Showing posts with label ekspresi. Show all posts
Showing posts with label ekspresi. Show all posts

Sunday, November 7, 2021

Menyusun Konsep Pembuatan Patung

Seni patung adalah karya tiga dimensi yang tidak terikat pada latar belakang apa pun atau bidang manapun pada suatu bangunan. Konsep patung adalah gambaran awal tentang sesuatu yang juga disebut teori awal yang mendasari suatu kegiatan (aktivitas) yakni berkarya seni patung.Setiap orang memiliki konsep pembuatan patung yang berbeda. Terciptanya karya seni patung melalui beberapa tahapanya yang tidak dapat terpisahkan.tahapan tahapan itu adalah sebagai berikut:

a. Proses aktivitas jiwa penciptaan patung yang berada pada tahap proses pembentukan ide berasal dari penangkapan perasaan terhadap alam (sebagai obyek) yang berinteraksi dengan pertimbangan cita rasa dan rasa seni seseorang. Hal ini memunculkan ide seseorang untuk diekspresikan ke dalam karya seni.

b. Proses ekspresi penciptaan patung/proses penuangan ide penciptaan patung. Penuangan ide ke dalam wujud karya seni patung memuat tentang kreativitas masing masing. Oleh karena itu konsep berkarya seni patung sangat baku dan merupakan penentu terciptanya karya seni patung yang indah.


 Proses Penciptaan Karya Seni Patung

Tujuan membuat karya seni patung memang bermacam-macam, antara lain hanya untuk mempresentasikan keindahan semata, ada yang merupakan curahan perasaan haru, dan kurang pula terdorong oleh keinginan untuk mencukupi ekonomi. Pencipta suatu karya seni patung harus melalui proses untuk menghasilkan sebuah karya seni patung yang indah. Proses adalah suatu perubahan runtutan atau segala sesuatu, proses runtut, dan perkembangan melalui tahapan-tahapan dengan adanya pengaruh dari lingkungan, sehingga karya seni dapat diciptakan oleh seniman dan menghasilkan karya yang indah. Proses pembuatan suatu karya seni patung juga melalui runtutan kegiatan sebagai berikut:


Tahap awal, tahapan awal ini berupa upaya penemuan gagasan atau mencari sumber gagasan. Dalam tahapan ini juga dapat dikatakan sebagai tahapan mencari inspirasi atau ilham yang terdapat di lingkungan alam. Mencari inspirasi adalah upaya seniman untuk mendapatkan ide-ide baru. Dorongan yang dibutuhkan oleh seniman dalam menciptakan karya seni.


Tahap menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal. Dalam tahap penyempurnaan ini untuk mengembangkan gambaran pravisual yang nantinya dapat diberi bentuk atau wujud nyata. Jadi gagasan yang muncul pada tahapan awal, pada tahapan ini masih harus diperbaiki menjadi gagasan yang sempurna, sehingga nantinya pada proses pembentukan sebuah karya seni dapat dengan mudah divisualisasikan berupa rancangan atau desain.


Tahap visualisasi ke dalam medium, di dalam proses mencipta, medium memang harus digunakan jika Anda ingin menyelesaikan tahapan akhir. Medium ini sendiri berperan sebagai sarana bagi seniman untuk mengekspresikan gagasannya. Seniman dalam mewujudkan sebuah karya seni dari tahapan sampai tahapan tahapan visualisasi seniman lebih berperan aktif dan kreatif dalam menemukan inspirasi, penyempurnaan gagasan, dan sampai visualisasi ke dalam medium. Penuangan konsep atau bentuk desain ke dalam media, mempermudah seniman dalam membuat dan menghasilkan sebuah karya seni. Pemilihan media juga harus diperhatikan dengan baik, karena media sangat berpengaruh dalam proses pembuatan.


Sumber:
DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII Semester Genap. 2020.

Tuesday, July 21, 2020

Ekspresi Seni dalam Budaya Masyarakat

Seni telah ada sejak zaman prasejarah  dan tidak lepas dari kehidupan manusia dan merupakan bagian dari kebudayaan yang merupakan hubungan antara menusia dengan lingkungan sosialnya. 

Seni ekspresi berbeda dengan seni imitasi. Ekspresi seni merupakan pengungkapan diri seniman ranpa melibatkan emosi orang lain. Imitasi merupakan bentuk peniruan terhadap bentuk yang sudah ada baik segi bentuk maupun gagasannya.

Ekspresi erat kaitannya dengan pemikiran yang kreatif dan imaginatif yang berakar dari pemikiran bebas. Kebebasan ini tercermin melalui karya-karya yang tercipta baik berupa tulisan, lukisan, ukiran, music, tari maupun bentuk-bentuk seni lainnya. Karena berkedudukan sebagai ekspresi maka tak jarang seni dijadikan sebagai media komunikasi seniman pada penikmat karyanya. Pemikiran tersebut tidak hanya berupa gagasan tetapi juga kritik atas kondisi social tertentu.

Sebagai sebuah ekspresi, baik seni tradisional, modern maupun kontemporer perlu memperhatikan hal-hal yang berasal dari dalam dan luar masyarakat. Jika suatu seni merupakan kritik suatu masalah social maka pencipta karya harus benar-benar memahami masalah yang hendak dikritik. Selain itu penikmat seni akan mudah mengenali simbol-simbol dalam karya yang diciptakan.

1. Seni sebagai media komunikasi (Communication Device)
Ketika bentuk seni telah dinikmati masyarakat maka secara tak langsung bentuk seni tersebut telah mengkomunikasikan ekspresi penciptanya pada masyarakat. Pada masa prasejarah contohnya terdapat lukisan cap tangan atau gambar simbolik di dinding gua yang memberikan pemahaman pada manusia modern mengenai budaya pada masa praejarah. Komunikasi melalui visual pada umumnya lebih mudah dipahami baik berupa gambar, lukisan, seni grafis, ilustrasi maupun gambar bergerak (animasi). 
Berbagai macam simbol diciptakan manusia baik bersifat verbal maupun non verbal. Simbol yang dikomunikasikan manusia lewat seni lebih mudah diterima karena sifatnya yang indah.

