Showing posts with label penikmat seni. Show all posts
Showing posts with label penikmat seni. Show all posts

Monday, January 11, 2021

Konsep dan Hakikat Resensi Seni

Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya seni.   Karya seni sangat perlu untuk dinilai demi mengetahui kualitas-kualitas yang ada di dalamnya. Karya seni merupakan sebuah benda yang diciptakan oleh seorang desainer ataupun seniman melalui kreativitas, imajinasi, dan pemikirannya sehingga menampilkan bentuk yang indah. Karya seni rupa yang akan diresensi dapat berupa karya dua dimensi ataupun tiga dimensi, seni murni ataupun karya terapan dapat berupa karya dua simensi ataupun tiga dimensi, karya seni murni ataupun karya terapan. Karya seni murni dapat seni patung dan seni lukis, sedangkan contoh karya seni terapan adalah gedung, meja, kursi, dan perabot rumah tangga. Karya seni merupakan cerminan ekspresi jiwa, nilai-nilai, gagasan, cita-cita atau pandangan seniman penciptanya.

Tujuan dari kegiatan meresensi karya seni adalah untuk  kualitas karya seni yang bersangkutan. Nilai  sesuatu yang paling berharga pada karya seni. Karya seni mengandung dua jenis nilai, yaitu nilai bentuk dan nilai   bentuk terlihat pada bentuk-bentuk yang kasat mata, seperti bahan, warna, tekstur, dan teknik yang digunakan. Sementara itu, nilai makna atau nilai kualitas sangat tergantung keselarasan antara wujud atau rupa (appearance) atau isi (content, substance). Wujud terdiri atas bentuk dan susunan atau struktur unsur-unsur rupa. Sementara itu bobot atau isi adalah suasana, gagasan, atau pesan yang ingin disampaikan.

Seseorang akan dapat menilai karya seni jika ia memiliki kesadaran akan potensi keindahan yang terdapat pada sebuah karya seni. Kesadaran itu muncul apabila seseorang memiliki minat dan keinginan untuk mendapatkan sebuah keindahan benda. Hal yang paling pokok dalam melakukan resensi adalah perlunya pengetahuan dan wawasan yang luas tentang proses berkarya, sejarah, dan estetika. Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah seniman harus memiliki kepekaan estetis.

Proses resensi adalah serangkaian proses atau tahapantahapan dalam memperoleh kualitas nilai sebuah karya seni. Proses resensi dapat dilakukan secara serta-merta tanpa melalui prosedur yang sistematis. Ketika melihat karya seni rupa tiga dimensi, misalnya patung atau keramik, perasaan kita akan menjadi senang, bahkan terkagum-kagum. Respons yang kita  berikan tersebut sebenarnya adalah bentuk resensi yang kita lakukan, tetapi bersifat spontan. Respons tersebut muncul karena adanya keindahan dalam karya sehingga seseorang merasa senang. Respons tersebut juga merupakan sebuah apresiasi, atau sikap untuk menghargai dan menyadari nilai tersebut.

Namun, pada kenyataannya, sering kali masyarakat ketika menilai sebuah karya seni bersifat serta-merta sehingga penjelasan yang diberikan atas keputusan nilai yang diberikan tidak memadai sebagai bukti yang akurat. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya proses resensi yang dilakukan dengan menggunakan tahapan-tahapan yang jelas, prosedural, dan sistematis. Resensi tersebut sering disebut sebagai kegiatan kritik seni.

Kritik seni adalah aktivitas dalam rangka menilai sebuah karya seni melalui tahapan yang jelas agar hasil evaluasi dapat dipertanggungjawabkan. Resensi yang dilakukan terhadap karya seni memiliki arti yang sepadan dengan kritik. Istilah kritik sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, yaitu critic, yang bermakna mengecam, mengupas, dan membahas. Dalam bahasa Yunani, kata kritik berasal dari kata kritikos yang erat hubungannya dengan krinein, yang berarti memisahkan, mengamati, menilai, dan menghakimi.

Menyadari, mengerti, dan cermat mengamati segi-segi estetika dengan bekal ilmu pengetahuan serta kepekaan estetis menjadi sangat penting dalam melakukan resensi. Melalui ketiga cara tersebut, seseorang dapat menikmati dan menilai suatu karya dengan semestinya. Esensi akan mengimplikasikan seseorang untuk lebih menghargai sebuah karya seni.

