Showing posts with label rancangan. Show all posts
Showing posts with label rancangan. Show all posts

Wednesday, January 27, 2021

Merancang karya seni budaya nusantara: Rancangan Karya Seni Lukis

Kreasi seni budaya Nusantara dihasilkan oleh serangkaian proses yang cukup panjang. Kreasi seni budaya Nusantara juga harus melalui proses perancangan sebelum terwujud dalam bentuk seni yang konkret. Untuk menghasilkan suatu kreasi dan karya seni, berikut adalah beberapa bentuk rancangan karya yang dapat ditempuh.

Dalam merancang kreasi karya seni lukis, terdapat beberapa hal yang patut diperhatikan, yakni sebagai berikut.

a. Memilih alat dan bahan

Pembuatan karya seni Illkis dimulai dengan pemilihan matevial berupa alat dan bahan. Umumnya karya seni lukis dibııat menggunakan dua elemen, yakni cat dan media seperti kertas atau gambar. Jenis cat yang banyak digunakan untuk nıelukis di antaranya cat air cat minyak dan cat akrilik. Cat air adalah jenis cat dengan pigmen sangat lembut yang cocok untuk digunakan melukis pada bidang berupa kertas. Cat air memiliki sifat transparan. Cat minyak adalah jenis cat yang pigmen warnanya dapat diencerkan dengan terpenting. Cat minyak sangat cocok digunakan untuk pembuatan lukisan yang mengutamakan detail serta jangkauan gradasi warna yang lebih lebar dan awet. Ciri khas dari cat minyak adalah memiliki aroma yang menyengat dan membutuhkan waktu lama untuk kering. Sementara itu, cat akrilik adalah jenis cat yang pigmen warnanya lebih beşar dari cat air memiliki daya tutup permukaan yang cukup luas, dan bersifat transparan. Ciri khas dari cat akrilik adalah memiliki aroma yang tidak menyengat, cepat kering, dan membutuhkan benda-benda pendukung, seperti gel pengilap dan varnish pengilap untuk menampilkan kesan kilap.

Pada umumnyaı media gambar yang banyak digunakan oleh pelukis adalah kanvas, yakni kain tenunan dengan daya cengkeram dan daya serap yang kuat, serta bersifat antiretak. Kain tenun yang digunakan sebagai kanvas umumnya telah dilapisi dengan plamir atau cat dinding antibocor. Pelapisan cairan antibocor pada kanvas disesuaikan dengan jenis kanvasnya. Semakin halus tekstur kanvas, semakin sedikit pula pelapisan yang dilakukan. Kanvas merupakan media yang tepat untuk melukis menggunakan cat minyak dan cat akrilik.

Sementara itu, media gambar Iain yang seiring digunakan adalah kertas. Kertas yang digunakan untuk melukis tentu memiliki ketebalan berbeda dengan kertas yang digunakan untuk menulis. Pemilihan kertas untuk melukis juga didasarkan pada gaya melukis yang hendak diterapkan. Contohnya, jika ingin membuat lukisan bergaya realis, jenis kertas yang cocok digunakan adalah kertas bertekstur halus. Sementara itu, kertas bertekstur kasar sangat cocok untuk digunakan dalam pembuatan lukisan bergaya abstrak. Jenis cat yang sangat cocok digunakan untuk media kertas adalah cat air.

Selain cat dan media gambar, terdapat beberapa alat pendukung Iainnya dalam penciptaan karya lukis, seperti palet, kuas, pisau palet, ember, dan alat tulis.

1) Kuas merupakan alat yang digunakan untuk menyapukan cat ke atas permukaan media gambar.

Bentuk kuas cat air cenderung lebih halus dibandingkan kuas cat minyak ataupun akrilik. Bagian ujung bulu kuas ada yang datar, bundar, ataupun meruncing. Biasanya, bulu pada kuas menggunakan serat buatan dan rambut hewan musang.

2) Palet merupakan alat untuk mencampurkan aneka warna cat yang akan digunakan untuk melukis. Palet cat minyak memilikj permukaan datar dan luas, sedangkan permukaan palet cat air memiliki lubang-lubang yang cekung.