2. Gambar sebagai salah satu media ekspresi 
Menggambar merupakan kegiatan menuangkan persepsi visual ke dalam media gambar. Namun walaupun proses menggambar berakar kuat pada kemampuan manusia untuk melihat, hasil gambar tidak harus selalu sesuai dengan realitas yang dilihat. Setiap manusia memiliki persepsi sendiri atas apa yang ia lihat. Melalui gambar, senima dapat mengkomunikasikan berbagai pemikiran dan konsep yang dimiliki.

Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Sunday, January 31, 2016

Patung Modern

Sekarang patung telah mengalami perubahan, baik dari segi fungsi, material dan perwujudan bentuk. Patung tidak lagi mencerminkan simbol komunal melainkan bergeser sebagai medium aspirasi pribadi si pematung.
Dalam seni modern, kreatifitas merupakan hal yang sangat penting karena dari kreatifitas berkembanglah sifat-sifat originalitas, kepribadian, kesegaran, dan sebagainya. Seorang seniman biasanya merasa sulit untuk melepaskan diri dari ikatan sosial yang ada disekitarnya. Oleh karena itu seorang seniman modern dengan sadar berusaha membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, dalam hubungannya dengan tanggapan terhadap obyek Seorang seniman biasanya merasa sulit untuk melepaskan diri dari ikatan sosial yang ada disekitarnya. Oleh karena itu seorang seniman modern dengan sadar berusaha membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, dalam hubungannya dengan tanggapan terhadap obyek karyanya-karyanya. Sikap batin yang tidak stereotip, yang selalu ingin akan yang baru dan yang lain dari pada yang lain (sudah ada), merupakan ciri dari seniman modern.
Dalam karya seni rupa modern, jumlah unsur informatif (denotatif) sengaja dikurangi dan dihadirkan unsur-unsur visual yang mewakili nilai-nilai tertentu (konotatif). Unsur-unsur visual yang digunakan (misalnya; warna yang tidak ikonografis, atau garis yang tidak ikonografis) dan cara menyusunnya, mengharapkan keterlibatan pengamat dalam melengkapi ‘pengertian’ terhadap tanda-tanda visual tersebut sesuai dengan ground pribadinya. Dengan kata lain, karya seni modern ‘terbuka’ bagi interpretasi.
Sejumlah seniman kontemporer (dari aliran seperti; Dada, Minimal Art, Op Art, Abstract, Expressionisme) berupaya untuk membuat karya yang tidak diarahkan oleh suatu ide atau maksud apriori. Mereka ingin menyajikan suatu peristiwa visual (untuk dilihat) yang tidak mewakili ‘sesuatu’, tanpa referent. Pengamat dibiarkan bebas dalam interpretasinya. ‘Meaning’ diberikan pada karya oleh pengamat – posteriori, setelah karya selesai. Pengamat mencari-unsur-unsur referensiil dalam memory dan jiwanya. Bila tanda-tanda visual yang dimanfaatkan oleh si seniman adalah quali-sign, daya asosiatif pengamat dapat mengaitkan sifat atau nilai yang dihadirkan oleh tanda-tanda visual yang bersifat Quali-Sign (misalnya; nada warna tertentu, lengkungan garis tertentu) dengan nilai yang pengamat kenal, yang penting baginya berdasarkan luas dan dalamnya ‘ground’. Tentu saja cara menghayati karya seperti ini hanya mungkin dilakukan pada karya-karya abstrak.
Patung adalah jenis karya seni dalam wujud tiga dimensi. Dalam era industri dan teknologi yang semakin canggih sekarang ini, karya-karya seni patung hadir dan ikut memberikan interpretasinya atas dampak era tersebut. Para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, dengan berbagai ‘nilai-nilai’ yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya.
Seni patung modern dapat kita lihat pada karya-karya pematung terkenal di dunia, seperti; Auguste Rodin (pelopor seni patung modern), Degas (pematung Impresionisti), Mattise, Picasso, Henry Moore, atau yang berasal dari Indonesia, seperti; Rita Widagdo, G.Sidartha, Arby Samah, Nyoman Nuarta dan banyak lagi pematung modern lainnya. Cara memahami karya-karya mereka tentunya dengan cara penghayatan terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant.
Ketika mengerjakan karya, seorang seniman perlu selalu ada greget dan tantangan untuk melahirkan karakter yang khas. Dan yang menjadi permasalahan bukan apa dan seperti apa, karena dalam mewujudkan karya seni patung modern bisa saja dalam bentuk apa pun, seperti; konvensional, modern atau wacana kontemporer, asalkan pematungnya paham dengan apa yang dibuat serta mampu mengkomunikasikannya pada si pengamat. Dan yang terpenting dari semua itu, perlu adanya perenungan apakah karya tersebut sudah memiliki kekhasan dan corak tersendiri dalam peta seni patung Indonesia. Persoalan pematung bukanlah hanya menciptakan karya-karya berkualitas. Di dalam menjalankan profesinya ia akan selalu berhadapan dengan persoalan yang berhubungan dengan masalah hak dan kewajibannya sebagai seorang pematung, yang seringkali cukup rumit dan pada kenyataannya banyak diantara pelaku seni baik seniman, kolektor, galeri serta masyarakat umum memiliki pemahaman yang sangat minim mengenai hal ini.

Pengkayaan bahasa seni rupa merupakan kebutuhan agar penghayatannya dapat semakin meluas ke arah berbagai media sehingga terbuka kemungkinan untuk memperkaya imajinasi dan kemampuan berekspresi. Kebebasan mencipta bagi seniman merupakan hak azazi yang perlu dipertahankan dalam kehidupan berkesenian pada umumnya dan merupakan bagian dari kebebasan manusia secara keseluruhan.