Penyelidikan kualitas aspek benda memang harus sensitif karena setiap bentuk yang ditampilkan memiliki perbentukan yang harus dirasakan, diempati, dan dihayati agar getaran- getaran bentuk yang menyenangkan dapat diperoleh hati pengamat. Oleh karena itu, sangat tidak mudah bagi seseorang yang memiliki wawasan cukup, tetapi kurang sensitivitasnya, untuk dapat menilai karya seni secara proporsional. Pandangan yang objektif juga diperlukan. Keindahan dalam sebuah karya seni digali agar kita mendapatkan sebuah kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Penyelidikan kualitas aspek benda memang harus sensitif karena setiap bentuk yang ditampilkan memiliki perbentukan yang harus dirasakan, diempati, dan dihayati agar getarangetaran bentuk yang menyenangkan dapat diperoleh hati pengamat. Oleh karena itu, sangat tidak mudah bagi seseorang yang memiliki wawasan cukup, tetapi kurang sensitivitasnya, untuk dapat menilai karya seni secara proporsional. Pandangan yang objektif juga diperlukan. Keindahan dalam sebuah karya seni digali agar kita mendapatkan sebuah kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Sikap yang dihasilkan setelah melakukan resensi adalah sikap apresiatif. Pada dasarnya, apresiasi adalah bentuk jalinan komunikasi antara si pembuat karya seni (seniman) dan penikmat karya seni (apresiator). Dengan adanya komunikasi timbal-balik tersebut, kemampuan sang seniman dapat berkembang, semangat berkaryanya juga semakin tinggi, dan penikmat seni pun dapat menikmati karya-karya seni yang berkualitas. Melalui uraian-uraian tersebut, terlihat bahwa hasil yang diharapkan dari kegiatan resensi adalah munculnya sikap apresiasi dalam bentuk menghargai. Contoh sikap menghargai, di antaranya berkaitan dengan sejauh mana penikmat seni atau masyarakat memandang karya seni tersebut sebagai sesuatu yang penting, bernilai, berguna, dan bermanfaat. Ciri seseorang yang mengapresiasi karya seni adalah ketika ia menghormati pembuat/pencipta karya tersebut serta merawat dan menjaga karya seni tersebut.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Thursday, December 17, 2020

Tujuan dan Fungsi Apresiasi Seni Budaya

 Layaknya kegiatan lainnya, apresiasi seni budaya juga memiliki tujuan dan fungsi. Berikut adalah tujuan dari kegiatan apresiasi seni budaya. 

1. Memahami Atasan Penciptaan Karya Seni 

Tujuan pertama dari kegiatan apresiasi seni budaya adalah memahami alasan penciptaan dari suatu karya seni. Dengan adanya apresiasi, seseorang tidak hanya menilai karya seni dari wujud fisiknya saja, tetapi juga menilai dari segi aspekaspek pembangunnya, seperti teknik yang digunakan senimanı alasan seniman menciptakan karya, hingga pesan yang hendak disampaikan seniman dalam karya-karyanya. 

2. Mengembangkan Kreativitas 

Kegiatan apresiasi seni budaya akan mendorong seseorang untuk lebih kreatif dalam mendalami suatu bentuk karya seni. Kreativitas ini tidak hanya dialami oleh seniman, tetapi juga penikmat seni. Bagi seniman, apresiasi seni akan membuat daya kreasinya terpacu untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik dan variatif dari waktu ke waktu. Sementara ituj bagi penikmat seni, apresiasi seni akan mendorong mereka untuk kreatif dalanı menganalisis dan mempelajari suatu bentuk karya seni. Bahkanı tidak jarang penikmat seni terjun langsung mendalami seni untuk memahami nilai-nilai dan pengalaman yang diperoleh seniman dalam menciptakan karya.

