Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Thursday, May 4, 2023

Model Pembelajaran Seni Terpadu

a. Definisi Seni Terpadu

Seni terpadu menekankan pada hubungan antara dua atau lebih bidang keilmuan yang berbeda melalui pendekatan tematik.


b. Tujuan Implementasi Seni Terpadu

• Membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuannya dengan dunia luar.

• Membantu siswa dalam mentransfer pembelajarannya tentang seni ke banyak mata pelajaran lainnya.

• Membantu dalam mempercepat dan memfasilitasi proses pembelajaran.


c. Konsep dan Model Pembelajaran Seni Terpadu

• Model Pembelajaran Terpadu dalam Rumpun Pendidikan Seni Terkait (conected)

Model pembelajaran terkait merupakan model pembelajaran terpadu yang paling sederhana, karena hanya menekankan hubungan matra substansial yang ada dalam suatu bidang studi. Model pembelajaran seni rupa terkait adalah upaya untuk memadukan berbagai materi 

 


Konsep model pembelajaran seni rupa terkait Sumber: (Kamaril: 1999: 6.36)

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)


• Model Pembelajaran Terpadu dalam Rumpun Pendidikan Seni Terjala (webbed)

Seni rupa, seni musik dan seni tari dan seni teater merupakan satu rumpun pendidikan seni. Pelaksanaan pembelajaran model terjala dapat dilaksanakan secara terpadu, dengan memadukan seluruh atau sebagian dari bidang studi yang ada dalam satu rumpun.



Model Pembelajaran Terjala Intra/Antar Bidang Seni 

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)


 


Keterjalan Intra/Antar Bidang Seni (Alternatif I)

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)



Keterjalan Intra/Antar Bidang Seni (Alternatif 2)

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011) 


• Model Pembelajaran Terpadu dalam Rumpun Pendidikan Seni Penuh (integreted)

Model pembelajaran terpadu dapat terjadi inter bidang seni dengan bidang studi lain yang ada di sekolah. Seperti keterpaduan yang terjadi antara bidang studi seni dengan bidang studi IPA. Matematika, IPS, Bahasa, Agama dan yang lainnya.



Keterjalaan Inter Bidang Studi Alternatif 1

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011)



Keterjalaan Inter Bidang Studi Alternatif 2

Sumber: slideshare.net/Saeful_4H13 (2011) 


a. Contoh Karya Seni Terpadu

Gambar 9.1. Contoh Karya Seni Terpadu dalam rumpun pendidikan seni (terjala) yang memadukan seni rupa, seni tari dan seni teater dalam jenis karya Performance Art, karya seniman Melati Suryadarmo berjudul “I AM A GHOST IN MY OWN HOUSE”.

Sumber: Indoartnow/Melati Suryadarmo (2012)


Gambar 9.2. Contoh Karya Seni Terpadu dalam rumpun pendidikan seni (terjala) yang memadukan seni rupa, seni musik dan seni teater dalam jenis karya Installation Art, karya seniman Jompet Kuswidananto berjudul “GRAND PARADE”.

Sumber: Indoartnow/Jompet Kuswidananto (2014)

 

Gambar 9.3. Contoh model pembelajaran terpadu penuh yang memadukan seni rupa dengan matematika berdasarkan soal alogaritma.

Sumber: Erudio School of Art/Serrum (2012)

Gambar 9.4. Contoh model pembelajaran terpadu penuh yang memadukan seni rupa dengan matematika berdasarkan rumus persamaan Linear.

Sumber: Erudio School of Art/Serrum (2012) Menganalisis karya seni rupa dengan model pembelajaran terpadu.


Sebuah proses atau produk karya seni biasanya berkaitan dengan disiplin ilmu lainnya. Dalam proses pembuatan karya seni batik misalnya, proses pewarnaan kain batik berkaitan dengan ilmu kimia. Sebagai contoh, untuk menghasilkan warna biru dengan menggunakan Napthol maka dapat diperoleh dari pencampuran Napthol AS dangan garam Biru BB. Selain itu juga dapat berkaitan dengan ilmu sosial, geografi dan sejarah karena kita perlu mempelajari dimana batik ini dibuat saat dalam proses meriset dan mendesain batik.

Silahkan cari contoh kasus lainnya mengenai keterhubungan antara bidang seni rupa dengan ilmu lainnya!

Sumber: buku guru Kurilulum Operasional Sekolah SMK PK KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAN PERBUKUAN PUSAT KURIKULUM DAN PERBUKUAN

Tuesday, October 26, 2021

Mengenali Konsep-Konsep Komik

Sebagai sebuah media, komik memiliki banyak fungsi dan digunakan dalam berbagai bidang kehidupan antara lain bidang hiburan, pendidikan, bisnis, perdagangan, sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, keamanan, dan masih banyak lagi. Di dunia modern, profesi ahli membuat komik (disebut komikus) sangat menjanjikan.

Membuat komik itu mudah. Jika Kamu banyak berlatih, lama-lama pasti bisa menjadi komikus yang profesional. Komikus profesional merupakan salah satu profesi yang banyak dibutuhkan oleh dunia hiburan, bisnis, media, pendidikan, produksi film, dan sebagainya. Komik sebagai sebuah produksi yang dibisniskan dibuat oleh sesuatu perusahaan yang dibuat oleh tim yang terdiri atas beberapa keahlian. Mereka itu antara lain komikus atau ilustrator, pembuat sketsa pensil, penulis teks, juru tinta, dan pewarna. Masing-masing profesi dengan keahliannya mengerjakan bidangnya secara profesional.


Gambar 1 Komik Petualangan, Komik Pendidikan, dan Komik Bisnis

Sebelum kita menghasilkan sebuah komik, mari kita bermain lebih dahulu. Permainan pertama membuat 'kalimat semangat' berdasarkan kata yang telah disediakan. Tujuannya untuk membangkitkan semangat kita dalam belajar. Misalnya disediakan kata 'hebat' maka Kamu bisa menulis:

• Saya bisa menjadi orang hebat!

• Siswa yang hebat menemukan siswa yang pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan!

• Belajar dengan hebat agar kelak jadi orang hebat! Dan seterusnya.