3) Pisau palet merupakan alat yang berfungsi sama dengan kuas, yakni menempelkan cat pada permukaan kanvas. Bedanya, pisau palet lebih sering digunakan untuk menempelkan cat yang lebih tebal.

4) Ember berisi air digunakan untuk mencuci dan membersihkan ujung kuas yang digunakan untuk melukis.

5) Alat tulis, seperti pensil, penggaris, dan penghapus, digunakan untuk membuat sketsa lukisan sebelum dituangkan ke dałam kanvas.

 

 

Sumber: a. www.pxhere.com, b. www.maxpixel.net

Gambar 1 0.3 (a) cat minyak dan (b) cat akrilik biasa digunakan untuk melukis di kanvas

Gambar 10.4 Contoh alat pendukung dalam pembuatan lukisan, seperti (a) palet, (b) kuas, serta (c) cat dan ember.

Kreativitas dalam menciptakan karya seni lukis juga dapat diterapkan dalam pemilihan alat dan bahan yang tidak biasa. Contohnya, selain kanvas dan kertas, masih banyak media lain yang dapat digunakan untuk melukis, seperti papan, keramik, hingga tembok bangunan. Alat yang dipergunakan pun bervariasi, seperti cat semprot (pylox), air brush, hingga kosmetik seperti lipstik. Pemilihan alat dan bahan tergantung pada jenis lukisan apa yang hendak dihasilkan oleh seniman.


b. Memilih teknik melukis

Meskipun setiap pelukis memiliki gaya tersendiri dalam menciptakan suatu karya, umumnya teknik yang digunakan tetap sama. Dalam penciptaan karya lukis, terdapat beberapa teknik melukis yang sering digunakan dan bergantung pada jenis cat yang digunakan. Berikut adalah teknik yang sering digunakan pada pembuatan lukisan cat air.

1) Teknik flat washes, yakni teknik menyapukan kuas cat ke kertas agar memperoleh hasil sapuan yang rata.

2) Teknik graded washes, yakni teknik membuat tingkatan warna pada kanvas untuk menggambarkan kesan jauh dan dekat.


3) Teknik variegated washes, yakni teknik menyapukan kuas untuk menghasilkan warna-warna yang berbeda dan akan menyatu ketika disapukan pada kertas.

4) Teknik broken wash, yakni teknik sapuan kuas yang bertujuan untuk menghasilkan jejak warna dan sapuan kasar.

5) Teknik sapuan kuas kering, yakni teknik menyapukan kuas ke media gambar dengan sapuan yang mendetail.

6) Teknik blocking in, yakni teknik mengeblok sebuah bidang secara merata menggunakan kuas.

7) Teknik overlajd glazing, yakni teknik untuk menghasilkan kesan warna yang saling bertumpuk.

8) Teknik spattering, yakni teknik mengetuk-ngetukkan kuas yang penuh dengan cat pada jari sehingga butiran dan bercak çat jatuh pada media gambar.


Sementara itu, teknik yang sering digunakan pada pembuatan lukisan cat minyak ataupun cat akrilik adalah sebagai berikut.

1) Teknik konvensional, atau teknik umum, yakni menggoreskan warna cat ke atas permukaan media gambar menggunakan kuas.

2) Teknik impasto, yakni teknik membubuhkan cat pada kanvas secara tebal. Pencampuran warna pada teknik ini dapat dilakukan di atas palet ataupun kanvas. Teknik ini akan menciptakan tekstur sangat kuat ketika cat mengering. Teknik ini sangat cocok untuk melukis dengan gaya impresionistik atau ekspresionistik.

3) Teknik spontan, yakni teknik menyapukan kuas ke atas kanvas secara cepat dan tidak menggunakan perhitungan tertentu. Teknik ini banyak digunakan pada pembuatan lukisan abstrak dan ekspresionistik. Teknik ini bersifat intuitif sehingga menghasilkan efek dramatik, dinamis, dan ekspresif.

4) Teknik plakat, yakni teknik yang digunakan untuk menghasilkan jejak-jejak goresan kuat pada kanvas.

5) Teknik transparan, yakni teknik yang dilakukan dengan menggunakan cat yang teksturnya lebih cair agar menghasilkan kesan tipis saat disapukan pada kanvas.

