Sunday, December 13, 2020

Estetika (Teori Tentang Keindahan dan Seni)

    Dalam kehidupannya, manusia memerlukan keindahan. Tanpa adanya estetika manusia tidak memiliki perasaan dan kehidupan akan menjadi datar. Teori keindahan dan seni dikembangkan menjadi pengertian “estetika”. Baumgarten (1753) mengerucutkan  penggunaan istilah “estetika” untuk teori tentang keindahan artistik. Aristoteles menggunakan istilah “puitis” untuk teori keindahan artistik. Sekarang estetikan dianggap sebagai “ilmu pengetahuan tentang seni”.

    Plato melihat adanya hubungan yang saling terpaut antara keindahan dan seni. Kedua hal ini memiliki ciri yang berbeda pada setiap bangsa, menurut Prof. H. Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 tahun Sang Merah Putih sebelum masuknya agama Hindu di Indonesia, bangsa Indonesia sudah memiliki tujuh kearifan Austronesia yaitu:

1. Kearifan dalam bidang agricultural (bersawah dan berladang)

2. Kearifan dalam beternak

3. Kemampuan dalam berlayar dan navigasi dengan melihat bintang

4. Kearifan religious dan menghormati leluhurnya

5. Keartistikan dalam seni rupa, seni lukis, seni pahat, dan lain-lain

6. Kebhinekaan masyarakat dan ketatanegaraan

7. Menjunjung tinggi simbol bangsa



Beberapa bukti hasil keindahan dari masa lalu contohnya adalah waruga, yaitu situs purbakala berupa kuburan batu dari suku Minahasa Utara dari abad ke 10. Sejak zaman dulu bangsa Indonesia telah menyadari betapa pentingya arti keindahan dan seni dalam kehidupan termasuk saat memasuki kahir hayat.

1. Pengertian Estetika

Istilah Aisthetika pertama kali dikenalkan oleh Alexander Baumgarten, istilah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu aisthetikos dan memiliki makna hal-hal yang diserap oleh pancaindra. Masalah yang diangkat dalam karya seni sangat beragam dan semakin banyak jenisnya, George T.Dickie dalam bukunya Aesthetics: An Introduction (1971) menggolongkan tiga macam masalah untuk diangkat menjadi karya yang estetik:

a. Masalah yang mengangkat tema kritis

b. Masalah yang bersifat lebih umum

c. Masalah yang mengandung pertanyaan yang lebih spesifik


2. Estetika dan Perkembangannya

Perkembangan estetika dihubungkan dengan sejarah kesenian pada perkembangan dari evolusi bentuk seni rupa tradisional sampai modern. Kritik seni hampir selalu mengarah pasa filsafat seni. Baik sejarah maupun kritik seni memerlukan pemahaman tentang estetika untuk mengenal seni dan ksesnian.

3. Estetika dan Filsafat

Estetika menjadi jembatan yang memudahkan masyarakat saat ini untuk lebih memahami filsafat sebagai ilmu pengetahuan. Secara umum banyak yang berpendapat bahwa estetika adalah cabang dari filsafat. Persoalan-persoalan yang menyangkut estetika meliputi:

a. Nilai estetika (aesthetic value)

b. Pengalaman estetis (aesthetic experience)

c. Perilaku orang yang mencipta (seniman)

d. Seni

Louis Kattsof menyatakan bahwa estetika adalah cabang dari filsafat yang berkaitan dengan Batasan struktur (structure) dan peran (role) dari terbentuknya keindahan, khususnya dalam kasus yang mendalami kesenian.


4. Estetika Klasik

Plato adalah salah satu petinggi Akademi Platonik di Athena, salah satu sekolah tinggi pertama di wilayah barat. Plato menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurutnya karya seni hanyalah sekedar tiruan dari relaitas/kenyataan yang ada di dunia. Ia menegaskan sesuatu yang asli adalah yang terdapat dalam gagasan semata.

Aristoteles memiliki pandangan karya seni sesuatu yang tinggi. Estetika dipandang sebagai poetics. Karya seni merupakan karya yang berkontribusi terhadap teori sastra. Ia juga mengembangkan teori Chatarsis yang memandang karya seni sebagai sarana untuk mensucikan emosi-emosi negative manusia, misalnya hal-hal yang menakutkan atau menyedihkan.


5. Estetika Abad Pertengahan

Masa abad pertengahan (400-1500an Masehi) disebut dark age karena pada masa ini agama Nasrani berpengaruh kuat dan menciptakan aturan-aturan ketat yang membelenggu kreativitas seniman dalam berkarya seni. Pada abad Renaisans (1500-1700 Masehi) masyarakat menganggap bahwa manusia merupakan segalanya dan pusat dari segala penciptaan sehingga semua karya seni yang tercipta kembali kepada manusia sebagai subjek utamanya. Tokoknya adalah Leon Battista Alberti menyatakan seniman harus mempelajari ilmu anatomi manusia. Sedangkan Leonardo Da Vinci menyinggung ketelitian dalam memperhatikan unsur terkecil pada proses pembuatan karya. Kemudian diteruskan oleh Michelangelo Buonarotti dengan mengembangkan studi perspektif bentuk geometris dan perbandingan proporsi tubuh serta studi anatomi yang lebih mutakhir.


6. Estetika Pramodern

Perkembangan seni rupa masa ini seiring dengan terjadinya Revolusi Industri di Eropa. Muncul berbagai aliran seni:

a. Primitivisme

Yaitu aliran yang bersifat sederhana dan jauh dari teknik-teknik lukis modern.

b. Naturalisme

Yaitu suatu aliran yang teknik pelukisannya berpedoman pada peniruan alam untuk menghasilkan karya seni. Seniman Indonesia yang menganut aliran ini adalah Basoeki Abdullah, Mas Pringadi, dan Abdullah Surya Subroto.

c. Realisme

Yaitu suatu aliran yang berusaha melukiskan keadaan secara nyata dan benar adanya. Seniman Indonesia yang menganut aliran ini yaitu Raden Saleh, S.Soedjojono, Dullah, Rustamadji, Dede Eri Supria, Ronald Manullang.

d. Dokorativisme

Yaitu suatu aliran yang menghasilkan karya seni rupa dekoratif dengan menyederhanakan bentuk secara distorsi. Seniman Indonesia yang menganut aliran ini yaitu Kartono Jodokusumo, Widayat, Suparto, Ratmoyo, Bagong Kussudiarjo, dan Batara Lubis.


7. Estetika Kontemporer

Istilah ini terinspirasi dari maraknya perkembangan seni pada era pasca Perang Dunia II. Tokoh pada masa ini yaitu Bennedote Croce menghubungkan system filosofis dan idealisme. Menurutnya, melalui seni segala khayalan atau pengalaman intuitif yang ada dalam batin terekspresikan. Sementara itu George Santayana dari Amerika mengemukakan istilah estetika naturalis yaitu para penikmat seni akan merasakan nilai keindahan ketika indra-indra manusia menyerap objek-objek seni.

Di Indonesia seniman kontemporer biasanya mengeksplorasi diri atau budaya dalam temanya, serta melancarakan pesan suatu kritik pada permsalahan social melalui karya-karyanya.


Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

No comments:

Post a Comment