Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts

Monday, October 11, 2021

Konsep Eksplorasi dan Eksperimentasi Karya Seni Rupa

 

A. Konsep Eksperimentasi dan Eksplorasi dalam Membuat Karya Seni Rupa

Salah satu kendala dalam membuat karya seni rupa yaitu terbatas dan  tidak tersedianya berbagai perangkat, peralatan dan perlengkapan berkarya. Dalam unit ini, siswa diajak untuk memanfaatkan potensi di sekitar mereka untuk menjawab keterbatasan dan ketidaktersediaan berbagai perangkat, peralatan dan perlengkapan berkarya. Setelah itu siswa diajak untuk berani bereksperimen dalam berkarya.

Beberapa pertanyaan pemantik yang dapat dijadikan panduan saat memulai untuk melakukan eksperimen dalam berkarya:

• Fase Penemuan: Benda/bahan apakah ini? Barang apa yang bisa dibuat dari benda/bahan ini?

• Fase Eksplorasi: Dengan menggunakan bahan ini, benda apa saja yang dapat dihasilkan?

• Fase Ekspansi: Variasi barang apa saja yang bisa dihasilkan dengan bahan ini?

• Fase Manifestasi: Jenis barang seperti apa yang akan terlihat estetik jika dibuat menggunakan bahan ini?

• Fase Transisi: Jika bahan ini digabungkan dengan bahan lainnya, dapatkah menghasilkan barang apa?

• Fase Pencerahan: Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, akhirnya bisa diperoleh sesuatu yang paling menarik dan estetik jika dibuat dari bahan tersebut? tidak hanya indah, namun juga berfungsi dengan baik dan dapat berguna bagi masyarakat luas.

Dengan bereksperimen, dimungkinkan untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dengan tanpa batasan, dengan bebas dan menemukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dengan menggabungkan bahan yang tersedia di sekitar siswa, dikombinasikan dengan berbagai macam teknik yang telah dipelajari, sangat memungkinkan untuk membuat karya seni yang menarik dan kontekstual.


B. Penggunaan Alat dan Bahan dalam Membuat Karya Seni Rupa.

Agar siswa dapat memilih berbagai bahan dan teknik dalam pembuatan karya seni, Guru diharapkan mampu memantik pola pikir siswa agar secara sadar mampu memanfaatkan keunggulan potensi lokal yang ada di sekitar mereka dengan membantu beberapa kegiatan seperti di bawah ini:

b.1. pengenalan konsep

Kondisi di setiap daerah sangat beragam, karenanya masing-masing sekolah memiliki keunggulan dan tantangan sendiri-sendiri. Guru diajak untuk bijaksana mengajak siswa memperhatikan kondisi wilayah sekolahnya masing-masing dan belajar untuk memanfaatkan keunggulan yang dimiliki dan mengacuhkan tantangan yang datang karena keterbatasan.

Regulasi

Bagaimana hak siswa, dalam hal ini kelompok siswa, dijamin dan dipenuhi atau justru dihambat oleh peraturan yang berlaku di daerahnya? Adakah peraturan tertulis tidak berlaku? Faktor regulasi apakah yang membuat kegiatan belajar mengajar menjadi tidak setara dengan sekolah lain?

Akses

Bagaimana kemampuan atau ketidakmampuan siswa dalam mengakses dan menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk menjadi siswa yang produktif ?

Beberapa hal mendasar di atas dapat dijadikan bahan pemantik diskusi oleh guru untuk membuka pola pikir siswa sehingga mereka dapat mengetahui yang ada dan dapat melihat berbagai keunggulan yang mereka miliki untuk dijadikan sebagai potensi dan kekuatan. Berbagai penjelasan tentang bahan, teknik dan keterampilan lain yang terdapat di unit sebelumnya dapat dimanfaatkan oleh siswa di unit pembelajaran ini.

b.2. Wacana Setara

Untuk menghargai kelebihan dan yang dimiliki, siswa perlu diajak untuk mengalami perbedaan itu sendiri, sehingga akhirnya dapat menilai bahwa hal itu tidak selalu objektif dan dapat menentukan penilaian masing-masing. Demikian juga siswa diajak untuk tidak selalu melihat hambatan, karena sesuatu yang tidak dimiliki dapat menjadi kesempatan untuk menghargai dan memberi arti lebih kepada apa yang dimiliki.



