Showing posts with label orang tua. Show all posts
Showing posts with label orang tua. Show all posts

Sunday, July 17, 2016

Boneka bayi

Jika kita mengamati aktivitas anak dengan boneka, yang mereka lakukan adalah menjadikan boneka sebagai anak pura-pura. Apapun jenisnya, boneka yang memiliki ukuran lebih kecil menjadi sarana  yang pas untuk dijadikan "anak-anak an". Kegiatan ini anak peroleh dari kehidupannya sehari-hari dalam keluarga, anak yang berstatus sebagai anak akan mengerti bagaimana interaksinya dengan orang tua, sehingga hal itu diaplikasikan pada drama boneka. Dalam kegiatannya, peran anak sebagai orang tua si boneka menjadikan cerminan orang tuanya sendiri bagaimana orang tua memperlakukan anak. Tindakan yang diberikan anak pada boneka merupakan bentuk sikap orang tua yang ditiru. Sebagai orang tua kita bisa mengamati hal ini sebagai koreksi orang tua terhadap didikan pada anak, apakah anak tersebut sudah memperlakukan bonekanya dengan baik, terlalu keras, atau penuh kasih sayang?
Menyayangi boneka
Dalam drama boneka, peranan anak sebagai orang tua dapat memupuk tanggung jawab anak sebagai orang tua si boneka. Sikap melindungi dan mengasihi menjadi bentuk ungkapan tanggung jawab kecil yang anak pelajari saat meyayangi si boneka meskipun hanya dalam bentuk drama. Walau bagaimanapun anak selalu memiliki rasa ingin meniru orang tuanya, apa yang dilakukan orang tua, apa yang diajarkan orang tua serta apa yang ditampilkan orang tua sebagai orang dewasa. Tidak wajar drama menjadi permainan yang digemari karena melalui drama anak bisa menjadi orang dewasa dengan instan tanpa larangan, termasuk dalam hal bertanggung jawab.
Anak menjadi orang tua
Banyak jenis boneka yang dapat dijadikan sebagai peran anak dalam permainan drama anak bersama boneka. Boneka bentuk manusia bayi merupakan boneka paling sesuai sebagai "bayi pura-pura" untuk anak kecil. Boneka jenis ini banyak di pasaran dan mudah dijumpai, biasanya disertai dengan perlengkapan kecil seperti dot, baju bayi, boneka lebih kecil milik bayi serta suara yang dapat keluar dari perut si boneka.

Boneka bayi                                                                                       Boneka hewan

Boneka berbentuk bayi mempunyai keuntungan dari bentuk yang dimiliki, bentuk wajah manusia bayi dan anggota tubuh yang lengkap. Di bandingkan dengan boneka bentuk hewan atau bentuk manusia dewasa, boneka bentuk bayi lebih nyaman digunakan dalam berdrama "anak-anak an". Ketika sang anak menatap wajah boneka berbentuk hewan, seolah-olah bayi yang dimilikinya memiliki cacat seperti hidung yang terlalu besar, tidak memiliki rambut, telinga yang aneh dan lain sebagainya. Sedangkan boneka manusia dewasa akan sangat aneh jika diperlakukan seperti bayi. Tidak ada bayi yang sudah memiliki asi sendiri, atau bay yang memakai maku up dan cantik, misalnya seperti itu. Kenyamanan anak dalam bermain juga mempengaruhi tingkat kesuksesannya dalam mengekspresikan diri.
Boneka bayi

