Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Thursday, December 17, 2020

Konsep Apresiasi Seni Budaya

 Indonesia menyimpan kekayaan seni dan budaya yang tidak terhitung jumlahnya. Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan mengenai bentuk-bentuk seni yang ada di Indonesia, beserta tahapan perkembangannya dari masa ke masa. Banyaknya kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Indonesia tersebut mendorong munculnya reaksi, salah satunya apresiasi. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apresiasi memiliki dua pengertian, yaitu -kesadaran terhadap nilai seni dan budaya- serta -penilaian (penghargaan) terhadap sesuatut Dalam bahasa Inggris, apresiasi dikenal dengan istilah appreciate, yang bermakna "penilaian atau penghargaan untuk mengukur kualitas sesuatut-Jika diartikan secara luas, kegiatan apresiasi dapat dimaknai sebagai kegiatan mengamati, menanggapi, dan menghayati untuk menemukan kualitas dan nilai dari suatu bentuk. 

Apresiasi dapat ditunjukkan dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang seni dan budaya. Kegiatan apresiasi dalam bidang seni dan budaya dapat terwujud dalam tindakantindakan sederhana. Contohnya, seseorang yang terkagumkagum atau merasa bahagia ketika melihat suatu karya seni. Tanpa disadari, ia telah melakukan apresiasi terhadap karya seni tersebut. Apresiasi juga terlihat ketika seseorang mengamati suatu karya seni dan memutuskan bahwa karya seni tersebut memiliki beberapa kelemahan, misalnya bentuknya yang tidak menarik atau tidak merepresentasikan maksud dan pesan seniman yang ada di dalamnya.

Jika dimaknai lebih lanjut, apresiasi seni dan budaya dapat dimaknai sebagai upaya untuk memahami bentuk-bentuk dan hasil seni budaya secara menyeluruh, termasuk memahami nilainilai yang ada di dalamnya, seperti nilai estetika. Nilai estetika menjadi nilai yang paling sering muncul dalam apresiasi seni budaya. Penyebabnya adalah sifat seseorang yang cenderung peka terhadap sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai estetika. Terlebih bentuk-bentuk dan hasil seni budaya banyak mengandung unsur-unsur estetis yang dapat membawa pengalaman keindahan bagi orang-orang yang memandangnya. 

Apabila seseorang mampu menangkap nilai estetis dari suatu karya sgni dan budaya, sangat mungkin ia dapat menangkap nilai Iain yang terkandung di dalam karya tersebut. Beberapa ahli, seperti Soedarso dan Rollo May, juga mencoba memberikan pandangan mereka mengenai pengertian apresiasi seni budaya. Menurut Soedarso (1990), apresiasi seni buda a bermakna mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk suatu hasil seni, serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetisnya sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya. Sementara itu, menurut Rollo May, melakukan apresiast terhadap suatu bentuk kreasi seni merupakan suatu undakan kreatif. 

Dalam bidang seni budayat kegiatan apresiasi tidak hanya dilakukan oleh para penikmat seni, tetapi juga seniman yang menciptakan karya seni. Dengan kata Iain, apresiasi menjadi semacam jembatan penghubung antara penikmat seni dan seniman. Melalui apresiasi, penikmat seni dapat memperoleh pengalaman keindahan dan menilai suatu karya seni. Penilaian dari penikmat seni akan menjadi masukan bagi seniman untuk mengevaluasi dan mengembangkan karya-karyanya. Karya-karya seniman yang semakin berkembang dan mengalami kemajuan dari masa ke masa juga akan kembali membawa dampak positif bagi penikmat senil yaitu penikmat seni dapat menikmati lebih banyak karya seni yang berkualitas. 

Apresiasi yang ditunjukkan oleh setiap orang berbeda satu sama Iainnya. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari perbedaan tingkat ilmu pengetahuan; pemahaman; pengalaman; status sosial; hingga kondisi internal dalam diri seseorang, seperti kondisi fisik, psikis, dan mental. Contohnya, ketika menonton pertunjukan teater, seseorang yang terbiasa menonton pertunjukan teater akan memberikan apresiasi yang berbeda dibandingkan orang yang pertama kali menonton pertunjukan teater tersebut. Orang yang terbiasa tersebut dapat memberikan apresiasi yang tinggi karena telah memahami seluk-beluk teater. Sementara itu, orang yang baru pertama kali menonton pertunjukan teater dapat menunjukkan dua kemungkinan reaksi: merasa kagum atau merasa bosan dan tidak tertarik untuk menonton teater lagi di kemudian hari. Kondisi tersebut menunjukkan perbedaan apresiasi yang disebabkan oleh perbedaan pengalaman yang dimiliki setiap orang.

 

Sumber: dokumentasi penulis Gambar 6.1 Apresiasi yang diberikan seseorang terhadap suatu karya dapat berbeda antara satu sama lain.