 

Sumber: dokumentasi penulis

Gambar 10.5 Pembuatan lukisan cat minyak dengan teknik spontan.


c. Membuat lukisan

Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, telah disebutkan bahwa tahap perancangan karya seni meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahapantahapan tersebut juga dilakukan pada pembuatan lukisan. Meskipun demikian, ada beberapa jenis lukisan yang tidak melalui tahap-tahap tersebut, misalnya lukisan bergaya abstrak dan ekspresionistik Yang ticlak melalui tahap perancangan. Perhatikan skema berikut,

 

Gambar 10.6 Gambar Skema Proses Melukis

Dalam pembuatan lukisan, seniman harus melakukan eksplorasi terlebih dahulu untuk menentukan ide, gagasan, dan tema yang akan diangkat dalam bentuk lukisan, Tahap selanjutnya adalah menentukan gaya lukisan yang hendak diterapkan: apakah bergaya abstrak, realistik, impresionistik, atau gaya lainnya? Selanjutnya, tentukan jenis media yang akan digunakan untuk membuat lukisan. Setelah itu, buatlah sketsa atau rancangan kasar dari lukisan yang hendak dibuat. Jika lukisan yang akan dibuat bergaya abstrak atau ekspresionistik, pembuatan sketsa atau rancangan tidak diperlukan.

Untuk lebih memahami tentang langkah pembuatan lukisan, simaklah contoh pembuatan lukisan bergaya realistik dengan media kanvas dan cat minyak berikut.

1) Buatlah sebuah sketsa pemandangan dengan memperhatikan perspektif.

2) Ambillah beberapa tube cat dan tuangkan pada palet. Jangan mengambil terlalu banyak warna. Warna yang terbatas akan menghasilkan efek keserasian.

3) Sapukan warna-warna terang pada bidang-bidang sketsa secara tipis dan merata dengan terpentin yang cukup dan kuas agak leban

4) Sapukan warna-warna yang lebih tua pada subjek gambar untuk mendapatkan karakteristik, volume, tekstur, dan efek pencahayaan yang tepat.

5) Sapukan warna-warna pada detail lukisan agar subjek pemandangan menjadi lebih realistik. Kuas yang digunakan harus lebih kering, sedangkan cat yang digunakan agak tebal untuk menimbulkan jejak yang jelas dan kuat.

6) Lakukan tahap finishing atau penyelesaian dengan memberikan varnish pada lukisan. Pemberian varnish akan menjadikan lukisan lebih tahan lama dan tidak mudah terkena debu.




Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Merancang Karya Seni Budaya Nusantara: Rancangan Karya Seni Tari


Membuat karya tari bagi banyak orang terasa ‘menakutkan'. Ketakutan itu, antara lain merasa bahwa karya tari akan dinilai tidak bagus atau akan ditertawakan. Padahal, jika dicoba terlebih dahulu, bisa saja akan menghasilkan sebuah karya tari yang bagus dan disukai banyak orang. Pertanyaan yang sering muncul saat membuat tarian adalah mana yang harus ditentukan terlebih dahulu, gerakan, judul, atau justru tema tarian? Tema tarian biasanya sudah ditentukan oleh pihak penyelenggara. Tema yang digunakan contohnya tentang flora dan fauna, aktivitas sehari-hari, atau bebas.

Oleh karena itu, agar dapat membuat karya tari, beberapa hal perlu dirancang dan dipersiapkan dengan baik. Hal-hal tersebut, antara lain sebagai berikut.

a. Menentukan tema dan jenis sajian

Untuk mempersiapkan pergelaran tingkat sekolah, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan apa yang akan dipergelarkan. Tentukan terlebih dahulu apakah akan mempergelarkan tarian yang sudah ada atau harus membuat tarian baru? Jika akan mempergelarkan tarian yang sudah ada, beberapa hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.

1 ) Menentukan jenis/ judul tarian yang akan dipentaskan.

2) Menentukan bentuk tarian yang akan dipentaskan (solo/tari tunggalı duet, trio, kelompok, atau massal), jumlah penarij dan siapa yang akan membawakan tarian.

3) Menentukan jumlah tarian yang akan dipentaskan.

4) Menentukan nama-nama penari dan tarian yang akan dipentaskan, beserta penanggung jawab tiap materi yang akan dipentaskan.

