Showing posts with label bentuk. Show all posts
Showing posts with label bentuk. Show all posts

Sunday, August 14, 2016

Uji kepekaan Estetik

Gustav Theodor Fechner

Gustav Theodor Fechner merupakan tokoh Estetika positifisme abad 19, ia menciptakan estetika dari bawah (von unten) yang lebih mencari kejelasan, bukan sublimitas seni. Fechner bekerja secara induktif dengan melakukan berbagai eksperimen estetik. Caranya dengan memberikan bermacam bentuk gambar atau susunan warna kemudian mengambil responden.
Berikut ini contoh uji kepekaan estetik melalui bentuk:
Menurut saya bentuk yang paling menarik adalah nomor....
Berikut contoh uji kepekaan estetik melalui komposisi warna:
Menurut saya komposisi warna yang paling menarik atau indah adalah nomor....
Setelah sejumlah responden memilih, maka akan diperoleh satu hingga tiga buah objek yang paling banyak dipilih. Maka objek tersebutlah yang paling menarik atau memiliki nilai estetis. 


Tuesday, February 2, 2016

Boneka sesuai usia

Berbagai macam jenis boneka tidak membatasi hobby dan kesukaan orang terhadap boneka. Orang dewasa mungkin dapat menyukai jenis boneka apapun karena dikatagorikan sudah bisa merawat dan paham makna boneka baginya. Sedangkan untuk anak-anak, sebaiknya diberikan jenis-jenis boneka yang cocok untuk perkembangan dan kebutuhannya. Contoh boneka yang tepat sesuai perkembangan anak yaitu sebagai berikut:
1. Usia 0 sampai 1 tahun
Pada usia ini, bayi belum mengerti makna boneka sesunggunya bahkan belum bisa mengerti sepenuhnya boneka bagi dirinya. Sebaiknya pada usia ini boneka untuk bayi adalah boneka yang fungsional bagi dirinya terutama yang dapat melindungi dirinya. Boneka dapat melindungi bayi yang keadaannya rentan akan jatuh, misalnya boneka bantal atau boneka guling yang diletakkan di sekitar bayi.
Contoh boneka guling

Bukan boneka bantal atau boneka gulingpun juga baik digunakan untuk mempercantik bayi saat tertidur. Boneka yang baik adalah boneka yang berbahan tekstil dan tidak berbahaya untuk bayi. Tekstil difungsikan dari bahannya yang empuk sehingga lebih baik kulit dari bahan boneka adalah kulit yang lembut juga agar ketika tersentuh dengan kulit bayi, bayi tetap merasa nyaman. Jangan juga memilih tekstil boneka yang berbahan panas karena akan membuat bayi menjadi gerah dan panas. Biasanya jenis tekstil yang berbahan panas harganya lebih murah dan bisa jadi bahannya kasar seperti terdapat gumpalan serat pada permukaannya atau seratnya yang memang kasar.
Selain aman bagi bayi, boneka yang berbahan tekstilpun akan lebih mudah dibersihkan ketika terkena noda-noda seperti bekas susu, air liur bayi, muntahan bayi, air kencing maupun "pup" bayi.

2. Usia 1 sampai 2 tahun
Pada usia ini setidaknya bayi sudah tumbuh dan mengenal bentuk sehingga dapat mengenali beberapa bentuk. Bentuk bonekapun sudah dapat dikenali meski jika tidak dihafali. Boneka yang cocok pada usia ini adalah boneka yang sudah memiliki bentuk dasar seperti kepala badan tangan dan kaki. Pada usia ini sebaiknya boneka yang diberikan pada anak masih boneka yang empuk atau terbuat dari bahan tekstil. Selain aman dan nyaman, boneka jenis inipun juga ringan jika dibawa atau sambil ditindihi sang anak.
Boneka tekstil untuk anak


