Showing posts with label seni rupa. Show all posts
Showing posts with label seni rupa. Show all posts

Tuesday, October 26, 2021

Soal TTS Materi Seni Rupa


TTS sangat baik digunakan untuk mengasah otak. Ini merupakan permainan yang sangat bermanfaat. Berikut ini mari bermain TTS. Sebagian besar pertanyaan terkait dengan komik.


Gambar 3 Mari Bermain TTS





Sumber:

DIREKTORAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Kelas VII Semester Genap. 2020.

Wednesday, October 13, 2021

Bahan dan Teknik (dalam karya seni rupa dua dimensi)


Sebelum melakukan kegiatan berkarya seni rupa dua dimensi, sangat penting bagi kamu untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai alat, bahan, dan teknik yang biasa digunakan dalam praktik berkarya seni. Usaha untuk mengenal karakter bahan, alat, dan teknik ini dengan baik hanya dapat kamu lakukan dengan kegiatan praktek secara langsung. Cobalah melakukan kegiatan apresiasi karya seni rupa dengan pendekatan aplikatif. Dengan demikian selain wawasan apresiasi kamu semakin kaya, keterampilanmu dalam berkarya seni rupa juga akan menjadi lebih baik.

1. Medium dan Bahan Karya Seni Rupa

Bahan berkarya seni rupa adalah material habis pakai yang digunakan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut. Sesuai dengan keragaman jenis karya seni rupa, bahan untuk berkarya seni rupa ini juga banyak macam dan ragamnya, ada yang berfungsi sebagai bahan utama (medium) dan ada pula sebagai bahan penunjang. Sebagai contoh, pada umumnya perupa membuat karya lukisan menggunakan kanvas dan cat sebagai bahan utamanya serta kayu dan paku sebagai bahan penunjang. Kayu digunakan sebagai bahan bingkai (spanram) untuk menempatkan kanvas dan paku untuk mengaitkan kanvas pada permukaan kayu bingkai tersebut.

Bahan untuk berkarya seni rupa dapat dikategorikan menjadi bahan alami dan bahan sintetis berdasarkan sumber bahan dan proses pengolahannya. Bahan baku alami adalah material yang bahan dasarnya berasal dari alam. Bahan-bahan ini dapat digunakan secara langsung tanpa proses pengolahan secara kimiawi di pabrik atau industri terlebih dahulu. Adapun bahan baku olahan adalah bahan-bahan alam yang telah diolah melalui proses pabriksasi atau industri tertentu menjadi bahan baru yang memiliki sifat dan karakter khusus. Berdasarkan sifat materialnya, bahan berkarya seni rupa ini dapat juga dikategorikan ke dalam bahan keras dan bahan lunak, bahan cair dan, bahan padat, dan sebagainya.

Gambar 1.23 Bahan keras dan bahan lunak bahan cair dan bahan padat

2. Alat Berkarya Seni Rupa

Alat untuk berkarya seni rupa sangat banyak jenis dan ragamnya. Beberapa karya seni rupa bahkan memiliki peralatan khusus yang tidak dipergunakan pada jenis karya lainnya. Akan tetapi ada juga alat atau bahan yang dipergunakan hampir disemua proses berkarya seni rupa. Alat-alat tulis (gambar) misalnya, adalah peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan hampir seluruh jenis karya seni rupa, terutama saat membuat rancangan karya seni tersebut.

Dalam berkarya seni rupa dua dimensi setidaknya dikenal beberapa kategori alat utama untuk berkarya, yaitu alat untuk membentuk, menggambar dan mewarnai, serta alat mencetak (mendupilkasi). Begitu juga bahan, selain kategori alat utama tersebut, kita juga mengenal alat-alat bantu lainnya, yaitu

alat-alat yang peruntukannya tidak secara khusus untuk kegiatan berkarya seni rupa tetapi sangat diperlukan dalam kegiatan berkarya seni rupa seperti: alat pemotong (pisau dan gunting), alat pengering, alat pengukur dan sebagainya. Alat-alat ini bersifat penunjang untuk memudahkan atau melancarkan proses pembuatan karya.

Adanya kemajuan teknologi, saat ini semua fungsi alat yang dipergunakan dalam berkarya seni rupa relatif dapat dilakukan oleh komputer. Walaupun demikian perlu disadari betul bahwa komputer hanyalah alat bantu. Karya seni bagaimanapun juga membutuhkan kepekaan rasa yang sulit dihasilkan oleh program komputer. Kepekaan rasa adalah kompetensi unik dan khas yang hanya dimilki manusia, berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

3. Teknik Berkarya Seni Rupa

Dalam membuat karya seni rupa murni atau terapan dibutuhkan keterampilan teknis menggunakan alat dan mengolah bahan untuk mewujudkan objek pada bidang garap. Sebagai contoh, untuk mewujudkan sebuah objek dalam karya lukisan, seorang perupa atau seniman lukis dituntut menguasai keterampilan teknis menggunakan alat (kuas) dan mengolah bahan (cat) pada kanvas (medium). Seorang pematung dituntut menguasai keterampilan teknis menggunakan alat memahat dan mengolah bahan kayu untuk mewujudkan karya seni patung.

Karya seni rupa ada juga yang dinamai berdasarkan teknik utama yang digunakan dalam pembuatannya. Seni kriya Batik misalnya, menunjukkan jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik membatik, begitu pula seni kriya anyam, untuk menamai jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik menganyam.

Beragam jenis dan karakteristik bahan yang digunakan dalam berkarya seni rupa memerlukan beragam alat dan teknik untuk mengolahnya. Suatu teknik berkarya seni rupa mungkin saja secara khusus digunakan sebagai teknik utama dalam mewujudkan satu jenis karya seni rupa tetapi mungkin juga digunakan untuk mewujudkan jenis karya seni rupa lainnya.

Gambar 1.24 Alat-alat berkarya seni lukis


Gambar 1.25 Membatik


Gambar 1.26 Membuat sketsa


Gambar 1.27 Menganyam


Tugas:

1. Carilah bahan-bahan alam di daerah kamu yang dapat dipergunakan untuk berkarya seni rupa dua dimensi

2. Sebutkan berbagai alat yang dapat digunakan dalam berkarya seni rupa dua dimensi beserta fungsinya.

3. Identifikasilah beragam teknik yang digunakan untuk mewujudkan beragam jenis karya seni rupa dua dimensi


Sumber:

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA. Seni Budaya SMA/SMK Kelas X Semester 1. 2017

Thursday, August 26, 2021

Pengenalan Seni Rupa Sekitar Kita


A. Definisi Seni Rupa

Seni sudah menjadi salah satu dalam kehidupan manusia dari zaman ke zaman, dari masa pra sejarah hingga sekarang, keberadaan seni sangat melekat dalam setiap sendi kehidupan dan manusia sehingga tidak dapat terpisahkan sampai saat ini. Seni rupa sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita bisa menyaksikan seni rupa sejak kita bangun dari tidur, melihat ornamen pakaian yang kita kenakan, lukisan yang terpajang di rumah, desain cangkir yang kita gunakan untuk minum, gambar yang kita lihat di layar telepon seluler, tayangan di televisi, gedung-gedung di perkotaan , alam yang penuh warna dan semua yang tampak dalam kehidupan manusia. Dari berbagai benda seni rupa tersebut dapat membuat perasaan kita tergugah, hampir semua benda, bangunan, pakaian dan berbagai peralatan yang dirancang dengan mempertimbangkan nilai-nilai estetika.

B. Fungsi Seni Rupa dalam Kehidupan Manusia

Fungsi seni rupa sangat beragam, tergantung pada latar belakang terciptanya karya seni rupa. Misalnya seni rupa terapan memiliki fungsi untuk memenuhi nilai guna atau fungsi praktis dalam kehidupan sehari-hari, dan seni murni memiliki fungsi sebagai sarana kepuasan batin akan keindahan. Secara umum, seni memiliki banyak fungsi seperti fenomena masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sebagai pembelajaran masyarakat terhadap segala sesuatu, baik nilai maupun alam, sebagai penyadaran terhadap peristiwa, baik sejarah, sosial, politik dan budaya, seni mampu mengisi dan mempengaruhi zamannya, dan seni sebagai penjaga nilai keindahan dan kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.

keberadaan seni rupa menurut Feldman (1967) memiliki 3 fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu:

1. Fungsi Individual, seni digunakan untuk mengungkapan rasa/ emosi dengan cara memberi tanggapan dan penghayatan seseorang terhadap lingkungannya.