5) Menentukan jadwal dan tempat latihan (berkoordinasi dengan bagian Iain untuk pengaturan jadwal per tari dan jadwal latihan gabungan).

6) Menentukan tempat penyewaan kostum.

 

Sumber, commons.wikimedia.org

Gambar 10.7 Tari merak, salah satu contoh karya tari yang banyak dibawakan dalam pertunjukan tari.

Jika akan mementaskan tarian dengan koreografi yang baru, tentukan siapa yang akan menjadi koreografen Langkah berikutnya adalah menyusun kepanitiaan, staf produksi, dan siapa saja yang terlibat dalam pementasan. Setelah panitia terbentuk, barulah mengadakan pertemuan untuk menentukan segala sesuatunya (materi pementasan, personal yang terlibat, dan penanggung jawab) pada pertemuan pertama setelah kepanitiaan/staf produksi terbentuk.

Mementaskan karya baru memerlukan waktu persiapan lebih lama dan lebih rumit dibandingkan mementaskan karya yang sudah ada. Pada saat merancang karya, banyak pertanyaan yang harus dijawab, antara lain sebagai berikut.

1 ) Konsep tarian yang akan digunakan apakah konsep Barat yang global, konsep Timur yang detail, atau justru menggabungkan keduanya?

2) Jenis tari yang akan dibuat, apakah tarian yang akan dibuat untuk laki-laki saja, untuk perempuan saja, campuran, atau justru tarian netral yang dapat dibawakan, baik oleh penari laki-laki maupun penari perempuan, dengan perbedaan pada volume gerak dan lebarnya bukaan kaki?

3) Bentuk penyajian tari, apakah tari tunggal, tari berpasangan, tari kelompok, ataukah massal/kolosal?

4) Genre tarif apakah tari klasik, kreasi baru, kontemporer, atau modern?

5) Tema dari gerak tari, apakah imitatif, heroik, romantik, atau drama tari?

6) Iringan musik, apakah musik etnik, tradisional, kontemporer, modern, alternatif, atau justru tanpa bunyi?

7) Properti atau perlengkapan tari yang akan digunakan, apakah bersifat feminin, seperti kipas, selendang, dan payung; bersifat maskulin, seperti keris, tombak, dan panah; atau bersifat netral, seperti caping dan tongkat pendek?


b. Memilih penari

Langkah selanjutnya adalah menentukan siapa penari dan peran yang akan dibawakan sesuai dengan kemampuan dan kepantasan. Artinya, pemilihan peran disesuaikan dengan tuntutan peran. Jika untuk pementasan komersial atau untuk lomba/festival, pemilihan penari dapat dilakukan melalui audisi. Namun jika untuk keperluan ujian kompetensi, pemilihan penari dapat menyesuaikan kebutuhan. Selain itu, untuk tarian yang berat, harus mencari penari yang juga memiliki fisik relatif kuat dan sehat.


c. Memilih penata musik

Penata musik nantinya perlu mengadakan diskusi dengan penata tari untuk menentukan jenis musik iringan tari yang akan digunakan. Musik iringan tari dapat dilakukan melalui proses edit menggunakan musik pengiring yang sudah ada atau membuat musik pengiring baru. Musik pengiring dengan proses edit tentunya akan lebih sedikit mengeluarkan biaya dibandingkan merekam untuk pembuatan musik pengiring baru.

Musik pengiring dengan proses edit dilakukan dengan memotong dan menyambungkan musik yang sudah ada untuk dijadikan sebuah musik pengiring baru. Meskipun demikian, hal tersebut bukan berarti mudah. Penata musik harus memiliki keahlian khusus untuk memilih lagu yang sesuai dengan tari yang akan dipentaskan.