Sumber: buku guru Kurilulum Operasional Sekolah SMK PK KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAN PERBUKUAN PUSAT KURIKULUM DAN PERBUKUAN

Sunday, January 31, 2016

Model Evaluasi Kurikulum Iluminatif

Iluminatif, dalam model evaluasi kurikulum dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau rujukan dalam melakukan pengukuran atau penilaian terhadap pelaksanaan rencana pelajaran dan penggunaan sumber-sumber pendidikan termasuk pencapaian tujuan. Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah, tempat sistem tersebut dikembangkan, keunggulan, kelemahan, serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi, bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya. Objek evaluasi yang diajukan dalam model iluminatif ini mencakup; latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan, proses implementasi (pelaksanaan) sistem, hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa, serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan. Evaluasi iluminatif bersifat adaptif dan eklektik.
Langkah-langkah evaluasi model iluminatif adalah :
  1. Observasi : Mengamati kehiatan yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
Didukung wawancara, kuesioner, tes, dan studi documenter.
  1. Inkuiri Lanjutan : Pedomannya hasil observasi sebagai pemantapan validasi isu, kecenderungan dan permasalahan-permasalahan, untuk menarik kesimpulan.
  2. Penjelasan : Evaluator mennunjukan prinsip umum dan pola hubungan sebab-akibat, sebagai penjelasan rasional berhasil atau gagalnya kegiatan lingkungan pendidikan.

Dari langkah-langkah tersebut, faktor penting dalam evaluasi model iluminatif adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi. Hal ini disebabkan model iluminatif menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau sistem yang sedang dikembangkan. Faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi, yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagian-bagian.

Keunggulan Illuminatif Model
Menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya.

Keterbatasan Illuminatif Model
Kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi:
1. Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit.
2. Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan.
3. Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang “terbuka” dalam arti kurang spesifik dan berstruktur.
4. Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan.

Model iluminatif didasarkan pada paradigm anthropologi social, dan ditegakkan dua konsep utama yaitu sistemintruksional dan lingkungan belajar.
Sistem insruksional adalah perencanaan pengajaran yang menggunakan pendekatan sistem (komponen atau elemen yang berhubungan), atau sistem pengajaran yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berinteraksi dan saling berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Sistem instruksional yang dimaksud dalam bentuk catalog, prospektud, dan laporan kependidikan yang berisi rencana dan pernyataan resmi mengenai peraturan pembelajaran.