2. Fungsi sosial kemasyarakatan, seni yang digunakan untuk kepentingan masyarakat luas seperti penerangan, pendidikan, kesehatan, agama dan sebagainya.

3. Fungsi fisik kebendaan, seni yang digunakan untuk keindahan di berbagai benda keperluan manusia: arsitektur, interior bangunan, furnitur, serta benda-benda pakai lainnya.

C. Klasifikasi Karya Seni Rupa Berdasarkan Waktu Perkembangannya

Seni Rupa Tradisional berkaitan erat dengan khazanah lokal budaya di daerah tertentu. Sehingga berbagai daerah biasanya memiliki karya Seni Rupa Tradisional yang unik dan beragam. Karya Seni Rupa Tradisional umumnya menggunakan pelambangan (simbolis), baik dalam bentuk metafora binatang, tumbuhan, bangunan, atau figur manusia. Simbol tersebut banyak ditemui di candi-candi, motif kain tenun, bahkan perabotan sehari-hari, biasanya bersifat spiritual, religius, dan mitologis.

Seni Rupa Modern mulai menanggalkan pakem-pakem suatu tradisi, dan mengutamakan eksperimen demi kemajuan seni, yang tergolong dalam Seni Rupa Modern yaitu Seni Murni (Fine Art) dengan mengutamakan sifat estetikanya. Seni Rupa Murni terdiri dari Seni Lukis, Seni Patung dan Seni Grafis.

Seni Rupa Kontemporer berkembang pada masa kini, merespons dan mempresentasikan situasi sosial dan budaya kekinian. Seni Rupa Kontemporer berorientasi bebas dengan medium yang tidak terbatas, dan dapat menggabungkan nilai-nilai tradisional dan modernitas. Karya Seni Rupa Kontemporer berkaitan dengan perkembangan teknologi yang berkembang di masa kini.

D. Contoh karya seni rupa berdasarkan perkembangannya

Seni Rupa Tradisional:

Gambar 1.1. Ragam Hias Toraja yang diterapkan di kain tenun.

Sumber: Berita Sastra Budaya/Melayu Online (2014) 

Gambar 1.2. Anyaman Purun dari Kalimantan sebagai peralatan tradisional.

Sumber: Tokopedia/Native Borneo (2015)


Seni Rupa Modern:


Gambar 1.3.
Lukisan Pemandangan karya Wakidi.

Sumber: Indoartnow/Wakidi (1954) 


Gambar 1.4. Lukisan Abstrak karya Achmad Sadali.

Sumber: Galeri Nasional Indonesia/Achmad Sadali (1980)


Seni Rupa Kontemporer:

Gambar 1.5. Karya Video Art oleh Krisna Murti.

Sumber: Galeri Nasional Indonesia/Krisna Murti (1996)



Gambar 1.6. Karya Seni Pertunjukan oleh FX. Harsono.

Sumber: Desain Grafis Indonesia/FX Harsono (2009)

 


Sumber: Buku Guru Seni Rupa Kurikulum Operasional Sekolah SMK Pusat Keunggulan



Wednesday, January 27, 2021

Bentuk-bentuk Kreasi Seni Budaya Nusantara


Seni budaya Nusantara sangatlah beragam. Banyaknya ragam seni dan budaya Nusantara juga membuka banyak peluang munculnya proses modifikasi. Proses modifikasi seni dan budaya merupakan bentuk kreasi. Bentuk-bentuk kreasi seni dan budaya Nusantara terwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, hingga seni pertunjukan.

1. Seni Rupa

Dalam bidang seni rupa, bentuk kreasi terwujud dalam berbagai bentuk, baik bentuk seni rupa dua dimensi maupun seni rupa tiga dimensi. Dalam bentuk seni rupa dua dimensi, kreasi seni budaya tampak melalui perkembangan seni grafis dan desain. Contohnya, banyak elemen-elemen kebudayaan tradisional, seperti motif batik dan tenun Nusantara, yang digunakan dalam desain produk dan kemasan. Contoh Iainnya adalah desain kebaya karya desainer Anne Avantie yang dikreasikan sedemikian rupa sehingga tampak elegan dan modern, tetapi tetap mengusung pakem-pakem kebaya, seperti bentuknya yang harus mengikuti bentuk tubuh pemakainya. Selain seni grafis dan desain, kreasi seni rupa dua dimensi juga tampak melalui perkembangan dunia animasi dan sinematografi di Indonesia. Sementara itu, bentuk seni rupa tiga dimensi, kreasi seni budaya tampak melalui berbagai bentuk instalasi patung, dan desain arsitektur yang mewakili budaya Nusantara.

 

Sumber: Shutterstock.com

Gambar 10.1 Desain busana karya Anne Avantie yang menggabungkan pakem kebaya dengan pakem busana modern.

2. Seni Tari

Dalam bidang seni tari, bentuk kreasi terwujud melalui bentuk-bentuk karya modifikasi tari tradisional. Bentuk modifikasi tari dilakukan dengan banyak cara, seperti menggabungkan elemen dari berbagai tarian tradisional menjadi kesatuan tarian baru, mengubah tempo dan durasi tarian, atau menggabungkan elemen tarian tradisional dengan elemen tari kontemporer. Contoh kreasi tari dilakukan oleh Sanggar Ayodya Pala yang menghasilkan beberapa tarian modifikasi, seperti tari godeg ayu, goyang amprog, japin fitroh, dan saman.

3. Seni Musik

Dalam bidang seni musik, kreasi seni budaya Nusantara terlahir sebagai bentuk eksplorasi terhadap unsur-unsur musik, seperti lagu, nada, dan alat musik tradisional. Bentuk-bentuk kreasi seni musik Nusantara sangat beragam, mulai dari aransemen ulang lagu daerah dan lagu nasional, penggunaan alat musik tradisional dalam lagu-lagu modern, hingga penciptaan musik fusion yang menggabungkan musik tradisional dan musik modern. Selain itu, dilakukan pula eksplorasi terhadap jenis aliran musik Nusantara yang telah ada sebelumnya. Contohnya adalah musik dangdut yang kini diperkaya dengan nuansa pop dan elektronik atau musik campur sari yang diperkaya dengan nuansa dangdut.

4. Seni Pertunjukan

Dalam bidang seni pertunjukan, kreasi budaya Nusantara ditunjukkan dengan keberadaan teater-teater kontemporer yang mengangkat Ciri khas teater tradisional. Contohnya, di televisi Saat ini banyak bermunculan program acara komedi yang dengan Ciri khas teater tradisional, seperti lenong, ketoprak, dan wayang orang yang dikemas dengan nuansa modern.

 

Gambar 10.2 Matah Ati, kreasi seni pertunjukan yang menggabungkan seni peran, tari, musiki dan visual.

Contoh Iainnya adalah keberadaan pertunjukan drama kolosal yang menggabungkan berbagai unsur seni, mulai dari Visual, gerak dan tari, peran, serta musik. Contoh pertunjukan kolosal seperti ini dapat ditemukan pada pertunjukan bertajuk Matah Ati yang digelar pada 2012 silam. 




Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Sunday, December 13, 2020

Jenis-jenis Seni Budaya Nusantara

 Dalam kehidupan sehari-hari, sangat mungkin kita bersinggungan dengan seni. Contohnya adalah seni arsitektur yang terwujud melalui bentuk dan desain bangunan yang unik, seni terapan yang terwujud dalam bentuk perabot berbahan gerabah, atau kegiatan menonton pertunjukan teater yang menggabungkan sastra dengan lagu dan tari. Segala bentuk seni tersebut membawa banyak pengaruh bagi kehidupan manusia, termasuk kepuasan dan perasaan menyenangkan setelah menghayatinya. 