Sementara itu, musik pengiring harus ditentukan dengan latihan bersama antara penari dan pemusik sebelum melakukan proses perekaman. Perekaman musik pengiring juga harus dilakukan di studio yang memadai agar kualitas rekaman bagus. Ketika rekaman sudah selesai, langkah berikutnya adalah menyatukan gerak dengan musik iringan. Penata tari memadukan gerak dengan iringan yang sudah jadi, artinya harus bersikap kompromis. Penata tari harus siap berkompromi dengan adanya 'kesalahan' saat rekaman, hingga kadang ada yang harus berubah. Perubahan bisa terjadi pada gerak, ritme, tempo, durasi, bahkan kadang ada gerak yang harus dibuat lagi, atau malah dibuang.


d. Memilih penata busana dan rias

Penata busana dibutuhkan untuk menyiapkan kostum dengan membuat kostum baru atau memadupadankan kostum yang sudah ada. Sementara itu, penata rias diperlukan untuk melakukan riasan, termasuk tata rambut yang sesuai agar penari terlihat bagus saat melakukan pementasan.

 

Sumber: id.wikipedia.org

Gambar 10.8 Tata rias dan kostum dalam pertunjukan tari jaipong.

e. Eksplorasi gerak

Membuat karya tari tidak sesulit yang dibayangkan. Hal mendasar yang harus dapat dipenuhi untuk membuat karya tari adalah mau memulai. Memulai membuat karya tari memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Bagong Kussudiardja, salah seorang koreografer yang sudah menciptakan ratusan tari, menyarankan bahwa yang perlu dan penting dilakukan dalam membuat karya tari adalah bergerak dulu. Tidak usah terlalu mementingkan teori, yang penting bergerak. Pembuatan karya tari dapat juga dimulai dengan mempraktikkan gerak yang sudah dikuasai, lalu dikembangkan atau diubah menjadi gerak baru. Setelah itu, carikan atau buat musik pengiring yang cocok, sehingga jadilah sebuah tarian.

Dalam membuat karya tari, buang jauh-jauh rasa takut karena tidak ada istilah betul dan salah atau indah dan tidak indah dalam karya tari. Membuat gerak adalah wilayah 'bebas nilai' karena masuk dalam wilayah kreativitas. Saat akan membuat tarian, kebebasan berkreasi yang tidak dibatasi dan diikat dengan berbagai aturan sangat diperlukan. Jadi, jauhkan pikiran dari berbagai ketakutan bahwa karya tari akan dianggap jelek atau ditertawakan. Untuk membuat gerak tari yang lebih leluasa tanpa aturan, perlu diperhatikan juga eksplorasi anggota gerak yang akan ditampilkan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adatah sebagai berikut.

1) Melakukan eksplorasi gerak tangan dengan merentangkan tangan ke samping, julurkan ke depan, buka-tutup, naik-turun, gerakkan telapak ke luar dan ke dalam, gerakkan jari-jari, dan cari kemungkinan gerak sebanyak-banyaknya. Putar bahu, tekuk lurus tangan. Padukan gerak lengan bahu dan telapak serta jari-jari. Coba berkali-kali sampai menemukan bentuk, pose, atau gerak yang disukai

2) Melakukan eksplorasi gerak kaki dengan mengangkat kaki, menekuk, memutar badan, kemudian meletakkan kaki atau melakukan tumpuan pada lutut. Ganti dengan kaki lainnya. Langkahkan kaki dengan berbagai cara dan ritme. Lakukan beberapa kati. sampai menemukan bentuk dan gerak yang unik

3) Melakukan eksplorasi gerak tubuh dengan melakukan liukan, mendhak yang ekstrem, nglayang, merundukŕ atau mayuk, Cobalah melakukan gerak dan pose yang  unik Padukan dengan gerak tangan dan kepala. Bawa berpindah tempat dengan melangkah, kemudian kembali ke tempat semula.

4) Kombinasikan temuan dari eksplorasi gerak tangan dan kaki, cobalah dengan berbagai tempo dan ritme yang berbeda-beda sampai menemukan pengulangan yang enak. Diulangi kiri dan kanan, lalu gerak tangan di tempat saja, gerak tangan sambil berjalan, berlari, melompat, berguling, trisig, atau kengser.

5) Carilah musik pengiring, misalnya musik etnik, boleh dari dalam negeri atau pun mancanegara. Ambil bagian-bagian yang menarik, sambung dengan yang lain, jangan lupa untuk tetap mencantumkan komposernya. Jadi, sangat mungkin terdapat beberapa judul lagu untuk sebuah tarian.

6) Sambungkan gerak-gerak yang sudah ditemukan, padukan dengan musik etnik yang sudah ditemukan, lalu edit dengan rapi.




Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.