3. Usia 2 sampai 3 tahun
Bayi masih tergolong batita tetapi sudah lebih besar dari pada sebelumnya. Anak telah mengerti bentuk bagian boneka seperti mata telinga baju dan sebagainya. Pada usia ini anak sudah bisa mengenali nama dan karakter boneka meski tidak bisa menjelaskan. Akan tetapi kondisi anak seusia ini belum bisa sepenuhnya menjaga boneka yang dimiliki, misalnya anak masih sering melempar boneka atau mainan, memukul-mukul dan lain-lain. Sebaiknya berikan boneka yang masih aman dan tidak gampang rusak, berbahan kuat dan tidak mudah pecah. Boleh diberikan boneka berbahan kain, plastik atau bahan ringan lainnya. Sebaiknya jangan diberikan boneka berbahan keras seperti kayu dan keramik sebab akan mudah pecah atau membahayakan si bayi. Perhatikan pula bentuk boneka yang memiliki tonjolan aksesoris keras atau tajam. Boneka jenis bongkar pasang sudah dapat diberikan guna dapat menunjukkan akibat brutal si anak, sedangkan boneka yang empuk dapat diberikan pada usia manapun.
Boneka plastik untuk anak


4. Usia 4 sampai selanjutnya
Pada usia ini anak sudah dapat merawat dan menjaga mainannya sehingga bonekapun sudah bisa disimpan dengan baik. Anak sudah mengerti bagian-bagian aksesoris boneka dan perlengkapan milik boneka jika ada. Kegiatan drama kecilpun sudah dapat dilakukan dengan teman ataupun sendiri. Baik jika pada usia ini anak diberikan boneka yang memiliki perkakas khusus seperti pakaian boneka, sepatu, tempat tidur, tas boneka dan sebagainya. Sampai pada usia selanjutnya anak akan berkembang dan telah mengerti sosok boneka, apa fungsinya, jenisnya dan penempatannya.
Untuk orang dewasa, bonekapun masih digemari sebagai hobby maupun hiasan. Orang dewasa yang juga banyak yang mengoleksi boneka yang dimiliki hingga dewasa atau mengoleksi jenis tertentu. 
Contoh boneka perlu dirawat


Sunday, January 31, 2016

Perbedaan gambar anak Indonesia dan luar negeri

Jika kita perhatikan dengan seksama, ada beberapa perbedaan yang tampak pada gambar buatan anak Indonesia dengan luar Indonesia. Gambar memang sama-sama dibuat oleh anak, alat gambar dan media yang digunakanpun tidak jauh berbeda tetapi perhatikanlah gambar anak Indonesia dan gambar anak luar Indonesia dapat dibedakan.
Perbedaan gambar anak luar Indonesia dan gambar anak Indonesia:
  1. Gambar anak luar negeri lebih ekspresif dibandingkan dengan gambar anak Indonesia. Hai itu nampak pada bentuk figur yang diciptakan. Figur-figur yang dibuat oleh anak luar negeri lebih bebas sedangkan figur yang dibuat oleh anak Indonesia memiliki model wajah yang sama.
  2. Gambar yang dibuat oleh anak Indonesia selalu mengarah pada bentuk tiga dimensi, sedangkan gambar yang dibuat oleh anak luar negeri tidak begitu mempermasalahkan mengenai bentuk tiga dimensi yang dibuat. Yang paling ditonjolkan pada gambar anak luar negeri bukan pada terlihat tiga dimensi atau tidaknya namun lebih kepada figur atau benda apa saja yang harus ada dalam gambar yang dibuat. Oleh karena itu gambar anak luar negeri bentuk cerita yang nampak pada gambar lebih jelas.
  3. Gambar anak Indonesia lebih menonjolkan teknik dalam menggambar daripada ekspresi. Gambar di Indonesia lebih dianggap bagus jika tekniknya bagus dibandingkan dengan bentuk ekspresi pada gambar anak.
  4. Media yang digunakan oleh anak Indonesia kebanyakan adalah media crayon yang sangat akrab dan mudah di temukan di Indonesia. Terlebih lagi media crayon ini lebih populer di kalangan pelatihan menggambar anak yang dianjurkan oleh para guru atau pelatih mereka. Sedangkan gambar anak di luar negri nampak menggunakan bermacam media dalam menggambar. Hal ini mungkin dikarenakan di Indonesia kurang berani dalam memilih media, sehingga memilih media yang sudah umum digunakan karena tekniknya sudah banyak diketahui umum.
  5. Pemilihan tema pada gambar anak Indonesia selalu berkaitan dengan keadaan Nusantara, seperti keadaan alam pegunungan, pantai, bineka tunggal ika, persatuan dan kesatuan dan sebagainya. Hal ini tercipta dari pemilihan tema yang dipilihkan guru pada waktu kecil sehingga terbawa pada jiwa anak sampai pada usia atau tingkat sekolah berikutnya. Sedangkan pada gambar anak luar negeri lebih bervariasi dan lebih mengarah pada ungkapan perasaan bukan pada mencontoh alam atau gambar lain. Dapat disimpulkan bahwa gambar anak luar negeri lebih jujur atau menyentih hati karena gambar yang dibuat itu berdasar pada apa yang anak rasakan. Dalam hal ini tidak heran jika terkadang gambar disertai dengan adanya tulisan untuk memperjelas ungkapan perasaan itu.
Contoh gambar anak Indonesia:


Contoh gambar anak Luar Indonesia:






Tabel perbedaan gambar anak Indonesia dengan gambar anak luar negeri
No.
Perbedaan
Gambar anak Indonesia
Gambar anak luar negeri
1
Ekspresi
Kurang ekspresif
Lebih ekspresif sehingga karakter gambar anak terlihat
2
Teknik
Mengutamakan teknik dalam menggambar maupun mewarnai
Tidak mengutamakan teknik
3
Media
Kebanyakan crayon, pensil dan pensil warna
Bermacam-macam dari spidol, cat air, crayon hingga pensil warna
4
Bentuk gambar
Bentuk gambar terkesan rapi dan berusaha sempurna
Bentuk gambar tidak mengutamakan kerapihan, yang penting apa yang digambarkan sudah mencukupi apa yang ada di benak anak
5
Bentuk figur
Figur yang dibuat kebanyakan manusia yang berbentuk kartun
Lebih bebas dan beragam, yang penting merupakan bentuk figur manusia
6
Penggunaan garis dasar
Menggunakan garis dasar dari pensil atau alat gambar berwarna hitam. Umum digunakan outline berwarna hitam.
Tidak terpacu menggunakan satu warna garis dasar
7
Tema
Tema alam, nusantara, serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan yang sangat mencerminkan bangsa Indonesia
Tema kehidupan kerajaan seperti putri, istana dll, tema kasih sayang terhadap teman atau keluarga
8
Pewarnaan
Pewarnaan berlapis dan bermacam-macam warna digunakan, hampir semua warna digunakan
Pewarnaan lebih sederhana dan jika ada kombinasi warna tidak berlapis namun bertumpuk
9
Kombinasi dengan tulisan
Kebanyakan tidak disertai tulisan
Disertai tulisan guna memperjelas gambar
10
Pola gambar
Terpola, karena pengaruh sanggar atau bimbingan menggambar
Tidak terpola, lebih bermacam-macam sesuka anak


Saturday, January 30, 2016

Bentuk Seni Rupa

Soepratno (1989: 42) menyebutkan bahwa menurut bentuknya, karya seni rupa dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karya seni dua dimensi dan karya seni tiga dimensi. Hal yang sama juga dinyatakan Tarjo (2004: 16) bahwa seni rupa dapat dikelompokkan atas 1) seni rupa dua dimensional, yaitu yang karyanya bersifat datar: lukisan, relief, motif hias kain, dan ornamen pada bidang datar. 2) seni rupa tiga dimensional, yaitu yang memiliki ruang seperti: seni pahat/ patung, mebel, kerajinan boneka dan lain sebagainya.