Kegiatan apresiasi seni juga mendorong munculnya kegiatan lain, yaitu kegiatan meresensi dan kritik seni. Tanpa keberadaan apresiasi, seseorang akan sulit memberikan penilaian yang objektif dan akurat atas suatu karya seni. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kegiatan apresiasi memberikan dampak Yang cukup vital dalam kegiatan resensi dan kritik seni.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Tuesday, July 21, 2020

Fungsi Budaya dalam Kehidupan Masyarakat

1. Mempersatukan masyarakat
Suatu budaya terlahir dalam suatu masyarakat dan mewakili realitas serta pemikiran yang berkembang di dalam masyarakat itu sendiri. Budaya di sepakati oleh anggota masyarakat karena adanya kesamaan rasa dan pemikiran seluruh anggota masyarakat, oleh sebab itu budaya berfungsi mempersatukan masyarakat.
Contohnya pada masyarakat yang hidup di daerah agraris terdapat budaya mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen melimpah yang diwujudkan dalam upacara adat: Upacara Seren Taun (Jawa Barat), Upacara Penti (Manggarai, NTT).
Contoh lain yaitu budaya Pawai Ogoh-ogoh (mayarakat Hindhu, Bali) dilaksanakan dengan mengarak patung raksasa untuk membersihkan hal-hal negative sehari sebelum hari raya Nyepi. Hal ini membuat masyarakat hindhu di Bali bersatu.

2. Memenuhi kebutuhan dasar masyarakat
Budaya dengan segala urusannya merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Contohnya manusia akan sulit berkomunikasi tanpa bahasa, tanpa adanya kesenian manusia akan mudah stress dan kehilangan semangat hidup, tanpa adanya pengetahuan manusia akan sulit memahami hal-hal di sekitarnya, tanpa adanya teknologi manusia akan sulit menyelesaikan sesuatu, tanpa adanya system kemasyarakatan kondisi social akan kacau dan saling bertikai, tanpa adanya system ekonomi manusia akan sulit memenuhi kebutuhan hidup.

3. Mendorong perubahan dalam masyarakat
Budaya adalah hal kompleks dan membawa pengaruh besar bagi masyarakat. Budaya bersifat dinamis dan sangat bergantung pada perkembangan zaman.. Perubahan budaya terjadi yang memerlukan waktu yang cukup panjang dan bertahap biasanya terjadi pada perubahan yang disengaja atau direncanakan. Sedangkan perubahan yang terjadi secara singkat biasanya diakibatkan oleh faktor alam misalnya bencana alam. Bencana alam yang melanda suatu daerah dapat merusak tatanan masyarakat yang telah berlangsung sebelumnya di daerah tersebut.
Contohnya dalam bidang ekonomi, sejak adanya mata uang masyarakat diharuskan membeli menggunakan uang. Dalam bidang transportasi berdasakan perkembangan teknologi adanya transportasi berbasis online membuat meningkatnya permintaan masyarakat akan ponsel pintar. Dalam bidang kesenian masyarakat didorong untuk terus mengembangkan kreativitas seni baru misalnya aliran music yang baru.


Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Ekspresi Seni dalam Budaya Masyarakat

Seni telah ada sejak zaman prasejarah  dan tidak lepas dari kehidupan manusia dan merupakan bagian dari kebudayaan yang merupakan hubungan antara menusia dengan lingkungan sosialnya. 

Seni ekspresi berbeda dengan seni imitasi. Ekspresi seni merupakan pengungkapan diri seniman ranpa melibatkan emosi orang lain. Imitasi merupakan bentuk peniruan terhadap bentuk yang sudah ada baik segi bentuk maupun gagasannya.

Ekspresi erat kaitannya dengan pemikiran yang kreatif dan imaginatif yang berakar dari pemikiran bebas. Kebebasan ini tercermin melalui karya-karya yang tercipta baik berupa tulisan, lukisan, ukiran, music, tari maupun bentuk-bentuk seni lainnya. Karena berkedudukan sebagai ekspresi maka tak jarang seni dijadikan sebagai media komunikasi seniman pada penikmat karyanya. Pemikiran tersebut tidak hanya berupa gagasan tetapi juga kritik atas kondisi social tertentu.

Sebagai sebuah ekspresi, baik seni tradisional, modern maupun kontemporer perlu memperhatikan hal-hal yang berasal dari dalam dan luar masyarakat. Jika suatu seni merupakan kritik suatu masalah social maka pencipta karya harus benar-benar memahami masalah yang hendak dikritik. Selain itu penikmat seni akan mudah mengenali simbol-simbol dalam karya yang diciptakan.

1. Seni sebagai media komunikasi (Communication Device)
Ketika bentuk seni telah dinikmati masyarakat maka secara tak langsung bentuk seni tersebut telah mengkomunikasikan ekspresi penciptanya pada masyarakat. Pada masa prasejarah contohnya terdapat lukisan cap tangan atau gambar simbolik di dinding gua yang memberikan pemahaman pada manusia modern mengenai budaya pada masa praejarah. Komunikasi melalui visual pada umumnya lebih mudah dipahami baik berupa gambar, lukisan, seni grafis, ilustrasi maupun gambar bergerak (animasi). 
Berbagai macam simbol diciptakan manusia baik bersifat verbal maupun non verbal. Simbol yang dikomunikasikan manusia lewat seni lebih mudah diterima karena sifatnya yang indah.

2. Gambar sebagai salah satu media ekspresi 
Menggambar merupakan kegiatan menuangkan persepsi visual ke dalam media gambar. Namun walaupun proses menggambar berakar kuat pada kemampuan manusia untuk melihat, hasil gambar tidak harus selalu sesuai dengan realitas yang dilihat. Setiap manusia memiliki persepsi sendiri atas apa yang ia lihat. Melalui gambar, senima dapat mengkomunikasikan berbagai pemikiran dan konsep yang dimiliki.

Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Unsur-unsur Budaya

Para ahli antropologi membagi unsur kebudayaan ke dalam sepuluh unsur yakni teknologi, keluarga, system ekonomi, kekuasaan politik, system norma, alat dan lembaga pendidikan, serta organisasi kekuasaan. Sementara itu seorang ahli bernama C.Kluckhohn membagi unsur kebudayaan menjadi tujuh yaitu:

1. Sistem kepercayaan/Religi
Sebelum berkembangnya agama, system kepercayaan erat kaitannya dengan hal yang bersifat transenden atau diluar kuasa manusia seperti dewa-dewa atau roh nenek moyang. Masyarakat yang menganut suatu system kepercayaan terikat pada aturan yang ada dalam system kepercayaan tersebut. Diyakini pelanggaran terhadap aturan tersebut akan membawa kemalangan baik bagi dirinya maupun anggota masyarakat lainnya.
Semakin banyak jumlah masyarakat yang menganut suatu system kepercayaan di suatu daerah maka semakain identic pula daerah tersebut dengan system kepercayaan yang bersangkutan. Contoh mayoritas masyarakat di Bali menganut agama Hindu maka pulau Bali identik dengan agaa Hindu.

2. Sistem pengetahuan
Suatu masyarakat umumnya memiliki system pengetahuan yang disepakati dan dipahami oleh setiap anggota masyarakat. Contohnya system pengetahuan yang dikenal di berbagai belahan dunia yaitu waktu dan system kalender. Sistem kalender yang digunakan di dunia adalah kalender Masehi dan Hijriah. 

3. Sistem teknologi
Secara sederhana teknologi dapat dimaknai sebagai penemuan yang bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan manusia. Teknologi berkembang sesuai perkembangan zaman. Semakin canggih teknologi semakin baik pula hasil pekerjaan yang diperoleh. Pada zaman batu manusia menggunakan batu, pada zaman perunggu manusia menggunakan perunggu untuk membuat perkakas rumah tangga, pada zaman modern teknologi semakin  maju di masa Reinaisans, pada masa sekarang berubah lagi menjadi era digital. Perkembangan teknologi turut membawa perubahan bagi masyarakat. Teknologi yang semakin maju membuat manusia tidak lagi harus bekerja keras untuk mencapai suatu tujuan.

4. Sistem kemasyarakatan
Ssitem kemasyarakatan yang dianut masyarakat berkitan erat dengan system religi, latar belakang kesukuan, derajat dan tempat tinggal. Berdasarkan derajat dalam masyarakat dibedakan menggunakan system kasta. Kasta tertinggi untuk pemuka agama dan bangsawan. Kasta terendah untuk rakyat jelata. Berdasarkan profesi masyarakat dibedakan menjadi pemilik modal dan pekerja. Berdasarkan tempat tinggal dibedakan tingkatan wilayah RT, RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten atau kotamsdya, dan provinsi.
Di Indonesia system kemayarakatan yang banyak dipakai adalah system paguyuban yang mengubungkan kesamaan lata belakang keluarga, suku bangsa dan tempat tinggal, sedangkan system patembayan mengubungan kesamaan kepentingan misalnya hubungan antara pegawai dan dan pemimpin di tempat kerja.

5. Sistem ekonomi
Sistem ekonomi yang disepakati masyarakat pada zaman dulu adalah barter atau tukar menukar barang. Setelah ada mata uang kini transaksi dapat menggunakan jasa perbankan, seperti transfer, cek dan giro. Sistem eknomi tidak hanya berkisar pada mata yang saja tetapi juga pada pasar. Dahulu jual beli harus bertatap muka, kini dapat dilakukan dengan media elektronik maupun internet.

6. Bahasa
Bahasa dapat disebut sebagai kunci kebudayaan karena menjadi alat komunikasi paling esensial bagi manusia. Bahasa yang digunakan dalam suatu komunitas harus dipahami oleh anggota komunitas tersebut. Sebelum adanya aksara, manusia berkomunikasi dengan bahasa simbol baik suara, gambar, maupun gerakan tubuh. Setiap bahasa menjadi identitas suatu masyarakat.

7. Kesenian
Bentuk-bentuk kesenian berkembang di masyarakat sangat beragam mulai dari seni rupa, seni arsitektur, seni music, seni tari, hingga seni pertunjukan. Setiap bentuk yang lahir di masyarakat mencerminkan ciri khas masyarakat dan menambah keragaman budaya di suatu tempat tertentu.

Sumber : Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Definisi Budaya

Seni tidak hanya tercipta dari imaginasi dan gagasan sang pencipta. Hal-hal yang berasal dari luar diri pencipta, diantaranya realitas dan fenomenal sosial yang terjadi di masyarakat. Segala sesuatu yang yang terjadi dalam masyarakat dan telah mengajar erat kaitannya dengan istilah budaya.

Dalam KBBI istilah budaya memiliki empat pengertian yaitu pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenail kebudayaan yang sudah berkembang dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Istilah budaya berasal dari bahasa sansekerta yakni buddhi bermakna akal budi manusia. Dalam bahasa inggris terdapat istilah culture bermakna nilai dan norma social yang dapat ditemukan dalam masyarakat.

Pengertian budaya menurut para ahli:
1. Menurut Cicero, kebudayaan merupakan hasil pengolahan jiwa dan pemikiran manusia yang digunakan untuk mengembangkan masyarakat.
2. Menurut Edward S.Casey, kebudayaan merupakan hal yang terlahir dalam masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu dan dijadikan identitas yang dapat dipertanggungjawabkan oleh masyarakat itu sendiri.
3. Menurut Koentjaraningrat, budaya adalah keseluruhan suatu system gagasan, tindakan, serta hasil karya manusia dalam kehidupan.
4. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karya manusia
5. Menurut E.B.Taylor, kebudayaan adalah kesatuan kompleks yang terdiri atas ilmu pengetahuan, seni, adat istiadat, hukum, dan budi pekerti yang dimiliki manusia dalam suatu komunitas masyarakat.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan suatu cara hidup yang bersumber dari akal budi manusia, dijadikan identitas dan hak milik, serta diwariskan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat.