3. Menumbuhkan Kepekaan Estetis 

Kepekaan estetis atau kepekaan seseorang terhadap nilainilai keindahan akan tumbuh dengan seringnya ia melakukan apresiasi seni. Semakin sering seseorang bersinggungan dengan bentuk karya seni, semakin tinggi pula sensitivitasnya terhadap nilai-nilai keindahan yang terwujud dalam bentuk karya seni. Kepekaan estetis yang diperoleh melalui apresiasi seni tidak hanya berlaku bagi seniman, tetapi juga penikmat karya seni. Dengan adanya kepekaan estetis, pengalaman keindahan yang dirasakan ketika mengamati dan menghayati suatu bentuk karya seni akan semakin tinggi. 

4. Menyempurnakan Karya Seni 

Apresiasi seni yang ditunjukkan penikmat seni terhadap suatu karya akan mendorong seniman untuk menyempurnakan karya seni. Dengan kualitas karya yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, seniman tidak hanya memperoleh kepuasan pribadi, tetapi juga memberikan kebahagiaan bagi masyarakat yang menikmati karya-karya berkualitas tersebut.



Sementara itu, fungsi dari kegiatan apresiasi seni budaya adalah sebagai berikut.

1. Memahami Seni Secara Mendalam 

Melalui kegiatan apresiasi seni, seseorang akan terpacu untuk memahami suatu bentuk seni secara mendalam. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap suatu karya. Dengan memahami seni secara mendalam, pengetahuan dan wawasan seseorang atas bentuk seni tersebut akan semakin maksimal. Pada akhirnyaı hal tersebut akan semakin meningkatkan apresiasi. 

2. Mengetahui Kua!itas Suatu Karya Seni 

Kualitas karya seni akan sulit untuk diketahui tanpa adanya apresiasi. Melalui apresiasi, seseorang akan merasakan pengalaman keindahan yang ditangkap oleh pancaindra. Pengalaman tersebut akan mendorongnya untuk memahami aspek lain yang membangun karya seni tersebutı termasuk makna yang terkandung di dalamnya. Dengan pengalaman keindahan dan pengetahuan yang diperoleh, orang tersebut dapat menilai seberapa baik kualitas dari karya seni yang ia amati dan hayati tersebut. 

3. Mengembangkan Kemampuan Seniman dan Penikmat Seni 

Apresiasi seni membawa banyak manfaat bagi seniman dan Penikmat şenil termasuk mengembangkan kemampuan kedua belah pihak tersebut. Dengan kegiatan apresiasiı seniman akan terus mencari cara dan belajar untuk meningkatkan kualitas karya-karyanya. Peningkatan kualitas berkarya dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti menggunakan teknik dan media berkarya yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Dengan demikianı kemampuannya akan turut meningkat.

Sementara itu, bagi penikmat seni, kegiatan apresiasi akan meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami dan menilai suatu bentuk karya seni. Apresiasi seni juga akan semakin membuka pemikiran mereka terkait ekspresi berkesenian. Selain itu, apresiasi seni juga akan mendorong penikmat seni untuk mulai mempelajari cara membuat atau melakukan bentuk seni yang ia sukai. 

4. Menambah Pengalaman Berkesenian 

Bagi seniman dan penikmat seni, apresiasi seni akan menambah pengalaman dalam berkesenian. Bagi seniman, apresiasi seni akan mendorong mereka untuk melakukan eksptorasi dalam penciptaan karya. Sementara itu, bagi penikmat seni, apresiasi seni akan mendorong mereka untuk lebih banyak Iagi mengenal dan mengeksplorasi bentuk-bentuk seni. 

5. Meningkatkan Kecintaan terhadap Karya Seni 

Apresiasi seni memiliki manfaat besar dalam menciptakan kecintaan terhadap karya seni. Apresiasi seni membawa banyak pengalaman, seperti pengalaman keindahan, hiburanı hingga edukasi bagi seniman dan penikmat seni. Pengalaman_ pengalaman yang diperoleh melalui apresiasi seni akan mendorong seseorang untuk terjun lebih dalam demi memaharni bentuk-bentuk seni, Semakin banyak pengalaman dan Wawasan yang diperoleh, senıakin meningkat pula kecintaan seseorang teıhadap bentuk dan karya seni yang ia dalami.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Tuesday, December 15, 2020

Contoh Soal Isian Apresiasi Seni Budaya Nusantara

1. Apresiasi merupakan jembatan penghubung antara … dan …

2. Menilai bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni melalui pancaindra tetapi kemudian tidak mencari informasi lebih lanjut disebut apresiasi…