Setiap bidang seni memiliki peran tersendiri dan saling mendukung. Contohnya, untuk sebuah pertunjukan, baik pertunjukan tari, musik, maupun teater, dibutuhkan seni lain untuk mendukungnya. Seni pendukung tersebut dapat berupa seni penataan, di antaranya tata rias, tata kostum, tata lampu, tata panggung, serta tata suara dan efek. 

Secara umum, seni dapat juga dimaknai sebagai keindahan pengindraan hasil karya manusia, yang tertuang melalui berbagai macam media. Kesenian bisa dipelajari di mana saja, baik di sekolah maupun autodidak. Untuk memudahkan dalam mempelajari bentuk-bentuk seni, umumnya orang menggolongkan seni ke dalam empat jenis, yakni sebagai berikut. 

1. Seni Rupa 

Seni rupa merupakan hasil karya manusia yang dapat dinikmati pancaindra manusia, khususnya indra penglihatan dan indra perabaan. Seni rupa dapat berbentuk dua dimensi ataupun tiga dimensi. Dalam karya seni rupa, terdapat unsur titik, garis, bidangt ruu-ug. wama, gelap/terang, dan tekstur. Contoh hasil karya seni rup add*1 lukisan/gambar, patung, ukiran, dan pahatan. 

Berdasarkan fungsinya, seni rupa dibagi menjadi dua jenis yaitu, seni rupa murni dan seni rupa terapan. Seni rupa murni adalah karya seni yang dibuat dengan mengutamakan sisi keindahan atau sisi estetikanya saja. Sementara itu, seni'_ypa tera n adalah karya seni rupa yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki kegunaan praktis, atau dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh hasil karya seni rupa terapan adalah perabot yang terbuat dari kayu, logam, rotan, bambu, tekstil, keramik. 

Di Indonesia, seni rupa berkembang cukup pesat. Dalam bidang seni lukis, terdapat banyak nama pelukis besar dengan karya yang cukup terkenal, seperti lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh atau Potret Diri karya Affandi. Bentuk seni rupa lainnya, seperti patung, instalasi, serta ukiran dan pahatan, juga dapat ditemukan dengan mudah di berbagai sudut kota. Contoh kekayaan seni rupa berbentuk patung dapat ditemukan dalam bentuk tugu di berbagai sudut Jakarta, seperti Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, dan Tugu Tani. 

Sumber: www.pixabay.com

Gambar 4.2 Cangkir dan teko keramik merupakan salah satu jenis seni terapan.

2. Seni Musik 

Seni musik adalah cabang seni yang menggunakan medium suara atau nada untuk mengungkapkan ekspresi jiwa manusia. Jadi, seni musik merupakan karya seni yang ditangkap Oleh indra pendengaran (telinga). Adapun musik adalah bunyi yang mengandung unsur-unsur tertentu, yang diterima oleh semua orang, baik individu, kelompok, maupun golongan masyarakat yang berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya, dan selera masing-masing. 

Bunyi adalah elemen utama musik yang didasarkan atas getaran yang teratur dalam jangka waktu tertentu. Getaran ini juga sering disebut frekuensi yang memiliki satuan hertz (Hz). Selain frekuensi, terdapat pula pulsa/pulse dan irama atau ritme. Pulsa berarti keteraturan ketukan dalam durasi waktu tertentu, sedangkan ritme atau irama dalam musik adalah penanda atau pembentuk keanekaragaman. Untuk menjadi sebuah musik, bunyi membutuhkan beberapa syarat, yaitu sebagai berikut. 

a. Nada 

Nada adalah elemen musik yang memiliki kadar tinggi rendah tertentu. Nada yang sudah disusun berderet, tetapi belum mengandung arti musikal disebut tangga nada. 

b. Melodi 

Melodi merupakan hasil interaksi antara nada dan ritme. Tanpa melodi, suatu lagu tidak dapat diidentifikasi karena melodi adalah unsur yang paling menentukan bahwa lagu yang satu berbeda dengan lagu yang lain. Di dalam melodi, terdapat dua bagian, yaitu sebagai berikut. 

c. Motif 

Motif adalah satuan terkecil pembentuk melodi, biasanya terdiri atas beberapa ketukan saja. 

d. Frase 

Frase adalah perluasan dari motif. Jika motif terdiri atas beberapa ketukan, frase terdiri atas beberapa birama. Adanya motif dan frase membentuk melodi. 

e. Harmoni 

Harmoni adalah hubungan nada-nada yang disusun secara vertikal, yakni dari atas ke bawah, sehingga jika dibunyikan bersamaan akan berpadu secara selaras atau harmonis. Harmoni berbeda dengan melodi yang disusun secara horizontal. 

f. Notasi musik 

Notasi adalah catatan yang dibuat untuk memudahkan pemain musik, komposer, penyanyi, dan profesi yang berhubungan dengan musik lainnya dalam membawakan lagu atau karya musik. Notasi musik juga berfungsi sebagai bentuk dokumentasi atas suatu karya musik. Notasi musik terdiri atas dua macam, yakni notasi angka dan notasi balok.

Keduanya mempunyai ciri dalam penulisannya. Notasi angka berbentuk angka yang menggunakan garis, titik, dan nol sebagai penanda panjang-pendeknya nada dan menjadi tanda istirahat. Sementara itu, notasi balok ditulis di paranada yang terdiri atas lima garis horizontal. Notasi balok berbentuk seperti grafik, yakni semakin tinggi tempatnya, semakin tinggi nadanya. Dalam paranada, terdapat simbol atau lambang untuk menentukan kunci, yaitu kunci G, F, dan C.

Sumber: www.pxhere.com Gambar 4.3 Kunci G dan F merupakan bagian dari notasi musik.

Dalam penyajiannya, tidak selalu semua unsur pembentuk musik muncul. Unsur yang muncul bisa jadi kurang satu atau dua, atau yang ekstrem adalah ketika muncul justru hanya satu atau dua unsur saja. Bunyi yang dihasilkan pun tidak selalu berupa suara manusia ataupun bunyi alat musik, melainkan bunyi benda-benda yang tidak lazim, seperti kaleng atau gelas. Meskipun demikian, bunyi dari benda-benda tersebut tetap dapat menjadi sajian musik yang menarik. Sajian musik seperti demikian sering kali disebut musik kreatif atau musik alternatif. Beberapa daerah justru sering mengadakan festival musik kreatif semacam itu. Dalam festival tersebut, para pemusik dapat membuat alat musik dengan alat-alat yang sudah tidak terpakai. Vokalnya pun tidak selalu berupa untaian kata, tetapi hanya berupa siulan, teriakan, atau permainan vokal tanpa makna. 

Di Indonesia, seni musik terwujud dalam bentuk lagu daerah dan alat musik tradisional Indonesia. Pada awalnya, seni musik di Indonesia kental dengan nuansa kedaerahan, misalnya musik karawitan yang identik dengan budaya Jawa. Pada era Penjajahan dan pascakemerdekaan, mulai berkembang jenis musik yang terpengaruh budaya luar, seperti musik gambus Yang terpengaruh budaya Arab dan musik keroncong yang terpengaruh budaya Portugis. Pada masa-masa selanjutnya, berkembang jenis musik lainnya, seperti pop, rock, dan dangdut. Pada masa kini, jenis musik di Indonesia semakin kaya dan terus berkembang. 
3. Seni Tari 
   Seni tari adalah salah satu cabang seni yang menjadikan tubuh manusia sebagai medianya. Unsur utamanya adalah gerak, sedangkan unsur pendukungnya adalah ritme/irama. Selain mengolah gerakan tubuh, seni tari juga mengolah irama dan rasa. Tarian merupakan bentuk penghormatan terhadap seni gerak. Gerak sendiri adalah bahasa tertua yang telah ada jauh sebelum manusia mengenal bahasa lisan dan aksara. Dengan adanya gerak, manusia dapat mengenali kehidupan, mengungkapkan keinginan, dan lain sebagainya. Setelah manusia mengenal peradaban, unsur-unsur pendukung tari lainnya muncul, seperti tata rias, tata busana, dan tata iringan. 