Kalimat semangat adalah kalimat-kalimat yang dapat menyemangati kita (bahkan orang lain) untuk melakukan perilaku-perilaku positif. Perilaku-perilaku positif itu akan membentuk karakter kita menjadi positif. Dalam melakukan sesuatu kegiatan, misalnya belajar, alangkah baik jika dimulai dengan semangat dan berpikir positif.

Belajar tentang komik banyak manfaat bagi Kamu antara lain

• Dapat menajamkan kemampuan kreatif;

• Dapat mengasah kemampuan berpikir kritis;

• Dapat mengembangkan kemampuan imajinatif;

• Dapat memupuk keindahan atau keindahan;

• Dapat melatih keterampilan berekspresi atau menggambar. 


Komik merupakan suatu media untuk menyampaikan pesan. Apa isi pesannya? Macam-macam, isi pesannya bisa berupa sebuah cerita. Misalnya komik tentang kisah Kejayaan Kerajaan Majapahit. Bisa juga berupa pesan-pesan pendidikan, misalnya komik Doraemon: Belajar Operasi Perkalian. Bisa juga berupa promosi. Misalny komik yang mempromosikan penggunaan produk-produk buatan dalam negeri. Untuk kampanye, misalnya komik tentang kampanye pemerintah tentang pentingnya penggunaan masker di masa pandemi. Dan masih banyak isi pesan lainnya. Isi utama pesan biasanya dapat dibaca dari judul komik.

Perhatikan komik pada Gambar 4. 


Gambar 4 Cover Komik dengan Isi Pesan Berbeda


Isi pesan komik disampaikan dalam bentuk cerita. Dalam cerita tersebut terdapat tokoh-tokoh cerita dengan kepribadian yang khas untuk membawakan peran tertentu. Tokoh-tokoh tersebut disebut karakter. Karakter adalah tokoh, orang, atau makhluk lain dengan peran tertentu dalam komik. Nobita merupakan karakter dalam komik seri Doraemon. Superman merupakan karakter pada komik seri Superman. Gatutkaca merupakan salah satu karakter pada komik wayang Bharata Yudha.

Karakter atau tokoh-tokoh utama harus ditampilkan secara khas. Kekhasannya yang menggambarkan kepribadiannya. Kekhasan itu yang membedakannya dengan karakter lainnya. karya Doraemon, ia seekor kucing. Tapi kucing dengan penampilan yang khas, beda dengan kucing lainnya. Kekhasan itu tampak dari wajahnya, bentuk tubuhnya, pakaian yang dikenakannya, kalung khas di lehernya, kantong ajaibnya yang semuanya dimiliki oleh Doraemon. Selain itu, Doraemon memiliki tabiat yang khas, atau kemampuan yang khas. Misalnya dapat mengeluarkan apa saja dari saku ajaibnya. Atau terbang dengan baling-baling bambunya.


Gambar 5 Karakter Doraemon dengan Berbagai Aksi


Cerita tersebut bisa panjang, bisa juga pendek. Komik yang panjang bisa berwujud sebuah buku komik yang terdiri atas puluhan halaman. Bahkan ada komik yang sangat panjang, terdiri atas kumpulan buku-buku komik yang berseri. Contoh, komik pewayangan Maha Bharata. Komik ini terdiri atas banyak seri. Masing-masing seri berwujud buku komik yang cukup tebal. Komik remaja, Detektif Conan, juga terdiri atas banyak seri.


Gambar 6 Komik Strip Timun dari Koran Kompas yang Terbit Mingguan

Ada juga komik yang sangat pendek. Ia hanya terdiri atas beberapa panel buah, biasanya dua sampai empat atau enam panel. Komik yang demikian disebut komik strip. Komik strip banyak ditemukan di koran maupun majalah. Gambar yang digunakan biasanya bergaya atau bukan gambar yang realistik. Menurut Kamu, komik strip pada Gambar 6 gambarnya bergaya apa?

Amatilah komik strip pada Gambar 7 secara seksama. Menurut Kamu, mengapa komik strip tersebut berjudul kisah sedih?



Gambar 7 Komik Strip Berjudul 'Kisah Sedih

Panel-panel pada komik berisi paduan antara gambar dan teks. Jenis gambar- gambar tersebut terdiri atas karakter, latar, dan properti. Karakter gambar berupa orang atau makhluk lain yang berperan dalam cerita komik tersebut. Latar terdiri atas gambar yang melatari suatu kejadian atau peristiwa, misalnya pemandangan kota, suasana pasar, suasana di kelas, dan sebagainya. Properti adalah gambar-gambar tentang alat atau benda yang digunakan sebagai pelengkap keberadaan karakter dan latar belakang misalnya sepeda yang dikendarai, meja kursi yang digunakan di ruang belajar, atau model topi yang digunakan karakter.

Amatilah Gambar 7 secara seksama. Komik tersebut terdiri atas berapa panel?

Menurut Kamu, apa latar pada gambar tersebut. Mengapa Kamu berpendapat demikian?

Menurut Kamu apa saja properti yang digunakan pada Gambar 7 tersebut?

Adakah balon kata pada gambar tersebut?

Kamu telah mengetahui bahwa panel-panel berisi gambar dan teks. Percakapan- percakapan dalam panel ditandai oleh balon kata. Balon kata adalah gelembung yang berisi kata-kata atau pikiran karakter pada komik. Keterangan (caption) berisi teks yang berfungsi untuk memberikan penjelasan secukupnya. Kamu dapat melihat balon kata pada Gambar 8 sebagai berikut.


Gambar 8 Beberapa Konsep Pokok Komik


 Sumber:

DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII Semester Genap. 2020.

Tuesday, July 21, 2020

Fungsi Seni

Menurut The Liang Gie dilihat dari mediumnya , suatu karya seni mempunyai nilai indrawi yang menyebabkan seorang pengamat menimati atau memperoleh kepuasan dari ciri-ciri indra yang disajikan oleh suatu karya seni. Berdasarkan ketentuan tersebut fungsi Seni dikatagorikan menjadi tujuh yaitu:

1. Fungsi Religi atau Keagamaan
Contohnya seni dalam bentuk kaligrafi, desain busana muslim/Muslimah, serta lagu-lagu rohani. Seni dalam upacara adat contohnya seni gamelan (gamelan luwang, angklung, dan gambang) dalam upacara ngaben di Bali.