Membina Kegiatan Apresiasi Seni pada Anank

Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanat yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Hal tersebut diperkuat dengan pasal 30 UUD 1945. Sesuai dengan amanat tersebut, pendidikan dasar seyogyanya diperkenalkan secara lebih dini terhadap anak didik sebagai generasi penerus bangsa. Pendidikan yang diberikan pada anak-anak salah satunya adalah pendidikan seni. Widya (2004) mengatakan bahwa dengan memperkenalkan kesenian pada anak-anak sejak usia dini, dapat menumbuhkan apresiasi anak terhadap kesenian disamping meningkatkan daya imajinasi dan kreatifitas.
Kegiatan berkesenian berupa apresiasi seni rupa merupakan salah satu bentuk pengenalan anak terhadap seni yang erat kaitannya dengan kebudayaan. Derasnya arus globalisasi berpengaruh terhadap seni dan kebudayaan. Apalagi jika kebudayaan tersebut memberikan dampak pada tidak halusnya budi, dangkalnya rasa, dan perilaku yang meninggalkan tata krama. Oleh karena itu perlu adanya tindakan pengenalan anak-anak terhadap seni yang berkaitan erat dengan kebudayaan. Tindakan yang dapat diupayakan salah satunya melalui apresiasi seni yang dilakukan pada anak-anak.
Dalam kesenian kontemporer Widya (2004) membagi hal tersebut menjadi dua yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. Selanjutnya Ross A Thompson mengatakan pula jika dibandingkan dengan seni pertunjukan, seni rupa lebih mudah untuk diajarkan kepada anak-anak karena tidak mengharuskan adanya kerjasama kelompok dalam jumlah besar. Maka seni rupa menjadi obyek apresiasi yang mudah bagi anak-anak.
Read (1974) dalam Herawati, Ida Siti dan Iraji (1999: 124) mengatakan bahwa setiap anak normal memiliki implus (dorongan) estetik (rasa indah). Tetapi dorongan ini seringkali tidur. Untuk menjaga agar dorongan ini tumbuh dan berkembang perlu melibatkan anak-anak ke dalam pengalaman seperti halnya kegiatan-kegiatan tersebut. Salah satunya adalah kegiatan yang dapat menggugah apresiasi anak. Edu Jedila (2009) juga mengatakan bahwa mempelajari seni apapun bentuknya, berarti memberikan anak kesempatan untuk memperkaya wawasan mereka mengenai seni dan budaya. Selain itu, secara psikologis, dengan mempelajari seni maka anak bisa mengasah emosinya menjadi lebih halus, tenang, namun tetap ekspresif, terutama dalam mengungkapkan perasaannya dalam berkesenian.

Kegiatan berapresiasi anak sebenarnya juga sudah terdapat dalam kurikulum di SD maupun jenjang sekolah yang lebih tinggi. Namun kegiatan apresiasi anak juga bisa dilakukan diluar sekolah oleh orang tua. Pada dasarnya kegiatan apresiasi diperlakukan kepada anak-anak hampir sama. Namun dalam hal hal ini muncul pertanyaan 1). Apa saja yang dilakukan untuk menumbuhkan apresiasi pada anak? 2). Bagaimana cara membina kegiatan apresiasi seni pada anak-anak?

Kegiatan apresiasi seni rupa anak dapat dibina dengan mengarahkan anak ke dalam kegiatan berkarya seni dan melalui pengamatan karya seni rupa. Melalui kegiatan olah seni dan cerita tentang berbagai obyek keindahan akan semakin mengakrabkan anak-anak dengan dunia seni dan pada gilirannya diharapkan kepekaan cita rasa keindahan anak-anak berkembang. Pembinaan apresiasi pada anak akan merangsang emosi anak dan meningkatkan daya pikir anak dalam mengenal dunia seni.
Yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan guru:
1). Guru atau orang tua perlu mengenalkan anak-anak dengan berbagai karya seni agar apresiasi anak berkembang.
2). Sebaiknya guru atau orang tua sebagai pendidik mampu mengarahkan ketika anak-anak tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan seni.
3). Setiap sekolah hendaknya menyediakan sarana dan prasarana seni guna kegiatan berapresiasi anak.

Perbedaan gambar anak Indonesia dan luar negeri

Jika kita perhatikan dengan seksama, ada beberapa perbedaan yang tampak pada gambar buatan anak Indonesia dengan luar Indonesia. Gambar memang sama-sama dibuat oleh anak, alat gambar dan media yang digunakanpun tidak jauh berbeda tetapi perhatikanlah gambar anak Indonesia dan gambar anak luar Indonesia dapat dibedakan.
Perbedaan gambar anak luar Indonesia dan gambar anak Indonesia:
  1. Gambar anak luar negeri lebih ekspresif dibandingkan dengan gambar anak Indonesia. Hai itu nampak pada bentuk figur yang diciptakan. Figur-figur yang dibuat oleh anak luar negeri lebih bebas sedangkan figur yang dibuat oleh anak Indonesia memiliki model wajah yang sama.
  2. Gambar yang dibuat oleh anak Indonesia selalu mengarah pada bentuk tiga dimensi, sedangkan gambar yang dibuat oleh anak luar negeri tidak begitu mempermasalahkan mengenai bentuk tiga dimensi yang dibuat. Yang paling ditonjolkan pada gambar anak luar negeri bukan pada terlihat tiga dimensi atau tidaknya namun lebih kepada figur atau benda apa saja yang harus ada dalam gambar yang dibuat. Oleh karena itu gambar anak luar negeri bentuk cerita yang nampak pada gambar lebih jelas.
  3. Gambar anak Indonesia lebih menonjolkan teknik dalam menggambar daripada ekspresi. Gambar di Indonesia lebih dianggap bagus jika tekniknya bagus dibandingkan dengan bentuk ekspresi pada gambar anak.
  4. Media yang digunakan oleh anak Indonesia kebanyakan adalah media crayon yang sangat akrab dan mudah di temukan di Indonesia. Terlebih lagi media crayon ini lebih populer di kalangan pelatihan menggambar anak yang dianjurkan oleh para guru atau pelatih mereka. Sedangkan gambar anak di luar negri nampak menggunakan bermacam media dalam menggambar. Hal ini mungkin dikarenakan di Indonesia kurang berani dalam memilih media, sehingga memilih media yang sudah umum digunakan karena tekniknya sudah banyak diketahui umum.
  5. Pemilihan tema pada gambar anak Indonesia selalu berkaitan dengan keadaan Nusantara, seperti keadaan alam pegunungan, pantai, bineka tunggal ika, persatuan dan kesatuan dan sebagainya. Hal ini tercipta dari pemilihan tema yang dipilihkan guru pada waktu kecil sehingga terbawa pada jiwa anak sampai pada usia atau tingkat sekolah berikutnya. Sedangkan pada gambar anak luar negeri lebih bervariasi dan lebih mengarah pada ungkapan perasaan bukan pada mencontoh alam atau gambar lain. Dapat disimpulkan bahwa gambar anak luar negeri lebih jujur atau menyentih hati karena gambar yang dibuat itu berdasar pada apa yang anak rasakan. Dalam hal ini tidak heran jika terkadang gambar disertai dengan adanya tulisan untuk memperjelas ungkapan perasaan itu.
Contoh gambar anak Indonesia:


Contoh gambar anak Luar Indonesia:






Tabel perbedaan gambar anak Indonesia dengan gambar anak luar negeri
No.
Perbedaan
Gambar anak Indonesia
Gambar anak luar negeri
1
Ekspresi
Kurang ekspresif
Lebih ekspresif sehingga karakter gambar anak terlihat
2
Teknik
Mengutamakan teknik dalam menggambar maupun mewarnai
Tidak mengutamakan teknik
3
Media
Kebanyakan crayon, pensil dan pensil warna
Bermacam-macam dari spidol, cat air, crayon hingga pensil warna
4
Bentuk gambar
Bentuk gambar terkesan rapi dan berusaha sempurna
Bentuk gambar tidak mengutamakan kerapihan, yang penting apa yang digambarkan sudah mencukupi apa yang ada di benak anak
5
Bentuk figur
Figur yang dibuat kebanyakan manusia yang berbentuk kartun
Lebih bebas dan beragam, yang penting merupakan bentuk figur manusia
6
Penggunaan garis dasar
Menggunakan garis dasar dari pensil atau alat gambar berwarna hitam. Umum digunakan outline berwarna hitam.
Tidak terpacu menggunakan satu warna garis dasar
7
Tema
Tema alam, nusantara, serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan yang sangat mencerminkan bangsa Indonesia
Tema kehidupan kerajaan seperti putri, istana dll, tema kasih sayang terhadap teman atau keluarga
8
Pewarnaan
Pewarnaan berlapis dan bermacam-macam warna digunakan, hampir semua warna digunakan
Pewarnaan lebih sederhana dan jika ada kombinasi warna tidak berlapis namun bertumpuk
9
Kombinasi dengan tulisan
Kebanyakan tidak disertai tulisan
Disertai tulisan guna memperjelas gambar
10
Pola gambar
Terpola, karena pengaruh sanggar atau bimbingan menggambar
Tidak terpola, lebih bermacam-macam sesuka anak


Saturday, January 30, 2016

Gambar sebagai Media Ekspresi Anak TK

Masa Taman Kanak-Kanak merupakan masa dimana anak sedang dalam tahap perkembangan. Pada masa ini terjadi awal perkembangan pengamatan anak terhadap bentuk dan warna, penerimaan atas hal-hal baru mucul, serta bentuk-bentuk ekspresi anak mulai ada. Agar anak mampu dengan mudah mengungkapkan ekspresi yang bermacam-macam, maka dengan media gambarlah yang sesuai dengan usia anak. Selain itu menggambar akan membantu anak dalam berkreativitas kesenirupaan.
Perkembangan anak pada usia TK banyak dipengaruhi oleh fantasi dan imajinasi. Pada masa ini gambaran anak masih sederhana namun emosinya sudah meluap-luap, maka untuk mengekspresikan hal tersebut perlu adanya bahasa. Bahasa di sini yang sederhana adalah bahasa simbol melalui gambar menggambar. Untuk menceritakan keseharian, anak menggunakan gambar sebagai media berekspresi. Namun, orangtua perlu mensiasati agar kemampuan anak dalam bidang gambar berkembang dengan baik, yaitu dengan cara bercerita dengan gambar. Melihat banyak gambar akan merangsang anak untuk tertarik dengan gambar. Selain itu, orangtua juga perlu memberikan peluang bagaimana memberi kebebasan berekspresi terhadap anak sebagai media pengungkapan anak. Dengan membiasakan anak terhadap alat-alat gambar dan merangsang kemampuan anak untuk berkembang dalam bidang gambar, akan meningkatkan potensi anak dalam bidang menggambar.
Anak-anak pada masa prasekolah seperti TK sangat menyukai kegiatan bermain. Tidaklah benar jika orangtua terlalu memaksakan anak dalam kemampupan bidang akademik senipun tidak kalah jauh bermanfaat bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, perhatian orangtua dalam perihal nonakademik seperti seni rupa khususnya menggambar perlu diperhatikan. Lingkungan dan keluarga sebaiknya perlu mendukung untuk perkembangan potensi anak dalam bidang menggambar. Orangtua perlu mengarahkan anak dalam media berekspresi pada seni gambar agar anak memiliki kegiatan yang positif sebagai bentuk ekspresi anak. Sebaiknya orangtua memberikan perhatian yang lebih kepada anak, ketika anak membuat karya seni gambar. Sebab, gambar anak-anak bagi anak-anak merupakan gambar yang sangat berarti. Penghargaan dan pujian serta peningkatan pengetahuan tentang seni menggambar akan meningkatkan potensi dimiliki anak.

