Showing posts with label museum. Show all posts
Showing posts with label museum. Show all posts

Saturday, July 16, 2016

Jika Menjadi Boneka

Jika kamu menjadi seorang boneka, boneka apa yang kamu inginkan? (Pilih bonekanya dulu, baru lihat hasilnya di bawah)
1. Barbie
2. Teddy Bear
3. Boneka Robot
4. Boneka dalam Museum
5. Bonoeka Vodoo

Hasil:
1. Menjadi boneka Barbie anda akan memakai make up setiap hari, kamu akan berperan sebagai wanita sosialita atau pria pecinta wanita. Seperti seorang aktor atau seorang aktris, kamu akan lelah memainkan sejumlah skenario dari pemilikmu, akan tetapi gaji yang kamu dapatkan juga sebanding, seperti kulit indah yang abadi, setiap hari pergi ke salon, memiliki baju-baju modis, atau memiliki pasangan manapun yang akan selalu cantik atau tampan. Dampak negatifnya adalah kamu akan kecanduan shopping dan selalu ingin tampil perfect lebih dari siapapun.
Barbie


2. Teddy Bear merupakan boneka lucu yang memiliki bulu lembut. Melihatnya saja sudah ingin memeluknya, wajahmu tanpa dosa dan kriminal, begitulah yang akan terjadi denganmu. Kamu akan seperti seorang pelacur yang dipeluk setiap orang, tidak perempuan tidak laki-laki saja. Kamu menggemaskan, diinginkan oleh setiap orang, kehalusan kulitmu akan membuat orang-orang ingin memegangmu dan merabamu. Bahkan dibeberapa kejadian kamu bisa saja dijadikan sebagai obyek pelampiasan kemarahan, kebahagiaan, seksual atau hanya sebagai alas kepala dan tumpuan badan. Uh, kadang memang menyakitkan... Bayangkan jika kamu sudah usang tidak menggemaskan lagi, bisa saja dimutilasi dan diambil isi perutmu dijadikan sebagai pengisi bantal (itu jika beruntung).
Teddy bear

3. Robot memiliki keistimewaan pergerakan dengan perintah jarak jauh. Kamu pintar! tidak ada boneka lain yang bisa mengerti majikannya selain kamu, kamu memang mengerti orang lain. Seolah-olah boneka Robot bisa mendengar, dia akan melakukan perintah dari si pemilik. Hidupmu seperti seorang pembantu rumah tangga. Bergerak kesana kemari untuk melakukan perintah pemilikmu, jujur saja kamu akan lelah dan mengeluh di dalam hati, tetapi tenang saja kamu akan selalu hidup dan tenagamu tidak pernah berkurang karena setiap batreimu habis pemilikmu akan mengisi ulang batreimu.
Robot


4. Boneka yang berada dalam Museum biasanya akan selalu terawat dan terlindungi, begitulah kamu. Kamu adalah ratu, dikagumi banyak orang, setiap orang ingin memiliki kesempatan untuk melihatmu dan mengetahui asal usulmu. Kamu tidak boleh disentuh bahkan dimainkan oleh siapapun, kamu sangat berharga bagaimanapun bentukmu. Terhormat sekali bukan? :D Museum adalah istanamu, dijaga dan disiarkan. Bahagialah, meskipun kamu akan sulit bergaul karena keistimewaanmu itu.
Boneka di dalam museum

5. Boneka Vodoo merupakan jenis boneka menyeramkan karena ritual dan fungsi yang terdapat dibalikknya. Orang-orang akan menganggapmu aneh dan mereka akan berpikiran sinis, cocok sekali untuk kamu yang anti sosial. Kamu memang anti sosial, akan tetapi tidak sembarang orang berani bergaul denganmu sebab kamu misterius dan tidak bisa ditebak. Biasanya wajahmu dan penampilanmu jelek, tetapi tidak semuanya boneka Vodoo memiliki tampilan yang jelek. Kamu apa adanya dan hanya memiliki hal-hal yang penting dan mementingkan hal-hal yang bermanfaat. Kamu akan terbiasa menggretak orang lain dengan aura menyeramkan. Memang kamu akan disakiti oleh pemilikmu beberapa waktu sekali, tetapi tenang saja kamu tidak merasakan apapun! Yang akan merasakan sakitnya adalah orang yang dibenci oleh pemilikmu, perlakuan penderitaan itu cuma drama, kamu dibunuh pun tidak akan terasa apa-apa. :) Kamu kok kaya punya penyakit jiwa gitu ya? :D
boneka vodoo

Friday, February 26, 2016

Museum Boneka Ventriloquist


Boneka yang terbuat dari kayu ini sering dikenal atau dipakai dalam pertunjukan yang menakjubkan karena sosok suara yang lain dari majikan yang memainkannya. Ada mitos yang menyebar jika boneka ini memiliki aura setan yang telah mengambil nyawa majikannya sendiri.
Vent Haven
Merupakan museum di Kentucky, America Srikat yang berisi boneka-boneka Ventriloquist. Museum ini memiliki koleksi lebih dari 700 boneka Ventriloquist seram. Boneka diposisikan dengan duduk di kursi dan memandang ke arah pengujung yang masuk ke museum tersebut. Vent Haven ( "curhat" adalah istilah untuk "ventriloquist") bertempat di rumah pribadi dan beberapa bangunan luar kecil pada menyenangkan, berbayang pohon jalan buntu di pinggiran selatan sparkle-bersih dari Cincinnati.