2. Fungsi Pendidikan
Contohnya music ansambel yang di dalamnya terdapat unsur kerjasama. Penggunaan alat music angkulng dan gamelan pun membutuhkan unsur kerjasama, social dan disiplin.  Fungsi seni dalam bentuk ilustrasi gambar juga dapat ditemukan pada buku pelajaran, film/documenter, poster, lagu anak-anak dan alat peraga.

3. Fungsi Komunikasi
Seni dapat digunakan sebagai media komunikasi pada penyampaian kritik social, gagasan dan kebijakan serta promosi yang bertujuan memperkenalakn produk pada masyarakat. Contohnya terwujud dalam bentuk poster, reklame, atau iklan di media cetak atau elektronik.

4. Fungsi Rekreasi atau hiburan
Seni banyak diaplikasikan pada aspek hiburan untuk menghilangkan kejenuhan, dapat ditemukan dalam berbagai bentuk seni baik visual, audio, maupun audiovisual.

5. Fungsi Artistik
Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak digunakan untuk kebutuhan komersial seperti music kontemporer, tari kontemporer, dan seni rupa kontemporer. Seni pertunjukan seperti ini tidak bisa dinikmati oleh pengunjung saja tapi hanya hanya bisa dinikmati oleh para seniman dan komunitas tertentu.

6. Fungsi Guna (Seni Terapan)
Karya seni terapan merupakan karya seni yang penciptaannya berfokus pada kegunaannya. Meskipun berfokus pada nilai guna tetapi tidak melupakan sisi artistic dan estetika yang lazim ditemukan dalam sebuah karya seni. Contohnya adalah perkakas rumah   tangga yang bernilai guna tinggi tapi juga menarik dari segi tampilan.

7. Fungsi Kesehatan (Terapi)
Dalam pengobatan bagi penderita penyakit degenerative misalnya dementia dan Alzheimer, autism dan gangguang psikologis music sering kali digunakan dalam sesi terapi. Siegal (1999) dalam temuannya, gelombang alfa yang dihasilkan music klasik dapat memberi efek menenangkan dan merangsang system limbic jaringa neuron otak. Sementara itu menurut Gregorian, music gamelan dipercaya dapat mempertajam pikiran.


Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Tuesday, August 23, 2016

Contoh bentuk pendidikan informal yang tumbuh dalam bidang seni

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri (http.wikipedia.com). Pendidikan informal secara tidak langsung dilaksanakan tetapi mempunyai implikasi perubahan perilaku. Pada lingkungan keluaga, pendidikan informal ini bersifat keteladan. Contohnya ketika dalam keluarga seorang ayah merokok maka anaknya akan meniru, menunjukkan bahwa hal itu boleh dialakukan. Sedangkan dalam lingkungan masyarakat dapat berupa tradisi yang sudah ada turun-temurun.
Dalam bidang kesenianpun terdapat adanya pendidikan informal yang berhubungan erat dengan kebudayaan. Misalnya pendidikan informal dalam kesenian gerabah sebagai suatu hasil karya yang diajarakan secara tidak langsung kepada anak. Para perajin gerabah yang hidup dengan mencukupi kesehariannya membuat dan menjual gerabah setiap hari, secara tidak sadar telah memberikan pendidikan tentang bagaimana membuat gerabah pada anaknya. Meskipun tidak mengajari bagaimana mengambil tanah liat, mengolah sampai dengan membakarnya, namun anak melihat proses setiap hari bagaimana cara membuat gerabah. Hal ini berlangsung terus menerus setiap hari membuat anak menjadi hafal betul dan mengetahui detail serta pemilihan alat dan bahan yang tepat dalam membuat gerabah.
Keseharian anak yang mengetahui keseharian pekerjaan orang tuanya akan menimbulkan pertanyaan dalam pikirannya. Pertanyaan ini mengenai mengapa hal ini harus seperti ini dan hal itu harus seperti itu. Jawaban dari orang tuapun menjadi wawasan anak dalam pembelajarannya. Inilah pendidikan informal dalam rumah yang menjadikan anak mengerti benar dan memperoleh pendidikan secara tidak langsung. Pembuatan gerabah dengan baik akan tertanam dalam ingatan sejak kecil, sehingga sampai dewasapun masih tetap mengingatnya.
Perubahan perilaku atas pendidikan informal ini dapat berupa keikutsertaan anak terhadap orang tuanya. Misalnya dengan ikut-ikutan mengambil bahan tanah liat, atau hanya sekedar mengikuti kemana orang tuanya pergi sekedar mengobati rasa penasaran yang timbul. Perilaku selanjutnya ketika agak dewasa anak akan berusaha melakukan apa yang telah dipelajarinya selam itu. Yaitu membuat gerabah sendiri dengan kemampuan dan bekal yang diwarisi dari orang tua. Dampak perilaku dalam bidang seni dapat meningkatkan rasa estetisnya dalam bidang seni gerabah. Penglihatan atas kesenian gerabah sehari-hari membuat rasa keinginan untuk menciptakan gerabah lain yang lebih menarik dan mengungkapkan gagasan yang dimilikinya.
Tidak hanya sebatas pada kreatifitas bentuj yang dibuat, bahan dan cara pengolahan yang tiba-yiba muncul sebagai ide dalam pola pikir anak akan diwujudkan ketika ia bisa melakukannya. Peniruan terhadap apa yang dilakuakan orang tua akan berdampak positif selama hal itu dalam kreatifitas yang positif. Terlebih lagi ketika anak sudah benar-benar dewasa akan melakukan hal yang lebih dari orang tuanya. Misalnya dengan membuat gerabah yang leibh besar, menari, unik ataupun spektakuler.
Pendidikan informal dalam bidang seni ini akan berdampak baik selama dalam pengawasan orang tua. Jika dalam perkembangan kreatifitas anak cukup baik maka tidak perlu adanya larangan dalam tindakan anak. Oleh karen itu, pendidikan informal dalam rumah sangatlah penting sebab dapat memperngaruhi perilaku yang tumbuh pada anak.