Rondhi (2002: 13) menyatakan bahwa.
"Karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua yaitu karya seni dua dimensi dan karya seni tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki panjang dan lebar atau karya yang hanya bisa dilihat dari satu arah pandang. Contoh karya seni rupa dua dimensi adalah seni lukis, seni ilustrasi, seni grafis, poster dan berbagai karya desain grafis".
Karya seni rupa menurut dimensinya: 1) Seni rupa dua dimensi (dwimatra) yaitu karya seni rupa yang mempunyai dua ukuran (panjang dan lebar). 2) Seni rupa tiga dimensi (trimatra) yaitu seni rupa yang mempunyai tiga ukuran (panjang, lebar, dan tebal) atau memiliki ruang. (Maman, Zakarias, Bandi, 2006: 48).
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karya seni rupa dilihat dari bentuknya di bagi menjadi dua yaitu:
  1. Karya seni dua dimensi
Karya seni rupa dua dimensi merupakan karya seni rupa yang diwujudkan dalam bidang datar yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar. Macam karya seni rupa dua dimensi antara lain lukisan, gambar, dan grafis.
  1. Karya seni tiga dimensi
Karya seni rupa tiga dimensi merupakan karya seni rupa yang diwujudkan ke dalam bentuk yang memiliki volume yang mempunyai ukuran panjang, lebar, dan tinggi. Macam karya seni rupa tiga dimensi antara lain seni patung, seni kriya, seni keramik, seni arsitektur dan berbagai desain produk.

Dalam penelitian ini karya seni rupa yang akan dibuat adalah karya seni rupa tiga dimensi berupa boneka dari jerami. Karya boneka dari jerami menurut peneliti sangat menarik karena unsur ruang dan bentuknya nyata dibandingkan dengan karya lain.

