Sunday, December 13, 2020

Seni Nusantara Tradisional

 Perkembangan seni di Nusantara telah bermula sejak masa purbakala. Bentuk kemunculannya hampir sama dengan di belahan lainnya, yakni ditemukan dalam bentuk lukisan gua atau benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah bentuk ukiran yang ditemukan pada waruga (peti kubur batu) dan nekara (gendang perunggu) dari zaman prasejarah di beberapa daerah di Nusantara. 

Seni di Nusantara terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman yang mengikutinya. Pada masa prasejarah, aksara belum ditemukan sehingga banyak karya seni yang sifatnya anonim, atau tidak diketahui nama jelas penciptanya. Tradisi menghasilkan karya anonim ini masih banyak digunakan, termasuk ketika Nusantara telah memasuki masa aksara. 

Masa aksara terjadi ketika banyak kerajaan berdiri di berbagai daerah di Nusantara. Ketika itu, banyak seniman dan sastrawan yang telah mengenal aksara dipekerjakan di kerajaan. Pada masa itu, karya seni dan karya sastra dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan hanya pantas dipersembahkan kepada raja. Namun, sebagai bentuk kerendahan hati, banyak di antara para seniman dan sastrawan tersebut tidak mencantumkan nama mereka dalam karya yang mereka persembahkan. Jika ada yang mencantumkan nama, nama tersebut adalah nama alias atau disamarkan. Akibatnya, di masa-masa selanjutnya, banyak yang menganggap bahwa karya seni dan sastra dari era kerajaan tersebut merupakan karya raja. 

Tradisi anonim atau tidak mencantumkan nama jelas dalam penciptaan karya mulai terkikis seiring perkembangan waktu. Bahkan, di masa kini, tradisi anonim hampir sepenuhnya ditinggalkan. Sebuah karya seni merupakan hak yang dapat dipertanggungjawabkan oleh seniman penciptanya. Oleh sebab itu, karya seni di masa kini sebaiknya diketahui nama penciptanya. 

Pada dasarnya, perkembangan seni dari masa ke masa, baik Seni di Nusantara maupun belahan dunia lainnya, dipengaruhi oleh dua faktor, yakni sebagai berikut. 

1. Faktor Internal 

Seni berkembang berdasarkan kreativitas manusia Yang terus bertumbuh dalam dirinya sehingga dapat terus menciptakan ide-ide baru yang asli. Faktor internal membuat manusia mampu melahirkan sesuatu yang baru berdasarkan kesadaran terhadap dirinya dan tergantung pengalaman hidupnya. 

2. Faktor Eksternal 

Seni dan budaya berkembang tergantung pada lingkungan hidupnya, termasuk lingkungan alam dan sosial budayanya. Adanya tantangan alam, seperti bencana alam atau kekeringan, memacu manusia untuk mengembangkan seni. Biasanya, seiring dengan adanya kehidupan yang sejahtera, manusia akan lebih memiliki motivasi untuk menikmati hasil seni. Namun, hal ini bukanlah hal yang mutlak. 

Melalui kedua faktor tersebut, terlihat bahwa penciptaan karya seni tidak hanya berasal dari dalam diri penciptanya, tetapi juga mengandung pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, kedudukan seni selalu berdampingan dengan budaya yang terlahir dalam kehidupan masyarakat. Penyatuan unsur-unsur seni dan bugaya di Nusantara menciptakan berbagai bentuk seni, mulai dari seni rupa, seni arsitektur, seni musik, seni tari, hingga seni teater. 

a. Seni rupa 

Bentuk seni rupa tradisional di Nusantara banyak yang berupa seni lukis dan seni kriya. Pada pembahasan sebelumnya, banyak lukisan atau gambar yang ditemukan di gua-gua. Objek dari lukisan tersebut ada yang berbentuk cap tangan, gambaran manusia dan masyarakatnya, ataupun gambaran alam sekitar. Selain itu, bentuk seni kriya berupa ukiran dan pahatan banyak ditemukan pada berbagai benda bersejarah, seperti Waruga, nekara, arca, menhir, dan punden berundak. Pola-pola yang banyak digunakan dalam seni kriya tersebut adalah ragam hias flora, fauna, figuratif, poligonal, hingga geometris. Semua hasil karya seni tersebut bersifat anonim. 