Penyaluran ekspresi anak melalui gambar

Pada usia awal sekolah seperti di TK, perasaan keindahan (estetika) anak belum nampak jelas kelihatan. Perasaan keindahan merupakan perasaan yang timbul ketika individu menghayati sesuatu yang ada hubungannya dengan indah atau buruk (lihat Zulkifli, 1993). Untuk menentukan hal ini diperlukan pengukur yang disebut “cita rasa”. Namun ketika belum dewasa anak hanya menirukan pendapat orang dewasa saja tentang sesuatu itu indah atau tidak. Oleh karena itu, peran orangtua sangat penting diperlukan pada masa perkembangan anak di usia TK, sebab perkembangan “perasaan keindahan” sangat dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Orangtua yang ingin meningkatkan potensi anak dalam menggambar perlu memberikan peluang dan dorongan kepada anak agar kemampuannya tersalurkan. Terlebih lagi pada usia perkembangan anak pada masa TK yang ingin mengungkapkan berbagai ekspresi sehari-hari sebagai penemuan hal baru, perhatian orangtua sangat penting untuk menunjang karya seni gambar anak sebagai ekspresi. Untuk meningkatkan potensi seni gambar ini, pemberikan sebanyak mungkin rangsangan dan kesempatan untuk membebaskan anak dalam berekspresi sangat diperlukan. Hal-hal yang perlu dilakukan oleh orang tua menurut Reni Akbar dan Hawadi (2006) untuk merangsang ekspresi anak melalui gambar yaitu sebagai berikut:
  1. Membawa anak ke tempat yang kaya akan pamandangan.
  2. Menyediakan peralatan seperti kertas gambar, pensil, spidol, cat, crayon, serta material lain untuk menggambar.
  3. Menyediakan tempat khusus untuk memajang hasil karya anak.
  1. Memberi komentar yang positif pada warna, komposisi, penggunaan ruang, tekstur, keseimbangan dan kontras dan menghindari komentar yang bersifat umum.
  2. Mengajak anak ke musium seni dan membiarkan anak memilih tempat yang disukai, mendorong anak untuk mengevaluasi hal-hal yang dilihat.
Pada penjelasan di atas, upaya mendorong kreativitas anak dalam berekspresi melalui seni gambar sangat ditekankan. Dengan melalui pengenalan lingkungan seni gambar, anak akan mendapatkan rangsangan yang cukup. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ahmad Rofiq (2008) bahwa untuk menumbuhkan kreativitas anak, orangtua atau guru dapat mengakrabkan anak dengan dunia seni. Ketika jiwa seni anak cukup tinggi, mereka bisa mengapresiasi seni, menyukai seni, dan umumnya lebih cerdas secara emosi. Mengajak anak-anak mengunjungi pameran kesenian, seperti pameran lukisan, juga dapat menambah minat anak-anak terhadap seni. Kristyn Crow menjelaskan pula bagaiamana cara merangsang anak untuk mengekspresikan diri anak melalui gambar atau lukis :
Berkesenian merupakan kegiatan yang baik untuk anak-anak non-verbal atau mereka yang memiliki kesulitan dengan bahasa tertulis. Membelikan bahan-bahan seni untuk anak, seperti bantalan sketsa dan krayon, atau cat cat air. Untuk membicarakan tentang warna dan suasana hati, dengan cara menanyakan kepada anak ketika anak merasa marah, warna apa yang ia gunakan. Ketika anak mengantuk, dengan warna apa anak mengungkapkan. Ketika anak benar-benar takut, apa jenis binatang yang ada dalam gambarannya. Kemudian meminta kepada anak untuk memilih warna yang ia rasakan sekarang. Kemudian membiarkan anak melukis gambar abstrak atau sederhana yang menunjukkan bagaimana perasaan anak. Selanjutnya, membiarkan anak berpikir tentang hal-hal yang membuat anak marah atau sedih. Jika "gila" adalah rakasa, akan terlihat seperti apa anak tersebut. Membiarkan anak memiliki kebebasan penuh untuk menggambar apapun emosinya akan membimbingnya untuk membuat membuta gambar sesuai ekspresinya.

Setelah orangtua melakukan berbagai kegiatan untuk merangsang kegiatan anak dalam bidang seni gambar, maka daya tarik anak akan timbul. Imajinasi anak yang ditransformasikan dalam coretan-coretan merupakan coretan-coretan yang penuh makna dan arti. Goresan crayon atau celupan kuas dan sapuan di atas kertas serta efeknya yang datang dalam sekejap akan menimbulkan minat anak untuk bereksperimen dengan berbagai warna. Selain itu anak juga akan melihat pengaruh dari gerakan serta perubahan kombinasi warna, kemudian anak akan mengulangi hal itu kembali (Prasetyono 2008: 107). Namun, perlu diketahui bahwa penyaluran ekspresi anak dalam seni rupa khususnya seni gambar bukan menjamin anak-anak akan menjadi seniman besar nantinya. Pada intinya ekspresi merupakan wujud dari kebebasan anak. Wahyuti mengatakan bahwa keberhasilan dari kegiatan berkesenian untuk anak TK bukanlah dilihat dari keindahan hasil karya yang dihasilkan anak-anak tetapi lebih diutamakan pada proses berkreasi yang memberikan kebebasan berekspresi dengan cara yang menyenangkan sesuai dengan karakteristik kepribadian masing-masing anak.

Gambar sebagai Bahasa Ekspresi Anak

Ketika manusia belum mengenal huruf sebagai alat kebahasaan, manusia menggunakan gambar sebagai alat komunikasi tertulis. Gambar merupakan salah satu jenis karya seni yang telah diketahui dan dibuat oleh manusia semenjak jaman purba kala (http://www.anneahira.com/gambar-seni.htm). Tak jauh berbeda dengan anak, sebelum anak pandai dalam berbahasa tertulis, gambar menjadi bahasa anak yang lebih gampang dikuasai. Pada masa TK, gambar menjadi media pengungkapan anak. Dalam Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Gambar) dijelaskan bahwa gambar adalah benda buatan manusia, biasanya dua dimensi, yang mempunyai kemiripan dengan suatu obyek, biasanya obyek-obyek fisik atau manusia.
Untuk menyatakan ekspresi, anak memerlukan bahasa, dalam hal ini simbol merupakan salah satu bentuk bahasa yang dapat dibuat dalam bentuk gambar. W.Wundt (dalam Zulkifli, 1993: 38), seorang ahli Jerman, mengatakan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat ekspresi, sedangkan John Dewey, seorang pendidik bangsa Amerika, mengatakan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat penghubung sosial yang sangat dibutuhkan dalam pergaulan, untuk merapatkan hubungan seseorang dengan orang lain. Sehingga bahasa ekspresi sangatlah penting untuk berkomunikasi secara tidak langsung oleh anak terhadap orang tua, maupun terhadap orang lain. Gambar dapat membantu anak dalam hal ini, gambar dapat digunakan untuk mengutarakan. Meskipun anak tidak bertujuan langsung ingin mengatakan hal pada orang lain melalui gambar namun melalui gambar tersebut anak dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan dan apa yang sedang ia pikirkan.

Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak”, Reni Akbar dan Hawadi (2006) menjelaskan bahwa masa kanak-kanak awal merupakan masa dimana anak sudah mulai ingin menunjukkan kebebasannya sebagai individu. Perkembangan anak pada usia 5-6 tahun diharapkan bisa terampil menggunting, menggoreskan pensil atau crayon, melipat kertas, membentuk dari lilin serta mengecat gambar dalam pola tertentu. Dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan anak yang harus dimiliki dalam bidang seni gambar, artinya pada masa kanak-kanak awal anak diharapkan sudah bisa berseni gambar. Sebab, melalui gambar paling tidak anak bisa mengkomunikasikan perasaannya selain dengan pengungkapan ekspresi bahasa tulisan atau lisan.

