Showing posts with label sutradara. Show all posts
Showing posts with label sutradara. Show all posts

Wednesday, January 27, 2021

Merancang karya seni budaya nusantara: Rancangan Karya Seni Teater


Pelaksanaan pertunjukan teater sangat memerlukan perencanaan yang matang. Penyebabnya adalah pertunjukan teater merupakan bentuk seni yang kompleks dan memerlukan kerja sama banyak pihak untuk mewujudkannya. Selain itu, banyak elemen pendukung lain yang diperlukan untuk mewujudkan suatu karya teater yang berkesan, baik bagi penonton maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. Untuk mewujudkan sebuah pertunjukan teater, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, yakni sebagai berikut.

a. Pembuatan dan pemilihan naskah

Sebuah pertunjukan teater bermula dari keberadaan naskah drama. Naskah drama dapat dimaknai sebagai naskah yang berisi dialog dan keterangan adegan yang membangun alur cerita. Naskah drama sendiri merupakan nyawa dari pertunjukan teater. Tanpa keberadaan naskah, para pemeran akan kesulitan untuk memahami alur cerita, adegan, dan penokohan dari setiap karakter yang mereka perankan.

Naskah drama terbagi menjadi tiga jenis, yakni drama tragis, drama komedi, dan drama tragikomedi. Drama tragis adalah drama yang alur kisahnya mengeksplorasi Sisi kehidupan manusia yang sering kali berujung pada kemalangan atau kesedihan. Drama komedi adalah drama hiburan yang dibuat dengan tujuan untuk menertawakan kehidupan manusia. Sementara itu, drama tragikomedi adalah drama yang menggabungkan karakteristik drama tragis dan drama komedi. Drama jenis ini juga dikenal sebagai black comedy.

Dalam rancangan pertunjukan teater, sutradara dan para anggota yang terlibat di dalamnya harus terlebih dahulu menentukan jenis teater apa yang akan diangkat, baru kemudian menentukan naskah drama. Jika hendak menampilkan teater tradisional, cerita yang dipilih dapat berupa cerita rakyat atau cerita yang mencirikan suatu daerah dan kebudayaan tertentu. Jika hendak menampilkan teater kontemporer, cerita yang dipilih dapat berupa penggambaran realitas kehidupan sehari-hari yang dituturkan dalam tiga pilihan gaya: tragis, komedi, atau tragikomedie Teater kontemporer juga dapat menampilkan kisah berupa cerita rakyat yang dimodifikasi.

Dalam pemilihan dan penentuan naskah drama, sutradara dapat menyesuaikan dengan selera dan kondisi masyarakat. Contohnya, sutradara dapat memilih naskah drama komedi, seperti Dokter Gadungan karya Moliere, atau naskah drama Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer. Kedua naskah tersebut merupakan contoh naskah drama yang kisahnya telah dikenal luas dan disukai oleh masyarakat sehingga pertunjukan yang mengangkat kedua naskah tersebut umumnya akan menarik perhatian.

b. Pemilihan sutradara dan kru

Selain pemain, sutradara dan kru adalah elemen Iain yang menentukan terselenggaranya suatu pertunjukan, Sutradara sendiri memegang peranan yang sangat vital, yakni mewujudkan naskah drama ke dalam bentuk pertunjukan teater. Sutradara bekerja sama dengan pemimpin produksi yang bertugas memastikan segala elemen pendukung pertunjukan berjalan sesuai dengan perencanaan. Pemimpin produksi membawahi berbagai divisi, seperti divisi tata panggung, musik, cahaya, tata rias dan kostum, konsumsi, transportasi, serta sponsorship. Setiap divisi memiliki kru yang bertugas sesuai bidang masing-masing. Divisi tata panggung bertugas membuat serta menyediakan properti dan dekorasi latar panggung. Divisi tata cahaya bertanggung jawab atas pengelolaan lampu dan pencahayaan yang digunakan dalam pertunjukan. Divisi tata musik bertanggung jawab memilih tagu, pemusik, dan alat musik yang digunakan untuk memperkuat latar suasana dalam pertunjukan. Divisi tata rias dan kostum bertanggung jawab atas semua kostum dan tata rias yang dikenakan pemain dalam pertunjukan. Divisi konsumsi bertugas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para pemain, sutradara, dan kru. Divisi transportasi bertugas menyediakan transportasi yang akan digunakan untuk kebutuhan pertunjukan. Sementara itu, divisi sponsorship bertanggung jawab mencari sponsor yang akan menjadi sumber dana terselenggaranya pertunjukan.