Seni rupa memasuki jejak baru dengan masuk dan berkembangnya agama Hindu dan Buddha di Nusantara. Perkembangan agama yang pesat membuat karya seni rupa banyak yang bernapaskan ajaran kedua agama tersebut. Sebagai contoht pembangunan candi-candi bernapaskan ajaran Hindu dan Buddha yang dipenuhi relief dan arca-arca yang mewakili ajaran agama masing-masing. Perkembangan seni rupa pada masa Hindu-Buddha sangat pesat. Bahkan, hasil karya seni dari era tersebut masih dapat dinikmati hingga saat ini. 

Perkembangan seni rupa kemudian berlanjut pada masa sejarah Islam di Nusantara. Pada era ini, seni rupa yang banyak berkembang adalah seni kerajinan, seni hias, dan seni kaligrafi. Ajaran Islam melarang penggambaran bentuk-bentuk realistis yang mirip dengan aslinya sehingga bentuk seni seperti seni patung yang realistis tidak banyak berkembang. Seni rupa bernapaskan Islam ini bersifat sakral, tradisional, dan bergaya etnis. 

b. Seni arsitektur 

Seni arsitektur di Nusantara terbagi menjadi dua, yakni arsitektur rumah ibadah dan arsitektur rumah tinggal. Arsitektur rumah ibadah sangat dipengaruhi dengan ajaran agama yang dianut. Contohnya adalah bentuk pura dan candi bercorak agama Hindu memiliki bentuk khas, yakni bentuk atap yang tinggi dan mengerucut ke atas. Ada pula vihara dan candi bercorak agama Buddha yang bentuknya bulat dan menyebar. Bentuk bulat dan menyebar ini dapat ditemukan pada arsitektur Candi Borobudur.

Gambar 5.2 Candi Borobudur bercorak agama Buddha

Sementara itu, bentuk arsitektur rumah tinggal umumnya disesuaikan dengan kontur tanah dan kondisi alam dari setiap daerah di Indonesia. Bahan dan material pembuatnya juga cfisesuaikan dengan apa yang tersedia di alam sekitar, mulai dari kayu, bambu, batu, tanah liat, hingga jerami dan rumbia. 

Pada umumnya, bentuk rumah adat yang paling umum ditemukan di Indonesia adalah rumah panggung. Contoh rumah adat di Indonesia yang berbentuk rumah panggung adalah rumah bolon dari Sumatra Utara, rumah gadang dari Sumatra Barat, rumah betang dari Kalimantan Tengah, dan rumah tongkonan dari Sulawesi Selatan. Bentuk rumah panggung dibuat untuk melindungi pemilik rumah dari bencana alam atau serangan hewan buas. 

Selain memperhatikan kondisi alam, rumah adat yang ada di setiap daerah di Indonesia turut mencerminkan kebudayaan daerah yang bersangkutan. Contohnya, rumah gadang dari Sumatra Barat memiliki bentuk atap yang meruncing layaknya tanduk kerbau. Jika ditelusuri, kerbau berkaitan erat dengan asal-usul nama Minangkabau, suku yang berdiam di wilayah tersebut. Contoh Iainnya adalah rumah adat Bali yang dilengkapi dengan gerbang candi bentar. Gerbang candi bentar berkaitan erat dengan kebudayaan Hindu di Bali sehingga membuktikan kuatnya hubungan antara unsur religi dan kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Ada pula rumah joglo dari Jawa Tengah dengan Ciri khas bangunan berbentuk pendopo dan dilengkapi Pilar atau tiang-tiang, dengan tiang utama dikenal dengan nama Soko guru. Bentuk pendopo yang tanpa sekat digunakan sebagai tempat pertemuan atau pagelaran kesenian, seperti tarian atau pertunjukan wayang. Karena mencerminkan kondisi alam dan budaya daerah setempat, tak heran jika rumah adat di Indonesia dikategorikan sebagai bentuk kearifan lokal. 