Ekspresi Anak

Imajinasi anak berkembang pada usia 2-6 tahun, pada masa ini fantasi sangatlah penting bagi kehidupan anak. Fantasi anak akan berkembang ketika sedang menggambar, orangtua tidak boleh mengatakan bahwa karya gambar anak tersebut jelek atau tidak bagus. Anak yang selalu dicela fantasinya, akan mengalami “CD” (Creativity Drop) (lihat Drost, dkk 2011). Fantasi ini dapat diungkapkan melalui ekspresi diri dari anak. Bentuk ekspresi anak dapat terwujud dalam berbagai kegiatan. Sering kali ditemui seorang anak pada usia kurang lebih empat tahun menggoras-nggores dari berbagai arah, hal ini merupakan kegiatan ekspresi membuat garis yang disenangi anak-anak. Pada usia ini anak sedang dalam proses perkembangan menggambar coretan-coretan, bagi anak, coretan atau goresan ini merupakan cetusan atau ungkapan dari kehidupan jiwanya (Zulkifli 1993: 43). Ekspresi ada sejak anak lahir dengan berbagai ungkapan dan ungkapan-ungkapan itu berkembang sesuai dengn usia anak. Ekspresi sendiri adalah wujud emosi yang nampak (2008). Pada usia TK, ekspresi melalui goresan-goresan tersebut akan berkembang menjadi gambar. Apalagi, menurut J.I.G.M. Drost, dkk (2011) bidang seni merupakan salah satu bidang yang disentuh dalam kurikulum pendidikan berbasis aktivitas. Diantaranya anak diberi kesempatan untuk mengekspersikan ide, pikiran, dan perasaan. Juga mengasah koordinasi antara mata dan tangan serta menumbuhkan apresiasi atas keindahan. Contoh aktivitas: dribble painting, lukis lilin, membuat marakas, mendengarkan musik, drama, dan pantomim. Contoh gambar coretan anak-anak:

Kreativitas Anak dalam Seni Rupa

Kreativitas mempunyai peran yang sangat penting dalam hidup manusia, manusia kreatif dapat memberi kontribusi terhadap pembangunan, untuk meningkatkan kwalitas hidup baik secara individu, masyarakat atau bangsa pada umumnya. De Francesco, 1958 (dalam Tocharman, Maman, et al. 2006) menyatakan bahwa
"Pendidikan seni mempunyai kontribusi terhadap pengembangan individu antara membantu pengembangan mental, emosional, kreativitas, estetika, social dan fisik. Aspek kreativitas mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apalagi di masa pembangunan ini, orang yang berdaya kreatif sangat dibutuhkan guna mengembangkan ide-ide yang konstruktif yang akan membantu pemerintah dan masyarakat dalam memajukan kehidupan dan berkebudayaan".
Pembinaan kreativitas perlu diberikan pada siswa sedini mungkin, dengan membekali berbagai kemampuan (skill) sebagai bekal kecakapan hidup untuk mampu dikembangkan pada saat mereka membutuhkan penghidupan. Pendidikan seni rupa di sekolah dengan tuntutan ranah apresiasi dan kreasi merupakan wahana dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas dirinya. Kreativitas dalam seni ditinjau dari unsur nilai ekstrinsik dan instrinsik seni, karena wujud seni mencakup dua aspek tersebut.
Seberapa besar kreativitas anak dalam berkarya seni rupa dapat dilihat melalui sebuah indikator. Berikut merupakan indikator-indikator yang ditulis oleh Affandi (2004: 35), indikator dalam penilaian seni rupa anak meliputi:
  1. Indikator tingkat kreativitas, meliputi:
    1. Keanekaragaman unsur-unsur motif, objek, figur, dan warna
    2. Kebaharuan dan keaslian tampilan
    3. Kemampuan penataan komposisi unsur-unsur.
  2. Indikator tingkat kebebasan berekspresi, meliputi:
    1. Ketegasan dalam garis dan warna
    2. keberanian dalam mengorganisasi unsur-unsur
  3. Indikator tingkat keterampilan teknik, meliputi
    1. Keindahan/ kebagusan hasil karya sesuai dengan media yang digunakan
    2. Kecermatan dalam penyelesaian.


Cara mengatasi Stereotipe pada gambar anak


Beberapa tips menghindari stereotype menurut Bertand Russell dalam Humaira (2011):
1. Menyadari gambaran-gambaran yang terstandarisasi dalam benak kita, pikiran orang lain, dan dunia di sekitar kita.
2. Kita dapat meragukan semua keputusan sehingga kita memberikan kesempatan kepada beberapa pengecualian untuk “melakukan pembuktian”
3. Kita dapat belajar berhati-hati terhadap semua generalisasi tentang manusia.

Saran tersebut merupakan saran untuk menghindari stereotipe secara umum. Jika di implementasikan ke dalam pembinaan gambar anak tentunya dari pengarahan orang tua/ guru sehingga dapat dijabarkan sebagai berikut:
  1. Orang tua/ guru dapat mengatakan kepada anak terlebih dahulu, bahwa masih banyak bentuk gambar yang lain dari pada yang anak gambar. Misalnya dengan menceritakan ada bermacam-macam bunga dari hanya sekedar bentuk lingkaran dan setengah lingkaran yang mengelilinginya. Ada bunga yang bentuknya mirip terumpet, ada bunga yang bentuknya mirip bola dan sebagainya.
  2. Orang tua/ guru memperlihatkan kepada anak tentang macam bentuk apa saja yang ada di sekitar kehidupan anak. Dalam hal ini termasuk tema, sehingga anak mengetahui secara nyata dan gamblang mengenai hal-hal yang begitu bermacam-macam di sekitar mereka. Dengan melihat banyaknya hal bervariatif akan merangsang daya cipta anak untuk mewujudkannya dalam bidang gambar.
  3. Orang tua/ guru tidak boleh menyalahkan segala bentuk yang dibuat oleh anak. Sebab hal itu akan membuat persepsi antara benar dan salah pada diri anak, sehingga ia memikirkan mana gambar yang benar dan mana gambar yang salah. Hal ini akan menghentikan anak dalam menuangkan bermacam gambar yang disukainya maupun yang akan diekspresikannya. Padahal di dalam menggambar, apalagi pada usia dini anak sedang dalam proses perkembangan, salah satunya potensi kreatif. Dengan membebaskan anak menuangkan ekspresinya tanpa adanya tuduhan salah dari orang tua/ guru maka anak akan lebih bebas menuangkan bermacam bentuk dalam gambarnya.