Unsur-unsur Seni Rupa

Unsur-unsur rupa (plastic element) merupakan aspek-aspek bentuk yang terlihat, kongrit, yang dalam kenyataannya jalin-menjalin dan tidak mudah diceraikan satu dengan yang lainnya (Sunaryo, 2002: 5). Unsur seni rupa merupakan bagian-bagian pembentukan dalam lingkup kajian seni rupa. Unsur-unsur seni rupa yang lazim diketahui diantaranya adalah titik, garis, bidang, bentuk, volume/ruang, warna, tekstur, dan pencahayaan/gelap terang. Dharsono (dalam Galih, 2012: 13) menjelaskan rincian mengenai unsur-unsur rupa sebagai berikut.
1) Garis, merupakan gabungan titik-titik yang dihubungkan, garis merupakan medium yang paling sederhana, sebagai pencapaian yang paling ekonomis dibanding medium lain. Peranan garis sebagai garis, yang kehadirannya sekedar untuk memberi tanda dari bentuk logis, seperti yang terdapat pada ilmu-ilmu eksakta. Selain itu, garis juga mempunyai sifat formal dan non formal. Misalnya garis geometris yang bersifat formal, dan garis dalam seni lukis yang bersifat non formal karena memungkinkan garis bukan sebagai garis tapi sebagai penyampai pesan.
2) Shape (bangun), merupakan suatu bidang kecil yang terjadi karena dibarasi oleh kontur (garis) dan atau dibatasi oleh adanya warna yang berbeda, atau oleh gelap terang pada arsiran, atau karena adanya tekstur. Shape (bidang/bentuk) yang terjadi ada dua: shape yang menyerupai wujud alam (figure), dan shape yang tidak menerupai wujud alam (non figure). Berdasarkan pada asal-usulnya shape terdiri dari dua macam, yaitu diantaranya sebagai berikut.
a). Bentuk abstrak, adalah bentuk murni diciptakan oleh manusia tanpa meniru
bentuk yang sudah ada pada alam, bentuknya terdiri dari : (1). Bentuk abstrak simbolis, yaitu bentuk abstrak yang melambangkan suatu pengertian, seperti huruf, rambu-rambu lalu lintas, dan tanda baca, (2) bentuk abstrak filosofis, contohnya huruf Cina, (3) bentuk abstrak murni, contohnya bentuk lingkaran, bujursangkar, dan segi enam.
b). Bentuk abstraktif, adalah bentuk-bentuk alam yang telah dirubah menjadi bentuk-bentuk yang telah mendapatkan penyimpangan dari bentuk aslinya. Perubahan itu bisa dilakukan dengan cara menggayakan (stylasi), menyederhanakan ( deformasi) dan merubah proforsi (distorsi).
3) Tekstur, merupakan unsur rupa yang menunjukkan rasa permukaan bahan, yang sengaja dihadirkan dalam susunan untuk mencapai bentuk rupa, sebagai usaha untuk memberikan rasa tertentu pada permukaan bidang pada karya seni rupa secara nyata atau semu. Menurut Maman, Zakaria, dan Bandi (2006:43) unsur tekstur atau barik adalah kualitas taktil dari suatu permukaan. Taktil artinya dapat diraba atau yang berkaitan dengan indra peraba. Di samping itu, tekstur dapat dimaknai sebagai penggambaran struktur permukaan suatu objek baik halus maupun kasar.
Kesan permukaan suatu benda disebut tekstur. Setiap benda memiliki tekstur yang khas, seperti licin, kasar, lunak, mengkilap, kusam, dan bercorak. macam-macam tekstur dibedakan menjadi, (a) tekstur raba, adalah tektur bawaan atau asli dari permukaan suatu benda yang bisa dinyatakan dengan diraba, misalnya tekstur kaca, batu, dan tanah, (b) tekstur lihat adalah tektur dari sebuah karya seni yang memberi kesan sebagai hasil kepekaan pembuat karya, misalnya kesan halus pada gambar kaca, kesan kasar pada gambar batu.
4) Ruang, unsur ruang berwujud dua atau tiga dimensi, sehingga dapat
memiliki kesan panjang, lebar, kedalaman, dan arah. Berdasarkan bentuknya ruang dapat berwujud persegi, lingkaran, datar, dan menyudut. Dalam prakteknya pengolahan bentuk berdasarkan pada dimensi, untuk karya seni rupa dua dimensi dibuat dengan teknik perspektif, memberi gelap terang (nada), dan menyusun beberapa bidang garis-garis atau warna, sedangkan pada karya tiga dimensi unsur ruang dibentuk dengan ukuran yang nyata karena dibentuk dari bahan bervolume.
5) Warna, warna sebagai warna adalah kehadiran warna tersebut sekedar untuk memberi tanda pada suatu benda atau barang, atau hanya untuk membedakan ciri benda satu dengan lainnya tanpa maksud tertentu dan tidak memberikan pretensi apapun. Warna sebagai pretensi alam adalah kehadiran warna merupakan penggambaran sifat obyek secara nyata, atau penggambaran dari suatu objek alam sesuai dengan apa yang dilihatnya. Warna sebagai tanda, lambang atau simbol adalah kehadiran warna melambangkan sesuatu yang merupakan tradisi atau pola umum.
Brewster dan Oswald adalah ilmuwan yang melahirkan teori tentang warna. Teori Brewster merupakan teori warna yang pertama kali dikemukakan pada tahun 1831, teori ini mengelompokkan warna menjadi 3 kelompok, yaitu : a) Warna primer adalah warna dasar yang tidak merupakan dari warna-warna lain, yaitu merah, kuning, dan biru. b) Warna skunder, merupakan warna campuran antara dua warna primer yang berbeda dengan perbandingan 1:1 sehingga melahirkan warna baru, yaitu jingga , ungu dan hijau. c) Warna tertier, merupakan warna keturunan ke tiga sebagai hasil dari pencampuran dua warna yang berbeda
dari warna primer dan skunder, yaitu ungu kebiru-biruan, dihasilkan dari pencampuran ungu dan biru, ungu kemerah-merahan, adalah hasil pencampuran ungu dengan merah, jingga kemerah-merahan adalah pencampuran jingga dengan merah, jingga kekuningkuningan, hijau kekuning-kuningan adalah hasil pencampuran hujau dengan kuning, hijau kebiru-biruan merupakan warna baru hasil pencampuran hijau dengan biru.
6) Gelap terang, Unsur gelap terang muncul karena adanya perbedaan intesitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda. Perbedaan itu mengakibatkan