Tuesday, August 16, 2016

Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa

Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu. Seni atau kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia atau masyarakat terhadap nilai-nilai keindahan. Bersama-sama dengan unsur kebudayaan lain, seni memiliki fungsi penting dalam kehidupan manusia. Kebudayaan baik sebagai sistem gagasan, sistem perilaku maupun hasilnya merupakan sesuatu yang sangat berguna bagi manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Kebudayaan merupakan hasil ciptaan manusia yang diwariskan kepada generasi berikutnya melalui proses belajar. Demikina juga seni atau kesenian merupakan hasil ciptaan manusia yang diwariskan oleh generasi ke generasi berikutnya melalui proses pembelajaran.
Seni selalu ada diberbagai wilayah kebudayaan atau di berbagai komunitas. Seni dengan unsur afeksinya dianjurkan dapat didekati sebagaimana ilmu pengetahuan yaitu dengan pendekatan intelektual atau dengan menggunakan informasi ilmu sebagai suatu langkah awal dalam penciptaannya (Rosenberg dalam Daniel, 1990). Dari berbagai kesenian yang beraneka ragam, seni dapat diklasifikasikan berdasarkan media yang digunakan. Seni rupa adalah seni yang menggunakan unsur-unsur rupa sebagai media ungkapnya. Pendidikan seni rupa berkaitan dengan bagaimana peserta didik itu belajar dan berkembang dalam berkarya seni, yang dalam dunia pendidikan disebut dengan mata pelajaran seni rupa.
Mata pelajaran pendidikan seni rupa dalam dunia pendidikan Indonesia pernah memiliki berbagai nama, yakni pelajaran menggambar, pendidikan kesenian, pendidikan seni, dan juga pelajaran kerajinan tangan atau prakarya. Mata pelajaran seni rupa umumnya di gabung dengan mata pelajaran seni yang lain seperti musik, tari, dan drama. Pada kurikulum 1975, tingkat pendidikan dasar dan menengah seni rupa merupakan submata pelajaran kesenian. Demikian pula posisi dan juga namanya dalam kurikulum 1984. Namun kurikulum 1994 tingkat pendidikan dasar SD dan SMP pelajaran kesenian berubah nama menjadi Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertangkes). Pada pendidikan menengah dikenal dengan nama pendidikan seni. Tahun 2004 kurikulum berbasis kompetensi masih tetap menggunakan nama yang sama, dan di SMA juga tetap pendidikan seni. Pelajaran seni rupa disebut dengan menggambar atau melukis, sementara kesenian dipersepsikan pelajaran seni musik. Karena itu banyak sekolah melaksanakan mata pelajaran kesenian hanya di isi seni musik.
Pembagian mata pelajaran pendidikan kesenian di sekolah belum memperoleh alokasi waktu yang memadai. Dalam pelaksanaanya saat ini mata pelajaran seni rupa di kenal dengan seni budaya. Pembagian jam pelajaranya pun  relatif sedikit karena umumnya di bagi seni musik, rupa, tari atau teater. Apalagi mata pelajaran seni budaya tidak masuk dalam ujian nasional sehingga mata pelajaran ini terabaikan dan hanya dianggap sebagai mata pelajaran tambahan (ekstrakurikuler). Pengaturan waktu pembelajaran seni yang minim tampaknya merupakan akibat tarik ulur guru dan kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan.
Tinjauan menyeluruh pendidikan seni di Indonesia, salah satunya pendidikan seni rupa mencakup pendidikan yang diperlukan dalam rangka menumbuhkan jiwa seni dalam berkreatifitas. Seni merupakan wujud intelektual, dimana dari seni peserta didik dapat belajar tanggung jawab, kesabaran, keuletan, kerapihan, disiplin, maupun keserasian yang dapat dituangkan melalui karya seni. Dewasa ini kita ketahui, bahwa pendidikan seni, khususnya seni rupa dinilai rendah kualitasnya. Tidak semua pendidik memahami peran, tugas, dan tanggung jawabnya sehingga dalam pelaksanaannya seringkali tidak dianggap penting. Peserta didik hendaknya perlu diberikan pemahaman akan pentingnya seni dalam kehidupan. Untuk itu, perlu pendekatan pembelajaran seni rupa guna tercapainya tujuan pembelajaran. Hal terebut berkaitan dengan kemampuan untuk membayangkan berbagai kegiatan pandidikan itu sebagai komponen-komponen potensial dari sarana pendidikan yang dikaitkan lebih erat dengan kebutuhan serta proses-proses usaha pembangunan negara.
Pendekatan pembelajaran pendidikan seni rupa digunakan sebagai penentu hubungan antara manipulasi pembelajaran dengan kinerja atau hasil pembelajaran. Pandangan pendidikan seni rupa dalam pendekatan pembelajaran ada dua yaitu: (1) Pendidikan seni rupa adalah pendidikan keterampilan, yang berarti setelah rangkaian proses pembelajaran harus memiliki keterampilan di bidang seni rupa, (2) Keterampilan berkarya seni rupa pada katagori yang layak jual itu tidak penting, maksudnya tidak berorientasi pada penjualan tetapi pada pendidikan.

Jenis pendekatan pembelajaran seni rupa
Seni merupakan hasil ekspresi manusia yang menghasilkan sebuah karya yang bersifat subjektif yang memiliki nilai estetik (keindahan). Sedangkan pendidikan adalah upaya nyata perubahan kualitas atau bentuk ke arah sempurna. Yang dimaksud disini adalah upaya sadar orang dewasa kepada anak untuk merubah kwalitas anak.Paham yang berkembang dalam mendekati dunia pendidikan seni rupa ada dua pandangan yaitu: pendidikan dalam seni dan pendidikan melalui seni.