MODEL GENERIK PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Model Dasar Sistem Instruksional :
  1. Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau rujukan dalam melakukan suatu kegiatan.
  2. Sistem adalah seperangkat bagian-bagian atau komponen di mana yang satu sama lain saling berkaitan dan berinteraksi dalam mencapai suatu tujuan.
  3. Instruction adalah proses pembelajaran yang merupakan bentuk operasional pelaksanaan kurikulum
  4. Sistem Instruksional merupakan tatanan aktivitas belajar-mengajar yang mengandung dimensi perencanaan kegiatan belajar-mengajar. Sebagai perencanaan dan pelaksanaan. Sistem instruksional merujuk pada langkah-langkah yang seyogianya ditempuh dalam menerapkan tujuan, isi, proses dan evaluasi pengajaran. Sebagai proses sistem instruksional merujuk pada interaksi antar komponen pengajaran dalam suasana kelas secara nyata.
  5. Model kurikulum/pengajaran dikembangkan oleh Tyler (1949) dapat diterima sebagai model dasar sistem instruksional dan dari situ dapat
Rincian Masing-masing Komponen Sistem Instruksional :
  1. Tujuan, pengalaman belajar, pengorganisasian pengalaman belajar merupakan komponen pokok dari sistem kurikulum dan pengajaran (instruksional)
  2. Tujuan, memiliki berbagai tingkatan mulai dari tujuan nasional, institusional, kurikuler, instruksional umum dan instruksional khusus. Antara tujuan satu dengan lainnya memiliki saling keterkaitan dan tujuan yang lebih rendah harus mendukung pencapaian tujuan di atasnya.
  3. Dalam merumuskan tujuan taksonomi Bloom dan kawan-kawan dapat digunakan sebagai pedoman dalam menjabarkan perilaku yang diharapkan dapat dicapai.
  4. Dalam memilih isi dan pengalaman belajar perlu memperhatikan kriteria sebagaimana dikemukakan oleh Taba (1962) dan Tyler (1949) serta kriteria lainnya yang dianggap perlu.
  5. Dalam mengorganisasikan pengalaman belajar perlu memperhatikan prinsip-prinsip continuity, sequence, dan integration.
  6. Evaluasi pada dasarnya merupakan kegiatan untuk menentukan apakah suatu tujuan yang telah digariskan dapat dicapai atau tidak. Untuk itu evaluasi harus memenuhi sejumlah kriteria sebagaimana dikemukakan oleh Taba (1962).
Kerangka Konseptual Perencanaan Pembelajaran :
  1. Hubungan antar komponen dalam sistem instruksional dapat dilu-kiskan lebih jelas dalam model-model diagramatis.
  2. Model sistem instruksional dari Wong & Raulerson (1974) dan Kibler (1972) dapat diterapkan dalam pengembangan Satuan Pelajaran oleh guru.
  3. Keempat komponen pokok sistem instruksional yakni tujuan, penga-laman belajar, pengorganisasian pengalaman belajar dan evaluasi dapat digambarkan sebagai kesatuan komponen yang saling memiliki keterkaitan.

MODEL GENERIK PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Konsep dan Masalah Pengelolaan Kelas :
  1. Pengelolaan kelas menyangkut berbagai unsur yakni: guru, peserta didik, sarana belajar-mengajar, dan iklim kelas secara keseluruhan.
  2. Pengelolaan kelas memiliki hubungan timbal balik dengan proses pembelajaran.
  3. Pengelolaan kelas mencakup tiga dimensi:
    1. perilaku guru yang dapat menghasilkan keterlibatan pembelajar yang tinggi dalam kegiatan kelas
    2. perilaku mengganggu dari pembelajar yang sangat minimal
    3. penggunaan waktu belajar yang efisien.
  4. Berada tidaknya pembelajar dalam tugas belajarnya (on task/off task) berkaitan erat dengan muncul tidaknya masalah-masalah pengelolaan kelas.
  5. Guru sebagai manajer kelas yang baik menuntut penguasaan keterampilan pengelolaan kelas yang baik dan perlu menghindari hal-hal yang menjadi ciri manajer kelas yang tidak efektif.
Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
    1. Pendekatan penguatan dan pengubahan perilaku merupakan sistem dasar dalam pengelolaan kelas.
    2. Dalam pengelolaan kelas titik berat diletakkan pada penciptaan iklim kelas yang kondusif untuk belajar.
    3. Salah satu komponen iklim kelas adalah terciptanya tata tertib yang dipatuhi secara sadar.
    4. Berbagai prinsip pengelolaan kelas dapat diterapkan secara adaptif
               Lingkungan Belajar