munculnya tingkat nada warna (value) yang berlainan. Sedangkan benda karya tiga dimensi kesan nada dapat diperoleh dengan pengolahan unsur ruang, tektur dan bentuk.

Cara mengatasi Stereotipe pada gambar anak


Beberapa tips menghindari stereotype menurut Bertand Russell dalam Humaira (2011):
1. Menyadari gambaran-gambaran yang terstandarisasi dalam benak kita, pikiran orang lain, dan dunia di sekitar kita.
2. Kita dapat meragukan semua keputusan sehingga kita memberikan kesempatan kepada beberapa pengecualian untuk “melakukan pembuktian”
3. Kita dapat belajar berhati-hati terhadap semua generalisasi tentang manusia.

Saran tersebut merupakan saran untuk menghindari stereotipe secara umum. Jika di implementasikan ke dalam pembinaan gambar anak tentunya dari pengarahan orang tua/ guru sehingga dapat dijabarkan sebagai berikut:
  1. Orang tua/ guru dapat mengatakan kepada anak terlebih dahulu, bahwa masih banyak bentuk gambar yang lain dari pada yang anak gambar. Misalnya dengan menceritakan ada bermacam-macam bunga dari hanya sekedar bentuk lingkaran dan setengah lingkaran yang mengelilinginya. Ada bunga yang bentuknya mirip terumpet, ada bunga yang bentuknya mirip bola dan sebagainya.
  2. Orang tua/ guru memperlihatkan kepada anak tentang macam bentuk apa saja yang ada di sekitar kehidupan anak. Dalam hal ini termasuk tema, sehingga anak mengetahui secara nyata dan gamblang mengenai hal-hal yang begitu bermacam-macam di sekitar mereka. Dengan melihat banyaknya hal bervariatif akan merangsang daya cipta anak untuk mewujudkannya dalam bidang gambar.
  3. Orang tua/ guru tidak boleh menyalahkan segala bentuk yang dibuat oleh anak. Sebab hal itu akan membuat persepsi antara benar dan salah pada diri anak, sehingga ia memikirkan mana gambar yang benar dan mana gambar yang salah. Hal ini akan menghentikan anak dalam menuangkan bermacam gambar yang disukainya maupun yang akan diekspresikannya. Padahal di dalam menggambar, apalagi pada usia dini anak sedang dalam proses perkembangan, salah satunya potensi kreatif. Dengan membebaskan anak menuangkan ekspresinya tanpa adanya tuduhan salah dari orang tua/ guru maka anak akan lebih bebas menuangkan bermacam bentuk dalam gambarnya.