1. Pendidikan dalam Seni (http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/pendidikan-dalam-seni.html)
2. Pendidikan melalui Seni (http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/pendidikan-melalui-seni_16.html)

Prinsip pendekatan pembelajaran seni rupa
 http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/prinsip-pendekatan-pembelajaran-seni.html


Pendidikan Melalui Seni


Seni atau pendidikan seni memiliki peran dan fungsi yang penting bagi pendidikan secara umum. Dengan kata lain dalam perspektif pendidiakan, seni di pandang sebagai alat atau sarana untuk mencapai sasaran pendidikan.
Pendekatan pendidikan melalui seni juga di kemukakan oleh  J.dewey (dalam dorn, 1994) bahwa seni seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan bukannya untuk kepentingan seni itu sendiri. Dengan pendekatan ini pendidikan seni berkewajiban membantu ketercapaian tujuan pendidikan secara umum aynh memberiakan keseimbangan rasional dan emosional, intelektualitas dan sensibilitas. Dengan kata lain pendekatan pendidikan seni tidak ditempatkan dalam upaya pengembangan dan pelestarian seni. Oleh karana itu pendekatan melalui seni tepat digunakan di sekolah sekolah umum (TK, SD, SMP dan SMA )
Pendekatan melului seni ini terasa sangat penting dan jelas peranannya dapat di amati di jenjang pendidikan dasar dan prasekolah. Keterampilan memggambar di jadikan sebagai alat atau sarana berhitung. Dengan demikian siswa dapat belajar dengan seni.
Dengan merujuk bahwa pendekatan pendidikan melalui seni itu pada dasarnya menggunakan seni sebagai media atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka dalam pelaksanaanya lebih menekankan pada segi proses dari pada hasil. Penekanan pada segi proses menjadikan sasaran belajar pendidiakan seni tidak mengharapkan anak didik menjadi pandai menggambar, melukis, atau mematung. Oleh karena itu pendekatan pendidikan melalui seni dalam implementasi pembelajarannya menekankan ada eksplorasi dan eksperimentasi, merangsang keingintahuan dan sekaligus menyenangkan bagi anak.
Dengan penekanan pada segi proses maka guru kelas pun, sebagaimana di TK dan SD dapat melaksanakan pembelajaran seni rupa. Kekurang mampuan guru dpat ditutupi dengan penggunaan berbagai media pembelajaran yang memadai dan optimalisasi pengelolaan kelas sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
Fungsi pembelajaran seni

Pendidikan dalam Seni

Pendekatan seni dalam pendidiakan menganggap bahwa secara hakiki seni sebagai materi atau disiplin ilmu yang perli dan penting di beriakan kepada anak didik. Artinya keahlian dalam berkarya seni rupa perli di tanamkan kepada anak dalam kerangka pengembangan dan pelestarian kesenian yang ada. Pendekatan pendidikan dalam seni ini amat sejalan dengan pandangan pendidikan sebagai proses enkulturasi. Pendekatan ini merupakan upaya pendidik dan juga intitisi pendidikan dalam rangka mewariskan, mengembangkan dan melestariakn berbagai jenis kesenian kepada anak sebagai peserta didik. Di harapkan apda gilirannya nanti anak mengenal merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk mengembangkannya agar kesenian itu tidak punah.
Pendekatan pendidikan dalam seni secara nonformal di sadari atau tidak talah di terapkan dalam lingkunagn keluarga. Contohnya adalah anak seorang perajin yang memperoleh kemampuannya dari orang tuanya. Pendidikan itu lebih di orientasikan pada penguasaan keterampilan. Sedangkan pendekatan pendidikan dalam seni secara formal yaitu pada jenjang pendidikan sekolah. Implementasi pendekatan pendidikan dalam seni ini berkaitan dengan keterampilan teknis yang di sajikan secara bertahap. Contohnya tahapan kemampuan menggambar yang di sajikan secara bertahap. Maka dari itu guru yang profesional harus benar benar memiliki kemampuan dalam bidangnya agar dapat memberiakn contoh kepada anak didiknya.
Dengan karakteristik demikian, maka pendekatan dalam seni cocok diterapkan pada lembaga pendidikan sekolah kejuruan seni, sehingga lulusan sekolah menengah kejuruan seni dapat langsung bekerja terjun di masyarakat atau melanjutkan pendidikan tinggi seni yang relevan. Pada lembaga kursus atau sanggar seni yang lebih berorientasi pada penugasan keterampilan, pendekatan pendidikan dalam seni juga lazim digunakan. Tegasnya, pendekatan pendidikan dalam seni adalah program pendidikan yang mengharapkan anak atau siswa terampil dalam bidang seni. Jika hal ini diterapkan di sekolah umum, maka harus dipertimbangkan adalah guru menguasai bidang keseni rupaan, waktu yang cukup, dan fasilitas yang memadahi.

Sunday, January 31, 2016

Hakikat Kurikulum Seni Rupa

Pengertian kurikulum
Telah banyak kosepsi kurikulum yang berkembang dan pada umumnya berkaitan dengan dunia pendidikan yaitu merupakan rencana pelajaran. Namun perlu dilihat asal katanya terlebih dahulu yang berasal dari bahasa Yunani kuno agar mengetahui makna dasarnya. Curriculum berasal dari kata Curir artinya pelari, dan curere artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan “jarak” yang harus di tempuh oleh pelari. Dari arti sesungguhnya tersebut dapat diambil makna bahwa kurikulum merupakan jarak yang harus diselesaikan dalam proses mencapaian tujuan. Pelari harus menggunakan jarak tersebut (curriculum) untuk mencapai tujuan (garis finish), lebih luasnya lagi dapat berupa cara pada kegiatan sehari-hari dalam melakukan sesuatu agar tujuan dari apa yang dilakukan itu terlaksana/berhasil. Lebih jelasnya lagi apabila diaplikasikan dalam dunia pendidikan maka kurikulum merupakan cara tentang bagaimana tujuan pendidikan itu dapat diselesaikan, oleh karena itu kurikulum juga dapat disebut sebagai proses, dalam dimensinyapun kurikulum bisa menjadi gagasan atau kosep, rencana, kegiatan, maupun hasil belajar.