             Lingkungan belajar adalah lingkungan social-psikologis dan materi atau interaksi anrata guru dengan siswa.
  1. MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG BAIK
    • Pengorganisasian & Pengelolaan Kelas
    • Pemanfaatan Sumber Belajar
    • Pajangan
    • Keterampilan bertanya.
  2. PENGORGANISASIAN KELAS
    • Salah satu ciri PAKEM adalah adanya pengorganisasian kelas yang bervariasi (Klasikal, Kelompok, Pasangan, Individual)
    • Tujuan : Memberi kesempatan siswa memperoleh hasil belajar maksimal sesuai tipe belajar masing-masing.
    • Organisasi Belajar No Aktivitas Individu Pasangan Kelompok Klasikal 1. Membaca dalam hati 2. Mengukur suhu
    • Pengorganisasian kelas Jenis kegiatan seperti apa? Klasikal : seluruh kelas mengerjakan hal yang sama Kelompok: sekelompok siswa mengerjakan satu tugas bersama- sama Perorangan: anak mengerjakan tugas sendiri sendiri
  3. PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR
    Sumber Belajar Dalam PAKEM
    Dalam Pakem, Sumber Belajar bervariasi :Buku, Guru, Lingkungan, Narasumber, Koran / majalah, Dll.
    Contoh-contoh Sumber Belajar Lingkungan:
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kegiatan/ Kompetensi yang dikembangkan 1 Pohon Pisang IPA Mengamati, kemudian menjelaskan bagian-bagiannya, dsb Bhs. Indonesia Mendeskripsikan, menulis puisi, menceritakan
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kompetensi yang dikembangkan Matematika Membuat bangun datar 2 Fenomena Alam IPA Mempelajari kerusakan alam dan mengembangkan sikap ilmiah
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kompetensi yang dikembangkan Matematika Membuat bangun datar 2 Fenomena Alam IPA Mempelajari kerusakan alam dan mengembangkan sikap ilmiah
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kegiatan/ Kompetensi yang dikembangkan Bindo Membuat puisi, prosa Mat Menghitung, menyajikan data dalam bentuk diagram,
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kegiatan/ Kompetensi yang dikembangkan
    • Contoh No Nama Sumber Bljr Mapel Kompetensi yang dikembangkan 3 ……………… ………………… .. ………………………… ..
           4. PAJANGAN
    Manfaat Pajangan yaitu:
    • Bukti fisik kegiatan siswa
    • Tolok ukur kemajuan belajar siswa
    • Umpan balik
    • Motivasi & penghargaan
    • Pemacu kreatifitas
    • Sarana kompetisi siswa/kelompok
    • Sumber belajar
    • Memperindah kelas

    Yang sebaiknya dipajang yaitu:
    • Hasil kreativitas siswa (tulisan, gambar,model bangun,dll) proses & produk
    • Hasil kerja siswa/kelompok
    • Media/alat peraga pembelajaran
    • Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
    • Laporan praktikum

    Yang sebaiknya tidak dipajang yaitu:
    • Hasil ulangan siswa
    • Soal-soal ulangan
    • Hasil kerja yang mengakibatkan siswa kecil hati

    Cara Memajangkan yaitu:
    • Mudah dilihat,dibaca, dipasang & dilepas.
    • Tidak mengganggu & membahayakan
    • Estetis
    • Dikelompokkan (Individual/kelompok)

    Kriteria Pemajangan yaitu:
    • Menarik
    • Baik
    • Menggugah orang lain untuk memperhatikan
    • Dapat motivasi

    Sebaiknya pajangan diganti setiap KD berganti atau sesuai dengan kesepakatan guru dengan siswa
    Contoh pajangan: hasil karya siswa yang mendapat nilai terbaik.
                5. KETRAMPILAN BERTANYA
      Salah satu teori balajar adalah mengkonstruksi pengetahuan. Kecakapan berpikir anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana pertanyaan yang diajukan guru agar pengetahuan anak terbangun dengan baik. Sehingga ternyata kita perlu belajar menyusun pertanyaan.
      1. Tujuan Guru Bertanya :
        • Menggali kemampuan/ide-ide yang dimiliki siswa
        • Mengetahui kompetensi yang telah dimiliki siswa
        • Mendorong siswa berpikir
      2. Pertanyaan yang sering dilontarkan guru kepada siswa :
        • Menuntut jawaban hafalan, karena mudah disusun dan dikoreksi jawabannya
        • Bersifat tertutup
      3. Level Pertanyaan (1)
        • Level 1 : Mencari informasi -> hanya mengungkap aspek ingatan dan tidak memerlukan pemrosesan pengetahuan yang telah dimiliki.
        • Contoh : ( Setelah membaca teks ) :
        • Di mana peristiwa itu terjadi?
        • Siapa yang menjadi korban?
      4. Level Pertanyaan (2)
        • Level 2 : Memerlukan pemrosesan / pemanfaatan pengetahuan yang dimiliki untuk menjawabnya.
        • Contoh : Jelaskan dengan kalimatmu sendiri, isi artikel yang kamu baca !
      5. Level Pertanyaan (3)
        • Level 3 : Memunculkan gagasan baru / penerapan ide / imajinatif
        • Contoh : Apa saja yang bisa kalian lakukan untuk membantu masyarakat miskin di sekitar kita? 