Contoh Kritik karya seni Lukis


Judul : Harmonis
Pelukis : Ahmad Savic A
Tahun : 2009
Media : cat air
  1. Bentuk (form) dan tanda (symbol) yang digunakan dalam karya
Karya seni lukis milik Ahmad Savic ini merupakan lukisan yang sekiranya mengungkapkan bentuk sebuah pohon. Tak terdapat pohon lain disekitarnya sebagai background ataupun subjek figuran. Hanya sebuah tiang listrik yang menemani dan tampak berdekatan, namun subjek yang lebih ditekankan adalah pohon tersebut. Bentuk dari pohon ini tidak sederhana, banyak sekali ranting yang menjadi cabang dari bawah hingga ke atas. Tidak dapat ditebak pohon apakah ini, yang jelas bentuk cabang-cabang yang banyak ini menandakan merupakan pohon yang beranting banyak. Bukan pohon rimbun nan hijau sebab dari bentuk daun-daunnya yang ekspresif terdapat secara acak pada ranting yang banyak. Namun dapat dilihat dari bentuk pohon ini yang menjulang ke atas hingga tak terlihat ujung batangnya merupakan pohon yang besar. Bentuk ranting-ranting pohon yang meliuk-liuk ini makin terlihat jelas bahwa sedang diambil perspektifnya dari bawah.
Pohon menyimbolkan sebuah kehidupan yang utuh dan pasti, kepastian ini tergambar dari karakter pohon yang pada umumnya memiliki batang yang kuat. Sesuatu yang berhubungan dengan alam artinya hidup dan pohon merupakan salah satu bagian dari alam. Sedangkan tiang listrik adalah penyangga dari listrik sendiri seolah-olah menjadi simbol dari sesuatu yang lain, lain dari sesuatu yang hidup. Listrik merupakan sesuatu yang tidak hidup dan dapat mematikan. Apalagi listrik itu dapat mematikan sebuah pohon pada kejadian tertentu.
  1. Unsur-unsur visual dan prinsip estetik yang digunakan
Lukisan “harmonis” ini tidak mengkomposisikan subjek utama terlalu tengah, sehingga tidak terlalu statis namun tetap fokus pada subjek utama. Penyusunan pohon besar inipun dikomposisikan menjulang ke atas serong kanan sehingga lebih indah. Pengkomposisian sebuah tiang listrik yang tegak menjulang dari bawah menjadi sorotan yang estetik ketika puncaknya semakin berdekatan dengan puncak pohon. Garis-garis dari pembentukan ranting pohon seolah menjadi ciri khas tersendiri dalam karya ini, sebab menjadi perpaduan pula pada garis-garis yang terbentuk dari kabel listrik di sebelahnya. Hal ini menjadikan komposisi yang menarik. Begitu pula perulangan daun-daun abstrak seolah menjadi taburan yang membuat karya ini lebih indah.
Warna yang digunakan bukan merupakan warna asli dari sebuah pohon, Savic menggunakan warna-warna campuran seperti warna orange, kuning dan biru. Hal ini membuat lukisan yang dibuatnya menjadi estetis dan menarik. Warna pohon yang pada umumnya hijau dan coklat menjadi lebih bervariasi. Meski jika Savic menggunakan warna-warna ini sebagai background nuansa, warna-warna inipun masih menjadi unsur estetik dalam karyanya.
  1. Kesan yang anda peroleh dari hasil pengamatan
Dalam lukisan ini meskipun hanya terdapat sebuah subjek pohon dan tiang listrik namun memiliki makna yang lebih dalam. Bukan sekedar indahnya pohon yang berdiri di dekat tiang listrik namun lebih dari itu. Kesan rimbun tidak diperoleh namun dari pohon itu sendiri dapat mengesankan besar dan tinggi, begitu pula pada tiang listriknya yang menggambarkan tentang ketinggian. Hal yang berdampingan ini menggugah perasaan tertentu yang tercipta dalam hati, seperti pada unsur-unsur yang sama antara pohon dengan tiang listrik. Ada garis-garis yang menjadi perpaduan keserasian yang mengesankan keharmonisan satu sama lain. Persamaan ketinggian menjadi hal yang indah ketika dilihat dari sisi bawah, hal ini sangat terlihat pada penunjukan bahwa subjek ini berada pada posisi tinggi. Seolah-olah mengesankan pada sesuatu