  

Sumber: shutterstock.com

Gambar 10.9 (a) Divisi tata ahaya sedang mengecek lampu dan (b) divisi tata musik sedang mengatur

suara,

c. Pemilihan pemain

Setelah menentukan naskah, sutradara, dan kru, tahap selanjutnya adalah menentukan pemain berdasarkan karakter dan tokoh yang ada pada naskah, Pemilihan pemain harus disesuaikan benar dengan karakter yang hendak diperankan, terlebih bagi karakter-karakter dengan kondisi fisik tertentu. Contohnya, pada pertunjukan teater yang mengangkat kisah Pandawa Lima, tokoh Bima sebaiknya diperankan oleh pemain yang bertubuh besar dan gagah karena tokoh Bima dikisahkan sebagai ksatria bertubuh besar dan gagah.

Pemilihan pemain tidak hanya didasarkan pada kesamaan Ciri fisik dengan tokoh yang hendak diperankan, tetapi juga keterampilan dalam menguasai Ciri khas dari tokoh. Contohnya, pemain berusia muda dapat memerankan tokoh nenek tua jika ia dapat menguasai gestur tubuh, cara bersuara, cara berbicara, cara berjalan, dan cara bertingkah laku layaknya nenek-nenek. Keterampilan dalam membawakan suatu tokoh melalui eksplorasi gerak tubuh dan suara merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang pemain.

Oleh karena itu, dalam memilih pemain yang akan terlibat dalam suatu pertunjukan, sutradara harus memahami betul kemampuan yang dimiliki oleh setiap pemain. Semakin sulit karakter tokoh yang hendak diperankan, semakin baik pula keterampilan si pemain. Tokoh yang umumnya memiliki tingkat kesulitan tertentu saat diperankan adalah tokoh utama dan tokoh antagonis. Sementara itu, tokoh pendamping atau tokoh selingan juga memiliki tingkat kesulitan, tetapi tidak setinggi kesulitan memerankan tokoh utama ataupun tokoh antagonis.

Oleh karena itu, dalam memilih pemain yang akan terlibat dalam suatu pertunjukan, sutradara harus memahami betul kemampuan yang dimiliki oleh setiap pemain. Semakin sulit karakter tokoh yang hendak diperankan, semakin baik pula keterampilan si pemain. Tokoh yang umumnya memiliki tingkat kesulitan tertentu saat diperankan adalah tokoh utama dan tokoh antagonis. Sementara itu, tokoh pendamping atau tokoh selingan juga memiliki tingkat kesulitan, tetapi tidak setinggi kesulitan memerankan tokoh utama ataupun tokoh antagonis.

d. Pemilihan lokasi

Suatu pertunjukan teater memerlukan lokasi yang tepat untuk mementaskannya. Ada teater yang digelar di atas panggung besar di dalam gedung kesenian, ada pula teater sederhana yang digelar di panggung terbuka yang  berukuran tidak terlalu besar. Semuanya disesuaikan dengan jenis teater yang hendak diusung.

Pemilihan tempat menjadi penting dalam pertunjukan teater karena akan berpengaruh pada aspek lainnya, seperti tata panggung dan tata cahaya. Contohnya, tata cahaya pada pertunjukan teater yang digelar di panggung terbuka akan lebih rumit dibandingkan tata cahaya pada panggung tertutup/di dalam ruangan. Panggung terbuka juga tidak memungkinkan adanya dekorasi yang terlalu ramai. Pasalnya, panggung terbuka lebih terekspos dengan gejala alam, seperti cahaya matahari dan angin.

Pemilihan tempat juga berpengaruh pada jumlah pemain dan kru yang terlibat di dalam pertunjukan. Panggung yang kecil akan mempersempit ruang gerak dan menyebabkan terbatasnya jumlah pemain yang dapat berada di atas panggung dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, pertunjukan teater yang digelar di dalam ruangan yang tidak terlalu besar akan menyebabkan terbatasnya jumlah pemusik pengiring pertunjukan ataupun jumlah penonton.

    

Sumber: shutterstock.com

Gambar10.10 Pertunjukkan teater dapat dilakukan di (a) panggung besar dalam ruangan atau (b) panggung terbuka.