Sumber: Sugiyanto. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Wednesday, March 25, 2020

Kebudayaan: Fungsi, Hakekat dan Sifat Kebudayaan

Fungsi kebudayaan adalah untuk mengatur manusia agar dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap kalau akan berhubungan dengan orang lain didalam menjalankan hidupnya.
kebudayaan berfungsi sebagai:
1. Suatu pedoman bagaimana berhubungan/bersosialisasi antar manusia atau kelompok

2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya

3. Pembimbing kehidupan manusia

4. Pembeda antar manusia dan binatang


Hakekat Kebudayaan
1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia

2. Kebudayaan itu ada sebelum generasi lahir dan kebudayaan itu tidak dapat hilang setelah generasi tidak ada

3. Kebudayan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya

4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang memberikan kewajiban kewajiban


Sifat Kebudayaan
•Tidak diwariskan secara genetika tetapi melalui proses belajar

•Diperoleh melalui pendidikan, baik secara formal maupun tidak formal

•Milik masyarakat, bukan milik individu

•Bersifat tradisional

Kebudayaan: Konsep Kebudayaan

Pengertian kebudayaan secara etimologis adalah pengertian kebudayaan didasarkan atas asal kata kebudayaan, yakni dengan cara menjabarkan makna kebudayaan dan asal katanya dalam sejarah penggunaannya.

1. Koentjaraningrat (dalam Pengantar Antropologi)
Kebudayaan berasal dari kata “budhayah” (bahasa Sansekerta) yang merupakan bentuk jamak dari “budhi” yang berarti budi atau akal. Berdasarkan asal kata ini kebudayaan dimengerti sebagai hal yang bersangkutan dengan akal. Koentjaraningrat, seorang tokoh antropologi di Indonesia mendefinisikan kebudayaan sebagai ”keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”

2. Haji Agus Salim (dalam Endang Saefuddin Ansari, Agama dan Kebudayaan),
Kebudayaan di dalam bahasa Jawa diucapkan “kabudayan”, dan merupakan persatuan antara budi dan daya. Kebudayaan merupakan kata yang sejiwa, tidak dipisah-pisah. Budi sendiri mengandung makna akal, pikiran, pengertian, paham, pendapat, ikhtiar, serta perasaan. Daya berarti tenaga, kekuatan dan kesanggupan. Kebudayaan oleh karenanya berarti himpunan segala usaha dan daya upaya yang dikerjakan dengan menggunakan hasil pendapat budi untuk memperbaiki sesuatu dengan tujuan mencari kesempurnaan.

3. M.M. Djojodiguno (dalam Asas-asas Sosiologi)
Kebudayaan merupakan bentuk rimbang dan kata budaya. Budaya merupakan mufrad dan budi yang berarti kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam jiwa manusia, yang membedakan manusia dengan hewan.

4. C. Kluckhohn (1952) mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan pola-pola tingkah laku, baik eksplisit maupun implisit yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok-kelompok manusia, termasuk perwujudannya dalam benda-benda materi.

5. Selo soemardjan dan Soelaiman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

Karya menciptkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan masyarakat.  Rasa meliputi jiwa manusia.  Sedangkan cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir dari orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan

Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan mengandung arti:
-Hal-hal yang bersangkutan dengan akal
-Segala usaha yang dikerjakan berdasarkan budi, untuk memperbaiki sesuatu dan untuk mencapai kesempurnaan
-Kemungkinan hal yang ada pada manusia yang membedakannya dengan hewan
-Hasil cipta, rasa dan karsa

Istilah atau kata kebudayaan juga sering dipakai bersama dengan kata kultur (culture) dan peradaban (civilization). Meskipun demikian meskipun secara umum ketiga kata tersebut sering dimengerti sama, ada juga yang menganggap adanya nuansa perbedaan tipis antara kebudayaan, kultur, dan peradaban.


Wednesday, May 15, 2019

KONSEP BUDAYA


A. Pengertian kebudayaan secara etimologis
Pengertian kebudayaan secara etimologis adalah pengertian kebudayaan didasarkan atas asal kata kebudayaan, yakni dengan cara menjabarkan makna kebudayaan dan asal katanya dalam sejarah penggunaannya.

1. Koentjaraningrat (dalam Pengantar Antropologi)
Kebudayaan berasal dari kata “budhayah” (bahasa Sansekerta) yang merupakan bentuk jamak dari “budhi” yang berarti budi atau akal. Berdasarkan asal kata ini kebudayaan dimengerti sebagai hal yang bersangkutan dengan akal. Koentjaraningrat, seorang tokoh antropologi di Indonesia mendefinisikan kebudayaan sebagai ”keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”