yang unggul dan tinggi. Selain itu seolah hanya dari perspektif bawah dapat melihat segala sesuatu yang harmonis. Seperti yang terlihat pada perpaduan garis kabel dan garis-garis yang terbentuk dari ranting pohon. Penyatuan ujung pohon dengan ujung tiang listrik menjadi penyatuan suatu hubungan yang kukuh yang terbentuk dari sesuatu yang kuat yaitu pada karakter batang pohon dengan batang tiang listrik. Bercak-bercak daun yang tidak dimiliki oleh tiang listrik menjadi penghias antara jalinan pohon dengan tiang listrik. Keseluruhan lukisan ini mencerminkan sebuah keharmonisan yang tak terduga.
  1. Penilaian anda terhadap gagasan, teknik dan media yang digunakan dalam kaitannya dengan ekspresi yang dihasilkan
Menarik sekali lukisan ini mendapatkan gagasan dari sebuah pohon yang pada dasarnya menyatu dengan alam namun Savic menampilkan dalam keadaan berada di perkotaan. Bukan menjadi sosok pohon yang paling mendominasi keadaan kering di kota namun gagasannya dalam menampilkan subjek utama adalah merupakan bentuk keharmonisan yang unik.
Teknik yang digunakan dalam lukisan ini adalah teknik aquarel, merupakan teknik yang tepat untuk lukisan pada media kertas aquarel. Cat air yang digunakanpun sesuai dengan penggambaran nuansa yang diharapkan. Teknik pelukisan wet on wet menjadikan pembentukan warna nuansa membaur dengan warna kertas. Sehingga gradasi hilang yang tercipta dalam lukisan ini berhasil menjadi background yang indah.
Media kertas memang merupakan media yang tepat ketika menggunakan cat jenis cat air. Apalagi kertas yang digunakan memiliki tekstur yang kuat sehingga menunjang pada teknik. Tekstur kertas ini memberikan peleburan warna menjadi sempurna, air yang digunakan Savic ini mampu teresap sempurna pada kertas walaupun ada beberapa detail bagian yang kurang diperhatikan.
  1. Kesimpulan atau solusi untuk perbaikan karya atau peningkatan apresiasi
Penyatuan bentuk menjadi hal yang patut diperhatikan sebab menjadi hal utama dalam lukisan ini. Meskipun Savic menggunakan ekspresi yang kuat namun perspektif perlu diperhatiakn terutama pada pendekatan antara tiang listriik dan pohon. Pemberian sedikit detail pada bagian tertentu akan menambah keindahan lukisan ini. Seperti pada tiang listrik yang kurang diperhatikan karena teralalu memperhatikan tonjolan bentuk pohon. Sedangkan pohonnya sendiri boleh juga jika ditambahkan sedikit daun-daun yang sama agar karakter pohon lebih kuat. Namun demikian lukisan ini sudah cukup baik dilihat dari segi ekspresi, hanya perlu pengembangan teknik saja jika ingin membuat karya berikutnya. Akan lebih baik lagi jika lukisan ini di kemas dalam figura yang simpel dan elegan.
Menyatakan sebuah pohon tidak perlu menunjukkan keseluruhan bentuk pohon tersebut, bentuk visualisasi hanya menjadi subjek dari inti lukisan. Makna yang terkandung dalam lukisan ini lebih ditekankan daripada perwujudan. Sedangkan perwujudan estetis yang ekspresif disini lebih ditekankan daripada bentuk utuh. Lukisan ini memperlihatkan ekspresi yang tinggi dalam pembentukannya. Keestetisan menjadi tampilan unggulan yang paling menonjol dan itulah yang merupakan sisi indah dari sebuah keharmonisan.
Keharmonisan bukan merupakan suatu yang terdiri atas segala hal yang sama, namun terdiri atas hal yang berbeda jauh. Sisi indah dari keharmonisan adalah kesamaan hal kecil yang tak terduga dan berjalan begitu saja. Seperti segala sesuatu yang alami, ada kesenjangan yang dapat terlihat dengan jelas dan gamblang namun ada jembatan lembut yang menyatukan keindahan dari sebuah jalinan. Perbedaan kecil dapat menjadi penghias yang mengkukuhkan sebuah hubungan, terkadang sesuatu yang menjadi pembeda itu adalah justru menjadi penyatu.