Boneka-boneka ini terletak di ruangan pada lapisan dinding, duduk di kursi kecil dan kadang-kadang hanya ada deretan kepala boneka bertengger di rak-rak. Terdapat juga di atas rak yang menjorok ke dalam sampai ke langit-langit. Beberapa di antaranya memakai topi, topi tentara, topi wisuda dan gaun. Terdapat juga boneka dengan tokoh orang-orang terkenal, politisi, Jimmy Carter sebelah Ronald Reagan.



Boneka dengan jenis kelamin perempuan lebih sedikit dan didominasi oleh jenis kelamin laki-laki.





Boneka Ventriloquist sengaja dibuat dengan maku up yang mencolok, hal ini diperuntukkan agar ketika boneka ini dimainkan diatas panggung wajahnya lebih terlihat. Terutama untuk penonton pada barisan belakang, jarak pandangnya sangat jauh karena di dalam teater besar.






Sunday, January 31, 2016

Menumbuhkan Apresiasi pada Anak

Sejak lahir, anak sebenarnya memiliki potensi yang harus dikembangkan untuk menjadikannya manusia yang "pintar" seutuhnya. Edu Jedila (2012) mengatakan bahwa mempelajari seni berarti memberikan kesempatan pada anak untuk mencerdaskan emosi mereka, mengasah kepekaan pada keindahan, keseimbangan, harmonisasi, gradasi, kecantikan, dan lain sebagainya. Pengembangan potensi emosional harus memiliki porsi yang sama besar dengan potensi spiritual, intelektual, sosial dan jasmani anak-anak. Keseimbangan pengembangan kelima potensi tersebut sangat penting utuk diperhatikan oleh orangtua karena sangat dibutuhkan anak dalam kehidupan anak kelak. Pengembangan potensi emosional ini salah satunya adalah melalui rasa ketertarikan yang dapat berupa keindahan.
Seni rupa bagian dari ilmu kesenian mengeksploitasi nilai-nilai keindahan baik datang dari dalam diri si perupa atau hal yang datang dari luar perupa. Kecenderungan seseorang pada keindahan pada dasarnya merupakan sesuatu kebutuhan, indah memiliki dari maknanya subjektif, indah kadang kala abstrak dilihat dari cara berfikir seseorangterhadap hidup. Bastomi Suwaji (1990: 5) mengatakan bahwa keindahan dapat berbeda dari cara berfikir seseorang dan itu merupakan sesuayu hal yang alamiah, cara pendang orang dewasa sangat dipengaruhi logika (dominant), pengalaman dan ekspresi jiwa saat menikmatikeindahan (karya seni) sementara anak-anak menangkap keindahan sebagai sesuatu ungkapan jiwa yang murni lahir dari dalam dirinya sebab mereka belum banyak dipengaruhi oleh logika, seperti penjelasan berikut, kegiatan anak menggambar meruapakn perilaku nluriah, seperti halnya makan, minum, dan juga kegiatan bermain.
Alfred Lichutuwok dan Konard Lange mengatakan bahwa persepsi anak-anak terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan (apresiasi) langsung, baik melalui kegiatan menggambar (kegiatan berolah seni) maupun kegiatan observasi. Kegiatan ini dilakukan dengan dengan mengunjungi obyek-obyek seni seperti museum, sanggar seniman, pameran dan sebagainya.
Untuk menumbuhkan minat dan apresiasi terhadap seni budaya diantaranya terdapat cara sebagai berikut :
-Apresiasi terhadap warisan budaya dan seni
-Memperluas wawasan mengenai berbagai cabang seni
-Menumbuhkan kesadaran harga diri bangsa
-Memberikan rangsangan seni sejak dini untuk menumbuhkan daya estetika dan kretivitas anak.
-Pendidikan apresiasi seni yaitu menghidupkan nilai-nilai yang dibutuhkan bagi pembangunan karakter yang berkelanjutan.
-Melalui pameran, festival seni, pementasan, maka apresiasi dan penghargaan oleh masyarakat akan karya seni dan ketrampilan itu juga akan meningkat.
-Melakukan Kritik Seni, menelaah karya seni untuk mengadakan pernyataan obyektif tentang nilai atau rangking dari suatu karya seni
-Memandang niat seniman yang bersangkutan dan pendukungnya dalam hal bagaimana seni tersebut ditampilkan dan tentu tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.
-Mengenal dan mempelajari secara langsung unsur-unsur dari sebuah seni kebudayaan.
Dari berbagai poin yang telah disebutkan diatas maka untuk menumbuhkan apresiasi pada anak, cukup mengenalkan anak pada karya-karya seni. Karya seni yang ditampilkan pada anak dapat mulai dari karya anak lain yang seusia, maupun karya orang dewasa yang menarik bagi anak. Untuk menumbuhkan apresiasi anak pada kebudayaan bangsa, dapat dikenalkan dengan karya-karya yang mencerminkan identitas bangsa seperti karya tradisional. Misalnya gerabah, anyaman, batik dan sebagainya. Terlepas dari itu, pertunjukan seni juga dapat dilakukan guna menumbuhkan apresiasi anak. Seperti yang dilakuakan oleh pemerintah kabupaten Bantul yaitu menyelenggarakan Apresiasi Anak Terhadap Kesenian Wayang Kulit dalam rangka meningkatkan pengenalan anak pada kebudayaan sendiri pada tahun 2006.
Manfaat apresiasi seni :
  • Orang yang bagus apresiasi seninya akan peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sensitif terhadap ketidak benaran, dan malu berbuat kasar.
  • Seni merupakan suatu kekuatan yang mampu mengalahkan dunia yang kasar (Jakob Burckhadt). Seni membawa pesan kasih sayang, persaudaraan, dan kebenaran.
  • Seni mampu membuat manusia lebih bijaksana, lebih mencintai hidup, serta lebih mendekatkan manusia bukan saja kepada sesama makhluk hidup, melainkan juga kepada sang pencipta (S. Suharianto).
  • Kesenian dapat melakukan kontrol terhadap kemungkinan agresivitas massa. ( Kuntowijoyo, 1998).
  • Pendidikan kesenian akan bermanfaat untuk membentuk kecerdasan emosional peserta didik. Kecerdasan emosi pada akhirnya membentuk anak didik yang memiliki dimensi “kedalaman” karena emosi berkaitan dengan rasa.
  • Kesenian dan keindahan menyiratkan nilai rasa dalam arti luas (Suwaji Bastomi, 1990). Manusia tidak mampu mengungkapkan pengalaman secara mandiri dengan akal murni saja. Rasa memiliki kepekaan terhadap kenyataan yang tidak ditemukan oleh akal.