Agar pertunjukan berjalan lancar, pastikan bahwa jenis pertunjukan telah sesuai dengan lokasi yang dipilih. Jika hendak menampilkan teater kolosal, teater musikal, ataupun teater tradisional yang memerlukan banyak pemain, grup musik pengiring, serta tata cahaya dan tata panggung yang prima, pilihlah lokasi pertunjukan berupa gedung kesenian atau auditorium besar. Di Jakarta, contoh gedung kesenian yang menyediakan fasilitas berupa panggung yang besar, tata cahaya dan tata suara yang prima, serta bangku penonton berkapasitas besar adalah Gedung Kesenian Jakarta. Jika pertunjukan teater yang ditampilkan adalah teater kontemporer yang tidak memerlukan tata panggung atau tata cahaya berlebihan, panggung terbuka dapat dipilih.

e. Penentuan sumber pendanaan

Suatu pertunjukan, baik pertunjukan tari maupun teater, tidak akan terlaksana tanpa dana. Sumber dana diperlukan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari menggaji kru dan pemain, menyewa tempat pertunjukan, alat musik, lampu, kabel, dan peralatan sound system, membeli alat tata rias, hingga menyewa kostum. Dengan banyaknya kebutuhan, tentunya dana yang diperlukan untuk menggelar pertunjukan tidaklah sedikit.

Untuk menggelar pertunjukan berskala besar, umumnya pihak panitia pertunjukan akan mengajukan permohonan sponsor kepada berbagai pihak, baik pihak pribadi maupun organisasi. Permohonan sponsor dapat dilakukan dengan membuat proposal sponsor. Proposal sponsor harus memuat beberapa hal, mulai dari latar belakang keberadaan pertunjukan, nama kru, panitia, dan pemain yang terlibat di dalamnya, detail kebutuhan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pertunjukan, nominal uang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dan ditutup dengan permohonan agar pihak yang dikirimi proposal bersedia menjadi sponsor pertunjukan. Sponsor yang diperoleh tidak hanya berupa uang, tetapi juga barang-barang kebutuhan pertunjukan. Contohnya, jika panitia mengajukan permohonan sponsor pada perusahaan kosmetik, perusahaan kosmetik tersebut dapat memberikan bantuan sponsor berupa uang ataupun produk kosmetik yang dapat digunakan untuk merias pemain.

Pertunjukan teater dengan skala besar juga dapat meminta sponsor dari lembaga-lembaga resmi, terutama pada lembaga yang berfokus pada pengembangan kesenian, kebudayaan, dan pariwisata. Terlebih jika pertunjukan teater yang diusung banyak memasukkan unsur kebudayaan. Melalui sponsor ini, terdapat keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi pihak panitia pertunjukan, mendapatkan sponsor dari lembaga resmi tidak hanya membawa sumber dana, tetapi juga membantu dalam mempromosikan pertunjukan mereka kepada masyarakat luas. Sementara itu, bagi lembaga pemberi sponsor, pertunjukan tersebut juga membawa Citra baik kepada masyarakat, terutama Citra sebagai salah satu agen pelestari kebudayaan.

Sementara itu, untuk pertunjukan teater berskala kecil, sumber dana dapat berupa sumber dana pribadi. Sumber dana pribadi tidak hanya berasal dari kantong setiap panitia pertunjukan, tetapi juga dari usaha yang dilakukan oleh panitia. Contohnya, panitia dapat menggalang dana dengan membuat bazaar, membuat pentas musik, atau terlibat dalam kegiatan Iain yang memberikan imbalan berupa uang.

f. Tata panggung, tata cahaya, dan tata musik

Tata panggung, tata cahaya, dan tata musik merupakan tiga hal yang sangat esensial dalam pertunjukan dan saling berkaitan satu sama Iain. Meskipun bekerja dengan cara berbeda, ketiganya memiliki tujuan yang sama, yakni samasama memperkuat kesan latar yang diperoleh dari suatu pertunjukan. Tata panggung yang terdiri atas dekorasi dan properti akan memperkuat latar tempat dan latar suasana di atas panggung. Tata cahaya akan memperkuat latar waktu dan latar suasana. Sementara itu, tata musik berperan besar dalam menguatkan latar suasana dan interaksi pemain di atas panggung.

 

Sumber: id.wikipedia.org

Gambar 10.1 1 Tata panggung, tata cahaya, tata kostum, dan tata rias dalam pertunjukan wayang orang.