Gambar 5.4. Rumah Gadang adalah rumah adat daerah Sumatra Barat

c. Lagu dan musik daerah 

Seni musik juga menjadi kekayaan seni dan budaya Nusantara. Seni musik tradisional Nusantara tecermin dalam bentuk lagu daerah dan alat musik,. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki lagu daerah masing-masing. Lagu-lagu tersebut tak jarang bersifat anonim atau tidak diketahui secara pasti siapa pengarangnya. Meskipun demikian, lagulagu daerah tersebut tetap disukai dan diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat.

Lagu daerah terlahir dari keseharian masyarakat di setiap daerah di Indonesia. Lagu daerah ada yang bersifat tembang dolanan (dinyanyikan dalam permainan anak-anak), media pengajaran, atau dinyanyikan dalam berbagai acara tertentu, seperti pernikahan atau upacara adat. Lagu daerah yang banyak dikenal umumnya adalah tembang dolanan, seperti lagu Gundul-Gundu/ Pacu/ dan Cub/ak-Cublak Suweng dari Jawa Barat, lagu Bungong Jeumpa dari Aceh, serta lagu Burung Kakatua dari Maluku. Lagu daerah lainnya yang cukup terkenal adalah Sirih Kuning dan Kicir-Kicir dari DKI Jakarta, Kampuang Nan Jauh di Mato dari Sumatra Barat, Si Patokaan dari Sulawesi Utara, dan Yamko Rambe Yamko dari Papua. 

Selain lagu daerah, kekayaan seni musik di Nusantara juga tercermin dalam bentuk alat musik. Alat musik yang cukup terkenal di antaranya seperangkat gamelan dari Jawa dan Bali, angklung dari Jawa Barat, kolintang dari Sulawesi Utara, sasando dari Nusa Tenggara Timur, dan tifa dari Papua. Alat-alat musik tersebut banyak digunakan sebagai media hiburan, mengiringi suatu pertunjukan, ataupun upacara adat. Contohnya, gamelan Jawa yang digunakan sebagai musik pengiring dalam pertunjukan wayang kulit. Alunan musik karawitan dari gamelan Jawa semakin lengkap dengan nyanyian dari sinden (penyanyi dalam grup gamelan). 

Kekayaan seni musik Nusantara turut menjadi identitas dan kekayaan budaya dari setiap daerah yang memilikinya. Di masa kini, lagu daerah dan alat musik tradisional masih sering dibawakan dalam berbagai kesempatan. Tak jarang lagu daerah diaransemen ulang dengan gaya bermusik yang lebih modern. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelestarian lagu daerah, sekaligus mengenalkan lagu daerah tersebut kepada generasi muda. 

Gambar 5.5. Saung Angklung Udjo di Bandung

Hal serupa juga terjadi pada alat musik tradisional. Alat musik tradisional masih banyak digunakan saat ini, baik dengan mempertahankan pakem aslinya atau disandingkan dengan alat musik Iainnya. Penggabungan alat musik tradisional dan alat musik modern akan menciptakan fusion, yakni penggabungan dua hal yang kontras, seperti Sisi tradisional dan modern, dan menghasilkan sesuatu Yang baru. 

Apresiasi terhadap musik tradisional Nusantara juga ditunjukkan Oleh publik mancanegara. Contohnya, banyak universitas dan sekolah di mancanegara yang mempelajari cara memainkan gamelan dan angklung dengan meminta bantuan praktisi gamelan dan angklung dari Indonesia.

Gambar 5.6. Festival gamelan di Kalamazoo Public Library, Michigan

Bentuk-bentuk teater tradisional di Indonesia sangat beragam. Contoh bentuk teater tradisional di Indonesia adalah lenong dari DKI Jakarta, randai dari Sumatra Barat, ketoprak dari Jawa Tengah, wayang orang dari berbagai daerah di Pulau Jawa (seperti Jawa Tengah, D.l. Yogyakarta, dan Jawa Timur), /udruk dari Jawa Timur, dan du/mu/uk dari Sumatra Selatan. Setiap bentuk teater tradisional memiliki ciri khas masing-masing, seperti lenong yang identik dengan humor dan iringan musik gambang kromong dan randai dengan dialog berupa gurindam yang didendangkan serta diiringi irama gendang. 