Gambar 4.4 Seni tari terlihat indah karena didukung oleh beberapa unsur, salah satunya tata rias.

Terdapat beberapa definisi tentang tari, baik dari seniman tari dalam negeri maupun dari mancanegara. Semua definisi tvi tersebut tidak ada yang meninggalkan kata gerak karena gerak mernang merupakan unsur utama tari. Melalui hal tersebut, dapt disimpuikan bahwa tari merupakan susunan gerak anggota martusia yang ekspresif, indah, berirama, selaras dengan iringan rnusik. prta dilengkapi dengan tata rias dan busana yang harmonis. 
Gerak dalam tari adalah gerakan yang indah. Keindahan dalam tari tidak selalu dimaknai gerak iemah gemulai, melainkan dapat pula berupa gerak yang kuat sepenuh tenaga, lemah tanpa tenaga, kaku, lentur, dan lain sebagainya. Semua variasi gerakan tari menuruti tuntutan penata tarinya.
Secara garis besar, gerakan dalam tari dibagi menjadi dua, yakni sebagai berikut. 
a. Gerak murni, yakni gerak yang tidak mempunyai arti tertentu dan hanya mementingkan segi keindahan atau segi artistik. 
b. Gerak maknawi, yakni adalah gerak yang mempunyai arti atau makna, tetapi sudah mengalami distorsi (perubahan atau perombakan) dan stilisasi (penghalusan). Gerak maknawi juga dikenal dengan istilah gestur. 
DaÅ‚am sebuah tarian, kedua gerak tersebut sudah seharusnya ada karena tanpa salah satu dari keduanya, nilai tari akan terasa kurang maknanya. Tari yang beriSÈ› gerak maknawi saja hampir sama dengan pantomim. Sementara iÅ‚u, tari yang berisi gerak murni saja membuat pesan yang hendak disampaikan penata tari sulit terungkap. 
Selain gerak murni dan gerak maknawi, ada pula terdapat pula gerak representasional (representatif) dan gerak nonrepresentasional (abstrak). Gerak representasional adalah gerak yang mudah dimengerti oleh penonton karena menggambarkan sesuatu dengan jelas. Sementara itu, gerak nonrepresentasional adalah gerak yang tidak jelas menggambarkan sesuatu (abstrak). Kalau dicermati, gerak representatif dan nonrepresentatif adalah cara penyampaian 'pesan' tarian. 
Kalau pesannya mudah dimengerti oleh penikmatnya disebut representasional, biasanya banyak menggunakan gerak murni, dan simbol- simbol yang hanya dimengerti oleh pembuatnya/ koreografernya. 
Sebuah gerakan tari tercipta karena didukung oleh tenaga, ruang, dan waktu. Gerak membutuhkan tenaga. Penari yang baik dapat mengatur tenaganya sehingga tidak akan kehabisan tenaga usai menari. Tenaga penari digunakan mulai dari saat memulai sampai mengakhiri sebuah tarian. Penari juga harus dapat mengendalikan tenaganya. Saat bergerak cepat, lalu tiba-tiba berhenti, penari harus menyiasati agar jangan sampai terhuyung atau terjatuh. Penari yang baik adalah penari yang mampu melakukan gerakan sesuai keinginan penata tarinya, didukung dengan ekspresi dan mimik muka yang sesuai. 
Dalam penyajian seni tari, bukan hanya unsur utama gerak dan ritme yang muncul, melainkan juga unsur pendukung tari Iainnya, yaitu sebagai berikut. 
a. Tata rias dan busana 
Tata rias di dalam seni tari adalah upaya untuk mengubah hal natural menjadi estetis atau untuk menyamarkan kekurangan. Contohnya, tata rias digunakan untuk menyamarkan bentuk hidung, bentuk bibir, dagu, pipi, dan lain sebagainya, sesuai tuntutan tarian yang dibawakan. Selain itu, tata rías juga digunakan untuk memperkuat karakter yang dibawakan, seperti tata rias yang membentuk penokohan antagonis atau membawakan karakter fiktif, seperti raksasa dan nenek sihir. Selain tata rias, tata rambut juga memegang peranan penting. Selain meningkatkan segi estetis, tata rambut juga dapat menunjukkan suatu periode 1 sejarah, misalnya tata rambut zaman Majapahit berbeda dengan tata rambut zaman Mataram kuno. 
b. Tata busana 
Selain tata rias dan tata rambut, hal lain yang mendukung pementasan tari adalah tata busana atau tata kostum. Untuk tari modern, umumnya kostum yang digunakan adalah kostum yang terbuat dari bahan yang ringan dan tidak mengganggu gerak para penari. Untuk tari tradisional, tata rias ataupun tata busananya sudah memiliki ketentuan tersendiri secara turun-temurun, harus diikuti, dan tidak dapat diubah secara sembarangan. Jika ada elemen yang diubah, esensi tari tradisional tersebut akan terganggu atau bahkan hilang. 
c. Tata lampu 
Tari tradisional kebanyakan menggunakan lampu general yang berfungsi untuk menerangi tempat pentas dengan sinar merata. Permainan lampu yang berlebihan, seperti penggunaan lampu kedip, justru mengganggu, baik bagi penonton maupun penari. 
 Indonesia menyimpan banyak sekali kekayaan seni tari. Tari tradisional yang terwujud dalam bentuk tarian adat tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Contoh tarian adat di Indonesia yang cukup terkenal adalah tari pendet dari Bali, tari jaipong dari Jawa Barat, dan tari gambyong dari Jawa Tengah. Seiring perkembangan waktu, tarian adat di Indonesia terus bertahan dan berevolusi. Bahkan, kini tak jarang tarian adat Indonesia dikreasikan dalam bentuk baru agar generasi muda tertarik untuk terus melestarikannya. 