2. Haji Agus Salim (dalam Endang Saefuddin Ansari, Agama dan Kebudayaan),
Kebudayaan di dalam bahasa Jawa diucapkan “kabudayan”, dan merupakan persatuan antara budi dan daya. Kebudayaan merupakan kata yang sejiwa, tidak dipisah-pisah. Budi sendiri mengandung makna akal, pikiran, pengertian, paham, pendapat, ikhtiar, serta perasaan. Daya berarti tenaga, kekuatan dan kesanggupan. Kebudayaan oleh karenanya berarti himpunan segala usaha dan daya upaya yang dikerjakan dengan menggunakan hasil pendapat budi untuk memperbaiki sesuatu dengan tujuan mencari kesempurnaan.
3. M.M. Djojodiguno (dalam Asas-asas Sosiologi)
Kebudayaan merupakan bentuk rimbang dan kata budaya. Budaya merupakan mufrad dan budi yang berarti kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam jiwa manusia, yang membedakan manusia dengan hewan.
1. C. Kluckhohn (1952) mengatakan bahwa kebudayaan adlah keseluruhan pola-pola tingkah laku, baik eksplisit maupun implisit yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok-kelompok manusia, termasuk perwujudannya dalam benda-benda materi
2. Selo soemardjan dan Soelaiman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.
Karya menciptkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan masyarakat.  Rasa meliputi jiwa manusia.  Sedangkan cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir dari orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan ,lloo
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan mengandung arti:
- Hal-hal yang bersangkutan dengan akal
- Segala usaha yang dikerjakan berdasarkan budi, untuk memperbaiki sesuatu dan untuk mencapai kesempurnaan
- Kemungkinan hal yang ada pada manusia yang membedakannya dengan hewan
- Hasil cipta, rasa dan karsa

Istilah atau kata kebudayaan juga sering dipakai bersama dengan kata kultur (culture) dan peradaban (civilization). Meskipun demikian meskipun secara umum ketiga kata tersebut sering dimengerti sama, ada juga yang menganggap adanya nuansa perbedaan tipis antara kebudayaan, kultur, dan peradaban.
Fungsi, Hakekat dan Sifat Kebudayaan Fungsi Kebudayaan
Fungsi kebudayaan adalah untuk mengatur manusia agar dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap kalau akan berbehubungan dengan orang lain didalam menjalankan hidupnya.
kebudayaan berfungsi seba
gai:
1. Suatu pedoman bagaimana berhubungan/bersosialisasi antar manusia atau kelompok
2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya
3. Pembimbing kehidupan manusia
4. Pembeda antar manusia dan binatang

Hakekat Kebudayaan
1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia
2. Kebudayaan itu ada sebelum generasi lahir dan kebudayaan itu tidak dapat hilang setelah generasi tidak ada
3. Kebudayan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya
4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang memberikan kewajiban kewajiban

Sifat Kebudayaan
Tidak diwariskan secara genetika tetapi melalui proses belajar
Diperoleh melalui pendidikan, baik secara formal maupun tidak formal
Milik masyarakat, bukan milik individu
Bersifat tradisional

A. Wujud Budaya
Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud, yakni ideas (sistem ide), activities (sistem aktivitas), dan artifacts (sistem artefak).
1. Wujud Kebudayaan sebagai Sistem Ide
Wujud kebudayaan sebagai sistem ide bersifat sangat abstrak, tidak bisa diraba atau difoto dan terdapat dalam alam pikiran individu penganut kebudayaan tersebut. Wujud kebudayaan sebagai sistem ide hanya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari yang mewujud dalam bentuk norma, adat istiadat, agama, dan hukum atau undangundang. Contoh wujud kebudayaan sebagai sistem ide yang berfungsi untuk mengatur dan menjadi acuan perilaku kehidupan manusia adalah norma sosial. Norma sosial dibakukan secara tidak tertulis dan diakui bersama oleh anggota kelompok masyarakat tersebut. Misalnya, aturan atau norma sopan santun dalam berbicara kepada orang yang lebih tua dan aturan bertamu di rumah orang lain. Bentuk kebudayaan sebagai sistem ide secara konkret terdapat dalam undang-undang atau suatu peraturan tertulis.
2. Wujud Kebudayaan sebagai Sistem Aktivitas
Wujud kebudayaan sebagai sistem aktivitas merupakan sebuah aktivitas atau kegiatan sosial yang berpola dari individu dalam suatu masyarakat. Sistem ini terdiri atas aktivitas manusia yang saling berinteraksi dan berhubungan secara kontinu dengan sesamanya.
Wujud kebudayaan ini bersifat konkret, bisa difoto, dan bisa dilihat. Misalnya, upacara perkawinan masyarakat Flores, atau proses pemilihan umum di Indonesia. Kampanye partai adalah salah satu contoh bentuk atau wujud kebudayaan yang berupa aktivitas individu. Dalam kegiatan tersebut terkandung perilaku berpola dari individu, yang dibentuk atau dipengaruhi kebudayaannya. Selain itu, upacara perkawinan atau upacara lainnya yang melibatkan suatu aktivitas kontinu dari individu anggota masyarakat yang berpola dan bisa diamati secara langsung juga merupakan salah satu contoh wujud kebudayaan yang berbentuk aktivitas.
3. Wujud Kebudayaan sebagai Sistem Artefak
Wujud kebudayaan sebagai sistem artefak adalah wujud kebudayaan yang paling konkret, bisa dilihat, dan diraba secara langsung oleh pancaindra. Wujud kebudayaan ini adalah berupa kebudayaan fisik yang merupakan hasil-hasil kebudayaan manusia berupa tataran sistem ide atau pemikiran ataupun aktivitas manusia yang berpola Misalnya, kain ulos  dari Batak atau wayang golek dari Jawa. Di dalam upacara adat perkawinan Jawa, berbagai mahar berupa barang yang harus diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan. Benda-benda itu merupakan perwujudan dari ide dan aktivitas individu sebagai hasil dari kebudayaan masyarakat. Dalam upacara selamatan, terdapat berbagai sesaji atau peralatan yang dibutuhkan atau digunakan dalam aktivitas tersebut. Di dalam suatu kampanye partai politik dibuat berbagai macam lambang partai berupa bendera yang menyimbolkan keberadaan atau kebesaran partai tersebut.