f. Seni kostum dan tata rias dalam pertunjukan tradisional

Pertunjukan tradisional, seperti tarian adat dan teater tradisional, tidak akan lengkap tanpa keberadaan elemenelemen Iain, seperti kostum dan tata rias. Tata kostum dan tata rias dalam seni pertunjukan merupakan hal yang penting dan dibutuhkan oleh para penari dan pemain. Bagi para penari, tata rias dan tata kostum yang sesuai akan menambah nilai keindahan pada tarian yang dibawakan. Bagi para pemain teater, tata kostum dån tata rias yang tepat akan memperkuat penokohan dari setiap karakter yang dibawakan. Tata kostum dan tata rias dalam pertunjukan tradisional turut menjadi seni yang kuat, baik dari segi estetis maupun esensial. 

Bahkan, terdapat banyak kelompok karawitan yang berasal dari mancanegara, yakni sebagai berikut:

1) Grup gamelan (Bali) Lila Cita di Inggris. 

2) Grup gamelan (Jawa) Marsudi Raras dari Belanda.

3) Grup gamelan dari Warsawa, Polandia. 

4) Grup gamelan Sekar Jaya dan Kori Mas dari Amerika Serikat. 

5) Grup gamelan Bratislava dari Slovakia. 

6) Grup gamelan Charoko Laras dari Spanyol. 

7) Grup gamelan Lambang Sari dari Jepang.

8) Grup gamelan Montebello, Italia. 


d. Perkembangan seni tari Nusantara

Tradisi anonim tidak hanya terjadi dalam penciptaan lagu daerah, tetapi juga tarian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Tarian yang sangat terkenal tidak diketahui secara pasti penciptanya, atau siapa pihak yang pertama kali memopulerkannya. Hal yang pasti adalah tarian adat dari berbagai daerah di Indonesia berkaitan erat dengan budaya masyarakat tempat tarian tersebut berasal. Tak heran jika setiap tarian adat yang ada di Indonesia memiliki keindahan dan ciri khas yang membedakannya satu sama lain. 

Tarian adat diciptakan untuk berbagai tujuan, seperti hiburan, pemujaan, penghormatan, penyambutan, pengajaran nilai moral, hingga ungkapan rasa syukur. Ada pula tarian yang diciptakan untuk merepresentasikan legenda masyarakat setempat, seperti tarijathilan dan reog yang merepresentasikan legenda Reog Ponorogo dari daerah Ponorogo, Jawa Timur. 

Tarian adat di Indonesia sangatlah beragam. Umumnya, tarian adat dibedakan sesuai jumlah penarinya: ada tarian yang dibawakan secara tunggal/seorang (Jiri, berpasangan, dan berkelompok. Contoh tarian adat yang dapat dibawakan seorang diri adalah tari Panji Semirang dari Bali dan tari gambir anom dari Jawa Tengah. Contoh tarian adat yang dibawakan berpasangan adalah tari serarnpang dua belas dari Sumatra Utara. Sementara itu, contoh tarian yang dibawakan secara berkelompok adalah tari saman dari Aceh dan tari kecak dari Bali. 

Selain tarian-tarian tersebut, masih banyak tarian adat Iain yang cukup terkenal, seperti tari tor-tor dari Sumatra Utara, tari piring dari Sumatra Barat, tari gambyong dari Jawa Tengah, tari pendet dari Bali, dan tari pakarena dari Sulawesi Selatan. Setiap tarian adat di Indonesia umumnya diiringi dengan musik tradisional yang berasal dari daerah yang sama. 