3. Belajar tari Saman melalui tutorial di youtube termasuk dalam apresiasi aktif menggunakan pendekatan…

4. Belajar sendiri tanpa adanya guru disebut belajar secara…

5. Siapakah yang membagi jenis apresiasi menurut tingkatannya?

6. Konteks utama dalam apresiasi yaitu feeling, emphitizing, dan…

7. Berdasar tingkatannya apresiasi yang telah sampai kepada penilaian suatu karya disebut apresiasi…

8. Dalam tahapan apresiasi, penafsiran/penangkapan makna disebut dengan tahapan…

9. Pada tahap penilaian dalam apresiasi berisi evaluasi dan…

10. Tahapan apresiasi yang berisi tentang komposisi, warna, bentuk, serta penjelasan detail lainnya disebut dengan tahapan…


Kunci Jawaban:

1. Seniman dan penikmat seni

2. Pasif

3. Aplikatif

4. Otodidak

5. Brent G Wilson

6. Empathizing

7. Krtitik

8. Interpretasi

9. Kesimpulan

10. Analisis


Sumber materi:  Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Sunday, December 13, 2020

Fungsi Seni Budaya Nusantara

 Pada awalnya, karya seni berfungsi sebagai sarana manusia untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan alam dan pencipta. Wujud dan isi komunikasi tentu saja beraneka ragam, sesuai kepentingan masing-masing. Wujud komunikasi tersebut dapat berupa garis, warna, bunyi-bunyian, suara manusia, gerak, dan Iain sebagainya. Semua bentuk komunikasi diekspresikan sesuai dengan seni yang hidup di masyarakat setempat atau bidang yang disukai dan diminati. Secara umum, seni memiliki beberapa fungsi, yakni sebagai berikut. 

Sumber: www.pxhere.com Gambar 4.7 Panggung yang biasa digunakan untuk pertunjukan seni teater.

Sebelum pementasan, penata panggung akan bekerja sama dengan penata lampu untuk menentukan adegan mana saja yang harus disorot, sudut mana yang harus Iebih gelap, kapan waktu penggunaan lampu follow spot, ataupun kapan waktu yang tepat untuk melakukan permainan terang-redup. Penata panggung juga bekerja sama dengan bagian properti untuk menentukan peralatan yang akan digunakan di panggung. Penata panggung juga akan bekerja sama dengan penata suara untuk menentukan posisi mikrofon yang akan dipasang ataupun pemanfaatan efek bunyi. 

1. Sebagai Ungkapan Perasaan 

Seni dapat berfungsi sebagai media mengungkapkan perasaan atau kegelisahan, keinginan, dan Jain sebagainya. Ketika seseorang merasakan emosi yang cukup besar, seperti cinta atau kesedihan, ia dapat menuangkannya dalam berbagai bentuk seni, seperti lagu atau lukisan. Ada pula yang menuangkan dalam bentuk sastra, seperti puisi atau cerpen, yang kemudian dituangkan lagi menjadi bentuk seni, seperti musikalisasi puisi atau pertunjukan teater. Melalui seni, seseorang dapat mencurahkan pemikiran, perasaan, dan imajinasinya sesuka hati. Bentuk seni yang ia hasilkan pun dapat membawa pesan kepada para penikmat karyanya. Melalui karya tersebut, para penikmat karya akan turut merasakan perasaan dan pesan yang hendak disampaikan oleh seniman yang bersangkutan. 

2. Sebagai Pemersatu 

Berbagai cabang seni dan cabang ilmu dapat bersatu dalam sebuah karya yang diciptakan bersama-sama. Contohnya adalah seni pertunjukan yang menyatukan seni peran, seni gerak, seni musik, seni penataan, hingga sastra. Seni pertunjukan tidak dapat berdiri sendiri dan memerlukan bantuan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Melalui contoh ini, terlihat bahwa seni berperan sebagai pemersatu. 