Tata panggung, tata cahaya, dan tata musik disesuaikan dengan cerita yang dibawakan dan lokasi pementasan. Contohnya, jika pertunjukan teater yang dibawakan mengusung kisah Mahabharata, tata panggung dapat dibuat menyerupai latar kerajaan atau medan perang, tata cahaya dibuat dramatis dengan penggunaan lampu gelap dan terang, dan tata musik dibuat dengan nuansa etnik, salah satunya dengan menggunakan alat musik etnik seperti gamelan. Sementara itu, untuk pertunjukan teater kontemporer, tata panggung cenderung sederhana, serta lebih menitikberatkan pada tata cahaya dan tata musik.

g. Pemilihan kostum dan tata rias

Tokoh yang terdapat dalam suatu pertunjukan tidak akan hidup tanpa pemilihan kostum dan tata rias yang sesuai. Dengan tata kostum dan tata rias yang sesuai, pemain dapat menampilkan karakteristik tokoh secara meyakinkan, meskipun dalam kondisi biasa pemain tersebut memiliki ciri fisik dan sifat yang bertolak belakang dengan tokoh yang ia perankan. Tata kostum dan tata rias yang sesuai juga akan menarik perhatian penonton untuk terus menikmati pertunjukan.

Kostum dan tata rias pada pertunjukan teater, baik teater tradisional maupun kontemporer, memiliki ciri khas tersendiri. Kostum pemain pada pertunjukan teater tradisional cenderung memasukkan unsur-unsur budaya dari setiap daerah asal teater yang bersangkutan. Contohnya adalah kostum pemain lenong yang menggunakan baju jawara khas Betawi atau kostum pemain ketoprak yang menggunakan kain batik atau blangkon khas Jawa. Tata rias yang digunakan juga disesuaikan juga disesuaikan dengan jenis cerita yang ditunjukkan. Contohnya, pada pertunjukan lenong dan ludruk yang kisahnya diambil dari kehidupan sehari-hari, tata rias yang digunakan adalah tata rias yang natural dan tidak berlebihan. Sementara itu, pada pertunjukan wayang orang, tata rias dibuat   sangat mendetail dan mewakili karakter yang diperankan. Contohnya, tata rias untuk karakter antagonis adalah cat merah untuk mewarnai wajah, rias mata untuk menampilkan kesan garang, serta penggunaan kumis dan cambang untuk menampilkan kesan menakutkan. Kostum yang digunakan juga lebih kompleks, yakni menampilkan banyak ornamen dan aksesori, seperti gelang, kalung, hiasan lengan, hiasan telinga, hingga keris dan anak panah.

Untuk pertunjukan teater kontemporer, tata rias dan tata kostum umumnya tidak serumit tata rias dan tata kostum pada pertunjukan teater tradisional. Kostum dan tata rias pada pertunjukan teater kontemporer Iebih sederhana dan bersifat simbolis. Simbolisme dalam tata kostum dapat berupa penggunaan busana yang mewakili profesi, busana yang mewakili karakter yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari, atau busana berupa lilitan kain. Tata rias dibuat natural atau menyerupai peran yang dibawakan. Contohnya, karakter tokoh nenek tua dapat dibawakan dengan kostum kebaya dan kain batik, tongkat, kacamata, dan rambut palsu berwarna kelabu. Tata rias untuk karakter ini berfokus pada rias mata serta area sekitar dahi dan bibir.




Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Sunday, December 13, 2020

Jenis-jenis Seni Budaya Nusantara

 Dalam kehidupan sehari-hari, sangat mungkin kita bersinggungan dengan seni. Contohnya adalah seni arsitektur yang terwujud melalui bentuk dan desain bangunan yang unik, seni terapan yang terwujud dalam bentuk perabot berbahan gerabah, atau kegiatan menonton pertunjukan teater yang menggabungkan sastra dengan lagu dan tari. Segala bentuk seni tersebut membawa banyak pengaruh bagi kehidupan manusia, termasuk kepuasan dan perasaan menyenangkan setelah menghayatinya. 

Setiap bidang seni memiliki peran tersendiri dan saling mendukung. Contohnya, untuk sebuah pertunjukan, baik pertunjukan tari, musik, maupun teater, dibutuhkan seni lain untuk mendukungnya. Seni pendukung tersebut dapat berupa seni penataan, di antaranya tata rias, tata kostum, tata lampu, tata panggung, serta tata suara dan efek. 

Secara umum, seni dapat juga dimaknai sebagai keindahan pengindraan hasil karya manusia, yang tertuang melalui berbagai macam media. Kesenian bisa dipelajari di mana saja, baik di sekolah maupun autodidak. Untuk memudahkan dalam mempelajari bentuk-bentuk seni, umumnya orang menggolongkan seni ke dalam empat jenis, yakni sebagai berikut. 