Mengapa Stereotipe dalam anak kurang baik?

Stereotipe yang berarti pengulangan, dalam gambar anak dikatakan kurang baik. Pada dasarnya pengulangan gambar yang dilakukan untuk latihan melueskan gerakan tangan memang baik namun jika terlalu sering dilakukan akan berdampak tidak baik.
Gambar Stereotipe sebagai latihan
Menurut Oho, Garha (1980) yang memungkinkan terjadinya gejala stereotipe ini yaitu anak merasa bangga dan puas akan keberhasilannya, kemudian gambar itu diulang-ulang. Kemungkinan yang lain anak tidak mampu membuat bentuk gambar yang lain sehingga gambar diulang-ulang. Pada kemungkinan kedualah dampak negatif akan muncul.Ketidak mampuan untuk membuat gambar yang lain disiasati anak dengan membuat gambar yang sama.
Yangni, Stanislaus (2012) mengatakan bahwa umumnya stereotip sebagai suatu istilah berkonotasi negatif. Stereotip itu difungsikan sebagai strategi, atau mungkin, mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi the Other. Pemunculan gambar yang sama oleh anak ini merupakan strategi dari anak yang digunakan agar gambarnya terlihat penuh dan dapat dianggap oleh orang dewasa/guru bahwa gambar miliknya sudah selesai dan benar.
Pemunculan gambar yang diulang-ulang kemungkinan karena anak tidak berani untuk mencoba membuat gambar yang dia pikir persepsi orang lain akan berbeda. Menurut Nursalam (2007) dalam definisi psikologi, stereotipe adalah citra mental yang kelewat sederhana mengenai sebuah realitas sosial, an over-simplified mental image of the social reality.Padahal sebenarnya jika anak berani untuk membuat gambar yang berbeda dari anggapan orang lain hal itu justru lebih unik dan menarik. Misalnya membuat awan tidak dengan bentuk yang terdiri atas lengkungan-lengkungan pendek yang melingkar namun berbentuk garis silinder yang meliuk-liuk. Walter Lippman dalam Bayu (2009) mengatakan stereotipe itu adalah pictures in our head. Stereotipe adalah persepsi yang dianut yang dilekatkan pada kelompok-kelompok atau orang-orang dengan gegabah yang mengabaikan keunikan-keunikan individual. Orientasinya pada gambar anak, kelompok-kelompok atau orang-orang itulah yang disebut dengan orang dewasa. Pemikiran anak tentang orang dewasa akan mencela akan selalu ada ketika anak tidak berani membuat gambar yang lain.
Keterbatasan bentuk ekspresi gambar anak yang terjadi melalui stereotipe, akan membatasi anak juga untuk berkomunikasi. Ekspresi merupakan salah satu bentuk komunikasi. Menurut Luciatridyana (2009) stereotip dapat menghambat atau mengganggu komunikasi itu sendiri. Dalam hal ini termasuk ketika anak sedang mengungkapkan bentuk komunikasinya yang terbatas. Apalagi pada usia dini yang bisa berdampak negatif nantinya. Luciatridyana juga mengatakan pada umumnya, stereotip bersifat negative. Stereotip tidak berbahaya sejauh yang disimpan di kepala, namun akan bahaya bila diaktifkan dalam hubungan manusia.
Banyaknya alasan anak dalam menggunakan gaya menggambar stereotipe dapat menghambat kreativitas anak. Apalagi pada masa pertumbuhannya. Jika stereotip ini terus menerus dilakukan maka anak tidak akan dapat berkembang dengan optimal. Yang bisa dilakukan anak hanya mengulang-ulang dan sulit untuk membuat hal baru yang inovatif.