Sebagai pemersatu, seni juga dapat mendamaikan sekolah-sekolah yang siswanya sering berselisih atau tawuran. Contohnya, dengan membuat karya atau pentas bersama yang melibatkan sekolah-sekolah yang sering bertikai. Dalam proses latihan, sangat mungkin terjadi proses kesepahaman untuk menghentikan 'permvsuhan'. Contoh kegiatan seni yang dapat dilakukan bersama adalah membuat pentas menari massal, menabuh gamelan, pentas teater, pentas musik. Jika di dalam  bidang olahraga mungkin masih ada persaingan, kesenian mengajak orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk saling bekerja sama, bukan bersaing, demi menghasilkan penampilan terbaik. 

Berkesenian tidak memandang ras, agama, suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, apalagi status sosial dan ekonomi. Dalam berkesenian, kedudukan semua orang sama. Jika menabuh gamelan, semua pemain duduk bersila dan duduk sama rendah. Jika melukis, semua pelukis sama-sama menggunakan kuas dan cat. Jika menari, para penari sama-sama bergerak. 

3. Sebagai Sarana Pemujaan, Ungkapan Permohonan, Ungkapan Syukur terhadap Semesta Alam dan Penciptanya, serta Kelengkapan Acara dan Upacara 

Pada masa lalu, semua tarian, nyanyian, bahkan Iakon merupakan sarana upacara. Saat ini, masih ada daerah yang melestarikannya. Tarian di Bali justru masih sangat kental digunakan dalam upacara keagamaan, seperti tari pendet dan tari kecak. Sementara itu, beberapa tarian di daerah Jawa dijadikan tarian khusus sebagai suguhan ketika keluarga raja menikah. Contohnya adalah Bedhaya Sangaskara, tarian yang dipertunjukkan untuk pernikahan putri raja di Kasultanan Yogyakarta. Sementara itu, tari Bedhaya Ketawang ditampilkan pada acara ulang tahun penobatan raja di kasunanan SUrakarta. 

Bentuk seni lainnya, seperti lagu kebangsaan, selalu dikumandangkan pada acara-acara resmi dan upacara. Ada pula himne, mars, dan tarian yang harus ditampilkan saat acara tertentu. Selain itu, ada tradisi begalan dari Banyumas yang sering ditampilkan dalam acara pernikahan, sama halnya dengan tradisi palang Pintu di budaya Betawi. Bentuk seni juga dapat dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur karena panen melimpah, atau untuk meminta kesuburan kepada Sang Pencipta ketika musim bercocok tanam tiba. 

4. Sebagai Sarana Komunikasi antara Seniman dan Penikmat Seni 

Sebuah pementasan dan pameran dapat diselenggarakan bersamaan, seperti acara ArtJog di Yogyakarta yang tidak hanya menampilkan pameran, tetapi juga pertunjukan tari dan musik. Ada pula pementasan teater yang terselenggara untuk membangun komunikasi antarpelaku seni, seperti lakon Jurang karya Agus Leylor yang dimainkan pemain teater lintas generasi dan dari beberapa kelompok teater. Kedua contoh tersebut menunjukkan bagaimana seni menghubungkan seniman, penikmat seni, dan pelaku seni lainnya. Pada acara-acara seperti ini, seniman diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para penikmat karya-karyanya, atau dengan sesama pelaku seni lainnya. Komunikasi yang terbangun antara seniman dan penikmat karya merupakan keuntungan bagi kedua belah pihak dan memicu peningkatan kualitas berkarya. 

Sumber: www.flickr.com Gambar 4.9 Dekorasi latar depan ArtJog di Yogyakarta tahun 2013.

5. Sebagai Persembahan yang Didedikasikan kepada Seseorang atau Lembaga 

Sebuah karya seni kadang diciptakan seniman untuk dipersembahkan kepada negara, raja, atau lembaga tertentu. Pada ranah tari, sebuah tarian yang dipersembahkan kepada raja akan menjadi yasan dalem, atau milik raja. Karya seni rupa, seperti lukisan atau patung, biasanya diserahkan seniman untuk dijadikan koleksi museum, lembaga negara, yayasan, atau koleksi pribadi. Sementara itu, dalam seni musik, terdapat jenis lagu seperti himne atau ode yang dibuat untuk menunjukkan penghargaan kepada seseorang. 