1. Seni Rupa 

Seni rupa merupakan hasil karya manusia yang dapat dinikmati pancaindra manusia, khususnya indra penglihatan dan indra perabaan. Seni rupa dapat berbentuk dua dimensi ataupun tiga dimensi. Dalam karya seni rupa, terdapat unsur titik, garis, bidangt ruu-ug. wama, gelap/terang, dan tekstur. Contoh hasil karya seni rup add*1 lukisan/gambar, patung, ukiran, dan pahatan. 

Berdasarkan fungsinya, seni rupa dibagi menjadi dua jenis yaitu, seni rupa murni dan seni rupa terapan. Seni rupa murni adalah karya seni yang dibuat dengan mengutamakan sisi keindahan atau sisi estetikanya saja. Sementara itu, seni'_ypa tera n adalah karya seni rupa yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki kegunaan praktis, atau dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh hasil karya seni rupa terapan adalah perabot yang terbuat dari kayu, logam, rotan, bambu, tekstil, keramik. 

Di Indonesia, seni rupa berkembang cukup pesat. Dalam bidang seni lukis, terdapat banyak nama pelukis besar dengan karya yang cukup terkenal, seperti lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh atau Potret Diri karya Affandi. Bentuk seni rupa lainnya, seperti patung, instalasi, serta ukiran dan pahatan, juga dapat ditemukan dengan mudah di berbagai sudut kota. Contoh kekayaan seni rupa berbentuk patung dapat ditemukan dalam bentuk tugu di berbagai sudut Jakarta, seperti Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, dan Tugu Tani. 

Sumber: www.pixabay.com

Gambar 4.2 Cangkir dan teko keramik merupakan salah satu jenis seni terapan.

2. Seni Musik 

Seni musik adalah cabang seni yang menggunakan medium suara atau nada untuk mengungkapkan ekspresi jiwa manusia. Jadi, seni musik merupakan karya seni yang ditangkap Oleh indra pendengaran (telinga). Adapun musik adalah bunyi yang mengandung unsur-unsur tertentu, yang diterima oleh semua orang, baik individu, kelompok, maupun golongan masyarakat yang berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya, dan selera masing-masing. 

Bunyi adalah elemen utama musik yang didasarkan atas getaran yang teratur dalam jangka waktu tertentu. Getaran ini juga sering disebut frekuensi yang memiliki satuan hertz (Hz). Selain frekuensi, terdapat pula pulsa/pulse dan irama atau ritme. Pulsa berarti keteraturan ketukan dalam durasi waktu tertentu, sedangkan ritme atau irama dalam musik adalah penanda atau pembentuk keanekaragaman. Untuk menjadi sebuah musik, bunyi membutuhkan beberapa syarat, yaitu sebagai berikut. 

a. Nada 

Nada adalah elemen musik yang memiliki kadar tinggi rendah tertentu. Nada yang sudah disusun berderet, tetapi belum mengandung arti musikal disebut tangga nada. 

b. Melodi 

Melodi merupakan hasil interaksi antara nada dan ritme. Tanpa melodi, suatu lagu tidak dapat diidentifikasi karena melodi adalah unsur yang paling menentukan bahwa lagu yang satu berbeda dengan lagu yang lain. Di dalam melodi, terdapat dua bagian, yaitu sebagai berikut. 

c. Motif 

Motif adalah satuan terkecil pembentuk melodi, biasanya terdiri atas beberapa ketukan saja. 

d. Frase 

Frase adalah perluasan dari motif. Jika motif terdiri atas beberapa ketukan, frase terdiri atas beberapa birama. Adanya motif dan frase membentuk melodi. 

e. Harmoni 

Harmoni adalah hubungan nada-nada yang disusun secara vertikal, yakni dari atas ke bawah, sehingga jika dibunyikan bersamaan akan berpadu secara selaras atau harmonis. Harmoni berbeda dengan melodi yang disusun secara horizontal. 

f. Notasi musik 

Notasi adalah catatan yang dibuat untuk memudahkan pemain musik, komposer, penyanyi, dan profesi yang berhubungan dengan musik lainnya dalam membawakan lagu atau karya musik. Notasi musik juga berfungsi sebagai bentuk dokumentasi atas suatu karya musik. Notasi musik terdiri atas dua macam, yakni notasi angka dan notasi balok.

Keduanya mempunyai ciri dalam penulisannya. Notasi angka berbentuk angka yang menggunakan garis, titik, dan nol sebagai penanda panjang-pendeknya nada dan menjadi tanda istirahat. Sementara itu, notasi balok ditulis di paranada yang terdiri atas lima garis horizontal. Notasi balok berbentuk seperti grafik, yakni semakin tinggi tempatnya, semakin tinggi nadanya. Dalam paranada, terdapat simbol atau lambang untuk menentukan kunci, yaitu kunci G, F, dan C.