      Kurikulum tersembunyi

      Kurikulun tersembunyi atau hidden curriculum merupakan kurikulum tidak tertulis/dirumuskan yang dirancang dan dipikirkan oleh guru, tidak dirancang oleh pemerintah pusat/kantor sebagai panduan mengajar. Sehingga kurikulum tersembunyi ini tidak ada campur tangan dengan pemerintah dan tidak ada buku panduan tertentu, silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kurikulum ini tidak diterapkan secara umum dalam pembelajaran sebab pelaksanaan hidden kurikulum merupakan cara kreatif tersendiri guru dalam menanamkan nilai-nilai, misalnya nilai moral. Hal inilah yang merupakan dampak ringan (nurturant effect) dari suatu proses pembelajaran/kurikulum aktual (actual curriculum). Biasanya kurikulum tersembunyi ini berlangsung sejalan/bersama dengan proses pembelajaran tanpa diketahui siapapun kecuali guru itu sendiri. Apabila peserta didik mendapatkan pelajaran lain di samping materi yang diajarkan maka dapat dikatakan kurikulum tersembunyi dari guru tersebut dapat dikatakan berhasil dilaksanankan karena dapat mengimplementasikannya. Menurut Waridjan (1987) kurikulum tersembunyi merupakan kegiatan peserta didik di luar kurikulum resmi, tidak terikat oleh aturan-aturan formal, dan dapat memungkinkan terjadinya pengaruh baik atau buruk terhadap kegiatan kurikulum resmi (implementasi kurikulum resmi).
      Ilustrasi adanya penanaman nilai-nilai sebagai kurikulum tersembunyi/nurturent effect dalam pembelajaran seni rupa:
      Misalnya saja ketika guru mengajar pelajaran seni rupa tentang membuat kerajinan menggunakan batok kelapa. Pada kenyataannya memang terdapat alat khusus untuk mengupas batok kelapa menjadi bersih dan mudah untuk digunakan dalam membuat prakarya. Namun ketika memberikan tugas guru tersebut sengaja tidak memberitahukan cara mudah dalam mengupas batok kelapa kemudian anak-anak disuruh untuk bersusah payah mengupasnya sendiri. Hal ini adalah cara guru dalam memberikan pelajaran moral kepada siswa tentang nilai perngharaan kepada orang lain, karena siswa akan mengetahui bagaimana susahnya membuat kerajinan batok kelapa tersebut. Maka akan lebih menghargai orang kecil yang berjualan kerajinan tersebut karena telah mengetahui bagaimana susahnya mencari sesuap nasi. Hal tersebutpun dapat diimplementasikan juga dalam kegiatan seni rupa yang lain demi menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didik, dengan adanya moral yang baik dari calon generasi bangsa maka perubahan kedepan akan lebih baik pula.
      Sumber:
      -(PC. S. Ismiyanto: GBPP-Silabus, RPP, dan Handout MATA KULIAH KURIKULUM & BUKU TEKS PENDIDIKAN SENI RUPA)

      -(John D. McNeil: CURRICULUM A Comprehensive Introduction)