4. Seni Teater 
Seni teater adalah cabang seni yang di dalamnya terdapat cabang-cabang seni Iainnya, seperti seni peran, seni gerak, seni rupa, dan seni suara/bunyi yang saling berkolaborasi. Awalnya, kata teater berasal dari bahasa Yunani, yakni theatron, yang memiliki makna gedung pertunjukan. Namun, pada perkembangannya, kata teater bermakna Iebih luas, yakni segala sesuatu yang dipertunjukkan di depan banyak orang. Jadi, teater secara sederhana dapat dimaknai sebagai pertunjukan. Contohcontoh teater tradisional dari berbagai daerah adalah ketoprak, wayang orang, ludruk, mamanda, cak, dagelan, dan dulmuluk. 
Teater juga dapat dimaknai sebagai realitas fiktif di atas Panggung yang dibawakan oleh aktor (baik aktor riil maupun boneka) dan dihadiri penonton secara langsung. 
Selain digunakan untuk menyebut bentuk pertunjukan, istilah teater juga digunakan untuk menyebut tempat pemutaran fil m ataupun kelompok yang berkegiatan atau berolah seni peran. Beberapa kelompok yang mengusung nama teater di Indonesia, di antaranya Teater Koma, Teater Populer, Teater Alam, Teater Gandrik, Teater Garasi, dan Teater Mandiri. Teater juga dipakai untuk menyebut kegiatan yang mendalami olah vokal' Olah tubuh, dan olah peran. Hal ini semakin menunjukkan luasnya makna teater saat ini. 
Seperti halnya seni tari, keberadaan seni teater juga ditentukan oleh keberadaan unsur-unsur pembentuknya, yakni sebagai berikut.:
a. Naskah/lakon 
Naskah adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Di dalam naskah, termuat nama-nama tokoh, dialog, serta keterangan terkait keadaan panggung yang diperlukan (setting). Tidak jarang di dalamnya terdapat keterangan yang lebih lengkap, seperti keterangan terkait blocking, tata busana, tata lampu, tata panggung, dan tata suara (musik pengiring/ilustrasi). 
b. Sutradara 
Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan. Sutradara bertugas memilih naskah, membuat tafsir naskah, memilih dan melatih, serta mengoordinasikan setiap bagian. 
c. Pemain/pemeran 
Pemain adalah orang yang memperagakan cerita dan menghidupkan naskah di atas panggung. Pemain dalam pementasan teater juga dikenal dengan istilah aktor atau aktris. 
d. Penonton 
Dalam pertunjukan teater, penonton adalah unsur yang paling penting. Sebagus apa pun persiapan pementasan, apabila tidak ada penonton, pementasan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Alasannya adalah unsur teater sejatinya akan ditunjukkan kepada penonton. 
Selain beberapa unsur utama di atas, seni teater pun memiliki beberapa unsur pendukung yang dapat lebih mem ercantik pertunjukan, yaitu sebagai berikut:
a. Tata panggung/scenery 
Tata panggung adalah wujud dari gambaran kejadian saat lakon dipentaskan. Tata panggung bukan hanya dekorasi, tetapi juga tata letak perabot yang akan digunakan pemeran saat pementasan berlangsung. Penataan disesuaikan dengan tuntutan cerita dan tuntutan artistik sutradara. Oleh sebab itu, sebelum merancang tata letak, penata panggung akan mempelajari tempat pementasan dan lakon yang dipentaskan, serta melakukan diskusi dengan sutradara. 
Panggung di Indonesia secara umum ada dua jenis, yakni panggung arena dan panggung proscenium. Panggung arena membuat penonton dapat melihat setidaknya dari tiga arah. Sementara itu, panggung proscenium, yang dalam dunia teater juga dikenal dengan nama panggung bingkai, adalah panggung yang hanya dapat dilihat dari satu arah, yakni arah depan. Tata panggung harus mampu memberikan gambaran perbedaan ruang dan waktu, misalnya zaman penjajahan Belanda yang berbeda dengan zaman penjajahan Jepang. Suasana alam terbuka berbeda dengan suasana di dalam rumah. 
b. Tata rias dan busana 
Tata rias dalam seni teater hampir sama fungsinya dengan tata rias dalam seni tari. Tata rias dalam seni teater berfungsi mempertegas karakter dan menambah aspek dramatik. Tata busana di dalam seni teater dan seni tari, khususnya drama tari, sama-sama bertujuan memperjelas karakter, memudahkan penonton dalam membedakan tokoh, serta menampilkan simbol-simbol watak, misalnya warna merah yang digunakan untuk menandai tokoh antagonis. Tata busana juga menjadi penanda periode sejarah. Contohnya, pakaian pada masa penjajahan berbeda dengan Pakaian pascakemerdekaan. Bahkan, busana tahun 80-an berbeda dengan tahun 90-an, 2000-an, ataupun masa kini. Busana juga menunjukkan identitas bangsa, terlebih jika busana tersebut adalah busana tradisional.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Wednesday, March 25, 2020

Konsep Keindahan Seni Rupa (rangkuman singkat)

Pada umumnya konsep keindahan seni rupa di dunia dibagi  menjadi dua yaitu konsep keindahan seni rupa barat dan konsep keindahan seni rupa timur.
Ciri konsep keindahan seni rupa barat : seni lukis yang memanjakan mata
Ciri konsep keindahan seni rupa timur: 
Seni lukis memanjakan sisi spiritual dan pemikiran
Karya seni mengungkapkan hal esensial/ hal pokok
Lebih mengutamakan nilai spiritual dan religius
Keindahan berusaha diselaraskan denga kehidupan alam semensta
Ekspresi atau emosi lebih teraktualisasi lewat pembentukan
Bentuk seni dekoratif, pewarnaan tanpa pencahayaan, subjek/figure terlihat datar
Seni merupakan produk budaya masyarakat yang bersifat komunal

Keindahan seni rupa timur dibagi lagi menjadi beberapa konsep yaitu sebagai berikut:

KONSEP KEINDAHAN SENI RUPA 
TIONGKOK, memiliki ciri:
Menitik beratkan pada ajaran Tao.
Menciptakan karya seni yang harus mengungkapkan roh, karakter, atau watak.
Karya yang diciptakan mengutamakan sisi dan pengalaman spiritual yang akan diperoleh.
Mengesampingkan bentuk dan warna yang semarak.
Penggunaan warna dalam lukisan tidak bersifat fugsional tetapi bersifat simbolisme.
Karya seni mengutamakan esensi.
Contoh: Lukisan Tiongkok Kuno.

KONSEP KEINDAHAN SENI RUPA 
MESIR DAN MESOPOTAMIA, memiliki ciri:
Dipengaruhi oleh hal-hal bersifat transenden atau di luar kuasa manusia.
Lukisan dibuat  dengan tujuan ritual dan keagamaan.
Lukisan dibuat bukan untuk keindahan semata.
Lukisan lebih banyak bersubjek figur-figur manusia.
Subjek berbentuk dekoratif, warna cerah, tidak menggunakan perspektif, tidak ada gelap terang / bayangan.
Contoh: Piramida Giza, patung Anubis, Zigurat.
Contoh: lukisan dalam kertas papyrus.

KONSEP KEINDAHAN SENI RUPA 
INDIA, memiliki ciri:
Kehidupan manusia harus selaras/ berjalan secara harmoni dengan alam sekitarnya
Jenis karya seni ramah dan tidak merusak alam.
Karya seni banyak mengadaptasi simbol-simbol dari agama Hindu dan Buddha.
Keindahan berkaitan erat dengan konsep ketuhanan dan religi.
Mempercayai segala sesuatu yang ada di dunia adalah fana atau tidak kekal.
Karya seni bersifat sederhana atau tidak terlalu rumit.
Contoh: pahatan patung gajah menunjukkan harmoni antara kehidupan manusia dan alam sekitarnya.

KONSEP KEINDAHAN SENI RUPA 
TIMUR TENGAH, memiliki ciri:
Melarang penggambaran makhluk hidup.
Seni yang baik dan indah adalah yang sejalan dengan ajaran Islam.
Karya seni berupa ornament atau arabseka.
Sesuatu yang bentuk dan sifatnya indah akan dicintai.
Keindahan membawa kesenangan dan kebahagiaan.
Konsep keindahan adalah sesuatu yang menghasilkan kesempurnaan.
Contoh: kaligrafi, ornamen-ornamen geometris, arsitektur masjid, motif stilasi tumbuhan pada permadani.

KONSEP KEINDAHAN SENI RUPA 
INDONESIA, memiliki ciri:
Karya seni di masa lampau sarat dengan nilai spiritual dan religi.
Menitik beratkan pada hubungan antara manusia dan alam sekitarnya.
Banyak memasukkan simbol alam.
Media yang digunakan berasal dari alam seperti kayu atau batu.
Bentuk karya seni rupa bersifat komunal.
Hasil karya banyak yang mencantumkan daerah asal.
Contoh: candi, arca, wayang, dll

Wednesday, May 15, 2019

MENGANALISIS DAN MENGEKSPLORASI KARYA SENI BUDAYA NUSANTARA



1. Pengertian seni rupa Nusantara
Seni rupa Nusantara adalah seni rupa yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Ini bukan berarti seni rupa tersebut hanya ada satu jenis di Indonesia, seni tersebut sangat beragam di setiap daerah yang ada di wilayah Indonesia. Hal tersebut terjadi karena Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Keragaman yang ada dapat berupa keragaman teknik, gagasan, corak, maupun keahlian masyarakat di daerah tersebut. Karya seni rupa Nusantara merupakan perwujudan dari pola hidup, kepercayaan, dan nilai-nilai yang ada di masing-masing daerah.
Perkembangan seni rupa Nusantara tidak lepas dari perkembangan peradaban bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah mengenal seni rupa sejak jaman prasejarah. Kemudian semakin berkembang dengan adanya pengaruh agama Hindu dan Buddha di Indonesia. 
Dan selanjutnya semakin bervariasi sejak masuknya agama Islam, agama Kristen, dan kolonialisme.