Ida Siti Herawati dan Iraji (1999: 123) menjelaskan bahwa penghayatan (apresiasi) dapat dilakukan melalui kegiatan berolah seni atau melalui kegiatan observasi (pengamatan) terhadap obyek-obyek seni.
Melalui kegiatan berolah seni ekspresi anak-anak bisa tersalurkan. Kegiatan ini akan memberikan sumbangan bagi pencegahan tekanan mental, oleh karena itu kegiatan seni akan memberikan peluang bagi kesempatan berkomunikasi, yaitu untuk melepaskan tekanan-tekanan batin yang sering sukar bila diungkapkan melalui media bahasa. Pendidikan seni dapat dimanfaatkan untuk tujuan penyembuhan, yaitu menjaga keseimbangan jiwa, yakni sebagai sarana bagi kesehatan mental, demikian Freud dan Margaret (dalam Pranyoto, 1980). Sedangkan melalui kegiatan penghayatana akan meningkatkan kepekaan estetik (cita rasa keindahan) anak-anak guna mengimbangi perkembangan pikir.
Ketika anak-anak sedang melakukan kegiatan beroleh seni guru bisa bercerita tentang keindahan alam, lingkungan, keindahan khayalan (imaginasi) yang dirasakan anak-anak, keindahan tentang obyek-obyek seni, keindahan tentang karya seni masterpiece dan sebagainya, sehingga daya khayal dan kualitas ekspresi diri anak berkembang dan meningkat.
Contoh dari obyek seni:
  1. museum
  2. pusat kerajinan
  3. sanggar seni rupa
  4. peninggalan sejarah
  5. pameran seni rupa
Selain ke lima tempat tersebut jika terdapat pusat seni rupa untuk anak-anakpun bisa dikunjungi, seperti contohnya sebuah Pusat Seni Rupa kontemporer Anak Anak yang terdapatdi Yogyakarta dapat menjadi wadah bagi fasilitas edukatif dan rekreatif di luar. Tempat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan seni rupa untuk anak-anak, akan tetapi juga sebagai tempat pameran dan tempat rekreasi bagi anak-anak.

Seteleh mengunjungi obyek-obyek seni, tindakan lanjut guru/orang tua dapat menanyai anak-anak mengenai karya seni apa saja yang dilihat, kira-kira bagaimana membuatnya dan apa yang paling menarik dari karya tersebut. Sebenarnya jika tidak memungkinkan untuk mengunjungi obyek-obyek seni yang telah disebutkan, sekolahpun juga bisa menjadi obyek seni itu sendiri. Menurut Widya (2004), sekolah bagi anak-anak yang didalamnya tersedia berbagai sarana dapat menumbuhkembangkan apresiasi dan kreativitas anak terhadap seni rupa. Dalam hal ini peran sekolah juga diperlukan untuk menyediakan sarana prasarana dalam bidang keseni rupaan.