Contoh Kritik karya seni Lukis


Judul : Harmonis
Pelukis : Ahmad Savic A
Tahun : 2009
Media : cat air
  1. Bentuk (form) dan tanda (symbol) yang digunakan dalam karya
Karya seni lukis milik Ahmad Savic ini merupakan lukisan yang sekiranya mengungkapkan bentuk sebuah pohon. Tak terdapat pohon lain disekitarnya sebagai background ataupun subjek figuran. Hanya sebuah tiang listrik yang menemani dan tampak berdekatan, namun subjek yang lebih ditekankan adalah pohon tersebut. Bentuk dari pohon ini tidak sederhana, banyak sekali ranting yang menjadi cabang dari bawah hingga ke atas. Tidak dapat ditebak pohon apakah ini, yang jelas bentuk cabang-cabang yang banyak ini menandakan merupakan pohon yang beranting banyak. Bukan pohon rimbun nan hijau sebab dari bentuk daun-daunnya yang ekspresif terdapat secara acak pada ranting yang banyak. Namun dapat dilihat dari bentuk pohon ini yang menjulang ke atas hingga tak terlihat ujung batangnya merupakan pohon yang besar. Bentuk ranting-ranting pohon yang meliuk-liuk ini makin terlihat jelas bahwa sedang diambil perspektifnya dari bawah.
Pohon menyimbolkan sebuah kehidupan yang utuh dan pasti, kepastian ini tergambar dari karakter pohon yang pada umumnya memiliki batang yang kuat. Sesuatu yang berhubungan dengan alam artinya hidup dan pohon merupakan salah satu bagian dari alam. Sedangkan tiang listrik adalah penyangga dari listrik sendiri seolah-olah menjadi simbol dari sesuatu yang lain, lain dari sesuatu yang hidup. Listrik merupakan sesuatu yang tidak hidup dan dapat mematikan. Apalagi listrik itu dapat mematikan sebuah pohon pada kejadian tertentu.
  1. Unsur-unsur visual dan prinsip estetik yang digunakan
Lukisan “harmonis” ini tidak mengkomposisikan subjek utama terlalu tengah, sehingga tidak terlalu statis namun tetap fokus pada subjek utama. Penyusunan pohon besar inipun dikomposisikan menjulang ke atas serong kanan sehingga lebih indah. Pengkomposisian sebuah tiang listrik yang tegak menjulang dari bawah menjadi sorotan yang estetik ketika puncaknya semakin berdekatan dengan puncak pohon. Garis-garis dari pembentukan ranting pohon seolah menjadi ciri khas tersendiri dalam karya ini, sebab menjadi perpaduan pula pada garis-garis yang terbentuk dari kabel listrik di sebelahnya. Hal ini menjadikan komposisi yang menarik. Begitu pula perulangan daun-daun abstrak seolah menjadi taburan yang membuat karya ini lebih indah.
Warna yang digunakan bukan merupakan warna asli dari sebuah pohon, Savic menggunakan warna-warna campuran seperti warna orange, kuning dan biru. Hal ini membuat lukisan yang dibuatnya menjadi estetis dan menarik. Warna pohon yang pada umumnya hijau dan coklat menjadi lebih bervariasi. Meski jika Savic menggunakan warna-warna ini sebagai background nuansa, warna-warna inipun masih menjadi unsur estetik dalam karyanya.
  1. Kesan yang anda peroleh dari hasil pengamatan
Dalam lukisan ini meskipun hanya terdapat sebuah subjek pohon dan tiang listrik namun memiliki makna yang lebih dalam. Bukan sekedar indahnya pohon yang berdiri di dekat tiang listrik namun lebih dari itu. Kesan rimbun tidak diperoleh namun dari pohon itu sendiri dapat mengesankan besar dan tinggi, begitu pula pada tiang listriknya yang menggambarkan tentang ketinggian. Hal yang berdampingan ini menggugah perasaan tertentu yang tercipta dalam hati, seperti pada unsur-unsur yang sama antara pohon dengan tiang listrik. Ada garis-garis yang menjadi perpaduan keserasian yang mengesankan keharmonisan satu sama lain. Persamaan ketinggian menjadi hal yang indah ketika dilihat dari sisi bawah, hal ini sangat terlihat pada penunjukan bahwa subjek ini berada pada posisi tinggi. Seolah-olah mengesankan pada sesuatu yang unggul dan tinggi. Selain itu seolah hanya dari perspektif bawah dapat melihat segala sesuatu yang harmonis. Seperti yang terlihat pada perpaduan garis kabel dan garis-garis yang terbentuk dari ranting pohon. Penyatuan ujung pohon dengan ujung tiang listrik menjadi penyatuan suatu hubungan yang kukuh yang terbentuk dari sesuatu yang kuat yaitu pada karakter batang pohon dengan batang tiang listrik. Bercak-bercak daun yang tidak dimiliki oleh tiang listrik menjadi penghias antara jalinan pohon dengan tiang listrik. Keseluruhan lukisan ini mencerminkan sebuah keharmonisan yang tak terduga.
  1. Penilaian anda terhadap gagasan, teknik dan media yang digunakan dalam kaitannya dengan ekspresi yang dihasilkan
Menarik sekali lukisan ini mendapatkan gagasan dari sebuah pohon yang pada dasarnya menyatu dengan alam namun Savic menampilkan dalam keadaan berada di perkotaan. Bukan menjadi sosok pohon yang paling mendominasi keadaan kering di kota namun gagasannya dalam menampilkan subjek utama adalah merupakan bentuk keharmonisan yang unik.
Teknik yang digunakan dalam lukisan ini adalah teknik aquarel, merupakan teknik yang tepat untuk lukisan pada media kertas aquarel. Cat air yang digunakanpun sesuai dengan penggambaran nuansa yang diharapkan. Teknik pelukisan wet on wet menjadikan pembentukan warna nuansa membaur dengan warna kertas. Sehingga gradasi hilang yang tercipta dalam lukisan ini berhasil menjadi background yang indah.
Media kertas memang merupakan media yang tepat ketika menggunakan cat jenis cat air. Apalagi kertas yang digunakan memiliki tekstur yang kuat sehingga menunjang pada teknik. Tekstur kertas ini memberikan peleburan warna menjadi sempurna, air yang digunakan Savic ini mampu teresap sempurna pada kertas walaupun ada beberapa detail bagian yang kurang diperhatikan.
  1. Kesimpulan atau solusi untuk perbaikan karya atau peningkatan apresiasi
Penyatuan bentuk menjadi hal yang patut diperhatikan sebab menjadi hal utama dalam lukisan ini. Meskipun Savic menggunakan ekspresi yang kuat namun perspektif perlu diperhatiakn terutama pada pendekatan antara tiang listriik dan pohon. Pemberian sedikit detail pada bagian tertentu akan menambah keindahan lukisan ini. Seperti pada tiang listrik yang kurang diperhatikan karena teralalu memperhatikan tonjolan bentuk pohon. Sedangkan pohonnya sendiri boleh juga jika ditambahkan sedikit daun-daun yang sama agar karakter pohon lebih kuat. Namun demikian lukisan ini sudah cukup baik dilihat dari segi ekspresi, hanya perlu pengembangan teknik saja jika ingin membuat karya berikutnya. Akan lebih baik lagi jika lukisan ini di kemas dalam figura yang simpel dan elegan.
Menyatakan sebuah pohon tidak perlu menunjukkan keseluruhan bentuk pohon tersebut, bentuk visualisasi hanya menjadi subjek dari inti lukisan. Makna yang terkandung dalam lukisan ini lebih ditekankan daripada perwujudan. Sedangkan perwujudan estetis yang ekspresif disini lebih ditekankan daripada bentuk utuh. Lukisan ini memperlihatkan ekspresi yang tinggi dalam pembentukannya. Keestetisan menjadi tampilan unggulan yang paling menonjol dan itulah yang merupakan sisi indah dari sebuah keharmonisan.
Keharmonisan bukan merupakan suatu yang terdiri atas segala hal yang sama, namun terdiri atas hal yang berbeda jauh. Sisi indah dari keharmonisan adalah kesamaan hal kecil yang tak terduga dan berjalan begitu saja. Seperti segala sesuatu yang alami, ada kesenjangan yang dapat terlihat dengan jelas dan gamblang namun ada jembatan lembut yang menyatukan keindahan dari sebuah jalinan. Perbedaan kecil dapat menjadi penghias yang mengkukuhkan sebuah hubungan, terkadang sesuatu yang menjadi pembeda itu adalah justru menjadi penyatu.