B. UNSUR-UNSUR BUDAYA

Mempelajari unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah kebudayaan sangat penting untuk memahami beberapa unsur kebudayaan manusia. Kluckhon dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture membagi kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia dari sistem kebudayaan yang sederhana seperti masyarakat pedesaan hingga sistem kebudayaan yang kompleks seperti masyarakat perkotaan. Kluckhon membagi sistem kebudayaan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal atau disebut dengan kultural universal.
 Menurut Koentjaraningrat, istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut adalah bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup, sistem religi, serta kesenian.
Berikut ini akan diuraikan setiap unsur kultural universal.

1. Sistem Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam ilmu antropologi, studi mengenai bahasa disebut dengan istilah antropologi linguistik. Menurut Keesing, kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara simbolik, dan mewariskannya kepada generasi penerusnya sangat bergantung pada bahasa. Dengan demikian, bahasa menduduki porsi yang penting dalam analisa kebudayaan manusia.

2. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia. Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya. Namun, yang menjadi kajian dalam antropologi adalah bagaimana pengetahuan manusia digunakan untuk mempertahankan hidupnya. Misalnya, masyarakat biasanya memiliki pengetahuan akan astronomi tradisional, yakni perhitungan hari berdasarkan atas bulan atau benda-benda langit yang dianggap memberikan tandatanda bagi kehidupan manusia.
Masyarakat pedesaan yang hidup dari bertani akan memiliki sistem kalender pertanian tradisional yang disebut sistem pranatamangsa yang sejak dahulu telah digunakan oleh nenek moyang untuk menjalankan aktivitas pertaniannya. Menurut Marsono pranatamangsa dalam masyarakat Jawa sudah digunakan sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sistem pranatamangsa digunakan untuk menentukan kaitan antara tingkat curah hujan dengan kemarau. Melalui sistem ini para petani akan mengetahui kapan saat mulai mengolah tanah, saat menanam, dan saat memanen  hasil pertaniannya karena semua aktivitas pertaniannya didasarkan pada siklus peristiwa alam.

3. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi sosial merupakan usaha antropologi untuk memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan dasar adalah kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain. Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke dalam tingkatantingkatan lokalitas geografis untuk membentuk organisasi sosial dalam kehidupannya.
Kekerabatan berkaitan dengan pengertian tentang perkawinan dalam suatu masyarakat karena perkawinan merupakan inti atau dasar pembentukan suatu komunitas atau organisasi sosial. Perkawinan diartikan sebagai penyatuan dua orang yang berbeda jenis kelamin untuk membagi sebagian besar hidup mereka bersamasama. Namun, definisi perkawinan tersebut bisa diperluas karena aktivitas tersebut mengandung berbagai unsur yang melibatkan kerabat luasnya.

4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan manusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai suatu masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan fisik.
Menurut Koentjaraningrat, pada masyarakat tradisional terdapat delapan macam sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik yang digunakan oleh kelompok manusia yang hidup berpindah-pindah atau masyarakat pertanian, antara lain sebagai berikut. Alat-Alat Produktif,  Senjata Wadah, Alat-Alat Menyalakan Api Makanan, Minuman, Bahan Pembangkit Gairah, dan Jamu-jamuan, Pakaian dan Tempat Perhiasan, Tempat Berlindung dan Perumahan, Alat-Alat Transportasi.

5. Sistem Ekonomi/Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi. Penelitian etnografi mengenai sistem mata pencaharian mengkaji bagaimana cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain
a. berburu dan meramu;
b. beternak;
c. bercocok tanam di ladang;
d. menangkap ikan;
e. bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi.
Lima sistem mata pencaharian tersebut merupakan jenis mata pencaharian manusia yang paling tua dan dilakukan oleh sebagian besar masyarakat pada masa lampau dan pada saat ini banyakmasyarakat yang beralih ke mata pencaharian lain. Mata pencaharian meramu pada saat ini sudah lama ditinggalkan karena terbatasnyasumber daya alam karena semakin banyaknya jumlah penduduk.

6. Sistem Religi
Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Dalam usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaan mereka masih primitif.

Kajian antropologi dalam memahami unsur religi sebagai kebudayaan manusia tidak dapat dipisahkan dari religious emotion atau emosi keagamaan. Emosi keagamaan adalah perasaan dalam diri manusia yang mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religius. Emosi keagamaan ini pula yang memunculkan konsepsi benda-benda yang dianggap sakral dan profan dalam kehidupan manusia.

Salah satu unsur religi adalah aktivitas keagamaan di mana terdapat beberapa aspek yang penting untuk dilakukan dalam aktivitas tersebut. Unsur tersebut, antara lain sebagai berikut.
a. Tempat dilakukannya upacara keagamaan, seperti candi, pura, kuil, surau, masjid, gereja, wihara atau tempat-tempat lain yang dianggap suci oleh umat beragama.
b. Waktu dilakukannya upacara keagamaan, yaitu hari-hari yang dianggap keramat atau suci atau melaksanakan hari yang memang telah ditentukan untuk melaksanakan acara religi tersebut.
c. Benda-benda dan alat-alat yang digunakan dalam upacara keagamaan, yaitu patung-patung, alat bunyi-bunyian, kalung sesaji, tasbih, dan rosario.
d. Orang yang memimpin suatu upacara keagamaan, yaitu orang yang dianggap memiliki kekuatan religi yang lebih tinggi dibandingkan anggota kelompok keagamaan lainnya.   Misalnya, ustad, pastor, dan biksu. Dalam masyarakat yang tingkatreliginya masih relatif sederhana pemimpin keagamaan adalah dukun, saman atau tetua adat.