Sunday, January 31, 2016

Pembinaan orang tua/ guru terhadap kegiatan apresiasi anak

Para orang tua/guru perlu juga mengapresiasi kesenian, setelah itu dapat menurun pada anak didik. Jedila Edu (2009) mengemukakan bahwa dalam mengapresiasi, orangtua terlebih dahulu harus bisa menghargai kesenian, baru kemudian bisa menularkannya pada anak. Anak hanya akan menikmati dan menghargai apa saja yang tersedia di depannya dan relevan dengan zamannya.
Anak hanya akan mengapresiasi apa yang bisa dinikmati dalam keseharian anak, semua tergantung stimulasi yang diberikan pendidik. Jika keseharian anak dibiasakan dengan kesenian, maka orang tua jangan langsung mengharapkan anak-anak bisa mengapresiasi kesenian dan budaya yang memang kurang dikenal. Sebab dalam mengapresiasi seni, anak memerlukan pembinaan berupa rangsangan daya tarik. Hal ini dapat diberikan berupa cerita-cerita mengenai obyek yang baru dikenal oleh anak.
Menurut Soedarso (1987), pendekatan dalam melakukan apresiasi ada tiga yaitu:
  1. Pendekatan aplikatif, yaitu pendekatan dengan cara melakukan sendiri macam-macam kegiatan seni.
  2. Pendekatan kesejarahan, yaitu dengan cara menganalisis dari sisi periodisasi dan asal usulnya.
  3. Pendekatan problematik, yaitu dengan cara memahami permasalahan di dalam seni.
Melalui pendapat tersebut, pendekatan dengan cata melakukan sendiri kegiatan seni adalah dengan mengajak anak untuk berkegiatan seni seperti membuat karya seni. Sedangkan pendekatan kesejarahan dapat dilakukan hanya dengan menceritakan asal usul karya seni dengan sederhana. Untuk pendekatan problematik dapat dilakukan dengan mengajak anak memahami karya seni yang dilihat, bagaimana bentuknya, warna, dan sebagainya.
Ida Siti Herawati dan Iraji (1999: 123) menjelaskan juga bahwa melalui kegiatan seni anak-anak sebelumnya diajak mengunjungi berbagai obyek alam atau obyek seni, atau juga bisa anak-anak melakukan kegiatan berolah seni diluar sekolah bersama-sama. Pada saat itulah guru bisa membina dan meningkatkan kepekaan citarasa keindahan anak-anak melalui hubungan cerita-cerita obyek seni tersebut, misalnya tentang keharmonisan warna, keselarasan bentuk, kesatuan unsur-unsur, ritme atau cerita tentang latar belakang seniaman dan sebagainya.
Mengunjungi berbagai obyek seni merupakan salah satu bentuk karya wisata yang juga dapat digunakan sebagai sumber belajar. Anggaini Sudono (2000) menyebutkan bahwa pada kegiatan tersebut peserta didik dapat meneliti suatu obyek yang nantinya dapat menambah pengetahuan dan menggugah daya tarik. Karya wisata merupakan salah satu sumber inspirasi diperkenalkan oleh Marjorie J. Kostelnik pada tahun 1993.
Sebaiknya orangtua sejak kecil mulai membiasakan anak-anak mengenal seni dan budaya tradisional daerah masing-masing. Misalnya, penggunaan bahasa, mendengarkan musik tradisional di rumah, dalam bidang seni rupa menonton pertunjukkan seni tradisional, dan sebagainya. Cara untuk mengenalkan anak pada dunia seni rupa dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan dan menarik bagi anak, seperti pada saat liburan, melakukan perjalanan/travel budaya, atau menyaksikan festival seni di daerah asal.
Dalam melaksanakan apresiasi seni rupa anak, guru/orang tua dapat memberikan beberapa kegiatan untuk anak, antara lain :

  1. kegiatan apresiasi langsung, yaitu mengamati atau melihat karya seni rupa ketika dipamerkan atau diperlihatkan;
  2. kegiatan apresiasi tidak langsung, melalui dokumentasi karya seni rupa
  3. melatih kegiatan kreatif mencipta seni rupa atau rekreatif

Membina Kegiatan Apresiasi Seni pada Anank

Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanat yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Hal tersebut diperkuat dengan pasal 30 UUD 1945. Sesuai dengan amanat tersebut, pendidikan dasar seyogyanya diperkenalkan secara lebih dini terhadap anak didik sebagai generasi penerus bangsa. Pendidikan yang diberikan pada anak-anak salah satunya adalah pendidikan seni. Widya (2004) mengatakan bahwa dengan memperkenalkan kesenian pada anak-anak sejak usia dini, dapat menumbuhkan apresiasi anak terhadap kesenian disamping meningkatkan daya imajinasi dan kreatifitas.
Kegiatan berkesenian berupa apresiasi seni rupa merupakan salah satu bentuk pengenalan anak terhadap seni yang erat kaitannya dengan kebudayaan. Derasnya arus globalisasi berpengaruh terhadap seni dan kebudayaan. Apalagi jika kebudayaan tersebut memberikan dampak pada tidak halusnya budi, dangkalnya rasa, dan perilaku yang meninggalkan tata krama. Oleh karena itu perlu adanya tindakan pengenalan anak-anak terhadap seni yang berkaitan erat dengan kebudayaan. Tindakan yang dapat diupayakan salah satunya melalui apresiasi seni yang dilakukan pada anak-anak.
Dalam kesenian kontemporer Widya (2004) membagi hal tersebut menjadi dua yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. Selanjutnya Ross A Thompson mengatakan pula jika dibandingkan dengan seni pertunjukan, seni rupa lebih mudah untuk diajarkan kepada anak-anak karena tidak mengharuskan adanya kerjasama kelompok dalam jumlah besar. Maka seni rupa menjadi obyek apresiasi yang mudah bagi anak-anak.
Read (1974) dalam Herawati, Ida Siti dan Iraji (1999: 124) mengatakan bahwa setiap anak normal memiliki implus (dorongan) estetik (rasa indah). Tetapi dorongan ini seringkali tidur. Untuk menjaga agar dorongan ini tumbuh dan berkembang perlu melibatkan anak-anak ke dalam pengalaman seperti halnya kegiatan-kegiatan tersebut. Salah satunya adalah kegiatan yang dapat menggugah apresiasi anak. Edu Jedila (2009) juga mengatakan bahwa mempelajari seni apapun bentuknya, berarti memberikan anak kesempatan untuk memperkaya wawasan mereka mengenai seni dan budaya. Selain itu, secara psikologis, dengan mempelajari seni maka anak bisa mengasah emosinya menjadi lebih halus, tenang, namun tetap ekspresif, terutama dalam mengungkapkan perasaannya dalam berkesenian.