Sumber: www.pxhere.com Gambar 4.3 Kunci G dan F merupakan bagian dari notasi musik.

Dalam penyajiannya, tidak selalu semua unsur pembentuk musik muncul. Unsur yang muncul bisa jadi kurang satu atau dua, atau yang ekstrem adalah ketika muncul justru hanya satu atau dua unsur saja. Bunyi yang dihasilkan pun tidak selalu berupa suara manusia ataupun bunyi alat musik, melainkan bunyi benda-benda yang tidak lazim, seperti kaleng atau gelas. Meskipun demikian, bunyi dari benda-benda tersebut tetap dapat menjadi sajian musik yang menarik. Sajian musik seperti demikian sering kali disebut musik kreatif atau musik alternatif. Beberapa daerah justru sering mengadakan festival musik kreatif semacam itu. Dalam festival tersebut, para pemusik dapat membuat alat musik dengan alat-alat yang sudah tidak terpakai. Vokalnya pun tidak selalu berupa untaian kata, tetapi hanya berupa siulan, teriakan, atau permainan vokal tanpa makna. 

Di Indonesia, seni musik terwujud dalam bentuk lagu daerah dan alat musik tradisional Indonesia. Pada awalnya, seni musik di Indonesia kental dengan nuansa kedaerahan, misalnya musik karawitan yang identik dengan budaya Jawa. Pada era Penjajahan dan pascakemerdekaan, mulai berkembang jenis musik yang terpengaruh budaya luar, seperti musik gambus Yang terpengaruh budaya Arab dan musik keroncong yang terpengaruh budaya Portugis. Pada masa-masa selanjutnya, berkembang jenis musik lainnya, seperti pop, rock, dan dangdut. Pada masa kini, jenis musik di Indonesia semakin kaya dan terus berkembang. 
3. Seni Tari 
   Seni tari adalah salah satu cabang seni yang menjadikan tubuh manusia sebagai medianya. Unsur utamanya adalah gerak, sedangkan unsur pendukungnya adalah ritme/irama. Selain mengolah gerakan tubuh, seni tari juga mengolah irama dan rasa. Tarian merupakan bentuk penghormatan terhadap seni gerak. Gerak sendiri adalah bahasa tertua yang telah ada jauh sebelum manusia mengenal bahasa lisan dan aksara. Dengan adanya gerak, manusia dapat mengenali kehidupan, mengungkapkan keinginan, dan lain sebagainya. Setelah manusia mengenal peradaban, unsur-unsur pendukung tari lainnya muncul, seperti tata rias, tata busana, dan tata iringan. 

Gambar 4.4 Seni tari terlihat indah karena didukung oleh beberapa unsur, salah satunya tata rias.