Keindahan dan gerak tari yang sarat makna membuat sebagian besar tarian adat Indonesia masih eksis hingga saat ini. Namun, ada pula beberapa jenis tarian adat yang punah karena tidak ada generasi yang mau meneruskannya. Untuk mencegah kepunahan, tarian adat Indonesia kini banyak mengalami perkembangan, termasuk bertransformasi menjadi bentuk seni yang baru. Contohnya adalah tari ketuk tilu dari Jawa Barat yang berkembang menjadi tari jaipong, tari tayub dari Jawa Tengah yang berkembang menjadi tari gambyong, dan tari joged bumbung dari Bali yang berkembang menjadi Oleg tamulilingan. Perubahan bentuk tarian tidak hanya terjadi pada aspek gerakan, tetapi juga aspek kostum dan tata rias hingga durasi tarian. Tarian tradisional yang dikemas secara lebih modern tidak hanya menjadikan tarian tersebut atraktif dan memikat banyak penonton, tetapi juga membuat tarian tersebut tetap lestari. 

Di masa kini, ada banyak cara untuk mempertahankan tarian adat. Salah satunya adalah dengan meleburkan berbagai tarian adat di Indonesia menjadi satu bentuk tarian baru yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, peleburan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Ciri khas dari setiap tarian tetap dipertahankan. Dengan demikian, ketika terjadi perubahan gerakan, penonton dapat menebak jenis asal tarian berdasarkan gerakan tersebut. Iringan musik dari tarian tersebut juga bukan musik tradisional, melainkan musik modern yang bernuansa etnik. Bentuk pelestarian tarian seperti ini dilakukan Oleh seniman Bagong Kussudiardja dengan tarian bertema "Senyum Indonesia”. 

e. Seni teater 

Seni pertunjukan atau teater di Indonesia telah berkembang sejak dahulu kala. Teater tradisional lahir untuk memenuhi kebutuhan akan sarana hiburan bagi masyarakat. Cerita yang diangkat dalam teater tradisional berasal dari folklor atau cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, ataupun dari keseharian masyarakat itu sendiri. 

Folklor atau cerita rakyat merupakan salah satu bentuk tradisi lisan, atau sesuatu yang diwariskan dengan cara diceritakan secara turun-temurun. Folklor merupakan hal yang paling banyak diangkat dalam teater tradisional, terlebih karena setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan folklor. Folklor dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari dongeng, mite, legenda, hingga fabel. Contoh folklor terkenal yang sering diangkat ke dalam teater tradisional adalah dongeng Keong Mas dan Ande- Ande Lumut dari Jawa Tengah, Legenda Malin Kundang dari Sumatra Barat, serta Legenda Gunung Tangkuban Perahu/ Sangkuriang dari Jawa Barat. 

Gambar 5.9 Pementasan Lenong Betawi merupakan salah satu seni teater tradisional.

Mengingat pentingnya peranan tata kostum dan tata rias dalam dunia pertunjukan, pemilihan kostum dan tata rias tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Tata kostum dan tata rias penari atau pemain laki-laki tidak sama rumitnya dengan tata kostum dan tata rias penari atau pemain wanita. Tata kostum dan tata rias harus disesuaikan dengan jenis tarian atau cerita yang dibawakan. Selain itu, tata kostum juga harus menggambarkan kebudayaan daerah asal. 

Contoh kecermatan dalam tata kostum dan tata rias dapat dilihat dalam pertunjukan wayang orang dari beberapa daerah di Pulau Jawa. Wayang orang adalah pertunjukan yang menggabungkan bentuk teater tradisional dengan pakem gerak yang rumit layaknya tarian. Cerita yang diangkat dalam pertunjukan wayang orang umumnya adalah kisah Mahabharata dan Ramayana. Karena berasal dari Jawa, tata kostum yang digunakan menggambarkan kebudayaan Jawa adalah penggunaan kain batik. Selain kain batik, tata kostum dalam wayang orang meliputi aksesori pelengkap, seperti selendang, kalung, gelang dan hiasan lengan, sumping (penghias telinga), serta penutup kepala (seperti mahkota, kuluk, dan tropong). Bentuk penutup kepala juga dibedakan sesuai penokohan, misalnya bentuk kuluk untuk tokoh raja yang berbeda dengan bentuk kuluk untuk tokoh patih. Sementara itu, tata rias yang mencolok pada pertunjukan wayang orang adalah penggunaan cat merah untuk mewarnai wajah tokoh antagonis.



Sumber : Sugiyanto, dkk. 2017. Seni Budaya untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.


No comments:

Post a Comment