2. Fungsi Seni Rupa Nusantara.
Secara umum, fungsi utama seni rupa nusantara yaitu:
a. Fungsi praktis (kegunaan), adalah fungsi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan benda pakai atau yang biasa disebut seni rupa terapan. Contoh: peralatan makan, meja, kursi, tempat tidur, pakaian, dan sarana persembahyangan.
b. Fungsi estetis (keindahan), adalah fungsi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan benda hias atau yang biasa disebut seni rupa murni. Contoh: patung, arca, lukisan, dan ukiran.
c. Contoh Seni Rupa Nusantara.
Berikut adalah beberapa contoh seni rupa Nusantara:
1. Rumah adat adalah bangunan tradisional yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Setiap daerah di Indonesia memiliki corak rumah adatnya masing-masing.
2. Patung adalah seni pahat dan ukiran berbentuk tiga dimensi yang biasanya menggunakan media batu atau kayu. Patung kebanyakan mendapat pengaruh dari kebudayaan Hindu.
3. Anyaman adalah kerajinan yang dibuat dengan cara susup menyusup atau silang menyilang antara pakan dan lungsi. Anyaman dapat dijadikan keranjang atau mebel.

3. Teknik Pembuatan Karya Seni Rupa Nusantara.
Karya seni rupa Nusantara dibuat dengan berbagai ragam teknik sesuai dengan keterampilan masyarakat di masing-masing daerah. Berikut adalah beberapa tekniknya:
a. Teknik menggambar yang meliputi linier, blok, dusel, pointilis, aquarel, dan plakat.
b. Teknik membuat patung yang meliputi membutsir, cetak, cor, pahat, dan konstruksi.
c. Teknik membatik.
d. Teknik grafis yakni dengan mencetak.
e. Makna dalam Karya Seni Rupa Nusantara.
Karya-karya seni rupa Nusantara sarat akan makna. Makna tersebut dapat dilihat dari bentuk, ukuran, motif, pemilihan warna, simbol, dan corak. Setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan makna ke dalam karya seni rupa.

MENGEKSPLORASI KARYA SENI BUDAYA NUSANTARA
Contoh karya seni rupa Nusantara : 
1. Rumah adat

Rumah joglo merupakan rumah adat Jawa Tengah yang dibangun berlandaskan keyakinan atau filosofi jawa. Penyebutan rumah joglo terjadi akibat bentuk atap rumah joglo yang menyerupai dua gunung atau taJUG LOro (JUGLO) dan berkembang penyebutannya menjadi Joglo. Penggunaan gunung diyakini oleh masyarakat Jawa saat itu sebagai tempat suci atau rumah para dewa. 
Tidak hanya di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta pun memiliki rumah joglo dengan cirri khas daerahnya masing-masing. Ciri khas rumah joglo secara umum yaitu memiliki pekarangan yang luas dan lapang tanpa dibatasi oleh sekat, bangunannya berbentuk persegi panjang, memiliki tiga pintu depan dan terdapat tiang yang disebut Soko Guru atau Saka Guru. Denah utama rumah Joglo terdiri dari tiga bagian utama yaitu, Pendhapa atau Pendopo, Pringgitan dan Omah Dalem atau Omah Njero dan bagian tambahan lainnya. Berikut ini skema sederhana rumah Joglo.
Umumnya rumah Joglo dibangun menggunakan kayu jati berkualitas tinggi sehingga awet tetapi juga mahal. Oleh karena itu dahulu rumah Joglo hanya mampu dibangun untuk masyarakat kalangan atas. 
Rumah Joglo lebih dikenal dengan tiang soko guru dan tumpang sarinya. Tiang Soko Guru atau Sakaning Guru merupakan empat buah tiang penopang atap yang berada dibagian tengah pendhapa dan lebih tinggi dari tiang-tiang lainnya. Selain fungsinya sebagai penopang atap dan penyangga tegaknya rumah, masing-masing tiang ini juga menjadi simbol empat arah mata angin yang mewakili empat esensi kesempurnaan hidup dan esensi dari sifat manusia. Tiang soko guru ini terletak dibagian pendopo terdiri bersama dengan tiang pangarak atau tiang samping yang menopang bagian lain pendopo.
Walaupun berfungsi sebagai penopang atap, tiang-tiang soko guru ini tidak langsung bersentuhan dengan atap, akan tetapi menempel pada suatu undakan - undakan atau balok-balok yang bersusun dan memiliki pola piramida terbalik atau brunjung, yaitu semakin ke bawah semakin mengecil atau yang biasa dikenal dengan tumpang sari. Selain bentuk brunjung atau piramida terbalik, sekarang ini banyak juga tumpang sari yang berbentuk menyerupai piramida dimana susunan balok semakin ke atas semakin mengerucut. Tumpang sari ini berfungsi untuk menopang bagian langit-langit Joglo (pamindhangan).
Selain tiang soko guru dan tumpang sari, tentu saja atap rumah joglo menjadi cirri khas utama rumah joglo. Penyebutan Joglo berdasarkan bentuk atapnya yang berbentuk gunung dan dinamakan Tajug, namun kemudian berkembang menjadi atap Joglo/Juglo yaitu singkatan dari Tajug Loro atau dua tajug yang digabungkan menjadi satu.
Atap rumah Joglo terdiri atas dua bagian, yaitu rangka atap dan penutup atap. Bahan yang umumnya digunakan untuk rangka atap Joglo yaitu kayu, baik kayu polos maupun yang dipenuhi ukiran, yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing penghuni. Sedangkan bahan penutup atap biasanya menggunakan genteng tanah liat dan atap sirap. 
Genteng tanah liat dihasilkan dari tanah liat yang ditekan kemudian dibakar. Kekurangan dari genteng ini adalah terjadinya perubahan warna dan munculnya jamur bila semakin lama digunakan. Sedangkan atap sirap terbuat dari kepingan tipis kayu ulin. Kelebihan penutup atap ini yaitu ringan, kuat, memantulkan panas sehingga membuat ruangan dibawah lebih sejuk dan membuat tampilan atap lebih cantik. Selain itu atap sirai mampu bertahan sampai 25 tahun bahkan bisa selamanya bergantung dari lingkungan, kualitas kayu yang digunakan, dan besarnya sudut atap.

2. Patung

Patung Selamat Datang adalah sebuah Patung yang terletak di tengah Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Indonesia. Patung ini berupa patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan. Patung tersebut menghadap ke utara yang berarti mereka menyambut orang-orang yang datang dari arah Monumen Nasional. 
Sejarah Patung ini diperuntukan ketika tahun 1962, Jakarta menyambut tamu kenegaraan di Bundaran Hotel Indonesia. Ketika itu, Presiden Sukarno membangun Monumen Selamat Datang dalam rangka Asian Games IV yang diadakan di Jakarta. Para atlet dan official menginap di Hotel Indonesia dan bertanding di komplek olahraga Ikada, sekarang komplek Gelora Bung Karno, Senayan. 
Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Sukarno dan rancangan awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tinggi patung perunggu ini dari kepala sampai kaki 5 m, sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah +-7 m, dan tinggi kaki patung adalah 10 m, dengan total keseluruhan +- 17 m. Pelaksana pembuatan patung ini adalah tim pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni. Pada saat pembuatannya, Presiden Sukarno didampingi Duta Besar Amerika Serikat, Howard P. Jones beserta para menteri sempat berkunjung ke sanggar Edhi Sunarso. Pembuatan Patung ini memakan waktu sekitar satu tahun. Patung Selamat Datang kemudian diresmikan oleh Sukarno pada tahun 1962.
Patung Selamat Datang terletak di pusat Bundaran Hotel Indonesia atau Bundaran HI. Dinamakan demikian karena letaknya yang dekat dengan Hotel Indonesia. Ejaan lain yang diterima adalah Bunderan HI, yaitu bahasa yang lebih dekat dengan Bahasa Jawa-Betawi, dialek yang lebih dekat dengan identitas Jakarta. Bundaran ini terletak di tengah persimpangan jalan M.H. Thamrin dengan Jalan Imam Bonjol, Jalan Sutan Syahrir, dan Jalan Kebon Kacang. Pada tahun 2002, Bundaran Hotel Indonesia direstorasi oleh PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama dengan penambahan air mancur baru, desain kolam baru, dan pencahayaan. Setelah Era Reformasi, Patung Selamat Datang yang terletak di Bundaran HI menjadi tempat populer untuk melakukan aksi orasi. Setiap hari minggu pagi, saat dilaksanakan Jakarta Car Free Day, bundaran ini dipenuhi oleh orang yang berolahraga, bersepeda, maupun pedagang kaki lima.