Terdapat beberapa definisi tentang tari, baik dari seniman tari dalam negeri maupun dari mancanegara. Semua definisi tvi tersebut tidak ada yang meninggalkan kata gerak karena gerak mernang merupakan unsur utama tari. Melalui hal tersebut, dapt disimpuikan bahwa tari merupakan susunan gerak anggota martusia yang ekspresif, indah, berirama, selaras dengan iringan rnusik. prta dilengkapi dengan tata rias dan busana yang harmonis. 
Gerak dalam tari adalah gerakan yang indah. Keindahan dalam tari tidak selalu dimaknai gerak iemah gemulai, melainkan dapat pula berupa gerak yang kuat sepenuh tenaga, lemah tanpa tenaga, kaku, lentur, dan lain sebagainya. Semua variasi gerakan tari menuruti tuntutan penata tarinya.
Secara garis besar, gerakan dalam tari dibagi menjadi dua, yakni sebagai berikut. 
a. Gerak murni, yakni gerak yang tidak mempunyai arti tertentu dan hanya mementingkan segi keindahan atau segi artistik. 
b. Gerak maknawi, yakni adalah gerak yang mempunyai arti atau makna, tetapi sudah mengalami distorsi (perubahan atau perombakan) dan stilisasi (penghalusan). Gerak maknawi juga dikenal dengan istilah gestur. 
Dałam sebuah tarian, kedua gerak tersebut sudah seharusnya ada karena tanpa salah satu dari keduanya, nilai tari akan terasa kurang maknanya. Tari yang beriSț gerak maknawi saja hampir sama dengan pantomim. Sementara iłu, tari yang berisi gerak murni saja membuat pesan yang hendak disampaikan penata tari sulit terungkap. 
Selain gerak murni dan gerak maknawi, ada pula terdapat pula gerak representasional (representatif) dan gerak nonrepresentasional (abstrak). Gerak representasional adalah gerak yang mudah dimengerti oleh penonton karena menggambarkan sesuatu dengan jelas. Sementara itu, gerak nonrepresentasional adalah gerak yang tidak jelas menggambarkan sesuatu (abstrak). Kalau dicermati, gerak representatif dan nonrepresentatif adalah cara penyampaian 'pesan' tarian. 
Kalau pesannya mudah dimengerti oleh penikmatnya disebut representasional, biasanya banyak menggunakan gerak murni, dan simbol- simbol yang hanya dimengerti oleh pembuatnya/ koreografernya. 
Sebuah gerakan tari tercipta karena didukung oleh tenaga, ruang, dan waktu. Gerak membutuhkan tenaga. Penari yang baik dapat mengatur tenaganya sehingga tidak akan kehabisan tenaga usai menari. Tenaga penari digunakan mulai dari saat memulai sampai mengakhiri sebuah tarian. Penari juga harus dapat mengendalikan tenaganya. Saat bergerak cepat, lalu tiba-tiba berhenti, penari harus menyiasati agar jangan sampai terhuyung atau terjatuh. Penari yang baik adalah penari yang mampu melakukan gerakan sesuai keinginan penata tarinya, didukung dengan ekspresi dan mimik muka yang sesuai. 
Dalam penyajian seni tari, bukan hanya unsur utama gerak dan ritme yang muncul, melainkan juga unsur pendukung tari Iainnya, yaitu sebagai berikut. 
a. Tata rias dan busana 
Tata rias di dalam seni tari adalah upaya untuk mengubah hal natural menjadi estetis atau untuk menyamarkan kekurangan. Contohnya, tata rias digunakan untuk menyamarkan bentuk hidung, bentuk bibir, dagu, pipi, dan lain sebagainya, sesuai tuntutan tarian yang dibawakan. Selain itu, tata rías juga digunakan untuk memperkuat karakter yang dibawakan, seperti tata rias yang membentuk penokohan antagonis atau membawakan karakter fiktif, seperti raksasa dan nenek sihir. Selain tata rias, tata rambut juga memegang peranan penting. Selain meningkatkan segi estetis, tata rambut juga dapat menunjukkan suatu periode 1 sejarah, misalnya tata rambut zaman Majapahit berbeda dengan tata rambut zaman Mataram kuno. 
b. Tata busana 
Selain tata rias dan tata rambut, hal lain yang mendukung pementasan tari adalah tata busana atau tata kostum. Untuk tari modern, umumnya kostum yang digunakan adalah kostum yang terbuat dari bahan yang ringan dan tidak mengganggu gerak para penari. Untuk tari tradisional, tata rias ataupun tata busananya sudah memiliki ketentuan tersendiri secara turun-temurun, harus diikuti, dan tidak dapat diubah secara sembarangan. Jika ada elemen yang diubah, esensi tari tradisional tersebut akan terganggu atau bahkan hilang. 
c. Tata lampu 
Tari tradisional kebanyakan menggunakan lampu general yang berfungsi untuk menerangi tempat pentas dengan sinar merata. Permainan lampu yang berlebihan, seperti penggunaan lampu kedip, justru mengganggu, baik bagi penonton maupun penari. 
 Indonesia menyimpan banyak sekali kekayaan seni tari. Tari tradisional yang terwujud dalam bentuk tarian adat tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Contoh tarian adat di Indonesia yang cukup terkenal adalah tari pendet dari Bali, tari jaipong dari Jawa Barat, dan tari gambyong dari Jawa Tengah. Seiring perkembangan waktu, tarian adat di Indonesia terus bertahan dan berevolusi. Bahkan, kini tak jarang tarian adat Indonesia dikreasikan dalam bentuk baru agar generasi muda tertarik untuk terus melestarikannya. 