      Pembinaan orang tua/ guru terhadap kegiatan apresiasi anak

      Para orang tua/guru perlu juga mengapresiasi kesenian, setelah itu dapat menurun pada anak didik. Jedila Edu (2009) mengemukakan bahwa dalam mengapresiasi, orangtua terlebih dahulu harus bisa menghargai kesenian, baru kemudian bisa menularkannya pada anak. Anak hanya akan menikmati dan menghargai apa saja yang tersedia di depannya dan relevan dengan zamannya.
      Anak hanya akan mengapresiasi apa yang bisa dinikmati dalam keseharian anak, semua tergantung stimulasi yang diberikan pendidik. Jika keseharian anak dibiasakan dengan kesenian, maka orang tua jangan langsung mengharapkan anak-anak bisa mengapresiasi kesenian dan budaya yang memang kurang dikenal. Sebab dalam mengapresiasi seni, anak memerlukan pembinaan berupa rangsangan daya tarik. Hal ini dapat diberikan berupa cerita-cerita mengenai obyek yang baru dikenal oleh anak.
      Menurut Soedarso (1987), pendekatan dalam melakukan apresiasi ada tiga yaitu:
      1. Pendekatan aplikatif, yaitu pendekatan dengan cara melakukan sendiri macam-macam kegiatan seni.
      2. Pendekatan kesejarahan, yaitu dengan cara menganalisis dari sisi periodisasi dan asal usulnya.
      3. Pendekatan problematik, yaitu dengan cara memahami permasalahan di dalam seni.
      Melalui pendapat tersebut, pendekatan dengan cata melakukan sendiri kegiatan seni adalah dengan mengajak anak untuk berkegiatan seni seperti membuat karya seni. Sedangkan pendekatan kesejarahan dapat dilakukan hanya dengan menceritakan asal usul karya seni dengan sederhana. Untuk pendekatan problematik dapat dilakukan dengan mengajak anak memahami karya seni yang dilihat, bagaimana bentuknya, warna, dan sebagainya.
      Ida Siti Herawati dan Iraji (1999: 123) menjelaskan juga bahwa melalui kegiatan seni anak-anak sebelumnya diajak mengunjungi berbagai obyek alam atau obyek seni, atau juga bisa anak-anak melakukan kegiatan berolah seni diluar sekolah bersama-sama. Pada saat itulah guru bisa membina dan meningkatkan kepekaan citarasa keindahan anak-anak melalui hubungan cerita-cerita obyek seni tersebut, misalnya tentang keharmonisan warna, keselarasan bentuk, kesatuan unsur-unsur, ritme atau cerita tentang latar belakang seniaman dan sebagainya.
      Mengunjungi berbagai obyek seni merupakan salah satu bentuk karya wisata yang juga dapat digunakan sebagai sumber belajar. Anggaini Sudono (2000) menyebutkan bahwa pada kegiatan tersebut peserta didik dapat meneliti suatu obyek yang nantinya dapat menambah pengetahuan dan menggugah daya tarik. Karya wisata merupakan salah satu sumber inspirasi diperkenalkan oleh Marjorie J. Kostelnik pada tahun 1993.
      Sebaiknya orangtua sejak kecil mulai membiasakan anak-anak mengenal seni dan budaya tradisional daerah masing-masing. Misalnya, penggunaan bahasa, mendengarkan musik tradisional di rumah, dalam bidang seni rupa menonton pertunjukkan seni tradisional, dan sebagainya. Cara untuk mengenalkan anak pada dunia seni rupa dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan dan menarik bagi anak, seperti pada saat liburan, melakukan perjalanan/travel budaya, atau menyaksikan festival seni di daerah asal.
      Dalam melaksanakan apresiasi seni rupa anak, guru/orang tua dapat memberikan beberapa kegiatan untuk anak, antara lain :

      1. kegiatan apresiasi langsung, yaitu mengamati atau melihat karya seni rupa ketika dipamerkan atau diperlihatkan;
      2. kegiatan apresiasi tidak langsung, melalui dokumentasi karya seni rupa
      3. melatih kegiatan kreatif mencipta seni rupa atau rekreatif

      Saturday, January 30, 2016

      Cara mengatasi Stereotipe pada gambar anak


      Beberapa tips menghindari stereotype menurut Bertand Russell dalam Humaira (2011):
      1. Menyadari gambaran-gambaran yang terstandarisasi dalam benak kita, pikiran orang lain, dan dunia di sekitar kita.
      2. Kita dapat meragukan semua keputusan sehingga kita memberikan kesempatan kepada beberapa pengecualian untuk “melakukan pembuktian”
      3. Kita dapat belajar berhati-hati terhadap semua generalisasi tentang manusia.

