Showing posts with label Alkin. Show all posts
Showing posts with label Alkin. Show all posts

Sunday, January 31, 2016

Evaluasi kurikulum pendidikan seni rupa dalam Dimensi Proses

      Model pendekatan sistem Alkin untuk mengevaluasi kurikulum pendidikan seni rupa dalam dimensi proses yaitu:
     Kurikulum seni rupa dalam dimensi proses adalah kurikulum seni rupa yang benar-benar terjadi di lapangan/sekolah, bisa disebut dengan kurikulum aktual yaitu kegiatan pembelajaran di sekolah. Kurikulum seni rupa dalam dimensi proses memiliki pengertian kesinambungan dari kurikulum seni rupa dalam dimensi gagasan dan/rencana. Sehingga apabila dievaluasi kurikulum seni rupa ini jelas tidak cocok bila menggunakan model Tyler (Model Blackbox) dan Teoretik Taylor dan Maguire. Sebab kedua model tersebut hanyalah pengevaluasian kurikulum masih dalam dimensi gagasan atau rencana, keduanya tidak mengevaluasi tentang proses penerapan dalam sekolah/lapangan, apalagi hasil belajar, keduanya tidak cocok.
Model pendekatan sistem Alkin karena dalam model pendekatan ini pengevaluasian dilakukan untuk kurikulum yang telah diImplementasikan artinya kurikulum seni rupa yang sedang beralngsung yaitu (kurikulum dalam dimensi proses) dan bukan burikulum yang sedang direncanakan. Memang, apabila menggunakan model evaluasi lainnya seperti Countenance Stake atau pengembangannya yaitu model Responsif bisa dilakukan karena kurikulum telah berlangsung. Namun dalam model-model itu pengevaluasian sampai kepada keberhasilan dari kurikulum, sehingga kurang efisien dalam waktu, karena harus menunggu hasil yang didapatkan, apabila bisa mengevaluasi pada saat kurikulum berlangsung, kenapa harus menunggu hasil belajar selesai?Saya rasa bila menggunakan model Countenance Stake, CIPP atau model Responsif kuranglah sesuai sebab kurikulum yang dievaluasi adalah dalam dimensi proses. Meskipun tidak memungkiri adanya kelebihan-kelebihan dari model -model evaluasi lainnya yang tepat digunakan untuk pengevaluasian kurikulum seni rupa secara menyeluruh, namun model pendekatan sistem Alkinlah yang lebih tepat untuk evaluasi kurikulum seni rupa. Apalagi ketika ditemui dalam kehidupan nyata, proses belajar siswa sangatlah penting sebagai penentu keberhasilan belajar dan apabila ada kecacatan dalam prosesnya maka perlu segera diperbaiki tanpa perlu menunggu hasil. Dalam pembelajaran seni rupapun tidak hanya semata-mata memperhatikan hasil namun bagaimana proses siswa itu dalam berkarya seni atau dalam proses mempelajari seni rupa.

Kurikulum Seni Rupa Menurut Alkin

Menurut Alkin, kurikulum seni rupa dalam pengembangannya mempertimbangkan sistem tata ekonomi negara dan tata kehidupan masyarakat-bangsa

Pengembangan kurikulum dilakukan bagi kepentingan peserta didik, setiap pengembangan kurikulum tidak hanya semata-mata dikembangkan begitu saja tanpa memperhatikan aspek-aspek lain. Tak terkecuali dengan pengembangan kurikulum seni rupa yang perlu memperhatikan prinsip-prinsip dan determinan kurikulum. Di dalam prinsip-prinsip dan determinan kurikulum seni rupa amat berkaitan dengan sistem tata ekonomi negara dan tata kehidupan masyarakat-bangsa. Sebagai contoh pada prinsip relevansi keluar pengembangan kurikulum harus memperhatikan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat yang selalu mengalami perubahan. Perkembangan masyarakat ini tidak terlepas dari perkembangan ekonomi negara dan kehidupan masyarakat-bangsa. Pada aspek empiris dalam determinan Filosofis salah satunya mencangkupi rendahnya daya saing SDM dengan negara lain, kasus ini setidaknya menjadi perhatian negara apalagi dalam sistem ekonomi dan kehidupan masyarakat. Apabila dikaitkan dengan pengembangan kurikulum seni rupa, pengembangan kurikulum itu perlu memandang seberapa jauh posisi negara dalam persaingan ekonomi luar negeri. Sehingga bagaimana caranya dengan pengembangan kurikulum itu agar dapat menghasilkan SDM melalui ketrampilan dalam seni rupa dan dunia kerja atau industri (kesinambungan dalam prinsip Kontinuitas). Sedangkan dalam sisi negatif dari tata ekonomi dan kehidupan masyarakat, pengembangan kurikulum seni rupa harus dapat menyesuaikan keadaan tersebut karena apabila tidak cocok antara kurikulum dengan keadaan nyata ekonomi dan kehidupan dalam masyarakat maka kurikulum seni rupa yang telah dikembangkan tersebut tidak akan berhasil.

Para pengembang kurikulum seni rupa harus peka untuk membagi tugas, antara pengembangan pendidikan dan perkembangan citra produk industri di sekitarnya. Tentang bagaimana perkembangan ekonomi itu dalam sistem sebuah negara. Semakin beragamnya dinamika dan tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan seni rupa Indonesia, maka pendidikan seni rupa harus lebih tangkas. Oleh karna itu pengembangsn kurikulum harus dapat disesuaiakan dengan aspek yang lainnya untuk menciptakan pendidikan seni yang lebih kondusif dan solutif bagi persoalan bangsa. Tidak hanya kurikulumnya saja yang dikembangkan, namun pendekatan yang berlandaskan kualitas dan relevansi untuk pengembangan pendidikan tinggi juga perlu meningkatkan pemberdayaan dan ketertautan sosial melalui pendidikan tinggi, khususnya di bidang seni rupa.