Kurikulum dalam pendidikan
Dalam setiap negara tentunya ada suatu sistem yang penting yang disebut dengan pendidikan, pendidikan dalam setiap negara memiliki tujuan tersendiri yang berbeda-beda. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, melalui proses yang panjang dan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan tersebut terlaksana melalui program pemerintah seperti pendidikan sekolah dasar, pendidikan SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapakan maka perlu menggunakan cara, cara inilah yang disebut dengan kurikulum. Sedangkan di dalam pembelajaran sekolah itu selain tujuan tentunya ada bahan ajar, metode pengajaran bagaimana cara mengajar yang tepat, serta penentuan nilai atau evaluasi terhadap peserta didik. Sehingga dapat diperoleh kurikulum dalam pendidikan memiliki arti yaitu cara untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan pembelajaran, yang terdiri dari komponen-komponen tujuan, bahan ajar, metode dan evaluasi yang disusun oleh lembaga pendidikan maupun anggotanya, agar dapat berperan dalam kehidupan masyarakat yang produktif sesuai dengan tujuan, kebutuhan, tuntutan dan perkembangan zaman dan IPTEKS.

Kurikulum pendidikan seni rupa

Setiap bidang pendidikan memiliki tujuan sendiri yang berbeda-beda, tidak terkecuali pendidikan seni rupa yang memiliki tujuan tersendiri. Pendidikan seni rupa merupakan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik dalam bidang seni rupa yang memiliki tujuan tersendiri dalam bidang kesenirupaan. Setiap bidang pendidikanpun memiliki cara tersendiri dalam pembelajarannya dan hal itu tidak terlepas dari kurikulum yang berisi komponen-komponen penting. Kurikulum pada hakikatnya adalah arah perubahan untuk pencapaian tujuan, sehingga bentuk dari kurikulum adalah sebuah rancangan atau sistem yang saling berhubungan subsistem di dalamnya. Sehingga dapat dimengerti hakikat kurikulum pendidikan seni rupa adalah sebuah sistem pembelajaran yang terancang dengan baik oleh komponen-komponen tujuan, bahan ajar, metode dan evaluasi pendidikan seni rupa yang digunakan untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memerankan dirinya dalam kehidupan masyarakat dan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan, tuntutan dan perubahan serta perkembangan seni rupa sesuai dengan perguliran zaman.

Peranan Pendidikan Seni Rupa dalam Pengembangan Kebudayaan

Pendidikan cukup ambil peran dalam kebudayaan, sebab kebudayaan perlu dipelajari dan diwariskan turun-temurun sebagai identitas bangsa. Namun tak banyak perhatian masyarakat untuk mempelajari kebudayaan daerah dalam waktu khusus, wadah yang tepat adalah melalui pendidikan di sekolah sebab di sekolah terdapat mata pelajaran pendidikan seni. Wan Abu Bakar dalam penjelasannya yaitu:
Kecerdasan budi dan kalbu generasi muda dididik, bakat seni diberi jendela untuk berkembang ke arah yang luhur. Lembaga pendidikan tidak hanya dibatasi fungsinya sebagai tempat mengajarkan ilmu pengetahuan dan hanya bertujuan mencerdaskan akal. Lembaga pendidikan diarahkan pula sebagai tempat generasi muda mengenal kebudayaan, sejarah dan jati diri bangsanya yang terekam dalam karya-karya seni, sastra, pemikiran falsafah dan adat istiadat. Selain itu, tradisi baca tulis, semangat penelitian ilmiah, jiwa wiraswasta, kecenderungan ke arah inovasi dan kreativitas, harus ditumbuhkan melalui lembaga pendidikan. Tiga sendi utama perkembangan budaya, yaitu bahasa, berhitung dan logika, serta budi pekerti dan estetika haruslah diberi perhatian khusus.
Hal ini berarti bahwa peranan pendidikan diperlukan dalam perkembangan budaya. Apalagi generasi muda bertempat pada pendidikan yang memberikan banyak pengetahuan untuk bekal dalam membangun bangsa. Pendidikan Seni Budaya yang memiliki sifat multikultural ini dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara.
Seni khusunya seni rupa sangat berkaitan erat dengan kebudayaan, sebab perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata yang ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Sedangkan untuk mempelajari dan mengembangkan kebudayaan ini diperlukan peranan pendidikan yang berhubungan erat, yaitu melalui Pendidikan Seni Rupa. Dalam mata pelajaran Seni Budayapun, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni.
Secara internal di dalam masing-masing suku bangsa, maupun di dalam satuan administrasi kebudayaan diperlukan upaya-upaya pelestarian budaya, yang di dalamnya terdapat tindakan-tindakan perlindungan, pengembangan, dan pemamfaatan. Dalam pengembangan kebudayaan ini diperlukan program pengadaan “bahan ajar” yang cukup berbobot mengenai kebudayaan masing-masing suku bangsa, untuk dapat dipertukar-kenalkan. Namun, kalaulah ditemukan ada sekian persen pelajaran sekolah harus bersifat “muatan lokal”, apabila suatu daerah dihuni lebih dari satu suku bangsa maka sudah tentu harus di atur baik-baik, melalui negosiasi yang ramah, bagaimana mengisi substansi “muatan lokal” itu. Maka program pengembangan kebudayaan ini dapat disalurkan melalui program Pendidikan Seni Rupa yang pada dasarnya mengkaji tentang kesenirupaan yang berkaitan erat dengan kebudayaan. Sebab, di sekolah terdapat kegiatan apresiasi seni dan berkreasi seni. Kesenian ini tentu melibatkan hasil kesenian daerah sekitar yang berdekatan dengan siswa. Di sekolah, kegiatan apresiasi seni bertujuan untuk mengembangkan kesadaran, pemahaman, dan penghargaan terhadap karya seni, yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni. Pengamatan karya seni bertujuan untuk memperoleh pengalaman estetik, melalui pencerapan nilai-nilai instrinsik pada bentuk atau komposisi karya seni. Dari sini guru dapat memberikan contoh dari budaya-budaya lokal yang ada di sekitar lingkungan siswa. Dengan memberikan objek pengamatan berupa hasil budaya masyarakat yaitu kesenian dalam bentuk visual, selain lebih gampang mencapainya, siswapun akan lebih mengenal hasil kebudayaan sendiri. Tugas danpenjelasan guru akan merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh mengenai hasil kesenian daerah dan memunculkan adanya minat anak untuk mengembangkannya pada waktu itu atau ketika ia besar kelak. Selain itu dalam pembelajaran Pendidikan Seni, pengembangan sikap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan, dan pengetahuan. Sikap ini salah satunya adalah sikap terhadap kebudayaan sekitar seperti yang telah dijelaskan.
Dalam Seni Budaya, mata pelajaran Seni Budaya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
  1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya
  2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya
  3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya
  4. Menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional, maupun global.
Bentuk tindakan berupa pengembangan dan pelestarian budaya dalam wujud karya seni penting diharapkan, agar ketrampilan dan pengetahuan anak tersalurkan dan tidak sia-sia. Manfaat ini dapat dipetik ketika adanya kebudayaan daerah yang tiba-tiba berkembang dari tangan generasi muda sendiri.