6. Sebagai Sarana Pemenuhan Kebutuhan Pokok (Bernilai Ekonomis) 

Seni dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti seni kriya. Karya seni kriya, seperti kain dan perabot rumah tangga, merupakan benda-benda yang memiliki kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Karena memiliki nilai guna, karya seni kriya bernilai ekonomis, atau dapat membawa keuntungan material bagi seniman penciptanya. 

Gambar 4.10 Para pengrajin batik di daerah Ketelan, Jawa tengah.

Seni sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pokok tidak hanya berlaku pada seni terapan seperti seni kriya. Pada bentuk seni Iainnya, seperti seni pertunjukan, seni juga dapat membawa dampak ekonomis. Bagi pelaku seni pertunjukan, semakin banyak pentas, semakin banyak pula harga tiket yang terjual. Artinya, semakin besar pula keuntungan material yang diperoleh dari pertunjukan tersebut. 

7. Sarana Aktualisasi Diri Kreator dan Peraganya 

Kadang seniman berpentas atau berkarya untuk proyek pribadi nonprofit, untuk aktualisasi diri, dan sebagai eksistensi diri mereka di dunia kesenian. Contohnya, para seniman yang berkontribusi pada festival-festival seni dan pameran-pameran kolektif yang tidak berfokus pada keuntungan komersial. 

8. Sarana Pembentukan Karakter dan Belajar Tata Krama 

Biasanya, dengan mempelajari seni, secara otomatis seseorang akan ikut mempelajari tradisi yang menjadi latar belakang lahirnya seni tersebut. Dengan mempelajari tradisi, ia akan ikut mempelajari tata krama dan aturan yang berlaku pada tradisi tersebut. Contohnya adalah seseorang yang belajar memainkan instrumen gamelan akan mempelajari aturan-aturan dan pakem yang harus diikuti dalam memainkan instrumen tersebut. Begitu pula jika seseorang berperan dalam pertunjukan wayang orang: ia harus mempelajari jalan cerita, mempelajari pakem wayang orang, serta mempelajari cara berbicara dan cara bertingkah laku sesuai karakter yang ia perankan.

Sumber: www.flickr.cocn Gambar 4.1 1 Pertunjukan wayang yang dipimpin Oleh seorang dalang

9. Sarana Terapi untuk Kesehatan Mental 

Beberapa anak penderita gangguan mental diminta dokter untuk melakukan aktivitas seni, seperti menari, bermain musik, berteater, atau melukis. Anak tunarungu dapat belajar menari atau melukis. Anak tunanetra dapat belajar musik dan

Dengan mempelajari seni, mereka akan semakin percaya diri, senang, dan dihargai. Bahkan, untuk mereka yang tidak berkebutuhan khusus, mengikuti pementasan atau pameran juga akan menimbulkan sensasi bahagia tersendiri. Melalui contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa seni membawa dampak yang sangat baik bagi perkembangan dan kesehatan mental seseorang. 

10. Sebagai Pengisi Acara 

Banyak acara yang menjadikan seni musik atau tari sebagai pengisi selingan. Ada pula yang menjadikan drama tari dan teater tradisional (misalnya wayang kulit, lenong, atau ketoprak) sebagai puncak sebuah acara.

11. Sebagai Hiburan 

Pada hakikatnya, seni memiliki fungsi untuk memberikan perasaan senang dan puas bagi siapa pun yang menghayatinya. Bagi masyarakat yang penat dengan aktivitas rutin sehari-hari, seni dapat menjadi sarana pelepas stres. Bentuk seni sebagai pelepas stres bervariasi sesuai hobi dan selera tiap-tiap individu. Ada yang merasa bahagia setelah menyanyi dan bermain musik, ada pula yang melepaskan stres dengan menari atau menonton pertunjukan seni. 

12. Sebagai Pertunjukan Khusus atau Pameran 

Beberapa seniman sering mengadakan pameran seni rupa atau foto di galeri-galeri seni rupa, bahkan terkadang di mal, dengan tujuan mendekatkan karya sang seniman kepada masyarakat pencinta seni. Ada pula beberapa seniman yang membuat pagelaran tunggal atau sanggarnya. Sementara itu, grup teater seperti Teater Koma dan Teater Gandrik juga termasuk rajin berkarya dan mementaskan karya mereka secara komersial.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.