      Saran tersebut merupakan saran untuk menghindari stereotipe secara umum. Jika di implementasikan ke dalam pembinaan gambar anak tentunya dari pengarahan orang tua/ guru sehingga dapat dijabarkan sebagai berikut:
      1. Orang tua/ guru dapat mengatakan kepada anak terlebih dahulu, bahwa masih banyak bentuk gambar yang lain dari pada yang anak gambar. Misalnya dengan menceritakan ada bermacam-macam bunga dari hanya sekedar bentuk lingkaran dan setengah lingkaran yang mengelilinginya. Ada bunga yang bentuknya mirip terumpet, ada bunga yang bentuknya mirip bola dan sebagainya.
      2. Orang tua/ guru memperlihatkan kepada anak tentang macam bentuk apa saja yang ada di sekitar kehidupan anak. Dalam hal ini termasuk tema, sehingga anak mengetahui secara nyata dan gamblang mengenai hal-hal yang begitu bermacam-macam di sekitar mereka. Dengan melihat banyaknya hal bervariatif akan merangsang daya cipta anak untuk mewujudkannya dalam bidang gambar.
      3. Orang tua/ guru tidak boleh menyalahkan segala bentuk yang dibuat oleh anak. Sebab hal itu akan membuat persepsi antara benar dan salah pada diri anak, sehingga ia memikirkan mana gambar yang benar dan mana gambar yang salah. Hal ini akan menghentikan anak dalam menuangkan bermacam gambar yang disukainya maupun yang akan diekspresikannya. Padahal di dalam menggambar, apalagi pada usia dini anak sedang dalam proses perkembangan, salah satunya potensi kreatif. Dengan membebaskan anak menuangkan ekspresinya tanpa adanya tuduhan salah dari orang tua/ guru maka anak akan lebih bebas menuangkan bermacam bentuk dalam gambarnya.

      Guru tidak harus pandai menggambar


      Mengajar anak menggambar, guru tidak harus pandai menggambar. Mengajarkan anak menggambar tidak harus dengan metode mencontoh, sehingga tidak mewajibkan guru pandai menggambar di papan tulis untuk dicontoh oleh siswa.
      Untuk menyatakan ekspresi, anak memerlukan bahasa, dalam hal ini simbol merupakan salah satu bentuk bahasa yang dapat dibuat dalam bentuk gambar. W.Wundt (dalam Zulkifli, 1993: 38), seorang ahli Jerman, mengatakan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat ekspresi, sedangkan John Dewey, seorang pendidik bangsa Amerika, mengatakan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat penghubung sosial yang sangat dibutuhkan dalam pergaulan, untuk merapatkan hubungan seseorang dengan orang lain. Sehingga bahasa ekspresi sangatlah penting untuk berkomunikasi secara tidak langsung oleh anak terhadap orang tua, maupun terhadap orang lain. Gambar dapat membantu anak dalam hal ini, gambar dapat digunakan untuk mengutarakan. Meskipun anak tidak bertujuan langsung ingin mengatakan hal pada orang lain melalui gambar, namun melalui gambar tersebut anak dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan dan apa yang sedang ia pikirkan. Dengan sering melakukan hal ini anak dapat terbiasa dengan kegiatan menggambar dan tidak canggung untuk menuangkan imaginasi ataupun idenya ke dalam bentuk gambar.
      Agar anak bisa menggambar yang dilakukan guru adalah dengan merangsang siswa menggunakan berbagai metode. Dapat dilakukan dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa kemudian menyuruhnya untuk menuangkan ke dalam bentuk gambar. Merangsang anak untuk bercerita melalui gambar dalam hal ini dapat dilakukan secara bertahap. Mulai dari hal sederhana seperti benda-benda yang mudah dibuat sampai kepada hal yang lebih rumit. Merangsang anak untuk menggambar dapat dilakukan pula dengan menyediakan alat-alat gambar yang memapu menggugah anak untuk mencoba alat tersebut. Selain itu merangsang anak dengan menunjukkan gambar-gambar sederhana dapat merangsang anak untuk membuat gambar yang lebih bagus. Pujian dan motivasi terhadap gambar yang telah dibuat anak dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dalam menggambar.