binatang, tumbuhan) dan fisioplastis atau anatomi, proporsi maupun gerak. Tokohnya ini adalah: Hendra, Trubus, Saptoto dan Edi Sunarso. Contoh: Patung Pahlawan Revolusi, Panglima Sudirman dll
  • Corak Deformatif. Corak yang bentuknya yang di rubah dari bentuk aslinya tetapi tidak meninggalkan bentuk aslinya. Bentuk alam di olah di gubah menurut imajinasi, atau hayalan pematung. Perubahan itu masih terkait masih terkait sifat-sifat fisik. Tokohnya: But Mochtar, G. Sidharta. Contoh: Patung yang di gunakan pada film, Aliens
  • Abstrak (Nonfiguratif). Corak yang tidak menampilkan sosok/ figut tertentu tetapi lebih menekankan pada isi atau makna. Biasanya bentuknya minimal dan di pengaruhi oleh patung konsrtuksi. Tokoh-tokohnya: G. Sidharta, Rita Widagdo. Contoh: Patung peringatan Hirosima-Nagasaki

    Ragam Patung
  1. Patung Dada: Patung yang di buat dari kepala sampai batas dada
  2. Patung Torso: Patung yang di buat terdiri dari bagian-bagian tubuh (tangan, leher ke dada, dll) biasanya di gunakan untuk pameran perhiasan, busana
  3. Patung lengkap:
Free Standing: patung yang dibuat utuh dari kepala sampai kaki dengan posisi berdiri
  1. Relief: patung 3 dimensi terlihat 2 dimensi dengan ketebalan pada permukaanya.

Contoh sederhana cara pembuatan patung modern dengan bahan:
1. Tanah Liat
Untuk membuat patung dari tanah liat menyiapakan alat butsir dan air, kemudian alas atau meja putar dan gambar rancangan yang di buat. Tanah liat ditempatkan di alas/ meja putar
lalu dipijat-pijat sesuai kreatifitas sampai pada bentuk global yang di inginkan. Apabila bahan kurang maka di tambah, jika lebihpun harus di kuarangi. Setelah itu di sempurnakan dengan alat bantu butsir dengan cara merapikannya, lalu memberikan sentuhan akhir patung yang sudah terbentuk dengan menghaluskan ( air atau di bersihkan sisanya dengan kuas).
2. Semen, Pasir, dan Gips

Untuk membuat patung dari bahan,semen, pasir dan gips di perlukan tehnik mencetak. Pertama menyiapkan semen dan pasir yang sudah di saring, cetakan, ember, sendok adonan dan tali karet (ban bekas). Cetakan kemudian di ikat dengan tali karet (ban bekas), baru menyiapkan adonan semen, pasir dan air secukupnya, aduk, tuangkan adonan ke dalam cetakan hingga penuh. Kemudian direndam di air selam + 2 hari, lalu dibuka ikatan tali karet dan cetakan di buka perlahan-lahan. Setelah itu sentuhan patung di haluskan.