4. Seni Teater 
Seni teater adalah cabang seni yang di dalamnya terdapat cabang-cabang seni Iainnya, seperti seni peran, seni gerak, seni rupa, dan seni suara/bunyi yang saling berkolaborasi. Awalnya, kata teater berasal dari bahasa Yunani, yakni theatron, yang memiliki makna gedung pertunjukan. Namun, pada perkembangannya, kata teater bermakna Iebih luas, yakni segala sesuatu yang dipertunjukkan di depan banyak orang. Jadi, teater secara sederhana dapat dimaknai sebagai pertunjukan. Contohcontoh teater tradisional dari berbagai daerah adalah ketoprak, wayang orang, ludruk, mamanda, cak, dagelan, dan dulmuluk. 
Teater juga dapat dimaknai sebagai realitas fiktif di atas Panggung yang dibawakan oleh aktor (baik aktor riil maupun boneka) dan dihadiri penonton secara langsung. 
Selain digunakan untuk menyebut bentuk pertunjukan, istilah teater juga digunakan untuk menyebut tempat pemutaran fil m ataupun kelompok yang berkegiatan atau berolah seni peran. Beberapa kelompok yang mengusung nama teater di Indonesia, di antaranya Teater Koma, Teater Populer, Teater Alam, Teater Gandrik, Teater Garasi, dan Teater Mandiri. Teater juga dipakai untuk menyebut kegiatan yang mendalami olah vokal' Olah tubuh, dan olah peran. Hal ini semakin menunjukkan luasnya makna teater saat ini. 
Seperti halnya seni tari, keberadaan seni teater juga ditentukan oleh keberadaan unsur-unsur pembentuknya, yakni sebagai berikut.:
a. Naskah/lakon 
Naskah adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Di dalam naskah, termuat nama-nama tokoh, dialog, serta keterangan terkait keadaan panggung yang diperlukan (setting). Tidak jarang di dalamnya terdapat keterangan yang lebih lengkap, seperti keterangan terkait blocking, tata busana, tata lampu, tata panggung, dan tata suara (musik pengiring/ilustrasi). 
b. Sutradara 
Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan. Sutradara bertugas memilih naskah, membuat tafsir naskah, memilih dan melatih, serta mengoordinasikan setiap bagian. 
c. Pemain/pemeran 
Pemain adalah orang yang memperagakan cerita dan menghidupkan naskah di atas panggung. Pemain dalam pementasan teater juga dikenal dengan istilah aktor atau aktris. 
d. Penonton 
Dalam pertunjukan teater, penonton adalah unsur yang paling penting. Sebagus apa pun persiapan pementasan, apabila tidak ada penonton, pementasan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Alasannya adalah unsur teater sejatinya akan ditunjukkan kepada penonton. 
Selain beberapa unsur utama di atas, seni teater pun memiliki beberapa unsur pendukung yang dapat lebih mem ercantik pertunjukan, yaitu sebagai berikut:
a. Tata panggung/scenery 
Tata panggung adalah wujud dari gambaran kejadian saat lakon dipentaskan. Tata panggung bukan hanya dekorasi, tetapi juga tata letak perabot yang akan digunakan pemeran saat pementasan berlangsung. Penataan disesuaikan dengan tuntutan cerita dan tuntutan artistik sutradara. Oleh sebab itu, sebelum merancang tata letak, penata panggung akan mempelajari tempat pementasan dan lakon yang dipentaskan, serta melakukan diskusi dengan sutradara. 
Panggung di Indonesia secara umum ada dua jenis, yakni panggung arena dan panggung proscenium. Panggung arena membuat penonton dapat melihat setidaknya dari tiga arah. Sementara itu, panggung proscenium, yang dalam dunia teater juga dikenal dengan nama panggung bingkai, adalah panggung yang hanya dapat dilihat dari satu arah, yakni arah depan. Tata panggung harus mampu memberikan gambaran perbedaan ruang dan waktu, misalnya zaman penjajahan Belanda yang berbeda dengan zaman penjajahan Jepang. Suasana alam terbuka berbeda dengan suasana di dalam rumah. 
b. Tata rias dan busana 
Tata rias dalam seni teater hampir sama fungsinya dengan tata rias dalam seni tari. Tata rias dalam seni teater berfungsi mempertegas karakter dan menambah aspek dramatik. Tata busana di dalam seni teater dan seni tari, khususnya drama tari, sama-sama bertujuan memperjelas karakter, memudahkan penonton dalam membedakan tokoh, serta menampilkan simbol-simbol watak, misalnya warna merah yang digunakan untuk menandai tokoh antagonis. Tata busana juga menjadi penanda periode sejarah. Contohnya, pakaian pada masa penjajahan berbeda dengan Pakaian pascakemerdekaan. Bahkan, busana tahun 80-an berbeda dengan tahun 90-an, 2000-an, ataupun masa kini. Busana juga menunjukkan identitas bangsa, terlebih jika busana tersebut adalah busana tradisional.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.