3. Anyaman
a) Sepatu 
  
Untuk permukaan kulit sepatu, berbagai jenis kain biasanya menjadi material utama. Jika ingin mencari sepatu etnik, batik hingga tenun menjadi primadona karena seakan menampilkan budaya lokal khas Indonesia. Hal inilah yang tidak sepenuhnya diterima oleh Dyah Chandra yang berasal dari Kalimantan Tengah. Menurutnya, batik maupun tenun bukanlah kearifan lokal yang dimiliki Kalimantan, walaupun ditampilkan dengan motif ala suku Dayak. 
Ia pun memilih rotan, yang dianggap sumber daya yang melimpah di Kalimantan, untuk dijadikan material utama berbagai produk handmade yang dibuatnya. Namun yang unik, Dyah Chandra tidak hanya mengaplikasikan anyaman rotan dalam bentuk tas rotan yang sudah umum, melainkan juga sepatu! Ya, sepatu-sepatu dari anyaman rotan dari pengrajin asal Palangkaraya ini bisa digolongkan sebagai sepatu etnik karena menampilkan motif-motif Dayak yang begitu kental. Mitos bahwa permukaan sepatu haruslah berasal dari kain luntur sudah. Buktinya, fungsi kain tersebut bahkan bisa dengan mudah digantikan oleh anyaman rotan.
b) Kap lampu

Selain kayu maupun bambu, anyaman rotan menjadi pilihan lain untuk dijadikan kap lampu cantik yang siap menghiasi berbagai ruangan di rumahmu. Menampilkan kesan alami yang begitu kuat, jenis kerajinan dari rotan yang satu ini bahkan pamornya sudah melebihi kap lampu dari kayu.
Besarnya minat orang terhadap kap lampu dari anyaman rotan bukan sekadar dari bentuknya yang cantik dan terkesan alami. Nyatanya, kap lampu dari sumber daya yang satu ini menjadi pilihan karena mampu memancarkan cahaya maksimal dari sumber cahaya. Ini karena anyaman rotan cenderung memiliki celah yang lebih lebar antar lembarnya dibandingkan anyaman bambu ataupun kayu. Jadi, kap lampu dari rotan sangat tepat buat kamu yang membutuhkan cahaya terang, namun ruangannya ingin tetap terlihat sejuk dan alami.

Jenis, Unsur, Dan Fungsi Seni Budaya Nusantara

Jenis, Unsur, Dan Fungsi Seni Budaya Nusantara

A. Seni Rupa Nusantara
1. Jenis Seni Rupa Nusantara
a. Seni rupa berdasarkan jenis matra dibagi menjadi dua, yaitu seni rupa dwimatra (dua dimensi) dan seni rupa trimatra (tiga dimensi). 
1. Seni rupa dwimatra (dua dimensi) yaitu karya seni rupa berbentuk datar atau dua ukuran (panjang dan lebar) yang hanya dapat dipandang dari arah depan saja. Contohnya yaitu : 
1) Gambar 
Adalah karya seni rupa dua dimensi yang perwujudannya menekankan pada unsur garis, bentuk, dan aspek kegunaan, pada umumnya termasuk seni terapan. Meliputi : gambar sketsa, gambar ilustrasi, gambar reklame (poster, pamflet, etalase, iklan, dan papan nama), gambar hiasan (ornamen), gambar bentuk (manusia, binatang, alam, dan benda), gambar denah, gambar perspektif, gambar dekoratif, dan gambar teknik.
2) Lukisan (seni lukis)
Seni lukis lebih mengutamakan kreativitas dan ekspresi dari perupa atau lebih banyak mengungkapkan fungsi pribadi. Oleh karena itu seni lukis termasuk seni murni. 
Karya lukisan tidak hanya mengungkapkan bentuk – bentuk objektif saja, namun dituntut pula nilai – nilai subjektifnya. Pengungkapan bentuk objektif adalah melalui komposisi, sedangkan pengungkapan nilai subjektif adalah melalui ekspresi, kreativitas, ide atau gagasan yang dapat menciptakan gaya atau corak lukisan.
Jenis seni lukis beraneka ragam sesuai dengan gaya, corak atau aliran (realism, surealisme, impresionisme, ekspresionisme, dadaisme, primitivisme, pointilisme, kubisme, abstrak dan sebagainya).
3) Seni grafis
Seni grafis atau seni cetak adalah seni yang hasil cetakannya dikerjakan dengan tangan.
Berdasarkan jenis klise (cetakan) seni grafis dibagi menjadi empat macam, yaitu : 
a) Cetak tinggi atau timbul;
b) Cetak dalam;
c) Cetak datar;
d) Cetak tembus atau saring.
4) Seni dekorasi dua dimensi
Seni dekorasi adalah menghias ruang atau bidang dua dimensi, meliputi : 
a) Motif hias : digunakan untuk menghias bidang dengan bentuk ragam hias, antara lain hiasan stilir, geometris, sulur, meander, binatang, dan bebas.
b) Motif lukis hias dan gambar hiasan atara lain : mozaik, aplikasi, mural, dan tempera.
5) Seni kriya (kerajinan) dua dimensi
Seni kriya dua dimensi macamnya antara lain seni ukir, seni anyaman, sulaman, border, seni batik, tenun, ikat celup, dan gambar hiasan.
2. Seni rupa trimatra (tiga dimensi) yaitu dapat dipandang dan dinikmati dari berbagai sisi (arah pandangan). Seni rupa trimatra memiliki ukuran panjang, lebar, tinggi, dan volume. Contohnya yaitu : 
1) Seni patung
Merupakan karya seni rupa tiga dimensi termasuk seni murni, perwujudannya bias figurative (objeknya meniru alam) atau non figurative yang disebut abstrak.
2) Seni kerajinan tiga dimensi
Terdiri dari kerajinan logam, kayu, batu, dan keramik.
3) Seni dekorasi tiga dimensi
a) Hiasan trimatra, seperti merangkai janur, umbul – umbul, dan lampion;
b) Seni interior (dekorasi ruang tertutup)
c) Seni eksterior (dekorasi ruang terbuka) seperti taman dan halaman.
b. Karya seni rupa menurut teknik pembuatannya dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Teknik handmade (buatan tangan);
2. Teknik masinal (dikerjakan mesin);
3. Teknik computer.
c. Karya seni rupa berdasarkan alirannya antara lain dibedakan menjadi naturalisme, realisme, surealisme, ekspresionisme, impresionisme, primitifisme, dan abstrak (non figuratif).
d. Karya seni rupa menurut tujuannya dibagi menjadi dua, yaitu karya seni rupa murni dan karya seni rupa terapan.
1. Karya seni rupa murni, diciptakan sebagai sarana atau media berekspresi, rekreasi, terapi, dan komunikasi.
Karya seni rupa murni disebut juga seni indah (fine art). Seni rupa murni merupakan seni yang semata – mata hanya terikat pada kepentingan estetis, artistik, dan ekspresi perupa dalam karyanya. Penikmatan seni murni lebih erat hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan emosi atau rohani.
Karya seni rupa murni sengaja diciptakan dengan tujuan sebagai sarana ekspresi, komunikasi, rekreasi, dan terapi. Perwujudan karya seni rupa murni bias berupa dwimatra (dua dimensi) atau trimatra (tiga dimensi).
Contoh karya seni rupa murni antara lain sebagai berikut : 
1) Seni lukis dan seni grafis (dua dimensi).
2) Seni patung dan seni keramik murni (tiga dimensi).
Seni lukis dan seni patung cenderung mengekspresikan konsep seniman melalui media ungkap dan teknik berdasarkan penerapan prinsip - prinsip 
2. Karya seni rupa terapan, diciptakan untuk tujuan fungsional (untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis).
Karya seni rupa terapan adalah karya seni ynag dirancang dengan tujuan fungsional, yaitu untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis. Contohnya kerajinan tangan, alat – alat rumah tangga, pakaian, perabot dapur, perlengkapan interior, rumah, mobil, furniture, dan sebagainya.
Seni rupa terapan dibagi menjadi dua, yaitu : 
1) Seni kriya atau seni kerajinan.
Seni kriya atau kerajinan tangan adalah suatu hasil karya tangan yang dibuat dengan tujuan untuk melestarikan seni rupa tradisional atau seni rupa daerah serta seni rupa bangsa yang digarap oleh masyarakat sebagai ciri khas suatu daerah atau bangsa yang umumnya terikat oleh aturan – aturan tertentu atau nilai – nilai filosofi. Contohnya kerajinan perak bakar dari Kota Gede Yogyakarta, kerajinan kuningan Juwana, ukiran kayu Jepara, keramik Kasongan, anyaman bamboo Tasikmalaya, seni anyam dan patung kayu Bali.
2) Desain.
Desain diciptakan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen produk seni. Dalam membuat komposisi (menyusun) atau menciptakan bentuk desain, kita harus berpegang teguh pada prinsip – prinsip organisasi unsur seni atau desain, yaitu : 
a) Keseimbangan (balance);
b) Kesatuan (unity);
c) Irama (ritme);
d) Kontras (jauh berbeda);
e) Selaras atau serasi (harmony).
2. Fungsi Seni Rupa Nusantara
1) Fungsi primer atau fungsi pribadi;
2) Fungsi sekunder atau fungsi sosial;
3) Fungsi fisik atau fungsi pakai.
3. Unsur Seni Rupa Nusantara