Patung Modern

Sekarang patung telah mengalami perubahan, baik dari segi fungsi, material dan perwujudan bentuk. Patung tidak lagi mencerminkan simbol komunal melainkan bergeser sebagai medium aspirasi pribadi si pematung.
Dalam seni modern, kreatifitas merupakan hal yang sangat penting karena dari kreatifitas berkembanglah sifat-sifat originalitas, kepribadian, kesegaran, dan sebagainya. Seorang seniman biasanya merasa sulit untuk melepaskan diri dari ikatan sosial yang ada disekitarnya. Oleh karena itu seorang seniman modern dengan sadar berusaha membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, dalam hubungannya dengan tanggapan terhadap obyek Seorang seniman biasanya merasa sulit untuk melepaskan diri dari ikatan sosial yang ada disekitarnya. Oleh karena itu seorang seniman modern dengan sadar berusaha membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, dalam hubungannya dengan tanggapan terhadap obyek karyanya-karyanya. Sikap batin yang tidak stereotip, yang selalu ingin akan yang baru dan yang lain dari pada yang lain (sudah ada), merupakan ciri dari seniman modern.
Dalam karya seni rupa modern, jumlah unsur informatif (denotatif) sengaja dikurangi dan dihadirkan unsur-unsur visual yang mewakili nilai-nilai tertentu (konotatif). Unsur-unsur visual yang digunakan (misalnya; warna yang tidak ikonografis, atau garis yang tidak ikonografis) dan cara menyusunnya, mengharapkan keterlibatan pengamat dalam melengkapi ‘pengertian’ terhadap tanda-tanda visual tersebut sesuai dengan ground pribadinya. Dengan kata lain, karya seni modern ‘terbuka’ bagi interpretasi.
Sejumlah seniman kontemporer (dari aliran seperti; Dada, Minimal Art, Op Art, Abstract, Expressionisme) berupaya untuk membuat karya yang tidak diarahkan oleh suatu ide atau maksud apriori. Mereka ingin menyajikan suatu peristiwa visual (untuk dilihat) yang tidak mewakili ‘sesuatu’, tanpa referent. Pengamat dibiarkan bebas dalam interpretasinya. ‘Meaning’ diberikan pada karya oleh pengamat – posteriori, setelah karya selesai. Pengamat mencari-unsur-unsur referensiil dalam memory dan jiwanya. Bila tanda-tanda visual yang dimanfaatkan oleh si seniman adalah quali-sign, daya asosiatif pengamat dapat mengaitkan sifat atau nilai yang dihadirkan oleh tanda-tanda visual yang bersifat Quali-Sign (misalnya; nada warna tertentu, lengkungan garis tertentu) dengan nilai yang pengamat kenal, yang penting baginya berdasarkan luas dan dalamnya ‘ground’. Tentu saja cara menghayati karya seperti ini hanya mungkin dilakukan pada karya-karya abstrak.
Patung adalah jenis karya seni dalam wujud tiga dimensi. Dalam era industri dan teknologi yang semakin canggih sekarang ini, karya-karya seni patung hadir dan ikut memberikan interpretasinya atas dampak era tersebut. Para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, dengan berbagai ‘nilai-nilai’ yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya.
Seni patung modern dapat kita lihat pada karya-karya pematung terkenal di dunia, seperti; Auguste Rodin (pelopor seni patung modern), Degas (pematung Impresionisti), Mattise, Picasso, Henry Moore, atau yang berasal dari Indonesia, seperti; Rita Widagdo, G.Sidartha, Arby Samah, Nyoman Nuarta dan banyak lagi pematung modern lainnya. Cara memahami karya-karya mereka tentunya dengan cara penghayatan terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant.
Ketika mengerjakan karya, seorang seniman perlu selalu ada greget dan tantangan untuk melahirkan karakter yang khas. Dan yang menjadi permasalahan bukan apa dan seperti apa, karena dalam mewujudkan karya seni patung modern bisa saja dalam bentuk apa pun, seperti; konvensional, modern atau wacana kontemporer, asalkan pematungnya paham dengan apa yang dibuat serta mampu mengkomunikasikannya pada si pengamat. Dan yang terpenting dari semua itu, perlu adanya perenungan apakah karya tersebut sudah memiliki kekhasan dan corak tersendiri dalam peta seni patung Indonesia. Persoalan pematung bukanlah hanya menciptakan karya-karya berkualitas. Di dalam menjalankan profesinya ia akan selalu berhadapan dengan persoalan yang berhubungan dengan masalah hak dan kewajibannya sebagai seorang pematung, yang seringkali cukup rumit dan pada kenyataannya banyak diantara pelaku seni baik seniman, kolektor, galeri serta masyarakat umum memiliki pemahaman yang sangat minim mengenai hal ini.

Pengkayaan bahasa seni rupa merupakan kebutuhan agar penghayatannya dapat semakin meluas ke arah berbagai media sehingga terbuka kemungkinan untuk memperkaya imajinasi dan kemampuan berekspresi. Kebebasan mencipta bagi seniman merupakan hak azazi yang perlu dipertahankan dalam kehidupan berkesenian pada umumnya dan merupakan bagian dari kebebasan manusia secara keseluruhan.