7. Kesenian
Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni pada kebudayaan manusia lebih mengarah pada teknikteknik dan proses pembuatan benda seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga meneliti perkembangan seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat.

Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni lukis, dan seni rias. Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern adalah film, lagu, dan koreografi.


Substansi Kebudayaan 

 Substansi Kebudayaan merupakan bentuk abstrak dari berbagai macam ide serta gagasan yang lahir dari pikiran manusia, bermunculan dalam kehidupan masyarakat yang kemudian memberi jiwa pada masyarakat tersebut.
Secara umum setiap sistem budaya memiliki substansi yang di antaranya berupa pengetahuan, nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos ekerja. 

1. Macam-Macam Substansi Kebudayaan

a. Pengetahuan
Pengetahuan dapat dikatakan sebagai dugaan-dugaan (hipotesa) yang telah teruji kebenarannya, baik melalui teori-teori tertentu maupun melalui pengalaman langsung dalam kehidupan nyata. Misalnya: air akan mendidih pada suhu 100 derajat Celsius, angin bertiup dari tekanan udara yang tinggi menuju tekanan udara yang rendah, pada musim penghujan berbagai macam tanaman akan tumbuh dengan subur, rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya, dan lain sebagainya. Manusia sangat memerlukan pengetahuan dalam melangsungkan kehidupannya.

b. Nilai
Nilai merupakan segala sesuatu yang dianggap berharga, dianggap baik, dan dianggap benar yang telah diterima dan disepakati bersama dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya, nilai tersebut dijadikan pedoman oleh setiap warga masyarakat dalam melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari. Prof. Notonegoro mengklasifikasikan nilai menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Nilai Material
Nilai material merupakan nilai yang terkandung dalam suatu benda karena memiliki kegunaan sebagai bahan pembuatan barang tertentu, seperti pasir, batu, tembaga, emas, batu bara, dan sebagainya.

2. Nilai Vital
Nilai vital adalah nilai yang terkandung di dalam suatu benda sebagai akibat dari kegunaan atau fungsi yang ditimbulkan dari benda yang bersangkutan. Misalnya: gergaji memiliki nilai untuk memotong kayu, kapak memiliki nilai untuk membelah kayu, kendaraan memiliki nilai sebagai alat transportasi, kalkulator memiliki nilai sebagai mesin hitung, dan sebagainya.

3. Nilai Spiritual
Nilai spiritual adalah nilai yang terkandung di dalam jiwa manusia. Nilai spiritual ini bersifat abstrak yang meliputi nilai religius, nilaiestetika, dan nilai moral. Nilai religius merupakan nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalam suatu ajaran agama atau kepercayaan tertentu. Nilai estetika merupakan nilai keindahan yang terdapat dalam suatu benda. Sedangkan nilai moral merupakan nilai mengenai baik buruknya perilaku manusia.

c. Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan suatu prinsip yang dianut oleh seseorang atau sekelompok orang. Pandangan hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman hidup yang dimiliki. Sifat dari suatu pandangan hidup sangat abstrak karena hanya terdapat di dalam jiwa manusia.  Namun demikian, pandangan hidup tersebut sangat berpengaruh terhadap persepsi, sikap, dan perilaku seseorang. Pada masyarakat Indonesia, Pancasila dianggap sebagai pandangan hidup bangsa, artinya Pancasila telah tumbuh dan berkembang pada masyarakat Indonesia sehingga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

d. Kepercayaan
Kepercayaan merupakan pandangan hidup yang telah menyatu dan mendarah daging pada diri manusia, baik secara individual maupun secara kolektif, sehingga menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Dikaitkan dengan kehidupan keagamaan, kepercayaan diimplementasikan dalam bentuk iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam konteks seperti ini, kepercayaan akan berkembang secara sistematis dengan para pengikut yang fanatis.

e. Persepsi
Persepsi merupakan pandangan seseorang terhadap sesuatu hal. Antara orang yang satu dengan orang yang lain tidak selalu memiliki persepsi yang sama terhadap suatu hal. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan sudut pandang yang dimiliki oleh masing-masing orang. Biasanya persepsi akan tampak dalam bentuk perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang.


f. Etos Kerja
Etos kerja merupakan prinsip-prinsip yang dimiliki oleh seseorang dalam hubungannya dengan semangat kerja. Etos kerja seseorang dipengaruhi dua faktor, yaitu:
 (a) faktor lingkungan budaya, dan (b) faktor potensi individual.


Tuesday, August 23, 2016

Pengembangan Kreativitas dalam Budaya

Kebudayaan berasal dari proses pembudayaan, yaitu proses belajar tentang nilai-nilai dan keyakinan yang menjadi landasan hidup. Pembudayaan bukan berasal dari turun-temurun gen manusia namun dari proses pendidikan dalam waktu yang relatif lama. Dalam proses pembudayaan ini terdapat adanya modal khusus dari sebuah budaya, yaitu kreatifitas.
Kreatifitas merupakan proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Terkadang kreativitas digunakan untuk menggambarkan unsur-unsur umum dari seni dan budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Lux, Kreativitas merupakan kemampuan untuk mencipta, daya cipta; perihal berkreasi, kekreatifan. Kreativitas milik manusia tidak terbatas pada kemampuan instingnya. Kreatifitas digunakan untuk melakukan perubahan atau perbaikan atas sesuatu.
Kreativitas manusia yang berasal dari berbagai tahap respons menjadikan kreatifitas itu semakin tinggi. Kreatifitas yang tinggi ini dapat menjadi sebuah kebudayaan. Pranata kreativitas yang baik adalah berkesenian, sehingga orang yang memiliki kreativitas tinggi dalam berkesenian dapat menghasilkan kebudayaan yang tinggi pula. Jika kreativitas dapat dikembangakan dengan baik maka kreativitas dapat digunakan sebagai model dalam budaya.