Pentingnya Pendidikan Seni Rupa

Dalam proses pembelajaran, Pendidikan Seni Rupa memiliki fungsi sebagai kebutuhan anak dan kebutuhan institusi pendidikan. Pendidikan Seni Rupa merupakan wahana pendidikan ekspresivitas, sensitivitas, dan krestivitas bagi anak (lihat Syafii 2006: 9). Ekspresivitas seorang anak berkaitan dengan psikologi yang dapat dituangkan dalam proses berkarya seni, sedangkan sensitivitas atau kepekaan memungkinkan anak dalam merespon fenomena estetik visual. Misalnya respon terhadap fenomena keberadaan kesenian tertentu yang hampir punah. Kreativitas merupakan perilaku konstruktif, inovatif, dan produktif yang dapat berkembang setiap saat. Semua itu diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Pendidikan seni merupakan sarana atau media yang paling efektif bagi pengembangan ekspresivitas, sensitivitas, dan kreativitas ini.
Jauh dari kepentingan intelegensi, Pendidikan Seni Rupa adalah elemen penting dalam peranan pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Tidak ada mata pelajaran lain yang mengupas tentang pengembangan kebudayaan selain mata pelajaran dalam bidang seni. Berhubungan dengan hal ini, terdapat dua pandangan mengenai Pendidikan Seni Rupa yaitu Pendidikan melalui seni dan Pendidikan dalam seni. Pendidikan melalui seni yang dalam artian bahwa seni menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan (lihat Syafii 2006: 8). Pada dasarnya seni digunakan sebagai media atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan nasional harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa pahlawan, serta berorientasi masa depan. Rasa cinta tanah air dapat berwujud pelestarian dan pengembangan kebudayaan bangsa agar tidak punah dan tergerus oleh waktu dan perkembangan zaman yang tidak menghiraukan budaya tradisional.
Yang kedua adalah Pendidikan dalam seni menyatakan bahwa seni sebagai materi atau disiplin ilmu perlu dan penting diberikan kepada anak (lihat Syafii. 2006: 5). Keahlian-keahlian anak dalam bidang keseni rupaan seperti menggambar, mematung dalam berkarya seni diberikan kepada anak untuk pengembangan dan pelestarian kesenian yang ada. Seperti yang dikatakan dalam artikel Seni Budaya:
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan  di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi  melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.

Kesenian sebagai hasil budaya masyarakat perlu dikenali dan dipelajari oleh anak agar anak dapat mengembangkan dan melestarikannya dalam upaya pewarisan budaya daerah. Diharapkan setelah anak trampil dan bisa berkarya seni, anak akan merasa memiliki tanggung jawab terhadap budaya yang dimiliki terkait dengan kemampuan yang anak miliki. Sebagai contoh anak yang memiliki kemampuan dalam membuat wayang, maka jika kesenian budaya wayang hampir punah di kota yang ditinggali anak, anak akan merasa bertanggung jawab untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian wayang tersebut. Sehingga kesenian budaya wayang tidak akan punah atau hilang sebab masih ada orang-orang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam pengembangan kebudayaan tersebut.