Unsur – unsur seni rupa yang pokok antara lain meliputi garis, arah, bangun (bentuk), ukuran, warna, gelap terang, tekstur, dan titik.
1) Garis merupakan unsur yang sederhana dan mudah untuk digunakan sebagai alat ekspresi dan merupakan unsur yang paling kuno digunakan dalam seni. Garis – garis bias berkesan sangat emosional dan kadang beku. Kesan dan watak garis tipis lembut akan berbeda dengan garis tebal.
2) Arah merupakan unsur arah yang bias ditunjukkan dengan lurus, belok, horizontal, vertical, condong, dan lain sebagainya. Arah condong belok – belok berkesan dinamis, gerak arah vertical dan horizontal lebih berwatak stabil dibandingkan dengan arah condong.
3) Bangunan dapat dijadikan area atau bidang atau pola (bentuk), contohnya lingkaran, segitiga, segi banyak, benjolan dan lain – lain.
4) Ukuran yang kita kenal misalnya panjang, pendek, besar, kecil, lebar, sempit, dan lain – lain. Ukuran tersebut dapat menimbulkan kesan pada penghayatannya sendiri – sendiri.
5) Gelap terang berasal dari warna dan juga bias dari cahaya. Contohnya warna putih, abu – abu, dan hitam pekat. Cahaya yang jauh pada suatu benda memberikan kesan gelap terang.
6) Warna merupakan unsur yang banyak digunakan dalam penggarapan karya seni rupa. Menurut teori warna Goethe (Jerman), warna dibagi menjadi tiga jenis :
d) Warna primer (pokok), yaitu merah, kuning dan biru
e) Warna sekunder (campuran dari warna – warna primer), antara lain : orange, ungu (violet), hijau.
f) Warna tersier (campuran warna – warna primer dan sekunder), antara lain : krem, coklat, abu – abu, dongker, hijau muda, biru langit, merah muda dan lain sebagainya.
7) Tekstur adalah nilai raba dari suatu permukaan (yang halus dan kasar), ada dua macam tekstur : tekstur nyata dan tekstur semu. 
8) Titik yaitu banyak digunakan dalam karya seni rupa, misalnya lukisan pointilisme (terdiri dari unsur titik).



B. Seni Musik Nusantara
1. Jenis Seni Musik Nusantara
a. Musik daerah / tradisional, adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan. Tiga komponen yang saling mempengaruhi di antaranya seniman, musik itu sendiri dan masyarakat sebagai penikmat.
b. Musik keroncong, merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrument musik keroncong, flute dan seorang penyanyi wanita.
c. Musik dangdut, merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar dari musik melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur – unsur musik india dan arab.
d. Musik perjuangan, pada era perjuangan musik Indonesia banyak mengambil tema perjuangan, keberanian, semangat dan kebangsaan. Tema – tema heroik berkaitan dengan kondisi Indonesia saat itu sedang melakukan perjuangan melawan Belanda dan Jepang. Contohnya : Bandung lautan api, maju tak gentar dan sebagainya.
e. Musik popular (pop), artinya musik yang digemari, disenangi masyarakat. Musik pop berarti musik yang lagi digemari di masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Jenis musik ini tidak tahan lama, mudah hilang, dan berganti dengan lagu lain yang baru.
2. Fungsi Seni Musik Nusantara
a. Fungsi religi / keagamaan, karya seni sebagai pesan religi atau keagamaan. Contoh : kaligrafi, busana muslim / muslimah dan lagu – lagu rohani.
b. Fungsi pendidikan, dalam musik misalnya ansambel karena terdapat kerja sama, atau angklung dan gamelan ada nilai pendidikan karena kesenian ada nilai sosial, kerja sama dan disiplin.
c. Fungsi komunikasi, seni dapat digunakan untuk komunikasi. Contohnya kritik sosial, gagasan, kebijakan dan memperkenalkan produk kepada masyarakat.
d. Fungsi rekreasi / hiburan, seni untuk melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan yang khusus pertunjukkan untuk berekspresi atau hiburan.
e. Fungsi artistik, seni sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak untuk komersial. Contohnya musik kontemporer, teri kontemporer dan seni rupa kontemporer.
f. Fungsi guna (seni terapan), proses penciptaannya mempertimbangkan aspek kegunaannya. Seperti peralatan rumah tangga dari gerabah atau rotan.
g. Fungsi kesehatan (terapi), seni untuk pengobatan penderita physic ataupun medis distimulasi dengan terapi musik. Penyembuhan untuk penyandang autisme dan psikologis trauma.

3. Unsur Seni Musik Nusantara
Unsur seni musik dibagi menjadi dua, yaitu : unsur pokok dan unsur pendukung.
a. Unsur pokok
1) Bunyi dalam musik berasal dari suara manusia yang disebut vokal dan bunyi dari alat – alat musik yang disebut instrumen.
2) Irama disebut juga ritme atau ritmik yaitu panjang dan pendeknya nada dalam musik. Irama memberikan ketukan dalam musik.
3) Melodi adalah rentetan nada – nada yang disusun secara ritmis dengan ketinggian masing – masing.
4) Birama adalah pengelompokan ketukan menjadi unit – unit hitungan, dalam hubungannya dengan kerangka waktu.
5) Harmoni adalah keserasian, keselarasan, kesesuaian bunyi dari setiap instrument dalam kelompok musik yang tampil sebagai suatu bentuk yang utuh, enak didengar dan memenuhi syarat suatu karya musik.
6) Tekstur adalah berupa jalinan atau alunan melodi dalam sebuah karya musik yang terdiri dari berbagai suara.
b. Unsur pendukung
1) Tempo adalah kecepatan dan perubahan – perubahan kecepatan suatu lagu.
2) Dinamik adalah volume bunyi yang kuat atau lembut, dan perubahan berangsur – angsur dari lemah ke kuat dan dari kuat ke lemah.
3) Gaya adalah cara menyampaikan melodi atau lagu yang tersambung dengan halus atau terputus – putus.