Sejarah Patung Masa Kini

Sebagai salah satu cabang seni rupa seni patung telah hadir jauh sebelum manusia mengenal peradaban modern seperti sekarang. Pada zaman itu patung dihadirkan sebagai alat ritual dan dianggap sebagai benda keramat serta disucikan. Sesungguhnya kehidupan seni patung yang sudah berlangsung sejak jaman prasejarah telah memasuki era baru dalam perkembangannya di Indonesia dan merupakan bagian dari kehidupan seni rupa yang terutama mempergunakan media ruang, bentuk, garis dan warna. Awal dari pertumbuhan seni patung di Indonesia diilhami oleh semangat nasionalisme. Tradisi pembuatan patung kepahlawanan di Yogyakarta berlanjut di Jakarta. Identitas patung kepahlawanan dengan gaya realis masih terus diterapkan pada patung-patung monumen yang ditempatkan dibeberapa sudut yang strategis di wilayah kota Jakarta. Dalam hal ini Presiden Soekarno sebagai pecinta seni dan pembina seni sangat berperan dalam menentukan tema dan gaya ekspresi patung.
Para pematung berusaha memberikan interpretasi bentuk dalam batas-batas pesan yang telah dirumuskan dalam bahasa bentuk patung yang mampu membakar semangat perjuangan. Dalam kondisi proses cipta semacam ini karya pematung memang tampak kehilangan kemandiriannya dan kehilangan kebebasan sebagai ciptaan pribadi.
Pada paruh pertama 70-an sejumlah mahasiswa seni patung di perguruan seni rupa mulai mencoba menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Para mahasiswa itu menampilkan macam ragam eksperimen, melintas batas bunyi, bau, dan bahkan menempatkan tubuh sendiri sebagai medium. Eksperimen tersebut kerap didefinisikan “merespons” ruang. Bergesernya patung-patung tunggal ke instalasi, merupakan penjelajahan ruang tak terbatas dalam dunia seni patung itu sendiri.
Instalasi patung untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh Jim Supangkat seorang mahasiswa studio seni patung ITB. Pada 1975 ia mengajukan Tugas Akhir berjudul “Kamar Seorang Ibu dan Anaknya”. Karya itu sama sekali melepaskan diri dari sensibilitas sebuah karya patung. Sensasi rupa yang hangat pada patung seperti; bentuk, barik, plastisitas, bergeser ke narasi yang terasa dingin. Muatan cerita tiba-tiba mengambil peran yang jauh lebih besar dari pada penjelajahan bentuk. Kepercayaan pada universitas ditinggalkan, dan ia beralih pada konteks tertentu. Inilah instalasi (patung) pertama walau pun istilah instalasi belum dikenal dimasa itu, diloloskan maju ke sidang akademi. Jim Supangkat lulus sangat memuaskan dengan karya tersebut.Pembaharuan dalam bidang seni patung ini terus berlanjut pada periode berikutnya yang diikuti oleh aksi-aksi dari sejumlah pematung-pematung muda lainnya (mahasiswa studio seni patung), baik di Bandung atau pun di Yogyakarta.

Masuk pada abad 21, nampak berbagai masalah sosial, budaya, politik, ekonomi, dan berbagai segi kehidupan yang berkaitan dengan moralitas. Maka munculah beberapa kelompok pematung muda mencoba menawarkan berbagai wacana dalam berbagai bentuk performance art, instalasi art dan collaboration art, sebagai pijakan berkarya. Mereka mencoba mengangkat berbagai wacana politik, sosial, ekonomi, moralitas dalam fenomena yang ia racik dalam multi media dan multi-idea. Mereka tidak lagi membatasi disiplin seni atau cabang seni yang terkotak-kotak oleh modernisme yang lahir dari dorongan untuk menjaga standar nilai estetik. Namun mereka berangkat dari keragaman tafsir dari realitas yang mereka rasakan bersama, sehingga karya-karya mereka bernuansa kehidupan sosial yang mengarah pada universalilasi gagasan, karena mereka nampaknya ingin melepaskan diri dari kungkungan individu yang terhimpit oleh ruang dan waktu.