Menumbuhkan Apresiasi pada Anak

Sejak lahir, anak sebenarnya memiliki potensi yang harus dikembangkan untuk menjadikannya manusia yang "pintar" seutuhnya. Edu Jedila (2012) mengatakan bahwa mempelajari seni berarti memberikan kesempatan pada anak untuk mencerdaskan emosi mereka, mengasah kepekaan pada keindahan, keseimbangan, harmonisasi, gradasi, kecantikan, dan lain sebagainya. Pengembangan potensi emosional harus memiliki porsi yang sama besar dengan potensi spiritual, intelektual, sosial dan jasmani anak-anak. Keseimbangan pengembangan kelima potensi tersebut sangat penting utuk diperhatikan oleh orangtua karena sangat dibutuhkan anak dalam kehidupan anak kelak. Pengembangan potensi emosional ini salah satunya adalah melalui rasa ketertarikan yang dapat berupa keindahan.
Seni rupa bagian dari ilmu kesenian mengeksploitasi nilai-nilai keindahan baik datang dari dalam diri si perupa atau hal yang datang dari luar perupa. Kecenderungan seseorang pada keindahan pada dasarnya merupakan sesuatu kebutuhan, indah memiliki dari maknanya subjektif, indah kadang kala abstrak dilihat dari cara berfikir seseorangterhadap hidup. Bastomi Suwaji (1990: 5) mengatakan bahwa keindahan dapat berbeda dari cara berfikir seseorang dan itu merupakan sesuayu hal yang alamiah, cara pendang orang dewasa sangat dipengaruhi logika (dominant), pengalaman dan ekspresi jiwa saat menikmatikeindahan (karya seni) sementara anak-anak menangkap keindahan sebagai sesuatu ungkapan jiwa yang murni lahir dari dalam dirinya sebab mereka belum banyak dipengaruhi oleh logika, seperti penjelasan berikut, kegiatan anak menggambar meruapakn perilaku nluriah, seperti halnya makan, minum, dan juga kegiatan bermain.
Alfred Lichutuwok dan Konard Lange mengatakan bahwa persepsi anak-anak terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan (apresiasi) langsung, baik melalui kegiatan menggambar (kegiatan berolah seni) maupun kegiatan observasi. Kegiatan ini dilakukan dengan dengan mengunjungi obyek-obyek seni seperti museum, sanggar seniman, pameran dan sebagainya.
Untuk menumbuhkan minat dan apresiasi terhadap seni budaya diantaranya terdapat cara sebagai berikut :
-Apresiasi terhadap warisan budaya dan seni
-Memperluas wawasan mengenai berbagai cabang seni
-Menumbuhkan kesadaran harga diri bangsa
-Memberikan rangsangan seni sejak dini untuk menumbuhkan daya estetika dan kretivitas anak.
-Pendidikan apresiasi seni yaitu menghidupkan nilai-nilai yang dibutuhkan bagi pembangunan karakter yang berkelanjutan.
-Melalui pameran, festival seni, pementasan, maka apresiasi dan penghargaan oleh masyarakat akan karya seni dan ketrampilan itu juga akan meningkat.
-Melakukan Kritik Seni, menelaah karya seni untuk mengadakan pernyataan obyektif tentang nilai atau rangking dari suatu karya seni
-Memandang niat seniman yang bersangkutan dan pendukungnya dalam hal bagaimana seni tersebut ditampilkan dan tentu tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.
-Mengenal dan mempelajari secara langsung unsur-unsur dari sebuah seni kebudayaan.
Dari berbagai poin yang telah disebutkan diatas maka untuk menumbuhkan apresiasi pada anak, cukup mengenalkan anak pada karya-karya seni. Karya seni yang ditampilkan pada anak dapat mulai dari karya anak lain yang seusia, maupun karya orang dewasa yang menarik bagi anak. Untuk menumbuhkan apresiasi anak pada kebudayaan bangsa, dapat dikenalkan dengan karya-karya yang mencerminkan identitas bangsa seperti karya tradisional. Misalnya gerabah, anyaman, batik dan sebagainya. Terlepas dari itu, pertunjukan seni juga dapat dilakukan guna menumbuhkan apresiasi anak. Seperti yang dilakuakan oleh pemerintah kabupaten Bantul yaitu menyelenggarakan Apresiasi Anak Terhadap Kesenian Wayang Kulit dalam rangka meningkatkan pengenalan anak pada kebudayaan sendiri pada tahun 2006.
Manfaat apresiasi seni :
  • Orang yang bagus apresiasi seninya akan peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sensitif terhadap ketidak benaran, dan malu berbuat kasar.
  • Seni merupakan suatu kekuatan yang mampu mengalahkan dunia yang kasar (Jakob Burckhadt). Seni membawa pesan kasih sayang, persaudaraan, dan kebenaran.
  • Seni mampu membuat manusia lebih bijaksana, lebih mencintai hidup, serta lebih mendekatkan manusia bukan saja kepada sesama makhluk hidup, melainkan juga kepada sang pencipta (S. Suharianto).
  • Kesenian dapat melakukan kontrol terhadap kemungkinan agresivitas massa. ( Kuntowijoyo, 1998).
  • Pendidikan kesenian akan bermanfaat untuk membentuk kecerdasan emosional peserta didik. Kecerdasan emosi pada akhirnya membentuk anak didik yang memiliki dimensi “kedalaman” karena emosi berkaitan dengan rasa.
  • Kesenian dan keindahan menyiratkan nilai rasa dalam arti luas (Suwaji Bastomi, 1990). Manusia tidak mampu mengungkapkan pengalaman secara mandiri dengan akal murni saja. Rasa memiliki kepekaan terhadap kenyataan yang tidak ditemukan oleh akal.

Ida Siti Herawati dan Iraji (1999: 123) menjelaskan bahwa penghayatan (apresiasi) dapat dilakukan melalui kegiatan berolah seni atau melalui kegiatan observasi (pengamatan) terhadap obyek-obyek seni.
Melalui kegiatan berolah seni ekspresi anak-anak bisa tersalurkan. Kegiatan ini akan memberikan sumbangan bagi pencegahan tekanan mental, oleh karena itu kegiatan seni akan memberikan peluang bagi kesempatan berkomunikasi, yaitu untuk melepaskan tekanan-tekanan batin yang sering sukar bila diungkapkan melalui media bahasa. Pendidikan seni dapat dimanfaatkan untuk tujuan penyembuhan, yaitu menjaga keseimbangan jiwa, yakni sebagai sarana bagi kesehatan mental, demikian Freud dan Margaret (dalam Pranyoto, 1980). Sedangkan melalui kegiatan penghayatana akan meningkatkan kepekaan estetik (cita rasa keindahan) anak-anak guna mengimbangi perkembangan pikir.
Ketika anak-anak sedang melakukan kegiatan beroleh seni guru bisa bercerita tentang keindahan alam, lingkungan, keindahan khayalan (imaginasi) yang dirasakan anak-anak, keindahan tentang obyek-obyek seni, keindahan tentang karya seni masterpiece dan sebagainya, sehingga daya khayal dan kualitas ekspresi diri anak berkembang dan meningkat.
Contoh dari obyek seni:
  1. museum
  2. pusat kerajinan
  3. sanggar seni rupa
  4. peninggalan sejarah
  5. pameran seni rupa
Selain ke lima tempat tersebut jika terdapat pusat seni rupa untuk anak-anakpun bisa dikunjungi, seperti contohnya sebuah Pusat Seni Rupa kontemporer Anak Anak yang terdapatdi Yogyakarta dapat menjadi wadah bagi fasilitas edukatif dan rekreatif di luar. Tempat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan seni rupa untuk anak-anak, akan tetapi juga sebagai tempat pameran dan tempat rekreasi bagi anak-anak.

Seteleh mengunjungi obyek-obyek seni, tindakan lanjut guru/orang tua dapat menanyai anak-anak mengenai karya seni apa saja yang dilihat, kira-kira bagaimana membuatnya dan apa yang paling menarik dari karya tersebut. Sebenarnya jika tidak memungkinkan untuk mengunjungi obyek-obyek seni yang telah disebutkan, sekolahpun juga bisa menjadi obyek seni itu sendiri. Menurut Widya (2004), sekolah bagi anak-anak yang didalamnya tersedia berbagai sarana dapat menumbuhkembangkan apresiasi dan kreativitas anak terhadap seni rupa. Dalam hal ini peran sekolah juga diperlukan untuk menyediakan sarana prasarana dalam bidang keseni rupaan.