Kegiatan berapresiasi anak sebenarnya juga sudah terdapat dalam kurikulum di SD maupun jenjang sekolah yang lebih tinggi. Namun kegiatan apresiasi anak juga bisa dilakukan diluar sekolah oleh orang tua. Pada dasarnya kegiatan apresiasi diperlakukan kepada anak-anak hampir sama. Namun dalam hal hal ini muncul pertanyaan 1). Apa saja yang dilakukan untuk menumbuhkan apresiasi pada anak? 2). Bagaimana cara membina kegiatan apresiasi seni pada anak-anak?

Kegiatan apresiasi seni rupa anak dapat dibina dengan mengarahkan anak ke dalam kegiatan berkarya seni dan melalui pengamatan karya seni rupa. Melalui kegiatan olah seni dan cerita tentang berbagai obyek keindahan akan semakin mengakrabkan anak-anak dengan dunia seni dan pada gilirannya diharapkan kepekaan cita rasa keindahan anak-anak berkembang. Pembinaan apresiasi pada anak akan merangsang emosi anak dan meningkatkan daya pikir anak dalam mengenal dunia seni.
Yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan guru:
1). Guru atau orang tua perlu mengenalkan anak-anak dengan berbagai karya seni agar apresiasi anak berkembang.
2). Sebaiknya guru atau orang tua sebagai pendidik mampu mengarahkan ketika anak-anak tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan seni.
3). Setiap sekolah hendaknya menyediakan sarana dan prasarana seni guna kegiatan berapresiasi anak.

Saturday, January 30, 2016

Cara mengatasi Stereotipe pada gambar anak


Beberapa tips menghindari stereotype menurut Bertand Russell dalam Humaira (2011):
1. Menyadari gambaran-gambaran yang terstandarisasi dalam benak kita, pikiran orang lain, dan dunia di sekitar kita.
2. Kita dapat meragukan semua keputusan sehingga kita memberikan kesempatan kepada beberapa pengecualian untuk “melakukan pembuktian”
3. Kita dapat belajar berhati-hati terhadap semua generalisasi tentang manusia.

Saran tersebut merupakan saran untuk menghindari stereotipe secara umum. Jika di implementasikan ke dalam pembinaan gambar anak tentunya dari pengarahan orang tua/ guru sehingga dapat dijabarkan sebagai berikut:
  1. Orang tua/ guru dapat mengatakan kepada anak terlebih dahulu, bahwa masih banyak bentuk gambar yang lain dari pada yang anak gambar. Misalnya dengan menceritakan ada bermacam-macam bunga dari hanya sekedar bentuk lingkaran dan setengah lingkaran yang mengelilinginya. Ada bunga yang bentuknya mirip terumpet, ada bunga yang bentuknya mirip bola dan sebagainya.
  2. Orang tua/ guru memperlihatkan kepada anak tentang macam bentuk apa saja yang ada di sekitar kehidupan anak. Dalam hal ini termasuk tema, sehingga anak mengetahui secara nyata dan gamblang mengenai hal-hal yang begitu bermacam-macam di sekitar mereka. Dengan melihat banyaknya hal bervariatif akan merangsang daya cipta anak untuk mewujudkannya dalam bidang gambar.
  3. Orang tua/ guru tidak boleh menyalahkan segala bentuk yang dibuat oleh anak. Sebab hal itu akan membuat persepsi antara benar dan salah pada diri anak, sehingga ia memikirkan mana gambar yang benar dan mana gambar yang salah. Hal ini akan menghentikan anak dalam menuangkan bermacam gambar yang disukainya maupun yang akan diekspresikannya. Padahal di dalam menggambar, apalagi pada usia dini anak sedang dalam proses perkembangan, salah satunya potensi kreatif. Dengan membebaskan anak menuangkan ekspresinya tanpa adanya tuduhan salah dari orang tua/ guru maka anak akan lebih bebas menuangkan bermacam bentuk dalam gambarnya.