Pembaharuan dalam bidang kebudayaan tidak ada salahnya jika kebudayaan itu dapat menciptakan kebudayaan baru yang lebih inovatif dan bermanfaat. Jika tidak, budaya baru yang menjadi wujud dari budaya modern dapat berdampingan dengan kebudayaan asli dan saling beriringan. Dengan keterbukaan akan hal ini, kreativitas dari masing-masing orang tidak akan mati atau terhambat. Kreativitas yang menjadi modal dari budaya dapat tersalurkan melalui wadah yang menghasilkan manfaat yang positif. Tujuan dari keseluruhan kreativitas model budaya ini adalah untuk menciptakan budaya yang lebih baik. Dengan perbaikan setiap aspek kehidupan termasuk budaya, kesejahteraan manusia akan terjamin lebih baik.

Yang menjadi sasaran dalam model kreativitas dalam budaya ini adalah generasi muda yang menjadi penerus bangsa yaitu siswa. Siswa yang berpotensi pada hal ini adalah siswa pada usia Sekolah Menengah Atas dimana sudah dapat berfikir kedepan dan dalam usia prosuktif. Kreativitas yang diciptakan akan dapat diterima kaum muda lainnya dan menjadi hal yang unik bagi masyarakat secara luas. Pemikiran-pemikiran baru pada anak seusia SMA tentu lebih cerah dan bervariatif. Mudah menemukan gagasan dan ide baru serta wawasannya lebih luas dan modern daripada orang tua.

Seni dan budaya meliputi bidang seni pertunjukan, visual, dan denda, serta seni terapan termasuk arsitektur dan desain grafis, kerajinan, film, media digital dan video, humaniora dan bersejarah pengawetan; sastra; folklife, dan kegiatan kreatif lainnya. Seni sendiri dapat diklasifikasikan menjadi 13 kategori: bertindak, mengumumkan, arsitektur, seni rupa, mengarahkan, animasi, menari dan koreografi, desain, hiburan dan kinerja, musik dan menyanyi, fotografi, produksi, dan menulis (Gaquin 2008). Manusia mengejar ekspresi artistik dan kreatif melalui berbagai outlet: pertunjukan teater formal, patung, lukisan, dan bangunan; serta seni kurang formal, festival musik dan makanan, perayaan dan pertemuan budaya informal, band pickup, dan kelompok kerajinan.
Orang berpartisipasi dalam seni dan budaya pada berbagai tingkat keterampilan dan keterlibatan. Beberapa seniman profesional, desainer, dan penemu, sementara yang lain terlibat dalam kegiatan informal ekspresif atau menciptakan alat yang inovatif, hubungan, atau produk. Siswa dalam katagori ini termasuk dalam kegiatan yang menciptakan inovasi baru sesuai dengan tingkat kekreatifannya. Model dari pegembangan kreativitas ini adalah dengan membuat suatu tradisi sekolah yang dilaksanakan dan diwariskan pada siswa berikutnya.
Cara dari pengembangan kreativitas dalam budaya ini adalah dengan cara membebaskan ekspresi siswa dalam berkarya dan bergagasan selama dalam batasan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Hal ini dapat diterapkan ketika adanya pagelaran sekolah atau perayaan karnaval yang diadakan setiap tahun. Dengan menampilkan hasil karya gubahan dari siswa itu sendiri akan menunjukkan bahwa adanya inovasi baru dari siswa yang lebih menarik dan lebih baik. Contohnya dengan memadukan busana karnaval Jawa dengan ornamen-ornamen tertentu, atau membuat bentuk reog yang biasanya menggunakan bahan bulu merak menjadi bulu angsa yang diwarnai, dan lain sebaginya. Selain dari sisi kesenirupaan, gaya atau tradisi dalam bentuk tingkah lakupun dapat dilakukan. Bidang secara keseluruhan dapat direpresentasikan dalam tingkat profesionalisme, jenis produk atau kegiatan, lokasi dan ruang, dan tingkat partisipasi dan keterlibatan.
Dari kegiatan yang dilakukan siswa, akan menjadi budaya tertentu sesuai dengan kreatifitas yang dibuat. Hal ini akan berkembang dari budaya sekolah menuju budaya masyarakat yang tetap menjungjung nilai-nilai kebudayaan serta norma-norma yang berlaku. Adanya pemberian suara dalam bentuk kebudayaan yang dilakukan siswa menjadi referensi sendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan selanjutnya.

Dalam menampilkan suatu karya yang berasal dari sebuah gagasan tentu adanya sesuatu yang menarik yang menjadi perhatian. Sesuatu itu adalah kreativitas dari siswa, dimana siswa kedudukannya sebagai penerus bangsa yang akan membawa nasib bangsa itu sendiri. Dengan kreativitas yang dikembangkan secara positif akan dapat menjadi modal utama dalam memperbaiki kehidupan termasuk dalam berbudaya.